Saturday, October 24, 2020

BUCIN, WASPADA BAHAYA TOXIC RELATIONSHIP, IYA KAH?

 

Terus tersakiti, terus terluka, terus menyalahkan diri sendiri. Jika sudah seperti ini, untuk apa dipertahankan?.

Itulah rasionalitas toxic relationship. Yakni hubungan antara orang-orang yang tidak saling mendukung, di mana ada konflik dan salah satunya berusaha untuk merusak yang lain, adanya persaingan, ada rasa tidak hormat dan kurangnya kekompakan. Artinya sebuah hubungan interpersonal yang beracun, merusak kesehatan baik fisik, emosional dan mental orang-orang di dalamnya. Hubungan seperti ini jika dilanjutkan tanpa ada upaya pembenahan dari masing-masing pihak sangatlah berbahaya. Apalagi jika terjadi pada seseorang yang sedang menjadi bucin, bisa-bisa dia tidak menyadari bahwa mereka sedang berada pada toxic relationship. Kalau bisa moving on from toxic relationship.

Kalau bicara relationship, biasanya melibatkan sesuatu atau orang di dalamnya dan hal ini tidak jauh dari pertemanan, persahabatan, keluarga dan lingkungan sosial. Sehingga kenapa toxic itu muncul? karena adanya orang-orang di dalamnya yang berlaku toxic atau toxic people. Nah, toxic people adalah orang yang berprilaku negatif kepada lingkungan sekitarnya. Kita bisa lihat di sini ada beberapa ciri-ciri dari toxic people, yaitu:

1.    Sering melakukan self-affirmation (penegasan tentang kebaikan diri)

Self-affirmation ini sebenarnya sesuatu yang positif, yang artinya kita menerima diri kita. Namun yang dimaksud disini adalah hal yang negatif, jadi ada orang yang ketika melakukan sesuatu tapi suka memamerkannya kepada orang lain,  Eh gini lho beb, saya sudah melakukan ini dan itu...bla bla bla.....”, itu ternyata beracun.

2.   Menjelekkan orang lain

3.  Berlagak sok suci atau berasa paling benar; iyah semacam orang yang disekitarnya tidak sama baiknya dengan dirinya

4.    Mau senang-senang saja dan tidak mau susah

Kalau senang hayo rame-rame, tapi giliran susah ’maaf gue cabut dulu yo’.

5.    Merasa paling benar/hebat (sindrom thanos)

Ada yang suka nonton Avanngers, nggak? Nama penjahatnya ‘Thanos’, si Thanos ini merasa dirinya paling hebat, paling benar sedunia. Lebih jelasnya cuss ditonton yo. Flim tersebut bagus buat nambah pengetahuan lho.

6.     Merasionalisasi kesalahan orang lain untuk membela diri

Kita ambil contoh terdekat saja,  misalkan dia datang terlambat dalam perkuliyahan, kemudian dia membela dirinya dengan mengatakan “itu si A ‘kan juga sering terlambat, kenapa tidak dimarahi, sendirian saya saja yang dimarahi?”. Jadi dia membela diri dengan menyebutkan contoh yang sama-sama salah dengan perbuatannya, intinya membuat sesuatu itu masuk akal atau rasional.

7.    Penuh dengan drama queen/king

Hidupnya penuh dengan drama, sedikit—sedikit sedih. Dia ngerasa hal-hal pada kehidupannya itu sesuatu yang salah, sering menyalahkan diri atau orang lain dan suka membuat kekacauan yang di dalamnya tanda kutip (red; tidak jelas dan perlu dipertanyakan), semacam ingin cari perhatian atau lainnya. Iya, pokoknya mendramatisir dech.

8.    Ghosting (seseorang yang sering menghilang saat dibutuhkan).

Lagi butuh-butuhnya, datang sesuka dan mencokol ini dan ini. Nah, giliran kita yang butuh, dia meghilang entah kemana dan dalam jangka waktu lama. Etdah edan amet ‘kan.

9.    Super narsis atau suka pamer

10. Selalu mengkritik

Mengkritik sebenarnya sesuatu yang baik, tapi kerjaannya selalu mengkritik tidak pernah memuji orang lain. Hal ini bisa menjadi toxic.

