A.
Pengantar
Hadits
sebagaimana telah kita ketahui, merupakan sumber hukum kedua ajaran Islam,
setelah al-Qur’an al-Karim. Allah SWT mengakhiri risalah al-samawiyah-Nya
melalui ajaran Islam, dan Ia mengutus Nabi Muhammad SAW. sebagai Rasul yang
memberikan petunjuk, dan Allah menurunkan al-Qur’an kepadanya sebagai mukjizat
terbesar, bukti yang agung, serta beliau diperintahkan untuk menyampaikan dan
menjelaskannya kepada manusia[1].
Allah berfirman :
إِنَّانَحۡنُ نَزَّلۡنَاٱلذِّكۡرَوَإِنَّالَهُۥلَحَٰفِظُونَ
٩
Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan
sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. al-Hijr : 9)”
Setiap yang datang
dari Rasulullah SAW. selain al-Qur’an, baik berupa penjelasan mengenai
hukum-hukum syari’at, serta perincian yang terdapat di dalam al-Qur’an, serta
penyesuaianya merupakan hadits atau al-Sunnah. Syariat itu berdasarkan wahyu
dari Allah Ta’ala atau melalui ijtihad Rasulullah SAW, hanya saja ijtihad
Rasulullah ini terpelihara dari kesalahan. Atas dasar pemikiran ini, maka
kedudukan as-Sunah sejalan dengan wahyu, yakni al-Qur’an al-Karim adalah wahyu
yang tertulis dan dianggap ibadah bagi yang membacanya, sedangkan al-Sunah
adalah wahyu yang dibacakan, dan tidak dianggap ibadah bagi yang membacanya.[2]
Namun
sungguhpun hadits sebagai sumber kedua ajaran Islam, keadaanya berbeda dengan al-Qur’an.
Perbedaan ini antara lain :
1.
al-Qur’an sejak
turunnya hingga sekarang masih terpelihara keaslianya, sedangkan hadits tidak
terpelihara keaslianya, sebagai akibat dari adanya kalangan yang ingin merusak
dan memecah belah Islam dari dalam.
2.
Bahasa al-Qur’an
bersifat mukjizat yang tidak dapat dipalsukan, sedangkan hadits tidak bersifat
mukjizat dan bahasanya dapat dipalsukan.
3.
al-Qur’an sudah
tercatat dengan lengkap sejak zaman Rasulullah SAW, sedangkan hadits belum
tercatat dengan lengkap, masih berserakan pada para perawi dari kalangan sahabat
dan tabi’in yang tersebar diberbagai wilayah daulat Islamiyah.
Berdasarkan
perbedaan tersebut, maka setiap orang yang ingin menggunakan hadits sebagai
dalil dalam menetapkan hukum, atau menyusun konsep lainya, terlebih dahulu ia
harus meneliti keadaan hadits tersebut. Ilmu yang meneliti keadaan hadits
tersebut adalah Ulum al-Hadits.
B.
Definisi Manhaj
Manhaj (المنهج), nahaj (النهج) atau minhâj (المنهاج)
dari madah: نَهجا– يَنهج – نَهج yang semuanya mempunyai satu makna. Dari segi bahasa manhaj ialah:
اَلطَّرِيْقُ الْبَيِّنُ
الْوَاضِحُ ، وَيُطْلَقُ عَلَى الطَّرِيْقِ الْمُسْتَقِيْمِ اَوِالسُّنَّةِ
“Jalan yang jelas, terang dan dikatakan juga (mengikut) jalan yang lurus atau mengikut sunnah”.
Kata manhaj atau minhâj bermakna jalan yang terang
atau mengikut sunnah. Ia disebut di dalam al-Qur’an sebagaimana firman Allah Azza wa-Jalla:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ
شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“Untuk tiap-tiap umat (antara kamu), Kami berikan aturan dan jalan yang
terang (atau sunnah)”.
Berkata Abu Ja’far, bahwa manhaj ialah: “Jalan yang terang atau
jelas” (الوالبيان اضح). Dan apabila dikatakan (طريق نَهج) berarti “Jalan Yang Terang” atau (بين) “Jelas”.
Menurut Ibn Kathir rahimahullah manhaj ialah:
فَهُوَ الطَّرِيْقُ
الْوَاضِحُ السَّهْلُ
“Maka manhaj ialah jalan yang terang dan mudah”
Manhaj juga dapat difahami menurut sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Abbas
radiallahu ‘anhu yang diriwayatkan dari Mujahid, Ekrimah, Hasan al-Basri dan
selain mereka:
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : سَبِيْلاً اَوْ سُنَّةً
“Berkata Ibnu Abbas Radiallahu ‘anhu bahwa manhâj ialah: Jalan atau sunnah”
سُنَّةُ النَّبِي ، اَوْ الْبَيِّنُ
الْوَاضِحُ
“Manhaj ialah Sunnah Nabi. Atau yang terang dan yang jelas”
Manhaj atau minhâj dimaksudkan juga sebagai mazhab (aliran atau jalan).
Walaupun mazhab sering digunakan untuk aliran fikah tetapi ia sering juga
digunakan atau dimaksudkan dengan maksud yang sama dengan manhaj. Seperti
disebut: “Manhaj as-Salaf as-Soleh atau Mazhab as-Salaf as-Soleh”.
C.
Manhaj Memahami Hadîts (Klasik)
a.
Ijmali (Global)
Metode
ijmali berarti menjelaskan dengan ringkas makna yang dikandung sebuah
hadis secara keseluruhan dengan menggunakan bahasa yang populer dan mudah
dipahami. Metode ini juga berarti menjelaskan secara global apa yang dimaksud
tanpa menerangkan lebih lanjut segala aspek yang berhubungan dengan hadis
tersebut, baik itu sanadnya maupun matannya.
