Pendidikan merupakan
salah satu faktor yang menentikan kemajuan suatu bangsa.
Pendidikan membantu manusia dalam pengembangan potensi dirinya sehingga mampu menghadapi segala perubahan yang terjadi, sebagaimana tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
yaitu Pendidikan membuat
watak serta peradaban
bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggungjawab.
Selaras dengan Undang-undang Sisdiknas
tersebut, pelaksanaan pendidikan tentunya perlu mendapat
proporsi yang cukup agar diperoleh out put yang unggul. Penanaman
pendidikan ini tentunya harus mengacu pada peningkatan kemampuan akademis, salah satu
langkah yang bisa ditempuh adalah
dengan memaksimalkan pembelajaran di sekolah.
Kegiatan
pembelajaran di sekolah dapat berlangsung dengan baik apabila ada komunikasi positif antara guru dengan siswa, guru dengan guru, adan antara siswa dengan siswa. Oleh karena itu, komunikasi positif harus diciptakan agar pesan yang ingin
disampaikan, khususnya materi pembelajaran dapat
diterima dengan baik oleh siswa. Guru diharapkan mampu membimbing aktivitas dan potensi siswa dalam mencapai
tujuan pembelajaran dengan model pembelajaran yang sesuai. Hal ini perlu dilaksanakan agar kualitas pembelajaran pada mata pelajaran apapun dapat ditempuh dengan optimal.
Dianatara
model pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan aktivitas siswa di dalam kelas adalah dengan menerapkan
model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament)
dan STAD (Student Teams Achievement Divisions). Kedua mendorong siswa untuk aktif mengkonstruksi pengetahuannya, menerapkan dan mempunyai keberanian untuk menyampaikan ide pengetahuannya, belajar
memecahkan masalah, dan mendiskusikan masalah pelajaran.
B.
Pengertian
dan Karakteristik Model Pembelajaran TGT dan STAD
1. Model
Pembelajaran TGT (Teams-Games-Tournaments)
Teams-Games-Tournaments (TGT) adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang
dikembangkan oleh Slavin pada tahun 1986. TGT menekankan pada penggunaan
permainan akademik sebagai sarana untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
Dalam TGT, siswa dibagi menjadi tim-tim kecil yang heterogen, di mana setiap
tim bertanggung jawab untuk belajar dan bekerja sama dalam mempersiapkan diri
untuk berpartisipasi dalam turnamen akademik.
Teams-Games-Tournaments (TGT) diperkenalkan oleh Robert Slavin ini
sebagai bagian dari upayanya untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran
kooperatif di kelas. Pembelajaran kooperatif menjadi semakin penting di era
modern karena kebutuhan untuk mengembangkan keterampilan sosial, kerja sama,
dan tanggung jawab individu dalam proses belajar. TGT dirancang untuk
menggabungkan kerja tim dengan kompetisi sehat melalui turnamen akademik, yang
dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa.
Menurut
Trianto (2011:83), Teams Games Tournament
merupakan salah satu teknik pembelajaran dalam model pembelajaran kooperatif (cooperatif
learning). Teknik ini dikembangkan pertama kali oleh David de Vries
dan Keath Edward pada tahun 1995. Pada model ini siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota
tim lain untuk memperoleh tambahan poin untuk skor tim mereka.
Model pembelajaran kooperatif yang satu ini memiliki tujuan untuk melatih siswa agar dapat
bekerja sama sekaligus memiliki rasa
kompetitif yang positif. Kerja sama di sini akan tampak dalam kelompok
kecil mereka, sedangkan
kompetisinya akan trelihat dalam kelompok besar yaitu ketika
mereka berkompetisi dengan kelompok lain.
Menurut Ahmadi (dalam Jurnal I Kd. Handayana, dkk), Teams Games
Tournament merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan teman sebagai
tutor sebaya dan mengandung unsur permainan
yang bisa menggairahkan semangat belajar siswa.
Dari beberapa
pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) adalah model pembelajaran yang menempatkan siswa dalam kelompok
yang berbeda kemampuan yang
menggunakan sistem turnamen akademik yang diikuti
oleh seluruh siswa dan efektif untuk memudahkan siswa berpikir positif
dalam pelajaran.
Karakteristik
Model Team Games Tournament
Model
pembelajaran TGT memiliki karakteristik yang membedakannya dengan tipe model
pembelajaran kooperetif lainnya. Berdasarkan
apa yang diungkapkan oleh Slavin (dalam
Rusman, 2014, 225) menyatakan bahwa model pembelajaran TGT memiliki
karakteristik, yaitu siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil, games tournament, dan penghargaan
kelompok. Peneliti menyimpulkan bahwa model pembelajaran TGT memliki beberapa
karakteristik yang memungkinkan peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran.