11.  Penghasut atau mengajak orang lain untuk melakukan hal yang tidak baik

12.  Senang jadi pusat perhatian

Sebenarnya bagus sich ingin menjadi orang yang mau tampil, seperti maju di depan kelas untuk memimpin doa atau banyak hal lainnya, tapi di sini konotasinya negatif. Iyah unjuk diri gitulah.

13.  Tidak bisa berempati

Temennya lagi berduka, malah dia datang menceritakan segala permasalahannya kepada temannya tersebut. Hmmm kagak asyik kan’, nah itu termasuk toxic.

     Sebenarnya masih banyak lagi yang lainnya, namun di sini hanya memaparkan 13 dari bagiannya. Ohya dari ketigabelas ini, dari salah satunya mungkin ada pada diri kita, terkadang point 1, 2, 3 dan seterusnya atau terkadang ada juga yang sadar bahwa terjangkit semuanya. Waspada yah!

Selanjutnya, ada beberapa jenis toxic relationship, secara ilmiah dan asumsi. Artinya sudah ada penelitian dan asumsi dari pengamat lingkungan sekitar, seperti yang telah dilakukan oleh Gloridei L. Kapahang, S.Psi, MA,  sebagai berikut:

Pertama, keluarga. Toxic family ini butuh porsi yang lebih banyak dibandingkan dengan jenis toxic lainnya, karena prilaku yang toxic itu awal mulanya terbentuk dari keluarga. Seperti dikatakan oleh salah seorang ahli, “just because it’s family doest meant it isn’t toxic”. Ohya pada toxic family ini terdapat 4 toxic diantaranya toxic couple (suami-istri), toxic parents (orangtua), toxic sibling (saudara/kakak-adik) dan toxic big family.

 Penyebab toxic family; pergaulan yang kurang baik, kurangnya rasa percaya diri, trauma masa lalu atau masa kecil, dan “diwariskan” seperti kebiasaan buruk yang terbentuk di dalam keluarga. Dengan ciri-ciri toxic family (suami-isteri) sebagai berikut; hilangnya kepercayaan antar pasangan, pembatasan aktivitas pasangan, pasangan yang suka“ya” di mulut tapi “tidak” dalam perilaku, perbedaan pandangan tentang pola asuh anak, memaklumi tapi tidak memaafkan dalam artian bahwa pasangan menyimpan hal yang tidak disukai. Sedangkan ciri-ciri toxic family (Orangtua-anak), yaitu orang tua yang selalu memarahi anak, anak tidak dilatih membuat keputusan, menginterogasi anak untuk bercerita, membagi masalah pribadi pada anak, merendahkan kepercayaan diri anak. Dan selanjutnya ciri-ciri toxic family (kakak-beradik), yaitu suka ikut campur dengan aktivitas/masalah tanpa diminta, suka mencari perhatian orangtua (cari muka), materialistis, dan menganggap urusannya lebih penting.

Kedua, pertemanan; pada pertemanan ini terdapat toxic friendship, dan toxic couple.

*      Toxic friendship, nah ada 7 ilustrasi yang membedakan antara good friend dan toxic, sebagai berikut:

-    Temen yang baik itu tidak membatasi pertemanan kita, kalau yang toxic friend malah tidak menyukai teman kita yang lain

-  Akan menelpon kita kala rindu, kalau toxic akan menelpon dikala butuh (hanya dia saja yang ingin dibantu)

-   Percaya dengan apa yang kamu katakan kalau yang toxic malah selalu meragukan

-      Suka berbagi tetapi kalau yang toxic selalu ingin menang sendiri

-       Paham akan me-time, kalau toxic ingin selalu ada waktu bersamanya saja

-       Menerima apadanya tidak berusaha mengubah

-       Suka kalau kita berhasil, kalau toxic akan cemburu berlebihan

*      Toxic couple (pacaran)

Ciri-ciri dari toxic couple; cemburu berlebihan, terlalu mengekang, sering mengancam, melakukan pelecahan baik secara verbal atau non verbal, tidak mau membangun komunikasi yang baik, terlalu kompetitif, dan ingin mengubah dirimu menjadi seperti keinginannya.

