Sunday, September 20, 2020

DIALEKTIKA JIWA: GHAIB? ADAKAH SELAIN ALLAH YANG MENGETAHUINYA?

 

Ghaib?

ما غاب عن الحاسة وعلم الإنسان أي عن وعن علم الإنسان

“Sesuatu yang tidak mampu ditangkap oleh indra manusia dan ilmu manusia, maknanya keghaiban juga tidak mampu ditangkap oleh ilmu manusia.” (penuturan ar-Raghib al-Asfahani nama beliau Husain bin Muhammad al-Asfahani, Mufradat Gharibil Qur’an: 1090).

Adakah selain Allah SWT yang mengetahuinya?

Jawabannya:

لا يعلم الغيب الا الله وحده, واعتقاد أن أحدا غير الله يعلم الغيب كفر, مع الإيمان بأن الله يطلع بعض رسله على شيء من الغي

        Tidak ada yang mengetahui perkara gaib selain Allah SWT saja.  Karena Allah SWT lah yang berhak meninggikan atau merendahkan derajat seseorang, dan atas dasar kehendakNya sajalah yang sedih dapat jadi senang, maka sepakat ya, tidak ada yang mengetahui hal ghaib selain Dia. Once more,  tidak ada. Titik tidak ada komanya. Iya itulah jawaban yang paling tepat.

Tidak heran sich jika pertanyaan demi pertanyaan bermunculan, itulah manusia yang diberikan akal untuk berpikir dan mencari tahu dari apa yang menjadi pengganggu dipikirannya. Akan tetapi untuk pertanyaan yang dimaksud di atas, iya jawabannya cuma sampai di situ. Namun, ada pertanyaan yang lebih menarik lagi; adakah macam-macam ghaib? dan apakah Allah SWT membukakan sebagian ghaibNya kepada sebagian ciptaanNya?

Ketahuilah, ghaib itu hanya bagi hamba saja, bagiNya tidak ada istilah ghaib, karena Ia Maha mengetahui secara mutlak dan tidak ada yang tersembunyi dariNya. Adapun selainNya, maka berbeda-beda pengetahuannya antara ghaib, dan syahadah!

Langsung saja, dari sependek pengetahuan penulis; yakni dikutip dari kolom berseri “Hiwar ma’a Shahib al-Samahah”, yang dimuat setiap bulan dalam majalah Tasawuf Islami di Mesir. Majalah tersebut diterbitkan secara formal oleh Majelis Sufi Tertinggi Republik Arab Mesir. Ghaib terbagi menjadi lima macam: pertama, ghaib syahadah. Jenis ghaib ini ada pada semua manusia, bahkan binatang pun memilikinya. Misalnya; di sakumu ada sesuatu dan kamu mengetahuinya sementara orang di sampingmu tidak tahu, maka bagimu sesuatu itu disebut syahadah, dan bagi orang itu disebut ghaib. Adapun pada binatang, misalnya Anjing pelacak, atau sebagaimana kata orang – Anjing dan kuda, tahu akan terjadi gempa. Jadi inilah yang dinamakan ghaib syahadah.

Kedua, ghaib iradah (kehendaki); ghaib yag tidak diketahui oleh malaikat, kecuali orang yang dikehendakiNya saja. Terdapat percakapan pada surah al-Baqarah ayat 30:

 “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”

Malaikat lalu bertanya:

“Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah?”

Dari mana malaikat tahu, sementara hanya Allah SWT yang mengetahui apa yang terjadi dimasa depan? Mereka menafsirkan bahwa Allah telah menciptakan sejumlah manusia sebelum Nabi Adam as. Lalu dimusnahkan karena telah membuat kerusakan dan pertumpahan darah. Padahal Allah SWT saat itu telah membukakan sebagian ghaib kepada malaikat. Ghaib itulah yang disebut dengan ghaib iradah, karena malaikat tidak mengetahuinya kecuali yang dikehendaki Allah SWT saja.

Ketiga, ghaib iman yaitu ghaib yang dibukakan kepada para waliNya. Semua mungkin terjadi dengan izinNya dan mustahil terjadi tanpa seizinNya. Contohnya, dalam surah al-Kahfi termuat kisah menarik antara Nabi Musa as. Dan Saidina Khidr. Tidakkah Saidina Khidr megetahui yang ghaib pada perahu dan penumpangnya? Tidakkah Ia tahu tentang ghaib pada anak kecil yang dibunuhnya? Tidakkah Ia tahu tentang orangtua dan masa depannya? Dan tidakkah Ia tahu tentang ghaib yang tersirat di bawah dinding yang roboh lalu dibangunnya?. Itulah ghaib iman.

Keempat, ghaib Muhammadi, yaitu ghaib yang hanya dibukakan kepada Rasulullah SAW saja. Allah berfirman pada surah al-Jin ayat 26-27 yang artinya: “ Dia mengetahui ghaib, maka Ia tidak akan memperlihatkan kepada seorang pun tentang ghaib itu keccuali kepada yang diridhoiNya saja seperti Rasul”. Ghaib ini juga merupakan derajat Rasulullah SAW. yang tidak diketahui selain Allah SWT. Namun sebagian dari ghaib ini dibukakan Allah SWT kepada yang dikehendakiNya. Kemudian adanya pengecualian dalam ayat tersebut menandakan bahwa ketidaktahuan makhluk tentang ghaib tidaklah bersifat mutlak, karena Allah SWT kuasa saja memberitahukannya kepada siapa yang dikehendaki.

Kelima, ghaib mutlak yaitu ghaib yang mutlak atau khusus bagi Allah SWT semata, dan di sini tidak ada pengecualian, sebagaimana firmannya pada surat an-Naml ayat 65: "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah SWT”. Hanya Allah SWT yang mengetahui ghaib mulak bahkan semua jenis ghaib yang lain, sebab tidak ada yang mampu mengetahui kecuali selepas diberitahu oleh Allah SWT, sebagaimana pengakuan para malaikat;

Maha suci Engkau, tidak ada yang dapat kami ketahui selai dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhya Engkau Maha mengetahui dan Maha bijaksana”

(Q.S al-Baqarah:32)

 

Semoga bermanfaat!

