Wanita atau lelaki yang sholih/sholihah itu bukan sekedar
yang banyak ilmu agama dan menghafal Qur’annya.
Melainkan yang kedua hal itu terjemah dikeperibadiannya.
Anonim di atas menyinggung tajam kepada kita, bagaimana
bersikaf dalam kehidupan bersosial setiap harinya. Mayoritas kita beribadah
hanya rutinitas semata, bukan bentuk ketaatan dan jarangnya rasa tadabbur yang
berlaku pada kita sehingga tak menimbulkan bekas yang bermakna dalam diri yang
menjalani kehidupan di muka bumi. Iyah, bisa dibilang ibadah hanya ngerasain
capek doang, demikianlah celoteh-celotoh yang mungkin kurang berkenan dihati
tapi iya begitulah adanya. Maaf-maaf nih yach, pembaca
budiman ‘Ain Lover.
Untuk itu, sebagai muslim pada umumya dan
khususnya penekun al-Qur’an, yakni penghafal al-Qur’an (huffadz). Itu
seutama-utamanya ibadah yang luar biasa, menjaga hafalan, memahami,
mempelajari dan mengamalkan isi kandungan kitab lurusNya. Sebagaimna sabda
Rasulullah SAW. sebagai berikut:
“Sebaik-baik kalian adalah yang
mempelajari al-Qur’an dan mengamalkannya”. (H.R.
Bukhori)
Sesungguhnya
membaca, menghafal al-Qur’an adalah perkara yang amat penting, dan sangat
mungkin untuk dilakukan oleh setiap mukmin. Lebih mulia lagi apabila seorang
mukmin mengamalkan apa yang telah dipelajari, dihafal, serta berdakwah dijalan
Allah SWT dengan kitab mulia ini. Sesungguhnya al-Qur’an adalah
seagung-agungnya nikmat yang Allah SWT anugrahkan kepada hamba-hambaNya yang
beriman. Sampai-sampai Allah SWT mengutamakan nikmat ini dalam firmanNya
dibandingkan nikmat penciptaan manusa. Hal ini termaktub dalam Qur’an surah
ar-Rahman ayat 1-3:
“Tuhan
yang Maha pemurah, yang telah mengajarkan al-Qur’an. Dia yang menciptakan
manusia.”
Seolah-olah
manusia yang tidak mempelajari al-Qur’an hakikatnya seakan-akan tidak memliki
kehidupan. Seolah-olah manusia yang tidak menyambut al-Qur’an dan sabda
RasulNya adalah manusia yang mati; tiada kehidupan padanya. Dan sungguh Allah
SWT mengistmewakan sekelompok orang dari hamba-hambaNya yang beriman dengan
kenikmatan yang besar dan penghargaan yang tinggi, ketika mereka dapat
menghafal al-Qur’an di dalam dada. Allah SWT mengangkat derajat mereka dan
melimpahkan pahala kepada mereka. Untuknya, Allah SWT memerintahkan kaum mukminin
untuk mengagungkan mereka dan selalu mendahulukan mereka daripada yang lainnya.
Rasulullah SAW pun menyebut kemuliaan mereka di dalam hadis-hadisnya.
Diantaranya, beliau bersabda:
“Sesungguhnya
Allah SWT mengangkat derajat sekelompok orang dengan kitabullah ini dan
menghinakan sebagian yang lainnya.” (H.R. Muslim dari Umar bin
Khattab)
Begitulah
penghargaan agung dariNya untuk hamba yang berjuang menjalankan apa yang
dicintaiNya. Untuk meraihnya butuh usaha yang besar guna mendapatkan peredikat
yang diridhoi lagi berkah dariNya. Dengan menjamurnya para penghafal dimasa
kini, jadilah pembaca, penghafal yang mashur akan kecerdasan dan tinggi
moralitas, yang nantinya menjadi barometer untuk perubahan diri dan orang lain.
