Tuesday, December 24, 2019

Tasbih Kecil di Jari Manisku



Waktu terus bergulir, menemani bataan langkah menuju ke-halal-an
Halal syar’iyah untuk menata dan membina 'baiti jannati'
Membungkam bibirku getir berkata lirih, akankah terucap kata halal beriring sah dari para saksi
Tersubang diri dalam prontaan panjang bersamuh paduh ditengah gelap kegulitaan
Sehinggga ku nampak terbukanya jendela-jendela langit dari simpuhan di malam-malam merinduku
Merindu lelaki yang senantiasa menjaga kehormatanku
Lelaki yang menemani dalam gelaran sajadah malam-Mu
Lelaki yang menegur dengan nasihat lembut di kala senang dan menghibur di kala kedukaanku
Merindu................
Merindu...............
Dan terus merindu........
Iya, inilah ia luapan rasa yang lama terpendam, membuncah dalam harap ke-syah-an
Dan tahukah?
Percikan kilau rembulan telah memancar ke arahku
Kilauan yang menorehkan noktah-noktah rindu pada tepian senja yang jatuh
Berharap senja menyapa rembulan yang akan bertahta di rangka biruan langit
Dan menjemput lelehan senja menoreh cakrawala permuaraan
Singgasana muara kasih beradukan arus-arus keridhoan-Nya
Yang menguak segala munajat dalam simpuhan tulus dari kuda malamku,
Mengayuh-payuh berlantunkan dzikir
Dan tahukah olehmu?
Kini ku nampak dari jendela-jendela suci-Nya
Senyum santun, bersapa ramah, berlontarkan tutur kata yang manis
Pola tingkah yang mendamaikan hati dan penyejukkan pandangan
Seketika,  rasa ragu meradang di ujung pintu hati
Akankah bak semalakama?
Akankah?
Akankah?
Namun Aku mulai bangkit dan bangkit guna membangun fondasi keyakinan
Dan ku pun juga tak menyangka
Engkau datang dengan menyematkan tasbih kecil di jari manisku
Tasbih pengikat dari cinta suci yang berharap sejuta ridho karna-Nya
Sungguh bingkisan istimewa yang telah terencana dan terestui oleh-Nya
Bersama episod ini, aku yakin engkaulah sosok yang telah disuratan takdirkan oleh-Nya





No comments:

Post a Comment

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...