“Educated people are those who use the free time to study....”
Itulah sebuah anonim yang menjadi prinsip setia menemani wanita
muda belia yang memiliki semangat tinggi,
tekad yang kuat demi terwujudnya cita-cita mulia yakni; membahagiakan dua pangeran
yang berkecimpuh penuh dalam hidupnya, tiada lain kedua orang tua yang sangat
dicintainya. Segala upaya dilakukan demi sang Orangtua dan negara kecilnya. Negara kecil yang masyhūr dengan kerukunan, kedamaian,
dan keadilan. Bisa dikatakan keluarga yang
SAMARA penuh solidaritas.
Sebut saja Zizi Amira Az-Zahra. Dia lahir dari keluarga sederhana
dengan 3 bersaudara, Dia anak paling bungsu namun semangat bak kobaran api yang menyala-nyala memberikan efek kepada
kedua kakaknya yaitu ‘Ainuha Suraiya dan Muhammad Fatih Ayyash. Keluarga
yang syukurnya tiada tara dengan dianugerahkan anak yang sholeh-sholehah serta
cerdas. Ainun dari Elementary School, Junior High
School, and High School, bahkan sampai College bertahan dengan prestasi
gemilang. Menjadi sang juara
di kelas, juara olimpiade kimia dan cumlaude saat wisuda S1.
Sedangkan Muhammad
berprestasi di bidang al-Qur’an, dengan khatam-mutqin 30 juz dan alunan
merdu pelafalan mengirimnya
ke negeri Timur Tengah. Melihat kegemilangan prestasi sang kakak, Zizi tak kalah
gemilang. Zizi juga sang juara kelas, juara olimpiade dan saking tenar
dengan prestasi, Azizi dapat
beasiswa dari berbagai kalangan bahkan kelanjutan education ke jenjang-jenjang
selanjutnya sudah terarah bertemankan beasiswa unggulan yang didapatkannya.
Selain kecerdasan yag dimilikinya, Zizi juga diselimuti oleh
keramahan, kesantunan yang tak ada duanya.
Sikapnya yang adem, sejuk. membuat orang-orang menaruh hati. Beda dengan
kakaknya yang sedikit pemalu,
berbicara ala kadar saja. Suatu harisang bidadari kecil mengajak sang kakak untuk
berdiskusi di ruang tamu. Discuss mungkin hal yang lumrah dilakukan oleh tiga
bersaudara ini, namun discuss kali ini pembahasannya beda. Okay, tak membuang waktu, discuss pun dimulai.
“Kak, kita sudah gede. So, kita harus lebih mandiri lagi…” kata Zizi.
Kemudian Ainun menyahut
“Kakak
tahu itu Adindaku, memang seharusnya kita harus mandiri dan mengejar impian kita bersama.”
Kalimat yang sama disampaikan
Muhammad:
“Iyaaaah, betul sangat. Mungkin kakak Ainun
yang paling gede dengan tanggung jawab yang gede pula, tapi di
keluarga ini ana sendirian laki. So, tanggung jawabanya lebih besar dari Kakak”.
Mendengar jawaban itu, Zizi
menegaskan:
“Dalam hal ini tak membedakan Kakak
ataupun Adik, kita sama-sama bertanggung
jawab dan tugas kita sekarang adalah bagaimana mengangkat derajat kedua ortu kita di dunia dan akhirat…”
jawab dan tugas kita sekarang adalah bagaimana mengangkat derajat kedua ortu kita di dunia dan akhirat…”
Kata-kata yang tak terlupakan dan tak pantas pula untuk dilupakan.
Sungguh dialah bidadari kecil pelindung
negara kecil. Saat keluarga menghadapi ujian berupa gunjingan, tuduhan.
Dia dengan gagahnya berdiri di depan, melindungi negera kecil tercinta. Meski banyaknya rintangan
menerjang, dia tidak berputus asa dalam melanjutkan perjuangan. Dia
anak yang istiqomah, teguh
pendirian, cerdas, dan berakhlakul karimah. Sehingga para guru di sekolah bangga dan
menyayanginya. Seiring
bergulirnya waktu, Zizi ditimpa suatu musibah. Dia merasakan sakit pad perut
dengan keluhan tidak bisa buang air besar (konstipasi). Rasa itu tersimpan apik
olehnya sehingga menjelang satu
minggu kejadian dia menceritakannya kepada Ibunya.
