SAINS ISLAM: ONTOLOGI SCIENCE DAN METAFISIKA
Ida
Rohyatul Aini
Sebagai
insan, sudah merupakan sifat alami kita untuk berpikir. Adapun yang membedakan
manusia dengan makhluk hidup lainnya adalah adanya dorongan untuk melakukan
kegiatan tersebut yakni thinking being. Jadi, suatu yang wajar jika kita selalu
mempertanyakan setiap hal.
A.
Pendahuluan
Alam semesta
merupakan tempat berbagai makhluk hidup dan benda tak hidup. Makhluk hidup
seperti manusia dan hewan menjalani kehidupan mereka di alam semesta dengan
menggunakan berbagai pengetahuan yang mereka miliki. Hewan mungkin memiliki knowledg,
namun pengetahuan yang dimiliki hewan adalah pengetahuan berdasarkan insting
dan berifat statis, sedangkan pengetahuan yang dimiliki manusia bersifat
dinamis, terus-menerus berkembang dari zaman ke zaman. Manusia merupakan
makhluk Allah; dengan akalnya, manusia mencerna berbagai pengalaman, maupun
merenung, melakukan refleksi terhadap pengalamannya, serta melakukan penalaran
dan penelitian terhadap lingkungannya. Kegiatan ini dilakukan manusia sepanjang
hidupnya sehingga ia memproleh ilmu yang terus dikembangkannya. Inilah yang
membedakan kemampuan manusia dengan hewan.[1]
Filsafat tidak terlepas dari kehidupan kita,
karena kehidupan ini merupakan sebuah perjalanan hidup. Banyak diajukan
pertanyaan mengenai asal dan tujuannya. Pada hakekatnya filsafat lahir karena
banyak orang mempertanyakan asal-usul kehidupan ini. Hidup adalah pencarian,
suatu pencarian yang abadi, sebuah proyek yang tidak dapat digenggam
sepenuhnya. Metafisika merupakan salah satu cara untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang muncul serta menjelaskan dahaga intelektual manusia.
Filsafat sebagai pengetahuan yang sistematis termasuk metafisika yang bertolak
dari rasa heran dan rasa ingin tahu (curiousity). Dari keheranan dan
rasa ingin tahu inilah manusia banyak mempertanyakan tentang “Siapakah aku?”,
“Dari mana asalku?”, ”Apa arti hidup ini?”, “Apa makna dunia di sekitarku?”,
dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Aristoteles mengatakan bahwa berfilsafat
dimulai dari rasa heran dan juga mau memahami serta mau mempelajarinya. Oleh
karena itu dalam makalah ini kami akan mejelaskan beberapa hal mengenai
ontologi ilmu, suatu analisis filsafat tentang kenyataan dan keberadaan yang
berkaitan dengan hakikat “ada”. Dan juga salah satu cara untuk mempelajari
filsafat dengan cara “metafisika”.
B. Hakikat Ontologi Ilmu
1.
Ontologi
Ontologi ialah ilmu yang membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang
dapat dipikirkan manusia secara rasional dan yang bisa diamati melalui
pancaindra manusia. Wilayah ontologi ilmu terbatas pada jangkauan pengetahuan
ilmiah manusia. Sementara kajian objek[2]
penelaahan yang berada dalam batas pra-pengalaman (seperti penciptaan manusia)
dan pasca-pengalaman (seperti surga dan neraka) menjadi ontology dari
pengetahuan lainnya di luar ilmu.[3] Beberapa
tafsiran metafisika yang paling pertama yang diberikan oleh manusia terhadap
alam ini adalah bahwa terdapat wujud yang bersifat lebih tinggi atau lebih
kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.[4] Dengan
demikian, metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang
membicarakan prinsip paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang
ada.[5]
Di dalam pemahaman ontologi dapat diketahui pandangan-pandangan
pemikir sebagai berikut:
Menurut Pandangan The Liang Gie, Ontologi adalah bagian dari filsafat dasar
yang mengungkap makna dari sebuah eksistensi yang pembahasannya meliputi
persoalan-persoalan: 1) Apakah artinya ada, hal ada?, 2) Apakah
golongan-golongan dari hal yang ada?, 3) Apakah sifat dasar kenyataan dan hal
ada?, 4) Apakah cara-cara yang berbeda dalam mana entitas dari
kategori-kategori logis yang berlainan (misalnya objek-objek fisis, pengertian
universal, abstraksi dan bilangan) dapat dikatakan ada?.[6]
Ariestoteles mendefinisikan, ontologi yaitu tentang hal ada sebagai hal ada
(hal ada sebagai demikian) mengalami perubahan yang dalam, sehubungan dengan
objeknya. Dan adapun ontologi menurut Ensiklopedi Britannica yang diangkat dari
konsepsi Ariestoteles, yaitu teori atau studi tentang being/wujud seperti
karakteristik dasar dari seluruh realitas. Ontologi sinonim dengan metafisika
yaitu, studi filosofis untuk menentukan sifat nyata yang asli (real nature)
dari suatu benda untuk menentukan arti, struktur dan prinsip benda tersebut. [7]
2.
