Tuesday, December 24, 2019

SAINS ISLAM: ONTOLOGI SCIENCE DAN METAFISIKA


SAINS ISLAM: ONTOLOGI SCIENCE DAN METAFISIKA
Ida Rohyatul Aini

Sebagai insan, sudah merupakan sifat alami kita untuk berpikir. Adapun yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya adalah adanya dorongan untuk melakukan kegiatan tersebut yakni thinking being. Jadi, suatu yang wajar jika kita selalu mempertanyakan setiap hal.
A.     Pendahuluan
Alam semesta merupakan tempat berbagai makhluk hidup dan benda tak hidup. Makhluk hidup seperti manusia dan hewan menjalani kehidupan mereka di alam semesta dengan menggunakan berbagai pengetahuan yang mereka miliki. Hewan mungkin memiliki knowledg, namun pengetahuan yang dimiliki hewan adalah pengetahuan berdasarkan insting dan berifat statis, sedangkan pengetahuan yang dimiliki manusia bersifat dinamis, terus-menerus berkembang dari zaman ke zaman. Manusia merupakan makhluk Allah; dengan akalnya, manusia mencerna berbagai pengalaman, maupun merenung, melakukan refleksi terhadap pengalamannya, serta melakukan penalaran dan penelitian terhadap lingkungannya. Kegiatan ini dilakukan manusia sepanjang hidupnya sehingga ia memproleh ilmu yang terus dikembangkannya. Inilah yang membedakan kemampuan manusia dengan hewan.[1]
Filsafat tidak terlepas dari kehidupan kita, karena kehidupan ini merupakan sebuah perjalanan hidup. Banyak diajukan pertanyaan mengenai asal dan tujuannya. Pada hakekatnya filsafat lahir karena banyak orang mempertanyakan asal-usul kehidupan ini. Hidup adalah pencarian, suatu pencarian yang abadi, sebuah proyek yang tidak dapat digenggam sepenuhnya. Metafisika merupakan salah satu cara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul serta menjelaskan dahaga intelektual manusia. Filsafat sebagai pengetahuan yang sistematis termasuk metafisika yang bertolak dari rasa heran dan rasa ingin tahu (curiousity). Dari keheranan dan rasa ingin tahu inilah manusia banyak mempertanyakan tentang “Siapakah aku?”, “Dari mana asalku?”, ”Apa arti hidup ini?”, “Apa makna dunia di sekitarku?”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Aristoteles mengatakan bahwa berfilsafat dimulai dari rasa heran dan juga mau memahami serta mau mempelajarinya. Oleh karena itu dalam makalah ini kami akan mejelaskan beberapa hal mengenai ontologi ilmu, suatu analisis filsafat tentang kenyataan dan keberadaan yang berkaitan dengan hakikat “ada”. Dan juga salah satu cara untuk mempelajari filsafat dengan cara “metafisika”.
B.     Hakikat Ontologi Ilmu
1.    Ontologi
Ontologi ialah ilmu yang membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang dapat dipikirkan manusia secara rasional dan yang bisa diamati melalui pancaindra manusia. Wilayah ontologi ilmu terbatas pada jangkauan pengetahuan ilmiah manusia. Sementara kajian objek[2] penelaahan yang berada dalam batas pra-pengalaman (seperti penciptaan manusia) dan pasca-pengalaman (seperti surga dan neraka) menjadi ontology dari pengetahuan lainnya di luar ilmu.[3] Beberapa tafsiran metafisika yang paling pertama yang diberikan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat wujud yang bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.[4] Dengan demikian, metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada.[5]
Di dalam pemahaman ontologi dapat diketahui pandangan-pandangan pemikir sebagai berikut:
Menurut Pandangan The Liang Gie, Ontologi adalah bagian dari filsafat dasar yang mengungkap makna dari sebuah eksistensi yang pembahasannya meliputi persoalan-persoalan: 1) Apakah artinya ada, hal ada?, 2) Apakah golongan-golongan dari hal yang ada?, 3) Apakah sifat dasar kenyataan dan hal ada?, 4) Apakah cara-cara yang berbeda dalam mana entitas dari kategori-kategori logis yang berlainan (misalnya objek-objek fisis, pengertian universal, abstraksi dan bilangan) dapat dikatakan ada?.[6]
Ariestoteles mendefinisikan, ontologi yaitu tentang hal ada sebagai hal ada (hal ada sebagai demikian) mengalami perubahan yang dalam, sehubungan dengan objeknya. Dan adapun ontologi menurut Ensiklopedi Britannica yang diangkat dari konsepsi Ariestoteles, yaitu teori atau studi tentang being/wujud seperti karakteristik dasar dari seluruh realitas. Ontologi sinonim dengan metafisika yaitu, studi filosofis untuk menentukan sifat nyata yang asli (real nature) dari suatu benda untuk menentukan arti, struktur dan prinsip benda tersebut. [7]
2.    Ilmu (Science)
Kata ilmu berasal dari kata dalam bahasa inggris “science”.[8] Kata science ini berasal dari kata latin scientia yang berarti pengetahuan. Kata scientia ini berasal dari bentuk kata scier yang artinya mempelajari, mengetahui. Pada mulanya cakupan ilmu (science) secara etimologis menunjuk pada pengetahuan semata-mata, pengetahuan mengenai apa saja (Dampier,1986). Pertumbuhan selanjutnya pengertian ilmu (science) ini mengalami perluasan arti, sehingga menunjuk pada segenap pengetahuan sistematik (systematic knowledge). Pemakaian yang luas dari kata ilmu (science) ini diteruskan dalam bahasa Jerman dengan istilah Wissenchaft yang berlaku terhadap kumpulan pengetahuan apapun yang teratur, termasuk di dalamnya Naturwissenchaften yang mencakup ilmu-ilmu kealaman maupun Geisteswissenchaften yang mencakup ilmu pengetahuan kemanusiaan (the Humanities), sementara dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai ilmu-ilmu budaya yang pada umumnya mencakup pengetahuan-pengetahuan tentang bahasa dan sastra, estetika, sejarah, filsafat, dan agama (Dampier,1966).[9]
A. Thomson dalam Sidi Gazalba menggambarkan ilmu adalah pelukisan fakta-fakta pengalaman secara lengkap dan konsisten dalam istilah-istilah yang sesederhana mungkin, .. pelukisan secara lengkap dan konsisten itu melalui tahap pembentukan definisi, melakukan analisa, melakukan pengklassifikasian dan melakukan pengujian.[10] Jujun  S. Uriasumantri menggambarkannya dengan sangat sederhana namun penuh makna, ilmu adalah seluruh pengetahuan yang kita miliki dari sejak bangku SD hingga Perguruan Tinggi.[11]
Beerling , Kwee, Mooji dan Van Peursen menggambarkannya lebih luas, ilmu timbul berdasarkan atas hasil penyaringan, pengaturan, kuantifikasi, obyektivasi, singkatnya, berdasarkan atas hasil pengolahan secara metodologi terhadap arus bahan-bahan pengalaman yang dapat dikumpulkan. Sehingga dengan demikian, ilmu adalah kumpulan pengetahuan secara holistik yang tersusun secara sistematik yang teruji secara rasional[12] dan terbukti empiris. Ukuran kebenaran ilmu adalah rasionalisme dan empirisme sehingga kebenaran ilmu  bersifat rasional dan empiris.
Ilmu dapat dipandang sebagai suatu kegiatan manusia yang melibatkan berbagai komponen seperti: objek yang yang ditelaah, metode yang dipakai untuk menelaah objek tersebut, hasil telaah itu disusun secara sistematik, kebenarannya dapat di pertanggung jawabkan secara umum.[13]
C.     Ontologi dalam Filsafat Ilmu
Ontologi dalam fiilsafat ilmu adalah  studi atau pengkajian mengenai sifat dasar ilmu yang sifat dasar itu menentukan arti, struktur dan prinsip ilmu.



