DARI TRADISI KE EMANSIPASI: DENDA SASAK DAN TRANSFORMASI PERAN
PEREMPUAN DI NUSA TENGGARA BARAT (NTB)
Ida Rohyatul Aini, M.Pd

Obrolan santai, bahasa santai, pembahasan okay. Para Ainilovers maafkan
baru nongol dengan hidangan ilmu nuansa kesetaraan gender, mengingat masih
anget-angetnya peringatan hari R.A Kartini. Sebagai kaum perempuan, saya ingin
menuangkan wawasan emansipasi di daerah sasak khususnya – perempuan sasak atau dikenal
dengan denda sasak.
Prolog: Denda Sasak, Kartini Juga!
Zaman sekarang, ngomongin perempuan berdaya udah kayak tren yang
wajib dibahas. Dari TikTok sampai ruang kuliah, semua ngomongin tentang
kesetaraan, emansipasi, dan bagaimana perempuan bisa punya ruang yang sama besar
kayak laki-laki. Tapi, pernah kepikiran gak sich kalau perjuangan itu udah dimulai
jauh sebelum kita lahir dan bukan cuma sama Kartini?
Coba bayangin, di tengah adat istiadat dan tradisi yang kental
banget di Lombok, ada satu sosok perempuan hebat. Namanya Denda Sasak. Dia
bukan seleb, bukan aktivis medsos, tapi apa yang dia lakuin sangat keren.
Dia ngegas sistem patriarki dari dalam, pakai kearifan lokal, dan buka jalan
buat perempuan lain agar bisa berdiri sejajar sama laki-laki.
Yes, Denda Sasak itu ibarat Kartini-nya
NTB. Tapi jangan salah, perjuangannya bukan copy-paste. Dia punya style
sendiri, khas, dan rooted banget sama budaya Sasak. Dan itu yang bikin
kisahnya wajib banget kalian tahu.
Tradisi Sasak: Perempuan yang Katanya Harus Nurut
Lombok itu bukan cuma tentang pantai kece seperti Gili Trawangan, pantai
pink dan lainnya. Dibalik pemandangan indah, ada budaya Sasak yang kuat
banget. Tapi, kayak banyak budaya lain di Indonesia, posisi perempuan di
dalamnya seringkali ada di belakang layar. Contohnya, dalam urusan rumah
tangga, keputusan penting biasanya diambil laki-laki. Bahkan ada tradisi kayak
merariq (kawin lari) yang kadang malah bikin prempuan nggak punya banyak
pilihan. Sounds unfair? Yup. Tapi jangan buru-buru nge-judge.
Karena ternyata, dari dalam tradisi inilah muncul sosok-sosok pemberontak
elegan, salah satunya ‘Denda Sasak’ ini.
Lalu, Siapa Sich Denda Sasak Ini?
Denda Sasak ini bukan tokoh yang banyak dibuku pelajaran sejarah.
Tapi namanya tetap hidup lewat cerita-cerita rakyat, tradisi lisan, dan kisah-kisah
yang disampaikan dari generasi ke generasi. Dia bukan perempuan biasa. Dari
keluarga bangsawan, Denda punya akses ke pendidikan dan kesempatan buat ngeliat
dunia lebih luas daripada kebanyakan perempuan pada masanya. Dan dia gak
diem-diem bae. Dia pakai privilege-nya buat bantu perempuan lain. Dia buka
ruang diskusi, dorong perempuan buat sekolah, bahkan kritik adat yang menurut
dia gak adil buat perempuan. Gokil kan’?
Lawan dengan Lembut, Nggak Selalu Harus Bentak
Yang keren dari Denda Sasak, dia nggak melawan sistem dengan cara
frontal. Dia nggak ngajak demo atau bikin kampanye besar-besaran. Tetapi dia
masuk lewat budaya, lewat pendekatan halus, bahkan lewat simbol-simbol adat itu
sendiri. Dia nunjukin kalau perempuan bisa punya suara, bisa ngatur, bisa jadi
panutan—tanpa harus ninggalin identitasnya sebagai perempuan Sasak. Itu yang
bikin perjuangannya relevan banget buat kita sekarang. Karena kadang, perubahan
gak harus ribut. Yang penting konsisten.