Ilmu (Science)
Kata ilmu berasal dari kata dalam bahasa inggris “science”.[8]
Kata science ini berasal dari kata latin scientia yang berarti
pengetahuan. Kata scientia ini berasal dari bentuk kata scier
yang artinya mempelajari, mengetahui. Pada mulanya cakupan ilmu (science)
secara etimologis menunjuk pada pengetahuan semata-mata, pengetahuan mengenai
apa saja (Dampier,1986). Pertumbuhan selanjutnya pengertian ilmu (science)
ini mengalami perluasan arti, sehingga menunjuk pada segenap pengetahuan
sistematik (systematic knowledge). Pemakaian yang luas dari kata ilmu (science)
ini diteruskan dalam bahasa Jerman dengan istilah Wissenchaft yang
berlaku terhadap kumpulan pengetahuan apapun yang teratur, termasuk di dalamnya
Naturwissenchaften yang mencakup ilmu-ilmu kealaman maupun Geisteswissenchaften
yang mencakup ilmu pengetahuan kemanusiaan (the Humanities), sementara
dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai ilmu-ilmu budaya yang pada umumnya
mencakup pengetahuan-pengetahuan tentang bahasa dan sastra, estetika, sejarah,
filsafat, dan agama (Dampier,1966).[9]
A. Thomson dalam Sidi Gazalba menggambarkan ilmu adalah pelukisan
fakta-fakta pengalaman secara lengkap dan konsisten dalam istilah-istilah yang
sesederhana mungkin, .. pelukisan secara lengkap dan konsisten itu melalui
tahap pembentukan definisi, melakukan analisa, melakukan pengklassifikasian dan
melakukan pengujian.[10]
Jujun S. Uriasumantri menggambarkannya
dengan sangat sederhana namun penuh makna, ilmu adalah seluruh pengetahuan yang
kita miliki dari sejak bangku SD hingga Perguruan Tinggi.[11]
Beerling ,
Kwee, Mooji dan Van Peursen menggambarkannya lebih luas, ilmu timbul
berdasarkan atas hasil penyaringan, pengaturan, kuantifikasi, obyektivasi,
singkatnya, berdasarkan atas hasil pengolahan secara metodologi terhadap arus
bahan-bahan pengalaman yang dapat dikumpulkan. Sehingga dengan demikian, ilmu
adalah kumpulan pengetahuan secara holistik yang tersusun secara sistematik
yang teruji secara rasional[12]
dan terbukti empiris. Ukuran kebenaran ilmu adalah rasionalisme dan empirisme
sehingga kebenaran ilmu bersifat
rasional dan empiris.
Ilmu dapat
dipandang sebagai suatu kegiatan manusia yang melibatkan berbagai komponen
seperti: objek yang yang ditelaah, metode yang dipakai untuk menelaah objek
tersebut, hasil telaah itu disusun secara sistematik, kebenarannya dapat di
pertanggung jawabkan secara umum.[13]
C. Ontologi dalam Filsafat Ilmu
Ontologi dalam
fiilsafat ilmu adalah studi atau
pengkajian mengenai sifat dasar ilmu yang sifat dasar itu menentukan arti,
struktur dan prinsip ilmu.
D. Struktur Ilmu
Secara
garis besar ilmu atau sains dibagi dua,[14]
yaitu:
1.