2. Model Pembelajaran STAD (Student Teams
Achievement Divisions)
Student Teams Achievement Divisions (STAD) adalah
model pembelajaran kooperatif yang juga dikembangkan oleh Slavin. STAD adalah
metode yang menggabungkan kerja kelompok dengan penilaian individu. Dalam STAD,
siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen dan bekerja sama
untuk menyelesaikan tugas atau memecahkan masalah. Hasil kerja individu
kemudian digunakan untuk memberikan kontribusi terhadap skor kelompok, yang
mendorong kerjasama dan tanggung jawab individu.
Student
Teams Achievement Divisions (STAD)
juga diperkenalkan oleh Robert Slavin ini sebagai bagian dari model
pembelajaran kooperatif. STAD dirancang untuk menggabungkan kerja kelompok
dengan penilaian individu, sehingga mendorong tanggung jawab individu dan
kolaborasi tim.
Model Pembelajaran Koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan
interaksi diantara siswa untuk saling
memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi
pelajaran guna mencapai
prestasi yang maksimal.
Guru
perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai metode pembelajaran yang meliputi
pendekatan, metode, dan model teknik pembelajaran secara spesifik. Penguasaan model
pembelajaran akan mempengaruhi hasil peserta didik
dalam pembelajaran. Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang
menggambarkan kegiatan dari siswa sampai akhir pembelajaran, yang khas
disajikan oleh guru. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian
kompetensi peserta didik dengan pendekatan metode, dan teknik pembelajaran
tertentu. Dengan kata lain Student
Teams-Achievement Devision (STAD) merupakan salah satu metode atau
pendekatan dalam pembelajaran yang sederha dan baik untuk guru yang bar
menggunakan pendekatan kooperatif didalam kelas, Student Teams-Achievement Devision (STAD) juga merupakan suatu
model pembelajaran kooperatif yang aktif untuk siswa.
Menurut
Rohani dan Ahmad (1995: 64) menyatakan pembelajaran STAD adalah totalitas
aktifitas belajar mengajar diawali dengan perencanaan dan diakhiri dengan
evaluasi. Dari evaluasi ini diteruskan dengan follow up. Pembelajaran sebagai
kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus pembelajaran, menyusun rencana
pembelajaran, memberikan informasi bertanya, menilai dan sebagainya.
Pembelajaran
kooperatif tipe STAD dikemukakan oleh Salvin merupakan salah satu tipe
kooperatif yng menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa
yang saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pembelajaran
guna mencapai prestasi yang maksimal. Isjoni dalam Turikam Taniredja (2011:
64).
Berdasarkan
dari pengertian yang telah diuraikan dapat penulis tarik kesimpulan bahwa
pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah suatu model pembelajaran dimana siswa
belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang
anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen. Dengan karakteristik
disetiap kelompok berbeda-beda, ada siswa yang pandai, sedang, dan rendah guna
bersama-sama untuk mencapai tujuan belajar yang maksimal.
Karakteristik Pembelajaran kooperatif Tipe STAD
Karakteristik
STAD menurut Hamdani (2011: 40) antara lain: (1) Tujuan kognitif: informasi
akademik sederhana, (2) Tujuan sosial: kerja kelompok dan kerja sama, (3)
Struktur tim : kelompok belajar heterogen dengan 4-5 orang anggota, (4)
Pemilihan topik pelajaran: biasanya oleh guru, (5) Tugas utama: siswa dapat
menggunakan lembar kegiatan dan saling membantu untuk menuntaskan materi
belajarnya, dan (6) Penilaian: tes mingguan.
C. Prinsip-prinsip
Model Pembelajaran TGT dan STAD
1.
Prinsip-prinsip Model Pembelajaran STAD
a) Kerjasama:
Siswa bekerja dalam tim untuk mencapai tujuan bersama dan saling membantu dalam
proses belajar.
b) Kompetisi
Sehat: Turnamen akademik digunakan untuk menciptakan suasana kompetisi yang
sehat, yang memotivasi siswa untuk belajar dan meningkatkan keterampilan
akademik mereka.
c) Tanggung
Jawab Individu: Setiap siswa bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri
dan berkontribusi terhadap kesuksesan tim.
d) Penguatan
Positif: Pujian dan penghargaan diberikan kepada siswa yang menunjukkan
prestasi atau usaha yang baik dalam belajar.
2. Prinsip-prinsip
Model Pembelajaran STAD
a) Kerjasama:
Siswa bekerja dalam tim untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan.
b) Tanggung
Jawab Individual: Setiap siswa bertanggung jawab untuk belajar dan memberikan
kontribusi terhadap keberhasilan kelompok.
c) Kesetaraan:
Semua siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan
menyumbangkan ide.
d) Keterampilan
Sosial: Pengembangan keterampilan sosial seperti komunikasi, negosiasi, dan
resolusi konflik merupakan bagian penting dari proses pembelajaran.
e) Evaluasi
dan Penghargaan: Evaluasi dilakukan baik secara individu maupun kelompok,
dengan penghargaan diberikan berdasarkan pencapaian yang dicapai.
