Tuesday, December 31, 2019
Jangan Rebut Hartaku, ini adalah Mutiara dan Istanaku
Saturday, December 28, 2019
TEKNIK KATARSIS: BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN
2. Menggambar
Thursday, December 26, 2019
DIAGNOSISTIKA LEARNING DISABILITY SISWA DAN PENATALAKSANANYA DALAM MEDICE-EDUKASI
Pendahuluan
Pendidikan merupakan usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.[1]Dalam rangka pengembangan
potensi diri, setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Ada siswa
yang dapat mencapainya tanpa kesulitan, namun tidak sedikit siswa mengalami
banyak kesulitan. Kita sering menemukan beberapa masalah pada siswa, seperti
malas, mudah putus asa, acuh tak acuh disertai sikap menentang guru merupakan
bagian dari masalah belajar siswa. Sebagian orang mungkin tidak mengetahui cara
yang baik untuk memecahkan masalah sendiri. Sebagian yang lain tidak tahu apa
sebenarnya masalah yang dihadapi. Ada pula seseorang yang tampak tidak
mempunyai masalah, padahal ada masalah yang dihadapinya, sehingga siswa sulit
meraih prestasi belajar di sekolah, meskipun telah mengikuti pelajaran dengan
sungguh-sungguh.
Maka
dari itu, dalam psikologi pendidikan (psikoedukasi) dipelajari beberapa gejala
kesulitan belajar melalui diagnosis. Diagnosis kesulitan belajar adalah usaha
yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar,
faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar serta cara menetapkan dan
kemungkinan mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara
preventif (pencegahan) berdasarkan data dan informasi yang se-obyektif mungkin.
Konsep
Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar merupakan suatu
kondisi tertentu yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan dalam kegitan
mencapai suatu tujuan, sehingga memerlukan usaha yang lebih keras untuk dapat
mengatasinya. Prayitno, dalam buku Bahan Bimbngan dan Konseling (Dari Pola
Tidak Jelas ke Pola Tujuh Belas) Materi Layanan Pemblajaran, Depdiknas
menjelaskan kesulitan belajar dapat diartikan suatu kondisi dalam proses
belajar mengajar yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu untuk
mencapai hasil belajar yang optimal. Hambatan-hambatan tersebut mungkin
dirasakan atau mungkin tidak dirasakan oleh siswa yang bersangkutan. Jenis
hambatan ini dapat brsifat psiologis, sosiologis, dan fisiologis dalam
keseluruhan proses belajar mengajar.
Rumini mengemukakan kesulitan
belajar merupakan kondisi saat siswa mengalami hambatan-hambatan tertentu untuk
belajar secara optimal.[2] Sedangkan menurut
Dalyono, kesulitan belajar adalah suatu keadaan yang menyebabkan siswa tidak
belajar sebagaimana mestinya.[3] Kegiatan belajar adalah
hal-hal atau gangguan yang mengakibatkan kegagalan atau setiddaknya menjadi
gangguan yang dapat menghambat kemajuan belajar.[4]Sejalan dengan pendapat
tersebut menurut Blassic dan Jones, kesulitan belajar yang dialami siswa
menunjukkan adanya kesenjangan atau jarak antara prestasi akademik yang
diharapkan dengan prestasi akademik yang dicapai oleh siswa pada kenyataannya
(prestasi aktual).[5]
Dapat dikatakan bahwa siswa yang
mengalami kesulitan belajar akan mengalami hambatan dalam proses mencapai hasil
belajarnya secara optimal, sehingga prestasi yang dicapainya berada di bawah
yang semestinya. Alan O. Ross (1974), mengatakan A learning difficully
represente a discrepancy between a chill’s estimated academic potential and his
actual level of academic performance
Kesulitan belajar siswa mencakup
pengertian yang luas, diantaranya:
1) Learning Disorder atau kekacauan
belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena
timbulnya respon yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan
belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya
terrganggu atau terhambat oleh adanya respon-respon yang bertentangan, sehingga
hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya.
Contoh siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju
dan sejenisnnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang
menuntut gerakan lemah-gemulai.
2) Learning Disfungtion merupakan
gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik,
meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas
mental, gangguan alat diri, atau gangguan psikologi lainnya. Contoh: siswa yang
memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola
volly, namun karena tidak pernah dilatih bermain volly, maka dia tidak dapat
menguasai permainan volly dengan baik.
3) Under Achiever mengacu kepada
siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di
atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh:
siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan
tergolong sangat unggul (IQ = 130-140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja
atau malah sangat rendah.
4) Slow Learner atau lambat belajar
adalah siswa yang lambat belajar dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan
waktu yang lebih lama dibandingkan kelompok yang memiliiki taraf potensi
intelektual yang sama.
5) Learning Disabilities atau
ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar
atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi
intelektualnya.[6]
Jika ditinjau dari aspek psikologi
perkembangan, kesulitan belajar dapat dipandang sebagai kelambatan
kematangan fungsi neorologis tertentu.[7] Definisi yang dikemukakan
oleh Canadia Assosiation for Children with Learning Disaility (CACLD)
lebih lengkap yaitu memasukkan juga kelainan kompatensi, memori, koordinasi
komunikasi sebagai manifestasi kesulitan belajar.[8]
Kesulitan belajar adalah sebagai
gangguan perseptual, konseptual, memori, mampu ekspresif di dalam proses
belajar.[9] Hallahan, Kauffman, dan
Lioyd mengatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau
lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa
ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk
kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau
menghitung.[10] Mulyadi mengatakan bahwa
kesulitan belajar pada umumnya kesulitan pada suatu kondisi tertentu yang
ditandai dengan adanya hambatan dalam mencapai kegiatan, sehingga memerlukan
usaha lebih giat lagi untuk dapat mengatasinya.[11]
Kesulitan belajar adalah keadaan
dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Dan kesulitan
belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelegensi yang rendah atau
kelainan mental, akan tetapi dapat juga disebabkan faktor-faktor
non-intelegensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin
keberhasilan belajar.[12] Kesulitan belajar adalah
suatu kondisi di mana anak didik tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan
adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar.[13]
Berdasarkkan pengertian tersebut
dapat diaufklarungkan bahwa kesulitan belajar merupakan kelompok kelainan yang
heterogen yang bermanifestasi sebagai kesulitan yang bermakna dalam memproleh
dan menggunakan kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan
mengeluarkan pendapat. Kelainan bisa disebabkan dari dalam diri individu karena
disebabkan disfungsi sistem saraf pusat atau bissa saja dari ekstrinsik
individu seperti lingkungan, sekolah, teman sebaya dan sebagainya.