Sains Sosial
· Sosiologi: komunikasi, politik, pendidikan
· Antropologi: budaya, ekonomi, politik
· Psikologi: pendidikan, anak, abnormal
· Ekonomi: makro, lingkungan, pedesaan
· Politik: dalam negeri, hukum, internasional
2.
Sains ke-alam-an,
·
Astronomi,
·
Fisika:
mekanika, bunyi, cahaya dan optik, fisika, nuklir
·
Kimia:
kimia organik dan kimia teknik
·
Ilmu bumi:
paleontologi, ekologi, geofisika, geokimia, mineralogi, geografi
·
Ilmu hayat:
biofisika, botani, zoologi
3.
Humaniora[15]
·
Seni:
abstrak, grafika, pahat, tari
·
Hukum: pidana,
tata usaha negara, adat
·
Filsafat:
logika, etika,estetika
·
Bahasa:
sastra
·
Agama: Islam,
Kristen, Confusius
·
Sejarah:
Indonesia, dunia
E. Ontologi dalam Struktur Ilmu, Posisi dan Peran Pentingnya
Ontologi
menempati posisi yang demikian pentingnya karena ia menempati posisi landasan
yang terdasar dari fondasi ilmu dimana disitulah terletak “undang-undang
dasarnya” dunia ilmu. Ontologi sebagai landasan terdasar dari ilmu adalah dunia
yang jarang dikaji karena keberadaannya yang nyaris tak terlintas dibenak
sebagian besar para pengguna ilmu. Pada lapisan ontologi diletakkannya
“undang-undang dasar” dunia ilmu oleh para pendiri sains modern pada masa renaisans
yang merupakan penentu dari “hendak dibentuk seperti apakah ilmu yang akan
dibangun ini”, “ketujuan manakah ilmu ini diarahkan”, dalam konteks sebagai
alat untuk membangun peradaban maka “peradaban seperti apakah yang ingin
diwujudkan” dan “sebenarnya sedang menuju kearah manakah kita dengan menunggang
sains modern saat ini?”.
F. Dasar-dasar Metafisika
Metafisika[16]
(Yunani: meta ta physica) berarti “setelah fisika”, berasal dari akar
kata meta dengan arti “setelah (after)” atau “di luar (beyond)”;
dan physical dengan arti “mengenai alam (pertaining to nature)”
atau physis yang berarti “alam (nature), atau “berkaitan dengan
fisika (physical)”.[17]
Pemahaman etimologis tentang kata metafisika di atas, bila diturunkan dalam pemahaman
konsepsional, menurut Dagobert D. Runes, dapat diartikan segala sesuatu yang
berkaitan dengan dunia di luar fisik (supra-physical),[18]
semisal bahasan mengenai akal dan tubuh, substansi dan aksiden, keajaiban,
sebab dan kategori keberadaan benda.[19]
Metafisika
adalah suatu kajian tentang hakikat keberadaan zat, hakikat pikiran dan hakikat
zat dengan pemikiran. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas
pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia, termasuk keberadaan, kebendaan,
sifat, ruang, waktu, hubungan sebab akibat, dan kemungkinan. Metafisika oleh
Aristoteles disebut sebagai filsafat pertama atau thelogia, dalam
pandangan Aristoteles, metafisika belum begitu jelas dibedakan dengan fisika.
Secara etimologis metafisika berasal dari bahasa Yunani, meta ta fisika
yang menurut Lois O. Katsiff adalah hal-hal yang terdapat sesudah fisika,
Aristoteles mendefinisikannya sebagai ilmu pengetahuan mengenai yang ada
sebagai yang ada, yang dilawankan misalnya dengan yang ada sebagai yang
digerakkan atau yang ada sebagai yang jumlahkan. Pada masa sekarang, metafisika
dipahami sebagai bagian dari filsafat yang mempelajrari dan berusaha menjawab
pertanyaan-pertanyaan terdalam tentang hakikat segala sesuatu.
Pertanyaan-pertanyaan filosofis tersebut membahas dan tertuju pada beberapa
konsep metafisik, dengan kata lain yang lebih tepat agaknya adalah-konsep di
luar hal-hal yang bersifat fisik. Jadi dapat disimpulkan bahwa metafisika
adalah suatu studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realita.