D.     Struktur Ilmu
Secara garis besar ilmu atau sains dibagi dua,[14] yaitu:
1.    Sains Sosial
·      Sosiologi:   komunikasi, politik, pendidikan
·      Antropologi:   budaya, ekonomi, politik
·      Psikologi:    pendidikan, anak, abnormal
·      Ekonomi:   makro, lingkungan, pedesaan
·      Politik:  dalam negeri, hukum, internasional
2.    Sains ke-alam-an,
·      Astronomi,
·      Fisika:   mekanika, bunyi, cahaya dan optik, fisika, nuklir
·      Kimia:   kimia organik dan kimia teknik
·      Ilmu bumi: paleontologi, ekologi, geofisika, geokimia, mineralogi, geografi
·      Ilmu hayat: biofisika, botani, zoologi
3.    Humaniora[15]
·      Seni:  abstrak, grafika, pahat, tari
·      Hukum: pidana, tata usaha negara, adat
·      Filsafat:  logika, etika,estetika
·      Bahasa:  sastra
·      Agama: Islam, Kristen, Confusius
·      Sejarah:  Indonesia, dunia

E.     Ontologi dalam Struktur Ilmu, Posisi dan Peran Pentingnya
Ontologi menempati posisi yang demikian pentingnya karena ia menempati posisi landasan yang terdasar dari fondasi ilmu dimana disitulah terletak “undang-undang dasarnya” dunia ilmu. Ontologi sebagai landasan terdasar dari ilmu adalah dunia yang jarang dikaji karena keberadaannya yang nyaris tak terlintas dibenak sebagian besar para pengguna ilmu. Pada lapisan ontologi diletakkannya “undang-undang dasar” dunia ilmu oleh para pendiri sains modern pada masa renaisans yang merupakan penentu dari “hendak dibentuk seperti apakah ilmu yang akan dibangun ini”, “ketujuan manakah ilmu ini diarahkan”, dalam konteks sebagai alat untuk membangun peradaban maka “peradaban seperti apakah yang ingin diwujudkan” dan “sebenarnya sedang menuju kearah manakah kita dengan menunggang sains modern saat ini?”.
F.      Dasar-dasar Metafisika
Metafisika[16] (Yunani: meta ta physica) berarti “setelah fisika”, berasal dari akar kata meta dengan arti “setelah (after)” atau “di luar (beyond)”; dan physical dengan arti “mengenai alam (pertaining to nature)” atau physis yang berarti “alam (nature), atau “berkaitan dengan fisika (physical)”.[17] Pemahaman etimologis tentang kata metafisika di atas, bila diturunkan dalam pemahaman konsepsional, menurut Dagobert D. Runes, dapat diartikan segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia di luar fisik (supra-physical),[18] semisal bahasan mengenai akal dan tubuh, substansi dan aksiden, keajaiban, sebab dan kategori keberadaan benda.[19]
Metafisika adalah suatu kajian tentang hakikat keberadaan zat, hakikat pikiran dan hakikat zat dengan pemikiran. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia, termasuk keberadaan, kebendaan, sifat, ruang, waktu, hubungan sebab akibat, dan kemungkinan. Metafisika oleh Aristoteles disebut sebagai filsafat pertama atau thelogia, dalam pandangan Aristoteles, metafisika belum begitu jelas dibedakan dengan fisika. Secara etimologis metafisika berasal dari bahasa Yunani, meta ta fisika yang menurut Lois O. Katsiff adalah hal-hal yang terdapat sesudah fisika, Aristoteles mendefinisikannya sebagai ilmu pengetahuan mengenai yang ada sebagai yang ada, yang dilawankan misalnya dengan yang ada sebagai yang digerakkan atau yang ada sebagai yang jumlahkan. Pada masa sekarang, metafisika dipahami sebagai bagian dari filsafat yang mempelajrari dan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan terdalam tentang hakikat segala sesuatu. Pertanyaan-pertanyaan filosofis tersebut membahas dan tertuju pada beberapa konsep metafisik, dengan kata lain yang lebih tepat agaknya adalah-konsep di luar hal-hal yang bersifat fisik. Jadi dapat disimpulkan bahwa metafisika adalah suatu studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realita.