Aspek-aspek
Perkembangan Prilaku Kesulitan belajar
Aspek-aspek
perkembangan tersebut antara lain:[14]
1) Aspek Kognitif
Berbagai definisi kesulitan belajar lebih berorientasi kepada
aspek akademik atau cognitive. Problema kemampuan bicara, membaca,
menulis, mendengarkan, berfikir dan matematis semuanya merupakan penekanan
terhadap aspek akademik. Penekanan seperti ini merefleksikan keyakinan bahwa
masalah anak berkesulitan belajar lebih banyak berkaitan dengan wilayah
akademik dan bukan disebabkan oleh tingkat kecerdasan yang rendah.
2) Aspek
Bahasa[15]
Problema bahasa anak
berkesulitan belajar menyangkut bahasa reseptif[16] maupun ekspresif[17]. Kedua bahasa ini dapat
dipahami dengan menggunakan tes kemampuan berbahasa.
3) Aspek
Motorik
Masalah motorik merupakan
masalah yang umumnya dikaitkan dengan kesulitan belajar. Masalah motorik anak
berkesulitan belajar biasanya menyangjut keterampilan motorik-perseptual yang
diperlukan untuk mengembangkan keterampilan meniru pola. Potensi ini sangat
diperlukan untuk menggambar, menulis, atau menggunakan gunting.
4) Aspek
Sosial dan Emosi
Dua karakteristik yang sering diangkat sebagai
karakteristik sosial-emosional anak berkesulitan belajar ialah kelabilan
emosional dan ke-impulsif-an. Kelabilan emosional ditunjukkan oleh sering
berubahnya suasana hati dan temperamen, sedangkan ke-inpulsif-an merujuk pada
lemahnya pengendalian terhadap dorongan berbuat.
Karakteristik Kesulitan Belajar
Karakteristik anak kesulitan belaar dikatakan
sebagai berikut:[18]
1)
Kemampuan persepsi yang rendah (poor
perceptual abilities) diantaranya: a) persepsi pendengaran ,b) persepsi
visual, dan c) persepsi taktil. Diantara tipe-tipe umum dari kekurangan
persepsi pendengaran adalah auditory agnosia, yaitu ketidakmampuan untuk
mengenal suara atau kombinasi bunyi dengan memperhatikan maknanya. Sedangkan
yang lainnya, adalah auditory dissociation (dissosiasi
pendengaran) yaitu bunyi dapat di dengar dan dikenali tetapi tidak mampu untuk
diartikan secara keseluruhan.
2)
Kesulitan menyadari tubuh sendiri (body
awareness difficulties)
Kesadaran terhadap tubuh didefinisikan sebagai konsep dan
pemahaman bahwa adanya saling keterhubungan yang erat antara tubuh seseorang
dengan lingkungannya selama proses perubahan perilaku. Faktor-faktor yang
terlibat dalam perkembangan kesadaran terhadap tubuh adalah kinesthesia,
asimilasi, dan perlengkapan visual. Kesulitan-kesulitan terhadap kesadaran
tubuh dimungkinkan terjadi dalam wilayah keterampilan gerak, sebagai berikut:
a) Orientasi ruang (spacial orientation), yaitu pemahaman terhadap ruang
sekitar diri seseorang berkaitan dengan jarak jauh dan posisi, b) Secara
kesamping (laterality), yaitu mengetahui yang mana sisi kiri atau kanan
dari tubuh, c) Secara gerak lurus (vertically), yaitu konsep tentang
arah ke atas dan ke bawah, d) Terhadap kesan tubuh (body image) yaitu
konsep pemahaman bagian-bagian tubuh, e) Berkaitan dengan garis tengah tubuh (midline
body) yaitu konsep garis tengah tubuh secara tegak lurus dari tubuh manusia
yang memisahkan tubuh ke dalam dua sisi yang sama.
3)
Kelainan kegiatan gerak (disoder
of motor activity)
Kelaianan gerak
seringkali dapat diamati pada anak-anak dengan kesulitan belajar. Hal ini
dimungkinkan karena masalah gerak dan kesulitan belajar mempunyai etiologi yang
sama.
4)
Kesulitan dalam
keterampilan psikomotorik sangat erat hubungannya dengan ketidakberfungsian
persepsi khusus, antara lain: a) Respon psikomotorik yang lemah petunjuk yang
diperoleh melalui pendengaran suara dengan kegiatan yang berbeda seperti
kata-kata, b) Respon psikomotorik terhadap persepsi visual lemah. Kemampuan
persepsi visual yang spesifik penyebab adanya respon psikomotor terhadap
persepsi visual yang lemah, dapat menyebabkan seseorang tidak mampu membedakan
udara dengan latar belakang awan sehingga yang bersangkutan tidak dapat
menangkap pola putih dengan baik, c) Rendahnya respon psikomotor terhadap
persepsi taktik.
Simtom
Kesulitan Belajar
Beberapa
simtom kesulitan belajar anak didik dapat dilihat sebagai berikut:
1)
Menunjukkan prestasi belajar yang
rendah, di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok anak didik di kelas
2)
Hasil belajar yang di capai tidak
seimbang dengan usaha yang dilakukan. Padahal anak didik sudah berusaha belajar
dengan keras, tetapi nilainya selalu rendah
3)
Anak didik lambat dalam mengerjakan
tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawan dalam segala hal
4)
Anak didik menunjukkan sikap yang
kurang wajar, seperti acuh tak acuh, berpura-pura, berdusta, mudah tersinggung
dan sebagainya
5)
Anak didik menunjukkan tingkah laku
yang tidak seperti biasanya ditunjukkan kepada orang lain. Dalam hal ini
misalnya anak didik menjadi pemurung, pemarah, selalu bingung, selalu sedih,
kurang gembira atau mengasingkan diri dari kawan-kawan sepermainan
6)
Anak didik yang tergolong memiliki
IQ tinggi, yng secara potennsi mereka seharusnya meraih prestasi belajar yang
tinggi, tetapi kenyataannya mereka mendapatkan prestasi belajar yang rendah
7)
Anak didik yang selalu menunjukkan
prestasi belajar yang tinggu untuk sebagian besar mata pelajaran;
tetapi prestasi belajarnya menurun drastis.
