Wednesday, December 25, 2019

The Little Angel: Nafasmu Syurgamu




 Educated people are those who use the free time to study....
Itulah sebuah anonim yang menjadi prinsip setia menemani wanita muda belia yang memiliki semangat tinggi, tekad yang kuat demi terwujudnya cita-cita mulia yakni; membahagiakan dua pangeran yang berkecimpuh penuh dalam hidupnya, tiada lain kedua orang tua yang sangat dicintainya. Segala upaya dilakukan demi sang Orangtua dan negara kecilnya. Negara kecil yang masyhūr dengan kerukunan, kedamaian, dan keadilan. Bisa dikatakan keluarga yang SAMARA penuh solidaritas. Sebut saja Zizi Amira Az-Zahra. Dia lahir dari keluarga sederhana dengan 3 bersaudara, Dia anak paling bungsu namun semangat bak kobaran api yang menyala-nyala memberikan efek kepada kedua kakaknya yaitu ‘Ainuha Suraiya dan Muhammad Fatih Ayyash. Keluarga yang syukurnya tiada tara dengan dianugerahkan anak yang sholeh-sholehah serta cerdas. Ainun dari Elementary School, Junior High School, and High School, bahkan sampai College bertahan dengan prestasi gemilang. Menjadi sang juara di kelas, juara olimpiade kimia dan cumlaude saat wisuda S1. Sedangkan Muhammad berprestasi di bidang al-Qur’an, dengan khatam-mutqin 30 juz dan alunan merdu pelafalan mengirimnya ke negeri Timur Tengah. Melihat kegemilangan prestasi sang kakak, Zizi tak kalah gemilang. Zizi juga sang juara kelas, juara olimpiade dan saking tenar dengan prestasi, Azizi dapat beasiswa dari berbagai kalangan bahkan kelanjutan education ke jenjang-jenjang selanjutnya sudah terarah bertemankan beasiswa unggulan yang didapatkannya.
Selain kecerdasan yag dimilikinya, Zizi juga diselimuti oleh keramahan, kesantunan yang tak ada duanya. Sikapnya yang adem, sejuk. membuat orang-orang menaruh hati. Beda dengan kakaknya yang sedikit pemalu, berbicara ala kadar saja. Suatu harisang bidadari kecil mengajak sang kakak untuk berdiskusi di ruang tamu. Discuss mungkin hal yang lumrah dilakukan oleh tiga bersaudara ini, namun discuss kali ini pembahasannya beda. Okay, tak membuang waktu, discuss pun dimulai.
Kak, kita sudah gede. So, kita harus lebih mandiri lagi…” kata Zizi.
Kemudian Ainun menyahut
Kakak tahu itu Adindaku, memang seharusnya kita harus mandiri dan mengejar impian kita bersama.
Kalimat yang sama disampaikan Muhammad:
Iyaaaah, betul sangat. Mungkin kakak Ainun yang paling gede dengan tanggung jawab yang gede pula, tapi di keluarga ini ana sendirian laki. So, tanggung jawabanya lebih besar dari Kakak”.
Mendengar jawaban itu, Zizi menegaskan:
Dalam hal ini tak membedakan Kakak ataupun Adik, kita sama-sama bertanggung
jawab dan tugas kita sekarang adalah bagaimana mengangkat derajat kedua ortu kita di dunia dan akhirat…”
Kata-kata yang tak terlupakan dan tak pantas pula untuk dilupakan. Sungguh dialah bidadari kecil pelindung negara kecil. Saat keluarga menghadapi ujian berupa gunjingan, tuduhan. Dia dengan gagahnya berdiri di depan, melindungi negera kecil tercinta. Meski banyaknya rintangan menerjang, dia tidak berputus asa dalam melanjutkan perjuangan. Dia anak yang istiqomah, teguh pendirian, cerdas, dan berakhlakul karimah. Sehingga para guru di sekolah bangga dan menyayanginya. Seiring bergulirnya waktu, Zizi ditimpa suatu musibah. Dia merasakan sakit pad perut dengan keluhan tidak bisa buang air besar (konstipasi). Rasa itu tersimpan apik olehnya sehingga menjelang satu minggu kejadian dia menceritakannya kepada Ibunya.
