Thursday, June 2, 2022

ALASAN CERDAS DAN SINGKAT, MENGAPA AL QURAN DAN TERJEMAH AL QURAN TIDAK SEJAJAR?

         Al-Quran dan terjemah al-Quran, memiliki kedudukan tidak sama. Al Quran sifatnya Ilahiyah dan terjemah bagian dari sarana manusia untuk memahami isi yang termaksud dalam al-Quran. Detailnya mari kita simak bersama sebagai berikut.

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan dalam bahasa Arab, namun nyatanya agama Islam tak hanya berkembang di Jazirah Arab, melainkan hingga ke seantero Dunia. Sejatinya, al-Quran sebagai kitab suci, tak hanya wajib dibaca, namun juga dikaji, dipahami, dan diamalkan. Sebagaiamana dalam firmanNYA yang tercantum dalam surah al-Qamar 54:17, ‘’Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran.” Sedangkan terjemah sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu tarjama-yutarjimu yaitu mengartikan, menginterpretasikan dan menafsirkan. Terjemah secara harfiyah memiliki arti memindahkan atau menyalin suatu  pembicaraan dari satu bahasa ke bahasa lain, atau  singkatnya dapat kita pahami dengan mengalih bahasakan. Seperti contoh  menerjemahkan bahasa Arab ke bahasa Indonesia maksudnya memindahkan bahasa bahasa Arab ke dalam bahasa tujuan yaitu bahasa Indonesia. Hal ini dilakukan agar al-Qur'an lebih mudah dipahami oleh umat islam di Indonesia yang awam ketika membaca serta mempelajari al-Qur'an. Sehingga dapat kita pahami bahwa terjemah al-Qur'an adalah  memindahkan bahasa Arab ke dalam Bahasa lain dengan tujuan untuk mempermudah umat Islam yang tersebar ke seluruh dunia dalam mempelajari dan memahami kandungan al-Qur'an.

Menimbang sejarah, di mana seiring berkembangnya ajaran Islam, maka muncullah keinginan dan kesadaran untuk menerjemahkan al-Quran ke dalam berbagai bahasa yang ada di dunia. Upaya untuk menerjemahkan al-Quran itu telah dimulai beberapa belas abad silam, ketika Islam mulai menyebar ke berbagai benua bahkan pada saat Rasulullah SAW masih hidup.

Namun tetap saja, menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa lain bukanlah pekerjaan mudah. Betapa tidak?! Al-Quran merupakan mukjizat yang menggunakan bahasa ilahiyah, yang tak mungkin dapat ditandingi manusia manapun. Selainnya, menerjemahkan al-Quran selalu menjadi sebuah problematika dan isu  yang sulit dalam teologi Islam. Karena Muslim menghormati al-Quran sebagai mukjizat dan tak bisa ditiru. Terlebih,  kata-kata dalam al Quran memiliki berbagai arti tergantung pada konteks, sehingga untuk membuat sebuah terjemahan yang akurat amatlah sulit. Menerjemahkan al-Quran bukanlah usaha untuk menduplikasi atau mengganti teks al-Quran yang asli. Kedudukan terjemahan ataupun tafsir yang dihasilkan manusia tidak sama dengan al-Quran itu sendiri. Keaslian dan kemurnian al-Quran dijaga oleh tangan Ilahi. Seperti dalam firmanNYA: ‘’Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.’’ (QS Al-Hijr 15:9). Dengan demikian bahwasanya usaha manusia dalam menterjemahkan bahasa ilahiyah sangat tergantung pada kapasitas manusia itu sendiri. Sehingga al-Qur'an, yang merupakan kalam suci orang muslim,  tidak sembarang orang dapat menerjemahkan bahasa al-Qur'an kecuali memiliki syarat dan ketentuan yang harus terpenuhi.

1)    Penerjemah atau orang yang menerjemahkan al-Qur;an yaitu harus seorang muslim, sehingga dapat mempertanggung jawabkan  keislamannya atau keislamannya dapat dipercaya.

2) Penerjemah haruslah seorang yang dirasa adil,  dapat dipercaya atau seorang yang dianggap tsiqah.  Karenanya, seorang fasik tidak diperkenankan menerjemahkan al-Quran

3)    Penerjemah harus menguasai bahasa tujuan dengan teknik penyusunan kata.

4)   Penerjemah harus memperhatikan dengan benar  tentang  prinsip-prinsip penafsiran al-Quran dan memenuhi kriteria sebagai mufasir, karena penerjemah pada hakikatnya adalah seorang Mufasir

5)   Penerjemah menguasai serta memahami kedua bahasa; bahasa asli (bahasa sumber) dan bahasa terjemahan.

6)    Menguasai gaya bahasa dan keistimewaan dari kedua bahasa tersebut.

 


No comments:

Post a Comment

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...