Dari
semua uraian gejala yang tampak itu, guru bisa memprediksi bahwa anak
kemungkinan mengalami kesulitan belajar atau bisa juga dengan cara lain, yaitu
melakukan penyelidikan dengan cara observation, interview,
dokumentasi, tes diagnostik.[19]
Diagnosa Kesulitan Belajar
Diagnosis merupakan upaya untuk
menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah
siswa. Dalam konteks proses belajar-mengajar, faktor-faktor yang menyebabkan
kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi input, proses
ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua
bagian faktor-faktor yang munkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan
belajar siswa, yaitu: a. faktor intern (faktor yang bersumber dari dalam diri
siswa itu sendiri, seperti kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat,
kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya, b. faktor
ekstern, seperti lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk di dalamnya
faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya.
Langkah-langkah tindakan diagnosa
menurut C.Ross dan Julian Stanley, langkah-langkah tersebut yaitu:
1) Langkah-langkah diagnosis yang meliputi
aktivitas, berupa: identifikasi kasus, lokalisasi jenis dan sifat
kesulitan, dan menemukan faktor penyebab baik secara internal maupun
eksternal.
2) Langkah prognosis yaitu langkah untuk
mengestimasi (mengukur), memperkirakan apakah kesulitan tersebut dapat dibantu
atau tidak.
3) Langkah terapi yaitu langkah untuk menemukan
berbagai alternatif kemungkinan cara yang dapat ditempuh dalam rangka
penyembuhan kesulitan tersebut yang kegiatannya meliputi antara lain
pengajaran, remedial, transfer atau referal.
4) Mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengali
kesulitan belajar. Adapun langkah-lankah mengidentifikasi siswa mengalami
kesulitan belajar:
ü Menandai
siswa dalam satu kelas atau dalam satu kelompok yang diperkirakan mengalami
kesulitan belajar baik bersifat umum maupun khusus dalam bidang studi-
ü Meneliti
nilai ulangn yang tercantum dalam “record academic” kemudian
dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas, atau dengan kriteria tingkat
penguasaan minimal kompetensi yang dituntut.
ü Menganilisis hasil
ulangan dengan melihat sifat kesalahan yang dibuat
ü Melakukan
observasi pada saat siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar yaitu mengamati
tingkahlaku siswa dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan di
dalam kelas, berusaha mengetahui kebiasaan dan cara belajar siswa melalui check
list.
ü Mendapatkan
kesan atau pendapat dari guru lain terutama wali kelas, dan guru pembimbing.
5) Mengalokasikan letaknya kesulitan atau permasalahannya,
dengan cara mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu. Dengan
membandingkan angka nilai prestasi siswa yang bersangkutan dari bidang studi
yang diikuti atau dengan angka nilai rata-rata dari setiap bidang studi atau
dengan melakukan analisis terhadap catatan mengenai proses belajar. Hasil
analisis empiris terhadap catatan keterlambatan berpartisipasi dalam belajar.
6) Melokalisasi jenis faktor dan sifat yang
menyebabkan mengalami berbagai kesulitan
7) Memperkirakan alternatif pertolongan, menetapkan
kemungkinan cara mengatasinya baik yang bersifat mencegah (preventif), mupun
penyembuhan (kuratif).[20]
Faktor
Penyebab Kesulitan Belajar
Faktor yang menyebabkan
kesulitan belajar itu banyak dan beragam. Apabila dikaitkan dengan
faktor-faktor yang berperan dalam belajar. Penyebab kesulitan belajar tersebut
dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu:
1. Faktor Internal
a. Faktor
Fisiologis
Faktor intern berupa kesehatan ini terbagi menjadi dua, yaitu
kesehatan jasmani dan rohani. Kesehatan ini sangat berpengaruh terhadap
kemampuan belajar siswa.[21] Hal ini dapat dilihat
ketika seorang siswa yang belajar dengan kondisi fisik yang terganggu, seperti
sakit pilek, panas, flu dan lain sebagainya, maka ini mengakibatkan dia tidak
bersemangat dalam melaksanakan proses pembelajaran, sehingga hasil yang hendak
dicapai tidak maksimal. Begitu juga dengan kesehatan rohani (jiwa). Ketika
seorang siswa mengalami gangguan dalam jiwanya, seperti mengalami rasa kecewa,
sedih pikiran terganggu atau lainnya, maka semangat untuk belajar pun
berkurang. Sehingga pembelajaran pun terganggu.
b. Faktor
Psikologis
Faktor-faktor psikologi yang
dipandang esensial adalah sebagai berikut.
1)
Intelegensi
Intelegensi merupakan suatu kemampuan mental
yang bersifat umum (general ability) untuk membuat atau mengadakan
analisis, memecahkan masalah, menyesuaikan diri, dan menarik generalisasi,
serta merupakan kesanggupan berfikir seseorang.
Adapun tingkat intelegensi siswa dapat diklasifikasikan sebagai
berikut.[22]
|
Tingkat IQ |
Kelompok |
|
130 ke atas |
Pandai ssekali (Genius) |
|
110-129 |
Pandai |
|
90-109 |
Rata-rata (normal) |
|
70-89 |
Kurang pandai |
|
50-69 |
Lemah ingatan |
|
30-49 |
Debiel |
|
Kurang dari 30 |
Imbeciel-ideot |
Intelegensi ini merupakan salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap tinggi rendahnya prestasi belajar siswa, intelegensi merupakan dasar
yang potensial bagi pencapaian hasil belajar, artinya hasil belajar yang
dicapai akan sangat begantung kepada tingkat intelegensi dan hasil belajar yang
dicapai tidak akan melebihi tingkat intelegensinya.[23]
2) Bakat (attitude)
Bakat adalah kemampuan untuk
belajar.[24] Secara umum bakat
diartikan sebagai kemampuan potensi yang dimiliki seseorang untuk mencapai
keberhasilan pada masa akan datang. Sebagaimana bakat atau atitude menurut
Hilgard adalah the capacity of learn. Dengan kata lain, bakat
adalah kemampuan untuk belajar.[25] Kemampuan ini akan
terwujud menjadi kecakapan yang nyata setelah belajar atau berlatih. Secara
umum bakat mirip dengan intelegensi. Melihat hubungan yang erat antara bakat
dengan hasil belajar maka terdapat dua alasan mengapa bakat harus diketahui
oleh guru sebagai pendidik dan orang tua sebagai penanggung jawab masa
depannya.
