Lelah mengasah rasa yang kian hari menyesakkan dada
Diam menusuk rusuk relung hati nan penuh duka
Duka lara yang menyelimuti buncahan hingga mengharmonikan keduanya
Duka yang tak berujung menyigap tanggap rasa sua
Lara beraduhkan gundah gulana mengiangkan cinta
Harmoni rasa beremanasikan kebutaan hati ingin bersama
Bergurau ria, tanpa menjarak yang menyenggangkan aku dan kamu menjadi kita
Kita yang selalu akan menjadi kita, kala sua telah menyatukan kita
Gemerincing.... bunyi detakan kencang dalam pompaan demi pompaan
Sehingga arteri dan aorta memadukan rasa dalam tatalaksananya
Jiwaku terbang melayang di negeri awan dewata
Menyiring indah nun jauh di sana
Menyepi dalam gumpalan awan, bergulung campuran air dan hawa
Haaaaaah......sunyi terasa dan hampanya hidup yang mengapung di awan mimpi
Hingga membalur berarus mimpi dan mimpi
Oh rasa.....rasa dan rasa
Kau tebar dan alirkan relung ini dengan kehangatan selimut sutramu
Harum, lembut hingga terbuai dalam dekapmu
Dekapan yang menyengsarakan diri dalam ketermangungan
Oh, begitu harmoninya engkau dalam diri ini, hingga tak berdaya menyelarasi kerasiannya
Jika memang tak bisa mendaur lagi dari segalanya
Tak ingin diri berpolemik dengannya
Keadaan yang mengguncang guncing dalam badai runcingan
Hingga bersikap sederhana tak ingin berkepanjangan
Hilir gemilir hembusan angin dalam segelintir bahasa yang menjelaskan sejuta rasa
Rasa yang tersemat bak alunan biola yang berdawai
Terasa nikmat dan menghanyutkan hati
Haru, menyentuh bilik-bilik yang terhampiri
Begitulah ia terasa dan membaur dalam rasa
Rasa yang tak ingin tertinggalkan jauh dari diri yang telah bertahtakan cinta