Ketiga, pekerjaan (toxic leadership, toxic co-worker). Ada 8 sifat toxic leadership yang harus dihindari yaitu; keengganan untuk mendengarkan feedback/tidak mau mendengarkan saran dari bawahan, pemimpin yang suka mempromosikan diri dan kepentingan pribadi yang berlebihan, penuh kebohongan dan tidak konsisten serta suka menyimpan rahasia, memiliki nilai normal yang rendah seperti keadilan-empati dan kemanusiaan, menghargai ketidakmampuan dibandingkan dengan kemampuan orang lain, pemimpin tidak mendukung dan tidak menjadi mentor yang baik, berperilaku klise atau lemah dan tidak bisa mengambil keputusan yang baik, dan melakukan penindasan dan pelecehan. Nah, toxic leadership ini tidak selalu di lingkungan kerja tapi bisa juga dalam kelompok masyarakat atau organisasi kampus dan lainnya. Jika dari ciri-ciri ini terdapat benih-benih dalam diri seorang pemimpin, perlu diwaspadai.

Keempat, sosial kemasyarakatan (toxic neighbour). Nah, point yang inilah yang dimaksud oleh Glorein, asumsi hasil dari pengamatan permasalahan di masyarakat. Oke, to the point aje, contohnya di sini ialah tetangga yang seenaknya sendiri, seperti memutar musik dengan keras tanpa memikirkan orang disekitar rumah atau juga tetangga yang sering datang ke rumah dan meminjam barang kemudian lupa untuk mengembalikannya. Mau tegur/minta tapi ndak enak, ndak ditegur/diminta tapi mengganggu dan semaunya.

Berikutnya dampak toxic relationship. Toxic relationship ini dapat memberikan banyak dampak yang tidak baik bagi setiap orang diantaranya; tidak percaya diri (low self-esteem), tidak menjalin hubungan dengan lawan jenis, tidak mudah percaya pada orang lain, terlalu menyalahkan diri sendiri dan merasa diri sendiri bertanggung jawab atas semua kekacauan yang terjadi, merasa semua orang akan meninggalkannya karena selalu ditinggalkan atau dititipkan, berpotensi menjadi pelaku dikemudian hari, e.c.t.

BTW, sebagai closing saya menyuguhkan beberapa tanya jawab semoga bisa memberikan gambaran lebih luas terkait toxic relationship tersebut.

Ketika kita sudah terjebak dalam toxic relationship, apakah kita berusaha untuk mengakhiri hubungan tersebut atau memperbaiki dan mengevaluasi hubungan tersebut? Selanjutnya apakah orang-orang yang berada dalam tahap consummate love dapat mengalami toxic relationship?

Kita evaluasi dulu jika dalam hubungan toxic. Kalau kita sudah mengevaluasi dan mengetahui keadaan hubungan, barulah kita coba untuk mengkomunikasikan dengan pasangan kita. Kalau pada akhirnya komunikasi tidak berjalan dengan baik atau mungkin keadaan lebih parah maka saran dari saya hubungan itu diakhiri saja walaupun mungkin akan merasa tidak nyaman. Dalam tahap consummate love kita juga bisa mengalami toxic relationship.

Jika best friend kita cemburu dan kita tahu bahwa dia cemburu. Apa yang harus kita lakukan?

Kita perlu tahu apa dulu yang dicemburui, kemudian komunikasikan dengan teman tersebut apa yang membuat mereka cemburu. Setelah itu komunikasikan baik-baik apa yang menjadi jalan terbaik kecuali jika dia sudah sangat memaksa maka hal itu sudah menandakan toxic. Kembali lagi kepada diri kita dan tetap pada prinsip bahwa kita tetap menjadi teman yang baik

Bagaimana cara keluar dari hubungan toxic dan diri sendiri yang merasa tidak enak’kan?

Intinya adalah love yourself. Kalau kita merasa hubungan ini sudah menjadi toxic relationship maka kita harus berusaha menjaga komunikasi.

Kenapa banyak orang terjebak dalam toxic relationship dan kenapa mereka yang terjebak dalam toxic relationship menjadi korban yang tidak bisa keluar dari hubungan tersebut? Bagaimana sarannnya agar bisa keluar dari toxic relationship? Dan bagaimana cara terhindar dari toxic relationship tersebut?

