Oleh: Ida Rohyatul Aini, M.Pd
Beberapa hari terakhir, timeline kita dipenuhi video viral yang bikin senyum sekaligus mikir. Video itu menampilkan momen lucu nan menggemaskan antara seorang anak bernama Faza dan sosok yang sangat kita kenal: Tuan Guru Bajang (TGB), tokoh agama sekaligus publik figur yang selalu tampil kalem dan berwibawa.
Di video itu, ananda Faza terlihat sedang berjabat tangan dengan TGB. Nah, setelah salaman, TGB tampak ingin mengelus kepala Faza — mungkin sebagai bentuk kasih sayang atau doa. Tapi, eh... ananda Faza malah angkat tangan buat "tos"!
Reaksi TGB? Santai aja. Beliau senyum dan tertawa. Tapi netizen? Terbelah dua. Ada yang bilang, “Hahaha, lucu banget! Anak-anak emang polos.” Tapi nggak sedikit juga yang bilang, “Wah, kok gitu? Harusnya dia tahu sopan santun ke ulama dong!”
Hmm, yuk kita bahas bareng-bareng — di balik lucunya ananda Faza, ada pelajaran menarik buat kita semua.
Dunia Anak: Kadang Gak Sejalan dengan Dunia Dewasa
Pernah nggak, kita menyaksikan momen anak-anak melakukan sesuatu yang bikin kita tertawa sekaligus bingung? Seperti saat seorang anak kecil tiba-tiba men-tos seorang tokoh penting di depan umum, tanpa rasa sungkan atau kikuk. Polos? Iya. Lucu? Banget. Tapi, bagi sebagian orang dewasa, bisa jadi itu tampak “kurang sopan” atau “tidak pada tempatnya”.
Namun, di sinilah letak pentingnya kita memahami dunia anak-anak. Mereka hidup dalam dimensi yang berbeda dari kita, orang dewasa. Dunia mereka bukan tentang protokol, tata krama, atau etika formal—melainkan tentang rasa, imajinasi, spontanitas, dan interpretasi literal dari apa yang mereka lihat.
Jean Piaget, salah satu tokoh besar dalam psikologi perkembangan, menjelaskan bahwa anak-anak melalui tahap-tahap berpikir yang unik sesuai usianya. Di usia dini, anak masih berada dalam tahap praoperasional, di mana mereka belum bisa memahami sudut pandang orang lain secara kompleks atau membaca maksud sosial yang tersirat. Artinya, saat mereka melihat seseorang mengangkat tangan, bisa saja mereka mengira itu sapaan, ajakan bermain, atau… isyarat tos! Dan mereka pun merespons secara alami, tanpa beban atau maksud menyimpang. Seperti mungkin yang terjadi pada Faza ketika melihat tangan Bapak TGB terangkat—dia menafsirkannya sebagai sinyal untuk berinteraksi, bukan simbol formalitas.
Kenapa ini penting kita pahami?
Karena terlalu sering kita, orang dewasa, menghakimi anak-anak dengan standar yang belum mereka mengerti. Kita lupa bahwa mereka masih belajar membaca dunia, dan bahasa yang mereka pahami adalah bahasa yang paling sederhana dan jujur. Saat kita memaksakan sudut pandang orang dewasa ke dalam cara pikir anak, kita berisiko mematikan spontanitas dan kejujuran mereka.
Bukan berarti anak tidak perlu belajar sopan santun. Tapi proses itu butuh waktu, bimbingan, dan pengertian. Kita bisa mengarahkan tanpa harus menyalahkan, membimbing tanpa harus menghakimi.
Dunia anak adalah dunia yang indah—kadang absurd, kadang menggelikan, tapi selalu jujur. Kita yang harus belajar masuk ke dunia mereka dulu, agar bisa mengajak mereka perlahan memahami dunia kita. Karena dalam proses tumbuh, anak tak hanya butuh aturan, tapi juga ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Dan kadang, seperti dalam kisah Faza tadi, kita justru belajar satu hal penting dari anak-anak: hidup lebih tulus, jujur, dan apa adanya.
