Tuesday, December 31, 2019

Jangan Rebut Hartaku, ini adalah Mutiara dan Istanaku




Mbusssssssssss !
Nddduaarrrrrrrr !!
Bunyi banjir yang telah meluluh lantahkan pemukiman setempat. Syukurnya tak menimbulkan banyak korban, karna pihak setempat dengan segera memindahkan penduduk ke tempat yang lebih aman. Dengan kondisi yang tidak bersahabat tersebut, salah seorang pengungsi menghampiri penanggungjawab di area itu, yakni kakek yang sudah renta. Dia sedikit menceritrakan keluarganya yang sudah sukses di kota. Dan berniat untuk berkunjung ke kota, menyusul ketiga anaknya.
“Kek, daripada ke kota apa baiknya saya telponkan aja anaknya. Supaya mereka tahu kabarnya kakek dan nanti kakek juga bisa dijemput sama mereka. Gimana?”
“Bo....boleh” kata kakek sedikit canggung
“Kalau gitu, sebutkan nomor anaknya kakek yach” mengaktifkan handphone dan siap menulis nomor.
“Saya ndak hafal”
“Aduh gimana yach kek, kalau ke kota dengan kondisi seperti ini, kami disini khawatir”
“Tak apa, saya masih ingat tempat kerja dan alamat rumah anak saya kok”
“Cu...Cuma saya mau minta tolong, boleh?” sambung kakek dengan suara yang sedikit terbata
“Minta tolong apa kek?”
“Saya ke kota uangnya tak cukup, tapi nih (menggarap kantong dan menunjukkan perhiasan), saya jual dan terserah mau kasih uang berapa”
Melihat gerak-gerik sang kakek yang bikin miris, salah seorang volunteer memberikan amplop dan bingkisan kecil.
“Kek, ini ada rizki. Semoga bermanfaat diperjalanan”
“Tidak Nak, ini (menyodorkan tangan guna mengembalikan bingkisannya) buat orang-orang di sini aja. Kakek tidak apa-apa, karena mau ke kota”
“Oh itu memang udah haknya kakek, karena semua pengungsi memang diberikan bingkisan seperti itu”
“Terus ini gimana Nak, ada yang mau beli ‘kah?” menyodorkan perhiasan ke petugas dan warga disekitarnya.
“Kakek simpan aja” sahut salah seorang volunteer sambil meregamkan tangan sang kakek.
Mendengar hal itu, sang kakek merunduk, dan seketika volunteer pun kembali mengerjakan tugasnya.
Malam telah tiba, se-malem-an suntuk sang kakek mempersiapkan barang-barang yang mau dibawa ke kota, sepertinya tak sabar menunggu kedatangan hari esok.
Ku.....kuyuyyuuuuuuuuuuuukkkkkkk !
Ayam berkokok menyambut akan hadirnya mentari pagi. Sang kakek bangun dan bersiap-siap menuju Stasiun, dia sengaja berangkat pagi-pagi buta supaya tidak  ketinggalan kreta, apalagi  dengan kondisinya yang sudah tidak kuat menempuh perjalanan jauh.
Sampai di Stasiun, sang kakek ke loket tiket dan dengan kondisi yang renta dia pun langsung dianter oleh petugas menuju tempat duduknya yakni di gerbong 3.
Tut...tut..tutututututtttttttttttttt !
Kreta berangkat dengan kendalinya. sembari menikmati makanan ringan yang dibawanya, sang kakek bereskpektasi tinggi betapa indahnya berkumpul sama anak-anak. Melepas rindu yang udah 3 tahun lamanya tak bersua bahkan tak ada kabar. Sang kakek begitu menikmati perjalanan sehingga tertidur pulas di kreta.  Dan tak tahunya udah sampai tujuan. Sang kakek pun turun dari kreta, dan singgah sholat zuhur disekitar stasiun. Kelar itu sang kakek berinisiatif mengunnjungi anak sulungnya.
“Paa (melirik orang sekitar takut ada yang melihat, lalu memandang wajah papanya dengan penuh sinis), papa ngapain ke kota?”
“Rumah di kampung sudah hancur.” Sahutnya dengan pelan dan dengan wajah lelah.
“Papa ke rumah kakak aja, rumah dia kan luas” sambil menutup pintu rumah.
“Ehh, Bar” panggilnya sembari pergi dengan sesekali  menoleh balik ke arah pintu.
Pelan-pelan sang kakek beranjak pergi dengan menenteng tas yang berisikan pakaiannya.  Ia pergi menuju anak kedua yang kerja di kantor elit.  Perjalanan menuju tempat anknya kerja memang butuh banyak waktu, berhubung sang kakek juga merasa lelah, ia pun beristirahat di pinggir jalan sekalian bermalam di sana. Malam telah berganti hari, ia melanjutkan perjalanannya. Sampainya di kantor, ia langsung melapor ke front office dan yang bersangkutan pun menyetujui permintaannya.
”Ratna,  ada yang cari di luar” panggil salah seorang petugas FO
“ Oh, Oke” sahut  Ratna
Ratna bergegas keluar, di ruang tunggu yang dilihat adalah orang tua renta yang berpakaian deso dan menenteng tas yang sangat lusuh.
“Pap, kenapa ke sini pa?”
“Papa datang dach dari kemaren, di kampung bajir besar dan semuanya terendam air”
“Mmmmm....Ratna masih kerja dan pulang nanti jam 3. Kalau nggak, papa ke rumah kakak aja dia itu kan kaya” ( mendorong bapaknya keluar)
Sang kakek memaklumi tindakan anaknya, karna saat itu anaknya emang sedang  jam kerja. Dan harapan terakhirnya adalah pada anak bungsunya. Tempat tinggal si bungsu tidak jauh dari kantor tersebut. Ia berjalan menuju rumah si bugsu, jalan dan terus berjalan tak terasa peluh keringat mengalir membasahi pakaian yang dikenakannya. Sampai di rumah si bugsu, ia memencet bel.
Si bungsu membuka gerbang dengan gelagat terburu-buru dan berkata:
”Pa, ngapain ke sini. Ohya tunggu sebentar” menutup gerbang lalu masuk ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu buat papa-nya.
“Ini Pa (merenggamkan uang ke tangan papa-nya), papa cepetan pergi, nanti tetangga liat, semua pada ngetawain aku” mendorong papanya supaya bergegas pergi dari hadapannya.
Mendengar hal itu, ia langsung pergi. Ia merunduk dan menarik nafas sekuat-kuatnya, sebab apa yang dibayangkan tidak sesuai ekspektasi. Malah berbanding terbalik 180 derajat dari kehidupan nyata. Berusaha tegar namun raut wajah tak bisa berpura-pura, entah mampu menyimpan rasa kecewa ataupun tetesan airmata.
Blubuk...blubuk....jdarrrrrrrrrrr ! bunyi gemuruh dan kilat menyambar
            Sang kakek pelan-pelan mencari tempat berteduh, saat berteduh Ia melihat di dekatnya ada Masjid. Ia pergi menuju Masjid, setelah melaksanakan sholat asar Ia menemui salah seorang petugas Masjid. Ia minta izin kepada petugas, bahwa malam ini Ia mau bermalam di sini sebab cuaca tidak memungkinkan untuk Ia melanjutkan perjalanan. Petugas Masjid mengizinkan Ia singgah malam ini. Dan malam itu entah apa yang terjadi, sang kakek tak mampu membendung tangis atas kelakuan ketiga anaknya. Menangisi diri dan tingkah anak-anaknya yang tak seperti dulu lagi. Meski demikian, Ia tak pernah menyalahi anak-anaknya, dan selalu berfikir bahwa anak-anaknya memang saat ini lagi pada sibuk.
Iyahh.....malam semakin mencekam, ditambah perasaan makin tak karuan. Belum juga melihat orang-orang yang berteduh disekelilingnya, Ia berpikir bahwa hidup di kota itu berat, kalau tidak bekerja keras maka hidup akan kocar-kacir tak karuan. Malam itu juga, Ia memutuskan kembali ke desa.
***
Keesokan harinya, Barbara disuruh menghadap oleh bapak manager-nya. Diajak makan siang bareng dan ngobrol-ngobrol masalah desa yang tertimpa musibah.
“Bar, kampungmu kebanjiran besar. Semua orang kehilangan segalanya tapi di rumahmu ditemukan harta karun!” ceritra manager dengan tampang serius.
“Hah? Maksudnya gimana? kata Barbara dengan heran.
“Di dalam rreruntuhan rumahmu ada harta tersembunyi. Sekarang ini, papa kamu ga’ pernah lepasin kotak itu dari tangannya”
“Mana mungkin? Keluargaku ga’ ada keturrunana orang kaya”
“Kamu lihat video ini” menyetel video di handpone miliknya.
“Kamu ini, lebih baik pulang liat sana. Kalau sampai hilang kerugiannya pasti besar”
Senyuman plus pikiran picik yang harap pasti, harta karun itu akan jatuh ke tangannya. Kabar burung tentang  harta karrun terdengar oleh kedua kakaknya.
“Ratna, dengar-dengar di rumah papa di kampung ada harta karun, kita pulang liat yuk”
“Iya kak, aku juga dengar barusan. Baru aja mau telpon tapi kaka telpon duluan”
“Kita pulang besok yuk, jangan sampai dikuasai oleh Bara”
“Baik-baik, kalau gitu aku urus cuti sekarang. Kaka besok jemput aku ya”
Keesokan harinya, mereka berlomba-lomba pulang ke kampung halaman. Ratna dan Susi membawa banyak buah tangan buat papanya. Begitu juga Bara yang tak mau kalah dengan kedua kakaknya.
”Pa, mau makan buah apel. Ayu kupasin yach” memainkan mata kanannya ke arah Ratna.
            Saat Papanya mau mengambil buah tersebut, Ayu ingin mengambil kotak yang ada ditangan papanya.
“Sini, biar aku bantu pegang”
Melihat papanya yang bersi kuat memeluk kotak tersebut. Ayu dan Ratna mengubah strategi.
“Pa, ini aku Ratna”
“Iya Pa, Aku Ayu. Papa tak kenalin kita.” sambut Ayu
“Bohong! Aku nggak kenal kalian. Pergi sana!”
“Pa...coba lihat ini, ditanganku ada tahi lalat.  Aku beneran Ratna. Papa udah ingat kan?”
Ssssttttt....Barbara datang dan merebut kotak tersebut.
“Awassss kalian!” Sang kakek berteriak
“Hey bara, apa-apaan ini” teriak Ayu dan Ratna sambil menarik kotaknya
Karena tidak ada yang mau mengalah, akhirnya kotak itu jatuh. Semua pada kaget, karena isi kotak itu adalah sebuah foto keluarga yang terbingkai rapi. Melihat hal itu, Ia mengambil dan memeluk foto tersebut sembari berkata.
“Jangan rebut hartaku”
Mendengar dan menyaksikan kejadian itu, sang anak terdiem-haru karena mengingat segala kesalahannya kepada papanya.
“Pa!......Papaaaaaaa” teriak Bara, Ayu dan Ratna
Mereka lari sekencang-kencangnya dan memeluk erak sang papa.
“Maafin Aku ya Paa” isak Ayu
“Ratna salah Pa, maafin yach Pa”
“Pa....Bara banyak salah sama PaPa. Maafin bara Pa”
Akhirnya, mereka sadar dan kumpul kembali seperti sediakala.