Emansipasi Zaman Now, Belajar dari Denda Sasak
Nggak sedikit dari kita yang mikir emansipasi itu harus jadi bos,
harus bisa ngalahin laki-laki disegala hal. Tapi sebenernya, emansipasi itu soal
pilihan. Mau jadi ibu rumah tangga? Sah-sah aja. Mau jadi CEO? Gassken. Yang
penting kamu bisa ambil keputusan sendiri, bebas dari tekanan, dan punya hak
yang sama. Dan itu juga yang diperjuangin Denda Sasak, dia bukan ngajak
perempuan ninggalin tradisi, tapi ngajak buat redefinisi peran. Tradisi itu nggak
salah, asal kita bisa ngobrolin ulang soal makna dan keadilannya.
Di Balik Selendang dan Songket: Aksi Diam-Diam Denda Sasak
Denda Sasak bukan perempuan yang banyak teriak. Tapi jangan
salah—diamnya bukan tanda menyerah, justru itu senjata. Dalam dunia di mana
suara perempuan sering disepelekan, Denda paham satu hal 'kalau mau mengubah sistem,
kadang harus main di dalamnya'.
Salah satu aksi paling penting dari Denda adalah perjuangannya
dalam dunia pendidikan. Waktu itu, sekolah buat perempuan dianggap gak penting.
“Ngapain perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya ke dapur juga?”—ya, kalian
pasti familiar sama kalimat menyebalkan ini.
Tapi Denda nggak tinggal diam. Dia mulai dari lingkaran
terdekat—anak-anak perempuan dari keluarga bangsawan, lalu merambah ke
komunitas kecil di desa-desa. Ia bikin semacam “kelas sore” di rumahnya,
ngajarin baca-tulis, ngaji, bahkan diskusi soal kehidupan.
Yes, dia basically bikin sekolah
nonformal buat prempuan. Dan yang lebih epic’ lagi, ini dilakukan sambil tetap
menghormati struktur adat. Jadi, dia nggak langsung menantang kepala adat, tapi
ngajak ngobrol, nyambungin ide emansipasi dengan nilai-nilai lokal. Smart
move, Denda! he
Ngulik Adat, Ngebentuk Makna Baru
Ada satu momen yang jadi turning point: Denda mulai angkat
suara soal praktik kawin tangkap. Ini salah satu tradisi yang waktu itu
dianggap “romantis” dalam budaya Sasak—laki-laki ‘menculik’ perempuan yang mau
dinikahin, trus mereka ‘terpaksa’ menikah demi menjaga kehormatan keluarga.
Sounds problematic? Yes, apalagi kalau ternyata prempuannya nggak setuju.
Denda bukan langsung bilang, “hapus adat ini!”—karena itu bisa
bikin benturan keras. Tapi dia dekati tokoh-tokoh adat dan ngajak mikir bareng:
“Kalau perempuan dipaksa menikah tanpa kehendaknya, itu masih bisa disebut
sakral?”
Dia ngasih contoh dari kitab-kitab Islam yang waktu itu jadi
rujukan adat juga. Dia pakai bahasa adat, tetapi dengan visi keadilan. Lama-lama,
praktik itu mulai dikritisi dari dalam. Beberapa kampung bahkan bikin aturan
baru soal restu perempuan dalam pernikahan.
Ini bukan cuma kemenangan hukum—ini kemenangan moral, yang dimulai
dari satu suara perempuan yang nggak teriak, tapi didengar.
Denda dan Politik Lokal: Prempuan Bisa Ambil Peran!
Denda juga aktif dalam pertemuan adat dan politik lokal. Dimasa
itu, kehadiran perempuan dalam forum-forum seperti itu nyaris tabu, tapi Denda
datang, duduk, bicara. Dan ketika dia bicara, semua orang dengerin. Kenapa bisa
begitu? Karena dia tahu cara ngomong yang bikin orang gak tersinggung tapi
tetap kena. Dia nggak malu pakai simbol-simbol lokal seperti; pakai baju adat, duduk ditikar, hormat ke tetua—tapi isi omongannya bisa bikin sistem goyah.