G.    Klasifikasi Metafisika
Menurut Chritian Wolf metafisika terbagi menjadi dua jenis, pertama Metaphysica Generalis (Ontologi); ilmu yang membahas mengenai yang ada atau pengada atau yang lebih dikenal sebagai ontology, kedua Methaphysica Specialis yang terbagi atas: 1) Antropologi; menelaah tentang hakikat manusia, terutama hubungan jiwa dan raga, 2) Kosmologi; menelaah tentang asal-usul dan hakikat alam semesta, 3) Theologi; kajian tentang Tuhan secara rasional, yang meliputi: (a) Hakikat kodrat manusia, (b) Susunan kodrat, (c) Sifat kodrat, (d) Kedudukan kodrat, (e) Kosmologi filsafati.
Namun pada umumnya persoalan-persoalan metafisis dapat diklasifikasikan kedalam 3 bagian, yaitu: ontologi (metafisika umum), kosmologi, dan antropologi.
(a)    Persoalan Ontologi, misalnya: apa yang dimaksud dengan, keberadaan atau eksistensi itu? Bagaimanakah penggolongan keberadaan atau eksistensi?
(b)   Persoalan-persoalan Kosmologis (alam), persoalan yang bertalian dengan asal-mula, perkembangan dan struktur alam. Misalnya: Jenis keteraturan apa yang ada dalam alam? Apa hakikat hubungan sebab dan akibat? Apakah ruang dan waktu itu?
(c)    Persoalan-persoalan Antropologi (manusia), misalnya: Bagaimana hubungan antara badan dan jiwa? Apakah manusia itu memiliki kebebasan kehendak atau tidak?[20]
Filsafat alam berusaha mencari asal alam, Thales berpendapat sebagai arche. Filsafat alam menyelidiki gerak alam semesta yang merupakan perubahan. Sementara itu Driyakara menyamakan metafisika dengan ontology, ia menyatakan bahwa filsafat tentang ada dan sebab-sebab pertama adalah metafisika atau ontology, yang disamping membahas tentang ada dan sebab-sebab pertama tersebut,  juga membahas mengenai apakah kesempurnaan itu, apakah tujuan itu intinya adalah apakah hakikat dari segala sesuatu itu.
H.    Aliran-aliran Metafisika
Persoalan metafisika dalam hal keberadaan menimbulkan beberapa aliran metafisika. Ada yang melihat persoalan keberadaan itu dari segi kualitas dan kuantitas. Aliran metafisika yang melihat keberadaan dari segi kualitas yaitu: materialisme[21] dan spiritualisme[22]. Aliran metafisika yang melihat keberadaan dari segi kuantitas adalah monisme,[23] dualisme,[24] dan pluralisme[25].
I.       Posisi Metafsisika dalam Objek Filsafat
1.    Objek Filsafat
Objek filsafat adalah sesuatu yang merupakan bahan dari suatu penelitian atau pembentukan pengetahuan. Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai objek yang di bedakan menjadi dua yaitu objek material dan dan objek formal.[26]
a)    Objek material filsafat yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu. Objek material adalah hal yang diselidiki, dipandang atau disorot oleh suatu disiplin ilmu. Objek material mencangkup hal-hal yang konkret ataupun hal-hal yang abstrak.
b)   Objek formal yaitu sudut pandang yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu. Objek formal filsafat yaitu pandangan yang menyeluruh secara umum, sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materialnya. Objek formalnya membahas objek material itu sampai ke hakikat atau esensi yang dihadapinya.
2.    Metafisika di dalam Objek Filsafat
Metafisika adalah cabang filsafat  yang harus di teliti keberadaanya. Metafiska berkaitan dengan objek formal filsafat yaitu menelaah secara keseluruhan sehingga dapat mencapai hakikat  dari objek materialnya. Adapun objek formalnya membahas objek material itu sampai ke hakikat atau esensi yang dihadapinya. Dan adapun objek metafisika itu sendiri menurut Prof. B. Delfgaauw adalah objek yang tidak dapat ditangkap dengan panca indera.[27]Menurut Hoffmann objek metafisika adalah pikiran, gerak waktu, sebab, akibat, tujuan, cara, hukum, moral, dan sebagainya.
J.      Manfaat Metafisika dalam Pengembangan Ilmu
Manfaat metafisika bagi pengembangan ilmu:
1)   Kontribusi metafisika terletak pada awal terbentuknya paradigma ilmiah, ketika kumpulan kepercayaan belum lengkap pengumpulan faktanya, maka ia harus dipasok dari luar antara lain: metafisika, sains yang lain, kejadian personal dan historis.