G. Klasifikasi Metafisika
Menurut
Chritian Wolf metafisika terbagi menjadi dua jenis, pertama Metaphysica
Generalis (Ontologi); ilmu yang membahas mengenai yang ada atau pengada
atau yang lebih dikenal sebagai ontology, kedua Methaphysica
Specialis yang terbagi atas: 1) Antropologi; menelaah tentang hakikat
manusia, terutama hubungan jiwa dan raga, 2) Kosmologi; menelaah tentang
asal-usul dan hakikat alam semesta, 3) Theologi; kajian tentang Tuhan secara
rasional, yang meliputi: (a) Hakikat kodrat manusia, (b) Susunan kodrat, (c) Sifat
kodrat, (d) Kedudukan kodrat, (e) Kosmologi filsafati.
Namun pada
umumnya persoalan-persoalan metafisis dapat diklasifikasikan kedalam 3 bagian,
yaitu: ontologi (metafisika umum), kosmologi, dan antropologi.
(a)
Persoalan
Ontologi, misalnya: apa yang dimaksud dengan, keberadaan atau eksistensi itu?
Bagaimanakah penggolongan keberadaan atau eksistensi?
(b)
Persoalan-persoalan
Kosmologis (alam), persoalan yang bertalian dengan asal-mula, perkembangan dan
struktur alam. Misalnya: Jenis keteraturan apa yang ada dalam alam? Apa hakikat
hubungan sebab dan akibat? Apakah ruang dan waktu itu?
(c)
Persoalan-persoalan
Antropologi (manusia), misalnya: Bagaimana hubungan antara badan dan jiwa?
Apakah manusia itu memiliki kebebasan kehendak atau tidak?[20]
Filsafat alam
berusaha mencari asal alam, Thales berpendapat sebagai arche. Filsafat
alam menyelidiki gerak alam semesta yang merupakan perubahan. Sementara itu
Driyakara menyamakan metafisika dengan ontology, ia menyatakan bahwa
filsafat tentang ada dan sebab-sebab pertama adalah metafisika atau ontology,
yang disamping membahas tentang ada dan sebab-sebab pertama tersebut, juga membahas mengenai apakah kesempurnaan
itu, apakah tujuan itu intinya adalah apakah hakikat dari segala sesuatu itu.
H.
Aliran-aliran
Metafisika
Persoalan
metafisika dalam hal keberadaan menimbulkan beberapa aliran metafisika. Ada
yang melihat persoalan keberadaan itu dari segi kualitas dan kuantitas. Aliran
metafisika yang melihat keberadaan dari segi kualitas yaitu: materialisme[21]
dan spiritualisme[22].
Aliran metafisika yang melihat keberadaan dari segi kuantitas adalah monisme,[23]
dualisme,[24]
dan pluralisme[25].
I.
Posisi
Metafsisika dalam Objek Filsafat
1.
Objek Filsafat
Objek filsafat adalah
sesuatu yang merupakan bahan dari suatu penelitian atau pembentukan pengetahuan.
Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai objek yang di bedakan menjadi dua yaitu
objek material dan dan objek formal.[26]
a)
Objek material filsafat
yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan
itu. Objek material adalah hal yang diselidiki, dipandang atau disorot oleh
suatu disiplin ilmu. Objek material mencangkup hal-hal yang konkret ataupun
hal-hal yang abstrak.
b)
Objek formal yaitu
sudut pandang yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan
pengetahuan itu. Objek formal filsafat yaitu pandangan yang menyeluruh secara
umum, sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materialnya. Objek formalnya
membahas objek material itu sampai ke hakikat atau esensi yang dihadapinya.
2.
Metafisika di dalam
Objek Filsafat
Metafisika adalah cabang filsafat yang harus di teliti keberadaanya.
Metafiska berkaitan dengan objek formal filsafat yaitu menelaah secara
keseluruhan sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materialnya.
Adapun objek formalnya membahas objek material itu sampai ke hakikat atau
esensi yang dihadapinya. Dan adapun objek metafisika itu sendiri menurut Prof.
B. Delfgaauw adalah objek yang tidak dapat ditangkap dengan panca indera.[27]Menurut
Hoffmann objek metafisika adalah pikiran, gerak waktu, sebab, akibat, tujuan,
cara, hukum, moral, dan sebagainya.
J.