“Ummy, perutnya Nanda akhir-akhir ini
sakit sekali dan sudah satu minggu Nanda tidak
pernah BAB” sambil menunjukkan
perutnya.
Ibu menjawab:
“Mungkin Nanda terkena konstipasi semacam ambient, kenapa Nanda
baru cerita? Kalau gitu sekarang kita
periksa ke dokter ya sayang”.
Tak mengulur waktu sang Ibu langsung menelpon dokter.
“Assalaamu’alaikum, Pak bisa datang ke rumah sebentar.”
Dokternya menjawab:
“Siapa yang sakit, Bu?”
“Ini
anak saya Zizi sakit perut, katanya ndak pernah BAB 1 minggu”
“iya Bu, sekarang saya ke sana” jawab Pak dokter.
Setelah diagnosis, dokter memberikan obat untuk membantu pelancar
BAB. Sakit tinggallah sakit, Zizi yang
super aktif meski sakit kegiatan belajar tetap jalan bahkan semua
dijabanin. Dia tidak mau
menampakkan rasa sakit yang dideritanya. Dia memang sosok yang humoris, tegar dan cerryber (cerrya bener). Satu bulan
merasakan sakit, perut menjadi membuncit seperti ibu-ibu hamil 12 bulan.
Keluarga resah, gelisah tak terkira, akhirnya langsung dibawa ke RSUD
Soerdjono Selong, Lombok Timur-NTB, sampai di RSUD, Zizi langsung diperiksa namun dari
hasil diagnose dokter, perutnya kembung
karena masuk angin dan kotoran yang tidak bisa dikeluarkan selama
satu bulan. Dan dokter menyarankan untuk pemasangan slang dari hidung untuk mengeluarkan
angin dan kotoran. Dalam keadaan seperti itu masih sempatnya membawa buku-buku
pelajaran untuk dibaca sebelum istirahat
lebih-lebihnya al-Qur’an hadiah birthday tempo hari selalu dibawa, dibaca dan dipeluknya.
lebih-lebihnya al-Qur’an hadiah birthday tempo hari selalu dibawa, dibaca dan dipeluknya.
Para perawat di RSU salut dengan kesabaran, keberanian, dan
keistiqomahan yang dimilikinya. Hari kedua Ainun membesuk
adinda sang bidadari kecilnya, sampai di ruangan Ainun terkejut melihat slang yang
terpasang di hidung bidadarinya. Menyamarkan rasa sedih Ainun mendekati dan bertanya kepada
sang bidadari kecilnya.
“Dik,
maafkan kakakmu yang baru bisa membesuk karena jadwal kulyah yang padat, apalagi persiapan PPL (Praktik Pembelajaran
Lapangan), oya apa yang masih adikku rasakan saat ini?”
Zizi menjawab dengan tegasnya:
“Adik ndak apa-apa.”Terucap
lembut dari bibir penuh rahmat.
“Kakak jaga kesehatan dan rajin belajar yea.” Tambahnya sambil
memandang penuh makna dan memegang tangan
sang kakak.
“Insya’Allaah dinda, mimpi kita akan segera terwujud untuk keluarga
kita dan jangan khawatir adindaku, kakak akan
berusaha sekeras mungkin demi mimpi dan harapan besar kita.” Dengan jawaban yang
meyakinkan.
Mendengar ucapan itu, Zizi tersenyum dan membalikkan badan. Dia
membalikkan badan entah merasa sakit
ataupun lainnya. Tak lama kemudian, Zizi berbalik arah dan mengulurkan tangan sembari
berkata.
“Kak
ini ada uang semoga bisa membantu untuk uang sakunya kakak.”
Mendengar ucapan itu hati merasa miris. Dengan merendahnya Ainun
pun menjawab:
“Dik,
uang itu disimpan saja untuk berobat. Kakak masih ada uang kok Dik”
Mendengar ucapan itu wajah tiba-tiba saja berubah lemah sehingga
dengan
terpaksanya Ainun mengambil uang yang disodorkan oleh adindanya. Suara dentingan jam tangan mengalun dengan keras, menandakan waktu maghrib akan tiba. Berhubung hari hampir gelap, Ibu menyuruh Paman untuk mengantar Ainun ke ma’had (tempat persinggahan santri). Untuk melepas iba akan berpisah Ainun sang kakak yang penyayang mulai pamitan pada adinda tercinta dan keluarga yang ada di rumah sakit, serta meminta doa akan kesuksesan.
terpaksanya Ainun mengambil uang yang disodorkan oleh adindanya. Suara dentingan jam tangan mengalun dengan keras, menandakan waktu maghrib akan tiba. Berhubung hari hampir gelap, Ibu menyuruh Paman untuk mengantar Ainun ke ma’had (tempat persinggahan santri). Untuk melepas iba akan berpisah Ainun sang kakak yang penyayang mulai pamitan pada adinda tercinta dan keluarga yang ada di rumah sakit, serta meminta doa akan kesuksesan.