2)   Metafisika mengajarkan cara berfiir yang serius, terutama dalam menjawab problem yang bersifat enegmatif (teka-teki), sehingga melahirkan sikap dan rasa ingin tahu yang mendalam.
3)   Metafisika mengajarkan sikap open-ended, sehingga hasil sebuah ilmu selalu terbuka untuk temuan dan kreativitas baru.
4)   Perdebatan  dalam metafisika melhirkan berbagai aliran, mainstream seperti: monisme, dualisme, pluralisme, sehingga memicu proses ramifisik, berupa lahirnya percabangan ilmu.
5)   Metafisika menuntut orisinalitas befikir, karena setiap metafisikus menyodorkan cara berfikir yang cenderung subjektif dan menciptakan terminologi filsafat yang khas. Situasi semacam ini diperlukan untuk pengembangan ilmu dalam rangka menerapkan heuristika.
6)   Metafisika mengajarkan pada peminat filssafat untuk mencari prinsip pertama (first principle) sebagai kebenaran yang paling akhir. Kepastian ilmiah dalam metode skeptic Descartes hanya dapat diperoleh jika menggunakan metode deduksi yang bertitik tolak dari premis yang paling kuat (cogito ergo sum) Skeptis-Metodis Rene Descartes.[28]
7)   Manusia yang bebas sebagai kunci bagi akhir pengada, artinya manusia memiliki kebebasan untuk merealisasikan dirinya sekaligus bertanggung jawab bagi diri, sesama, dan dunia. Penghayatan atas kebebasan di satu pihak dan tanggung jawab di pihak lain meruppakan sebuah kontribusi penting bagi pengembangan ilmu yang sarat dengan nilai.
8)   Metafisika mengandung potensi untuk menjalin komunikasi antara pengada yang satu dengan pengada yang lain. Aplikasi dalam ilmu berupa komunikasi antar ilmuwan mutlak dibutuhkan, tidak hanya antar ilmuwan sjenis, tetapi juga antar disiplin ilmu, sehingga memperkaya pemahaman atas realits ilmuwan.































DAFTAR PUSTAKA

Aceng Rahmat, ET’ AL.2011.Filsafat Ilmu Lanjutan, cet ke-1.Jakarta: Kencana Prenda Media Group.
Anshari,Endang Saifuddin..1987.Ilmu,Filsafat dan Agama.Bandung: PT Bina Ilmu Surabaya.
Bagus,Lorens.1991.Metafisika.Jakarta:gramedia pustaka Utama.
Suraiyo.Filsafat Ilmu dan perkembangannya di Indonesia.2007.Jakarta: PT Bumi Aksara.
Nasution,Andi Hakim.2000. Filsafat Ilmu.Jakarta: cv. Mulia Sari.
A. Susanto.2011.Filsafat Ilmu.Jakarta: Bumi Aksara.
Galzaba,Sidi.1973.Sistematika Filsafat.Jakarta: Bulan Bintang.
Angeles,Peter A.tt...A Dictionary of Philosophy.London: Harpe & Row Publisher.
Runes,Dagobert D.1971.Dictionary Philosophy.New Jersey: Littlefield, Adams & CO.
Blakburn,Simon.tt..The Oxford Dictionary of Philosophy.New York: Oxford University Press.
Surajiyo.2008.Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia,cet 3.Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Dov. M. Gabbay, Paul Thagard, and John Woods. Ebook of General Philosophy of Science.
Bakker,Anton.1992.Antologi atau Metafisika Umum: Filsafat Pengada dan Dasar-dasar Kenyataan, Cet. Ketujuh.Yogyakarta: Kanisius (IKAPI.
Nataatmadja,Hidayat.1993.The Grand Theory of Science.Bogor: Yayasan Humanika.
Gie,The Liang.1977.Suatu Konsepsi ke Arah Penertiban Bidang Filsafat.Yogyakarta: Karya Kencana.