Manfaat
Metafisika dalam Pengembangan Ilmu
Manfaat
metafisika bagi pengembangan ilmu:
1)
Kontribusi
metafisika terletak pada awal terbentuknya paradigma ilmiah, ketika kumpulan
kepercayaan belum lengkap pengumpulan faktanya, maka ia harus dipasok dari luar
antara lain: metafisika, sains yang lain, kejadian personal dan historis.
2)
Metafisika
mengajarkan cara berfiir yang serius, terutama dalam menjawab problem yang
bersifat enegmatif (teka-teki), sehingga melahirkan sikap dan rasa ingin tahu
yang mendalam.
3)
Metafisika
mengajarkan sikap open-ended, sehingga hasil sebuah ilmu selalu terbuka
untuk temuan dan kreativitas baru.
4)
Perdebatan dalam metafisika melhirkan berbagai aliran,
mainstream seperti: monisme, dualisme, pluralisme, sehingga memicu proses
ramifisik, berupa lahirnya percabangan ilmu.
5)
Metafisika
menuntut orisinalitas befikir, karena setiap metafisikus menyodorkan cara
berfikir yang cenderung subjektif dan menciptakan terminologi filsafat yang
khas. Situasi semacam ini diperlukan untuk pengembangan ilmu dalam rangka
menerapkan heuristika.
6)
Metafisika
mengajarkan pada peminat filssafat untuk mencari prinsip pertama (first
principle) sebagai kebenaran yang paling akhir. Kepastian ilmiah dalam
metode skeptic Descartes hanya dapat diperoleh jika menggunakan metode
deduksi yang bertitik tolak dari premis yang paling kuat (cogito ergo sum)
Skeptis-Metodis Rene Descartes.[28]
7)
Manusia yang
bebas sebagai kunci bagi akhir pengada, artinya manusia memiliki kebebasan
untuk merealisasikan dirinya sekaligus bertanggung jawab bagi diri, sesama, dan
dunia. Penghayatan atas kebebasan di satu pihak dan tanggung jawab di pihak
lain meruppakan sebuah kontribusi penting bagi pengembangan ilmu yang sarat
dengan nilai.
8)
Metafisika
mengandung potensi untuk menjalin komunikasi antara pengada yang satu dengan
pengada yang lain. Aplikasi dalam ilmu berupa komunikasi antar ilmuwan mutlak
dibutuhkan, tidak hanya antar ilmuwan sjenis, tetapi juga antar disiplin ilmu,
sehingga memperkaya pemahaman atas realits ilmuwan.
DAFTAR PUSTAKA
Aceng Rahmat, ET’ AL.2011.Filsafat
Ilmu Lanjutan, cet ke-1.Jakarta: Kencana Prenda Media Group.
Anshari,Endang Saifuddin..1987.Ilmu,Filsafat
dan Agama.Bandung: PT Bina Ilmu Surabaya.
Bagus,Lorens.1991.Metafisika.Jakarta:gramedia
pustaka Utama.
Suraiyo.Filsafat Ilmu dan perkembangannya di
Indonesia.2007.Jakarta: PT Bumi Aksara.
Nasution,Andi Hakim.2000. Filsafat Ilmu.Jakarta: cv. Mulia
Sari.
A. Susanto.2011.Filsafat Ilmu.Jakarta: Bumi Aksara.
Galzaba,Sidi.1973.Sistematika
Filsafat.Jakarta: Bulan Bintang.
Angeles,Peter
A.tt...A Dictionary of Philosophy.London: Harpe & Row Publisher.
Runes,Dagobert D.1971.Dictionary
Philosophy.New Jersey: Littlefield, Adams & CO.
Blakburn,Simon.tt..The Oxford
Dictionary of Philosophy.New York: Oxford University Press.
Surajiyo.2008.Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia,cet
3.Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Dov. M. Gabbay, Paul Thagard, and John Woods. Ebook of General Philosophy of Science.
Bakker,Anton.1992.Antologi atau Metafisika Umum: Filsafat
Pengada dan Dasar-dasar Kenyataan, Cet. Ketujuh.Yogyakarta: Kanisius
(IKAPI.
Nataatmadja,Hidayat.1993.The Grand Theory of Science.Bogor:
Yayasan Humanika.
Gie,The Liang.1977.Suatu Konsepsi ke Arah Penertiban Bidang
Filsafat.Yogyakarta: Karya Kencana.