Adapun ciri-ciri metode Ijmaliy antara lain:
1)
Pensyarah
langsung melakukan penjelasan hadis dari awal sampai akhir tanpa perbandingan
dan penetapan judul.
2)
Penjelasan
umum dan sangat ringkas.
Pensyarah tidak memiliki ruang untuk
mengemukakan pendapat sebanyak-banyaknya. Namun demikian, penjelasan terhadap
hadi-hadis tertentu juga diberikan agak luas, tetapi tidak seluas metode tahliliy.
Namun perlu diingat bahwa ciri metode ijmaliy ini tidak terletak pada jumlah hadîts-hadîts yang disyarahkan, apakah
keseluruhan kitab atau sebagian saja. Yang menjadi tolak ukur adalah pola atau
sistematika pembahasan. Selama pensyarah hanya mensyarah hadis secara singkat
maka dapat dikategorikan dalam syarah global.[3]
Metode
ini memiliki kelebihan dan kekurangan:
Kelebihannya antara lain:
a) Ringkas dan padat
Metode ini terasa lebih praktis dan
singkat sehingga dapat segera diserap oleh pembacanya. Syarah tidak
bertele-tele, sanad dan kritik matan sangat minim.
b)
Bahasa
mudah dipahami
Pensyarah langsung menjelaskan kata atau
maksud hadis dengan tidak mengemukakan ide atau pendapatnya secara pribadi.
Kekurangan antara lain:
a) Menjadikan petunjuk hadîts
bersifat parsial
Metode ini tidak mendukung pemahaman hadis
secara utuh dan dapat menjadikan petunjuk hadîts bersifat parsial tidak terkait satu dengan
yang lain, sehingga hadîts yang bersifat umum atau samar
tidak dapat diperjelas dengan hadis yang sifatnya rinci.
b) Tidak ada ruang untuk mengemukakan
analisis yang memadai.
Metode ini tidak menyediakan ruangan yang
memuaskan berkenaan dengan wacana pluralitas pemahaman suatu hadîts. Namun inilah ciri khas metode ijmaliy yang jika pensyarah tidak konsisten dengan pola ini maka ia
otomatis akan keluar dari ranah metode ijmaliy.
b.
Tahlili (Analitis)
Secara
etimologi, kata “tahlili” berasal dari kata kata: حلل-يحلل-تحليلا yang
berarti menguraikan atau menganalisis.[4] Metode
Tahlili (Analitis) atau yang dinamai juga dengan metode tajzi’iy menurut
Baqir al-Shadr merupakan kebalikan dari metode ijmali.[5]
Jika metode ijmali dikatakan sebagai cara menjelaskan sesuatu dengan
ringkas dan global, sebaliknya metode tahlili merupakan penjelasan
secara rinci dan mendetail.[6]
Memahami hadis dengan menggunakan metode ini berarti menjelaskan hadis dengan
memaparkan segala aspek yang berhubungan dengan hadis tersebut, baik itu dari
aspek sanad (perawi), uraian makna kosakata, makna kalimat dan ungkapan yang
terkandung dalam matan, faidah, sampai kepada penjelasan mengenai kualitas, asbab
al-wurud, mukharrij, bahkan pendapat ulama mengenai hadis yang
dimaksud.
Secara umum kitab-kiiab syarh yang menggunakan metode tahlily biasanya
berbentuk ma’tsur (riwayat) atau ra’yu (pemikiran rasional). Syarh yang
berbentuk ma’tsur ditanai dengan banyaknya dominasi riwayat-riwayat yang datang
dari sahabat, tabi’in atau ulama hadis. Sementara syarh berbentuk ra’yu banyak
didomminnasi oleh pemikiran rasiona pensyarhnya.
a)
Pensyarahan
yang dilakukan menggunakan pola menjelaskan makna yang terkandung di dalam hadîts secara komprehensif dan
menyeluruh.
b)
Dalam
pensyarahan, hadîts dijelaskan kata demi kata, kalimat demi kalimat secara berurutan
serta tidak terlewatkan juga menerangkan sabab al-Wurud dari hadis-hadis yang dipahami jika hadis tersebut memiliki sabab wurud-nya.
c)
Diuraikan
pula pemahaman-pemahaman yang pernah disampaikan oleh para sahabat, tabi’ in dan para ahli syarah hadis
lainnya dari berbagai disiplin ilmu
d)
Disamping
itu dijelaskan juga munasabah (hubungan) antara satu hadîts dengan hadîts lain.
e)
Selain
itu, kadangkala syarah dengan metode ini diwarnai kecenderungan pensyarah pada
salah satu mazhab tertentu, sehingga timbul berbagai corak pensyarahan, seperti
corak fiqhy dan corak lain yang dikenal dalam bidang pemikiran Islam.
Adapun kelebihan dan kekurangan
metode ini adalah:
a)
Ruang
lingkup pembahasan yang sangat luas.[8]
b) Memuat berbagai ide dan gagasan.[9]
Kekuranganbya antara lain:
b) Melahirkan syarah yang
subyektif
Dalam metode tahliliy, pensyarah tidak sadar bahwa dia telah
mensyarah hadîts secara subyektif[11]
dan tidak mustahil pula ada di antara mereka yang mensyarahhadîts sesuai dengan kemauan pribadinya tanpa mengindahkan kaidah-kaidah
atau norma-norma yang berlaku.[12]
c.
Muqarran (perbandingan)
Kata
muqaran merupakan masdar dari kata قارن – يقارن -
مقارنة yang berarti perbandingan atau
komparatif. Metode muqaran menekankan kajiannya pada aspek perbandingan
(komparatif). Metode muqaran jika digunakan untuk memahami hadis berarti
menjelaskan makna hadis tersebut dengan cara membandingkannya dengan
hadis-hadis lain atau dengan ayat al-Qur’an.
