Terus tersakiti, terus terluka, terus menyalahkan diri sendiri.
Jika sudah seperti ini, untuk apa dipertahankan?.
Itulah rasionalitas toxic
relationship. Yakni hubungan antara orang-orang yang
tidak saling mendukung, di mana ada konflik dan salah satunya berusaha untuk
merusak yang lain, adanya persaingan, ada rasa tidak hormat dan kurangnya
kekompakan. Artinya sebuah hubungan interpersonal yang beracun, merusak
kesehatan baik fisik, emosional dan mental orang-orang di dalamnya. Hubungan seperti
ini jika dilanjutkan tanpa ada upaya pembenahan dari masing-masing pihak
sangatlah berbahaya. Apalagi jika terjadi pada seseorang yang sedang menjadi
bucin, bisa-bisa dia tidak menyadari bahwa mereka sedang berada pada toxic
relationship. Kalau bisa moving on from toxic relationship.
Kalau bicara relationship,
biasanya melibatkan sesuatu atau orang di dalamnya dan hal ini tidak jauh dari pertemanan,
persahabatan, keluarga dan lingkungan sosial. Sehingga kenapa toxic itu
muncul? karena adanya orang-orang di dalamnya yang berlaku toxic atau
toxic people. Nah, toxic people adalah orang yang berprilaku negatif
kepada lingkungan sekitarnya. Kita bisa lihat di sini ada beberapa ciri-ciri dari
toxic people, yaitu:
1. Sering melakukan
self-affirmation (penegasan tentang kebaikan diri)
Self-affirmation
ini sebenarnya sesuatu yang positif, yang artinya kita menerima diri
kita. Namun yang dimaksud disini adalah hal yang negatif, jadi ada orang yang
ketika melakukan sesuatu tapi suka memamerkannya kepada orang lain, “Eh gini lho beb, saya sudah melakukan ini
dan itu...bla bla bla.....”, itu ternyata beracun.
2. Menjelekkan
orang lain
3. Berlagak sok
suci atau berasa paling benar; iyah semacam orang yang disekitarnya tidak sama
baiknya dengan dirinya
4. Mau
senang-senang saja dan tidak mau susah
Kalau
senang hayo rame-rame, tapi giliran susah ’maaf gue cabut dulu yo’.
5. Merasa paling
benar/hebat (sindrom thanos)
Ada
yang suka nonton Avanngers, nggak? Nama penjahatnya ‘Thanos’, si Thanos ini merasa
dirinya paling hebat, paling benar sedunia. Lebih jelasnya cuss ditonton
yo. Flim tersebut bagus buat nambah pengetahuan lho.
6. Merasionalisasi
kesalahan orang lain untuk membela diri
Kita
ambil contoh terdekat saja, misalkan dia
datang terlambat dalam perkuliyahan, kemudian dia membela dirinya dengan
mengatakan “itu si A ‘kan juga sering terlambat, kenapa tidak dimarahi,
sendirian saya saja yang dimarahi?”. Jadi dia membela diri dengan menyebutkan
contoh yang sama-sama salah dengan perbuatannya, intinya membuat sesuatu itu masuk
akal atau rasional.
7. Penuh dengan
drama queen/king
Hidupnya penuh dengan drama, sedikit—sedikit sedih.
Dia ngerasa hal-hal pada kehidupannya itu sesuatu yang salah, sering
menyalahkan diri atau orang lain dan suka membuat kekacauan yang di dalamnya
tanda kutip (red; tidak jelas dan perlu dipertanyakan), semacam
ingin cari perhatian atau lainnya. Iya, pokoknya mendramatisir dech.
8. Ghosting
(seseorang
yang sering menghilang saat dibutuhkan).
Lagi butuh-butuhnya, datang sesuka dan mencokol ini
dan ini. Nah, giliran kita yang butuh, dia meghilang entah kemana dan dalam
jangka waktu lama. Etdah edan amet ‘kan.
9. Super narsis
atau suka pamer
10. Selalu
mengkritik
Mengkritik
sebenarnya sesuatu yang baik, tapi kerjaannya selalu mengkritik tidak pernah
memuji orang lain. Hal ini bisa menjadi toxic.
11.
Penghasut atau
mengajak orang lain untuk melakukan hal yang tidak baik
12.
Senang jadi
pusat perhatian
Sebenarnya
bagus sich ingin menjadi orang yang mau tampil, seperti maju di depan kelas
untuk memimpin doa atau banyak hal lainnya, tapi di sini konotasinya negatif. Iyah
unjuk diri gitulah.
13.
Tidak bisa
berempati
Temennya lagi
berduka, malah dia datang menceritakan segala permasalahannya kepada temannya
tersebut. Hmmm kagak asyik kan’, nah itu termasuk toxic.