Hey....hey....sahabat ‘Ain lover, Gimana kisahnya? gimana?
Btw, ‘Ain mau bilang “Jangan pernah mengecewakan orang yang menganggapmu sebagai hartanya”
Hamasah !
Salam Literasi !
Salam Anak Berbakti !






Saturday, December 28, 2019

TEKNIK KATARSIS: BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN


Hari ini saya mau bahas mengenai teknik yang sederhana namun memiliki dampak yang tidak sederhana. Teknik yang bisa dipraktikkan siapapun, bahkan tidak belajar psikologi sekalipun. Well, kita mulai yach ‘Ain lover.
Katarsis berarti mengekspresikan emosi kita, yakni menuangkan segala isi hati dengan bebas. Singkatnya, katarsis adalah salah satu usaha yang  bisa Anda lakukan untuk mengungkapkan emosi yang sedang dirasakan. Selain itu,  katarsis menjadi sarana pelepasan ketegangan atau kecemasan yang sedang Anda rasakan. Sederhananya, mengeluarkan emosi dengan sebuah media. Banyak media yang bisa digunakan untuk melakukan katarsis, diantaranya:
          1. Menulis perasaan 
      2. Menggambar
          3. Memukul benda yang tidak berbahaya
          4. Berteriak
          5. Loncat-loncat
          6. Dan lain-lainnya
Bagaimana sich caranya?
Luapkan perasaan Anda dengan metode-metode di atas. Contohnya, jika Anda memiliki dendam, kekesalan dan emosi negatif terhadap orang lain. Anda bisa mengalihkan dengan cara memukul boneka empuk, dengan menggunakan emosi tersebut. Lakukan hingga capek and done.
Mudah 'kan?
Pengalaman saya pribadi menggunakan katarsis sedikit berbeda; saya kunci kamar dan ambil kertas-kertas putih. Lalu dikertas tersebut, saya menulis sejujur-jujurnya tentang perasaan yang saya rasakan.
Saya merasa.....
Saya kesal....
Saya benci.....
Saya tulis hingga tidak ada lagi kata-kata yang bisa ditulis. Kalau kurang kertasnya iya tambah lagi. Saya lakukan secara terus menerus dan tidak terasa airmata sudah penuh.
Lanjut dan lanjut lagi. Setelah itu, tulisan-tulisan di kertas tersebut saya bakar, sembari melihat tiap kata yang terbakar dan membayangkan semua itu hilang bersama api. Setelah melakukan hal itu, saya merasakan feeling good yang luar biasa.  Dan itulah salah satu tehnik katarsis yang berhasil pada saya.
Silakan praktik katarsis pada diri sendiri.
Teman-teman bisa lakukan dengan teknik yang cocok dan tepat menurut teman-teman sendiri. Dan keberhasilan teknik katarsis, tergantung dari seberapa serius kita melakukannya. Satu lagi tips jitunya, ‘lakukan di tempat yang private, dimana hanya Anda sendiri yang tahu’.

Q and A Seputar Katarsis
Eh kk ‘Ain, boleh nggak sih, kalau perasaan itu langsung diungkapkan ke orangnya. Misalkan suka atau nggak suka (ceplas-ceplos)?
Justru katarsis adalah teknik untuk menghindari hal itu, karena kalau kita melampiaskan ke objek hidup akan menambah masalah baru.
Kalau misalnya ada orang yang udah nyimpen dendam sama orang lain, setiap hari dia meluapkan emosi dengan menulis tapi tetap saja dia ada rasa dendam. Dalam arti dendamnya belum bisa hilang. Mungkin dendamnya udah mendalam gitu loh. Nah itu gimana, sebenarnya rasa dendam itu bisa hilang atau tidak? Kalau bisa, dengan cara apa? Kira-kira berapa lama dendam itu  bisa bersih dari hati?
Dendam bisa hilang, kalau tidak dengan teknik katarsis, Anda bisa menggunakan teknik lain. Salah satunya forgiveness. (tapi itu bahasannya beda iya)
Kalau katarsis buat orang lain gimana? supaya dia mau ngeluarin emosinya, apalagi sama orang yang susah buat ngeluarin emosi dan tertutup tapi kita tahu dia lagi butuh banget ngeluarin emosinya?
Ya, itu perlu bimbimbingan,  sekarang pertanyaannya sudahkah Anda membimbing dengan tepat? 
Tips membimbing , pastikan rapport sudah terbangun. Karena rapport adalah inti dari semua tehnik terapi.
Saat saya sedang kesal atau marah, salah satu cara yang saya lakukan yakni dengan berwudhu kemudian sholat, dilanjutkan dengan mengaji, tak terasa air mata menetes kemudian saya menangis dan meluapkan penyesalan saya.
Apakah berwudhu, sholat & mengaji merupakan beberapa teknik Katarsis?
Yappppp, betul sekali.
Implementasi Katarsis Yang Kadang Tidak Anda Sadari
Dedara Solah:
Pengalaman katarsisku, dulu sewaktu proses pengerjaan skripsi dan rasanya buntuuuuu banget. Plus kesel, emosi, sedih ketika rasanya revisi tak kunjung usai, aku minta draft skripsi seniorku yang sudah tidak terpakai, ku sobek-sobek dikosan sampai aku bermandikan kertas dan aku tidur diatasnya sambil tertawa sendiri. I feel like crazy but I’m happy at last. Kalau pengalaman terbaru sich belum ada, belum ada peristiwa sedih lagi soalnya ( jangan sampe deeh) Description: 😆 tapi kalau sekarang proses katarsisnya sudah enggak physical lagi sich, lebih ke arah spritual dan menggunakan ritus ibadah, seperti sebulan lalu misalnya ketika sempat putus dengan sang kekasih, saya lebih memperbanyak sholat, istikharah, tawakkal dan ikhlas hingga rasanya sempat numb tapi I’m fine. Proses pembelajaran yang saya dapat adalah bahwa hubungan manusia begitu rapuh. Mereka bisa saling membahagiakan juga saling menyakiti dalam waktu sekejap. Bahwa saya sadar tidak ada daya dan upaya melainkan KuasaNya. Dan mulai sekarang saya terus belajar untuk lebih menyerahkan segala urusan saya kepadaNya. Begitu, terima kasih.
Bajang Desa:
Teknik katarsis yg aku lakuin pagi ini
Selepas solat subuh badan terasa begitu lemas dan ngantuk banget, tapi ada beberapa tanggung jawab yg harus aku tunaikan. 
So, aku lompat-lompat sambil teriak-teriak "seger semangat bahagia".
Akhirnya saya merasakan "feel good" luar biasa semangat pagi ini, dan sampai skrg pun masih semangat. Terimakasih