Dalam
penerapannya, metode ini dapat dibagi menjadi tiga bentuk. Pertama, membandingkan
ayat-ayat al-Qur’an atau hadis yang memiliki kesamaan topik dengan redaksi yang
berbeda. Kedua, membandingkan ayat al-Qur’an dengan hadis, atau antara
hadis satu dengan yang lain yang secara lahir terlihat kontradiktif. Ketiga,
membandingkan pendapat para ulama tentang penafsiran suatu ayat atau hadis.[13]
Ciri-ciri
metode Muqarin antara lain:
1)
Membandingkan anaitis redaksional dan perbandinngan periwayat, serta kandungan makna
dari masing-masing hadis yang diperbandingkan.
2)
Membahas
perbandingan berbagai hal yang dibicarakan oleh hadîts tersebut.
3)
Perbandingan
pendapat para pensyarah mencakup ruang lingkup yang sangat luas karena
uraiannya membicarakan berbagai aspek, baik menyangkut kandungan (makna) hadîts maupun korelasi (munasabah) antara hadîts dengan hadîts.
Jadi, ciri utama metode ini adalah
perbandingan, yang mencakup dua sasaran yakni membandingkan hadits dengan hadîts, dan pendapat ulama syarah dalam mensyarah hadîts.[14]
Kelebihan metode muqaran adalah memberikan pengetahuan yang
lebih luas dibanding metode-metode yang lain, metode ini mendorong seorang
peneliti untuk mengkaji berbagai macam hadis, ayat-ayat al-Qur’an serta
pendapat-pendapat ulama mengenai hadis yang diteliti. Selain itu, dengan metode
ini dimaksudkan dapat diketahui makna sebenarnya dari sebuah ayat atau hadis.
d.
Maudhu’i (tematik)
Secara bahasa kata maudlû’i berasal dari kata موضوع yang merupakan isim
fail dari kata wadla’a yang artinya masalah atau pokok permasalahan.[15]
Metode maudlû’i merupakan sebuah metode memahami hadis dengan menghimpun
hadis-hadis yang terjalin dalam sebuah tema tertentu, yang kemudian dibahas dan
dianalisis sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Misalnya, menghimpun
hadis-hadis yang berbicara tentang puasa ramadhan, ihsan (berbuat baik)
dan lain sebagainya. Menurut Yusuf Qardhawi untuk dapat memahami al-Sunnah dengan
benar adalah dengan cara harus menghimpun semua hadis shahih yang
berkaitan dengan suatu tema tertentu. Selanjutnya mengembalikan kandungannya
yang mutasyabih kepada yang muhkam, yang muthlaq dengan
yang muqayyad, yang ‘am dan yang khas. Sehingga tidak ada
hadis yang bertentangan dan dapat diperoleh makna yang lebih jelas.[16]
Menurut al-Farmawi, metode maudlû’i adalah mengumpulkan
hadis-hadis yang terkait dengan satu topik atau satu tujuan kemudian disusun
sesuai dengan asbâb al-wurûd dan pemahamannya yang disertai dengan
penjelasan, pengungkapan dan penafsiran tentang masalah tertentu. Dalam
kaitannya dengan pemahaman hadis pendekatan tematik (maudl’i) adalah
memahami makna dan menangkap maksud yang terkandung di dalam hadis dengan cara
mempelajari hadis-hadis lain yang terkait dalam tema pembicaraan yang sama dan
memperhatikan korelasi masing-masing sehingga didapatkan pemahaman yang utuh.[17]
Bertitik tolak dari pemikiran Yusuf
al-Qardhawiy diatas, dapat dipahami bahwa ciri-ciri metode
ini adalah:
a)
Menghimpun hadîts- hadîts yang membicarakan satu topik atau permasalahan tertentu.
b)
Memahami
makna dari masing-masing hadîts.
c)
Memahami hadîts secara komprehensif dengan menggunakan
pendekatan tematik.
Dengan metode maudhu’iy pensyarah berupaya
menghimpun hadis-hadis dari kitab-kitab hadis yang berkaitan dengan persoalan
atau topic yang ditetapkan sebelumnya. Kemudian, membahas dan menganalisis
kandungan hadis-hadis tersebut sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh,
sehingga menghasilkan kesimpulan yang mudah dipahami.
D.
Teknik
Interpretasi Hadis (modern)
Teknik
interpretasi merupakan upaya untuk menguak pesan moral hadis Nabi SAW. yang
berlaku universal dan tidak dibatasi tempat dan waktu. Hal ini memerlukan
pemahaman yang mendalam, pandangan dan wawasan yang luas hingga dapat
mengetahui tujuan syariat dan hakikat agama.[18] Oleh
karena itu dalam memahami hadis dapat menggunakan beberapa teknik interpretasi
(cara menafsirkan teks hadis).
Dikenal tiga
teknik interpretasi yaitu interpretasi tekstual, kontekstual dan interkontektekstual.
1.
Interpretasi
Tekstual
Pada
dasarnya, interpretasi tekstual ialah memahami makna dan maksud sebuah hadis
hanya melalui redaksi lahirnya saja.[19] Dr.
Arifuddin Ahmad dalam bukunya “Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi”, mendefenisikan
interpretasi tekstual sebagai salah satu teknik memahami kandungan suatu hadis
nabi berdasarkan teks dan matan hadis semata, tanpa melihat bentuk dan cakupan
petunjuknya, waktu, asbâb al-wurûd, dan sasaran ditujukkannya hadis
tersebut, bahkan tidak mengindahkan dalil-dalil lainnya. Karena itu, setiap
hadis nabi yang dipahami secara tekstual maka petunjuk yang dikandungnya
bersifat universal.
2.