Seminggu sudah di rumah sakit, akhirnya Zizi diperbolehkan pulang,
namun satu hari keluar dari rumah sakit
perutnya membuncit lagi. Zizi pun dibawa lagi ke rumah sakit tapi rumah sakit
tempat biasa ia dirawat membuat surat rujukan ke rumah sakit yang lebih
lengkap alatnya, meski sudah
dirujuk malah rumah sakit tempatnya dirujuk mengalah.meski demikian keluarga tidak
tinggal diam, selesai urusan di rumah sakit yang satu sang Ibu bersama keluarga lainnya
membawa Zizi ke rumah sakit lainnya tetapi tetap saja mendapatkan alhasil yang
tidak memuaskan. Lelah dengan berbagai rumah sakit dan klinik yang tidak membuahkan
hasil.Akhirnya Zizi dirawat oleh keluarga di rumah. Sakit memanglah sakit, namun bagi
Zizi tak ada yang bisa mengobati rasa sakit selain membaca kitab-Nya dan melihat senyum
orang tua. Memang benar dia pantas diacukan jempol dengan kesabaran, keberanian dan
kesakinahan hati serta keyakinan akan rahasia Allah SWT padanya.
Satu bulan sudah berjalan, Ainun pulang dari lokasi PPL untuk
menengok adinda Zizi. Sampai di rumah ia
salaman kepada orang tua dan keluarga, yang tak lupa pula menziarahi adinda sosok
bidadari kecilnya dengan pelukan hangat sebagai pengobat rindu yang membara. Tidak banyak
kata Ainun langsung melihat ke arah perut adiknya, perutnya membuncit dan keras. Ainun
langsung bertanya kepada ibunda dan keluarga yang setia menemani bidadari kecilnya.
“Ummy
sebenarnya apa penyakit yang diidap adikku?”
”Kata
Dokter dia hanya masuk angin. Cuma heran juga, kok bisa gara-gara masuk angin sakit sampai segitunya…..”
“Tapi
sudah dironsen kan, Ummy?” kata Ainun memotong pembicaraan.
”Sudah,bagian
dalam semuanyabagus tidak ada yang terganggu”. Jawab Ibu sambil menunduk.
Sungguh aneh, sebenarnya apa yang dirahasiakan dokter dengan
keluarga. Masak ia gara-gara masuk angin
keadaannya begitu parah. Berpaling dari pertanyaan hati yang selalu menghantui, Ainun
melihat banyak buku di bawah bantal adinda Zizi, tidak khilaf ada
buku tulis seperti diary yang lengkap dengan polpennya dan
beberapa buku pelajaran. Tidak banyak
tanya sebab itulah Zizi yang tidak bisa pisah dengan buku, kerjanya belajar dan
belajar. Malah sering minta
sama keluarga untuk diantar pergi sekolah meski dalam keadaan sakit parah.
Polemik yang tak berakhir begitu saja, seiring berjalannya waktu
sakit itu menjadijadi sehingga membuat Zizi harus dilarikan kembali ke Rumah
Sakit. Namun, apalah daya hembusan
napas terakhir menghampiri. Tepat jam 01.48 am terdengar kabar akan berita duka
tersebut ke telinga Ainun
selaku kakak terkasih. Karena berada di lokasi PPL, Ainun dijemput oleh Abi dan 2 orang
Pamannya. Sampai di lokasi Abi memencet bel yang ada di depan rumah tempat
persinggahan selama PPL berlangsung.
“Assalaamu’alaikum warahmatullah.......” Ucap Aby. “Nakda ini aby, tolong bukakan gerbang” tambah Aby dengan suara
dinaikkan.
Semua rekan-rekan PPL pada bangun dan membuka gerbang. Tidak banyak
basabasi, Aby mengatakan maksud kedatangannya tengah malam yang sunyi tersebut.