Dia ngomong soal hak waris perempuan, tentang pentingnya
partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan desa, dan soal pendidikan
anak perempuan yang jangan dikalahin sama anak laki-laki. Perjuangan Denda
bukan dalam bentuk spanduk dan megafon. Tapi efeknya? Mengubah pola pikir satu
generasi—dan itu nggak main-main.
Warisan yang Masih Menggema
Sampai sekarang, banyak komunitas perempuan di NTB yang nganggap Denda Sasak sebagai simbol. Nama “Denda” bahkan dipakai buat komunitas literasi, organisasi perempuan muda, sampai festival budaya yang temanya tentang kesetaraan.
Bahkan beberapa aktivis muda perempuan Lombok bilang, “Kalau nggak
ada Denda Sasak, mungkin kita nggak akan seberani ini ngomong di depan publik.”
Iya nggak sich ainilovers.
So, meski nggak viral, Denda itu
definisi asli dari legacy. Dia bukan sekadar tokoh lokal, tetapi
pelopor. Bukan cuma Kartini-nya NTB, tapi Kartini yang punya pendekatan
sendiri—lembut, dalam, dan membumi. Ciaah asyiiiikkkkkk.
Tips Ala Denda Sasak: Versi Emansipasi Anak Muda Zaman Sekarang
Denda Sasak memang hidup di era yang jauh sebelum TikTok, scroll-scroll
IG, atau debat trending di Twitter. But, cara dia gerak,
berpikir, dan melawan sistem secara cerdas bisa banget jadi inspirasi generasi
sekarang.
So, kalau kamu anak muda yang lagi cari
arah, pengen punya impact, atau sekadar pengen lebih “melek” soal gender dan
budaya, ini dia 7 tips warisan Denda Sasak yang bisa kalian bawa ke mana pun melangkah:
🎯
Lawan Bukan Berarti Marah, Tapi Cerdas
Denda
itu nggak frontal. Dia nggak pakai amarah buat melawan ketidakadilan—dia pakai
strategi. Dia paham budaya, ngerti siapa yang punya kuasa, dan tahu kapan harus
bicara, kapan harus dengar.
Kalau
kita pengen mengubah sesuatu baik di sekolah, kampus, lingkungan, bahkan di
rumah, pelajari dulu sistemnya. Kadang kita bisa lebih ngefek dengan pendekatan
yang cerdas dan sabar, daripada cuma teriak-teriak tanpa arah.
📚
Ilmu Itu Keren, Apalagi Kalau Dibagi
Denda
ngajarin anak-anak perempuan baca tulis di rumahnya. Dia tahu, ilmu bukan buat
disimpan sendiri. Dan hari ini? Kamu punya YouTube, podcast, blog,
medsos—platform buat sharing ilmu gak terbatas!
Apapun
yang kita bisa, bagi. Kalian jago desain? Ajari adik,teman. Kalian paham
keuangan? Bikin konten edukasi. Ilmu itu makin kuat kalau kalian gunain buat
bantu orang lain.
💃
Tetap Lokal, Tapi Gak Ketinggalan Global
Denda
tetap pakai baju adat, tetap hormat ke tetua, tapi omongannya jauh ke depan.
Dia adalah bukti kalau kalian nggak harus lepas dari budaya buat jadi modern.
Nggak
perlu malu pakai bahasa daerah, baju adat, atau tradisi lokal. Jadikan itu ciri
khas kalian di era global. Lokal itu keren, asal dikemas dengan gaya yang beken!
🎤
Suaramu Valid, Jangan Bungkam Diri
Perempuan
dulu sering dianggap “tempatnya di dapur.” Tapi Denda nongol di ruang diskusi,
ngomong di forum adat, bahkan jadi rujukan dalam pengambilan keputusan.
Kalian punya ide, opini, atau keresahan? Sampaikan. Entah itu lewat tulisan, musik,
video, atau diskusi kecil. Jangan tunggu “diundang” buat bicara—bikin
panggungmu sendiri.