Wallahu’alam bisshawab

 

 

 


Friday, September 18, 2020

MENJADIKAN AL-QUR’AN SEBAGAI TEMAN RAHASIA UNTUK PERUBAHAN DIRI

 


  

Wanita atau lelaki yang sholih/sholihah itu bukan sekedar yang banyak ilmu agama dan menghafal Qur’annya. Melainkan yang kedua hal itu terjemah dikeperibadiannya.

Anonim di atas menyinggung tajam kepada kita, bagaimana bersikaf dalam kehidupan bersosial setiap harinya. Mayoritas kita beribadah hanya rutinitas semata, bukan bentuk ketaatan dan jarangnya rasa tadabbur yang berlaku pada kita sehingga tak menimbulkan bekas yang bermakna dalam diri yang menjalani kehidupan di muka bumi. Iyah, bisa dibilang ibadah hanya ngerasain capek doang, demikianlah celoteh-celotoh yang mungkin kurang berkenan dihati tapi iya begitulah adanya. Maaf-maaf nih yach, pembaca budiman ‘Ain Lover.

Untuk itu, sebagai muslim pada umumya dan khususnya penekun al-Qur’an, yakni penghafal al-Qur’an (huffadz). Itu seutama-utamanya ibadah yang luar biasa, menjaga hafalan, memahami, mempelajari dan mengamalkan isi kandungan kitab lurusNya. Sebagaimna sabda Rasulullah SAW. sebagai berikut:

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengamalkannya”. (H.R. Bukhori)    

Sesungguhnya membaca, menghafal al-Qur’an adalah perkara yang amat penting, dan sangat mungkin untuk dilakukan oleh setiap mukmin. Lebih mulia lagi apabila seorang mukmin mengamalkan apa yang telah dipelajari, dihafal, serta berdakwah dijalan Allah SWT dengan kitab mulia ini. Sesungguhnya al-Qur’an adalah seagung-agungnya nikmat yang Allah SWT anugrahkan kepada hamba-hambaNya yang beriman. Sampai-sampai Allah SWT mengutamakan nikmat ini dalam firmanNya dibandingkan nikmat penciptaan manusa. Hal ini termaktub dalam Qur’an surah ar-Rahman ayat 1-3:

“Tuhan yang Maha pemurah, yang telah mengajarkan al-Qur’an. Dia yang menciptakan manusia.”

Seolah-olah manusia yang tidak mempelajari al-Qur’an hakikatnya seakan-akan tidak memliki kehidupan. Seolah-olah manusia yang tidak menyambut al-Qur’an dan sabda RasulNya adalah manusia yang mati; tiada kehidupan padanya. Dan sungguh Allah SWT mengistmewakan sekelompok orang dari hamba-hambaNya yang beriman dengan kenikmatan yang besar dan penghargaan yang tinggi, ketika mereka dapat menghafal al-Qur’an di dalam dada. Allah SWT mengangkat derajat mereka dan melimpahkan pahala kepada mereka. Untuknya, Allah SWT memerintahkan kaum mukminin untuk mengagungkan mereka dan selalu mendahulukan mereka daripada yang lainnya. Rasulullah SAW pun menyebut kemuliaan mereka di dalam hadis-hadisnya. Diantaranya, beliau bersabda:

“Sesungguhnya Allah SWT mengangkat derajat sekelompok orang dengan kitabullah ini dan menghinakan sebagian yang lainnya.” (H.R. Muslim dari Umar bin Khattab)

Begitulah penghargaan agung dariNya untuk hamba yang berjuang menjalankan apa yang dicintaiNya. Untuk meraihnya butuh usaha yang besar guna mendapatkan peredikat yang diridhoi lagi berkah dariNya. Dengan menjamurnya para penghafal dimasa kini, jadilah pembaca, penghafal yang mashur akan kecerdasan dan tinggi moralitas, yang nantinya menjadi barometer untuk perubahan diri dan orang lain. Maka dari itu, bertemanlah dengan baik dan jadilah teman yang baik. Sejatinya teman adalah yang saling mengerti, menghormati, dan menghargai serta memberikan inovasi yang baik antar keduanya.

Tanggung Jawab Agung di Pundak Penghafal Qur’an

Menegaskan bahwa menghafal al-Qur’an mengandung konsekuensi yang besar dan tanggung jawab yang agung bagi para penghafalnya. Orang-orang yang Allah SWT beri kesempatan meraih nikmat hafal al-Qur’an ini, wajib mengetahui bahwa sesungguhnya Ia sedang memulai kehidupan yang baru, di mana dirinya selalu membawa al-Qur’an di dadanya. Ia tidak lagi hidup sebelumnya. Namun Ia akan mengalami banyak perubahan pada jiwa dan aktivitas fisiknya pada kesendirian dan kebersamaannya dengan orang lain, juga dalam berhubungan dan berinterasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Sungguh Ia telah menjadi manusia yang membawa al-Qur’an. Maka Ia mesti menghiasi dirinya dengan sifat-sifat khusus yang hanya para pembawa kitabullah sajalah yang berhias dengannya. Seorang sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud r.a berkata:

“Seyogyanya seorang pembaca al-Qur’an dikenal menonjol dibandingkan yang lainnya, waktu malamnya ketika orang-orang sedang tdur, waktu siangnya ketika orang-orang sedang mencicipi makanan, dikeal dengan kesedihannya ketika orang—orang bergembira, dengan tangisannya ketika orang-orang tertawa, dengan diamnya ketika orang-orang mengumbar kata, dan ketika kehusyu’annya ketika orang-orang berfikiran kacau. Seyogyanya seorang pembaca al-Qur’an senantiasa merendahkan diri dan bersikap lemah lembut, tidak pantas Ia bertabiat kasar, suka bertengkar, membentak-bentak, berteriak-teriak dan lekas naik darah.”

