Tuesday, April 21, 2026

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA


 YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

Zizi Althofunnisa

 

Cinta itu datang diam-diam,

lalu menetap tanpa izin

di mataku,

di cara aku menyebut namamu dalam hati.

Rindu tidak lagi perlu alasan,

ia tumbuh setiap kali

jarak pura-pura tidak ada.

Aku melihatmu

dan dunia seperti mengecil,

menyisakan kita berdua

yang saling tak berani jujur.

Kau tersenyum,

dan aku tahu

itu bukan janji,

tapi cukup untuk membuatku berharap.

Hatiku sering bertanya,

bukan tentang mencintaimu

itu sudah pasti

tapi tentang:

apakah aku juga tinggal

di dalam hatimu seperti itu?

Aku tidak menawarkan segalanya,

hanya diriku yang utuh

yang diam-diam sudah kau miliki

sejak pertama kali

aku tak bisa lagi berpaling.

Jika suatu hari kita harus berjarak,

biarlah bukan karena cinta ini lelah

melainkan karena kita tak pernah benar-benar menggenggamnya.

Dan jika aku akhirnya kehilanganmu,

mungkin yang paling sakit bukan kepergianmu

tapi kenyataan

bahwa aku pernah sedekat itu

dengan seseorang

yang tak pernah benar-benar menjadi milikku

IBU, SUARA YANG TAK PERNAH PADAM

 

IBU, SUARA YANG TAK PERNAH PADAM

Zizi Althofunnisa

 

Ibu…

aku tahu letihmu tak pernah meminta nama,

ia tinggal diam di punggung waktu,

menjadi doa yang tak kau ucapkan keras-keras.

Dulu kau berkata:

“Lekaslah besar, anakku.”

bukan untuk dunia melihatku tinggi,

tapi agar hatimu punya tempat pulang.

Ibu…

segala yang orang sebut hebat dariku,

hanyalah gema dari ikhlasmu

yang tak pernah ingin dikenal.

Sabdamu sederhana,

namun langit hafal nadanya,

setiap lirihmu

tak pernah jatuh sia-sia.

Ibu…

aku tahu,

bukan harta yang kau tunggu,

bukan pula mahkota yang kau pinta.

Maka biarlah aku belajar satu hal saja,

menjadi anak yang pulang

dengan bakti,

sebelum kau benar-benar pergi.

CATATAN DARI JARAK


CATATAN DARI JARAK

Aini an Nahl

 

Aku pernah hidup tanpa jeda,

segala tersedia,

tanpa perlu bertanya: dari mana, untuk apa.

Sebagai bungsu

aku adalah bagian yang dijaga paling akhir,

paling lama.

Lalu aku pergi.

Bukan karena kurang,

tapi karena ada yang tak bisa tumbuh jika terus dilindungi.

Jakarta tidak menunggu.

Ia berjalan cepat, dan aku harus mengejar atau tersisih.

Di sana, lelah tidak punya drama,

gagal tidak memberi aba-aba,

dan rindu… datang tanpa suara.

Aku belajar mengatur diri,

bukan sekadar waktu dan uang,

tapi cara berpikir,

cara berdiri saat goyah.

Ada hari-hari hampir selesai,

di mana pulang terasa lebih masuk akal

daripada bertahan.

Tapi aku ingat:

selembar kertas,

dengan tujuan yang pernah kutulis

saat aku masih berani bermimpi.

Sejak itu aku paham,

yang diuji bukan langkahku,

tapi arahku.

Rantau tidak membuatku kuat,

ia hanya memperlihatkan

bahwa aku memang harus jadi kuat.

Dan hari ini,

aku tidak lagi mencari nyaman.

Aku hanya ingin cukup jauh untuk tahu,

aku tidak lagi orang yang sama.

 

 

(Pamulang, 21 April 2026) 

Friday, July 4, 2025

Islam Cinta Damai: Menumbuhkan Kerukunan Antarumat Beragama di Sekolah


Oleh: Ida Rohyatul Aini, M.Pd

 

Sekolah sebagai Miniatur Kehidupan Bangsa

Sekolah bukan sekadar tempat belajar pelajaran akademik seperti matematika, bahasa, atau sains. Lebih dari itu, sekolah adalah cerminan kecil dari masyarakat luas. Apa yang kita alami dan pelajari di sekolah, sangat mungkin menjadi bekal bagaimana kita akan bersikap di masyarakat nantinya.

Bayangkan ini - di dalam satu sekolah, ada beragam latar belakang siswa. Ada yang berasal dari keluarga Muslim, Kristen, Hindu, atau Buddha. Ada yang berbicara dalam bahasa daerah yang berbeda di rumahnya. Bahkan, gaya berpikir dan cara menanggapi persoalan pun bisa beragam. Di sinilah kita belajar tentang keberagaman secara langsung, bukan hanya lewat buku.