Teruna Ganteng:
Teknik katarsis yang aku lakukan:
Menangis dan menulis puisi diatas secarik kertas tentang perasaan sedih yang sedang dialami.. semakin lama semakin tak terasa ternyata telah banyak untaian kata yang telah aku rangkai... sampai aku lelah disitulah aku merasa puas dan merasa baik lagi 
Upss.. curhat deh maaaf🤭🤭

Pemuda Sasak:
Aku mau cerita nih pengalaman kartasis yang pernah aku alami. Jadi, sewaktu sekolah dulu aku dikenal dengan orang yang, ya bisa dibilang sedikit lebih bisa sesuatu dibanding temen temen kuu, nah dari situ jiwa sombong muncul, selalu menggampangkan sesuatu, kerjaan jadi dinanti-nanti  sampai waktu pengumuman SNMPTN, aku ditolak rasanya itu duh ga’ karuan nangis seharian. Merasa ga’ guna banget jadi orang hidup. Tapi, tiba-tiba aku masih ada jalur SNMPTKIN, ya udah aku langsung bangun dari kasur usap air mata, udah ‘pede’ bakalan masuk eh tau-taunya ditolak lagi. Sumpah rasanya kayak ketimpa tangga 2 kali, mau marah tapi ga’ bisa - nangis terus kerjaannya - sampai temen aku kayaknya kasian dan bilang kaya gini ke aku "udah, berati Allah mau lho masuk jalur yang bener-bener lho harus berjuang bukan jalur yang enak-enak". Terus dari situ aku merenung, mulai hapus air mata, ga’ nyerah - aku belajar dari pagi sampai malam, konsultasi sama guru di tempat bimbel aku, untuk satu hari aku berjuang yaitu SBMPTN. Sampai di hari SBMPTN aku kerjain soal dengan ‘pede’ aku ga’ pandang berapa banyak saingan aku hari itu,  aku yakin aku bisa. Tiba-tiba pas pengumuman aku ditolak lagi dan pas banget lagi putus cinta hari itu, aku ga’ tau harus apalagi hari itu bener-bener dech aku kecewa sama diri aku sendiri. Matahin pensil ga'tau berapa banyak saking keselnya, pokoknya bener-bener itu mah nangis ga'ada ujungnya. Sampe satu titik aku mikir apa bener aku terlalu sombong? Aku udah lupa sama yang ngasih nikmat sampe hari ini? Akhirnya Ibu aku bilang "coba kamu nurut sama Mama, ambil air wudhu,  sholat tahajud dikencengin,  tadarrus jangan dilupain, ngejar dunia tanpa ngelakuin doa itu mustahil". Dari situ aku bener-bener, yaa Allah ternyata selama ini aku lalai. Akhirnya aku melakukan apa yang dinasihatkan ibuku, setelah ngelakuin sholat, tadarrus hati rasanya damai, tenang banget. Sampai aku harus berjuang lagi di UMPTKIN. Alhamdulillah, akhirnya aku lolos. Senang sekali yaa Allah.
.
.
Pelajaran yang bisa aku ambil, ketika kita lagi merasa senang beruntung percaya dech itu karena Allah. Jangan merasa sombong,  ingat di atas langit masih ada langit. Jangan pernah lupa sama kebaikan yang Allah kasih sama kita.
Terimakasih

Cewek Inges:
Sebenernya teknik katarsis yang aku lakukan suka berubah-ubah tergantung masalah apa yang sedang aku alami, biasanya kalau masalah yang sepele kadang aku lebih suka dengerin musik atau hangout bareng temen-temen. Tapi disini aku ingin bercerita pengalaman aku pas pengen masuk kuliah, dimana aku sama temen-temen dekat aku pengen banget masuk kampus impian yang sama yaitu STAN, nah singkat cerita pas selesai tes CBT waktu itu, hasil tes aku ternyata kurang memuaskan ada salah satu tes yang aku malah ga’ lolos nilai mati, disitu yang namanya sedih banget, apalagi pas denger temen aku ada yang lolos hmmm tambah sedih dan benci sama diri sendiri timbul juga rasa envy sama temen aku yang bisa lolos. Aku nangis dan ngurung diri di kamar, sampe akhirnya aku mikir "buat apa aku nangis terus-terusan, jalan masuk PTN itu masih banyak, kampus yang bagus juga masih banyak", terus aku mencoba sholat dan baca al-Quran, ga’ lupa juga aku berdoa minta jalan yang terbaik dan jangan sampe malah ada pikiran-pikiran buruk. Dan al-Hamdulillah hal yang aku lakuin itu emang berhasil bikin hati jadi lebih tenang dan ikhlas, endingnya aku bersyukur bisa masuk fakultas psikologi yang sebenarnya dari awal bukan menjadi tujuan aku tapi ternyata aku bisa enjoy.

Demikianlah, teknik katarsis ala rekan caby-caby huha.
Oyah buat sahabat ‘Ain lover,  yang punya pengalaman yang sama dan mungkin saja berbeda. Silakan tulis pengalaman katarsisnya di kolom komentar yach, tak lupa saran dan kritik yang konstruktif.





                           
.


Thursday, December 26, 2019

DIAGNOSISTIKA LEARNING DISABILITY SISWA DAN PENATALAKSANANYA DALAM MEDICE-EDUKASI

 

     Pendahuluan

 Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.[1]Dalam rangka pengembangan potensi diri, setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Ada siswa yang dapat mencapainya tanpa kesulitan, namun tidak sedikit siswa mengalami banyak kesulitan. Kita sering menemukan beberapa masalah pada siswa, seperti malas, mudah putus asa, acuh tak acuh disertai sikap menentang guru merupakan bagian dari masalah belajar siswa. Sebagian orang mungkin tidak mengetahui cara yang baik untuk memecahkan masalah sendiri. Sebagian yang lain tidak tahu apa sebenarnya masalah yang dihadapi. Ada pula seseorang yang tampak tidak mempunyai masalah, padahal ada masalah yang dihadapinya, sehingga siswa sulit meraih prestasi belajar di sekolah, meskipun telah mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh.

 Maka dari itu, dalam psikologi pendidikan (psikoedukasi) dipelajari beberapa gejala kesulitan belajar melalui diagnosis. Diagnosis kesulitan belajar adalah usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar, faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar serta cara menetapkan dan kemungkinan mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara preventif (pencegahan) berdasarkan data dan informasi yang se-obyektif mungkin.

      Konsep Kesulitan Belajar

Kesulitan belajar merupakan suatu kondisi tertentu yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan dalam kegitan mencapai suatu tujuan, sehingga memerlukan usaha yang lebih keras untuk dapat mengatasinya. Prayitno, dalam buku Bahan Bimbngan dan Konseling (Dari Pola Tidak Jelas ke Pola Tujuh Belas) Materi Layanan Pemblajaran, Depdiknas menjelaskan kesulitan belajar dapat diartikan suatu kondisi dalam proses belajar mengajar yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Hambatan-hambatan tersebut mungkin dirasakan atau mungkin tidak dirasakan oleh siswa yang bersangkutan. Jenis hambatan ini dapat brsifat psiologis, sosiologis, dan fisiologis dalam keseluruhan proses belajar mengajar.