Seorang tabi’in, Fudhail bin ‘Iyadh ra. berkata:

“Seorang pembaca al-Qur’an adalah pembawa panji islam; tidak pantas Ia bersenda gurau bersama orang yang beersenda gurau; tidak pantas Ia lalai bersama orang-orang yang lalai; tidak pantas Ia berlaku sia-sia bersama orang-orang yang berlaku sia-sia.”

Tanggung jawab agung bagi seorang pembawa al-Qur’an yang disampaikan oleh Abdullah bin Mas’ud r.a dan Fudhail bin ‘Iyadh r.a di atas cukup memberi penjelasan kepada kita bahwa menghafal al-Qur’an merupakan tarbiyah yang luar biasa – tarbiyah bagi pribadi dan tarbiyah bagi umat. Bayangkan jika orang-orang beriman memiliki sifat-sifat di atas, maka tidak diragukan lagi umat Islam akan senantiasa berjaya.

OOOOh, Yaa Rabb. Sungguh indahnya kejayaan! Rindu sangat akan masa itu! (imajiner meronta-ronta)

Ohya, perlu diketahui pula, sebesar apapun beban tanggung jawab sebagai pengemban al-Qur’an, namun tidak dibenarkan bagi seseorang untuk mengatakan:

“Tanggung jawab penghafal al-Qur’an itu besar, maka Aku tidak perlu menghafalnya supaya Allah tidak memintaku sebuah pertanggungjawaban!”

Padahal disebalik itu, semua beban syariat menuntut pada pertanggungjawaban. Jihad menuntut pertanggungjawaban, dakwah menuntut pertanggungjawaban, kepemimpinan menuntut pertanggungjawaban, dan ucapan yang benar juga menuntut pertanggungjawaban.

Jika menghindar, lalu siapa lagi yang melaksanakan beban-beban syariat jikan bukan kaum muslimin. Dengan mulianya Allah SWT, Dia berikan pahala yang sebanding dengan tingkat kesultan amal yang dilakukannya. Pahala bagi orang yang bersusah payah tidaklah sama dengan pahala orang yang bermalas-malasan. Sedangkan yang dinilai oleh Allah SWT adalah seberapa baik niat dan upaya yang dilakukannya, bukan seberapa banyak hasil yang dicapai. Sungguh Allah SWT melihat segala usaha kita, dan Dia akan selalu memperhitungkannya.

Untuk itu, memohon dengan penuh harap kepadaNya untuk kita semua agar Dia menggerakkan kita untuk selalu mengamalkan ajaran-ajaran agamaNya.

Adab Pengemban al-Qur’an

Dalam kitab at-Tibyān fī Âdāb Hamalat al-Qur’ān menjelaskan terkait adab pengemban al-Qur’an, salah satunya tidak menjadikan al-Quran sebagai kepentingan dunia, seperti ingin dipuji, ingin disebut ustadz/ah dan niat lainnya yang serupa. Akan tetapi niatkanlah untuk ibadah hanya semata-mata karena-Nya. 

 Kita sudah tahu bahwa al-Qur’an itu merupakan kalam suci yang datangnya langsung dari sisi Allah SWT, di mana memiliki adab tersendiri bagi siapa saja yang membacanya, dan ini berbeda dengan buku atau kitab lainnya. Adab-adab itu sendiri sudah diatur dengan baik sebagai penghormatan dan pengagungan kepada al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi akhir zaman yakni Nabi Muhammad SAW dan ummatnya, maka kewajiban kita adalah untuk mengikuti pedoman dalam belajar agama Islam. Banyak sekali adab-adab maupun tata cara yang harus dilakukan pada saat akan memulai sampai mengakhiri belajar agama Islam. Oleh karena itu, ada beberapa adab dan tata cara yang harus diperhatikan, dipegang dan dijaga sebelum dan disaat membaca al-Qur’an agar bacaan al-Qur’an bermanfaat, dapat menghasilkan buahnya berupa tadabbur, kesan dan istiqomah, dan membaca sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Dan kita ketahui semua bahwasanya al-Qur’an adalah kitab akhlak, kitab adab dan kitab tarbiyah. Oleh karena itu wajib bagi pengemban al-Qur’an untuk menjaga adab-adab al-Qur’an dan berusaha bermujahadah (bersungguh-sungguh) untuk berakhlak dengan akhlak Al-Qur’an supaya mereka betul-betul menjadi ahlul qur’an yang sejati.

 Dan Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha - istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan beliau pun menjawab:

أَلَسْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ؟

“Tidakkah engkau membaca al-Qur’an?”

فَإِنَّ خُلُقَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنُ

“Karena sesungguhnya akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sama dengan apa yang tertera dalam al-Qur’an.” (HR. Muslim)

Ini adalah mabahas yang sangat mulia. Yaitu ilmu yang seharusnya kita berusaha dan bersemangat untuk mempelajarinya. Karena apabila manusia sekedar membaca al-Qur’an, tidak akan nampak pada diri mereka akhlak dan amal-amal al-Qur’an. Namun jika mereka membaca al-Qur’an, berusaha mentadabburinya, memahaminya dan berusaha mengamalkan isi dari al-Qur’an, maka akan nampak petunjuk-petunjuk al-Qur’an dalam diri mereka. Sebagaimana dalam berfirman:

إِنَّ هَـٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lurus....” (Q.S. al-Isra’: 9)

Maka petunjuk-petunjuk yang penuh berkah ini akan nampak pada diri seorang hamba jika mereka berusaha beradab dengan adab-adab al-Qur’an, berusaha berakhlak dengan akhlak-akhlak al-Qur’an yang sangat agung, yang mana petunjuk-petunjuk tersebut adalah petunjuk-petunjuk yang sangat agung.