Maka dari itu, bertemanlah dengan baik dan jadilah teman yang baik. Sejatinya
teman adalah yang saling mengerti, menghormati, dan menghargai serta memberikan
inovasi yang baik antar keduanya.
Tanggung Jawab Agung di Pundak
Penghafal Qur’an
Menegaskan
bahwa menghafal al-Qur’an mengandung konsekuensi yang besar dan tanggung jawab
yang agung bagi para penghafalnya. Orang-orang yang Allah SWT beri kesempatan
meraih nikmat hafal al-Qur’an ini, wajib mengetahui bahwa sesungguhnya Ia
sedang memulai kehidupan yang baru, di mana dirinya selalu membawa al-Qur’an di
dadanya. Ia tidak lagi hidup sebelumnya. Namun Ia akan mengalami banyak
perubahan pada jiwa dan aktivitas fisiknya pada kesendirian dan kebersamaannya
dengan orang lain, juga dalam berhubungan dan berinterasi dalam kehidupan
bermasyarakat.
Sungguh Ia telah menjadi manusia
yang membawa al-Qur’an. Maka Ia mesti menghiasi dirinya dengan sifat-sifat
khusus yang hanya para pembawa kitabullah sajalah yang berhias
dengannya. Seorang sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud r.a berkata:
“Seyogyanya seorang pembaca
al-Qur’an dikenal menonjol dibandingkan yang lainnya, waktu malamnya ketika
orang-orang sedang tdur, waktu siangnya ketika orang-orang sedang mencicipi
makanan, dikeal dengan kesedihannya ketika orang—orang bergembira, dengan
tangisannya ketika orang-orang tertawa, dengan diamnya ketika orang-orang
mengumbar kata, dan ketika kehusyu’annya ketika orang-orang berfikiran kacau.
Seyogyanya seorang pembaca al-Qur’an senantiasa merendahkan diri dan bersikap
lemah lembut, tidak pantas Ia bertabiat kasar, suka bertengkar,
membentak-bentak, berteriak-teriak dan lekas naik darah.”
Seorang tabi’in, Fudhail bin ‘Iyadh
ra. berkata:
“Seorang
pembaca al-Qur’an adalah pembawa panji islam; tidak pantas Ia bersenda gurau
bersama orang yang beersenda gurau; tidak pantas Ia lalai bersama orang-orang
yang lalai; tidak pantas Ia berlaku sia-sia bersama orang-orang yang berlaku
sia-sia.”
Tanggung
jawab agung bagi seorang pembawa al-Qur’an yang disampaikan oleh Abdullah bin
Mas’ud r.a dan Fudhail bin ‘Iyadh r.a di atas cukup memberi penjelasan kepada
kita bahwa menghafal al-Qur’an merupakan tarbiyah yang luar biasa – tarbiyah
bagi pribadi dan tarbiyah bagi umat. Bayangkan jika orang-orang beriman
memiliki sifat-sifat di atas, maka tidak diragukan lagi umat Islam akan senantiasa
berjaya.
OOOOh,
Yaa Rabb. Sungguh indahnya kejayaan! Rindu sangat akan masa itu! (imajiner
meronta-ronta)
Ohya,
perlu diketahui pula, sebesar apapun beban tanggung jawab sebagai pengemban
al-Qur’an, namun tidak dibenarkan bagi seseorang untuk mengatakan:
“Tanggung jawab penghafal al-Qur’an
itu besar, maka Aku tidak perlu menghafalnya supaya Allah tidak memintaku
sebuah pertanggungjawaban!”
Padahal
disebalik itu, semua beban syariat menuntut pada pertanggungjawaban. Jihad
menuntut pertanggungjawaban, dakwah menuntut pertanggungjawaban, kepemimpinan
menuntut pertanggungjawaban, dan ucapan yang benar juga menuntut
pertanggungjawaban.