Orang terjebak karena mereka membiarkan diri mereka masuk ke toxic relationship tersebut, hingga tidak bisa keluar dari hal tersebut. Kalaupun jika akan keluar maka dia akan merasa terganggu atau bahkan hingga menyakiti diri sendiri. Cara untuk keluar dari toxic relationship yaitu jaga diri kita dan pikirkan untuk mencintai diri kita sendiri. Jangan karena ada pengaruh dalam hubungan yang toxic kita menjadi negatif.

Apa yang harus dilakukan menghadapi toxic family yang membuat kita down tanpa menyakiti diri?

Kita harus berusaha memahami dan menerima apa yang diberikan oleh orang tua tanpa berusaha untuk mengubah mereka. Kalaupun akhirnya apa yang dilakukan tidak ada gunanya, maka teman-teman bisa minta bantuan orang yang lebih kompeten seperti counselor ataupun teman untuk membagi. Karena memang toxic family sangat mengakar jadi ada kecenderungan besar hingga dewasa akan tetap berlanjut.

****

Who has time for toxic relationships? If someone isn't honoring your feelings, it's not a real relationship. If you feel drained after spending time with someone, that's a red flag!

Reminder !

Toxic tidaknya sebuah hubungan tergantung juga pada kadarnya. Seberapa banyak, seberapa sering perilaku itu terjadi. Untuk itu berpikirlah sebelum bertindak.

Berdasarkan hal di atas, saya mengutip sebuah anonim yang mungkin memiliki keterkaitan dasar dan bagi saya pribadi ini sangat bagus sekali, jujur saya suka dengan kata-katanya. “Tidak ada hubungan yang sempurna, termasuk hubugan dalam keluarga. Kita tidak bisa memilih untuk lahir dari orang tua mana, tapi kita bisa memilih mau jadi orangtua seperti apa kelak.” 

Semoga bermanfaat!


Thursday, October 8, 2020

MENTAL HEALTH AWARENESS, IT’S OKE NOT TO BE OKE

 

Eh, ada yang Nge nggak sich dengan judul celetukan penuh makna kali ini. Cieh PD amet. Tapi jujur aja nie iya, tulisan ini selain pernah ‘Ain pelajari bersama Bapak Drs. Melkian Naharia, S.Psi, M.Pd juga terinspirasi dengan drakor yang saat ini baru the end dan trending topik saat ini, maklum saking banyak digandrungi para pecinta Oppa-oppa ganteng. Ohya, drakor bertajuk “it’s oke not to be oke” tersebut, mengangkat isu besar kesehatan mental. Yang penasaran dengan kisahnya bisa telusuri di google atau cekidot di youtube karena selain menarik dari romansa cinta, banyak juga ilmu terkait psikologis khususnya kesehatan mental. Dan mumpung lagi anget-angetnya, berharap bisa menjadi penarik minat rasa ingin tahu dan sadar betapa pentingnya kesehatan mental. Karena yang sebenarnya it’s oke not to be oke –nya Anda, Tuhan tahu bahwa kita cuma manusia yang fragile, bisa mendadak galau dan punya compliated feeling. Untuk itu pentingnya knowledge dan awareness akan kesehatan mental.

Oke, to the point aja. Apa itu kesehatan mental?

Menurut WHO, kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, di dalamnya terdapat kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menjalankan peran dalam komunitasnya dengan baik. Dapat dipahami ketika seorang individu berada di luar definisi tersebut, kemungkinan dapat ditemukan suatu kelainan atau gangguan kesehatan mental. Jelasnya sehat mental merupakan kondisi individu yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, dapat menunjukkan integritas dan dapat mandiri.

Menurut UU RI No. 18 tahun 2014 menjelaskan bahwa gangguan jiwa atau kesehatan mental merupakan suatu kondisi di mana seseorang mengalami gangguan dalam perilaku, pikiran dan perasaan. Nampak dalam gejala perubahan perilaku yang bermakna serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fumgsi sebagai manusia.