Pertama,
orang tua guru dapat memenuhi segala kebutuhan anak berbakat tersebut sehingga
bakat yang dimiliki meliputi kebutuhan kognitif maupun kebutuhan afektif. Orang
tua dapat menyediakan lingkungan pendidikan yang tepat bagi perkembangan bakat
anak Tujuan pemilihan lingkungan pendidikan tersebut tidak lain adalah membantu
anak untuk memahami diri sendiri agar menerima bakat yang dimiliki sebagai
suatu anugrahyang harus disyukuri dan dikembangkan, bukan sebagai suatu
beban. Kedua, orang tua dan guru dapat membantu memberikan
informasi yang diperlukan untuk mengembangkan bakat anak tersebut. Transfer
informasi yang terjadi diantara orang tua dan guru kepada siswa akan menjadi
sebuah dukungan yang dibutuhkan siswa dalam menjalani proses belajarnya.[26]
Dari uraian tersebut maka ketika
seseorang memiliki bakat terhadap pelajaran yang dipakai maka hasil belajar
yang dicapai akan lebih baik, karena dia senang terhadap pelajaran itu,
sehingga dia memiliki semangat untuk belajar. Sehingga ketika hasil belajar
yang di capai baik, maka keberhasilan belajar pun tercapai dengan baik.
3) Minat (interest)
Minat[27] dapat diartikan sebagai
kecenderungan seseorang terhadap sesuatu, sedangkan perhatian adalah melihat
dan mendengarkan dengan baik dan teliti terhadap sesuatu.[28] Perhatian dapat dipupuk
dengan memberikan stimulus yang baru, beraneka ragam atau berorientasi tinggi.[29] Minat mempunyai pengaruh
besar terhadap belajar karena bila bahan ajar yang dipelajari tidak sesuai
dengan minat siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena
tidak adanya daya tarik.
Minat timbul dapat timbul karena
adanya daya tarik dari luar dan datang dari hati sanubari. Minat yang besar
terhadap sesuatu merupakan modal yang besar untuk mencapai hal atau sesuatu
atau juga tujuan yang diminatin itu. Minat belajar yang besar cenderung
menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat yang kurang akan
menghasilkan prestasi rendah.[30] Jadi dengan adanya minat
siswa terhadap materi pelajaran akan memberikan hasil positif terhadap hasil
atau prestasi belajarnya.
4) Motivasi
(motif)
Motivasi merupakan daya pennggerak
atau pendorong untuk melakukan sesuatu pekerjaa yang bisa berasal dalam diri
dan juga dari luar.[31] James Drever memberikan
definisi terkait motif yaitu: Motive is oneffective-conative
factar which operates in determining the direction ofan individual's behavior
to wards an end ar goal, consioustly apprehen dedorun consioustly.[32]
Motivasi memang merupakan faktor
yang mempunyai arti penting bagi seseorang anak didik.[33] seseorang siswa yang
belajar denga motivasi kuat, akan melaksanakan semua kegiatan belajarnya sengan
sungguh-sungguh penuh gairah atau semangat. Sebaliknya, belajar dengan motivasi
yang lemah, akan malas bahkan tidak mau mengerjakan tugas-tugas yang
berhubungan dengan pelajaran. Artinya bahwa perhatian dan motivasi merupakan
prasarat dalam proses belajar-mengajar.[34]
5) Methode belajar
Selain faktor yang telah disebutkan,
cara belajar seseorang juga dapat mempengaruhi pencapaian hasil belajar dan
tentunya berpengaruh terhadap keberhasilan belajar pula. Belajar tanpa
memperhatikan teknk dan faktor fisiologis, hasilnya pun kurang maksimal.[35] Cara belajar yang
dimaksudkan di sini adalah bagaimana mengatur waktu dalam belajar serta
teknik-teknik dalam belajar. Seperti misalnya, cara membaca, cara mencatat,
menggarisbawahi, penggunaan media pembelajaran, dan penyusaian bahan
pengajaran.[36] Meskipun faktor cara
yang mempengaruhi dalam pencapaian keberhasilan belajar, namun jika cara
belajar tidak diperhatikan maka pencapaiann keberhasilanpun dirasa kurang
maksimal.
2. Faktor
Eksternal
a. Keluarga
1) Cara
Orang tua Mendidik
Cara orang tua mendidik
sangat berpengaruh terhadap hasil Belajar anak. Hal ini dipertegas oleh
Sutjipto Wirowidjojo yang menyatakan bahwa: Keluarga merupakan lembaga
pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar, artinya untuk
pendidikan dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan untuk pendidikan
dalam ukuran besar.
Orang tua yang tidak atau kurang memperhatikan pendidikan anak
misalnya acuh terhadap belajar anak dan sebagainya dapat menyebabkan anak tidak
atau kurang berhasil dalam belajarnya. Mendidik anak dengan memanjakannya
adalah cara mendidik yang tidak baik. Orang tua yang terlalu kasihan terhadap
anak bahkan tidak sampai hati untuk memaksa anak untuk belajar, bahkan
membiarkan saja jika anaknya tidak belajar dengan alasan apapun adalah tidak
benar, sebab jika hal ini dibiarkan berlarut-larut akan menjadikan anak nakal,
berbuat seenaknya dan akan menimbulkan kekacauan dalam belajar anak. Mendidik
anak dengan cara terlalu keras juga salah, sebab dengan cara demikian anak akan
diliputi ketakutan dan akhirnya benci terhadap belajar. Bahkan dengan ketakutan
tersebut dapat menyebabkan gangguan jiwa akibat tekanan-tekanan yang dilakukan
orang tua.