Rumini mengemukakan kesulitan belajar merupakan kondisi saat siswa mengalami hambatan-hambatan tertentu untuk belajar secara optimal.[2] Sedangkan menurut Dalyono, kesulitan belajar adalah suatu keadaan yang menyebabkan siswa tidak belajar sebagaimana mestinya.[3] Kegiatan belajar adalah hal-hal atau gangguan yang mengakibatkan kegagalan atau setiddaknya menjadi gangguan yang dapat menghambat kemajuan belajar.[4]Sejalan dengan pendapat tersebut menurut Blassic dan Jones, kesulitan belajar yang dialami siswa menunjukkan adanya kesenjangan atau jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang dicapai oleh siswa pada kenyataannya (prestasi aktual).[5]

Dapat dikatakan bahwa siswa yang mengalami kesulitan belajar akan mengalami hambatan dalam proses mencapai hasil belajarnya secara optimal, sehingga prestasi yang dicapainya berada di bawah yang semestinya. Alan O. Ross (1974), mengatakan A learning difficully represente a discrepancy between a chill’s estimated academic potential and his actual level of academic performance

Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya:

1)   Learning Disorder atau  kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan,  akan tetapi belajarnya terrganggu atau terhambat oleh adanya respon-respon yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.

2)   Learning Disfungtion merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat diri, atau gangguan psikologi lainnya. Contoh: siswa yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volly, namun karena tidak pernah dilatih bermain volly, maka dia tidak dapat menguasai permainan volly dengan baik.

3)   Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.  Contoh: siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130-140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.

4)   Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat belajar dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan kelompok yang memiliiki taraf potensi intelektual yang sama.

5)   Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.[6]

Jika ditinjau dari aspek psikologi perkembangan, kesulitan belajar dapat dipandang  sebagai kelambatan kematangan fungsi neorologis tertentu.[7] Definisi yang dikemukakan oleh Canadia Assosiation for Children with Learning Disaility (CACLD) lebih lengkap yaitu memasukkan juga kelainan kompatensi, memori, koordinasi komunikasi sebagai manifestasi kesulitan belajar.[8]  

Kesulitan belajar adalah sebagai gangguan perseptual, konseptual, memori, mampu ekspresif di dalam proses belajar.[9] Hallahan, Kauffman, dan Lioyd mengatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau menghitung.[10] Mulyadi mengatakan bahwa kesulitan belajar pada umumnya kesulitan pada suatu kondisi tertentu yang ditandai dengan adanya hambatan dalam mencapai kegiatan, sehingga memerlukan usaha lebih giat lagi untuk dapat mengatasinya.[11]

Kesulitan belajar adalah keadaan dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Dan kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelegensi yang rendah atau kelainan mental, akan tetapi dapat juga disebabkan faktor-faktor non-intelegensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar.[12] Kesulitan belajar adalah suatu kondisi di mana anak didik tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar.[13]

Berdasarkkan pengertian tersebut dapat diaufklarungkan bahwa kesulitan belajar merupakan kelompok kelainan yang heterogen yang bermanifestasi sebagai kesulitan yang bermakna dalam memproleh dan menggunakan kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan mengeluarkan pendapat. Kelainan bisa disebabkan dari dalam diri individu karena disebabkan disfungsi sistem saraf pusat atau bissa saja dari ekstrinsik individu seperti lingkungan, sekolah, teman sebaya dan sebagainya.

     Aspek-aspek Perkembangan Prilaku Kesulitan belajar

   Aspek-aspek perkembangan tersebut antara lain:[14]

1)  Aspek Kognitif

Berbagai definisi kesulitan belajar lebih berorientasi kepada aspek akademik atau cognitive. Problema kemampuan bicara, membaca, menulis, mendengarkan, berfikir dan matematis semuanya merupakan penekanan terhadap aspek akademik. Penekanan seperti ini merefleksikan keyakinan bahwa masalah anak berkesulitan belajar lebih banyak berkaitan dengan wilayah akademik dan bukan disebabkan oleh tingkat kecerdasan yang rendah.

2)  Aspek Bahasa[15]

 Problema bahasa anak berkesulitan belajar menyangkut bahasa reseptif[16] maupun ekspresif[17]. Kedua bahasa ini dapat dipahami dengan menggunakan tes kemampuan berbahasa.

3)  Aspek Motorik

 Masalah motorik merupakan masalah yang umumnya dikaitkan dengan kesulitan belajar. Masalah motorik anak berkesulitan belajar biasanya menyangjut keterampilan motorik-perseptual yang diperlukan untuk mengembangkan keterampilan meniru pola. Potensi ini sangat diperlukan untuk menggambar, menulis, atau menggunakan gunting.

4)  Aspek Sosial dan Emosi

 Dua karakteristik yang sering diangkat sebagai karakteristik sosial-emosional anak berkesulitan belajar ialah kelabilan emosional dan ke-impulsif-an. Kelabilan emosional ditunjukkan oleh sering berubahnya suasana hati dan temperamen, sedangkan ke-inpulsif-an merujuk pada lemahnya pengendalian terhadap dorongan berbuat.

    Karakteristik Kesulitan Belajar

      Karakteristik anak kesulitan belaar dikatakan sebagai berikut:[18]

1)      Kemampuan persepsi yang rendah (poor perceptual abilities) diantaranya: a) persepsi pendengaran ,b) persepsi visual, dan c) persepsi taktil. Diantara tipe-tipe umum dari kekurangan persepsi pendengaran adalah auditory agnosia, yaitu ketidakmampuan untuk mengenal suara atau kombinasi bunyi dengan memperhatikan maknanya. Sedangkan yang lainnya, adalah auditory dissociation (dissosiasi pendengaran) yaitu bunyi dapat di dengar dan dikenali tetapi tidak mampu untuk diartikan secara keseluruhan.

2)      Kesulitan menyadari tubuh sendiri (body awareness difficulties)

Kesadaran terhadap tubuh didefinisikan sebagai konsep dan pemahaman bahwa adanya saling keterhubungan yang erat antara tubuh seseorang dengan lingkungannya selama proses perubahan perilaku. Faktor-faktor yang terlibat dalam perkembangan kesadaran terhadap tubuh adalah kinesthesia, asimilasi, dan perlengkapan visual. Kesulitan-kesulitan terhadap kesadaran tubuh dimungkinkan terjadi dalam wilayah keterampilan gerak, sebagai berikut: a) Orientasi ruang (spacial orientation), yaitu pemahaman terhadap ruang sekitar diri seseorang berkaitan dengan jarak jauh dan posisi, b) Secara kesamping (laterality), yaitu mengetahui yang mana sisi kiri atau kanan dari tubuh, c) Secara gerak lurus (vertically), yaitu konsep tentang arah ke atas dan ke bawah, d) Terhadap kesan tubuh (body image) yaitu konsep pemahaman bagian-bagian tubuh, e) Berkaitan dengan garis tengah tubuh (midline body) yaitu konsep garis tengah tubuh secara tegak lurus dari tubuh manusia yang memisahkan tubuh ke dalam dua sisi yang sama.

3)       Kelainan kegiatan gerak (disoder of motor activity)

 Kelaianan  gerak seringkali dapat diamati pada anak-anak dengan kesulitan belajar. Hal ini dimungkinkan karena masalah gerak dan kesulitan belajar mempunyai etiologi yang sama.

4)        Kesulitan dalam keterampilan psikomotorik sangat erat hubungannya dengan ketidakberfungsian persepsi khusus, antara lain: a) Respon psikomotorik yang lemah petunjuk yang diperoleh melalui pendengaran suara dengan kegiatan yang berbeda seperti kata-kata, b) Respon psikomotorik terhadap persepsi visual lemah. Kemampuan persepsi visual yang spesifik penyebab adanya respon psikomotor terhadap persepsi visual yang lemah, dapat menyebabkan seseorang tidak mampu membedakan udara dengan latar belakang awan sehingga yang bersangkutan tidak dapat menangkap pola putih dengan baik, c) Rendahnya respon psikomotor terhadap persepsi taktik.