Interpretasi
Kontekstual
Mekanisme dalam memahami hadis dan menghindari deradikalisasi pemahaman
sabda Nabi Saw. Di era modern ini perlu dikembangkan melalui teknik interpretasi
kontekstual. Teknik ini berarti memahami petunjuk hadis dengan mempertimbangkan
konteksnya, yang meliputi bentuk dan cakupan petunjuknya, kapasitas Nabi saat
hadis tersebut dikeluarkan, kapan dan sebab hadis itu terjadi, serta kepada
siapa ditujukan, bahkan mempertimbangkan dalil-dalil lain yang berhubungan
dengan hadis tersebut.
Sedangkan menurut Yusuf Qardhawi, diantara cara yang baik memahami hadis
Nabi SAW. adalah dengan memperhatikan sebab-sebab khusus yang melatarbelakangi
diucapkannya suatu hadis, atau kaitannya dengan suatu ‘illat (alasan/sebab)
yang dinyatakan dalam hadis tersebut ataupun dapat dipahami melalui kejadian
yang menyertainya.[20] Lebih lanjut lagi menurutnya, adakalanya seseorang dengan berpegang pada
pengertian lahiriah suatu sunnah (hadis), tidak menetapkan jiwa sunnah
itu sendiri ataupun maksud hadis yang sebenarnya. Bahkan, bisa
jadi dia melakukan apa yang berlawanan dengannya, meski tampak berpegang
padanya.
Memahami
hadis dengan teknik interpretasi kontekstual ini harus mempertimbangkan
beberapa hal, diantaranya: Pertama, bentuk dan cakupan petunjuk hadis
antara lain yang berupa jawami’ al-Kalim (perumpamaan yang singkat dan
padat), tamtsîl (perumpamaan), ẖiwâr (dialog) serta apakah hadis
tersebut bersifat universal atau temporal dan lokal. Kedua, kapasitas
Nabi dalam kehidupan, baik itu sebagai Nabi dan Rasul, pemimpin negara, seorang
ayah, suami, teman, panglima perang dan sebagainya. Ketiga, latar
historis (asbâb al-wurûd) dan sasaran ditujukannya hadis. Keempat,
‘illat tertentu yang menjadi pemahaman dari hadis dengan mempertimbangkan
dimensi (asas) manfaat dan maslahat.
Dengan
demikian, memahami hadis-hadis Nabi ada yang lebih tepat jika dipahami secara
tekstual, ada juga yang lebih tepat jika dipahami secara kontekstual.
Interpretasi tekstual dilakukan bila hadis yang bersangkutan, setelah
dihubungkan dengan hal-hal yang berkaitan dengannya, tetap menuntut pemahaman
sesuai dengan apa yang tertulis dalam teks hadis tersebut. Adapun interpretasi
kontekstual dilakukan bila ada qarinah (petunjuk) yang mengharuskan
hadis yang bersangkutan dipahami tidak sebagaimana teks lahirnya saja
(tekstual).[21]
3.
Interpretasi Interkontekstual
Interpretasi
interkontekstual adalah suatu teknik untuk memahami hadis dengan memperhatikan
matan hadis lainnya, atau dengan ayat al-Qur’an yang terkait. Dengan kata lain,
ketika kita menggunakan teknik interpretasi interkontekstual, maka kita perlu
memperhatikan teks dan konteksnya. Hal ini sehubungan dengan fungsi hadis
sebagai bayan (penjelas) bagi al-Qur’an dan sebagai penjelas atau
penguat bagi hadis yang lain.[22]
E.
Contoh Manhaj
Ijmaliy, Tahliliy, Muqarran dan Maudhu’iy
Dalam kitab
syarah hadis Hâsyiyah al-Sindiy dipaparkan sebagai berikut:[24]
قَوْله بِضْع
وَسِتُّونَ إِلَخ[25]
Dalam kitab syarah Fath
al-Bâriy bi Syarh Shahih al-Bukhâriy al-‘Asqalâniy memaparkan sebagai
berikut:
قال سمعت رسول الله صلّى الله عليه
و سلّم يقول إنّما الأعمال بالنّيات و إنّم كلّ امرئ ما نوى فمن كانت هجرته الى
دنيا يصيبها أو إلى امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هجر إليها
Dari kutipan syarah di atas dapat diketahui
bahwa dalam menerangkan hadîts, pensyarah mengemukakan
analisis tentang periwayat (râwi) sesuai dengan urutan sanad,[27] sabab
al-wurud,[28] juga menyajikan hadîts
atau riwayat lain yang berhubungan dengan hadîts tersebut[29],
bahkan ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan hadîts. Pensyarah menggunakan
riwayat riwayat dari para ulama. Syarah banyak didominasi oleh pendapat mereka,
sehingga dari uraian yang demikian panjang, pendapat dari pensyarah
hampir-hampir tidak diketemukan. Selain itu juga, disajikan penjelasan kosa
kata yang terdapat didalamnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa meskipun
syarah yang memakai metode analitis ini mengandung uraian yang lebih rinci,
namun karena berbentuk al-ma’tsur , pendapat dari
pensyarah tetap sukar ditemukan. Inilah salah satu ciri utama yang membedakan
secara mencolok dengan Syarh bi-al-ra’yi.