Jika
menghindar, lalu siapa lagi yang melaksanakan beban-beban syariat jikan bukan
kaum muslimin. Dengan mulianya Allah SWT, Dia berikan pahala yang sebanding
dengan tingkat kesultan amal yang dilakukannya. Pahala bagi orang yang bersusah
payah tidaklah sama dengan pahala orang yang bermalas-malasan. Sedangkan yang
dinilai oleh Allah SWT adalah seberapa baik niat dan upaya yang dilakukannya,
bukan seberapa banyak hasil yang dicapai. Sungguh Allah SWT melihat segala
usaha kita, dan Dia akan selalu memperhitungkannya.
Untuk
itu, memohon dengan penuh harap kepadaNya untuk kita semua agar Dia
menggerakkan kita untuk selalu mengamalkan ajaran-ajaran agamaNya.
Adab Pengemban
al-Qur’an
Dalam kitab at-Tibyān fī Âdāb Hamalat
al-Qur’ān menjelaskan terkait adab pengemban
al-Qur’an, salah satunya tidak menjadikan al-Qur’an sebagai kepentingan dunia, seperti ingin dipuji, ingin disebut ustadz/ah dan niat lainnya yang serupa. Akan tetapi niatkanlah
untuk ibadah hanya semata-mata karena-Nya.
Kita sudah tahu bahwa al-Qur’an itu merupakan kalam
suci yang datangnya langsung dari sisi Allah SWT, di mana memiliki adab
tersendiri bagi siapa saja yang membacanya, dan ini berbeda dengan buku atau
kitab lainnya. Adab-adab itu sendiri sudah diatur dengan baik sebagai
penghormatan dan pengagungan kepada al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi akhir
zaman yakni Nabi Muhammad SAW dan ummatnya, maka kewajiban kita adalah untuk
mengikuti pedoman dalam belajar agama Islam. Banyak sekali adab-adab maupun
tata cara yang harus dilakukan pada saat akan memulai sampai mengakhiri belajar
agama Islam. Oleh karena itu, ada beberapa adab dan tata cara yang harus
diperhatikan, dipegang dan dijaga sebelum dan disaat membaca al-Qur’an agar
bacaan al-Qur’an bermanfaat, dapat menghasilkan buahnya berupa tadabbur, kesan
dan istiqomah, dan membaca sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Dan kita ketahui semua bahwasanya al-Qur’an adalah kitab
akhlak, kitab adab dan kitab tarbiyah. Oleh karena itu wajib bagi pengemban
al-Qur’an untuk menjaga adab-adab al-Qur’an dan berusaha bermujahadah
(bersungguh-sungguh) untuk berakhlak dengan akhlak Al-Qur’an supaya mereka
betul-betul menjadi ahlul qur’an yang sejati.
Dan Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha
- istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pernah ditanya tentang akhlak
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan beliau pun menjawab:
أَلَسْتَ
تَقْرَأُ الْقُرْآنَ؟
“Tidakkah engkau membaca al-Qur’an?”
فَإِنَّ
خُلُقَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنُ
“Karena sesungguhnya akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam adalah sama dengan apa yang tertera dalam al-Qur’an.” (HR. Muslim)
Ini adalah mabahas yang sangat mulia. Yaitu ilmu yang
seharusnya kita berusaha dan bersemangat untuk mempelajarinya. Karena apabila
manusia sekedar membaca al-Qur’an, tidak akan nampak pada diri mereka akhlak
dan amal-amal al-Qur’an. Namun jika mereka membaca al-Qur’an, berusaha
mentadabburinya, memahaminya dan berusaha mengamalkan isi dari al-Qur’an, maka
akan nampak petunjuk-petunjuk al-Qur’an dalam diri mereka. Sebagaimana dalam berfirman:
إِنَّ
هَـٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan
yang lurus....” (Q.S. al-Isra’: 9)
Maka petunjuk-petunjuk yang penuh berkah ini akan nampak
pada diri seorang hamba jika mereka berusaha beradab dengan adab-adab
al-Qur’an, berusaha berakhlak dengan akhlak-akhlak al-Qur’an yang sangat agung,
yang mana petunjuk-petunjuk tersebut adalah petunjuk-petunjuk yang sangat
agung.