Dunia Anak: Tempat Imajinasi dan Kejujuran Berkembang. Mari kita rawat spontanitas anak dengan bijak, bukan dengan teguran keras yang membuat mereka takut berekspresi. Sebab dari momen-momen kecil seperti “tos polos” itulah kita bisa melihat: betapa tulusnya dunia anak, dan betapa pentingnya kita untuk tidak buru-buru menilai dari kacamata dewasa saja.
Reaksi TGB: Adem, Santai, Penuh Senyum
Yang bikin adem adalah reaksi TGB sendiri. Beliau nggak kaget, nggak marah juga, apalagi menegur. Beliau justru tersenyum dan ketawa kecil. Ini sinyal kuat bahwa TGB memahami dunia anak dan memilih untuk merespons dengan bijak.
Ini penting banget, lho. Dalam Islam, Rasulullah SAW juga dikenal sangat lembut kepada anak-anak. Bahkan, saat seorang cucunya naik ke punggung beliau saat salat, Rasulullah tetap bersabar dan tidak menegur dengan kasar.
Tapi... Gimana dengan suara netizen yang mengkritik?
Sebagian netizen menilai, kejadian itu justru menunjukkan kurangnya adab anak-anak masa kini kepada tokoh agama. “Masa ulama diajak tos? nggak pantas.” begitu kira-kira nada mereka.
Nah, ini juga bisa dipahami. Sebab dalam budaya kita — khususnya di lingkungan pesantren dan tradisi keislaman — menghormati ulama itu penting. Bukan hanya secara lisan, tapi juga lewat sikap: tunduk, menunduk, mencium tangan, dan lain sebagainya. Makanya, ketika ada kejadian yang "keluar pakem", sebagian orang refleks merasa terganggu.
Tapi... apakah semuanya harus dilihat hitam-putih?
Viral di Zaman Digital = Diperbesar dan dibumbui
Satu hal lagi yang perlu diingat: kita hidup di zaman serba digital, di mana satu momen kecil bisa jadi viral, bahkan tanpa konteks utuh. Kita nggak tahu, misalnya, apakah Faza sebelumnya sudah menunjukkan sikap sopan? Atau mungkin itu bagian dari interaksi panjang yang dipotong beberapa detik?
Inilah bahayanya viral. Kadang kita langsung menilai, tanpa paham konteks.
Jadi, harus gimana?
Daripada terjebak debat panjang, momen ini justru bisa jadi:
1) Peluang edukasi: Orang tua dan guru bisa pakai video ini buat ngobrol santai sama anak-anak, “Kalo ketemu kiai, gimana ya sebaiknya sikap kita?”
2) Ajang introspeksi: Kita yang dewasa juga bisa belajar, bahwa memberi contoh adab jauh lebih kuat daripada cuma ngomel soal adab.
3) Contoh toleransi dari TGB: Bahwa wibawa bukan soal galak atau harus dihormati dengan ketakutan, tapi bisa lahir dari kelembutan.
Tos Bukan Dosa, Tapi Yuk Didampingi
TOS itu bukan dosa. Tapi momen ini jadi pengingat bahwa anak-anak butuh didampingi, bukan langsung dihakimi. Dan kita juga belajar dari TGB: bahwa kadang, senyuman dan kelembutan bisa jauh lebih mendidik daripada omelan keras di kolom komentar.
Karena pada akhirnya, seperti kata pepatah, “Anak-anak bukan gelas kosong untuk diisi, tapi api kecil yang harus dinyalakan dengan hati-hati.”
Oleh karenannya untuk orang tua, pendidik, atau netizen budiman — yuk kita jadikan kejadian ini bukan bahan gosip, tapi bahan tumbuh bareng.
Untuk ananda Faza? Jangan khawatir. Dunia ini memang tempat belajar. Dan kamu baru saja ngajarin kami semua tentang spontanitas dan pentingnya menanggapi anak-anak dengan cinta.
Sarangheooooo, Ainilovers.

No comments:
Post a Comment