Di lingkungan sekolah, anak-anak dan remaja belajar bagaimana bersikap terhadap perbedaan. Jika sekolah menjadi ruang yang aman dan damai, maka para siswa akan tumbuh menjadi pribadi yang toleran, inklusif, dan terbuka dalam hidup bermasyarakat. Sebaliknya, jika di sekolah tumbuh diskriminasi, perundungan karena perbedaan agama, suku, atau status sosial, maka itu bisa menjadi benih konflik sosial di masa depan.

Maka, tidak berlebihan jika kita menyebut sekolah sebagai laboratorium sosial”, di sanalah nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan kedamaian diuji, dibentuk, dan dikuatkan.

Sekolah mengajarkan keterampilan hidup bersama yang sangat penting, seperti:

1) Berkomunikasi dengan teman yang berbeda pandangan

2) Bekerja sama dalam kelompok lintas latar belakang

3) Menghormati ibadah dan keyakinan teman sekelas

4) Menyelesaikan konflik secara damai dan bijak

Semua ini adalah gambaran nyata dari hidup berbangsa di luar tembok sekolah. Jadi, apa yang kita biasakan sejak sekolah, akan terbawa saat kita bekerja, bermasyarakat, bahkan ketika menjadi pemimpin.

Pendidikan nasional memiliki misi untuk mencetak generasi penerus bangsa yang:

1) Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

2) Berakhlak mulia

3) Menghargai keberagaman

4) Bertanggung jawab sebagai warga negara

Nilai-nilai ini bukan hanya ditanamkan lewat mata pelajaran, tapi juga melalui budaya sekolah, seperti kegiatan keagamaan, upacara bendera, diskusi lintas agama, dan kerja sama dalam kegiatan sosial.

Sekolah yang berhasil membina siswanya menjadi pribadi yang toleran dan cinta damai, telah ikut serta menjaga masa depan Indonesia yang utuh, damai, dan harmonis.

Jika rumah adalah tempat kita belajar tentang cinta, maka sekolah adalah tempat kita belajar tentang hidup bersama. Ketika kita belajar menerima perbedaan teman di sekolah, kita sedang dilatih menjadi warga negara yang siap hidup damai di tengah masyarakat yang majemuk.

Sekolah adalah Indonesia dalam ukuran kecil. Maka, marilah kita rawat keberagaman di sekolah sebagaimana kita ingin menjaga persatuan dan kesatuan di seluruh negeri.

Islam Mengajarkan Toleransi

Toleransi bukan berarti menyamakan semua agama, tetapi menghormati perbedaan tanpa mencampuri keyakinan orang lain. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap orang berhak memilih dan menjalankan agamanya tanpa tekanan. Rasulullah SAW pun menunjukkan sikap toleran dalam kehidupan nyata. Beliau menghormati tetangga non-Muslim, berdagang dengan jujur tanpa membeda-bedakan agama pembeli, bahkan membuat perjanjian damai dengan komunitas Yahudi dan Nasrani di Madinah.

3 Sikap yang Perlu Ditumbuhkan di Sekolah Untuk Menjaga Kerukunan

Kerukunan antarumat beragama tidak bisa terjadi secara tiba-tiba. Ia perlu dibentuk, dibiasakan, dan dirawat dalam kehidupan sehari-hari—termasuk di sekolah. Dalam konteks siswa, ada tiga sikap utama yang sangat penting ditumbuhkan untuk menciptakan suasana damai dan harmonis di tengah keberagaman agama, budaya, dan latar belakang.

1) Saling Menghormati

Menghormati adalah sikap dasar yang menjadi fondasi kerukunan. Di sekolah, kita bertemu teman-teman dari berbagai latar belakang agama. Sebagai pelajar Muslim, kita diajarkan untuk menghargai keyakinan orang lain tanpa harus menyetujui atau mengikuti ajaran mereka.

Beberapa bentuk sikap menghormati antara lain:

Tidak mengejek nama, simbol, cara berpakaian, atau kebiasaan ibadah teman yang berbeda agama.

Tidak menyebarkan stigma negatif terhadap agama lain, baik secara langsung maupun melalui media sosial.

Memberi ruang bagi teman yang berbeda untuk menjalankan ibadah dan perayaan agamanya dengan nyaman.

Tidak mengganggu kegiatan keagamaan teman lain, misalnya saat mereka sedang berdoa atau mengikuti perayaan agama.

Sikap ini sangat sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

"Barangsiapa menyakiti seorang non-Muslim yang memiliki perjanjian damai, maka aku akan menjadi musuhnya pada Hari Kiamat."
(HR. Abu Dawud)

Artinya, Islam menekankan penghormatan terhadap sesama manusia, apalagi jika mereka hidup damai bersama kita.