            “Ummy, perutnya Nanda akhir-akhir ini sakit sekali dan sudah satu minggu Nanda tidak pernah BAB” sambil menunjukkan perutnya.
Ibu menjawab:
“Mungkin Nanda terkena konstipasi semacam ambient, kenapa Nanda baru cerita? Kalau gitu sekarang kita periksa ke dokter ya sayang.
Tak mengulur waktu sang Ibu langsung menelpon dokter.
“Assalaamu’alaikum, Pak bisa datang ke rumah sebentar.”
Dokternya menjawab:
“Siapa yang sakit, Bu?”
Ini anak saya Zizi sakit perut, katanya ndak pernah BAB 1 minggu
“iya Bu, sekarang saya ke sana” jawab Pak dokter.
Setelah diagnosis, dokter memberikan obat untuk membantu pelancar BAB. Sakit tinggallah sakit, Zizi yang super aktif meski sakit kegiatan belajar tetap jalan bahkan semua dijabanin. Dia tidak mau menampakkan rasa sakit yang dideritanya. Dia memang sosok yang humoris, tegar dan cerryber (cerrya bener). Satu bulan merasakan sakit, perut menjadi membuncit seperti ibu-ibu hamil 12 bulan. Keluarga resah, gelisah tak terkira, akhirnya langsung dibawa ke RSUD Soerdjono Selong, Lombok Timur-NTB, sampai di RSUD, Zizi langsung diperiksa namun dari hasil diagnose dokter, perutnya kembung karena masuk angin dan kotoran yang tidak bisa dikeluarkan selama satu bulan. Dan dokter menyarankan untuk pemasangan slang dari hidung untuk mengeluarkan angin dan kotoran. Dalam keadaan seperti itu masih sempatnya membawa buku-buku pelajaran untuk dibaca sebelum istirahat
lebih-lebihnya al-Qur’an hadiah birthday tempo hari selalu dibawa, dibaca dan dipeluknya.
Para perawat di RSU salut dengan kesabaran, keberanian, dan keistiqomahan yang dimilikinya. Hari kedua Ainun membesuk adinda sang bidadari kecilnya, sampai di ruangan Ainun terkejut melihat slang yang terpasang di hidung bidadarinya. Menyamarkan rasa sedih Ainun mendekati dan bertanya kepada sang bidadari kecilnya.
Dik, maafkan kakakmu yang baru bisa membesuk karena jadwal kulyah yang padat, apalagi persiapan PPL (Praktik Pembelajaran Lapangan), oya apa yang masih adikku rasakan saat ini?”
Zizi menjawab dengan tegasnya:
“Adik ndak apa-apa.”Terucap lembut dari bibir penuh rahmat.
“Kakak jaga kesehatan dan rajin belajar yea.” Tambahnya sambil memandang penuh makna dan memegang tangan sang kakak.
“Insya’Allaah dinda, mimpi kita akan segera terwujud untuk keluarga kita dan jangan khawatir adindaku, kakak akan berusaha sekeras mungkin demi mimpi dan harapan besar kita.” Dengan jawaban yang meyakinkan.
Mendengar ucapan itu, Zizi tersenyum dan membalikkan badan. Dia membalikkan badan entah merasa sakit ataupun lainnya. Tak lama kemudian, Zizi berbalik arah dan mengulurkan tangan sembari berkata.
Kak ini ada uang semoga bisa membantu untuk uang sakunya kakak.
Mendengar ucapan itu hati merasa miris. Dengan merendahnya Ainun pun menjawab:
Dik, uang itu disimpan saja untuk berobat. Kakak masih ada uang kok Dik
Mendengar ucapan itu wajah tiba-tiba saja berubah lemah sehingga dengan
terpaksanya Ainun mengambil uang yang disodorkan oleh adindanya. Suara dentingan jam tangan mengalun dengan keras, menandakan waktu maghrib akan tiba. Berhubung hari hampir gelap, Ibu menyuruh Paman untuk mengantar Ainun ke ma’had (tempat persinggahan santri). Untuk melepas iba akan berpisah Ainun sang kakak yang penyayang mulai pamitan pada adinda tercinta dan keluarga yang ada di rumah sakit, serta meminta doa akan kesuksesan.
