Thursday, June 9, 2022

Perbankan Syariah dalam Perspektif Teori Kapitalisme Ekonomi


Sistem ekonomi Islam berbeda dari Kapitalisme, karena Islam menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan. Orang miskin dalam Islam tidak dihujat sebagai kelompok yang malas dan yang tidak suka menabung atau berinvestasi. Ajaran Islam yang paling nyata menjunjung tinggi upaya pemerataan untuk mewujudkan keadilan sosial.

Jelasnya, sistem ekonomi Islam bukanlah sistem ekonomi non riba plus zakat tetapi lebih luas dari itu, bukan pula sistem ekonomi campuran, dan bukan pula sistem ekonomi tanpa negara. Tetapi sistem ekonomi Islam merupakan sistem ekonomi yang diatur menurut syari’at Islam secara menyeluruh baik dalam aspek mikro maupun makro yang mengatur tentang konsep kepemilikan, tata cara pengelolaan dan pengembangan harta dan tata cara pendistribusiannya di tengah-tengah masyarakat. Sementara sistem ekonomi kapitalis yang banyak diilhami oleh pemikiran Adam Smith, memiliki motif kepentingan individu yang didorong oleh filsafat liberalisme. Dalam sistem ekonomi kapitalis, kegiatan ekonomi dilakukan semata-mata karena faktor manfaat dan materi saja, ia tidak memperhatikan kepentingan umum selain kepentingan pribadi, kelompok yang merasa diuntungkan. Juga tidak ada jaminan kesempurnaan sistem ekonomi ini bahkan membawa bencana yang menyengsarakan rakyat. Masalah lainnya, amaliyah yang berdasarkan sistem ekonomi kapitalis adalah sia-sia, tidak punya nilai di sisi Allah swt.

Namun Dinamika Bank Islam (syariah) dalam perekonomian Kapitalisme di Indonesia studi Tahun (2012/2016), sistem ekonomi Kapitalisme berada di puncak teratas. Hal ini dikarenakan sistem ekonomi kapitalisme saat ini menguasai ekonomi dunia. Sedangkan bank Islam saat ini perkembangannya berada dalam pusaran ideologi kapitalisme.

Dimana perkembangan bank Islam dalam perekonomomian Kapitalisme memliki share aset sebesar 5%. Komposisi aset perbankan syariah di dominasi oleh dua BUS terbesar, yaitu Bank Syariah Mandiri dan Bank Muamalat Indonesia. Bank syariah memiliki market share sebesar 5,33% sedangkan Bank konvensional masih 77 menguasai market share perbankan nasional, dimana bank konvensional memiliki angka market share sebesar 94,67%. Dari angka te rsebut dapat kita lihat bank syariah masih tergolong lamban meskipun ada pertumbuhan aset pada perbankan syariah sebesar 20,28%. Lambannya pertumbuhan bank Islam diakibatkan Karena tidak meratanya distribusi kekayaan ditengah umat. Mekanisme distribusi kekayaan dalam sistem ekonomi kapitalisme hanya menguntungkan para kapital. Belum lagi ketimpangan ekonomi yang di akibatkan tidak meratanya distribusi kekayaan pada mayarakat sehingga bank Islam sulit berkembang.

Jadi aufklarungnya, perbedaan sistem ekonomi Islam dan sistem ekonomi kapitalis tidak hanya pada hal-hal yang bersifat aplikatif namun juga falsafahnya. Di atas falsafah yang berbeda ini dibangun tujuan, norma dan prinsip-prinsip yang berbeda. Hal ini karena keyakinan seseorang mempengaruhi cara pandang dalam membentuk kepribadian, perilaku, gaya hidup, dan selera manusia. Dalam konteks yang lebih luas, keyakinan juga mempengaruhi sikap terhadap orang lain, sumber daya, dan lingkungan. Dalam sistem kapitalis, Tuhan dipensiunkan (retired God). Hal ini direfleksikan dalam konsep laissez faire dan invisible hand. Dari falsafah ini kita bisa melihat tujuan ekonomi kapitalis hanya sekadar pertumbuhan ekonomi demi tercapainya kepuasan individu. Falsafah ekonomi Islam secara umum dapat dilihat dari surat al-Muthaffifin ayat 1-6, yang artinya: 1) Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. 2) Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. 3) Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. 4) Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. 5) Pada suatu hari yang besar. 6) Yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam. Namun dalam perkembangannya telah terjadi percampuran dari dua sistem yang berbeda ini. Ekonomi Syariah yang jelas-jelas berbeda dengan ekonomi kapitalis justru dicampur-adukkan guna memperoleh keuntungan yang sebanyak-banyaknya (profit oriented). Hal ini tidak lantas membuat kita para pelaku dan praktisi ekonomi syariah harus tetap semangat dan optimis dalam mensyariahkan masyarakat dan memasyarakatkan syariah. Ini merupakan ladang amal bagi kita semua ketika kita berniat dan bertekad serta berjuang sepenuh tenaga menerapakan ekonomi syariah dalam bingkai mengamalakan ajaran agama Islam secara Kaffah dalam segala sendi kehidupan kita baik itu sendi ekonomi, sosial, budaya, politik dan hukum.

Refence:

Karim, H Adiwarman A, 2003. Ekonomi Islam, Suatu Kajian Kontemporer. Bandung: Gema Insani Press.

Jurnal Al- Ulum Volume. 10, Nomor 1, Juni 2010

No comments:

Post a Comment

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...