Tuesday, April 22, 2025

DARI TRADISI KE EMANSIPASI: DENDA SASAK DAN TRANSFORMASI PERAN PEREMPUAN DI NUSA TENGGARA BARAT (NTB)

 

DARI TRADISI KE EMANSIPASI: DENDA SASAK DAN TRANSFORMASI PERAN PEREMPUAN DI NUSA TENGGARA BARAT (NTB)

Ida Rohyatul Aini, M.Pd

 

dok.ainiannahlkartini'sday

Obrolan santai, bahasa santai, pembahasan okay. Para Ainilovers maafkan baru nongol dengan hidangan ilmu nuansa kesetaraan gender, mengingat masih anget-angetnya peringatan hari R.A Kartini. Sebagai kaum perempuan, saya ingin menuangkan wawasan emansipasi di daerah sasak khususnya – perempuan sasak atau dikenal dengan denda sasak.

Prolog: Denda Sasak, Kartini Juga!

Zaman sekarang, ngomongin perempuan berdaya udah kayak tren yang wajib dibahas. Dari TikTok sampai ruang kuliah, semua ngomongin tentang kesetaraan, emansipasi, dan bagaimana perempuan bisa punya ruang yang sama besar kayak laki-laki. Tapi, pernah kepikiran gak sich kalau perjuangan itu udah dimulai jauh sebelum kita lahir dan bukan cuma sama Kartini?

Coba bayangin, di tengah adat istiadat dan tradisi yang kental banget di Lombok, ada satu sosok perempuan hebat. Namanya Denda Sasak. Dia bukan seleb, bukan aktivis medsos, tapi apa yang dia lakuin sangat keren. Dia ngegas sistem patriarki dari dalam, pakai kearifan lokal, dan buka jalan buat perempuan lain agar bisa berdiri sejajar sama laki-laki.

Yes, Denda Sasak itu ibarat Kartini-nya NTB. Tapi jangan salah, perjuangannya bukan copy-paste. Dia punya style sendiri, khas, dan rooted banget sama budaya Sasak. Dan itu yang bikin kisahnya wajib banget kalian tahu.

Tradisi Sasak: Perempuan yang Katanya Harus Nurut

Lombok itu bukan cuma tentang pantai kece seperti Gili Trawangan, pantai pink dan lainnya. Dibalik pemandangan indah, ada budaya Sasak yang kuat banget. Tapi, kayak banyak budaya lain di Indonesia, posisi perempuan di dalamnya seringkali ada di belakang layar. Contohnya, dalam urusan rumah tangga, keputusan penting biasanya diambil laki-laki. Bahkan ada tradisi kayak merariq (kawin lari) yang kadang malah bikin prempuan nggak punya banyak pilihan. Sounds unfair? Yup. Tapi jangan buru-buru nge-judge. Karena ternyata, dari dalam tradisi inilah muncul sosok-sosok pemberontak elegan, salah satunya ‘Denda Sasak’ ini.

Lalu, Siapa Sich Denda Sasak Ini?

Denda Sasak ini bukan tokoh yang banyak dibuku pelajaran sejarah. Tapi namanya tetap hidup lewat cerita-cerita rakyat, tradisi lisan, dan kisah-kisah yang disampaikan dari generasi ke generasi. Dia bukan perempuan biasa. Dari keluarga bangsawan, Denda punya akses ke pendidikan dan kesempatan buat ngeliat dunia lebih luas daripada kebanyakan perempuan pada masanya. Dan dia gak diem-diem bae. Dia pakai privilege-nya buat bantu perempuan lain. Dia buka ruang diskusi, dorong perempuan buat sekolah, bahkan kritik adat yang menurut dia gak adil buat perempuan. Gokil kan’?

Lawan dengan Lembut, Nggak Selalu Harus Bentak

Yang keren dari Denda Sasak, dia nggak melawan sistem dengan cara frontal. Dia nggak ngajak demo atau bikin kampanye besar-besaran. Tetapi dia masuk lewat budaya, lewat pendekatan halus, bahkan lewat simbol-simbol adat itu sendiri. Dia nunjukin kalau perempuan bisa punya suara, bisa ngatur, bisa jadi panutan—tanpa harus ninggalin identitasnya sebagai perempuan Sasak. Itu yang bikin perjuangannya relevan banget buat kita sekarang. Karena kadang, perubahan gak harus ribut. Yang penting konsisten.