Dan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesehatan mental, yang tidak lain dipengaruhi oleh peristiwa dalam kehidupan yang meninggalkan dampak yang besar pada keperibadian dan perilaku seseorang, diantaranya; 1) faktor biologi, berupa genetik, kimia pada otak, gangguan pada otak. 2) faktor keluarga, berupa massalah keluarga, riwayat keluarga. 3) faktor kehidupan, berupa trauma, pelecehan, racun, alkohol, obat-obatan.

Dengan keadaan yang seperti di atas, tentu sangat dibutuhkan peran psikologi dalam menanganinya. Dan dalam menyelesaikan masalah psikologis ataupun memperbaiki perilaku pasien, seorang psikolog dapat bekerjasama dengan psikiater dan dokter yang menangani pasien. Kerjasama dilakukan apabila pasien membutuhkan pengobatan sekaligus psikoterapi dan konseling psikolog.

Lalu, kapan sich kita menghubungi psikolog?

Ketika merasakan: susah tidur, susah makan, mendengar atu melihat hal yang tidak nyata, kehilangan seseorang atau hal yang dicintai, mengalami stres berat, memiliki gangguan kecemasan atau gelisah, kehilangan minat terhadap hal yang disukai, merasa tidak berdaya, mengalami depresi, mengalami kelelahan yang tak kunjung hilang, mempunyaai masalah keluarga atau hubungan sosial, mempunyai kebiasaan buruk ataupun adiksi, membutuhkan peningkatan pertama untuk acara besar, memiliki fobia dan sebagainya.

Dan ternyata kekuatan mental kita ini sangat luar biasa, pada intinya kita akan menjadi lebih produktif. Jika kesehatan mental terganggu, maka timbul ganguan mental atau penyakit mental. Gangguan mental dapat mengubah cara seseorang dalam menangani stres, hubungan sosial, membuat pilihan, dan memicu hasrat untuk menyakiti diri sendiri. Dengan demikian, pentingnya awarness guna mengantisipasi apa yang tidak kita inginkan agar tidak terjadi.

Namun, apa yang terjadi?

Rendahnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental adalah penyebab utama sulitnya meminimalisir permasalahan dari kesehatan mental itu sendiri.

Masyarakat Indonesia seringkali menganggap kesehatan mental sebagai hal yang biasa, namun pada kenyataannya gangguan kesehatan mental dapat berdampak pada kesehatan fisik tubuh bahkan hingga menyebabkan kematian. Data kematian prematur akibat bunuh diri dari WHO tahun 2016 di Indonesia menunjukkan angka 3:100.000 penduduk, yang berarti sekitar 8.000 dari 260 juta jiwa penduduk Indonesia mati karena bunuh diri.

Dengan demikian masalah kejiwaan atau kesehatan mental sangat tidak bisa dianggap remeh, walau hanya sekedar stress. Gangguan mental yang tidak ditangani dengan benar hingga tuntas dapat berakibat fatal. 

Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar.

Selalu ingat untuk menjaga kesehatan mental seperti kamu menjaga kesehatan fisik!

Jangan sungkan untuk menceritakan masalahmu pada orang terdekatmu dan jangan ragu atau takut menemui psikolog atau psikiater jika kamu merasa memerlukan bantuan.

Kuy sayangi dirimu dengan selalu awaren  akan kesehatan fisik dan mental!

Please, don’t lose who you are,

And just be true to who you are.

‘Cause dirimulah yang terbaik menjadi alarm pribadimu

Monday, October 5, 2020

MENCINTAI versus MENYEMBAH


Mencintai merupakan kata yang berprefiks men-, dengan kata dasar cinta. Bicara cinta hidup rasanya gimana gituh, saking indah dan nikmatnya yang tiada tara. Banyak yang lupa diri dengan rasa yang satu ini, kalau sudah berhadapan dengan sosok yang dicintainya. Sehingga sebagian orang berasumsi, mencintai itu menyembah. Dengan adanya cinta dia tunduk pada yang dicintainya. Rela melakukan apapun demi sang dicinta.

Lalu, apa hakiki dari cinta itu?

Menurut Ibn Abd al-Shamad yang dinukil dalam bukunya al-Kalabadzi. “Ajaran Kaum Sufi (1993:138-139)”, Ia berkata: ”Cinta adalah yang mendatangkan kebutaan dan ketulian; cinta membutakan segalanya kecuali terhadap yang dicintai, sehingga orang tersebut tidak melihat apa pun kecuali Dia.”