Sebenarnya masih banyak lagi yang
lainnya, namun di sini hanya memaparkan 13 dari bagiannya. Ohya dari
ketigabelas ini, dari salah satunya mungkin ada pada diri kita, terkadang point
1, 2, 3 dan seterusnya atau terkadang ada juga yang sadar bahwa terjangkit
semuanya. Waspada yah!
Selanjutnya, ada beberapa
jenis toxic relationship, secara ilmiah dan asumsi. Artinya sudah ada
penelitian dan asumsi dari pengamat lingkungan sekitar, seperti yang telah
dilakukan oleh Gloridei L. Kapahang,
S.Psi, MA, sebagai berikut:
Pertama,
keluarga. Toxic family ini butuh porsi yang lebih banyak dibandingkan dengan
jenis toxic lainnya, karena prilaku yang toxic itu awal mulanya terbentuk
dari keluarga. Seperti dikatakan oleh salah seorang ahli, “just because it’s
family doest meant it isn’t toxic”. Ohya pada toxic family ini terdapat
4 toxic diantaranya toxic couple (suami-istri), toxic
parents (orangtua), toxic sibling (saudara/kakak-adik) dan
toxic big family.
Penyebab toxic
family; pergaulan yang kurang baik, kurangnya rasa percaya diri, trauma
masa lalu atau masa kecil, dan “diwariskan” seperti kebiasaan buruk yang
terbentuk di dalam keluarga. Dengan ciri-ciri toxic family (suami-isteri) sebagai berikut; hilangnya kepercayaan
antar pasangan, pembatasan aktivitas pasangan, pasangan yang suka“ya” di mulut
tapi “tidak” dalam perilaku, perbedaan pandangan tentang pola asuh anak, memaklumi
tapi tidak memaafkan dalam artian bahwa pasangan menyimpan hal yang tidak
disukai. Sedangkan ciri-ciri toxic family (Orangtua-anak), yaitu orang tua
yang selalu memarahi anak, anak tidak dilatih membuat keputusan, menginterogasi
anak untuk bercerita, membagi masalah pribadi pada anak, merendahkan
kepercayaan diri anak. Dan selanjutnya ciri-ciri toxic family (kakak-beradik), yaitu suka ikut campur dengan
aktivitas/masalah tanpa diminta, suka mencari perhatian orangtua (cari muka), materialistis,
dan menganggap urusannya lebih penting.
Kedua,
pertemanan; pada pertemanan ini terdapat toxic
friendship, dan toxic couple.
Toxic friendship,
nah ada 7 ilustrasi yang membedakan antara good friend dan toxic,
sebagai berikut:
- Temen yang baik
itu tidak membatasi pertemanan kita, kalau yang toxic friend malah tidak
menyukai teman kita yang lain
- Akan menelpon
kita kala rindu, kalau toxic akan menelpon dikala butuh (hanya dia saja
yang ingin dibantu)
- Percaya dengan
apa yang kamu katakan kalau yang toxic malah selalu meragukan
- Suka berbagi tetapi
kalau yang toxic selalu ingin menang sendiri
- Paham akan me-time,
kalau toxic ingin selalu ada waktu bersamanya saja
- Menerima apadanya
tidak berusaha mengubah
- Suka kalau kita
berhasil, kalau toxic akan cemburu berlebihan
Toxic couple (pacaran)
Ciri-ciri dari toxic couple;
cemburu berlebihan, terlalu mengekang, sering mengancam, melakukan pelecahan
baik secara verbal atau non verbal, tidak mau membangun komunikasi yang baik, terlalu
kompetitif, dan ingin mengubah dirimu menjadi seperti keinginannya.
Ketiga,
pekerjaan (toxic leadership, toxic
co-worker). Ada 8 sifat toxic leadership
yang harus dihindari yaitu; keengganan untuk mendengarkan feedback/tidak
mau mendengarkan saran dari bawahan, pemimpin yang suka mempromosikan diri dan
kepentingan pribadi yang berlebihan, penuh kebohongan dan tidak konsisten serta
suka menyimpan rahasia, memiliki nilai normal yang rendah seperti keadilan-empati
dan kemanusiaan, menghargai ketidakmampuan dibandingkan dengan kemampuan orang
lain, pemimpin tidak mendukung dan tidak menjadi mentor yang baik, berperilaku
klise atau lemah dan tidak bisa mengambil keputusan yang baik, dan melakukan
penindasan dan pelecehan. Nah, toxic leadership ini tidak selalu di
lingkungan kerja tapi bisa juga dalam kelompok masyarakat atau organisasi
kampus dan lainnya. Jika dari ciri-ciri ini terdapat benih-benih dalam diri
seorang pemimpin, perlu diwaspadai.
Keempat,
sosial kemasyarakatan (toxic neighbour).
Nah, point yang inilah yang dimaksud oleh
Glorein, asumsi hasil dari pengamatan permasalahan di masyarakat. Oke, to
the point aje, contohnya di sini ialah tetangga yang seenaknya sendiri,
seperti memutar musik dengan keras tanpa memikirkan orang disekitar rumah atau
juga tetangga yang sering datang ke rumah dan meminjam barang kemudian lupa
untuk mengembalikannya. Mau tegur/minta tapi ndak enak, ndak ditegur/diminta
tapi mengganggu dan semaunya.