2) Tidak Fanatik Buta

Fanatisme dalam beragama adalah hal yang positif, selama itu didasari oleh ilmu, akhlak, dan sikap terbuka. Namun, jika fanatisme berubah menjadi buta dan eksklusif, maka ia bisa merusak hubungan sosial.

Fanatik buta ditandai dengan:

Merasa agama atau kelompoknya paling benar, sementara yang lain pasti salah.

Enggan bergaul dengan orang yang berbeda pandangan agama, seolah takut ‘terkontaminasi’.

Menolak semua bentuk kerja sama hanya karena perbedaan agama atau keyakinan.

Mudah menyalahkan, mengkafirkan, atau memusuhi orang lain yang berbeda.

Padahal, Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kebencian terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Di sekolah, kita harus belajar menjadi pribadi yang beragama dengan penuh semangat, tetapi tetap rendah hati. Kita perlu memahami bahwa perbedaan bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dipahami dan dihargai.

3) Kerja Sama dalam Kebaikan

Dalam Islam, kita diajarkan untuk saling membantu dalam urusan kebaikan dan tidak bekerja sama dalam keburukan:

“Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Prinsip ini sangat relevan untuk kehidupan sekolah. Meski berbeda agama, kita tetap bisa bekerja sama dalam:

Menjaga kebersihan kelas dan lingkungan sekolah.

Mengikuti kerja bakti atau kegiatan sosial seperti donor darah, bakti lingkungan, atau berbagi sembako.

Mengerjakan proyek kelompok atau tugas bersama.

Mengikuti kegiatan peringatan Hari Toleransi Internasional, Hari Pancasila, atau Hari Kemerdekaan dengan semangat persatuan.

Melalui kerja sama dalam hal-hal baik ini, pelajar akan merasakan bahwa nilai kemanusiaan dan kebaikan bisa menyatukan kita melampaui batas keyakinan.

Tiga sikap ini—saling menghormati, tidak fanatik buta, dan kerja sama dalam kebaikan—adalah dasar yang kuat dalam membangun sekolah yang damai, toleran, dan bermartabat.

Pelajar Muslim sejati adalah mereka yang tidak hanya taat dalam ibadah, tetapi juga menunjukkan akhlak mulia kepada sesama, apapun agamanya. Inilah makna Islam sebagai agama yang membawa rahmat untuk seluruh alam

Berikut contoh kerukunan di sekolah:
Menyediakan ruang ibadah bagi semua agama
Menghormati teman saat menjalankan ibadahnya
Mengucapkan selamat saat hari besar keagamaan dengan bahasa yang sopan
Menjaga pertemanan tanpa mempersoalkan agama
Membuat proyek atau lomba lintas iman, misalnya lomba kebersihan kelas antaragama

Sebagai pelajar Muslim, kita punya tanggung jawab untuk menjadi duta perdamaian. Bukan hanya pintar di kelas, tapi juga bijak dalam pergaulan. Jangan mudah tersulut hoaks atau provokasi yang memecah belah persatuan. Jadikan media sosial sebagai tempat menyebarkan pesan-pesan damai, bukan kebencian.

Islam bukan agama yang mengajarkan kekerasan, tapi justru mengajak umatnya untuk mencintai kedamaian. Di sekolah, kita bisa memulai langkah kecil menuju kerukunan: menghargai, bersikap adil, dan saling membantu tanpa memandang perbedaan. Mari jadi generasi pelajar yang tidak hanya cerdas, tapi juga toleran dan berakhlak!

Mari kita mulai dari langkah kecil—dari ruang kelas, kantin, lapangan, dan ruang ibadah sekolah—untuk menjadi agen kerukunan di tengah keberagaman.

 

Wednesday, July 2, 2025

“TOS” atau Kurang Adab? Kisah Lucu Faza dan TGB yang Bikin Netizen Terbelah!


Oleh:  Ida Rohyatul Aini, M.Pd

 

dok.foto diambil dari https://www.facebook.com/share/v/1B3J7sDmDZ/


Beberapa hari terakhir, timeline kita dipenuhi video viral yang bikin senyum sekaligus mikir. Video itu menampilkan momen lucu nan menggemaskan antara seorang anak bernama Faza dan sosok yang sangat kita kenal: Tuan Guru Bajang (TGB), tokoh agama sekaligus publik figur yang selalu tampil kalem dan berwibawa.

Di video itu, ananda Faza terlihat sedang berjabat tangan dengan TGB. Nah, setelah salaman, TGB tampak ingin mengelus kepala Faza — mungkin sebagai bentuk kasih sayang atau doa. Tapi, eh... ananda Faza malah angkat tangan buat "tos"!