Berikut beberapa ikhtisar dari ilmuan islam mengenai adab:

Kitab Ihya Ulum al-Dīn karangan Imam al-Ghazali, dalam kitab tersebut, salah satu sub babnya membahas adab terhadap al-Qur’an. Pembahasannya dimulai dari penjelasan keutamaan al-Qur’an dan ahlinya, celaan bagi orang yang lalai membacanya. Hal-hal yang bersifat teknis ketika berinteraksi yaitu adab membacanya yang terbagi menjadi dua, yakni; adab lahiriyah dan adab batiniyah. Adab lahiriyah, seperi keadaan pembaca, ukuran bacaan, menghatamkan al-Qur’an, membaca dengan menangis dan tartil, memperhatikan ayat-ayat yang dibacanya, hukum mengeraskan bacaan dan melunakkan bacaan, mengindahan bacaan. Adapun adab batiniyah, seperti memaknai keagungan Allah SWT, mengkonsentrasikan hati, memahami dan merenungkan kandunga ayat, mengkhususkan, meninggikan, mengosongkan diri dari penghalang pemahaman. Selain itu juga dibahasnya bagaimana memahami al-Qur’an dan cara-cara menafsirkannya baik menggunakan ra’yu maupun naql, yang disertai contoh-contoh penafsiran.

Jalaluddin al-Suyuti dalam karyanya "al-Itqan fī al-Qur’ān", beliau memaparkan keutamaan al-Qur’an, hal-hal teknis yang perlu dilakukan ketika seseorang berintraksi dengan al-Qur’an, misalnya berwudhu, membaca ta’awudz, membaca dengan tartil, membaguskan suara, menghadap kiblat, merenungi maknanya, dan sebagainya. Selain itu, kecaman bagi orang yang melalaikan apa-apa yang telah dipelajarinya dari al-Qur’an. Kemudian beliau juga memaparkan tentang boleh tidaknya mengajarkan al-Qur’an dengan menerima atau meminta upah.

Yusuf al-Qardhawi dalam karyanya "Kaīfa Nata’āmal ma’a al-Qur’ān",  Ia memaparkan adab ketika berinteraksi dengan al-Qur’an, seperti adab bagi para penghafal dalam menghafalkannya, yang meliputi; senantiasa interaksi dengan al-Qur’an, mengaplikasikan akhlak Qur’ani, khlas dalam mempelajarinya. Selanjutnya dijelaskan teknis adab membaca dan menyimaknya, seperti tartil, berirama dan membaguskan suara dalam membaca. Kemudian teknis yang berkatan dengan adab batin terhadap al-Qur’an seperti khusyu’ dan menangis saat membacanya, mengupayakan amal-amal hati, seperti; mengkhusyu’kan diri, dan membebaskan pengaruh.

Ali Mustafa Ya’qub, dalam karyanya "Nasihat Nabi Kepada Pembaca dan Penghafal Qur’an”, beliau memaparkan hadis-hadis Nabi SAW yang berkaitan dengan al-Qur’an yang disertai dengan terjemah dan sumber pengutipan hadis. Dimulai dari keutamaan orang yang mempelajari dan membaca al-Qur’an, yang disebutkan sebanyak 18 hadis, selanjutnya hadis-hadis keutamaan qari’-qari’ah dan hafidh-hafidhah sebanyak 25 hadis, kewajiban menjaga hafalan al-Qur’an sebanyak 5 hadis, dan ancaman terhadap penyalahgunaan al-Qur’an sebanyak 17 hadis. Beliau memaparkan pula pendapat-pendapat ulama mengenai hukum membaca al-Qur’an dengan lagu-lagu, hukum menerima imbalan dalam mengajarkan al-Qur’an yang disertai dalil-dalil bagi ulama yang membolehkan dan melarang.

Demikianlah sekelumit dari banyaknya pembahasan mengenai adab pengemban al-Qur’an. Memang membicarakan masalah adab interaksi dengan al-Qur’an adalah suatu hal yang tidak bisa dianggap remeh. Hal itu karena ketika berbicara adab, maka sesungguhnya yang tengah dibicarakan adalah masalah tentang baik-buruk, benar-salah, patut-taak patut, dan lain sebagainya. Sementara al-Qur’an sendiri dengan lepas mengatakan bahwa Ia diturunkan untuk menjadi alat pembeda mana yang benar dan yang salah.

Untuknya, mengingat begitu vitalnya al-Qur’an bagi kaum muslimin, maka mereka tidak akan sembarangan dalam memperlakukan kitab mulia ini. Mereka juga tidak akan membiarkan siapa saja memperlakukan al-Qur’an dengan sembarangan. Mereka sangat berhati-hati dalam berinteraksi dengan al-Qur’an. Adapun arti dari interaksi di sini tentu saja bukan sekedar masalah-masalah teknis, seperti memegang, membaca, membawa, menaruh, dan lain sebagainya - tetapi termasuk juga dalam hal memahami, memanfsirkan, mengajarkan, memperlakukan dan mengamalkannya. Sekali lagi, kehati-hatian ini bukan hanya karena menyakralkan al-Qur’an, tetapi ini lebih dikarenakan rasa hormat. Bahwasanya al-Qur’an harus diperlukan lebih istimewa dari buku-buku yang lain. Bisa dibilang ada rambu-rambu adab tertentu yang akan selalu dipatuhi.

Tadabbur al-Qur’an dan Kualitas Akhlak

Tadabbur merupakan salah satu cara untuk memahami al-Qur’an. Tadabbur berarti merenungkan, menghayati dan memikirkan serta pencermatan ayat-ayat al-Qur’an untuk dapat memahami makna, hikmah, ataupun maksud. Oleh sebab itu, seindah apapun susunan ayat-ayat al-Qur’an se-ilmiah apapun kandungan al-Qur’an dan sebesar apapun mukjizat al-Qur’an tanpa mentadabburkan ayat-ayatnya, maka sukar untuk kita memahami dan menerima pengajaran dan ibrah untuk diimplementasikan dalam kehidupan kita.