🤝 Bangun
Jaringan, Bukan Tembok
Denda nggak solo karier. Dia ngajak tokoh adat, ajak perempuan lain, bahkan laki-laki yang mau belajar. Dia tahu perubahan butuh komunitas.
Gabung
komunitas, bikin forum diskusi, kolaborasi sama orang yang punya visi yang
sama. Sekuat apa pun kamu, kalau sendirian bakal susah. Tapi bareng-bareng,
bisa jadi gerakan!
🔄 Tradisi Bukan
Buat Dirombak Total, Tapi Diredefinisi
Denda
nggak bilang “buang adat!” Tapi dia tanya, “apa adat ini masih adil?” Dia
revisi dari dalam, bukan menghancurkan dari luar.
Kalau
kamu ngerasa ada nilai atau kebiasaan yang nggak cocok, coba dialogin dulu. Cari
maknanya, diskusiin dengan yang lebih tua. Kita bisa ubah makna tanpa harus
hilangin akar.
🧠 Emansipasi Itu
Tentang Pilihan
Buat
Denda, perempuan harus punya pilihan—mau sekolah, kerja, atau di rumah. Yang
penting: pilihan itu datang dari dirinya sendiri, bukan paksaan.
Jangan
kejar “cita-cita kekinian” cuma karena tekanan tren. Mau jadi content creator?
Silakan. Mau jadi petani? Keren. Mau fokus keluarga? Respect! Yang penting: itu
adalah pilihanmu sendiri.
✨ Penutup Mini: Jadi Denda Versi
Dirimu Sendiri
Kamu
gak harus jadi aktivis besar, atau masuk headline media. Tapi kamu bisa jadi
“Denda” di hidup orang lain—dengan jadi inspirasi, jadi pendengar, jadi pembela
keadilan dalam versi kamu sendiri.
Dunia
butuh lebih banyak Denda. Tapi bukan untuk menggandakan masa lalu—melainkan
untuk melanjutkan mimpi. Mimpi tentang perempuan yang bebas memilih, berani
bersuara, dan tetap bangga dengan budayanya.
Dari Denda, Untuk Kalian: Saatnya Lanjutkan Cerita
Denda Sasak nggak pernah masuk buku sejarah nasional. Namanya nggak
tercetak di uang kertas. Tetapi jejaknya jelas terasa di setiap anak perempuan
Sasak yang hari ini bisa sekolah, bersuara, dan memilih jalan hidupnya sendiri.
Dia bukan superhero yang lahir dengan kekuatan ajaib. Dia perempuan
biasa yang berani berpikir luar biasa. Berjuang dalam diam, melawan lewat
dialog, dan berdiri di tengah pusaran adat tanpa pernah kehilangan arah.
Dan sekarang, tongkat estafet itu ada di tangan kita.
Kalian yang lagi kuliah dan ngerasa hidup “b aja”.
Kalian yang suka nulis tetapi takut nggak didengar.
Kalian yang aktif di medsos, tapi bingung mau posting apa yang meaningful.
Kalian yang pengen bantu orang lain tapi ggak tahu harus mulai dari
mana.
Dengar, Kita nggak harus jadi Denda.
Tapi bisa jadi versi terbaik dari diri kita —dengan membawa
semangat Denda ke dalam setiap langkah kecil yang kita ambil.
Bikin konten edukatif? Itu perjuangan.
Ngajak adik prempuan tetap sekolah? Itu emansipasi.
Berani bilang “nggak” ke paksaan tradisi yang gak adil? Itu
revolusi.
Perjuangan hari ini bukan lagi soal angkat senjata. Tapi soal siapa
yang mau bangkit, belajar, dan bicara.
Kita hidup di era di mana satu suara bisa mengguncang dunia. Tapi
perubahan sejati dimulai dari hal kecil—dari ruang-ruang yang sering kita
anggap sepele: obrolan di rumah, caption Instagram, kelas sore, atau diskusi
warung kopi.
Denda Sasak sudah memulai.
Sekarang giliran kita melanjutkan.
Jangan pernah anggap kecil perjuanganmu, kalau niatmu besar untuk
kebaikan sesama.
Yukk maju bersama!