Seminggu sudah di rumah sakit, akhirnya Zizi diperbolehkan pulang, namun satu hari keluar dari rumah sakit perutnya membuncit lagi. Zizi pun dibawa lagi ke rumah sakit tapi rumah sakit tempat biasa ia dirawat membuat surat rujukan ke rumah sakit yang lebih lengkap alatnya, meski sudah dirujuk malah rumah sakit tempatnya dirujuk mengalah.meski demikian keluarga tidak tinggal diam, selesai urusan di rumah sakit yang satu sang Ibu bersama keluarga lainnya membawa Zizi ke rumah sakit lainnya tetapi tetap saja mendapatkan alhasil yang tidak memuaskan. Lelah dengan berbagai rumah sakit dan klinik yang tidak membuahkan hasil.Akhirnya Zizi dirawat oleh keluarga di rumah. Sakit memanglah sakit, namun bagi Zizi tak ada yang bisa mengobati rasa sakit selain membaca kitab-Nya dan melihat senyum orang tua. Memang benar dia pantas diacukan jempol dengan kesabaran, keberanian dan kesakinahan hati serta keyakinan akan rahasia Allah SWT padanya.
Satu bulan sudah berjalan, Ainun pulang dari lokasi PPL untuk menengok adinda Zizi. Sampai di rumah ia salaman kepada orang tua dan keluarga, yang tak lupa pula menziarahi adinda sosok bidadari kecilnya dengan pelukan hangat sebagai pengobat rindu yang membara. Tidak banyak kata Ainun langsung melihat ke arah perut adiknya, perutnya membuncit dan keras. Ainun langsung bertanya kepada ibunda dan keluarga yang setia menemani bidadari kecilnya.
Ummy sebenarnya apa penyakit yang diidap adikku?
Kata Dokter dia hanya masuk angin. Cuma heran juga, kok bisa gara-gara masuk angin sakit sampai segitunya…..”
Tapi sudah dironsen kan, Ummy?” kata Ainun memotong pembicaraan.
Sudah,bagian dalam semuanyabagus tidak ada yang terganggu”. Jawab Ibu sambil menunduk.
Sungguh aneh, sebenarnya apa yang dirahasiakan dokter dengan keluarga. Masak ia gara-gara masuk angin keadaannya begitu parah. Berpaling dari pertanyaan hati yang selalu menghantui, Ainun melihat banyak buku di bawah bantal adinda Zizi, tidak khilaf ada buku tulis seperti diary yang lengkap dengan polpennya dan beberapa buku pelajaran. Tidak banyak tanya sebab itulah Zizi yang tidak bisa pisah dengan buku, kerjanya belajar dan belajar. Malah sering minta sama keluarga untuk diantar pergi sekolah meski dalam keadaan sakit parah.
Polemik yang tak berakhir begitu saja, seiring berjalannya waktu sakit itu menjadijadi sehingga membuat Zizi harus dilarikan kembali ke Rumah Sakit. Namun, apalah daya hembusan napas terakhir menghampiri. Tepat jam 01.48 am terdengar kabar akan berita duka tersebut ke telinga Ainun selaku kakak terkasih. Karena berada di lokasi PPL, Ainun dijemput oleh Abi dan 2 orang Pamannya. Sampai di lokasi Abi memencet bel yang ada di depan rumah tempat persinggahan selama PPL berlangsung.
“Assalaamu’alaikum warahmatullah.......” Ucap Aby. “Nakda ini aby, tolong bukakan gerbang” tambah Aby dengan suara dinaikkan.
Semua rekan-rekan PPL pada bangun dan membuka gerbang. Tidak banyak basabasi, Aby mengatakan maksud kedatangannya tengah malam yang sunyi tersebut.
Nak, adikmu rindu dan ingin bertemu denganmu. Besok izin saja ngajarnya iya sayang?”