Diantara kitab yang menggunakan syarh
muqârin adalah Umdah al-Qâry Syarh Shahih al-Bukhâriy karya Badr
al-Din Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad al-’Aini, berikut ini adalah syarahnya
tentang hadîts 22 ”إنما
الأعمال بالنيات”
حدثنا الحميدي عبد الله بن الزبير
قال حدثنا يحيى بن سعيد الأنصاري قال أخبرنـي محمّدابن إبراهيم التيمي أنه سمع
علقة بن وقاص الليثي يقول سمعت عمر بن الخطاب رضي الله عنه على الـمنبر قال علقمة
بن وقاص الليثي يقولسمعت عمر بن الخطاب رضي الله عنه يقول سمعت رسول الله عليه
وسلم يقولإنما الأعمال بالنية وإنما لامرىءما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله
Syarah diatas
diawali dengan menjelaskan pemakaian mufradat (suku kata), urutan kata,
kemiripan redaksi.[31]
Jika yang akan diperbandingkan adalah kemiripan redaksi misalnya, maka
langkah-yang ditempuh dapat disimpulkan sebagai berikut:
a) Mengidentifikasi dan menghimpun hadîts yang
redaksinya bermiripan
b) Memperbandingkan antara hadîts yang redaksinya
mirip tersebut, yang membicarakan satu kasus yang sama, atau dua kasus yang
berbeda dalam satu redaksi yang sama
c) Menganalisa perbedaan yang terkandung di
dalam berbagai redaksi yang mirip, baik perbedaan itu mengenai konotasi hadis
maupun redaksinya, seperti berbeda dalam menggunakan kata dan susunannya dalam hadîts,
dan sebagainya
d.
Maudhu’i
Berikut ini adalah contoh metode mawdhu’iy oleh al-Qardhawiy:[33]
Contoh yang dikemukakan al-Qardhawiy
diatas berkenaan dengan larangan memakai sarung sampai bawah mata kaki.
Sebagian orang menjadikan hadîts ini sebagai dalil keharusan memendekkan pakaian. Padahal menurut
al-Qardhawiy, jika sejumlah hadîts tentang permasalahn ini
dikaji, maka akan diketahui maksud hadis tersebut dan dalam konteks apa ia
diucapkan.
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin
‘Umar radhiallahu'anhuma, ia berkata: “Rasulullah Shalallahu 'alaihi
wa sallam bersabda:
مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya
di hari Kiamat kelak.”
Abu Bakar radhiallahu'anhu berkata:
“Sungguh salah satu sisi pakaianku selalu turun kecuali jika aku terus
menjaganya.” Rasulullah Shalallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ
خُيَلاَءَ
“Kamu tidak melakukan itu karena sombong.”[34]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu,
bahwasanya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ
القِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا
“Allah tidak akan melihat kepada
orang yang menjulurkan kain sarungnya karena kesombongan.”[35]
Dan masih diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu,
bahwasanya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ مُرَجِّلٌ
جُمَّتَهُ إِذْ خَسَفَ اللهُ بِهِ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Ketika seorang laki-laki sedang berjalan memakai pakaiannya (atas
dan bawah) dengan rambut sebahu yang tersisir dan dengan perasaan kagum
terhadap diri sendiri tiba-tiba Allah menenggelamkannya ke perut bumi dan ia
terus tenggelam hingga hari Kiamat kelak.”[36]
Masih diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu dari
Nabi Shalallahu
'alaihi wa sallam: “Kain sarung yang berada di bawah mata kaki
tempatnya di Neraka.”[37]
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiallahu'anhu,
ia berkata: “Aku berpapasan dengan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam sementara
sarungku terjulur (di bawah mata kaki). Lantas beliau bersabda: “Wahai ‘Abdullah angkat kain sarungmu!”
Lalu beliau bersabda: “Angkat lagi.” Sejak itu aku selalu menjaganya.” Sebagian
kaum bertanya: “Hingga mana?” Ia menjawab: “Hingga setengah betis.”
Diriwayatkan dari Abu Dzarr radhiallahu'anhu dari
Nabi Shalallahu
'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ
يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
قَالَ: فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللهِوَخَسِرُوا، مَنْ هُمْ ثَلاَثَ مِرَارًا. قَالَ أَبُو
ذَرٍّ: خَابُوا
يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الْمُسْبِلُ، وَالْمَنَّانُ،
وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ
“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada
hari Kiamat kelak, tidak diperhatikan, tidak disucikan dan mereka akan mendapat
siksa yang sangat pedih.” Ia berkata: “Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam mengucapkannya
sebanyak tiga kali.” Abu Dzarr bertanya: “Sungguh sangat jelek dan merugi
mereka itu. Siapa mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Musbil
(orang yang menjulurkan kain hingga di bawah mata kaki), orang yang gemar
mengungkit kebaikan yang telah ia berikan dan seorang yang menjual dagangannya
dan bersumpah dengan sumpah palsu.”[38]
Diriwayatkan dari Abu Juray Jabir bin Salim radhiallahu'anhu,
ia berkata: “Aku melihat seorang laki-laki yang pemikirannya senantiasa
diterima oleh orang banyak dan tidak ada yang mengomentari ucapannya.” Aku bertanya: “Siapa ini?” Mereka
menjawab: “Ini Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam.” Lalu
aku katakan: “’Alaikas salaam ya Rasulullah.”
Sebanyak dua kali. Beliau bersabda:
لاَ تَقُلْ عَلَيْكَ السَّلاَمُ
فَإِنَّ عَلَيْكَ السَّلاَمُ تَحِيَّةُ الْمَيِّتِ قُلِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ
“Jangan kamu katakan ‘alaikas
salaam, karena ucapan ‘alaikas salaam adalah ucapan selamat
terhadap orang mati. Tetapi ucapkanlah: ‘Assalaamu ‘alaika.”
Aku bertanya: “Apakah Anda
Rasulullah?” Beliau menjawab:
أَنَا رَسُولُ اللهِ الَّذِي إِذَا أَصَابَكَ ضُرٌّ فَدَعَوْتَهُ
كَشَفَهُ عَنْكَ وَإِنْ أَصَابَكَ عَامُ سَنَةٍ فَدَعَوْتَهُ أَنْبَتَهَا لَكَ
وَإِذَا كُنْتَ بِأَرْضٍ قَفْرَاءَ أَوْ فَلاَةٍ فَضَلَّتْ رَاحِلَتُكَ
فَدَعَوْتَهُ رَدَّهَا عَلَيْكَ
“Aku adalah utusan Allah,
apabila kamu tertimpa mara bahaya lalu berdo’a kepada-Nya maka mara bahaya
tersebut akan lenyap darimu. Apabila daerahmu sedang dilanda kegersangan lalu
engkau berdo’a kepada-Nya maka bumimu akan kembali subur. Apabila kamu berada
di sebuah padang tandus lalu kendaraanmu hilang kemudian kamu berdo’a
kepada-Nya maka Dia akan kembalikan kendaraanmu itu.”