Reaksi TGB? Santai aja. Beliau senyum dan tertawa. Tapi netizen? Terbelah dua. Ada yang bilang, “Hahaha, lucu banget! Anak-anak emang polos.” Tapi nggak sedikit juga yang bilang, “Wah, kok gitu? Harusnya dia tahu sopan santun ke ulama dong!”

Hmm, yuk kita bahas bareng-bareng — di balik lucunya ananda Faza, ada pelajaran menarik buat kita semua.

Dunia Anak: Kadang Gak Sejalan dengan Dunia Dewasa

Pernah nggak, kita menyaksikan momen anak-anak melakukan sesuatu yang bikin kita tertawa sekaligus bingung? Seperti saat seorang anak kecil tiba-tiba men-tos seorang tokoh penting di depan umum, tanpa rasa sungkan atau kikuk. Polos? Iya. Lucu? Banget. Tapi, bagi sebagian orang dewasa, bisa jadi itu tampak “kurang sopan” atau “tidak pada tempatnya”.

Namun, di sinilah letak pentingnya kita memahami dunia anak-anak. Mereka hidup dalam dimensi yang berbeda dari kita, orang dewasa. Dunia mereka bukan tentang protokol, tata krama, atau etika formal—melainkan tentang rasa, imajinasi, spontanitas, dan interpretasi literal dari apa yang mereka lihat.

Jean Piaget, salah satu tokoh besar dalam psikologi perkembangan, menjelaskan bahwa anak-anak melalui tahap-tahap berpikir yang unik sesuai usianya. Di usia dini, anak masih berada dalam tahap praoperasional, di mana mereka belum bisa memahami sudut pandang orang lain secara kompleks atau membaca maksud sosial yang tersirat. Artinya, saat mereka melihat seseorang mengangkat tangan, bisa saja mereka mengira itu sapaan, ajakan bermain, atau… isyarat tos! Dan mereka pun merespons secara alami, tanpa beban atau maksud menyimpang. Seperti mungkin yang terjadi pada Faza ketika melihat tangan Bapak TGB terangkat—dia menafsirkannya sebagai sinyal untuk berinteraksi, bukan simbol formalitas.

Kenapa ini penting kita pahami?

Karena terlalu sering kita, orang dewasa, menghakimi anak-anak dengan standar yang belum mereka mengerti. Kita lupa bahwa mereka masih belajar membaca dunia, dan bahasa yang mereka pahami adalah bahasa yang paling sederhana dan jujur. Saat kita memaksakan sudut pandang orang dewasa ke dalam cara pikir anak, kita berisiko mematikan spontanitas dan kejujuran mereka.

Bukan berarti anak tidak perlu belajar sopan santun. Tapi proses itu butuh waktu, bimbingan, dan pengertian. Kita bisa mengarahkan tanpa harus menyalahkan, membimbing tanpa harus menghakimi.

Dunia anak adalah dunia yang indah—kadang absurd, kadang menggelikan, tapi selalu jujur. Kita yang harus belajar masuk ke dunia mereka dulu, agar bisa mengajak mereka perlahan memahami dunia kita. Karena dalam proses tumbuh, anak tak hanya butuh aturan, tapi juga ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Dan kadang, seperti dalam kisah Faza tadi, kita justru belajar satu hal penting dari anak-anak: hidup lebih tulus, jujur, dan apa adanya.

Dunia Anak: Tempat Imajinasi dan Kejujuran Berkembang. Mari kita rawat spontanitas anak dengan bijak, bukan dengan teguran keras yang membuat mereka takut berekspresi. Sebab dari momen-momen kecil seperti “tos polos” itulah kita bisa melihat: betapa tulusnya dunia anak, dan betapa pentingnya kita untuk tidak buru-buru menilai dari kacamata dewasa saja.

Reaksi TGB: Adem, Santai, Penuh Senyum

Yang bikin adem adalah reaksi TGB sendiri. Beliau nggak kaget, nggak marah juga, apalagi menegur. Beliau justru tersenyum dan ketawa kecil. Ini sinyal kuat bahwa TGB memahami dunia anak dan memilih untuk merespons dengan bijak.

Ini penting banget, lho. Dalam Islam, Rasulullah SAW juga dikenal sangat lembut kepada anak-anak. Bahkan, saat seorang cucunya naik ke punggung beliau saat salat, Rasulullah tetap bersabar dan tidak menegur dengan kasar.

 Tapi... Gimana dengan suara netizen yang mengkritik?

Sebagian netizen menilai, kejadian itu justru menunjukkan kurangnya adab anak-anak masa kini kepada tokoh agama. “Masa ulama diajak tos? nggak pantas.” begitu kira-kira nada mereka.