Di sini bimbingan dan penyuluhan memegang peranan penting anak
atau siswa yang mengalami kesulitan-kesulitan belajar dapat ditolong dengan
memberikan bimbingan belajar dengan sebaik-baiknya dan peran Orang tua akan
mempengaruhi keberhasilan bimbingan tersebut.
2) Pengertian Orang tua
Anak yang belajar memerlukan dorongan dan pengertian dari Orang
tua. Bila anak sedang belajar tidak boleh ada gangguan dalam bentuk apapun.
Terkadang anak mangalami lemah semangat, kewajiban Orang tua adalah memberi
pengertian dan dorongan semangat, membantu sedapatnya terkait
kesulitan-kesulitan yang dialami anak.
3) Relasi antar anggota Keluarga
Relasi antaranggota keluarga yang terpenting adalah relasi antara
Orang tua dengan anak. Selain itu relasi anak dengan saudaranya atau dengan
anggota keluarga yang lainpun ikut mempengaruhi belajar anak sebetulnya relasi
antar anggota keluarga erat hubungannya dengan cara orang tua mendidik anak.
Demi kelancaran belajar serta keberhasilan anak, perlu diusahakan relasi yang
baik di dalam keluarga anak tersebut.
b. Sekolah
1) Kurikulum
Kurikulum adalah a plon for learning yang
merupakan unsur substansial dalam pendidikan.[37] Tanpa kurikulum,
kegiatan belajar-mengajar tidak dapat berlangsung, sebab materi yang harus
disampaikan oleh guru harus sesuai dengan kurikulum yang ada. Muatan kurikulum
akan mempengaruhi intensitas dan frekuensi belajar anak.
2) Methode Mengajar
Metode mengajar adalah
suatu cara atau jalan yang harus dilalui dalam mengajar. Definisi mengajar
sendiri menurut lgn. S. Ulih BukitKaro Karo adalah menyajikan bahan pelajaran
oleh seseorang kepada orang lain agar orang tersebut menerima, menguasai dan
mengembangkannya. Metode mengajar sangat mempengaruhi belajar. Metode mengajar
guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula.
3) Guru
Dalam hal ini efektivitas
pengelolaan bahan ajar, lingkungan dan instrument sebagai
faktor utama yang mempengaruhi proses dan prestasi belajar. Peran guru dalam
pembelajaran adalah: (1) Sebagai demonstrator, sehingga guru harus
menguasai materi pembelajaran dan senantiasa mengembangkan kemampuannya dalam
bidang ilmu yang dimilikinya. (2) Sebagai pengelola kelas, sehingga guru
bertanggungiawab untuk memelihara lingkungan fisik kelas, agar senantiasa
menyenangkan dalam belajar dan mengarahkan serta membimbing proses intelektual,
sosial, emosional, moral dan spiritual dalam kelas, serta mengembangkan
kompetensi dan kebiasaan bekerja dan belajar secara efektif di kalangan siswa.
(3) Sebagai fasilitator, peran guru ini erat kaitannya dengan perannya sebagai
pengelola kelas. (4) Sebagai mediator, guru bukan hanya sebagai penyampai
informasi melainkan juga perantara hubungan antarsiswa. (5) Sebagai evaluator,
sehingga guru harus mampu menilai proses dan hasil belajar yang telah dicapai,
serta memberikan umpan balik terhadap keefektifan pembelajaran yang telah
disampaikan.[38]
c. Masyarakat[39]
Masyarakat merupakan
lingkungan sosial yang luas dan beragam. Lingkungan masyarakat sangat
berpengaruh terhadap prestasi belajar yang berujung pada keberhasilan belajar.[40] Pengaruh itu terjadi
karena keberadaan siswa dalam masyarakat tersebut. Pengaruh-pengaruh masyarakat
tersebut dintaranya adalah kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman
bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.[41]
d. Kondisi
Lingkungan Sekitar
Keadaan lingkungan tempat tinggal juga
sangat penting dalam mempengaruhi prestasi belajar. Keadaan lingkungan bangunan
rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas, iklim dan sebagainya. suatu misal
jika bangunan penduduk yang sangat rapat, akan mengganggu belajar hal ini
dikarenakan dalam belajar akan terganggu oleh hiruk pikuk suara orang
disekitar.[42] Ketika seseorang hidup
dalam suatu lingkungan masyarakat yang tidak perduli terhadap pendidikan, maka
tidak menutup kemungkinan dia ikut terpengaruh dengan kondisi tersebut.
Sehingga tidak ada dorongan untuk belajar, dan pembelajaran tidak dapat
berhasil dengan baik.
e. Pendekatan
Belajar
Faktor pendekatan belajar “approach to
learning”, jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang
digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.[43]
Metode Handling Kesulitan
Belajar
Metode hadling yang
diberikan pada kasus anak dengan kesulitan belajar tergantung pada hasil
diagnosis yang komprehensif dari tim kerja. Hadling yang diberikan pada
anak dengan kesulitan belajar meliputi: medis dan pendidikan.
1. Penatalaksanaan
Medis
a) Terapi Obat
Pengobatan yang diberikan adalah sesuai dengan gangguan fisik atau
psikiatrik yang diderita oleh anak, misalnya: berbagai kondisi depresi dapat
diberikan dengan obat golongan antidepresan, GPPH diberikan obat golongan
psikostimulansia, misalnya Ritalin,dll
b) Terapi Perilaku
Terapi perilaku yang sering diberikan adalah modifikasi perilaku.
