Tuesday, April 21, 2026

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA


 YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

Zizi Althofunnisa

 

Cinta itu datang diam-diam,

lalu menetap tanpa izin

di mataku,

di cara aku menyebut namamu dalam hati.

Rindu tidak lagi perlu alasan,

ia tumbuh setiap kali

jarak pura-pura tidak ada.

Aku melihatmu

dan dunia seperti mengecil,

menyisakan kita berdua

yang saling tak berani jujur.

Kau tersenyum,

dan aku tahu

itu bukan janji,

tapi cukup untuk membuatku berharap.

Hatiku sering bertanya,

bukan tentang mencintaimu

itu sudah pasti

tapi tentang:

apakah aku juga tinggal

di dalam hatimu seperti itu?

Aku tidak menawarkan segalanya,

hanya diriku yang utuh

yang diam-diam sudah kau miliki

sejak pertama kali

aku tak bisa lagi berpaling.

Jika suatu hari kita harus berjarak,

biarlah bukan karena cinta ini lelah

melainkan karena kita tak pernah benar-benar menggenggamnya.

Dan jika aku akhirnya kehilanganmu,

mungkin yang paling sakit bukan kepergianmu

tapi kenyataan

bahwa aku pernah sedekat itu

dengan seseorang

yang tak pernah benar-benar menjadi milikku

IBU, SUARA YANG TAK PERNAH PADAM

 

IBU, SUARA YANG TAK PERNAH PADAM

Zizi Althofunnisa

 

Ibu…

aku tahu letihmu tak pernah meminta nama,

ia tinggal diam di punggung waktu,

menjadi doa yang tak kau ucapkan keras-keras.

Dulu kau berkata:

“Lekaslah besar, anakku.”

bukan untuk dunia melihatku tinggi,

tapi agar hatimu punya tempat pulang.

Ibu…

segala yang orang sebut hebat dariku,

hanyalah gema dari ikhlasmu

yang tak pernah ingin dikenal.

Sabdamu sederhana,

namun langit hafal nadanya,

setiap lirihmu

tak pernah jatuh sia-sia.

Ibu…

aku tahu,

bukan harta yang kau tunggu,

bukan pula mahkota yang kau pinta.

Maka biarlah aku belajar satu hal saja,

menjadi anak yang pulang

dengan bakti,

sebelum kau benar-benar pergi.

CATATAN DARI JARAK


CATATAN DARI JARAK

Aini an Nahl

 

Aku pernah hidup tanpa jeda,

segala tersedia,

tanpa perlu bertanya: dari mana, untuk apa.

Sebagai bungsu

aku adalah bagian yang dijaga paling akhir,

paling lama.

Lalu aku pergi.

Bukan karena kurang,

tapi karena ada yang tak bisa tumbuh jika terus dilindungi.

Jakarta tidak menunggu.

Ia berjalan cepat, dan aku harus mengejar atau tersisih.

Di sana, lelah tidak punya drama,

gagal tidak memberi aba-aba,

dan rindu… datang tanpa suara.

Aku belajar mengatur diri,

bukan sekadar waktu dan uang,

tapi cara berpikir,

cara berdiri saat goyah.

Ada hari-hari hampir selesai,

di mana pulang terasa lebih masuk akal

daripada bertahan.

Tapi aku ingat:

selembar kertas,

dengan tujuan yang pernah kutulis

saat aku masih berani bermimpi.

Sejak itu aku paham,

yang diuji bukan langkahku,

tapi arahku.

Rantau tidak membuatku kuat,

ia hanya memperlihatkan

bahwa aku memang harus jadi kuat.

Dan hari ini,

aku tidak lagi mencari nyaman.

Aku hanya ingin cukup jauh untuk tahu,

aku tidak lagi orang yang sama.

 

 

(Pamulang, 21 April 2026) 

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...