J.F,Lyotard.1983. “persentations” dalam Alan Monfiore 9ed).Philosophy in France Today.Cambridge: Cambridge University Press.
Whitehead,A.N.1979.Process of Relity.Titus, Smith and Nolan.199.Living Issues in Philosophy.Terjemahan: H.M. Rasyidi.Persoalan-persoalan Filsafat.Jakarta: Bulan Bintang.
Musytasir,Rizal.1997.Aliran-aliran Metafisika: Studi Kritis Filsafat Ilmu dimuat dalam Jurnal Filsafat.
Runes,D.1979.Dictiionary of Philosophy.Totowa, New Jersey:  Littlefield Adams & Co.
Ewing,A.C.1962.The Fundamental Question of Philosophy.New York: Collier Books.
Syafii,Inu Kencana.2004.Pengantar Filsafat, Cet. I.Bandung: Refika Aditama.




[1]Aceng Rahmat, ET’ AL,Filsafat Ilmu Lanjutan, cet ke-1,(Jakarta: Kencana Prenda Media Group,2011).hlm.102.
[2]Obyek telaah ontologi adalah yang ada tidak terikat pada satu perwujudan tertentu, ontologi membahas tentang yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat setiap kenyataan yang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya. Lihat Inu Kencana Syafii,Pengantar Filsafat,cet.1,(Bandung: Refika Aditama,2004).hlm.9. Dan lihat juga Sulesana,Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi, dalam jurnal volume 8 nomor 2 tahun 2013.hlm.36.
[3]Sabarti Akhadiah dan Winda Dewi Listyasari,Filsafat Ilmu Lanjutan (Jakarta: Prenada Media  Group).hlm.143.
[4]Andi Hakim Nasution, Filsafat Ilmu,(Jakarta: cv. Mulia Sari,2000).hlm.64.
[5]A. Susanto,Filsafat Ilmu,(Jakarta: Bumi Aksara,2011).hlm.91.
[6]The Liang Gie,Suatu Konsepi ke arah Penerbitan Bidang Filsafat,(Yogyakarta: Karya Kencana,1977).hlm.80.
[7]Ensiklopedia Britannica, dalam Wikipedia.
[8]Ilmu berasal dari bahasa Arab “alima” sama dengan kata dalam bahasa Inggris “sciences” yang berasal dari bahasa latin “scio  atau “scire” yang kemudian di Indonesiakan menjadi sains.
[9]Rizal Musytasir,Aliran-aliran Metafisika: Studi Kritis Filsafat Ilmu,(ttp: Jurnal Filsafat,Juli 1997),hlm.2-3.  
[10]Sidi Galzaba,Sistematika Filsafat,(Jakarta: Bulan Bintang,1973).hlm.54.
[11]Sidi Galzaba,Sistematika Filsafat,(Jakarta: Bulan Bintang,1973).hlm.54-55.
[12]Hipotesis harus berdasarkan rasio, dengan kata lain hipotesis harus rasional. Lihat Ahmad Tafsr,Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengethuan,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2004).hlm.23.
[13]Rizal Musytasir,Aliran-aliran Metafisika: Studi Kritis Filsafat Ilmu,(ttp: Jurnal Filsafat,Juli 1997),hlm.3.   
[14]Ahmad Tafsir,Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2004).hlm. 25-26.
[15]Agar lebih lengkap, Prof.Dr. Ahmad Tafsir menambahkan bagian dari sains, yaitu Humaniora (yang mungkin dapat digolongkan dalam sains sosial) dalam daftar atas hanyalah dengan tujuan agar tampak lengkap.
[16]Metafisika adalah cabang filsafat yang membahas persoalan tentang keberadaan (being) atau eksistensi (existensi). Istilah metafisiska berasal dari kata Yunani meta ta physika yang dapat diartikan sesuatu yang ada di balik atau di belakang benda-benda fisik. Ariestoteles tidak memakai istilah metafisika melainkan proto philosophia (filsafat pertama). Filsafat pertama ini memuat uraian tentang sesuatu yang ada di belakang gejala-gejala fisik seperti bergerak, berubah, hidup, mati. Metafisika dapat didefinisikan sebagai studi atau pemikiran tentang sifat yang terdalam (ultimate nature) dari kenyataan atau keberadaan.