Berikut beberapa ikhtisar dari ilmuan islam mengenai
adab:
Kitab Ihya Ulum al-Dīn karangan Imam al-Ghazali, dalam
kitab tersebut, salah satu sub babnya membahas adab terhadap al-Qur’an.
Pembahasannya dimulai dari penjelasan keutamaan al-Qur’an dan ahlinya, celaan
bagi orang yang lalai membacanya. Hal-hal yang bersifat teknis ketika
berinteraksi yaitu adab membacanya yang terbagi menjadi dua, yakni; adab
lahiriyah dan adab batiniyah. Adab lahiriyah, seperi keadaan pembaca, ukuran
bacaan, menghatamkan al-Qur’an, membaca dengan menangis dan tartil,
memperhatikan ayat-ayat yang dibacanya, hukum mengeraskan bacaan dan melunakkan
bacaan, mengindahan bacaan. Adapun adab batiniyah, seperti memaknai keagungan
Allah SWT, mengkonsentrasikan hati, memahami dan merenungkan kandunga ayat,
mengkhususkan, meninggikan, mengosongkan diri dari penghalang pemahaman. Selain
itu juga dibahasnya bagaimana memahami al-Qur’an dan cara-cara menafsirkannya
baik menggunakan ra’yu maupun naql, yang disertai contoh-contoh penafsiran.
Jalaluddin al-Suyuti dalam karyanya "al-Itqan fī
al-Qur’ān", beliau memaparkan keutamaan al-Qur’an, hal-hal teknis yang
perlu dilakukan ketika seseorang berintraksi dengan al-Qur’an, misalnya
berwudhu, membaca ta’awudz, membaca dengan tartil, membaguskan suara, menghadap
kiblat, merenungi maknanya, dan sebagainya. Selain itu, kecaman bagi orang yang
melalaikan apa-apa yang telah dipelajarinya dari al-Qur’an. Kemudian beliau
juga memaparkan tentang boleh tidaknya mengajarkan al-Qur’an dengan menerima
atau meminta upah.
Yusuf al-Qardhawi dalam karyanya "Kaīfa Nata’āmal
ma’a al-Qur’ān", Ia memaparkan adab
ketika berinteraksi dengan al-Qur’an, seperti adab bagi para penghafal dalam
menghafalkannya, yang meliputi; senantiasa interaksi dengan al-Qur’an,
mengaplikasikan akhlak Qur’ani, khlas dalam mempelajarinya. Selanjutnya
dijelaskan teknis adab membaca dan menyimaknya, seperti tartil, berirama dan
membaguskan suara dalam membaca. Kemudian teknis yang berkatan dengan adab
batin terhadap al-Qur’an seperti khusyu’ dan menangis saat membacanya, mengupayakan
amal-amal hati, seperti; mengkhusyu’kan diri, dan membebaskan pengaruh.
Ali Mustafa Ya’qub, dalam karyanya "Nasihat Nabi
Kepada Pembaca dan Penghafal Qur’an”, beliau memaparkan hadis-hadis Nabi SAW
yang berkaitan dengan al-Qur’an yang disertai dengan terjemah dan sumber
pengutipan hadis. Dimulai dari keutamaan orang yang mempelajari dan membaca
al-Qur’an, yang disebutkan sebanyak 18 hadis, selanjutnya hadis-hadis keutamaan
qari’-qari’ah dan hafidh-hafidhah sebanyak 25 hadis, kewajiban menjaga hafalan
al-Qur’an sebanyak 5 hadis, dan ancaman terhadap penyalahgunaan al-Qur’an
sebanyak 17 hadis. Beliau memaparkan pula pendapat-pendapat ulama mengenai
hukum membaca al-Qur’an dengan lagu-lagu, hukum menerima imbalan dalam
mengajarkan al-Qur’an yang disertai dalil-dalil bagi ulama yang membolehkan dan
melarang.
