Zizi Althofunnisa
Cinta itu datang diam-diam,
lalu menetap tanpa izin
di mataku,
di cara aku menyebut namamu dalam hati.
Rindu tidak lagi perlu alasan,
ia tumbuh setiap kali
jarak pura-pura tidak ada.
Aku melihatmu
dan dunia seperti mengecil,
menyisakan kita berdua
yang saling tak berani jujur.
Kau tersenyum,
dan aku tahu
itu bukan janji,
tapi cukup untuk membuatku berharap.
Hatiku sering bertanya,
bukan tentang mencintaimu
itu sudah pasti
tapi tentang:
apakah aku juga tinggal
di dalam hatimu seperti itu?
Aku tidak menawarkan segalanya,
hanya diriku yang utuh
yang diam-diam sudah kau miliki
sejak pertama kali
aku tak bisa lagi berpaling.
Jika suatu hari kita harus berjarak,
biarlah bukan karena cinta ini lelah
melainkan karena kita tak pernah benar-benar menggenggamnya.
Dan jika aku akhirnya kehilanganmu,
mungkin yang paling sakit bukan kepergianmu
tapi kenyataan
bahwa aku pernah sedekat itu
dengan seseorang
yang tak pernah benar-benar menjadi milikku
No comments:
Post a Comment