Arietoteles menyebut beberapa istilah yang maknanya setara dengan metafisika, yaitu: Filsafat pertama (First Philosophy), pengetahuan tentang sebab (knowledge of cause). Studi tentang ada sebagai ada (the study of being as being), studi tentang Ousia (Being), studi tentang hal-hal abadi dan yang dapat bergerak (the study of the eternal and immovable), dan Theology. Lihat Alan whitehead,Methods of Metafphysics,(New York: Croom Helm Ltd,1987).hlm 31.
[17]Peter A. Angeles,A Dictionary of Philosophy,(London: Harpe & Row, Publisher,tt).hlm.169
[18]Dagobert D. Runes,Dictionary Philosophy,(New Jersey: Littlefield, Adams & CO,1971).hlm196.
[19]Simon Blakburn,The Oxford Dictionary of Philosophy,(New York: Oxford University Press,tt).hlm.240.
[20]Rizal Musytasir,Aliran-aliran Metafisika: Studi Kritis Filsafat Ilmu,(ttp: Jurnal Filsafat,Juli 1997),hlm.3.    
[21]Suatu pandangan metafisik yang menganggap bahwa tidak ada hal yang nyata selain materi. Bahkan pikiran dan kesadaran hanyalah penjelmaan darri materi dan dapat dikembalikan pada unsur-unsur fisik. Materi adalah sesuatu hal yang kelihatan, dapat diraba, berbentuk, menempati ruang. Hal-hal yang bersifat kerohanian seperrti pikiran, jiwa, keyakinan, rasa sedih dan rasa senang, hanyalah ungkapan proses kebendaan. Adapun tokoh-tokohnya antara lain: Demokritos (460-370SM), Thomas Hobbes (1588-1679).
[22]Suatu pandangan metafisika yang menganggap bahwa kenyataan yang terdalam adalah roh (Pneuma, Nous, Reason, Logos) yaitu roh yang mengisi dan mendasari seluruh alam. Tokoh spiritualisme yang terkenal adalah Platinus (204-270) dan G.W.F. Hegel.
[23]Aliran yang menyatakan bahwa hanya ada satu kenyataan fundamental. Kenyataan tersebut dapat berupa jiwa, materi, Tuhan atau substansi lainnya yang tidak dapat diketahui. Monisme ini berasal dari kata monas-adis, padanan kata dari monade yang artinya kesatuan. Monisme dalam sejarah perkembangan filsafat Barat, mengandung 2 pengertian: pertama, monisme secara metafisik berarti pandangan yang menganggap adanya satu kenyataan dasar. Aliran ini sering di sebut singularisme. Parmenides dari Elea dianggap sebagai pemuka Monisme kuno. Dikatakan bahwa yang ada itu sama sekali satu, sempurna, dan tidak dapat dibagi-bagi. Sedangkan pemuka monisme modern adalah spinoza yang menganggap hanya ada satu substansi. Substansi ini adalah Yang Esa, kekal, tak terbatas, mandiri, tidak tergantung pada apapun di luar diri-Nya. Karena itu segala sesuatu yang ada, karena keterbatasannya, tergantung pada yang satu ini. Segala sesuatu ini merupakan cara beradanya substansi tersebut. Tuhan merupakan satu kesatuan umum yang mengungkapkan diri di dunia. Pengertian substansi sama dengan Tuhan, dan karena sama dengan pengertian segala sesuatu yang ada, maka sama dengan pengertian alam. Jadi substansi—dalam pandangan spinoza—sama dengan Tuhan sama dengan alam.
Kedua, monisme secara epistimologi berarti pandangan yang menganggap bahwa objek yang nyata dan idea tentang persepsi atau konsepsi adalah satu dalam bentuknya sebagai pengetahuan. Lihat D. Runes,Dictiionary of Philosophy,(Totowa, New Jersey:  Littlefield Adams & Co,1979).hlm.201.