Emansipasi Zaman Now, Belajar dari Denda Sasak

Nggak sedikit dari kita yang mikir emansipasi itu harus jadi bos, harus bisa ngalahin laki-laki disegala hal. Tapi sebenernya, emansipasi itu soal pilihan. Mau jadi ibu rumah tangga? Sah-sah aja. Mau jadi CEO? Gassken. Yang penting kamu bisa ambil keputusan sendiri, bebas dari tekanan, dan punya hak yang sama. Dan itu juga yang diperjuangin Denda Sasak, dia bukan ngajak perempuan ninggalin tradisi, tapi ngajak buat redefinisi peran. Tradisi itu nggak salah, asal kita bisa ngobrolin ulang soal makna dan keadilannya.

Di Balik Selendang dan Songket: Aksi Diam-Diam Denda Sasak

Denda Sasak bukan perempuan yang banyak teriak. Tapi jangan salah—diamnya bukan tanda menyerah, justru itu senjata. Dalam dunia di mana suara perempuan sering disepelekan, Denda paham satu hal 'kalau mau mengubah sistem, kadang harus main di dalamnya'.

Salah satu aksi paling penting dari Denda adalah perjuangannya dalam dunia pendidikan. Waktu itu, sekolah buat perempuan dianggap gak penting. “Ngapain perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya ke dapur juga?”—ya, kalian pasti familiar sama kalimat menyebalkan ini.

Tapi Denda nggak tinggal diam. Dia mulai dari lingkaran terdekat—anak-anak perempuan dari keluarga bangsawan, lalu merambah ke komunitas kecil di desa-desa. Ia bikin semacam “kelas sore” di rumahnya, ngajarin baca-tulis, ngaji, bahkan diskusi soal kehidupan.

Yes, dia basically bikin sekolah nonformal buat prempuan. Dan yang lebih epic’ lagi, ini dilakukan sambil tetap menghormati struktur adat. Jadi, dia nggak langsung menantang kepala adat, tapi ngajak ngobrol, nyambungin ide emansipasi dengan nilai-nilai lokal. Smart move, Denda! he

Ngulik Adat, Ngebentuk Makna Baru

Ada satu momen yang jadi turning point: Denda mulai angkat suara soal praktik kawin tangkap. Ini salah satu tradisi yang waktu itu dianggap “romantis” dalam budaya Sasak—laki-laki ‘menculik’ perempuan yang mau dinikahin, trus mereka ‘terpaksa’ menikah demi menjaga kehormatan keluarga.

Sounds problematic? Yes, apalagi kalau ternyata prempuannya nggak setuju.

Denda bukan langsung bilang, “hapus adat ini!”—karena itu bisa bikin benturan keras. Tapi dia dekati tokoh-tokoh adat dan ngajak mikir bareng: “Kalau perempuan dipaksa menikah tanpa kehendaknya, itu masih bisa disebut sakral?”

Dia ngasih contoh dari kitab-kitab Islam yang waktu itu jadi rujukan adat juga. Dia pakai bahasa adat, tetapi dengan visi keadilan. Lama-lama, praktik itu mulai dikritisi dari dalam. Beberapa kampung bahkan bikin aturan baru soal restu perempuan dalam pernikahan.

Ini bukan cuma kemenangan hukum—ini kemenangan moral, yang dimulai dari satu suara perempuan yang nggak teriak, tapi didengar.

Denda dan Politik Lokal: Prempuan Bisa Ambil Peran!

Denda juga aktif dalam pertemuan adat dan politik lokal. Dimasa itu, kehadiran perempuan dalam forum-forum seperti itu nyaris tabu, tapi Denda datang, duduk, bicara. Dan ketika dia bicara, semua orang dengerin. Kenapa bisa begitu? Karena dia tahu cara ngomong yang bikin orang gak tersinggung tapi tetap kena. Dia nggak malu pakai simbol-simbol lokal seperti; pakai baju adat, duduk ditikar, hormat ke tetua—tapi isi omongannya bisa bikin sistem goyah.

Dia ngomong soal hak waris perempuan, tentang pentingnya partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan desa, dan soal pendidikan anak perempuan yang jangan dikalahin sama anak laki-laki. Perjuangan Denda bukan dalam bentuk spanduk dan megafon. Tapi efeknya? Mengubah pola pikir satu generasi—dan itu nggak main-main.