“Nak,
adikmu rindu dan ingin bertemu denganmu. Besok izin saja ngajarnya iya sayang?”
Meski dengan alasan tersebut sebagai pemburam dari tujuan
sesungguhnya Ainun pun telah tahu karena
sebelumnya telah bermimpi yang beralamatkan bahwa bidadari kecilnya telah pergi jauh
meninggalkannya. Ainun tarik napas sedalam mungkin untuk mecegah usungan air mata yang
akan mengalir membasahi pipi dan akan meredupkan cerahan wajah. Tak mengulur
waktu Ainun pun langsung melangkahkan kaki menuju mobil. Namun, tak lupa ia pamitan
sama bunda selaku empunya rumah dan rekan-rekan PPL tercinta.
Dalam perjalanan pulang, Ainun dipeluk dan diberikan
nasihat-nasihat serta varian hiburan
oleh sang Aby. Tapi meski bermakna dan menghumoris yang namanya bathin akan sayang kepada adinda sosok bidadari kecil yang
sangat luar biasa dalam hidupnya. Sosok pendobrak, pelaksana yang shalihah, berani,
tangguh, kuat dan tinggi akan jiwa kesabaran. Meski mendengar humor
se-humornya pun tetap saja merindu akan ditengah sang bidadari. Lama masanya tak merangkai
kata di mobil bersama Aby dan kedua pamannya. Akhirnya sampai juga di persinggahan
tercinta yakni rumah ”the big family Az”. Ainun pun turun dari
mobil, akan tetapi apa yang
terjadi pada dirinya, meski kaki sudah berpijak namun seakanakan tidak berpijak
menyentuh bumi melainkan serasa di atas awan. Apalagi melihat kondisi
rumah yang penuh keharuan,
membuat dirinya sempat hilang kendali. Badan lemas dikarenakan tenaga hempas
begitu saja saat itu. Kejadian yang begitu tiba-tiba menghampiri,
varian jelmaan rasa yang
tidak terkondisikan. Entah apalah daya dan upaya, menyaksikan hal tersebut salah satu uncle berkata:
“Nak,
ingat engkau sudah melalui berbagai tahap pendidikan. Sekarang tilik lagi pendidikanmu, jangan sampai peristiwa ini
menggoyahkan keyakinanmu. Ingat nandaku, kita semua milik Allah swt dan
akan kembali jua kepada-Nya. Tenangkan dirimu, berusahalah menerima keadaan. Sabar njeh
ndhuk....”
Mendengar hal tersebut, Ainun mulai bangkit dan melanjutkan
langkah menuju tempat peristirahatan sang
bidadari. Ainun yang berusaha tegar ternyata tak bisa membendung air mata melihat
sang bidadarinya terbaring kaku dipembaringan. Tak habis pikir kejadian begitu berkala
menyapa. Tanpa basa-basi Ainun langsung memeluk, mencium sang adinda sosok bidadari
kecil tercinta. Tapi apakah yang terjadi, saat mencium kening adiknya, bros yang dipakai
sang kakak berjatuhan tanpa sebab. Apa mungkin karena ikatan bathin yang kuat, sehingga
membuat benda kesayangannya ikut bersedih. Waaaaah itu efek baper aja kali iya, tapi
itulah rasa sayang yang begitu kuat antara kakak dan adik. Malam pu
semakin larut, Ainun menebus
kerinduan dengan tidur di sebelah adiknya yang terbaring kaku. Namun sebelumnya Ainun
tak lupa menyampaikan kabar duka tersebut kepada guru-guru di sekolahnya,
teman-teman dan sahabat. Dalam penyampaian kabar tersebut, tak heran
jika ada yang pingsan,
nangis-histeris mendengar berita duka tersebut. Waktu esok pun tiba, rumah
dibendung pilu penuh keharuan, nampak dari wajahwajah tamu yang datang. Yang
anehnya pula tamu entah dari mana datangnya, orang-orang tidak dikenal berdatangan
dari berbagai sudut dengan visi yang sama yaitu ingin memusyahidkan, mendoakan.
Namun tak habis pikir banyaknya orang yang datang tersebut membuat terheran seketika.
“Engkau mulia, dan semasa nafasmu masih berhembus, tiada lain ucapan
dan amalanmu mendatangkan cahaya syurga. Selamat jalan bidadari kecil semoga
bahagia di alam sana”.
No comments:
Post a Comment