Cinta membuatku tuli dari segala kecuali suara-Nya,

Pernahkah cinta seaneh ini?

Cinta membutakanku, dan hanya kepada-Nya semata aku memandang

Cinta membutakan, dan karena tersembunyi

Cinta tak dapat didefinisikan secara pasti, tetapi jejak-jejaknya dapat dilukiskan. Tutur penyair Sufi terkenal, Jalaluddin Rumi dalam nukilan buku karyanya, Binyamin Abrahamov. “Rindu Tiada Akhir, Belajar Mencinta dan Dicinta Allah dari al-Ghazali dan al-Dabbagh (2003:11), Ia juga menuturkan: Ada orang bertanya, ”Apakah cinta itu?”.  Aku jawab:,

Janganlah tanyakan aku maknanya,

Jika kamu menjadi seperti diriku, kamu akan tahu,

Jika ia memanggilmu, kamu akan bercerita tentangnya

            Ma’ruf al-Kharkhi berkata, “cinta tidak dapat dipelajari oleh manusia, karena ia merupakan suatu anugrah dari Tuhan dan datang atas kasih-Nya.” Dapat dipahami bahwa dalam mendapatkan maqam cinta itu tidaklah mudah, melainkan harus melalui jalan dan cobaan yang berliku-liku, dan cinta inilah yang mendasari iman. Prilaku takwa seorang mukmin adalah prilaku yang bernuansa cinta karena ada faktor kepatuhan kepada Kekasih. Nukilan dari Syamsun Ni’am, “Cinta Ilahi Perspektif Rabi’ah al-Adawiyah dan Jalaluddin Rumi (2001:4).”

”Cinta adalah perasaan terdalam yang tumbuh dari beberapa kesempurnaan, atau lahir dari imajinasi terhadap beberapa kesempurnaan di dalam objek kesadaran, apakah objek imajinasi itu nyata ataupun hanya asumsi saja”. Dikutip dari karyanya, Khawajah Nashiruddin Ath-Thusi. “Menyucikan Hati Menyempurnakan Jiwa (2003:70).”

Cinta adalah kecendrungan alami untuk menggapai ridha yang dicintai. Atau kecenderungan alami yang tidak disebabkan suatu dorongan ataupun tarikan, dan tidak pula direkayasa, sehingga si pencinta melihat segala yang ada pada obyek cintanya yaitu indah dan luar biasa.

Ketika obyek cinta itu adalah Tuhan, maka cinta tersebut adalah ibadah. Artinya perkara mecintai akan dinilai meyembah sebab obyeknya ma’bud, yaitu patut disembah atau yang menjadi tujuan untuk mendapatkan nikmat yang ada pada-Nya dan nikmat itu dari-Nya, bukan dari selain-Nya.

Allah SWT sajalah yang ma’bud, maka mencintai Allah SWT sajalah yang bernilai meyembah. Adapun ketika obyek cinta adalah selain Allah, maka tidaklah dinilai menyembah. Barangsiapa yang mengklaim setiap cinta adalah menyembah, maka ia telah berburuk sangka. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Najm: 28.

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedangkan persangkaan itu tiada pengaruh sedikitpun terhadap kebenaran.” (Q.S al-Najm:28)

            Setelah kita mengenal makna cinta dan kapan cinta dikatakan menyembah, kini saatnya kita mengetahui bahwa cinta dapat memudahkan si pencinta untuk mentaati yang dicintainya. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Ali-imran:31.

“Katakanlah hai Muhammad: “apabila kamu mencintai Allah maka dekatilah aku, niscaya kamu akan dicintai dan diampuni Allah.”(Q.S. Ali-imran:31)

Maksud darinya, bukti ketulusan cinta kita kepada Allah SWT adalah dengan ketaatan berupa ittiba’, mengikuti jejak Rasulullah SAW yang dengannya kita dapat meraih cinta dan ampunan-Nya. Rasulullah SAW merupakan ciptaan Allah SWT yang paling memahami tentang cinta Allah SWT, maka untuk bercinta dengan Allah SWT harus melalui cinta kepada Rasulullah SAW.