Demikianlah sekelumit dari banyaknya pembahasan mengenai
adab pengemban al-Qur’an. Memang membicarakan masalah adab interaksi dengan
al-Qur’an adalah suatu hal yang tidak bisa dianggap remeh. Hal itu karena
ketika berbicara adab, maka sesungguhnya yang tengah dibicarakan adalah masalah
tentang baik-buruk, benar-salah, patut-taak patut, dan lain sebagainya.
Sementara al-Qur’an sendiri dengan lepas mengatakan bahwa Ia diturunkan untuk
menjadi alat pembeda mana yang benar dan yang salah.
Untuknya,
mengingat begitu vitalnya al-Qur’an bagi kaum muslimin, maka mereka tidak akan
sembarangan dalam memperlakukan kitab mulia ini. Mereka juga tidak akan
membiarkan siapa saja memperlakukan al-Qur’an dengan sembarangan. Mereka sangat
berhati-hati dalam berinteraksi dengan al-Qur’an. Adapun arti dari interaksi di
sini tentu saja bukan sekedar masalah-masalah teknis, seperti memegang,
membaca, membawa, menaruh, dan lain sebagainya - tetapi termasuk juga dalam hal
memahami, memanfsirkan, mengajarkan, memperlakukan dan mengamalkannya. Sekali
lagi, kehati-hatian ini bukan hanya karena menyakralkan al-Qur’an, tetapi ini
lebih dikarenakan rasa hormat. Bahwasanya al-Qur’an harus diperlukan lebih
istimewa dari buku-buku yang lain. Bisa dibilang ada rambu-rambu adab tertentu
yang akan selalu dipatuhi.
Tadabbur al-Qur’an dan Kualitas Akhlak
Tadabbur
merupakan salah satu cara untuk memahami al-Qur’an. Tadabbur berarti
merenungkan, menghayati dan memikirkan serta pencermatan ayat-ayat al-Qur’an
untuk dapat memahami makna, hikmah, ataupun maksud. Oleh sebab itu, seindah
apapun susunan ayat-ayat al-Qur’an se-ilmiah apapun kandungan al-Qur’an dan
sebesar apapun mukjizat al-Qur’an tanpa mentadabburkan ayat-ayatnya, maka sukar
untuk kita memahami dan menerima pengajaran dan ibrah untuk diimplementasikan
dalam kehidupan kita.
Menyelami makna tadabbur, di bawah ini ada beberapa
pendapat ulama tentang tadabbur, diantaranyaa sebagai berikut:
Menurut pandangan Imam Ibn al-Qayyim, tadabbur bermakna
memperhatikan makna-makna di dalam al-Qur’an dengan sepenuh hati dan
menyatukannya di dalam akal fikiran serta berfikir tentangnya. Imam Jalaluddin
as-Sayuti (911H) dalam kitab “al-Itqan fī al-Qur’ān” menyebutkan pula, sifat
tadabbur itu adalah menyibukkan hatinya dengan memikirkan makna perkataan yang dilafadzkannya, maka
ia mengetahui makna setiap ayat, mengamati setiap suruhan dan larangan serta
bersedia untuk menerima perkara tersebut.
Menurut Imam Ibn Kathir (774H), tadabbur al-Qur’an adalah
memahami makna lafaz-lafaz al-Quran, dan memikirkan apa yang ayat-ayat
al-Qur’an tunjukkan taktala tersusun dan apa yang terkandung di dalamnya, serta
apa yang menjadikan makna-makna al-Qur’an itu sempurna, dari segala isyarat dan
peringatan yang tidak nampak dalam lafadz al-Qur’an,
serta pengambilan manfaat oleh hati dengan mengikut segala suruhan dan
meninggalkan larangan, patuh terhadap perintah-perintahnya, serta mengambil
ibrah darinya.