Dalam hal ini anak akan mendapatkan penghargaan langsung jika dia dapat
memenuhi suatu tugas atau tanggung jawab atau perilaku positif tertentu. Di
lain pihak, ia akan mendapatkan peringatan jika jika ia memperlihatkan perilaku
negatif. Dengan adanya penghargaan dan peringatan langsung ini maka diharapkan
anak dapat mengontrol perilaku negatif yang tidak dikehendaki, baik di sekolah
maupun di rumah.
c) Psikoterapi
Suportif
Dapat diberikan pada anak dan keluarganya. Tujuannya adalah untuk
memberi pengertian dan pemahaman mengenai kesulitan yang ada, sehingga dapat
menimbulkan motivasi yang konsisten dalam usaha untuk memerangi kesulitan ini.
d) Pendekatan
Psikososial Lainnya
ü Psikoedukasi
orang tua dan guru
ü Pelatihan
keterampilan social bagi anak
2. Penatalaksanaan
Pendidikan
Dalam hal ini terapi
yang paling efektif adalah terapi remedial, yaitu bimbingan langsung oleh guru
yang terlatih dalam mengatasi kesulitan belajar anak. Guru remedial ini akan
menyusun suatu metoda pengajaran yang sesuai bagi setiap anak. Mereka juga
melatih anak untuk dapat belajar baik dengan teknik-teknik pembelajaran
tertentu (sesuai dengan jenis kesulitan belajar yang dihadapi anak) yang sangat
bermanfaat bagi anak dengan kesulitan belajar.
Ada 9 peranan guru khusus bagi anak berkesulitan belajar di sekolah,
diantaranya:
a) Menyusun rancangan program identifikasi, asesmen, dan
pembelajaran anak berkesulitan belajar
b) Berpartisipasi dalam penjaringan, asesmen, dan
evaluasi anak berkesulitan belajar
c) Berkonsultasi dengan tes, baik dengan
tes foormal maupun informal
d) Melaksanakan tes, baik dengan tes formal
maupun informal
e) Berpartisipasi dalam penyusunan program
pendidikan yang diindividualkan
f) Mengimplementasikan program pendidikan
yang diindividualkan
g) Menyelenggarakan pertemuan dan waawancara
dengan orang tua
h) Bekerjasama dengan guru reguler atau guru kelas untuk memahami
anak dan menyediakan pembelajaran yang efektif
i) Membantu anak dalam mengembangkan pemahaman diri dan
memperoleh harapan untuk berhasil serta keyakinan kesanggupan mengatasi
kesulitan belajar
Ada dua kompetensi yang perlu
dikuasai oleh guru bagi anak berkesulitan belajar, yaitu kompetensi teknis dan
kompetensi konsultasi kolaboratif. Kompetensi teknis mencakup; a) Memahami
berbagai teori tentang kesulitan belajar, b) Memahami berbagai tes yang terkait
denga kesulitan belajar, c) Terampil dalam melaksanakan asesmen dan evaluasi,
dan d) Terampil dalam mengajarkan bahasa lisan, tuli, membaca, matematika,
mengelola perilaku, dan terampil dalam memberikan pelajaran prevokasional dan
vokasional. Kompetensi konsultasi kolaboratif mencakup; kemampuan untuk
menjalin hubungan kerjasama dengan semua orang yang terkait dengan
upaya memberika bantuan kepada anak berkesulitan belajar. Orang-orang yang
terkait dengan upaya memberikan bantuan kepada anak terseebut terutama adalah
guru regular atau guru kelas, administrator sekolah, tim ahli (dokter,
psikolog, konselor, dan sebaganya, dan orang tua.
Case
Study 1:
|
ü Efek
kesulitan belajar |
ü Ketahui Penyebabnya |
|
|
|
|
|
ü Handling Plan |
----------------------
Case Study 2
DAFTAR PUSTAKA
Suryani,Yulinda Erma.Kesulitan Belajar.Magistra No. 73 Th. XXII
September 2010
Dimyati &
Mudjiono.1994.Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: Direktorat
Jenderal.Pendidikan Tinggi, Depdikbud.
________________2009.Belajar
dan Pembelajaran.Jakarta: PT. Rineka Cipta
Prayitno.1995/1995.Materi
Layanan Pembelajaran.Bahan Pelatihan Bimbingan dan Konseling (“Dari Pola
Tidak Jelas ke Pola Tujuh Belas”).Jakarta: Depdikbud.
Depdikbud.1984/1985.Modul
Diagnostik Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Robbins, Stephen P.2007.Perilaku
Organisasi Buku I.Jakarta: Salemba Empat.
Irham dan Wiyani.2013.Psikologi Pendidikan.Yogyakarta:
ar-Ruzz Media.
Dalyono.1997.Psikologi Pendidikan.Jakarta: PT Rineka Cipta.
Hamalik,Oemar.2004.Proses Belajar Mengajar.Jakarta: PT Bumi
Aksara.
Abdurrahman,Mulyono.2003.Pendidikan
bagi Anak-anak Berkesultan Belajar pada Anak.Jakarta: PT Rineka Cipta.
_________________Psikologi
Anak Luar Biasa.Bandung: Refika Aditama.
Sidiarto Djokosetio, Lily.Perkembangan
Otak dan Kesulitan Belajar pada Anak.Jakarta: Universitas Indonesia,t.t
Somantri,Sutjihati.2003.Psikologi Anak Luar Biasa.Bandung:
Refika Aditama.
Mulyadi.1995.Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar.Malang:
IAIN Sunan Ampel.
Abu Ahmadi & Widodo Supriyono.2003.Psikologi Belajar.Jakarta:
Rineka Cipta.
Djamarah,Syaiful Bahri.2002.Psikologi Belajar.Jakarta:
Rineka Cipta.
Sutjihati Somantri.2003.Psikologi Anak Luar Biasa.Bandung:
Refika Cipta.
Subini,Nini.2012.Psikologi
Pembelajaran.Yogyakarta: Mentari Pustaka.
Bandi,Delphie.2006.Pembelajaran
Anak Berkebutuhan Khusus.Bandung: Refika Aditama.
__________dk.1994.Strategi Belajar Mengajar.Jakarta:
Rineka Cipta.
Syah,Muhibbin.2006.Psikologi Belajar.Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
____________.2005.Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.Bandung:
PT Remaja
Rosdakarya.
Mulyasa,E.2006.Menjadi Guru Profesional.Bandung: Remaja
Rosdakarya.
_________2005.Impelementasi
Kurikulum 2004: Panduan Pembelajoran KBK.Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Slameto.2010.Belajar dan Faktor yang Memengaruhinya.Jakarta:
PT. Rineka Cipta.