      Simtom Kesulitan Belajar

        Beberapa simtom kesulitan belajar anak didik dapat dilihat sebagai berikut:

1)      Menunjukkan prestasi belajar yang rendah, di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok anak didik di kelas

2)      Hasil belajar yang di capai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Padahal anak didik sudah berusaha belajar dengan keras, tetapi nilainya selalu rendah

3)      Anak didik lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawan dalam segala hal

4)      Anak didik menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, berpura-pura, berdusta, mudah tersinggung dan sebagainya

5)      Anak didik menunjukkan tingkah laku yang tidak seperti biasanya ditunjukkan kepada orang lain. Dalam hal ini misalnya anak didik menjadi pemurung, pemarah, selalu bingung, selalu sedih, kurang gembira atau mengasingkan diri dari kawan-kawan sepermainan

6)      Anak didik yang tergolong memiliki IQ tinggi, yng secara potennsi mereka seharusnya meraih prestasi belajar yang tinggi, tetapi kenyataannya mereka mendapatkan prestasi belajar yang rendah

7)      Anak didik yang selalu menunjukkan prestasi belajar yang  tinggu untuk sebagian besar mata pelajaran; tetapi prestasi belajarnya menurun drastis.

Dari semua uraian gejala yang tampak itu, guru bisa memprediksi bahwa anak kemungkinan mengalami kesulitan belajar atau bisa juga dengan cara lain, yaitu melakukan penyelidikan dengan cara observation, interview, dokumentasi, tes diagnostik.[19]

      Diagnosa Kesulitan Belajar

Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam konteks proses belajar-mengajar, faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi input, proses ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor-faktor yang munkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar siswa, yaitu: a. faktor intern (faktor yang bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya, b. faktor ekstern, seperti lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk di dalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya.

Langkah-langkah tindakan diagnosa menurut  C.Ross dan Julian Stanley, langkah-langkah tersebut yaitu:

1)  Langkah-langkah  diagnosis yang meliputi aktivitas, berupa: identifikasi kasus, lokalisasi jenis dan sifat kesulitan,  dan menemukan faktor penyebab baik secara internal maupun eksternal.

2)   Langkah prognosis yaitu langkah untuk mengestimasi (mengukur), memperkirakan apakah kesulitan tersebut dapat dibantu atau tidak.

3)   Langkah terapi yaitu langkah untuk menemukan berbagai alternatif kemungkinan cara yang dapat ditempuh dalam rangka penyembuhan kesulitan tersebut yang kegiatannya meliputi antara lain pengajaran, remedial, transfer atau referal.

4)  Mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengali kesulitan belajar. Adapun langkah-lankah mengidentifikasi siswa mengalami kesulitan belajar:

ü  Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam satu kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar baik bersifat umum maupun khusus dalam bidang studi-

ü  Meneliti nilai ulangn yang tercantum dalam “record academic” kemudian dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas, atau dengan kriteria tingkat penguasaan minimal kompetensi yang dituntut.

ü  Menganilisis  hasil ulangan dengan melihat sifat kesalahan yang dibuat

ü  Melakukan observasi pada saat siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar yaitu mengamati tingkahlaku siswa dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan di dalam kelas, berusaha mengetahui kebiasaan dan cara belajar siswa melalui check list.

ü  Mendapatkan kesan atau pendapat dari guru lain terutama wali kelas, dan guru pembimbing.

5) Mengalokasikan letaknya kesulitan atau permasalahannya, dengan cara mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu. Dengan membandingkan angka nilai prestasi siswa yang bersangkutan dari bidang studi yang diikuti atau dengan angka nilai rata-rata dari setiap bidang studi atau dengan melakukan analisis terhadap catatan mengenai proses belajar. Hasil analisis empiris terhadap catatan keterlambatan berpartisipasi dalam belajar.

6)   Melokalisasi jenis faktor dan sifat yang menyebabkan mengalami berbagai kesulitan

7)  Memperkirakan alternatif pertolongan, menetapkan kemungkinan cara mengatasinya baik yang bersifat mencegah (preventif), mupun penyembuhan (kuratif).[20]

Faktor Penyebab Kesulitan Belajar

 Faktor yang menyebabkan kesulitan belajar itu banyak dan beragam. Apabila dikaitkan dengan faktor-faktor yang berperan dalam belajar. Penyebab kesulitan belajar tersebut dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu:

1.   Faktor Internal

a.    Faktor Fisiologis

Faktor intern berupa kesehatan ini terbagi menjadi dua, yaitu kesehatan jasmani dan rohani. Kesehatan ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar siswa.[21] Hal ini dapat dilihat ketika seorang siswa yang belajar dengan kondisi fisik yang terganggu, seperti sakit pilek, panas, flu dan lain sebagainya, maka ini mengakibatkan dia tidak bersemangat dalam melaksanakan proses pembelajaran, sehingga hasil yang hendak dicapai tidak maksimal. Begitu juga dengan kesehatan rohani (jiwa). Ketika seorang siswa mengalami gangguan dalam jiwanya, seperti mengalami rasa kecewa, sedih pikiran terganggu atau lainnya, maka semangat untuk belajar pun berkurang. Sehingga pembelajaran pun terganggu.

b.   Faktor Psikologis

Faktor-faktor psikologi yang dipandang esensial adalah sebagai berikut.

1)      Intelegensi

 Intelegensi merupakan suatu kemampuan mental yang bersifat umum (general ability) untuk membuat atau mengadakan analisis, memecahkan masalah, menyesuaikan diri, dan menarik generalisasi, serta merupakan kesanggupan berfikir seseorang.

Adapun tingkat intelegensi siswa dapat diklasifikasikan sebagai berikut.[22]

Tingkat IQ

Kelompok

130 ke atas

Pandai ssekali (Genius)

110-129

Pandai

90-109

Rata-rata (normal)

70-89

Kurang pandai

50-69

Lemah ingatan

30-49

Debiel

Kurang dari 30

Imbeciel-ideot

Intelegensi ini merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tinggi rendahnya prestasi belajar siswa, intelegensi merupakan dasar yang potensial bagi pencapaian hasil belajar, artinya hasil belajar yang dicapai akan sangat begantung kepada tingkat intelegensi dan hasil belajar yang dicapai tidak akan melebihi tingkat intelegensinya.[23]

2)   Bakat (attitude)

Bakat adalah kemampuan untuk belajar.[24]  Secara umum bakat diartikan sebagai kemampuan potensi yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa akan datang. Sebagaimana bakat atau atitude menurut Hilgard adalah the capacity of learn. Dengan kata lain, bakat adalah kemampuan untuk belajar.[25] Kemampuan ini akan terwujud menjadi kecakapan yang nyata setelah belajar atau berlatih. Secara umum bakat mirip dengan intelegensi. Melihat hubungan yang erat antara bakat dengan hasil belajar maka terdapat dua alasan mengapa bakat harus diketahui oleh guru sebagai pendidik dan orang tua sebagai penanggung jawab masa depannya.

Pertama, orang tua guru dapat memenuhi segala kebutuhan anak berbakat tersebut sehingga bakat yang dimiliki meliputi kebutuhan kognitif maupun kebutuhan afektif. Orang tua dapat menyediakan lingkungan pendidikan yang tepat bagi perkembangan bakat anak Tujuan pemilihan lingkungan pendidikan tersebut tidak lain adalah membantu anak untuk memahami diri sendiri agar menerima bakat yang dimiliki sebagai suatu anugrahyang harus disyukuri dan dikembangkan, bukan sebagai suatu beban. Kedua, orang tua dan guru dapat membantu memberikan informasi yang diperlukan untuk mengembangkan bakat anak tersebut. Transfer informasi yang terjadi diantara orang tua dan guru kepada siswa akan menjadi sebuah dukungan yang dibutuhkan siswa dalam menjalani proses belajarnya.[26]

Dari uraian tersebut maka ketika seseorang memiliki bakat terhadap pelajaran yang dipakai maka hasil belajar yang dicapai akan lebih baik, karena dia senang terhadap pelajaran itu, sehingga dia memiliki semangat untuk belajar. Sehingga ketika hasil belajar yang di capai baik, maka keberhasilan belajar pun tercapai dengan baik.

3)   Minat (interest)

Minat[27] dapat diartikan sebagai kecenderungan seseorang terhadap sesuatu, sedangkan perhatian adalah melihat dan mendengarkan dengan baik dan teliti terhadap sesuatu.[28] Perhatian dapat dipupuk dengan memberikan stimulus yang baru, beraneka ragam atau berorientasi tinggi.[29] Minat mempunyai pengaruh besar terhadap belajar karena bila bahan ajar yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak adanya daya tarik.

Minat timbul dapat timbul karena adanya daya tarik dari luar dan datang dari hati sanubari. Minat yang besar terhadap sesuatu merupakan modal yang besar untuk mencapai hal atau sesuatu atau juga tujuan yang diminatin itu. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat yang kurang akan menghasilkan prestasi rendah.[30] Jadi dengan adanya minat siswa terhadap materi pelajaran akan memberikan hasil positif terhadap hasil atau prestasi belajarnya.