Warisan yang Masih Menggema

Sampai sekarang, banyak komunitas perempuan di NTB yang nganggap Denda Sasak sebagai simbol. Nama “Denda” bahkan dipakai buat komunitas literasi, organisasi perempuan muda, sampai festival budaya yang temanya tentang kesetaraan.

Bahkan beberapa aktivis muda perempuan Lombok bilang, “Kalau nggak ada Denda Sasak, mungkin kita nggak akan seberani ini ngomong di depan publik.” Iya nggak sich ainilovers.

So, meski nggak viral, Denda itu definisi asli dari legacy. Dia bukan sekadar tokoh lokal, tetapi pelopor. Bukan cuma Kartini-nya NTB, tapi Kartini yang punya pendekatan sendiri—lembut, dalam, dan membumi. Ciaah asyiiiikkkkkk.

Tips Ala Denda Sasak: Versi Emansipasi Anak Muda Zaman Sekarang

Denda Sasak memang hidup di era yang jauh sebelum TikTok, scroll-scroll IG, atau debat trending di Twitter. But, cara dia gerak, berpikir, dan melawan sistem secara cerdas bisa banget jadi inspirasi generasi sekarang.

So, kalau kamu anak muda yang lagi cari arah, pengen punya impact, atau sekadar pengen lebih “melek” soal gender dan budaya, ini dia 7 tips warisan Denda Sasak yang bisa kalian bawa ke mana pun melangkah:

🎯 Lawan Bukan Berarti Marah, Tapi Cerdas

Denda itu nggak frontal. Dia nggak pakai amarah buat melawan ketidakadilan—dia pakai strategi. Dia paham budaya, ngerti siapa yang punya kuasa, dan tahu kapan harus bicara, kapan harus dengar.

Kalau kita pengen mengubah sesuatu baik di sekolah, kampus, lingkungan, bahkan di rumah, pelajari dulu sistemnya. Kadang kita bisa lebih ngefek dengan pendekatan yang cerdas dan sabar, daripada cuma teriak-teriak tanpa arah.

 📚 Ilmu Itu Keren, Apalagi Kalau Dibagi

Denda ngajarin anak-anak perempuan baca tulis di rumahnya. Dia tahu, ilmu bukan buat disimpan sendiri. Dan hari ini? Kamu punya YouTube, podcast, blog, medsos—platform buat sharing ilmu gak terbatas!

Apapun yang kita bisa, bagi. Kalian jago desain? Ajari adik,teman. Kalian paham keuangan? Bikin konten edukasi. Ilmu itu makin kuat kalau kalian gunain buat bantu orang lain.

💃 Tetap Lokal, Tapi Gak Ketinggalan Global

Denda tetap pakai baju adat, tetap hormat ke tetua, tapi omongannya jauh ke depan. Dia adalah bukti kalau kalian nggak harus lepas dari budaya buat jadi modern.

Nggak perlu malu pakai bahasa daerah, baju adat, atau tradisi lokal. Jadikan itu ciri khas kalian di era global. Lokal itu keren, asal dikemas dengan gaya yang beken!

 🎤 Suaramu Valid, Jangan Bungkam Diri

Perempuan dulu sering dianggap “tempatnya di dapur.” Tapi Denda nongol di ruang diskusi, ngomong di forum adat, bahkan jadi rujukan dalam pengambilan keputusan.

Kalian punya ide, opini, atau keresahan? Sampaikan. Entah itu lewat tulisan, musik, video, atau diskusi kecil. Jangan tunggu “diundang” buat bicara—bikin panggungmu sendiri.

🤝 Bangun Jaringan, Bukan Tembok

Denda nggak solo karier. Dia ngajak tokoh adat, ajak perempuan lain, bahkan laki-laki yang mau belajar. Dia tahu perubahan butuh komunitas.

Gabung komunitas, bikin forum diskusi, kolaborasi sama orang yang punya visi yang sama. Sekuat apa pun kamu, kalau sendirian bakal susah. Tapi bareng-bareng, bisa jadi gerakan!

 🔄 Tradisi Bukan Buat Dirombak Total, Tapi Diredefinisi

Denda nggak bilang “buang adat!” Tapi dia tanya, “apa adat ini masih adil?” Dia revisi dari dalam, bukan menghancurkan dari luar.

Kalau kamu ngerasa ada nilai atau kebiasaan yang nggak cocok, coba dialogin dulu. Cari maknanya, diskusiin dengan yang lebih tua. Kita bisa ubah makna tanpa harus hilangin akar.