Yusuf al-Qardhawi berpendapat bahwa tadabbur adalah
memikirkan di sebalik sesuatu perkara yakni akibatnya. Dan Syeikh Sholeh Fauzan
memaparkan pula bahwa tadabbur adalah memikirkan makna ayat-ayat al-Qur’an, apa
yang ditunjukkannya, rahasia serta berita yang terdapat dari ayat-ayat tersebut,
sehingga kita dapat manfaat berupa hidayah, rasa takut kepada Allah dan
beribadah kepadaNya dan kita tahu apa yang harus kita lakukan dan apa patut
kita tinggalkan dari perbuatan, perkataan, interaksi sosial dan lain-lainnya.
Adapun akhlak merupakan sikap keperibadian yang
melahirkan perbuatan dan tingkah laku manusia terhadap tuhan dan manusia, terhadap
diri sendiri dan makhluk lain, sesuai dengan suruhan dan larangan serta
petunjuk al-Qur’an dan hadis.
Oleh karenanya, tujuan utama perutusan Nabi Muhammad SAW.
oleh Allah SWT. kepada manusia juga memperlihatkan kepentingan nilai akhlak
dalam Islam, sebagaimana sabda baginda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya aku
diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Perkara ini disebut dalam
al-Qur’an ketika Allah SWT menjelaskan tentang akhlak Rasulullah SAW dalam
surah al-Qalam ayat 4: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti
yang agung”. Dalam hal ini, Aisyah r.a sendiri juga mengakui bahwa akhlak
baginda Rasulullah SAW adalah al-Qur’an. Hal ini membuktikan bahwa akhlak dalam
perspektif Islam dasarnya adalah berasaskan al-Qur’an dan sunnah.
Akhlak adalah neraca kepada keimanan seseorang. Yang
peranannya dalam menentukan sahsiah seseorang tidak boleh dinafikan lagi
pentingannya. Proses pembentukannya adalah selaras dengan perkembangan jiwa
seseorang. Untuk membentuk akhlak yang baik perlu kepada tadabbur al-Qur’an.
Setiap Muslim itu mestilah berusaha ke arah membentuk kesempurnaan akhlak
seperti yang dituntut oleh agama Islam. Akhlak yang baik adalah pintu yang
terbuka dari lubuk hati yang akan menghasilkan nikmat syurga di sisi Tuhan.
Budi pekerti yang keji adalah hasil dari penyakit hati dan jiwa, dan ia adalah
penyakit yang menghilangkan kebahagiaan hidup yang abadi. Kebahagiaan hidup
yang mengiringi individu adalah memliki akhlak yang mulia.
Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca oleh setiap
Muslim, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian
diamalkan. Utamanya, Ia menjadi hujjah di hadapan Tuhannya dan pemberi syafaat
pada hari kiamat. Allah SWT telah menjamin bagi siapa yang membaca dan
mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di
akhirat, dengan firmanNya yang berbunyi:
“Maka barangsiapa
yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Q.S. Thaha: 123)
Oleh karenanya, akhlak yang mulia menjadi
sebab mendapatkan kecintaan Allah SWT dan RasulNya, orang yang menghiasi
dirinya dengan akhlak yang mulia adalah orang sempurna keimanannya. Akhlak
adalah keadaan yang menetap dan bermula dalam jiwa individu. Sebagaimana
dipaparkan Dr. Danial Zainal Abidin dalam buku “Tip-Tip Cemerlang daripada
al-Qur’an”, daripadanya lahirlah perbuatan-perbuatan dengan mudah dan senang.
Apabila keadaan itu melahirkan perbuatan-perbuatan yang terpuji menurut akal
dan agama maka ia dinamakan sebagai akhlak yang mulia. Sebaliknya jika keadaaan
itu melahirkan perbuatan yang buruk ia dinamakan akhlak yang keji.