D. Langkah-langkah
Model Pembelajaran TGT dan STAD
Langkah-langkah Model Pembelajaran TGT:
a) Pembentukan
Tim: Guru membagi siswa menjadi tim-tim kecil yang heterogen berdasarkan
kemampuan akademik, jenis kelamin, dan latar belakang sosial.
b) Penyajian
Materi: Guru menyajikan materi pelajaran secara langsung kepada seluruh kelas.
c) Belajar
Kelompok: Siswa bekerja dalam tim untuk mempelajari materi dan saling membantu
memahami konsep-konsep yang diajarkan.
d) Turnamen:
Siswa berpartisipasi dalam turnamen akademik di mana mereka bersaing satu sama
lain dalam permainan atau kuis yang berhubungan dengan materi pelajaran.
e) Pemberian
Penghargaan: Tim atau individu yang menunjukkan prestasi terbaik dalam turnamen
diberikan penghargaan atau pujian.
Langkah-langkah Model Pembelajaran STAD:
a) Pembentukan
Tim: Guru membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen.
b) Penyajian
Materi: Guru menyajikan materi pelajaran kepada seluruh kelas.
c) Kegiatan
Kelompok: Siswa bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas atau latihan
yang diberikan oleh guru.
d) Tes Individu:
Setiap siswa mengikuti tes individu untuk menilai pemahaman mereka terhadap
materi yang telah dipelajari.
e) Pemberian
Skor Kelompok:Skor individu dijumlahkan untuk memberikan skor kelompok.
Kelompok dengan skor tertinggi diberikan penghargaan atau pujian.
E. Kelebihan
dan Kekurangan Model Pembelajaran TGT dan STAD
Beberapa kelebihan model pembelajaran TGT antara lain:
a) Meningkatkan
Motivasi: Suasana kompetisi yang sehat dapat meningkatkan motivasi siswa untuk
belajar.
b) Pengembangan
Keterampilan Sosial: Kerjasama dalam tim membantu siswa mengembangkan
keterampilan sosial seperti komunikasi dan kolaborasi.
c) Belajar
yang Menyenangkan: Penggunaan permainan akademik membuat proses belajar menjadi
lebih menyenangkan.
Model
pembelajaran TGT juga memiliki beberapa kelemahan. Berikut ini adalah beberapa
kekurangan model pembelajaran TGT:
a) Waktu
dan Persiapan: Memerlukan waktu dan persiapan yang lebih banyak untuk menyusun
turnamen dan permainan akademik.
b) Kesulitan
dalam Penilaian:Penilaian bisa menjadi lebih rumit karena harus
mempertimbangkan baik hasil individu maupun tim.
Beberapa kelebihan model pembelajaran STAD antara lain:
a) Meningkatkan
Pemahaman: Kerja kelompok dapat membantu siswa lebih memahami materi pelajaran
melalui diskusi dan saling membantu.
b) Pengembangan
Keterampilan Sosial: Siswa belajar untuk bekerja sama dan menghargai kontribusi
masing-masing anggota kelompok.
c) Evaluasi
yang Adil: Kombinasi penilaian individu dan kelompok memberikan gambaran yang
lebih adil tentang prestasi siswa.
Model pembelajaran STAD juga
memiliki beberapa kelemahan. Berikut ini adalah beberapa kekurangan model
pembelajaran STAD:
a) Ketergantungan
pada Teman: Beberapa siswa mungkin terlalu bergantung pada teman sekelompoknya,
yang dapat mengurangi tanggung jawab individu.
b) Pengelolaan Kelompok: Guru perlu mengelola kelompok dengan baik untuk memastikan semua siswa berpartisipasi dan tidak ada yang mendominasi.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu ,dkk.1997. Strategi Belajar Mengajar.
Bandung Pustaka Setia
Dedih ujang. 2016. Model-model
pembelajaran. Bandung: CV. Insan Mandiri.
Firdaus dan Fakhry Zamzam.2018. Aplikasi Metodologi Penelitian.
Cet. I. Yogyakarta: Deepublish.
Handayani, Suci. 2019. Model Pembelajaran Speaking Tipe STAD
Yang Interaktif Fun Game Berbasis Karakter. Cet. I; Uwais Inspirasi
Indonesia.
Huda, Mifahul. 2013. Model-Model
Pengajaran dan Pembelajaran. Cet. III. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Isjoni. 2009. Pembelajaran Kooperatif. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Kurdi, Syuaeb,dkk.2006. Model Pembelajaran Efektif Pendidikan
Agama Islam di SD dan MI.. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Miftahul
Huda. 2015. Cooperative Learning Metode, Teknik, Struktur dan
Model Penerapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rachmat,
2003. Model-Model Pembelajaran Kooperatif, (On Line, www. Geoogle. Com.
Model Pembelajaran Matematika, di akses 25 Juni 2024).
Robert
E.Slavin. 2005. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik,
Bandung: Nusa Media
Rusman. 2011.Model-Model
Pembelajaran Mengembangkan Profesionaisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