🧠 Emansipasi Itu Tentang Pilihan

Buat Denda, perempuan harus punya pilihan—mau sekolah, kerja, atau di rumah. Yang penting: pilihan itu datang dari dirinya sendiri, bukan paksaan.

Jangan kejar “cita-cita kekinian” cuma karena tekanan tren. Mau jadi content creator? Silakan. Mau jadi petani? Keren. Mau fokus keluarga? Respect! Yang penting: itu adalah pilihanmu sendiri.

Penutup Mini: Jadi Denda Versi Dirimu Sendiri

Kamu gak harus jadi aktivis besar, atau masuk headline media. Tapi kamu bisa jadi “Denda” di hidup orang lain—dengan jadi inspirasi, jadi pendengar, jadi pembela keadilan dalam versi kamu sendiri.

Dunia butuh lebih banyak Denda. Tapi bukan untuk menggandakan masa lalu—melainkan untuk melanjutkan mimpi. Mimpi tentang perempuan yang bebas memilih, berani bersuara, dan tetap bangga dengan budayanya.

Dari Denda, Untuk Kalian: Saatnya Lanjutkan Cerita

Denda Sasak nggak pernah masuk buku sejarah nasional. Namanya nggak tercetak di uang kertas. Tetapi jejaknya jelas terasa di setiap anak perempuan Sasak yang hari ini bisa sekolah, bersuara, dan memilih jalan hidupnya sendiri.

Dia bukan superhero yang lahir dengan kekuatan ajaib. Dia perempuan biasa yang berani berpikir luar biasa. Berjuang dalam diam, melawan lewat dialog, dan berdiri di tengah pusaran adat tanpa pernah kehilangan arah.

Dan sekarang, tongkat estafet itu ada di tangan kita.

Kalian yang lagi kuliah dan ngerasa hidup “b aja”.

Kalian yang suka nulis tetapi takut nggak didengar.

Kalian yang aktif di medsos, tapi bingung mau posting apa yang meaningful.

Kalian yang pengen bantu orang lain tapi ggak tahu harus mulai dari mana.

Dengar, Kita nggak harus jadi Denda.

Tapi bisa jadi versi terbaik dari diri kita —dengan membawa semangat Denda ke dalam setiap langkah kecil yang kita ambil.

Bikin konten edukatif? Itu perjuangan.

Ngajak adik prempuan tetap sekolah? Itu emansipasi.

Berani bilang “nggak” ke paksaan tradisi yang gak adil? Itu revolusi.

Perjuangan hari ini bukan lagi soal angkat senjata. Tapi soal siapa yang mau bangkit, belajar, dan bicara.

Kita hidup di era di mana satu suara bisa mengguncang dunia. Tapi perubahan sejati dimulai dari hal kecil—dari ruang-ruang yang sering kita anggap sepele: obrolan di rumah, caption Instagram, kelas sore, atau diskusi warung kopi.

Denda Sasak sudah memulai.

Sekarang giliran kita melanjutkan.

Jangan pernah anggap kecil perjuanganmu, kalau niatmu besar untuk kebaikan sesama.

Yukk maju bersama!

 

DENDA SASAK DALAM PERSPEKTIF SEJARAH GENDER: KARTINI DARI TANAH SASAK

DENDA SASAK DALAM PERSPEKTIF SEJARAH GENDER: KARTINI DARI TANAH SASAK

Ida Rohyatul Aini, M.Pd

 

Abstrak

Artikel ini mengkaji figur Denda Sasak dalam kerangka sejarah gender dan emansipasi perempuan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dengan pendekatan historis dan feminis, tulisan ini menyoroti peran dan kontribusi Denda Sasak sebagai simbol perjuangan perempuan lokal yang merepresentasikan semangat Kartini di luar Jawa. Artikel ini bertujuan untuk menegaskan pentingnya narasi lokal dalam wacana sejarah perempuan Indonesia, serta memperluas horizon pemahaman mengenai gerakan emansipasi dari perspektif kultural dan geografis yang lebih beragam.

Kata Kunci: Denda Sasak, Sejarah Gender, Emansipasi Perempuan

Pendahuluan

Wacana emansipasi perempuan di Indonesia kerap kali terpusat pada figur R.A. Kartini sebagai ikon nasional. Namun, di berbagai daerah, tokoh-tokoh lokal juga memainkan peran signifikan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, salah satunya adalah Denda Sasak dari Nusa Tenggara Barat. Dalam konteks budaya patriarkal masyarakat Sasak, kehadiran Denda Sasak merupakan pengejawantahan dari perjuangan yang sejalan dengan semangat Kartini, namun tumbuh dari akar budaya dan sejarah lokal.