Aku katakan: “Berikanlah kepadaku
sebuah wasiat.” Beliau bersabda: “Janganlah engkau cela siapapun.” Ia berkata:
“Maka mulai saat itu tidak ada seorangpun yang aku cela baik orang merdeka,
budak, unta maupun kambing.” Beliau bersabda:
وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ
وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ
مِنَ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ
فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ
الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ
وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ
فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ
“Jangan engkau sepelekan perbuatan baik walaupun sedikit.
Berbicara-lah kepada saudaramu dengan wajah yang berseri-seri sebab hal itu
juga sebuah kebaikan. Angkat kain sarungmu hingga setengah betis. Jika engkau
enggan maka julurkan persis di atas mata kaki. Janganlah kamu melakukan isbal,
sebab isbal itu termasuk perbuatan sombong dan Allah tidak menyukai sifat
sombong. Apabila ada seseorang yang mencela dan mencacimu dengan sesuatu yang
ia ketahui dari dirimu maka jangan engkau balas mencercanya dengan sesuatu yang
engkau ketahui dari dirinya, sebab bencana tersebut hanya akan menimpa dirinya
sendiri.”[39]
REFRENCE
Abuddin Nata. 2011.Studi Islam Komprehensif.Jakarta:
Kencana.
Muhammad
Ajjaj al-Khatib. 1309/1989.Ushul Hadits.Beriut: Dar al-Fikr.
M. Quraish Shihab.1996.Wawasan al-Qur’an: Tafsir Tematik atas
Pelbagai Persoalan Ummat, cet.2.Bandung: Mizan.
[1]Maizuddin.
2008.Metodologi Pemahaman Hadis.Padang: Hayfa Press.
Yusuf Qardhawi. 1993.Kaifa Nata’amal Ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah,
terj. Muhammad al-Baqir, cet.1.Bandung: Karisma
Nasaruddin
Umar. 2008.Deradikalisasi pemahaman Al-Qur’an dan Hadis, cet.1.Jakarta:
Rahmat Semesta Center.
Syuhudi
Ismail.1994.Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah Ma’ani al-Hadis
tentang Ajaran Islam Yang Universal, Temporal, dan Lokal.Jakarta: Bulan
Bintang,
[1]Abuddin
Nata,Studi Islam Komprehensif,(Jakarta : Kencana, 2011),hlm.187
[3]Buchari
M, Metode Pemahaman Hadits,
Sebuah Kajian Hermeneutik,(Jakarta: Nuansa Madani,
1999), hlm. 40.
[4]Rusydi
AM,‘Ulum al Qur’an II, (Padang: IAIN IB Press, 2004), hlm.74.
[5]M. Quraish Shihab,Membumikan Al-Qur’an cet.13, (Bandung :
Mizan, 1996), hlm.86.
[6]Abdul
Hayy al-Farmawi,al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu’i: Dirasah Manhajiyyah
Maudhu’iyyah, terj. Rosihon Anwar, cet.1, (Bandung : Pustaka Setia, 2002),
hlm.24.
[7]Buchari
M,Pemahaman Hadits, Sebuah Kajian Hermeneutik,(Jakarta: Nuansa Madani,
1999),hlm.28.
[8]Metode tahliliy dapat menyakup berbagai aspek:
kata, frasa, klausa, kalimat, sabab al-wurud, munasabah (korelasi internal) dan lain
sebagainya.
[9]Memberikan kesempatan yang sangat longgar
kepada pensyarah untuk menuangkan ide-ide, gagasan-gagasannya dalam syarah hadîts dan juga gagasan lain dikemukakan oleh ulama.
[10] Metode tahliliy menjadikan petunjuk hadîts bersifat parsial atau terpecah-pecah, sehingga seolah-olah hadîts memberikan pedoman secara tidak utuh dan tidak konsisten karena syarh
yang diberikan pada hadîts lain yang sama karena kurang
memperhatikan hadîts lain yang mirip atau sama
redaksinya dengannya.
[11]Hal ini dapat dilihat dalam syarah hadîts yang bermuatan hukum, dimana pen-syarah tidak menunjukkan pendapat yang harus dipegang. Ini mengesankan
subjektifitasnua sebagai ulama hadis yang pada dasarnya hanya menyampaikan
sebanyak mungkin informasi tentang hadis-hadis Rasulullah.
[12]Buchari
M, Metode Pemahaman Hadits,
Sebuah Kajian Hermeneutik, (Jakarta: Nuansa Madani,
1999), hlm.32-33.
[13]Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Al-Qur’an ..., h.
65.
[14]Buchari
M, Metode Pemahaman Hadits,
Sebuah Kajian Hermeneutik, (Jakarta: Nuansa Madani,
1999),hlm. 47.
[15]Ahmad
Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus
Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), hlm. 1565.
[16]M. Quraish Shihab,Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Tematik atas
Pelbagai Persoalan Ummat, cet.2, (Bandung: Mizan, 1996), hlm.xiv.
[17]Maizuddin, Metodologi Pemahaman Hadis, (Padang: Hayfa Press,
2008),hlm. 113.
[18]Yusuf Qardhawi,Kaifa Nata’amal Ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah,
terj. Muhammad al-Baqir, cet.1, (Bandung: Karisma, 1993), hlm. 131.
[19]Nasaruddin
Umar,Deradikalisasi pemahaman Al-Qur’an dan Hadis, cet.1, (Jakarta:
Rahmat Semesta Center, 2008), hlm. 21.