Nah, ini juga bisa dipahami. Sebab dalam budaya kita — khususnya di lingkungan pesantren dan tradisi keislaman — menghormati ulama itu penting. Bukan hanya secara lisan, tapi juga lewat sikap: tunduk, menunduk, mencium tangan, dan lain sebagainya. Makanya, ketika ada kejadian yang "keluar pakem", sebagian orang refleks merasa terganggu.

Tapi... apakah semuanya harus dilihat hitam-putih?

Viral di Zaman Digital = Diperbesar dan dibumbui

Satu hal lagi yang perlu diingat: kita hidup di zaman serba digital, di mana satu momen kecil bisa jadi viral, bahkan tanpa konteks utuh. Kita nggak tahu, misalnya, apakah Faza sebelumnya sudah menunjukkan sikap sopan? Atau mungkin itu bagian dari interaksi panjang yang dipotong beberapa detik?

Inilah bahayanya viral. Kadang kita langsung menilai, tanpa paham konteks.

Jadi, harus gimana?

Daripada terjebak debat panjang, momen ini justru bisa jadi: 

1) Peluang edukasi: Orang tua dan guru bisa pakai video ini buat ngobrol santai sama anak-anak, “Kalo ketemu kiai, gimana ya sebaiknya sikap kita?”

2) Ajang introspeksi: Kita yang dewasa juga bisa belajar, bahwa memberi contoh adab jauh lebih kuat daripada cuma ngomel soal adab.

3) Contoh toleransi dari TGB: Bahwa wibawa bukan soal galak atau harus dihormati dengan ketakutan, tapi bisa lahir dari kelembutan.

Tos Bukan Dosa, Tapi Yuk Didampingi

TOS itu bukan dosa. Tapi momen ini jadi pengingat bahwa anak-anak butuh didampingi, bukan langsung dihakimi. Dan kita juga belajar dari TGB: bahwa kadang, senyuman dan kelembutan bisa jauh lebih mendidik daripada omelan keras di kolom komentar.

Karena pada akhirnya, seperti kata pepatah, “Anak-anak bukan gelas kosong untuk diisi, tapi api kecil yang harus dinyalakan dengan hati-hati.”

Oleh karenannya untuk orang tua, pendidik, atau netizen budiman — yuk kita jadikan kejadian ini bukan bahan gosip, tapi bahan tumbuh bareng.

Untuk ananda Faza? Jangan khawatir. Dunia ini memang tempat belajar. Dan kamu baru saja ngajarin kami semua tentang spontanitas dan pentingnya menanggapi anak-anak dengan cinta.

Sarangheooooo, Ainilovers.

Tuesday, April 22, 2025

DARI TRADISI KE EMANSIPASI: DENDA SASAK DAN TRANSFORMASI PERAN PEREMPUAN DI NUSA TENGGARA BARAT (NTB)

 

DARI TRADISI KE EMANSIPASI: DENDA SASAK DAN TRANSFORMASI PERAN PEREMPUAN DI NUSA TENGGARA BARAT (NTB)

Ida Rohyatul Aini, M.Pd

 

dok.ainiannahlkartini'sday

Obrolan santai, bahasa santai, pembahasan okay. Para Ainilovers maafkan baru nongol dengan hidangan ilmu nuansa kesetaraan gender, mengingat masih anget-angetnya peringatan hari R.A Kartini. Sebagai kaum perempuan, saya ingin menuangkan wawasan emansipasi di daerah sasak khususnya – perempuan sasak atau dikenal dengan denda sasak.

Prolog: Denda Sasak, Kartini Juga!

Zaman sekarang, ngomongin perempuan berdaya udah kayak tren yang wajib dibahas. Dari TikTok sampai ruang kuliah, semua ngomongin tentang kesetaraan, emansipasi, dan bagaimana perempuan bisa punya ruang yang sama besar kayak laki-laki. Tapi, pernah kepikiran gak sich kalau perjuangan itu udah dimulai jauh sebelum kita lahir dan bukan cuma sama Kartini?

Coba bayangin, di tengah adat istiadat dan tradisi yang kental banget di Lombok, ada satu sosok perempuan hebat. Namanya Denda Sasak. Dia bukan seleb, bukan aktivis medsos, tapi apa yang dia lakuin sangat keren. Dia ngegas sistem patriarki dari dalam, pakai kearifan lokal, dan buka jalan buat perempuan lain agar bisa berdiri sejajar sama laki-laki.

Yes, Denda Sasak itu ibarat Kartini-nya NTB. Tapi jangan salah, perjuangannya bukan copy-paste. Dia punya style sendiri, khas, dan rooted banget sama budaya Sasak. Dan itu yang bikin kisahnya wajib banget kalian tahu.