J.F,Lyotard.1983. “persentations” dalam Alan Monfiore 9ed).Philosophy
in France Today.Cambridge: Cambridge University Press.
Whitehead,A.N.1979.Process of Relity.Titus, Smith and
Nolan.199.Living Issues in Philosophy.Terjemahan: H.M. Rasyidi.Persoalan-persoalan
Filsafat.Jakarta: Bulan Bintang.
Musytasir,Rizal.1997.Aliran-aliran Metafisika: Studi Kritis
Filsafat Ilmu dimuat dalam Jurnal Filsafat.
Runes,D.1979.Dictiionary of Philosophy.Totowa, New Jersey: Littlefield Adams & Co.
Ewing,A.C.1962.The Fundamental Question of Philosophy.New
York: Collier Books.
Syafii,Inu Kencana.2004.Pengantar Filsafat, Cet. I.Bandung:
Refika Aditama.
[1]Aceng Rahmat, ET’ AL,Filsafat Ilmu Lanjutan, cet
ke-1,(Jakarta: Kencana Prenda Media Group,2011).hlm.102.
[2]Obyek telaah ontologi adalah yang ada tidak terikat pada satu
perwujudan tertentu, ontologi membahas tentang yang ada secara universal, yaitu
berusaha mencari inti yang dimuat setiap kenyataan yang meliputi segala
realitas dalam semua bentuknya. Lihat Inu Kencana Syafii,Pengantar Filsafat,cet.1,(Bandung:
Refika Aditama,2004).hlm.9. Dan lihat juga Sulesana,Ontologi, Epistimologi
dan Aksiologi, dalam jurnal volume 8 nomor 2 tahun 2013.hlm.36.
[3]Sabarti Akhadiah dan Winda Dewi Listyasari,Filsafat Ilmu Lanjutan (Jakarta:
Prenada Media Group).hlm.143.
[4]Andi Hakim Nasution, Filsafat Ilmu,(Jakarta: cv. Mulia
Sari,2000).hlm.64.
[5]A. Susanto,Filsafat Ilmu,(Jakarta: Bumi Aksara,2011).hlm.91.
[6]The Liang Gie,Suatu Konsepi ke arah Penerbitan Bidang Filsafat,(Yogyakarta:
Karya Kencana,1977).hlm.80.
[8]Ilmu berasal dari bahasa Arab “alima” sama dengan kata dalam
bahasa Inggris “sciences” yang berasal dari bahasa latin “scio” atau “scire” yang kemudian di
Indonesiakan menjadi sains.
[9]Rizal Musytasir,Aliran-aliran Metafisika: Studi Kritis Filsafat
Ilmu,(ttp: Jurnal Filsafat,Juli 1997),hlm.2-3.
[10]Sidi Galzaba,Sistematika Filsafat,(Jakarta: Bulan Bintang,1973).hlm.54.
[11]Sidi Galzaba,Sistematika Filsafat,(Jakarta: Bulan
Bintang,1973).hlm.54-55.
[12]Hipotesis harus berdasarkan rasio, dengan kata lain hipotesis harus
rasional. Lihat Ahmad Tafsr,Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi,
dan Aksiologi Pengethuan,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2004).hlm.23.
[13]Rizal Musytasir,Aliran-aliran Metafisika: Studi Kritis Filsafat
Ilmu,(ttp: Jurnal Filsafat,Juli 1997),hlm.3.
[14]Ahmad Tafsir,Filsafat Ilmu: Mengurai
Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan,(Bandung: PT Remaja
Rosdakarya,2004).hlm. 25-26.
[15]Agar lebih lengkap, Prof.Dr. Ahmad Tafsir menambahkan bagian dari
sains, yaitu Humaniora (yang mungkin dapat digolongkan dalam sains sosial)
dalam daftar atas hanyalah dengan tujuan agar tampak lengkap.
[16]Metafisika adalah cabang filsafat yang membahas persoalan tentang
keberadaan (being) atau eksistensi (existensi). Istilah
metafisiska berasal dari kata Yunani meta ta physika yang dapat
diartikan sesuatu yang ada di balik atau di belakang benda-benda fisik.
Ariestoteles tidak memakai istilah metafisika melainkan proto philosophia
(filsafat pertama). Filsafat pertama ini memuat uraian tentang sesuatu yang ada
di belakang gejala-gejala fisik seperti bergerak, berubah, hidup, mati.