4)   Motivasi (motif)

Motivasi merupakan daya pennggerak atau pendorong untuk melakukan sesuatu pekerjaa yang bisa berasal dalam diri dan juga dari luar.[31] James Drever memberikan definisi terkait motif yaitu: Motive is  oneffective-conative factar which operates in determining the direction ofan individual's behavior to wards an end ar goal, consioustly apprehen dedorun consioustly.[32]

Motivasi memang merupakan faktor yang mempunyai arti penting bagi seseorang anak didik.[33] seseorang siswa yang belajar denga motivasi kuat, akan melaksanakan semua kegiatan belajarnya sengan sungguh-sungguh penuh gairah atau semangat. Sebaliknya, belajar dengan motivasi yang lemah, akan malas bahkan tidak mau mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan dengan pelajaran. Artinya bahwa perhatian dan motivasi merupakan prasarat dalam proses belajar-mengajar.[34]

5)  Methode belajar

Selain faktor yang telah disebutkan, cara belajar seseorang juga dapat mempengaruhi pencapaian hasil belajar dan tentunya berpengaruh terhadap keberhasilan belajar pula. Belajar tanpa memperhatikan teknk dan faktor fisiologis, hasilnya pun kurang maksimal.[35] Cara belajar yang dimaksudkan di sini adalah bagaimana mengatur waktu dalam belajar serta teknik-teknik dalam belajar. Seperti misalnya, cara membaca, cara mencatat, menggarisbawahi, penggunaan media pembelajaran, dan penyusaian bahan pengajaran.[36] Meskipun faktor cara yang mempengaruhi dalam pencapaian keberhasilan belajar, namun jika cara belajar tidak diperhatikan maka pencapaiann keberhasilanpun dirasa kurang maksimal.

2.    Faktor Eksternal

a. Keluarga

1)   Cara Orang tua Mendidik

 Cara orang tua mendidik sangat berpengaruh terhadap hasil Belajar anak. Hal ini dipertegas oleh Sutjipto Wirowidjojo yang menyatakan bahwa: Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar, artinya untuk pendidikan dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan untuk pendidikan dalam ukuran besar.

Orang tua yang tidak atau kurang memperhatikan pendidikan anak misalnya acuh terhadap belajar anak dan sebagainya dapat menyebabkan anak tidak atau kurang berhasil dalam belajarnya. Mendidik anak dengan memanjakannya adalah cara mendidik yang tidak baik. Orang tua yang terlalu kasihan terhadap anak bahkan tidak sampai hati untuk memaksa anak untuk belajar, bahkan membiarkan saja jika anaknya tidak belajar dengan alasan apapun adalah tidak benar, sebab jika hal ini dibiarkan berlarut-larut akan menjadikan anak nakal, berbuat seenaknya dan akan menimbulkan kekacauan dalam belajar anak. Mendidik anak dengan cara terlalu keras juga salah, sebab dengan cara demikian anak akan diliputi ketakutan dan akhirnya benci terhadap belajar. Bahkan dengan ketakutan tersebut dapat menyebabkan gangguan jiwa akibat tekanan-tekanan yang dilakukan orang tua.

Di sini bimbingan dan penyuluhan memegang peranan penting anak atau siswa yang mengalami kesulitan-kesulitan belajar dapat ditolong dengan memberikan bimbingan belajar dengan sebaik-baiknya dan peran Orang tua akan mempengaruhi keberhasilan bimbingan tersebut.

2)   Pengertian Orang tua

Anak yang belajar memerlukan dorongan dan pengertian dari Orang tua. Bila anak sedang belajar tidak boleh ada gangguan dalam bentuk apapun. Terkadang anak mangalami lemah semangat, kewajiban Orang tua adalah memberi pengertian dan dorongan semangat, membantu sedapatnya terkait kesulitan-kesulitan yang dialami anak.

3)   Relasi antar anggota Keluarga

Relasi antaranggota keluarga yang terpenting adalah relasi antara Orang tua dengan anak. Selain itu relasi anak dengan saudaranya atau dengan anggota keluarga yang lainpun ikut mempengaruhi belajar anak sebetulnya relasi antar anggota keluarga erat hubungannya dengan cara orang tua mendidik anak. Demi kelancaran belajar serta keberhasilan anak, perlu diusahakan relasi yang baik di dalam keluarga anak tersebut.

b.   Sekolah

1)   Kurikulum

       Kurikulum adalah a plon for learning yang merupakan unsur substansial dalam pendidikan.[37] Tanpa kurikulum, kegiatan belajar-mengajar tidak dapat berlangsung, sebab materi yang harus disampaikan oleh guru harus sesuai dengan kurikulum yang ada. Muatan kurikulum akan mempengaruhi intensitas dan frekuensi belajar anak.

2)   Methode Mengajar

  Metode mengajar adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui dalam mengajar. Definisi mengajar sendiri menurut lgn. S. Ulih BukitKaro Karo adalah menyajikan bahan pelajaran oleh seseorang kepada orang lain agar orang tersebut menerima, menguasai dan mengembangkannya. Metode mengajar sangat mempengaruhi belajar. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula.

3)   Guru

  Dalam hal ini efektivitas pengelolaan bahan ajar, lingkungan dan instrument sebagai faktor utama yang mempengaruhi proses dan prestasi belajar. Peran guru dalam pembelajaran adalah:  (1) Sebagai demonstrator, sehingga guru harus menguasai materi pembelajaran dan senantiasa mengembangkan kemampuannya dalam bidang ilmu yang dimilikinya. (2) Sebagai pengelola kelas, sehingga guru bertanggungiawab untuk memelihara lingkungan fisik kelas, agar senantiasa menyenangkan dalam belajar dan mengarahkan serta membimbing proses intelektual, sosial, emosional, moral dan spiritual dalam kelas, serta mengembangkan kompetensi dan kebiasaan bekerja dan belajar secara efektif di kalangan siswa. (3) Sebagai fasilitator, peran guru ini erat kaitannya dengan perannya sebagai pengelola kelas. (4) Sebagai mediator, guru bukan hanya sebagai penyampai informasi melainkan juga perantara hubungan antarsiswa. (5) Sebagai evaluator, sehingga guru harus mampu menilai proses dan hasil belajar yang telah dicapai, serta memberikan umpan balik terhadap keefektifan pembelajaran yang telah disampaikan.[38]

c.    Masyarakat[39]

  Masyarakat merupakan lingkungan sosial yang luas dan beragam. Lingkungan masyarakat sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar yang berujung pada keberhasilan belajar.[40] Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat tersebut. Pengaruh-pengaruh masyarakat tersebut dintaranya adalah kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.[41]

d.   Kondisi Lingkungan Sekitar

      Keadaan lingkungan tempat tinggal juga sangat penting dalam mempengaruhi prestasi belajar. Keadaan lingkungan bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas, iklim dan sebagainya. suatu misal jika bangunan penduduk yang sangat rapat, akan mengganggu belajar hal ini dikarenakan dalam belajar akan terganggu oleh hiruk pikuk suara orang disekitar.[42] Ketika seseorang hidup dalam suatu lingkungan masyarakat yang tidak perduli terhadap pendidikan, maka tidak menutup kemungkinan dia ikut terpengaruh dengan kondisi tersebut. Sehingga tidak ada dorongan untuk belajar, dan pembelajaran tidak dapat berhasil dengan baik.

e.    Pendekatan Belajar

   Faktor pendekatan belajar “approach to learning”, jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.[43]

Metode Handling Kesulitan Belajar

 Metode hadling yang diberikan pada kasus anak dengan kesulitan belajar tergantung pada hasil diagnosis yang komprehensif dari tim kerja. Hadling yang diberikan pada anak dengan kesulitan belajar meliputi: medis dan pendidikan.