Kajian ini penting untuk memperkaya pemahaman kita terhadap sejarah perempuan Indonesia yang selama ini didominasi oleh narasi Jawa-sentris. Dengan menggunakan pendekatan sejarah gender, tulisan ini mengangkat Denda Sasak sebagai agen perubahan sosial yang layak diberi tempat dalam diskursus nasional.

Latar Belakang Sosio-Kultural Masyarakat Sasak

Masyarakat Sasak, yang mendiami Pulau Lombok, memiliki struktur sosial dan adat yang kuat. Perempuan dalam tradisi Sasak sering kali ditempatkan dalam posisi subordinat, khususnya dalam ranah publik dan pengambilan keputusan. Meski demikian, terdapat celah dalam struktur budaya yang memungkinkan perempuan untuk menegosiasikan peran mereka secara aktif, baik di ranah domestik maupun publik.

Denda Sasak, sebagai salah satu tokoh perempuan yang hidup pada masa peralihan kolonial, muncul dalam konteks ini. Perjuangannya tidak hanya menantang ketimpangan gender, tetapi juga menawarkan bentuk-bentuk emansipasi yang relevan dengan nilai-nilai lokal.

Denda Sasak: Figur Perempuan Progresif

Tidak banyak literatur yang secara eksplisit membahas sosok Denda Sasak. Namun, dari berbagai catatan lokal dan tradisi lisan, Denda Sasak dikenal sebagai perempuan bangsawan yang terdidik dan berani menyuarakan hak-hak kaumnya. Ia memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan dan menentang praktik-praktik adat yang merugikan perempuan, seperti kawin tangkap atau kawin paksa.

Denda Sasak dikenal pula aktif dalam ruang sosial dan politik lokal, serta menjadi panutan bagi perempuan Sasak dalam menuntut kesetaraan. Dalam hal ini, ia tidak hanya menjadi pelopor emansipasi, tetapi juga simbol resistensi terhadap dominasi budaya patriarkal.

Perspektif Sejarah Gender: Kartini di Luar Jawa

Sejarah gender menekankan pada pentingnya melihat sejarah melalui lensa relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan. Dalam perspektif ini, perjuangan Denda Sasak dapat dikontekstualisasikan sebagai bagian dari gerakan emansipasi yang lebih luas, di mana perempuan di berbagai daerah turut memainkan peran penting dalam membentuk sejarah sosial dan budaya bangsa.

Menyematkan Denda Sasak sebagai “Kartini dari Tanah Sasak” bukan untuk menyeragamkan perjuangannya, tetapi untuk menegaskan bahwa semangat emansipasi tidak eksklusif milik satu wilayah. Seperti halnya Kartini, Denda Sasak memperjuangkan pendidikan, kesetaraan, dan peran aktif perempuan dalam masyarakat, namun melalui jalan dan konteks yang berbeda.

Penutup

Denda Sasak adalah representasi dari kekuatan perempuan lokal yang melampaui batas-batas geografis dan kultural. Mengangkat kisahnya dalam perspektif sejarah gender membuka ruang baru dalam memahami emansipasi sebagai gerakan yang majemuk dan kontekstual. Dengan demikian, sejarah perempuan Indonesia dapat dibaca lebih inklusif dan representatif, menjadikan tokoh seperti Denda Sasak tidak hanya sebagai inspirasi lokal, tetapi juga nasional.

 

Daftar Pustaka

Blackburn, Susan. Perempuan dan Negara dalam Politik Indonesia. Jakarta: Komunitas Bambu, 2007.

Robinson, Kathryn. Gender, Islam, and Democracy in Indonesia. London: Routledge, 2009.

Suryakusuma, Julia. State Ibuism: The Social Construction of Womanhood in New Order Indonesia. Depok: Komunitas Bambu, 2011.

Vickers, Adrian. A History of Modern Indonesia. Cambridge: Cambridge University Press, 2005.

Zuhdi, Susanto. Perempuan dalam Sejarah Indonesia: Dari Kartini hingga Era Reformasi. Yogyakarta: Ombak, 2013.

Wawancara dan Tradisi Lisan Masyarakat Sasak, Lombok Timur, 2023.

Dokumen Budaya dan Adat Sasak, Dinas Kebudayaan NTB, 2022.

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...