Tradisi Sasak: Perempuan yang Katanya Harus Nurut

Lombok itu bukan cuma tentang pantai kece seperti Gili Trawangan, pantai pink dan lainnya. Dibalik pemandangan indah, ada budaya Sasak yang kuat banget. Tapi, kayak banyak budaya lain di Indonesia, posisi perempuan di dalamnya seringkali ada di belakang layar. Contohnya, dalam urusan rumah tangga, keputusan penting biasanya diambil laki-laki. Bahkan ada tradisi kayak merariq (kawin lari) yang kadang malah bikin prempuan nggak punya banyak pilihan. Sounds unfair? Yup. Tapi jangan buru-buru nge-judge. Karena ternyata, dari dalam tradisi inilah muncul sosok-sosok pemberontak elegan, salah satunya ‘Denda Sasak’ ini.

Lalu, Siapa Sich Denda Sasak Ini?

Denda Sasak ini bukan tokoh yang banyak dibuku pelajaran sejarah. Tapi namanya tetap hidup lewat cerita-cerita rakyat, tradisi lisan, dan kisah-kisah yang disampaikan dari generasi ke generasi. Dia bukan perempuan biasa. Dari keluarga bangsawan, Denda punya akses ke pendidikan dan kesempatan buat ngeliat dunia lebih luas daripada kebanyakan perempuan pada masanya. Dan dia gak diem-diem bae. Dia pakai privilege-nya buat bantu perempuan lain. Dia buka ruang diskusi, dorong perempuan buat sekolah, bahkan kritik adat yang menurut dia gak adil buat perempuan. Gokil kan’?

Lawan dengan Lembut, Nggak Selalu Harus Bentak

Yang keren dari Denda Sasak, dia nggak melawan sistem dengan cara frontal. Dia nggak ngajak demo atau bikin kampanye besar-besaran. Tetapi dia masuk lewat budaya, lewat pendekatan halus, bahkan lewat simbol-simbol adat itu sendiri. Dia nunjukin kalau perempuan bisa punya suara, bisa ngatur, bisa jadi panutan—tanpa harus ninggalin identitasnya sebagai perempuan Sasak. Itu yang bikin perjuangannya relevan banget buat kita sekarang. Karena kadang, perubahan gak harus ribut. Yang penting konsisten.

Emansipasi Zaman Now, Belajar dari Denda Sasak

Nggak sedikit dari kita yang mikir emansipasi itu harus jadi bos, harus bisa ngalahin laki-laki disegala hal. Tapi sebenernya, emansipasi itu soal pilihan. Mau jadi ibu rumah tangga? Sah-sah aja. Mau jadi CEO? Gassken. Yang penting kamu bisa ambil keputusan sendiri, bebas dari tekanan, dan punya hak yang sama. Dan itu juga yang diperjuangin Denda Sasak, dia bukan ngajak perempuan ninggalin tradisi, tapi ngajak buat redefinisi peran. Tradisi itu nggak salah, asal kita bisa ngobrolin ulang soal makna dan keadilannya.

Di Balik Selendang dan Songket: Aksi Diam-Diam Denda Sasak

Denda Sasak bukan perempuan yang banyak teriak. Tapi jangan salah—diamnya bukan tanda menyerah, justru itu senjata. Dalam dunia di mana suara perempuan sering disepelekan, Denda paham satu hal 'kalau mau mengubah sistem, kadang harus main di dalamnya'.

Salah satu aksi paling penting dari Denda adalah perjuangannya dalam dunia pendidikan. Waktu itu, sekolah buat perempuan dianggap gak penting. “Ngapain perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya ke dapur juga?”—ya, kalian pasti familiar sama kalimat menyebalkan ini.

Tapi Denda nggak tinggal diam. Dia mulai dari lingkaran terdekat—anak-anak perempuan dari keluarga bangsawan, lalu merambah ke komunitas kecil di desa-desa. Ia bikin semacam “kelas sore” di rumahnya, ngajarin baca-tulis, ngaji, bahkan diskusi soal kehidupan.

Yes, dia basically bikin sekolah nonformal buat prempuan. Dan yang lebih epic’ lagi, ini dilakukan sambil tetap menghormati struktur adat. Jadi, dia nggak langsung menantang kepala adat, tapi ngajak ngobrol, nyambungin ide emansipasi dengan nilai-nilai lokal. Smart move, Denda! he

Ngulik Adat, Ngebentuk Makna Baru

Ada satu momen yang jadi turning point: Denda mulai angkat suara soal praktik kawin tangkap. Ini salah satu tradisi yang waktu itu dianggap “romantis” dalam budaya Sasak—laki-laki ‘menculik’ perempuan yang mau dinikahin, trus mereka ‘terpaksa’ menikah demi menjaga kehormatan keluarga.