[20]Yusuf
Qardhawi, Kaifa Nata’amal Ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah..., hlm. 131.
[21]Syuhudi
Ismail, Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah Ma’ani al-Hadis
tentang Ajaran Islam Yang Universal, Temporal, dan Lokal, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1994), hlm.6.
[22]Contoh
interpretasi interkontekstual, Hadis Rasulullah SAW : Dari Rib’y bin Hirasy
berkata: Seseorang dari Bani ‘Amir menceritakan kepada kami sewaktu ia meminta
izin untuk masuk ke rumah Nabi SAW. Dan waktu itu beliau berada di dalam rumah. Orang itu mengucapkan: “Bolehkah
saya masuk?“. kemudian Rasulullah SAW meminta pelayannya: “Keluarlah dan
ajarkan kepada orang itu tentang tata cara minta izin, katakan kepadanya:”Ucapkanlah,
Assalamu’alaikum, bolehkah saya masuk?”. Orang itu mendengar apa yang
disabdakan Nabi, maka ia mengucapkan: “Assalamu’alaikum, bolehkah saya
masuk?”. Kemudian Nabi SAW memberi izin kepadanya, maka dia pun terus
masuk.
Hadis
ini mengandung petunjuk bahwa jika seseorang ingin memasuki rumah orang lain,
maka terlebih dahulu harus memberi salam dan meminta izinnya. Hal ini sejalan
dengan firman Allah swt. yang berbunyi:
ياايهاالذينامنو
لاتدخلوا بيوتا غير بيوتكم حتى تستانسوا وتسلمو على اهلها ا
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sekalian memasuki rumah yang
bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. (Q.S.
an-Nur:27).
Lebih
lanjut lagi, di hadis yang lain Nabi saw. menjelaskan batas-batas minta izin:
الاستئذان
ثلاث فان اذن لك والا فارجع
Artinya
: Minta izin itu sampai tiga kali. Bila diizinkan maka masuklah kamu, dan
bila tidak ada pulanglah kamu”. Lihat,
Muhammad Bin Ismâ’îl Al-Bukhârî, Shaẖîh Bukhârî Juz 6, (Beirut: Dâr Ibn Katsîr,
2002), hlm. 1558. Lihat juga, Shaẖîh Muslim Juz 3, (Beirut : Dâr
al-Fikr, 1992), hlm. 1693.
[23]Kitab-kitab syarah yang mengikuti metode ini
antara lain Syarah al-Suyuti li Sunan al-Nasa’i karya Jalal al-Din al-Suyuti, Qut al-Mughtazi ’ala
Jami’ al-Turmudzi karya Jalaludin al-Suyuti, ’Aun al-Ma’bud Syarah Sunan
Abi dawud karya Muhammad bin Asyraf bin ’Ali Haidar al-Siddiqi al-’Azim
Abadi.
[24]Abu al- Hasan bin Abu al- Hâdiy al-Sindiy, Hasyiyah al-Sindiy ‘ala Ibn
Majah, Maktabah Shameela,…….
[25]Syarh:
الْبِضْع وَالْبِضْعَة
بِكَسْرِ الْبَاء وَحُكِيَ فَتْحهَا الْقِطْعَة مِنْ الشَّيْء وَهُوَ فِي
الْعَدَد مَا بَيْن
الثَّلَاث إِلَى التِّسْع وَهُوَ الصَّحِيح لِأَنَّهُ قِطْعَة مِنْ الْعَدَد
وَالْمُرَاد مِنْ
الْأَبْوَاب الْخِصَال وَهَذَا كِنَايَة عَنْ الْكَثْرَة فَإِنَّ أَسْمَاء
الْعَدَد كَثِيرًا مَا يَجِيء كَذَلِكَ فَلَا يَرِد أَنَّ الْعَدَد قَدْ جَاءَ فِي
بَيَان الْأَبْوَاب مُخْتَلِف قَوْله ( أَدْنَاهَا )
أَيْ دُونهَا
مِقْدَارًا وَإِمَاطَة الشَّيْء عَنْ الشَّيْء إِزَالَته عَنْهُ وَإِذْهَابه
وَالْمُرَاد بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ مَجْمُوع
الشَّهَادَتَيْنِ عَنْ صِدْق قَلْب أَوْ الشَّهَادَة بِالتَّوْحِيدِ فَقَطْ لَكِنْ
عَنْ صِدْق عَلَى
أَنَّ الشَّهَادَة بِالرِّسَالَةِ بَاب آخَر قَوْله ( وَالْحَيَاء ) بِالْمَدِّ
لُغَة تَغَيُّر وَانْكِسَار يَعْتَرِي الْمُؤْمِن خَوْف مَا يُعَاب بِهِ وَفِي
الشَّرْع خُلُق يَبْعَث عَلَى اِجْتِنَاب الْقَبِيح وَيَمْنَع مِنْ التَّقْصِير
فِي حَقّ ذِي الْحَقّ وَالْمُرَاد هُنَا اِسْتِعْمَال هَذَا الْخُلُق عَلَى
قَاعِدَة الشَّرْع وَقِيلَ الْحَيَاء نَوْعَانِ نَفْسَانِيّ وَإِيمَانِيّ
فَالنَّفْسَانِيّ الْجِبِلِّيّ الَّذِي خَلَقَهُ اللَّه فِي النُّفُوس
كَالْحَيَاءِ
مِنْ كَشْف الْعَوْرَة
وَمُبَاشَرَة الْمَرْأَة بَيْن النَّاس حَتَّى نُفُوس الْكَفَرَة وَالْإِيمَانِيّ
مَا يَمْنَع الشَّخْص مِنْ فِعْل الْقَبِيح بِسَبَبِ الْإِيمَان كَالزِّنَا
وَشُرْب الْخَمْر وَغَيْر ذَلِكَ مِنْ الْقَبَائِح وَهَذَا هُوَ الْمُرَاد فِي
الْحَدِيث وَالشُّعْبَة غُصْن الشَّجَرَة
وَفَرْع كُلّ أَصْل وَالتَّنْكِير فِيهَا لِلتَّعْظِيمِ أَيْ شُعْبَة عَظِيمَة
لِأَنَّهُ يَمْنَع تَمَام الْمَعَاصِي
1. Kitab Fath al Bȃrȋ bi Syarh Shahȋh al-Bukhȃry oleh Ibnu Hajaral
Atsqalany
2. Irsyȃd al-Sȃrȋ li Syarh Shahȋh al-Bukhȃry oleh Al-Abbas
Syihab ad Din Ahmad bin Muhammad al Qastalani.