Fakultas Perantara; Guru, Ulama’, Tabi’in dan Sahabat Rasulullah SAW

Sangat manusiawi tatkala rasa cinta semakin menyala-nyala pada para Guru, Ulama’, Tabi’in dan sahabat Rasulullah SAW atas ilmu dan jasa-jasanya yang penuh tauladan. Namun, terbersit sebuah pertanyaan, apakah mencintai mereka berarti menyembahnya?.

Bahagia memang rasanya menikmati cinta kepada yang mulia tersebut, dan dari penjelasan sebelumnya memberikan gambaran bahwa, itu bukanlah berarti menyembahnya. Rasa senang yang inipun tak kalah dengan senangnya seorang ibu yang telah melahirkan anak pertamanya. Bahkan belum tentu kalah pula dengan senangnya seorang mukmin yang telah menemukan ridho Rabb-nya! Memang benar, tanpa guru, ilmu jadi tiada. Tanpa ulama’ – tabi’in ‘ - sahabat, tershahor jihad mulianya, matan ibroh dari perjuangannya jadi tiada. Tanpa tawasssul, sampainya tujuan hanya dimimpi saja. Benarkah begitu?

Tidak jarang di tengah-tengah umat Islam, tawassul dianggap sebagai perkara baru yang tak berlandaskan Qur’an dan sunnah, serta warisan sahabat dan tabi’in. Tidak jarang pula tawassul dituding sebagai tradisi non-muslim yang kemudian merasuki peribadatan umat Islam. Fenomena mengharukan ini dikarenakan umat Islam telah kehilangan definisi yang tepat. Kehilangan tersebut telah mengakibatkan pergaulan sengit yang dahsyat, sehingga dapat menimbulkan perdebatan padahal sependapat!

Jadi, tawassul sendiri yaitu; meggunakan sebuah perantara untuk mencapai sebuah tujuan. Misalnya, ketika seseorang menggunakan mata untuk tujuan melihat, maka ia telah bertawassul. Begitu juga ketika ia menggunakan perantara telinga untuk mendengar, menggunakan lidah untuk mencicipi, menggunakan hidung untuk bernafas, dan banyak lagi lainnya.  Semua orang melakukan tawassul tersebut, bahkan binatang pun tak ketinggalan melakukannya. Tawassul secara ‘urf adalah tuntutan fitrah, kebutuhan pokok yang fitri dan lumrah. Dan Islam adalah agama yang fitrah, sebagaimana firmanNya.

“Fitrah Allah SWT yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah SWT. Itulah agama yang lurus;tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S al-Rum: 30)

Islam tidak mengganggu gugat fitrah bertawassul tersebut, akan tetapi Islam memberi rambu-rambu dan pembatasan-pembatasan bertawassul agar lebih terkontrol dan terkendali. Misalnya Islam membolehkan kita menggunakan mata untuk melihat yang halal dan melarang kita menggunakannya untuk melihat yang haram. Begitu juga dengan telinga; halal apabila bertujuan mendengarkan bacaan al-Qur’an dan haram kalau bertujuan mendengarkan ghibah. Begitu juga dengan yang lainnya.

Mengharamkan tawassul atau menghalalkannya secara mutlak suatu kebodohan sekaligus pembodohan yang berlebihan, karena Islam telah mengaitkan atau menggantungkan hukum penggunaan suatu washilah pada ghayah yang diinginkannya. Untuk itu moderatisme syariat Islam merumuskan bahwa washilah menjadi halal apabila bertujuan halal dan haram apabila bertujuan haram.

Alhasil, tawassul secara komplit dan komprehensifnya dapat didefinisikan, “menggunakan suatu perantara untuk mencapai suatu tujuan”. Dan ia merupakan tuntutan fitrah yang halal apabila tujuannya halal, dan haram apabila tujuannya haram.

Begitu pulalah yang terjadi, segala tindak tanduk kita dalam membuktikan tulus cinta kepada para sosok mulia nan penuh jasa tersebut merupakan sebuah washilah - liitabarrukan.

 

Wallahu’alam bisshawab

 

 

 

 

 

 

.


DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...