Sounds problematic? Yes, apalagi kalau ternyata prempuannya nggak setuju.

Denda bukan langsung bilang, “hapus adat ini!”—karena itu bisa bikin benturan keras. Tapi dia dekati tokoh-tokoh adat dan ngajak mikir bareng: “Kalau perempuan dipaksa menikah tanpa kehendaknya, itu masih bisa disebut sakral?”

Dia ngasih contoh dari kitab-kitab Islam yang waktu itu jadi rujukan adat juga. Dia pakai bahasa adat, tetapi dengan visi keadilan. Lama-lama, praktik itu mulai dikritisi dari dalam. Beberapa kampung bahkan bikin aturan baru soal restu perempuan dalam pernikahan.

Ini bukan cuma kemenangan hukum—ini kemenangan moral, yang dimulai dari satu suara perempuan yang nggak teriak, tapi didengar.

Denda dan Politik Lokal: Prempuan Bisa Ambil Peran!

Denda juga aktif dalam pertemuan adat dan politik lokal. Dimasa itu, kehadiran perempuan dalam forum-forum seperti itu nyaris tabu, tapi Denda datang, duduk, bicara. Dan ketika dia bicara, semua orang dengerin. Kenapa bisa begitu? Karena dia tahu cara ngomong yang bikin orang gak tersinggung tapi tetap kena. Dia nggak malu pakai simbol-simbol lokal seperti; pakai baju adat, duduk ditikar, hormat ke tetua—tapi isi omongannya bisa bikin sistem goyah.

Dia ngomong soal hak waris perempuan, tentang pentingnya partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan desa, dan soal pendidikan anak perempuan yang jangan dikalahin sama anak laki-laki. Perjuangan Denda bukan dalam bentuk spanduk dan megafon. Tapi efeknya? Mengubah pola pikir satu generasi—dan itu nggak main-main.

Warisan yang Masih Menggema

Sampai sekarang, banyak komunitas perempuan di NTB yang nganggap Denda Sasak sebagai simbol. Nama “Denda” bahkan dipakai buat komunitas literasi, organisasi perempuan muda, sampai festival budaya yang temanya tentang kesetaraan.

Bahkan beberapa aktivis muda perempuan Lombok bilang, “Kalau nggak ada Denda Sasak, mungkin kita nggak akan seberani ini ngomong di depan publik.” Iya nggak sich ainilovers.

So, meski nggak viral, Denda itu definisi asli dari legacy. Dia bukan sekadar tokoh lokal, tetapi pelopor. Bukan cuma Kartini-nya NTB, tapi Kartini yang punya pendekatan sendiri—lembut, dalam, dan membumi. Ciaah asyiiiikkkkkk.

Tips Ala Denda Sasak: Versi Emansipasi Anak Muda Zaman Sekarang

Denda Sasak memang hidup di era yang jauh sebelum TikTok, scroll-scroll IG, atau debat trending di Twitter. But, cara dia gerak, berpikir, dan melawan sistem secara cerdas bisa banget jadi inspirasi generasi sekarang.

So, kalau kamu anak muda yang lagi cari arah, pengen punya impact, atau sekadar pengen lebih “melek” soal gender dan budaya, ini dia 7 tips warisan Denda Sasak yang bisa kalian bawa ke mana pun melangkah:

🎯 Lawan Bukan Berarti Marah, Tapi Cerdas

Denda itu nggak frontal. Dia nggak pakai amarah buat melawan ketidakadilan—dia pakai strategi. Dia paham budaya, ngerti siapa yang punya kuasa, dan tahu kapan harus bicara, kapan harus dengar.

Kalau kita pengen mengubah sesuatu baik di sekolah, kampus, lingkungan, bahkan di rumah, pelajari dulu sistemnya. Kadang kita bisa lebih ngefek dengan pendekatan yang cerdas dan sabar, daripada cuma teriak-teriak tanpa arah.

 📚 Ilmu Itu Keren, Apalagi Kalau Dibagi

Denda ngajarin anak-anak perempuan baca tulis di rumahnya. Dia tahu, ilmu bukan buat disimpan sendiri. Dan hari ini? Kamu punya YouTube, podcast, blog, medsos—platform buat sharing ilmu gak terbatas!

Apapun yang kita bisa, bagi. Kalian jago desain? Ajari adik,teman. Kalian paham keuangan? Bikin konten edukasi. Ilmu itu makin kuat kalau kalian gunain buat bantu orang lain.

💃 Tetap Lokal, Tapi Gak Ketinggalan Global

Denda tetap pakai baju adat, tetap hormat ke tetua, tapi omongannya jauh ke depan. Dia adalah bukti kalau kalian nggak harus lepas dari budaya buat jadi modern.