Menyelami makna tadabbur, di bawah ini ada beberapa pendapat ulama tentang tadabbur, diantaranyaa sebagai berikut:

Menurut pandangan Imam Ibn al-Qayyim, tadabbur bermakna memperhatikan makna-makna di dalam al-Qur’an dengan sepenuh hati dan menyatukannya di dalam akal fikiran serta berfikir tentangnya. Imam Jalaluddin as-Sayuti (911H) dalam kitab “al-Itqan fī al-Qur’ān” menyebutkan pula, sifat tadabbur itu adalah menyibukkan hatinya dengan memikirkan makna perkataan yang dilafadzkannya, maka ia mengetahui makna setiap ayat, mengamati setiap suruhan dan larangan serta bersedia untuk menerima perkara tersebut.

Menurut Imam Ibn Kathir (774H), tadabbur al-Qur’an adalah memahami makna lafaz-lafaz al-Quran, dan memikirkan apa yang ayat-ayat al-Qur’an tunjukkan taktala tersusun dan apa yang terkandung di dalamnya, serta apa yang menjadikan makna-makna al-Qur’an itu sempurna, dari segala isyarat dan peringatan yang tidak nampak dalam lafadz al-Qur’an, serta pengambilan manfaat oleh hati dengan mengikut segala suruhan dan meninggalkan larangan, patuh terhadap perintah-perintahnya, serta mengambil ibrah darinya.

Yusuf al-Qardhawi berpendapat bahwa tadabbur adalah memikirkan di sebalik sesuatu perkara yakni akibatnya. Dan Syeikh Sholeh Fauzan memaparkan pula bahwa tadabbur adalah memikirkan makna ayat-ayat al-Qur’an, apa yang ditunjukkannya, rahasia serta berita yang terdapat dari ayat-ayat tersebut, sehingga kita dapat manfaat berupa hidayah, rasa takut kepada Allah dan beribadah kepadaNya dan kita tahu apa yang harus kita lakukan dan apa patut kita tinggalkan dari perbuatan, perkataan, interaksi sosial dan lain-lainnya.

Adapun akhlak merupakan sikap keperibadian yang melahirkan perbuatan dan tingkah laku manusia terhadap tuhan dan manusia, terhadap diri sendiri dan makhluk lain, sesuai dengan suruhan dan larangan serta petunjuk al-Qur’an dan hadis.

Oleh karenanya, tujuan utama perutusan Nabi Muhammad SAW. oleh Allah SWT. kepada manusia juga memperlihatkan kepentingan nilai akhlak dalam Islam, sebagaimana sabda baginda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Perkara ini disebut dalam al-Qur’an ketika Allah SWT menjelaskan tentang akhlak Rasulullah SAW dalam surah al-Qalam ayat 4: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. Dalam hal ini, Aisyah r.a sendiri juga mengakui bahwa akhlak baginda Rasulullah SAW adalah al-Qur’an. Hal ini membuktikan bahwa akhlak dalam perspektif Islam dasarnya adalah berasaskan al-Qur’an dan sunnah.

Akhlak adalah neraca kepada keimanan seseorang. Yang peranannya dalam menentukan sahsiah seseorang tidak boleh dinafikan lagi pentingannya. Proses pembentukannya adalah selaras dengan perkembangan jiwa seseorang. Untuk membentuk akhlak yang baik perlu kepada tadabbur al-Qur’an. Setiap Muslim itu mestilah berusaha ke arah membentuk kesempurnaan akhlak seperti yang dituntut oleh agama Islam. Akhlak yang baik adalah pintu yang terbuka dari lubuk hati yang akan menghasilkan nikmat syurga di sisi Tuhan. Budi pekerti yang keji adalah hasil dari penyakit hati dan jiwa, dan ia adalah penyakit yang menghilangkan kebahagiaan hidup yang abadi. Kebahagiaan hidup yang mengiringi individu adalah memliki akhlak yang mulia.

Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca oleh setiap Muslim, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. Utamanya, Ia menjadi hujjah di hadapan Tuhannya dan pemberi syafaat pada hari kiamat. Allah SWT telah menjamin bagi siapa yang membaca dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat, dengan firmanNya yang berbunyi:

 “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Q.S. Thaha: 123)

Oleh karenanya, akhlak yang mulia menjadi sebab mendapatkan kecintaan Allah SWT dan RasulNya, orang yang menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia adalah orang sempurna keimanannya. Akhlak adalah keadaan yang menetap dan bermula dalam jiwa individu. Sebagaimana dipaparkan Dr. Danial Zainal Abidin dalam buku “Tip-Tip Cemerlang daripada al-Qur’an”, daripadanya lahirlah perbuatan-perbuatan dengan mudah dan senang. Apabila keadaan itu melahirkan perbuatan-perbuatan yang terpuji menurut akal dan agama maka ia dinamakan sebagai akhlak yang mulia. Sebaliknya jika keadaaan itu melahirkan perbuatan yang buruk ia dinamakan akhlak yang keji.

Allah SWT pun telah menyebutkan dalam al-Qur’an berkaitan dengan kesan-kesan tadabbur dalam diri apabila dia membaca al-Qur’an sambil tadabbur isi kandungannya. Allah SWT berfirman:

Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad) kamu lihat mata mereka bercucuran air mata disebabkan kebenaran (al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata,: Ya Tuhan kami! Kami telah beriman, maka catatkanlah kami bersama orang yang menjadi saksi atas kebenaran al-Qur’an dan kenabian Muhammad SAW.” (Q.S. al-Maidah: 83)

“Sesungguhnya orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gementar hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (kerananya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Q.S.  al-Anfal: 2)

Matlamat al-Qur’an adalah untuk membentuk manusia. Oleh yang demikian tuntutan al-Qur’an ialah menyuruh manusia berfikir, memahami, membuat penelitian dan percubaan serta mengetahui motif-motif dan sebab musabab sesuatu. Al-Qardhawi juga menyebut bahawa al-Qur'an merupakan sebab kejayaan dan keberkatan orang-orang Islam awal pada zaman Rasulullah SAW. Kehadiran al-Qur’an telah merubah jiwa, akhlak dan perwatakan serta diri bangsa Arab sehingga mereka dapat membina tamadun ilmu dan iman.