Metafisika dapat didefinisikan sebagai studi atau pemikiran tentang sifat yang
terdalam (ultimate nature) dari kenyataan atau keberadaan.
Arietoteles menyebut beberapa istilah yang maknanya setara dengan
metafisika, yaitu: Filsafat pertama (First Philosophy), pengetahuan
tentang sebab (knowledge of cause). Studi tentang ada sebagai ada (the
study of being as being), studi tentang Ousia (Being), studi tentang
hal-hal abadi dan yang dapat bergerak (the study of the eternal and
immovable), dan Theology. Lihat Alan whitehead,Methods of Metafphysics,(New
York: Croom Helm Ltd,1987).hlm 31.
[17]Peter A. Angeles,A Dictionary of Philosophy,(London: Harpe &
Row, Publisher,tt).hlm.169
[18]Dagobert D. Runes,Dictionary Philosophy,(New Jersey:
Littlefield, Adams & CO,1971).hlm196.
[19]Simon Blakburn,The Oxford Dictionary of Philosophy,(New
York: Oxford University Press,tt).hlm.240.
[20]Rizal Musytasir,Aliran-aliran Metafisika: Studi Kritis Filsafat
Ilmu,(ttp: Jurnal Filsafat,Juli 1997),hlm.3.
[21]Suatu pandangan metafisik yang menganggap bahwa tidak ada hal yang
nyata selain materi. Bahkan pikiran dan kesadaran hanyalah penjelmaan darri
materi dan dapat dikembalikan pada unsur-unsur fisik. Materi adalah sesuatu hal
yang kelihatan, dapat diraba, berbentuk, menempati ruang. Hal-hal yang bersifat
kerohanian seperrti pikiran, jiwa, keyakinan, rasa sedih dan rasa senang,
hanyalah ungkapan proses kebendaan. Adapun tokoh-tokohnya antara lain:
Demokritos (460-370SM), Thomas Hobbes (1588-1679).
[22]Suatu pandangan metafisika yang menganggap bahwa kenyataan yang
terdalam adalah roh (Pneuma, Nous, Reason, Logos) yaitu roh yang mengisi dan
mendasari seluruh alam. Tokoh spiritualisme yang terkenal adalah Platinus
(204-270) dan G.W.F. Hegel.
[23]Aliran yang menyatakan bahwa hanya ada satu kenyataan fundamental.
Kenyataan tersebut dapat berupa jiwa, materi, Tuhan atau substansi lainnya yang
tidak dapat diketahui. Monisme ini berasal dari kata monas-adis, padanan
kata dari monade yang artinya kesatuan. Monisme dalam sejarah perkembangan
filsafat Barat, mengandung 2 pengertian: pertama, monisme secara
metafisik berarti pandangan yang menganggap adanya satu kenyataan dasar. Aliran
ini sering di sebut singularisme. Parmenides dari Elea dianggap sebagai pemuka
Monisme kuno. Dikatakan bahwa yang ada itu sama sekali satu, sempurna, dan
tidak dapat dibagi-bagi. Sedangkan pemuka monisme modern adalah spinoza yang
menganggap hanya ada satu substansi. Substansi ini adalah Yang Esa, kekal, tak terbatas,
mandiri, tidak tergantung pada apapun di luar diri-Nya. Karena itu segala
sesuatu yang ada, karena keterbatasannya, tergantung pada yang satu ini. Segala
sesuatu ini merupakan cara beradanya substansi tersebut. Tuhan merupakan satu
kesatuan umum yang mengungkapkan diri di dunia. Pengertian substansi sama
dengan Tuhan, dan karena sama dengan pengertian segala sesuatu yang ada, maka
sama dengan pengertian alam. Jadi substansi—dalam pandangan spinoza—sama dengan
Tuhan sama dengan alam.
Kedua, monisme secara
epistimologi berarti pandangan yang menganggap bahwa objek yang nyata dan idea
tentang persepsi atau konsepsi adalah satu dalam bentuknya sebagai pengetahuan.
Lihat D. Runes,Dictiionary of Philosophy,(Totowa, New Jersey: Littlefield Adams & Co,1979).hlm.201.
Monisme biasa juga dianut oleh idealisme dan rasionalisme, yang
memberikan tekanan pada sifat dasar yang mendasari substansi atau kenyataan.
