TASAWUF: PLOT MENGGAPAI MAḪABBAH
Ida Rohyatul Aini
A. Pendahuluan
Dalam
pandangan tasawuf, maḫabbah (cinta) merupakan pijakan bagi segenap
kemuliaan hâl, sama seperti tobat yang merupakan dasar bagi kemuliaan
maqâm. Karena maḫabbah pada dasarnya adalah anugrah yang menjadi dasar
pijakan bagi segenap hâl, kaum sufi menyebutnya sebagai anugrah (mawâhib).
Maḫabbah adalah kecendrungan hati untuk memerhatikan keindahan atau
kecantikan.[1]
Berkenaan
dengan maḫabbah, Suharawadi mengatakan, “Sesungguhnya, maḫabbah
(cinta) adalah mata rantai keselarasan yang mengikat sang pecinta kepada
kekasihnya; ketertarikan yang mengikat sang pencinta kepadanya, dan melenyapkan
sesuatu dari wujudnya sehingga ia menguasai seluruh sifat dalam dirinya,
kemudian menangkap zatnya dalam genggam Qudrah (Allah).[2]
B.
Definisi Maḫabbah
Kata maḫabbah[3]
berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabatan yang secara harfiah berarti
mencintai secara mendalam, atau kecintaan atau cinta yang mendalam.[4]
Dalam kitab Mu’jam al-Falsafi, Jamil Shaliba mengungkapkan bahwa mahabbah merupakan lawan dari al-baghd, yakni cinta lawan dari benci.[5]
Pemahaman
manusia tentang cinta begitu mendalam dan hati mereka sangat gadrung kepadanya,
maka sebutan untuk kata cinta (al-Hubb) sangatlah banyak sebagai
ungkapan-ungkapan mereka yang menunjukkan bahwa mereka sedang merasakan cinta.
Sehingga dari pendefinisian mahabbah memiliki banyak varian, diantaranya:
Harun Nasution
mengatakan bahwa maḫabbah artinya cinta. Yang mengandung
makna maḫabbaullah (cinta kepada ilahi). Lebih luas
lagi, bahwa “maḫabbah” memuat pengertian yaitu:
1. Memeluk dan mematuhi perintah tuhan dan membenci sikaf yang melawan
kepada Tuhan
2. Berserah diri kepada Tuhan
3. Mengosongkan perasaan dihati dari segala-galanya kecuali dari dzat
yang dikasihi.[6]
Abu Yazid al-Bisthamy
berkata,”maḫabbah merupakan membebaskan diri dari hal-hal sebesar apapun yang datang dari dirimu, dan
membesar-besarkan hal-hal kecil yang datang dari Kekasihmu.”
Sahl
mengatakan,”maḫabbah merupakan pemelukan rasa taat dan berpisah dari sikap kontra.”
Abu Ali Ahmad
ar-Rudzbary berkata,”Cinta adalah kebersesuaian dengan Kekasih.”
Abu Abdullah
al-Qusyairi mengatakan,”Hakikat cinta berarti bahwa engkau memberikan segenap
dirimu kepada Dia yang kau cintai, sehingga tak sesuatupun tersisa.”
Dulaf asy-Syibly
menjelaskan,”Cinta disebut ‘maḫabbah’ karena ia melenyapkan segala sesuatu dari hati, selain Sang Kekasih.”[7]
Al-Hasan
mengatakan, Hakikat cinta adalah tegakmu bersama Kekasihmu dan mencopot
sifat-sifatmu.”
Muhammad bin
Ali al-Kattany berkata,”Cinta adalah mengutamakan segalanya bagi Sang Kekasih.”
Al-Harits
al-Muhasiby menjelaskan, “Cinta adalah kecendrunganmu kepada sesuatu dengan
sepenuhnya, kemudian engkau mengutamakan padanya dibanding dirimu, jiwamu dan
harta bendamu, kemudian berada dalam keserasian dengannya, baik secara lahir
maupun batin, kemudian menginformasikan atas kekuranganmu dalam mencinta-Nya.”
Menurut
Jalaluddin Rumi, “Cinta adalah realitas abadi, tetapi ia cenderung memudar dan
menghilang, karena manusia jatuh cinta pada pantulan cahaya Sang Kekasih.”
Definisi Cinta
menurut Rabi’ah yang sering diajarkan adalah cinta seorang hamba kepada Allah
Tuhannya. Ia mengajarkan bahwa yang pertama, cinta itu harus menutup yang lain
selain Sang Kekasih atau Yang Dicintai, yaitu bahwa seorang sufi harus
memalingkan punggungnya dari dunia dan segala daya tariknya. Ia harus
memisahkan dirinya dari sesama makhluk ciptaan Allah, agar tidak dapat menarik
diri dari Sang Pencipta, ia bahkan harus bangkit dari semua keinginan nafsu
duniawi dan tidak memberi peluang adanya kesenangan dan tidak juga kesengsaraan
yang dapat mengganggu perenungannya pada Yang Suci.