Melalui tadabbur al-Qur’an, seseorang dapat memahami dan menghayati ayat-ayat al-Qur’an yang dibacanya sehingga timbullah hubungan dan persentuhan di antara hatinya dengan kalamullah yang dibaca. Maka akan menghasilkan perubahan di dalam dirinya yakni akan melahirkan sifat-sifat mahmudah. Sifat-sifat ini akan memberi cahaya kepada kehidupan dan keperibadian seseorang. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Di dalam diri manusia itu ada segumpal daging. Apabila daging itu baik, maka baiklah seluruh anggota lahir manusia itu. Jika daging itu rusak maka seluruh anggota lahir manusia itu akan rusak. Itulah dia hati.”

Dari hati itulah implikasi tadabbur al-Qur’an akan membentuk akhlak seorang insan yang berkualitas melalui sifat-sifat mahmudah tersebut. Sebagaimana Imam al-Ghazali dalam kitab Arbain fī Usuluddīn, telah menggariskan 10 sifat mahmudah yaitu taubat, khauf, zuhud, sabar, syukur, ikhlas, tawakkal, mahabbah, ridha dan zikrul maut. Selanjutnya sifat-sifat mahmudah inilah yang akan mendorong seorang insan melaksanakan amalan-amalan sholeh sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT dan meninggalkan segala laranganNya. Al-Qur’an telah dan akan terus membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan atau menjadi insan kamil dalam kehidupan. Al-Qur’an pulalah yang telah mencorakkan hidup dan akhlak orang Islam. Tidak ada kitab yang sebanding dengannya karena kandungannya yang menyeluruh. Bagi orang Islam yang mempercayai al-Qur’an dengan penuh keyakinan akan mendapatkannya sebagai sumber ilham yang tidak ada habisnya. Al-Qur’an mengajar manusia menjadi yang sepatutnya dikehendaki oleh Allah SWT serta berakhlak mulia.

Dengan demikian, setiap muslim seharusnya bermuhasabah dan introspeksi diri, apakah keimanan kita kepada al-Qur’an, sudah menepati kriteria yang disebutkan, yakni bermula dengan keimanan yang tulus terhadap kebenaran al-Qur’an, kemudian membaca dan tadabbur al-Qur’an dengan baik beserta adab-adabnya, memahami dan menghayati isi kandungannya dengan kepahaman yang syumul lalu menterjemahkan isi kandungan al-Qur’an tersebut dalam ruang lingkup akhlak dan kehidupan yang serba mencabar, dan mengajarkan serta menyampaikan ajaran al-Qur’an kepada orang lain.

 

                                                                                       

                                                                                                                                 

 

Monday, September 14, 2020

SHOLAT MERUPAKAN TERAPEUTIK KATARSIS DAN SELF-HIPNOSIS

 

Tahukah? Ada beberapa aspek terapeutik yang terdapat dalam sholat lho, diantaranya katarsis dan self-hipnosis. Bagi sahabat ‘Ain Lovers yang sudah baca pembahasan ditulisan sebelumnya, pastinya sudah tahu dong yach?!

Yuk ngacung yang sudah baca.

 Makasih. HeJ

Ohya, adapun yang belum baca, silahkan bisa dibaca tulisan sebelumnya yang membahas hal tersebut, hayu ketuk dan CHECK. Semoga menambah pengetahuan dengan harap keberkahan olehNYA. Aamiin.

***

Sebagai insan yang tercipta pasti butuh sosial, dalam sosial ada namanya bergaul dan prosedural tercapainya tujuan pergaulan tersebut pasti butuh akan komunikasi, entah secara langsung maupun tidak (red; bicara dan bahasa isyarat). Subtantifnya setiap orang membutuhkan sarana untuk berkomunikasi, baik dengan diri sendiri, orang lain, alam, maupun dengan Tuhannya.

Nah, komunikasi ini akan lebih dibutuhkan takala seseorang mengalami masalah atau gangguan kejiwaaan.

Bener atau tidak?!

Ngacung aja dech!

Gimana tidak?! Tatkala putus cinta, dari segelintir orang, sebagiannya mencari tempat curhat. Entah curhat pada benda mati, orang lain atau kepada Tuhannya.

Demikianlah contoh yang kerap terjadi, namun kali ini kita fokus pada terapeutik katarsis pada sholat.  Sholat dapat dipandang sebagai peroses pengakuan dan penyaluran, katarsis atau kanalisasi terhadap hal-hal yang tersimpan dalam dirinya. Sholat merupakan sarana hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah). Dengannya manusia dapat berdialog langsung dengan Sang Pecipta. Tuhan yang Maha mengetahui dan Maha kasih serta sayang. Ia setiap saat senantiasa dapat katarsis, sehingga hal ini akan memberikan efek bahwa ia merasa atau menyadari dirinya tidak lonely, tidak merasa kesepian, selalu ada yang melihatnya, selalu ada yang memelihara, memperhatikan, dan menolongnya, yaitu Allah SWT. Adanya perasaan ini akan melegakan perasaannya dan akan membantu proses penyembuhan. Hal ini di-support oleh pernyataan Zakiah Daradjat, bahwa sholat, dzikir, doa dan permohonan ampunan kepada Allah SWT merupakan cara-cara pelegaan batin yang akan mengembalikan pada ketenangan dan ketentraman jiwa.

Istilah sholat menunjukkan bahwa dalam sholat itu terdapat hubungan antara manusia dengan Tuhan. Ketika sholat, seseorang berdiri khusyu’ dan merendahkan diri dihadapanNYA yang Maha Agung lagi Maha Kuasa atas segala sesuatu yang mengatur seluruh langit dan bumi di dalam hidup ini.