Berikutnya dampak toxic relationship. Toxic relationship ini dapat memberikan banyak dampak yang tidak baik bagi setiap orang diantaranya; tidak percaya diri (low self-esteem), tidak menjalin hubungan dengan lawan jenis, tidak mudah percaya pada orang lain, terlalu menyalahkan diri sendiri dan merasa diri sendiri bertanggung jawab atas semua kekacauan yang terjadi, merasa semua orang akan meninggalkannya karena selalu ditinggalkan atau dititipkan, berpotensi menjadi pelaku dikemudian hari, e.c.t.
BTW, sebagai closing saya menyuguhkan beberapa tanya jawab semoga bisa memberikan gambaran lebih luas terkait toxic relationship tersebut.
Ketika kita sudah terjebak dalam toxic relationship, apakah kita berusaha
untuk mengakhiri hubungan tersebut atau memperbaiki dan mengevaluasi hubungan
tersebut? Selanjutnya apakah orang-orang yang berada dalam tahap consummate love dapat mengalami toxic relationship?
Kita evaluasi dulu jika dalam
hubungan toxic. Kalau kita sudah
mengevaluasi dan mengetahui keadaan hubungan, barulah kita coba untuk
mengkomunikasikan dengan pasangan kita. Kalau pada akhirnya komunikasi tidak
berjalan dengan baik atau mungkin keadaan lebih parah maka saran dari saya
hubungan itu diakhiri saja walaupun mungkin akan merasa tidak nyaman. Dalam
tahap consummate love kita juga bisa mengalami toxic relationship.
Jika best
friend kita cemburu dan kita tahu bahwa dia cemburu. Apa yang harus kita
lakukan?
Kita perlu tahu apa
dulu yang dicemburui, kemudian komunikasikan dengan teman tersebut apa yang
membuat mereka cemburu. Setelah itu komunikasikan baik-baik apa yang menjadi
jalan terbaik kecuali jika dia sudah sangat memaksa maka hal itu sudah
menandakan toxic. Kembali lagi kepada
diri kita dan tetap pada prinsip bahwa kita tetap menjadi teman yang baik
Bagaimana cara
keluar dari hubungan toxic dan diri sendiri yang merasa tidak enak’kan?
Intinya
adalah love yourself. Kalau kita
merasa hubungan ini sudah menjadi toxic relationship maka kita harus berusaha menjaga komunikasi.
Kenapa banyak
orang terjebak dalam toxic relationship
dan kenapa mereka yang terjebak dalam toxic
relationship menjadi korban yang tidak bisa keluar dari hubungan tersebut?
Bagaimana sarannnya agar bisa keluar dari toxic
relationship? Dan bagaimana cara terhindar dari toxic relationship tersebut?
Orang
terjebak karena mereka membiarkan diri mereka masuk ke toxic relationship tersebut, hingga tidak bisa keluar dari hal
tersebut. Kalaupun jika akan keluar maka dia akan merasa terganggu atau bahkan
hingga menyakiti diri sendiri. Cara untuk keluar dari toxic relationship yaitu jaga diri kita dan pikirkan untuk
mencintai diri kita sendiri. Jangan karena ada pengaruh dalam hubungan yang toxic
kita menjadi negatif.
Apa yang harus
dilakukan menghadapi toxic family
yang membuat kita down tanpa
menyakiti diri?
Kita
harus berusaha memahami dan menerima apa yang diberikan oleh orang tua tanpa
berusaha untuk mengubah mereka. Kalaupun akhirnya apa yang dilakukan tidak ada
gunanya, maka teman-teman bisa minta bantuan orang yang lebih kompeten seperti counselor
ataupun teman untuk membagi. Karena memang toxic
family sangat mengakar jadi ada kecenderungan besar hingga dewasa akan
tetap berlanjut.
****
Who has time for toxic
relationships? If someone isn't honoring your feelings, it's not a real
relationship. If you feel drained after spending time with someone, that's a
red flag!
Reminder !
Toxic tidaknya sebuah hubungan tergantung juga pada kadarnya. Seberapa
banyak, seberapa sering perilaku itu terjadi. Untuk itu berpikirlah sebelum
bertindak.
Berdasarkan hal di atas, saya mengutip sebuah anonim yang mungkin memiliki keterkaitan dasar dan bagi saya pribadi ini sangat bagus sekali, jujur saya suka dengan kata-katanya. “Tidak ada hubungan yang sempurna, termasuk hubugan dalam keluarga. Kita tidak bisa memilih untuk lahir dari orang tua mana, tapi kita bisa memilih mau jadi orangtua seperti apa kelak.”
Semoga bermanfaat!