1.    Penatalaksanaan Medis

a)   Terapi Obat

Pengobatan yang diberikan adalah sesuai dengan gangguan fisik atau psikiatrik yang diderita oleh anak, misalnya: berbagai kondisi depresi dapat diberikan dengan obat golongan antidepresan, GPPH diberikan obat golongan psikostimulansia, misalnya Ritalin,dll

b)   Terapi Perilaku

Terapi perilaku yang sering diberikan adalah modifikasi perilaku. Dalam hal ini anak akan mendapatkan penghargaan langsung jika dia dapat memenuhi suatu tugas atau tanggung jawab atau perilaku positif tertentu. Di lain pihak, ia akan mendapatkan peringatan jika jika ia memperlihatkan perilaku negatif. Dengan adanya penghargaan dan peringatan langsung ini maka diharapkan anak dapat mengontrol perilaku negatif yang tidak dikehendaki, baik di sekolah maupun di rumah.

c)    Psikoterapi Suportif

Dapat diberikan pada anak dan keluarganya. Tujuannya adalah untuk memberi pengertian dan pemahaman mengenai kesulitan yang ada, sehingga dapat menimbulkan motivasi yang konsisten dalam usaha untuk memerangi kesulitan ini.

d)   Pendekatan Psikososial Lainnya

ü  Psikoedukasi orang tua dan guru

ü  Pelatihan keterampilan social bagi anak

2.    Penatalaksanaan Pendidikan

            Dalam hal ini terapi yang paling efektif adalah terapi remedial, yaitu bimbingan langsung oleh guru yang terlatih dalam mengatasi kesulitan belajar anak. Guru remedial ini akan menyusun suatu metoda pengajaran yang sesuai bagi setiap anak. Mereka juga melatih anak untuk dapat belajar baik dengan teknik-teknik pembelajaran tertentu (sesuai dengan jenis kesulitan belajar yang dihadapi anak) yang sangat bermanfaat bagi anak dengan kesulitan belajar.

           Ada 9 peranan guru khusus bagi anak berkesulitan belajar di sekolah, diantaranya:

a) Menyusun rancangan program identifikasi, asesmen, dan pembelajaran anak berkesulitan belajar

b)   Berpartisipasi dalam penjaringan, asesmen, dan evaluasi anak berkesulitan belajar

c)    Berkonsultasi dengan tes, baik dengan tes foormal maupun informal

d)   Melaksanakan tes, baik dengan tes formal maupun informal

e)    Berpartisipasi dalam penyusunan program pendidikan yang diindividualkan

f)    Mengimplementasikan program pendidikan yang diindividualkan

g)   Menyelenggarakan pertemuan dan waawancara dengan orang tua

h) Bekerjasama dengan guru reguler atau guru kelas untuk memahami anak dan menyediakan pembelajaran yang efektif

i)  Membantu anak dalam mengembangkan pemahaman diri dan memperoleh harapan untuk berhasil serta keyakinan kesanggupan mengatasi kesulitan belajar

Ada dua kompetensi yang perlu dikuasai oleh guru bagi anak berkesulitan belajar, yaitu kompetensi teknis dan kompetensi konsultasi kolaboratif. Kompetensi teknis mencakup; a) Memahami berbagai teori tentang kesulitan belajar, b) Memahami berbagai tes yang terkait denga kesulitan belajar, c) Terampil dalam melaksanakan asesmen dan evaluasi, dan d) Terampil dalam mengajarkan bahasa lisan, tuli, membaca, matematika, mengelola perilaku, dan terampil dalam memberikan pelajaran prevokasional dan vokasional. Kompetensi konsultasi kolaboratif mencakup; kemampuan untuk menjalin  hubungan kerjasama dengan semua orang yang terkait dengan upaya memberika bantuan kepada anak berkesulitan belajar. Orang-orang yang terkait dengan upaya memberikan bantuan kepada anak terseebut terutama adalah guru regular atau guru kelas, administrator sekolah, tim ahli (dokter, psikolog, konselor, dan sebaganya, dan orang tua.

Case Study 1

    ü  Efek kesulitan belajar

ü  Ketahui Penyebabnya





ü  Handling Plan

 

 ----------------------


 


Case Study 2

 



 

 

DAFTAR PUSTAKA

Suryani,Yulinda Erma.Kesulitan Belajar.Magistra No. 73 Th. XXII September 2010

Dimyati & Mudjiono.1994.Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: Direktorat Jenderal.Pendidikan Tinggi, Depdikbud.

________________2009.Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: PT. Rineka Cipta

Prayitno.1995/1995.Materi Layanan Pembelajaran.Bahan Pelatihan Bimbingan dan Konseling (“Dari Pola Tidak Jelas ke Pola Tujuh Belas”).Jakarta: Depdikbud.

Depdikbud.1984/1985.Modul Diagnostik Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial. Jakarta: Universitas Terbuka.

Robbins, Stephen P.2007.Perilaku Organisasi Buku I.Jakarta: Salemba Empat.

Irham dan  Wiyani.2013.Psikologi Pendidikan.Yogyakarta: ar-Ruzz Media.

Dalyono.1997.Psikologi Pendidikan.Jakarta: PT Rineka Cipta.

Hamalik,Oemar.2004.Proses Belajar Mengajar.Jakarta: PT Bumi Aksara.

Abdurrahman,Mulyono.2003.Pendidikan bagi Anak-anak Berkesultan Belajar pada Anak.Jakarta: PT Rineka Cipta.

_________________Psikologi Anak Luar Biasa.Bandung: Refika Aditama.

Sidiarto Djokosetio, Lily.Perkembangan Otak dan Kesulitan Belajar pada Anak.Jakarta: Universitas Indonesia,t.t

Somantri,Sutjihati.2003.Psikologi Anak Luar Biasa.Bandung: Refika Aditama.

Mulyadi.1995.Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar.Malang: IAIN Sunan Ampel.

Abu Ahmadi & Widodo Supriyono.2003.Psikologi Belajar.Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah,Syaiful Bahri.2002.Psikologi Belajar.Jakarta: Rineka Cipta.

Sutjihati Somantri.2003.Psikologi Anak Luar Biasa.Bandung: Refika Cipta.

Subini,Nini.2012.Psikologi Pembelajaran.Yogyakarta: Mentari Pustaka.

Bandi,Delphie.2006.Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus.Bandung: Refika Aditama.

__________dk.1994.Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: Rineka Cipta.

Syah,Muhibbin.2006.Psikologi Belajar.Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

____________.2005.Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.Bandung: PT Remaja

Rosdakarya.

Mulyasa,E.2006.Menjadi Guru Profesional.Bandung: Remaja Rosdakarya.

_________2005.Impelementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajoran KBK.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Slameto.2010.Belajar dan Faktor yang Memengaruhinya.Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Wahab,Abdul.1998.Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama lslam.Yograkarta: Pustaka Pelajar.

Nasution,S.2000.Berbagai Pendekatan dalam Proses  Belajar-Mengajar.Jakarta: Bumi Aksara.

________2001.Sejarah Pendidikan Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.

Sriyono dkk.1992.Teknik Belajar dalam CBS.Jakarta: Rineka Cipta.

Cowley,Sue.2001.Panduan Manajemen Perilaku Siswa.Surabaya: Erlangga Group.

Imron,Ali.1996.Kebijaksanaan Pendidikan di Indonesia.Jakarta: Bumi Aksara.

Makmun, Abin Syamsuddi.1997.Psikologi Kependidikan, Perangkat Sistem Pengajaran Modul.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Syarif Hidayat.2004.Tes Diagnosistik Atasi Siswa Sulit Belajar, Suplemen Teropong.www.pikiran-rakyat.com.

Sobur,Alex.2003.Psikologi Umum.Bandung: CV. Pustaka Setia.

Patricia G O’Brien dkk.2013.Psychiatric Mental Health Nursing: an Introduction to Theory and Practice.Alih bahasa Nike Budhi Subekti dkk “Keperawatan Kesehatan Jiwa Psikiatrik: Teori dan Praktik”.Jakarta EGC.

Suwatno2008.Mengatasi Kesulitan Belajar melalui Klinik Pembelajaran, disampaiakan pada Workshop evalusi dan pengembangan Teaching Knilik bagi dosen Fakultas Ekonomi UN Padang.



[1]Robbins, Stephen P, Perilaku Organisasi Buku I,(Jakarta: Salemba Empat,2007).hlm.69-79. 

[2]Irham dan  Wiyani,Psikologi Pendidikan,(Yogyakarta: ar-Ruzz Media,2013).hlm.254.

[3]Dalyono,Psikologi Pendidikan,(Jakarta: PT Rieneka,1997).hlm.229.

[4]Oemar Hamalik,Prosses Belajar Mengajar,(Jakarta: PY Bumi Aksara,2004).hlm.112.

[5]Irham dan  Wiyani,Psikologi Pendidikan,(Yogyakarta: ar-Ruzz Media,2013).hlm.253.

[6]Syarif Hidayat,Tes Diagnosistik Atasi Siswa Sulit Belajar, Suplemen Teropong (2004).www.pikiran-rakyat.com.