Allah SWT pun telah menyebutkan dalam
al-Qur’an berkaitan dengan kesan-kesan tadabbur dalam diri apabila dia membaca
al-Qur’an sambil tadabbur isi kandungannya. Allah SWT berfirman:
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan
kepada rasul (Muhammad) kamu lihat mata mereka bercucuran air mata disebabkan
kebenaran (al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka
sendiri) seraya berkata,: Ya Tuhan kami! Kami telah beriman, maka catatkanlah
kami bersama orang yang menjadi saksi atas kebenaran al-Qur’an dan kenabian
Muhammad SAW.” (Q.S. al-Maidah: 83)
“Sesungguhnya orang yang beriman itu adalah mereka yang
apabila disebut nama Allah gementar hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka
ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (kerananya) dan kepada Tuhanlah mereka
bertawakkal.” (Q.S. al-Anfal:
2)
Matlamat al-Qur’an adalah untuk membentuk manusia. Oleh
yang demikian tuntutan al-Qur’an ialah menyuruh manusia berfikir, memahami,
membuat penelitian dan percubaan serta mengetahui motif-motif dan sebab musabab
sesuatu. Al-Qardhawi juga menyebut bahawa al-Qur'an merupakan sebab kejayaan
dan keberkatan orang-orang Islam awal pada zaman Rasulullah SAW. Kehadiran
al-Qur’an telah merubah jiwa, akhlak dan perwatakan serta diri bangsa Arab
sehingga mereka dapat membina tamadun ilmu dan iman.
Melalui tadabbur al-Qur’an, seseorang dapat memahami dan
menghayati ayat-ayat al-Qur’an yang dibacanya sehingga timbullah hubungan dan
persentuhan di antara hatinya dengan kalamullah yang dibaca. Maka akan
menghasilkan perubahan di dalam dirinya yakni akan melahirkan sifat-sifat
mahmudah. Sifat-sifat ini akan memberi cahaya kepada kehidupan dan keperibadian
seseorang. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Di dalam diri manusia
itu ada segumpal daging. Apabila daging itu baik, maka baiklah seluruh anggota
lahir manusia itu. Jika daging itu rusak maka seluruh anggota lahir manusia itu
akan rusak. Itulah dia hati.”
Dari hati itulah implikasi tadabbur al-Qur’an akan
membentuk akhlak seorang insan yang berkualitas melalui sifat-sifat mahmudah
tersebut. Sebagaimana Imam al-Ghazali dalam kitab Arbain fī Usuluddīn, telah
menggariskan 10 sifat mahmudah yaitu taubat, khauf, zuhud, sabar, syukur,
ikhlas, tawakkal, mahabbah, ridha dan zikrul maut. Selanjutnya sifat-sifat
mahmudah inilah yang akan mendorong seorang insan melaksanakan amalan-amalan
sholeh sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT dan meninggalkan segala
laranganNya. Al-Qur’an telah dan akan terus membimbing manusia untuk mencapai
kesempurnaan atau menjadi insan kamil dalam kehidupan. Al-Qur’an pulalah yang
telah mencorakkan hidup dan akhlak orang Islam. Tidak ada kitab yang sebanding
dengannya karena kandungannya yang menyeluruh. Bagi orang Islam yang
mempercayai al-Qur’an dengan penuh keyakinan akan mendapatkannya sebagai
sumber ilham yang tidak ada habisnya. Al-Qur’an mengajar manusia menjadi yang
sepatutnya dikehendaki oleh Allah SWT serta berakhlak mulia.
Dengan demikian, setiap muslim seharusnya bermuhasabah
dan introspeksi diri, apakah keimanan kita kepada al-Qur’an, sudah menepati
kriteria yang disebutkan, yakni bermula dengan keimanan yang tulus terhadap
kebenaran al-Qur’an, kemudian membaca dan tadabbur al-Qur’an dengan baik
beserta adab-adabnya, memahami dan menghayati isi kandungannya dengan kepahaman
yang syumul lalu menterjemahkan isi kandungan al-Qur’an tersebut dalam ruang
lingkup akhlak dan kehidupan yang serba mencabar, dan mengajarkan serta
menyampaikan ajaran al-Qur’an kepada orang lain.