Meski dengan alasan tersebut sebagai pemburam dari tujuan sesungguhnya Ainun pun telah tahu karena sebelumnya telah bermimpi yang beralamatkan bahwa bidadari kecilnya telah pergi jauh meninggalkannya. Ainun tarik napas sedalam mungkin untuk mecegah usungan air mata yang akan mengalir membasahi pipi dan akan meredupkan cerahan wajah. Tak mengulur waktu Ainun pun langsung melangkahkan kaki menuju mobil. Namun, tak lupa ia pamitan sama bunda selaku empunya rumah dan rekan-rekan PPL tercinta.
Dalam perjalanan pulang, Ainun dipeluk dan diberikan nasihat-nasihat serta varian hiburan oleh sang Aby. Tapi meski bermakna dan menghumoris yang namanya bathin akan sayang kepada adinda sosok bidadari kecil yang sangat luar biasa dalam hidupnya. Sosok pendobrak, pelaksana yang shalihah, berani, tangguh, kuat dan tinggi akan jiwa kesabaran. Meski mendengar humor se-humornya pun tetap saja merindu akan ditengah sang bidadari. Lama masanya tak merangkai kata di mobil bersama Aby dan kedua pamannya. Akhirnya sampai juga di persinggahan tercinta yakni rumah ”the big family Az”. Ainun pun turun dari mobil, akan tetapi apa yang terjadi pada dirinya, meski kaki sudah berpijak namun seakanakan tidak berpijak menyentuh bumi melainkan serasa di atas awan. Apalagi melihat kondisi rumah yang penuh keharuan, membuat dirinya sempat hilang kendali. Badan lemas dikarenakan tenaga hempas begitu saja saat itu. Kejadian yang begitu tiba-tiba menghampiri, varian jelmaan rasa yang tidak terkondisikan. Entah apalah daya dan upaya, menyaksikan hal tersebut salah satu uncle berkata:
Nak, ingat engkau sudah melalui berbagai tahap pendidikan. Sekarang tilik lagi pendidikanmu, jangan sampai peristiwa ini menggoyahkan keyakinanmu. Ingat nandaku, kita semua milik Allah swt dan akan kembali jua kepada-Nya. Tenangkan dirimu, berusahalah menerima keadaan. Sabar njeh ndhuk....”
Mendengar hal tersebut, Ainun mulai bangkit dan melanjutkan langkah menuju tempat peristirahatan sang bidadari. Ainun yang berusaha tegar ternyata tak bisa membendung air mata melihat sang bidadarinya terbaring kaku dipembaringan. Tak habis pikir kejadian begitu berkala menyapa. Tanpa basa-basi Ainun langsung memeluk, mencium sang adinda sosok bidadari kecil tercinta. Tapi apakah yang terjadi, saat mencium kening adiknya, bros yang dipakai sang kakak berjatuhan tanpa sebab. Apa mungkin karena ikatan bathin yang kuat, sehingga membuat benda kesayangannya ikut bersedih. Waaaaah itu efek baper aja kali iya, tapi itulah rasa sayang yang begitu kuat antara kakak dan adik. Malam pu semakin larut, Ainun menebus kerinduan dengan tidur di sebelah adiknya yang terbaring kaku. Namun sebelumnya Ainun tak lupa menyampaikan kabar duka tersebut kepada guru-guru di sekolahnya, teman-teman dan sahabat. Dalam penyampaian kabar tersebut, tak heran jika ada yang pingsan, nangis-histeris mendengar berita duka tersebut. Waktu esok pun tiba, rumah dibendung pilu penuh keharuan, nampak dari wajahwajah tamu yang datang. Yang anehnya pula tamu entah dari mana datangnya, orang-orang tidak dikenal berdatangan dari berbagai sudut dengan visi yang sama yaitu ingin memusyahidkan, mendoakan. Namun tak habis pikir banyaknya orang yang datang tersebut membuat terheran seketika.
“Engkau mulia, dan semasa nafasmu masih berhembus, tiada lain ucapan dan amalanmu mendatangkan cahaya syurga. Selamat jalan bidadari kecil semoga bahagia di alam sana”.

No comments:

Post a Comment

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...