Wahab,Abdul.1998.Eksistensi
dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama lslam.Yograkarta: Pustaka
Pelajar.
Nasution,S.2000.Berbagai Pendekatan dalam
Proses Belajar-Mengajar.Jakarta: Bumi Aksara.
________2001.Sejarah Pendidikan Indonesia, Jakarta: Bumi
Aksara.
Sriyono dkk.1992.Teknik Belajar dalam CBS.Jakarta: Rineka
Cipta.
Cowley,Sue.2001.Panduan Manajemen Perilaku Siswa.Surabaya:
Erlangga Group.
Imron,Ali.1996.Kebijaksanaan Pendidikan di Indonesia.Jakarta:
Bumi Aksara.
Makmun, Abin Syamsuddi.1997.Psikologi
Kependidikan, Perangkat Sistem Pengajaran Modul.Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya
Syarif Hidayat.2004.Tes
Diagnosistik Atasi Siswa Sulit Belajar, Suplemen
Teropong.www.pikiran-rakyat.com.
Sobur,Alex.2003.Psikologi Umum.Bandung: CV. Pustaka Setia.
Patricia G O’Brien
dkk.2013.Psychiatric Mental Health Nursing: an Introduction to Theory and
Practice.Alih bahasa Nike Budhi Subekti dkk “Keperawatan Kesehatan Jiwa
Psikiatrik: Teori dan Praktik”.Jakarta EGC.
Suwatno2008.Mengatasi
Kesulitan Belajar melalui Klinik Pembelajaran, disampaiakan pada Workshop
evalusi dan pengembangan Teaching Knilik bagi dosen Fakultas Ekonomi UN Padang.
[1]Robbins,
Stephen P, Perilaku Organisasi Buku I,(Jakarta: Salemba
Empat,2007).hlm.69-79.
[2]Irham
dan Wiyani,Psikologi Pendidikan,(Yogyakarta: ar-Ruzz
Media,2013).hlm.254.
[3]Dalyono,Psikologi
Pendidikan,(Jakarta: PT Rieneka,1997).hlm.229.
[4]Oemar
Hamalik,Prosses Belajar Mengajar,(Jakarta: PY Bumi Aksara,2004).hlm.112.
[5]Irham
dan Wiyani,Psikologi Pendidikan,(Yogyakarta: ar-Ruzz
Media,2013).hlm.253.
[6]Syarif
Hidayat,Tes Diagnosistik Atasi Siswa Sulit Belajar, Suplemen Teropong
(2004).www.pikiran-rakyat.com.
[7]The
National Joint Commitee for Learning (TNJCL)
mendefinisikan dalam bentuk kesulitan yang nyata dalam kemahiran dan penggunaan
kemampuan mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, menulis, menalar dan
kemampuan dalam bidang studi matematika. Lihat Mulyono Abdurrahman,Pendidikan
bagi Anak-anak Berkesultan Belajar pada Anak,(Jakarta: PT Rineka
Cipta,2003).hlm.3.
[8]Sidiarto
Djokosetio, Lily,Perkembangan Otak dan Kesulitan Belajar pada Anak,(Jakarta:
Universitas Indonesia,t.t).hlm.36
[9].Sutjihati
Somantri,Psikologi Anak Luar Biasa,(Bandung: Refika
Aditama,2003).hlm.195.
[10]Mulyono
Abdurrahman,Psikologi Anak Luar Biasa,(Bandung: Refika
Aditama,2003).hlm.7.
[11]Mulyadi,Diagnosa
dan Pemecahan Kesulitan Belajar,(Malang: IAIN Sunan Ampel,1995).hlm.5.
[12]Abu
Ahmadi & Widodo Supriyono,Psikologi Belajar,(Jakarta: Rineka
Cipta,2003).hlm.77.
[13]Syaiful
Bahri Djamarah,Psikologi Belajar,(Jakarta: Rineka Cipta,2002).hlm.201.
[14]Sutjihati
Somantri,Psikologi Anak Luar Biasa,(Bandung: Refika
Cipta,2003).hlm.199-201.
[15]Adanya
kelainan pada fase perkembangan bahasa dan bicara, atau kemampuan produksi
bicara seseorang mengalami kelambatan dibandingkan dengan kemampuan
pemahamannya. Lihat Nini Subini,Psikologi Pembelajaran,(Yogyakarta:
Mentari Pustaka,2012).hlm.64.
Disfasia terjadi karena adanya gangguan pada proses transisi dari
observasi objek, perasaan, pikiran, pengalaman atau ide terhadap kata yang
diucapkan. Selain itu, disfasia dapat terjadi sejak dalam kandungan. Gangguan
bicara dapat sekunder karena gangguan pendengaran, retardasi mental, gangguan psikiatri
dan lingkungan yang tidak menunjang. Gangguan disfasia inilah yang
akhirnya meunjang seseorang mengalami beragam kesulitan belajar. Sehingga kesulitan belajar seperti
ini dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu:
1) Kesulitan
belajar dalam membaca (dysleksia learning); Sebenarnya
gangguan ini bukan bentuk dari ketidakmampuan secara fisik, seperti karena ada
masalah dengan penglihatan, tetapi mengarah pada bagaimana otak mengolah dan
memproses informasi yang sedang dibaca anak tersebut. Disleksia merupakan salah
satu gangguan perkembangan fungsi otak yang terjadi sepanjang rentang hidup,
dan dianggap suatu efek yang disebabkan gangguan dalam asosiasi daya ingat
(memori) dan pemprosesan sentral yang disebut membaca primer. Untuk dapat
membaca secara otomatis anak harus melalui pendidikan dan intelegensi yang
normal tanpa adanya gangguan sensoris. Oleh karena itu, kesulitan belajar jenis
ini tidak tergantung pada tingkat intelegensinya. Banyak faktor yang
menyebabkan munculnya kesulitan belajar di antaranya: a) Keturunan atau faktor
genetik yang didahului disfasianya, b) Pengaruh hormonal prenatal seperti
testosteron, c) Gangguan migrasi meuro, d) Kerusakan akibat hipoksi-iskemik
perinatal di daerah parietotemporo-oskipital. Lihat Nini Subini,Psikologi Pembelajaran,(Yogyakarta:
Mentari Pustaka,2012).hlm.67.