Nggak perlu malu pakai bahasa daerah, baju adat, atau tradisi lokal. Jadikan itu ciri khas kalian di era global. Lokal itu keren, asal dikemas dengan gaya yang beken!

 🎤 Suaramu Valid, Jangan Bungkam Diri

Perempuan dulu sering dianggap “tempatnya di dapur.” Tapi Denda nongol di ruang diskusi, ngomong di forum adat, bahkan jadi rujukan dalam pengambilan keputusan.

Kalian punya ide, opini, atau keresahan? Sampaikan. Entah itu lewat tulisan, musik, video, atau diskusi kecil. Jangan tunggu “diundang” buat bicara—bikin panggungmu sendiri.

🤝 Bangun Jaringan, Bukan Tembok

Denda nggak solo karier. Dia ngajak tokoh adat, ajak perempuan lain, bahkan laki-laki yang mau belajar. Dia tahu perubahan butuh komunitas.

Gabung komunitas, bikin forum diskusi, kolaborasi sama orang yang punya visi yang sama. Sekuat apa pun kamu, kalau sendirian bakal susah. Tapi bareng-bareng, bisa jadi gerakan!

 🔄 Tradisi Bukan Buat Dirombak Total, Tapi Diredefinisi

Denda nggak bilang “buang adat!” Tapi dia tanya, “apa adat ini masih adil?” Dia revisi dari dalam, bukan menghancurkan dari luar.

Kalau kamu ngerasa ada nilai atau kebiasaan yang nggak cocok, coba dialogin dulu. Cari maknanya, diskusiin dengan yang lebih tua. Kita bisa ubah makna tanpa harus hilangin akar.

🧠 Emansipasi Itu Tentang Pilihan

Buat Denda, perempuan harus punya pilihan—mau sekolah, kerja, atau di rumah. Yang penting: pilihan itu datang dari dirinya sendiri, bukan paksaan.

Jangan kejar “cita-cita kekinian” cuma karena tekanan tren. Mau jadi content creator? Silakan. Mau jadi petani? Keren. Mau fokus keluarga? Respect! Yang penting: itu adalah pilihanmu sendiri.

Penutup Mini: Jadi Denda Versi Dirimu Sendiri

Kamu gak harus jadi aktivis besar, atau masuk headline media. Tapi kamu bisa jadi “Denda” di hidup orang lain—dengan jadi inspirasi, jadi pendengar, jadi pembela keadilan dalam versi kamu sendiri.

Dunia butuh lebih banyak Denda. Tapi bukan untuk menggandakan masa lalu—melainkan untuk melanjutkan mimpi. Mimpi tentang perempuan yang bebas memilih, berani bersuara, dan tetap bangga dengan budayanya.

Dari Denda, Untuk Kalian: Saatnya Lanjutkan Cerita

Denda Sasak nggak pernah masuk buku sejarah nasional. Namanya nggak tercetak di uang kertas. Tetapi jejaknya jelas terasa di setiap anak perempuan Sasak yang hari ini bisa sekolah, bersuara, dan memilih jalan hidupnya sendiri.

Dia bukan superhero yang lahir dengan kekuatan ajaib. Dia perempuan biasa yang berani berpikir luar biasa. Berjuang dalam diam, melawan lewat dialog, dan berdiri di tengah pusaran adat tanpa pernah kehilangan arah.

Dan sekarang, tongkat estafet itu ada di tangan kita.

Kalian yang lagi kuliah dan ngerasa hidup “b aja”.

Kalian yang suka nulis tetapi takut nggak didengar.

Kalian yang aktif di medsos, tapi bingung mau posting apa yang meaningful.

Kalian yang pengen bantu orang lain tapi ggak tahu harus mulai dari mana.

Dengar, Kita nggak harus jadi Denda.

Tapi bisa jadi versi terbaik dari diri kita —dengan membawa semangat Denda ke dalam setiap langkah kecil yang kita ambil.

Bikin konten edukatif? Itu perjuangan.

Ngajak adik prempuan tetap sekolah? Itu emansipasi.

Berani bilang “nggak” ke paksaan tradisi yang gak adil? Itu revolusi.

Perjuangan hari ini bukan lagi soal angkat senjata. Tapi soal siapa yang mau bangkit, belajar, dan bicara.

Kita hidup di era di mana satu suara bisa mengguncang dunia. Tapi perubahan sejati dimulai dari hal kecil—dari ruang-ruang yang sering kita anggap sepele: obrolan di rumah, caption Instagram, kelas sore, atau diskusi warung kopi.

Denda Sasak sudah memulai.

Sekarang giliran kita melanjutkan.

Jangan pernah anggap kecil perjuanganmu, kalau niatmu besar untuk kebaikan sesama.

Yukk maju bersama!

 

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...