Monisme memiliki keunggulan dalam hal abstraksi dan daya pengikat dan perekat
(kohesi) untuk menyatukan bagian-bagian yang saling terpisah menjadi satu
kesatuan dengan menemukan titik-titik kesamaan. Monisme lebih menaruh perhatian
pada aspek kesamaan daripada aspek perbedaan. Seseorang penganut monis
berkecenderungan menjadi seorang determinis, karena ia akan cendrung menekankan
segalanya dengan mengorbankan sikap individual, seperti: spontanitas. Lihat A.C
Ewing,The Fundamental Question of Philosophy,(New York: Collier
Books,1962).hlm.221.
Tokoh-tokohnya antara lain: Thales
(625-545 SM) yang berpendapat bahwa kenyataan yang terdalam adalah satu
substansi, yaitu air. Anaximander (610-547 SM) berkeyakinan bahwa yang
merupakan kenyataan terdalam adalah Apeiron, yaitu sesuatu yang tanpa
batas, tak dapat dientukan dan tidak memiliki persamaan dengan salah satu benda
yang ada dalam dunia. Anaximenes (585-582) berkeyakinan bahwa yang merupakan
unsur kenyataan yang sedalam-dalamnya adalah udara.
[24]Aliran yang menganggap adanya dua substansi yang masing-masing
berdiri sendiri. Tokoh-tokoh yang termasuk aliran ini adalah Plato (428-348 SM,
Immanuell Kant, Descartes.
[25]Yaitu aliran yang tidak mengakui adanya satu substansi atau dua
substansi melainkan substansi. Dagobert D. Runes (1979:221) menyatakan bahwa
pluraslisme merupakan suatu teori yang menganggap bahwa kenyataan itu tidak
terdiri dari satu substansi. Teori-teori yang dapat dimasukkan dalam pluralisme
diantaranya teori para filsuf Yunani kuno yang menganggap kenyataan terdiri
dari udara, tanah, api dan air - - dalam upaya mencari Arkhe atau asal-usul
alam semesta - - tingkatan monade dalam
filsafat Leibniz; pandangan Herbart tentang banyak benda dalam dirinya
ssendiri, teori pragmatise William James tentang “yang banyak yang dapat dikerjakan”. Pluralisme ini pada umumnya
dianut oleh empiris, realisme dan pragmatisme, karena senantiasa memberian
tekanan pada sifat dasar yang bermacam-macam dari pengalaman.
Pluralisme memiliki keunggulan dalam hal-hal yang bersifat
praktis-pragmatis, dekat dengan problem konkret, karena memang diangkat dari
pengalaman konkret. Pluralisme lebih menekankan pada perbedaan-perbedaan
daripada kesamaan-kesamaan. Seorang penganut pluralis cendrung menjadi seorang indeterminis.
Seorang penganut pluralis menganggap bahwa alam ini terbentuk dari sejumlah
entitas yang tidak saling berhubungan (disconnected) dan tidak terikat
satu sama lain, sehingga masing-masing entitas dipandang eksis. Para filsuf
yang termasuk pluralisme diantaranya: Empedokles (490-430 SM) yang menyatakan
bahwa hakikat kenyataan terdiri dari 4 unsur yaitu: udara, api, air dan tanah.
Anaxagoras (500-428 SM) yang menyatakan bahwa hakikat kenyataan terdiri dari
unsur-unsur yang tak terhitung banyaknya, sebanyak jumlah sifat benda dan
semuanya itu dikuasai oleh suatu tenaga yang dinamakan nous. Dikatakannya bahwa
nous adalah suatu zat yang paling halus yang memiliki sifat pandai bergerak dan
mengatur. Tokoh pluralisme diantaranya Leibniz dan filsuf Postmodernisme, J.F.
Lyotard.
[26]Surajiyo,Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia,cet 3,(Jakarta:
PT. Bumi Aksara,2008).hlm.7.
[27]Anton Bakker,Antologi atau Metafisika Umum: Filsafat Pengada dan
Dasar-dasar Kenyataan, Cet. Ketujuh,(Yogyakarta: Kanisius
(IKAPI),1992).hlm.15.
[28]Dov. M. Gabbay, Paul Thagard, and John Woods. Ebook of General Philosophy of Science.hlm.66.
No comments:
Post a Comment