Berdirinya orang dengan khusyu’ dan merendahkan diri dihadapanNYA ketika sholat, akan memberikan kekuatan spiritual yang melahirkan perasaan kebeningan spiritual, ketenteraman hati, dan keterangan jiwa. Begitulah hakikinya sholat, jika dilakukan sebagaimana seharusnya, insan ber-tawajjuh dengan segenap organ dan indera kepada Allah SWT dan membaca ayat-ayat al-Qur’an dengan reapeat.

Pelepasan total dengan segala kesibukan dan problematika kegundahan hidup, tidak memikirkannya ketika sholat, berdiri dihadapan Rabb-nya dengan totalitas khusyu’ pada gilirannya akan melahirkan reksasi total dengan kelegaan jiwa dan ketenangan pikiran. Ini mempunyai dampak terapi yang penting untuk meringankan inensitas ketegangan saraf yaang disebabkan oleh tekanan kehidupan sehari-hari serta merupakan sarana paling penting yang didapat menyisakan ketentraman dalam jiwa dan menebarkan relaksasi pada saraf.

Adapun relaksasi ini merupakan sebuah sarana yang dipergunakan oleh sebagian psikoterapi modern dalam menyembuhkan berbagai gangguan kejiwaaan. Sholat 5 waktu memberikan pada manusia sebaik-baiknya cara dalam melatih dan belajar relaksasi. Ketika seseorang belajar relaksasi, biasanya mampu melepaskan diri dari gangguan saraf yang ditimbulkan oleh tekanan dan kecemasan hidup. Kondisi relaksasi dan ketenangan jiwa yang ditimbulkan dalam sholat akan  berlangsung seusai sholat. Kadang dalam kondisi relaksasi dan ketenangan jiwa, seseorang menghadapi berbagai persoalan atau situasi yang meimbulkan kegelisahan. Berulang-ulang individu dihadapkan pada persoalan dan situasi yang menimbulkan kegelisahan pada saat munculnya kondisi relaksasi dan ketenangan jiwa seusai solat sesungguhnya mengarah pada sirnanya kegelisahan secara bertahap. Dengan kondisi relaksasi dan ketenangan jiwa inilah yang akan melepaskan individu dari kegelisahannya. Pentingnya sholat dalam menyembuhkan kegelisahan sepadan dengan pengaruh yang dihasilkan oleh psikoterapi yang dilakukan sejumlah psikoterapis aliran behavior modern dalam menyembuhkan kegelisahan, baik dengan menghadapi secara nyata dalam kehidupan, dengan menginyatNYA seseorang dapat terlepas kegelisahannya.

Selainnya, bertasbih dan berdoa kepada Allah SWT seusai sholat juga membantu kelangsungan kondisi relaksasi ketenangan jiwa. Dalam berdoa, seseorang bermunajat kepada Rabb-Nya seraya memanjatkan keluhan dan penderitaan hidupnya berupa kesulitan-kesulitan yang mengganggu dan menggelisahkannya serta memohon kepadaNya supaya memberikan pertolongan dalam mengatasi kesulitan-kesulitan atau masalah yang dihadapinya. Mengingat dan mengungkapkan masalah-masalah gangguan kejiwaan dapat menyebabkan intensitas kegelisahan menjadi menurun. Berdoa dan merendah diri pada Allah SWT dapat memperin gan intensitas kegelisahan.

UUUuh, hampir aja lupa.

Dalam sholat terhimpun bacaan-bacaan yang berisikan hal-hal baik, berupa pujian, mohon ampun, doa maupun pertolongan yang lain. Hal ini sesuai dengan arti sholat itu sendiri, yaitu sholat berasal dari bahasa arab yang berarti doa mohon kebajikan dan pujian. Ditinjau dari teori hipnosis, pengucapan kata-kata tersebut memberikan efek sugesti atau menghipnosis pada yang bersangutan. Sebagaimana menurut Thoules (1992) yang tertuang dalam tulisan Sentot Haryanto dalam buku “ Psikologi sholat”,  auto-sugesti adalah suatu upaya untuk membimbing diri pribadi melalui proses pengulangan suatu rangkaian ucapan secara rahasia kepada diri sendiri yang menyatakan suatu keyakinan atau suatu perbuatan.

Hubungannya Dengan Terapi Mental

Sholat adalah satu nama yang menunjukkan adanya ikatan yang kuat antara hamba dengan Tuhannya. Dalam sholat, hamba seolah berada dihadapan Tuhannya dan dengan penuh kekhusyu’annya memohon banyak hal kepada-Nya. Perasaan ini akhirnya bisa menimbukan adanya kejernihan spiritualitas, ketenangan hati, dan keamanan diri di kala ia mengerahkan semua emosi dan anggota tubuhnya mengarah kepada-Nya dengan meninggalkan semua kesibukan dunia dan perasalahannya. Pada saat sholatlah seseorang bisa sepenuhnya memikirkan Tuhannya tanpa ada interupsi dari siapapun hingga pada saat itulah seseorang merasakan ketenangan dan akalnya pun seolah menemukan waktu rehatnya.

Dari gambaran di atas, maka sholat sangat berperan besar dalam menekan segala bentuk depresi yang timbul dari tekanan dan permasalahan hidup keseharian. Juga dalam menekan kekhawatiran dan goncangan kejiwaaan yang sering dialami banyak orang. Umumnya setelah menyelesaikan sholat seorang hamba akan berdzikir mengingat Tuhannya serta bertasbih diiringi munajatnya kepada Allah STW yang dilanjutkan dengan membaca sebagian ayat al-Qur’an, diantaranya ayat kursi, surat al-Ikhlas, serta surat al-Mu’awwazatain yaitu surat al-Falaq dan surat an-Nas. Setelahnya ia beristighfar dan berdoa kepada Allah SWT. Seorang muslim akan berdoa kepada Allah, bermunajat kepadanya dan mengadukan semua permasalahan hidupnya yang megganggu dan meresahkannya serta memohon kepada Allah agar membantunya dalam memecahkan segala permasalahannya tersebut. Seseorang yakin bahwa Allah SWT dengan segala kekuasaan dan kehendak-Nya akan menjawab doanya dan melepaskannya dari keresahan dan semua hal yang meragukan hatinya, hal ini sejalan dengan firman-Nya yang artinya:

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan baggimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahku akan masuk neraka jahannam dalam keaddaan hina dina”. (Q.S al-Mu’min: 60)

Sholat berjama’ah pun ternyata memiliki pengaruh maupun terapi sosial dan kejiwaan. Dengan berangkatnya seorang muslim ke masjid dalam 5 waktunya dalam mengerjakan shalat berjama’ah, maka satu daerah dengannya mungkin berdekatan dengannya dan juga dalam satu kota di mana ia tinggal. Yang mulanya tidak kenal, jadi kenal dan yang mulanya tidak saling tahu jadi tahu. Dengan adanya hal seperti ini juga dapat membuatnya optimis dalam berinteraksi dengan masyarakat dan mejalin persaudaraan yang kuat diantara mereka dengan penuh kasih sayang.

So, dapat dikatakan sholat memiliki  peranan besar dan efisiensi dalam menanggulangi keraguan dan depresi yang banyak dialami oleh manusia. Sebagaimana Rasulullah yang selalu shalat apabila merasakan keraguan dalam hatinya.

“Apa pendapat kalian apabila ada sungai di depanmu lalu amu mandi di dalamnya 5 kali sehari. Apakah masih akan tersisa kotoran pada tubuhnya? Itulah perumpamaan sholat 5 waktu. Dengannya Allah SWT menghapus semua dosa”. (Shahih Bukhari, Bab ash-shalawatul Khamsu Kafarah, Hadis No. 497, juz 2, h. 355)

Selain itu, Rasulullah SAW menganjurkan shalat sunnah pada waktu-waktu tertentu, dengan urgensi dari masing-masingnya bertujuan beribadah kepada Allah SWT.

Seperti yang dipaparkan oleh Ibnu Jauziyah, dikutip dalam bukunya Musafir Bin said az-Zahrani berjudul konseling terapi “.....shalat akan membuka hati, melapangkan, memberikannya kegembiraan dan juga kelezatan manisnya iman. Untuk itu, shalat mempunyai peranan dan posisi penting dalam menyambungkan hati dan ruh kepada Allah SWT dengan mendekata diri kepada-ya degan menggunakan semua anggota tubuh utuk beribadah haya kepada-Nya. Sholat pun memberikan kesempatan bagi setiaap anggota tubuh untuk menghadap pencipta-Nya dengan membebaskan fungsi umumnya demi kepentinga makhluk dan segala prakarsa  yyang dbuatnya. Shalat pun akan menumbuhkan kekuatan hati kepada Tuhan da memberikan kesempatan hati untuk rehat dari segala urusan musuhnya, urusann makana dan banyak hal lain”.

Sesunggunya ketika shalat, hati yang menghadap Tuhan adalah hati yang jernih. Hati yang sakit bagaikan tubuh yang sakit, yang tidak cocok mendapatkan sesuaatu yang special. Shalat adalah saah satu bantuan terbesar dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Juga dalam menghadang semua kerusakan dunia dan akhirat, karena dengan shalatlah kemungkaran dan perbuatan itu dilarag. Shalat akan memotivasi iindividu untuk lebih menjernihkan hati dan menghapus segala penyakit kejiwaan dan dengki hati. Shalat aka mejadi peerag bagi hati, wajah, da sugesti bagi tubuh. Sholat aka mampu mendatangkan rezeki, mencegah kedzaliman, memenangkan orang-orang yang terdzalimi, pengontrol syahwat, peolak bala, sesuatu yang mendatagkan rahmat, dan juga peghapus segala kegundahan.

Secara umumnya, shalat memiliki pengaruh yang sangat  mengagumkan dalam menjaga kesehatan fisik dan hati dengan menolak segala materi yang buruk bagi keduaya.

Mafaatnya Terhadap Kesehatan Mental

Ketika berbicara mafat sholat, ini tidak bisa dilepaska darii maroji’ normatif al-Qur’an. Manfaat shalat yang dungkapkan oleh maroji’ tersebut addalah manfaat utuh dan orisnil. Dikataka utuh, karena sholat merupaka ibadah mahdlah yang diperintahkan tanpa keterlibatan manusia sama sekali., sehingga urgesinya pun tidak berrdasarrkan rasionalisasi manusia, melainkan dari Allah SWT.  Sedangkan orisinil disini diambil dari kedudukan al-Qur’an dalam Islam yakni sebagai sentrak dan pijakan ajaran. Bila diklasifikasikan, manfaat shalat terbagi mejadi 2 macam; pertama, shalat dapat memberrikan kontribusi positif bagi pelakunya untuk meningkatkan spiritualitas dan keberagaman. Dalam hal ini, sholat merupakan kendaraan untuk medekatka hamba dengan Tuhan melalui peningkatan kualitasnya. Kedua, sholat dapat menjadi jembatan bagi hamba untuk dapat menempuh hubungan harmonis dengan yag lain. Dengan sholat, hamba bisa melakukan komunikasi produktif karena seseorang meninggalkan hal-hal yang dibenci dan kemungkaran.

Dengan sholat, manusia bisa mencapai derajat keyakinan yang dimahkotai ketenanga. Manusia tersebut akan berbeda dengan orang-orang yang tidak melaksanakan sholat. Oleh karena itu, Allah SWT mengecualikan mereka dengan ketidakstabilan jiwa. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Da apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat. Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya”. (Q.S. al-Ma’arij: 19-23)

Dalam hal ini, orang yang mengerjakan sholat mempunyai jiwa yang stabil dan tenang. Tidak ada yang membedakan antara kondisi harta yag kecukupan dengan tanpa harta sekalipun. Kemiskinan bukan wajah yang berbeda dengan kekayaan. Modal utama yang mejadikan kehidupan seimbang adalah peningkatan dimensi spiritual berupa sholat.

 

 

 

 

 

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...