2) Menulis (dysgraphia
learning); Pada umumnya, anak yang berusia 2 atau 3 tahun belum
belajar menulis, namun telah menukai menulis walaupun hanya sekedar coretan
yang belum bermakna. Ketika memasuki usia sekolah, kegiatan menulis merupakan
hal yang menyenangkan karena mereka menyadari bahwa anak yang bisa menulis akan
mendapatkan nilai baik dari gurunya. Sedangkan menulis membutuhkan perkembangan
kemampuan lebih lanjut daripada membaca. Adapun dalam kurikulum anak
berkesulitan belajar, dysgrphia learning terjadi pada beberapa
tahap, yaitu: mengeja, menulis permulaan, menulis lanjutan
(ekspresi/komposisi). Lihat Nini Subini,Psikologi Pembelajaran,(Yogyakarta:
Mentari Pustaka,2012).hlm.73-75.
3) Menghitung (diyscalculia
learning; Kesulitan menghitung merupakan suatu gangguan
perkembangan kemampuan aritmatika atau keterampilan matematika yang jelas
mempengaruhi pencapaian prestasi akademikanya atau mempengaruhi kehidupan
sehari-hari anak. Oleh karena itu kesulitan berhitung dibagi sesuai dengan
tingkatan kelompoknya, antara lain: (a) Kemampuan dasar berhitung. Kemampuan
ini dibagi menjadi 5 bagian: classification, comparation,
seriation, symbolization, dan konservasi. (b) Kemampuan dalam
menentukan nilai tempat, (c) Kemampuan dalam melakukan operasi penjumlahan dan
pengurangan, (d) Kemampuan memahami konsep perkalian dan pembagian. Lihat Nini
Subini,Psikologi Pembelajaran,(Yogyakarta: Mentari
Pustaka,2012).hlm.78-80.
[16]Adalah
kecakapan menerima dan memahami bahasa.
[17]Adalah
kemampuan mengekspresikan diri secara verbal.
[18]Delphie
Bandi,Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus,(Bandung: Refika
Aditama,2006).hlm.35-38.
[19]Syaiful
Bahri Djamarah,Psikologi Belajar,(2002).hlm.212-213.
[20]Suwatno,Mengatasi
Kesulitan Belajar melalui Klinik Pembelajaran, disampaiakan pada Workshop
evalusi dan pengembangan Teaching Knilik bagi dosen Fakultas Ekonomi UN Padang
Januari 2008.hlm.21-22.
[21]Muhibbin
Syah,Psikologi Belajar,(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2006).hlm.148.
[22]E.
Mulyasa,Menjadi Guru Profesional,(Bandung: Remaja
Rosdakarya,2006).hlm.122.
[23]E.Mulyasa,Impelementasi
Kurikulum 2004: Panduan Pembelajoran KBK,(Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya,2005).hlm.193-194.
[24]Slameto,Belajar
dan Faktor yang Memengaruhinya,(Jakarta: PT. Rineka
Cipta,2010).hlm.57.
[25]Slameto,Belajar
dan Faktor yang Memengaruhinya,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,2010).hlm.57.
[26]Abdul
Wahab,Eksrstensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama lslam,(Yograkarta:
Pustaka Pelajar,1998).hlm.108.
[27]Minat
juga merupakan kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang
beberapa kegiatan. Kegiatan yang minati oleh seseorang diperhatikan
terus-menerus yang disertai dengan rasa sayang. Lihat Slameto,Belajar dan
Faktor-faktor yang mempengaruhinya,(Jakarta: Rineka Cipta,1997).hlm.57.
[28]Abdul
Wahab,Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama lslam,(Yograkarta:
Pustaka Pelajar,1998).hlm. 9.
[29]S.
Nasution,Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar-Mengajar,(Jakarta:
Bumi Aksara,2000).hlm.180 .
[30]M.
Dalyono,Psikologi Pendidikan,(Jakarta: PT. Rineka
Cipta,1997).hlm.57.
[31]M.
Dalyon,Psikologi Pendidikan,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,1997).hlm.57.
[32]Slameto,Belajar
dan Faktor yang Memengaruhinya,(Jakarta: Rineka Cipta,2010.hlm. 58.
[33]Syaiful
Bahri Djamarah & Aswan Zaini,Strategi Belajar Mengajar,(Jakarta:
Rineka Cipta,1994) .hlm.166.
[34]Sriyono
dkk,Teknik Belajar dalam CBSA,(Jakarta: Rineka Cipta,1992).hlm.16.
[35]M.
Dalyono,Psikologi Pendidikan,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,1997).hlm.57.
[36]M.
Dalyono,Psikologi Pendidikan,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,1997).hlm.58.
[37]Syaiful
Bahri Djamarah,Psikologi Belajar,(Jakarta: PT Rineka
Cipta,2002).hlm.146.
[38]Syaiful
Bahri Jamarah,Psikologi Belajar,(Jakarta: PT Rineka Cipta,2002).hlm.146.
[39]Masyarakat
merupakan lingkungan sosial yang luas dan beragam. Lingkungan masyarakat sangat
berpengaruh terhadap prestasi belajar yang berujung pada keberhasilan belajar.
Lihat M. Dalyono,Psikologi Pendidikan,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,1997).hlm.60.
[40]M.
Dalyono,Psikologi Pendidikan,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,1997).hlm.60.
[41]Slameto,Belajar
dan Faktor yang Memengaruhinya,(Jakarta: Rineka Cipta,2010).hlm.71.
[42]M. Dalyono, Psikologi
Pendidikan,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,1997).hlm.60.
[43]Muhibin
Syah,Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2005).hlm.132.
DARAH - DARAH WANITA
YANG TINGGAL DI ANTARA KITA
YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...
-
Oleh: Ida Rohyatul Aini, M.Pd dok.foto diambil dari https://www.facebook.com/share/v/1B3J7sDmDZ/ Beberapa hari terakhir, timeline kita d...
-
CATATAN DARI JARAK Aini an Nahl Aku pernah hidup tanpa jeda, segala tersedia, tanpa perlu bertanya: dari mana, untuk apa. Seba...