3. Al-Kawȃkib ad-Darȃr ri fi Syarh Shahȋh al-Bukhȃry oleh Syams ad
Din Muhammad bin Yusuf bin Ali al Kirmani.
4. Syarh al-Zarqȃni ‘ala Muwatta’ al Imam Malik oleh Muhammad
bin Abd al Baqi’ bin Yusuf al-Zarqani.
قوله حدثنا (الحميدي (هو أبو بكر(عبد الله بن
الزبير) بن عيسى منسوب إلى حميد بن أسامة بطن من بني أسد بن عبد العزى بن قصي رهط
خديجة زوج النّبي صلّى الله عليه و سلّم يجتمع معها في أسد ويجتمع مع النّبي صلّى
الله عليه وسلّم في قصي وهو إمام كبير مصنف
ولعل قائله استند إلى ماروى في قصة مهاجر أم
قيس قال دقيق العيد نقلوا أن رجلا هاجر من مكة إلى المدينة لا يريد بذلك
فضيلة الهجرة وإنما هاجر ليتزوج امرأة تسمى أم قيس
…فزادت على مانقل عمن تقدم كما سيأتي مثال لذالك في الكلام على
حديث بن عمر في غسل الجمعة إن شاءالله تعالى قوله على المنبر بكسر الميم و اللام
للعهد أي منبر المسجد النبوي و وقع في رواية حماد بن زيد عن يحي في ترك الحيل سمعت
عمر يخطب قوله إنما الأعمال بالنيات
[30]Diantara
Kitab yang menggunakan metode muqarin ini adalah Sahih Muslim bi Syarh al-Nawawi karya
Imam Nawawi, Umdah al-Qari Syarh S}ahih al-Bukhari karya
Badr al-Din Abu Muhammad Mahmud al-’Aini, dan lain-lain
[31]Seperti terlihat
dalam syarah: قد حصل من الطرق المذكورة أربعة ألفاظ
“إنما الأعمال بالنيات” و” الأعمال بالنية” و “العمل بالنية” وادعى النووي في
تلخيصه قلتـهاز والرابع “إنـما الأعمال بالنية” وأورده القضاعي في الشهاب بلفظ
“الأعمال بالنيات” بحذف “إنما”
Selain al-Ainiy, Imam al-Nawawiy dalam syarahnya
juga menerapkan metode ini, seperti contoh:
باب السواك
قال أهل اللغة السواك بكسر السين وهو يطلق على
الفعل وعلى العود الذي يتسوك به وهو مذكر قال الليث وتؤنثه العرب أيضا قال الأزهري
هذا من عدد الليث أى من أغاليطه القبيحة وذكر صاحب المحكم أنه يؤنث ويذكر والسواك
فعلك بالسواك ويقال ساك فمه يسوكه سوكا فان قلت استاك لم يذكر الفم وجمع السواك
سوك بضمتين ككتاب وكتب وذكر صاحب المحكم أنه يجوز أيضا سؤك بالهمز ثم قيل أن
السواك مأخوذ من ساك إذا دلك وقيل من جاءت الابل تساوك أى تتمايل هزالا وهو في
اصطلاح العلماء استعمال عود أو نحوه في الاسنان لتذهب الصفرة وغيرها عنها والله
أعلم
(Lihat:Abu
Zakaria Yahya ibn Syaraf al-Nawawiy, Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawiy (selanjutnya
disebut Syarh al-Nawawiy), (Mesir: al-Mathba’ah al-Mishriyyah, 1929), juz
III, hlm. 142
[32]Pada syarah diatas pensyarah membandingkan
pendapat imam madzhab fiqh mengenai permasalahan niat dalam ibadah. Dalam Syarh
al-Nawawiy perbandingan ini juga ditemukan:
( لولا أن أشق على المؤمنين أو على أمتى لأمرتهم بالسواك عند كل
صلاة ) فيه دليل على أن السواك ليس بواجب قال الشافعي رحمه الله تعالى لو كان
واجبا لأمرهم به شق أو لم يشق قال جماعات من العلماء من الطوائف فيه دليل على أن
الأمر للوجوب وهو مذهب أكثر الفقهاء وجماعات من المتكلمين وأصحاب الأصول قالوا وجه
الدلالة أنه مسنون بالاتفاق فدل على أن المتروك ايجابه وهذا الاستدلال يحتاج في
تمامه إلى دليل على أن السواك كان مسنونا حالة قوله صلى الله عليه و سلم لولا أن
أشق على أمتى لأمرتهم وقال جماعة أيضا فيه دليل على أن المندوب
(Lihat:
Al-Nawawiy……hlm.143)
[33]Yusuf al-Qardhawiy, Kaifa
Nata’âmal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah,(Qahirah: Dar al-Syuruq,
2002),hlm,123-124.
[35] HR. Al-Bukhari (5788) dan Muslim (2087).
[37]Al-Bukhari (5787).
[38]HR. Muslim (2086).
[39]Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (4084), at-Tirmidzi
(2722), Ahmad (V/63,64). Saya katakan: “Sanadnya shahih.”
No comments:
Post a Comment