[7]The National Joint Commitee for Learning  (TNJCL) mendefinisikan dalam bentuk kesulitan yang nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, menulis, menalar dan kemampuan dalam bidang studi matematika. Lihat Mulyono Abdurrahman,Pendidikan bagi Anak-anak Berkesultan Belajar pada Anak,(Jakarta: PT Rineka Cipta,2003).hlm.3.

[8]Sidiarto Djokosetio, Lily,Perkembangan Otak dan Kesulitan Belajar pada Anak,(Jakarta: Universitas Indonesia,t.t).hlm.36

[9].Sutjihati Somantri,Psikologi Anak Luar Biasa,(Bandung: Refika Aditama,2003).hlm.195.

[10]Mulyono Abdurrahman,Psikologi Anak Luar Biasa,(Bandung: Refika Aditama,2003).hlm.7.

[11]Mulyadi,Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar,(Malang: IAIN Sunan Ampel,1995).hlm.5.

[12]Abu Ahmadi & Widodo Supriyono,Psikologi Belajar,(Jakarta: Rineka Cipta,2003).hlm.77.

[13]Syaiful Bahri Djamarah,Psikologi Belajar,(Jakarta: Rineka Cipta,2002).hlm.201.

[14]Sutjihati Somantri,Psikologi Anak Luar Biasa,(Bandung: Refika Cipta,2003).hlm.199-201.

[15]Adanya kelainan pada fase perkembangan bahasa dan bicara, atau kemampuan produksi bicara seseorang mengalami kelambatan dibandingkan dengan kemampuan pemahamannya. Lihat Nini Subini,Psikologi Pembelajaran,(Yogyakarta: Mentari Pustaka,2012).hlm.64.

Disfasia terjadi karena adanya gangguan pada proses transisi dari observasi objek, perasaan, pikiran, pengalaman atau ide terhadap kata yang diucapkan. Selain itu, disfasia dapat terjadi sejak dalam kandungan. Gangguan bicara dapat sekunder karena gangguan pendengaran, retardasi mental, gangguan psikiatri dan lingkungan yang tidak menunjang. Gangguan  disfasia inilah yang akhirnya meunjang seseorang mengalami beragam kesulitan belajar. Sehingga kesulitan belajar seperti ini dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu:

1)     Kesulitan belajar dalam membaca (dysleksia learning); Sebenarnya gangguan ini bukan bentuk dari ketidakmampuan secara fisik, seperti karena ada masalah dengan penglihatan, tetapi mengarah pada bagaimana otak mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca anak tersebut. Disleksia merupakan salah satu gangguan perkembangan fungsi otak yang terjadi sepanjang rentang hidup, dan dianggap suatu efek yang disebabkan gangguan dalam asosiasi daya ingat (memori) dan pemprosesan sentral yang disebut membaca primer. Untuk dapat membaca secara otomatis anak harus melalui pendidikan dan intelegensi yang normal tanpa adanya gangguan sensoris. Oleh karena itu, kesulitan belajar jenis ini tidak tergantung pada tingkat intelegensinya. Banyak faktor yang menyebabkan munculnya kesulitan belajar di antaranya: a) Keturunan atau faktor genetik yang didahului disfasianya, b) Pengaruh hormonal prenatal seperti testosteron, c) Gangguan migrasi meuro, d) Kerusakan akibat hipoksi-iskemik perinatal di daerah parietotemporo-oskipital. Lihat Nini Subini,Psikologi Pembelajaran,(Yogyakarta: Mentari Pustaka,2012).hlm.67.

2)     Menulis (dysgraphia learning); Pada umumnya, anak yang berusia 2 atau 3 tahun belum belajar menulis, namun telah menukai menulis walaupun hanya sekedar coretan yang belum bermakna. Ketika memasuki usia sekolah, kegiatan menulis merupakan hal yang menyenangkan karena mereka menyadari bahwa anak yang bisa menulis akan mendapatkan nilai baik dari gurunya. Sedangkan menulis membutuhkan perkembangan kemampuan lebih lanjut daripada membaca. Adapun dalam kurikulum anak berkesulitan belajar, dysgrphia learning terjadi pada beberapa tahap, yaitu: mengeja, menulis permulaan, menulis lanjutan (ekspresi/komposisi). Lihat Nini Subini,Psikologi Pembelajaran,(Yogyakarta: Mentari Pustaka,2012).hlm.73-75.

3)     Menghitung (diyscalculia learning; Kesulitan menghitung merupakan  suatu gangguan perkembangan kemampuan aritmatika atau keterampilan matematika yang jelas mempengaruhi pencapaian prestasi akademikanya atau mempengaruhi kehidupan sehari-hari anak. Oleh karena itu kesulitan berhitung dibagi sesuai dengan tingkatan kelompoknya, antara lain: (a) Kemampuan dasar berhitung. Kemampuan ini dibagi menjadi 5 bagian:  classification, comparation, seriation, symbolization, dan konservasi. (b)  Kemampuan dalam menentukan nilai tempat, (c) Kemampuan dalam melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan, (d) Kemampuan memahami konsep perkalian dan pembagian. Lihat Nini Subini,Psikologi Pembelajaran,(Yogyakarta: Mentari Pustaka,2012).hlm.78-80.

[16]Adalah kecakapan menerima dan memahami bahasa.

[17]Adalah kemampuan mengekspresikan diri secara verbal.

[18]Delphie Bandi,Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus,(Bandung: Refika Aditama,2006).hlm.35-38.

[19]Syaiful Bahri Djamarah,Psikologi Belajar,(2002).hlm.212-213.

[20]Suwatno,Mengatasi Kesulitan Belajar melalui Klinik Pembelajaran, disampaiakan pada Workshop evalusi dan pengembangan Teaching Knilik bagi dosen Fakultas Ekonomi UN Padang Januari 2008.hlm.21-22.

[21]Muhibbin Syah,Psikologi Belajar,(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2006).hlm.148.

[22]E. Mulyasa,Menjadi Guru Profesional,(Bandung: Remaja Rosdakarya,2006).hlm.122.

[23]E.Mulyasa,Impelementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajoran KBK,(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,2005).hlm.193-194.

[24]Slameto,Belajar dan Faktor yang Memengaruhinya,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,2010).hlm.57. 

[25]Slameto,Belajar dan Faktor yang Memengaruhinya,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,2010).hlm.57.

[26]Abdul Wahab,Eksrstensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama lslam,(Yograkarta: Pustaka Pelajar,1998).hlm.108.

[27]Minat juga merupakan kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang minati oleh seseorang diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa sayang. Lihat Slameto,Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya,(Jakarta: Rineka Cipta,1997).hlm.57.

[28]Abdul Wahab,Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama lslam,(Yograkarta: Pustaka Pelajar,1998).hlm. 9.

[29]S. Nasution,Berbagai Pendekatan dalam Proses  Belajar-Mengajar,(Jakarta: Bumi Aksara,2000).hlm.180 .

[30]M. Dalyono,Psikologi Pendidikan,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,1997).hlm.57. 

[31]M. Dalyon,Psikologi Pendidikan,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,1997).hlm.57.

[32]Slameto,Belajar dan Faktor yang Memengaruhinya,(Jakarta: Rineka Cipta,2010.hlm. 58.

[33]Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zaini,Strategi Belajar Mengajar,(Jakarta: Rineka Cipta,1994) .hlm.166.

[34]Sriyono dkk,Teknik Belajar dalam CBSA,(Jakarta: Rineka Cipta,1992).hlm.16.

[35]M. Dalyono,Psikologi Pendidikan,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,1997).hlm.57.

[36]M. Dalyono,Psikologi Pendidikan,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,1997).hlm.58. 

[37]Syaiful Bahri Djamarah,Psikologi Belajar,(Jakarta: PT Rineka Cipta,2002).hlm.146.

[38]Syaiful Bahri Jamarah,Psikologi Belajar,(Jakarta: PT Rineka Cipta,2002).hlm.146.

[39]Masyarakat merupakan lingkungan sosial yang luas dan beragam. Lingkungan masyarakat sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar yang berujung pada keberhasilan belajar. Lihat M. Dalyono,Psikologi Pendidikan,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,1997).hlm.60. 

[40]M. Dalyono,Psikologi Pendidikan,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,1997).hlm.60.

[41]Slameto,Belajar dan Faktor yang Memengaruhinya,(Jakarta: Rineka Cipta,2010).hlm.71.

[42]M. Dalyono, Psikologi Pendidikan,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,1997).hlm.60.

[43]Muhibin Syah,Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2005).hlm.132.

 

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...