Monisme biasa juga dianut oleh idealisme dan rasionalisme, yang memberikan tekanan pada sifat dasar yang mendasari substansi atau kenyataan. Monisme memiliki keunggulan dalam hal abstraksi dan daya pengikat dan perekat (kohesi) untuk menyatukan bagian-bagian yang saling terpisah menjadi satu kesatuan dengan menemukan titik-titik kesamaan. Monisme lebih menaruh perhatian pada aspek kesamaan daripada aspek perbedaan. Seseorang penganut monis berkecenderungan menjadi seorang determinis, karena ia akan cendrung menekankan segalanya dengan mengorbankan sikap individual, seperti: spontanitas. Lihat A.C Ewing,The Fundamental Question of Philosophy,(New York: Collier Books,1962).hlm.221.
 Tokoh-tokohnya antara lain: Thales (625-545 SM) yang berpendapat bahwa kenyataan yang terdalam adalah satu substansi, yaitu air. Anaximander (610-547 SM) berkeyakinan bahwa yang merupakan kenyataan terdalam adalah Apeiron, yaitu sesuatu yang tanpa batas, tak dapat dientukan dan tidak memiliki persamaan dengan salah satu benda yang ada dalam dunia. Anaximenes (585-582) berkeyakinan bahwa yang merupakan unsur kenyataan yang sedalam-dalamnya adalah udara.
[24]Aliran yang menganggap adanya dua substansi yang masing-masing berdiri sendiri. Tokoh-tokoh yang termasuk aliran ini adalah Plato (428-348 SM, Immanuell Kant, Descartes.
[25]Yaitu aliran yang tidak mengakui adanya satu substansi atau dua substansi melainkan substansi. Dagobert D. Runes (1979:221) menyatakan bahwa pluraslisme merupakan suatu teori yang menganggap bahwa kenyataan itu tidak terdiri dari satu substansi. Teori-teori yang dapat dimasukkan dalam pluralisme diantaranya teori para filsuf Yunani kuno yang menganggap kenyataan terdiri dari udara, tanah, api dan air - - dalam upaya mencari Arkhe atau asal-usul alam semesta - - tingkatan monade dalam  filsafat Leibniz; pandangan Herbart tentang banyak benda dalam dirinya ssendiri, teori pragmatise William James tentang “yang banyak yang dapat  dikerjakan”. Pluralisme ini pada umumnya dianut oleh empiris, realisme dan pragmatisme, karena senantiasa memberian tekanan pada sifat dasar yang bermacam-macam dari pengalaman.
Pluralisme memiliki keunggulan dalam hal-hal yang bersifat praktis-pragmatis, dekat dengan problem konkret, karena memang diangkat dari pengalaman konkret. Pluralisme lebih menekankan pada perbedaan-perbedaan daripada kesamaan-kesamaan. Seorang penganut pluralis cendrung menjadi seorang indeterminis. Seorang penganut pluralis menganggap bahwa alam ini terbentuk dari sejumlah entitas yang tidak saling berhubungan (disconnected) dan tidak terikat satu sama lain, sehingga masing-masing entitas dipandang eksis. Para filsuf yang termasuk pluralisme diantaranya: Empedokles (490-430 SM) yang menyatakan bahwa hakikat kenyataan terdiri dari 4 unsur yaitu: udara, api, air dan tanah. Anaxagoras (500-428 SM) yang menyatakan bahwa hakikat kenyataan terdiri dari unsur-unsur yang tak terhitung banyaknya, sebanyak jumlah sifat benda dan semuanya itu dikuasai oleh suatu tenaga yang dinamakan nous. Dikatakannya bahwa nous adalah suatu zat yang paling halus yang memiliki sifat pandai bergerak dan mengatur. Tokoh pluralisme diantaranya Leibniz dan filsuf Postmodernisme, J.F. Lyotard.
[26]Surajiyo,Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia,cet 3,(Jakarta: PT. Bumi Aksara,2008).hlm.7.
[27]Anton Bakker,Antologi atau Metafisika Umum: Filsafat Pengada dan Dasar-dasar Kenyataan, Cet. Ketujuh,(Yogyakarta: Kanisius (IKAPI),1992).hlm.15.
[28]Dov. M. Gabbay, Paul Thagard, and John Woods. Ebook of General Philosophy of Science.hlm.66.

No comments:

Post a Comment

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...