Dari banyaknya
varian asumsi tentang maḫabbah tersebut, dapat memberikan kita gambaran
untuk memahami arti maḫabbah lebih dekat. Dan dapat kita aufklarungkan
bahwa dimaksud dengan maḫabbah adalah kecintaan seorang sufi yang
luar biasa kepada Allah swt. melalui mata batin atau basirahnya. Dengan
kecintaannya kepada Allah itu, seorang sufi tidak ada yang dicintai dan
dilihatnya, kecuali hanya Allah swt. Bahkan, tidak hanya selain Allah yang tak
terlihat, diri sang sufi sendiri juga tak terlihat.
C. Tujuan Maḫabbah
Tujuan maḫabbah yaitu:
a)
Untuk
memperoleh kebutuhan, baik yang bersifat material maupun spiritual.
b)
Untuk mencapai
tingkat rohaniah tertinggi dengan tercapainya gambaran yang mutlak, yaitu cinta
kepada Tuhan.
c)
Untuk
memperoleh kesenangan bathiniah yang sulit dilukiskan dengan kata-kata,
tetapi hanya dapat dirasakan oleh jiwa.[8]
D. Kedudukan Maḫabbah
Ada yang berpendapat bahwa istilah maḫabbah selalu berdampingan dengan ma’rifat,
baik dalam kedudukannya maupun pengertiannya. Kalau ma’rifat adalah
merupakan tingkat pengetahuan kepada Tuhan melalui mata hati (al-Qalb),
maka maḫabbah adalah perasaan kedekatan dengan Tuhan melalui
cinta (roh). Sementara al-Ghazzâlî dalam kitabnya ihya ulumiddin
memandang ma’rifat datang sebelum maḫabbah.[9]
Sedangkan al-Kalabasi menjelaskan bahwa ma’rifat datang sesudah maḫabbah[10]. Selanjutnya ada yang mengatakan bahwa ma’rifat
dan maḫabbah merupakan
kembar dua yang selalu disebutkan bebarengan. Keduanya menggambarkan keadaan
dekatnya hubungan seorang sufi dengan Tuhan. Dengan kata lain maḫabbah dan ma’rifat menggambarkan dua aspek
rapat yang ada antara seorang sufi dengan Tuhan.
Dalam literature-literatur tasawuf,
tidak ada kesepakatan tentang maḫabbah apakah termasuk hal atau maqam.
Dalam hal ini, kalau kita perhatikan kembali syair-syair dan pernyataan Rabi’ah
serta pendapat-pendapat sufi, dapat dipahami bahwa maḫabbah adalah hal. Sebagaimana halnya dengan maḫabbah, ma’rifat ini dianggap
sebagai hal.
E.
Sebab-sebab
Timbulnya Maḫabbah
Para
Ulama menyebutkan bahwa sebab-sebab timbulnya cinta (maḫabbah) sangat
banyak. Yang paling penting ada sepuluh, yaitu:[11]
1.
Membaca
al-Qur’an dengan memahami dan memikirkan arti dan maksudnya.
2.
Mendekatkan
diri kepada Allah dengan cara menjalankan yang sunnah.[12]
3.
Selalu
berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaan, baik dengan lisan, hati maupun
amal perbuatan. Seseorang akan mendapatkan cinta sesuai dengan kadar dzikirnya.
4.
Melebihkan
semua yang dicintai-Nya atas semua yang engkau cintai ketika engkau dikuasai
oleh hawa nafsu, walaupun itu sulit.
5.
Hati yang
selalu mengingat asma-Nya dan sifat-Nya, menyaksikan keagungan-Nya,
makrifat kepada-Nya dan berkutat di taman makrifat ini.
6.
Mengakui semua
kebaikan dan nikmat-nikmat-Nya, baik yang zahir maupun yang batin. Semua itu
akan menyebabkan cinta kepada-Nya.
7.
Luluhnya hati
secara keseluruhan dihadapan Allah, karena merasa hina dan rendah diri.
8.
Berkhalwat
kepada-Nya untuk bermunajat kepada-Nya, khususnya pada waktu sahur (menjelang
waktu subuh). Lalu membaca kalam-Nya (al-Qur’an) dan berdiri dengan sepenuh
hati dan adab dihadapan-Nya. lalu semua itu diakhiri dengan istigfar dan tobat.
9.
Bergaul dengan
orang-orang yang benar-benar mencintai Allah dan mengambil buah perkataan
mereka yang baik-baik, sebagaimana halnya ketika memetik buah yang baik-baik.
10. Menjauhi apa-apa yang dapat melepaskan ikatan antara hati dan
Allah.
Dengan
sebab-sebab diatas dan yang lainnya, orang-orang yang mencinta akan sampai pada
tingkatan cinta (maḫabbah).
F.
Tanda-tanda
Maḫabbah
Banyak
orang yang mengaku telah mencintai Allah dan Rasul-Nya. Alangkah mudahnya
pengakuan lisan tersebut. Tidak seharusnya seseorang membohongi dirinya
sendiri. Akan tetapi, dia harus mengetahui bahwa cinta itu mempunyai
tanda-tanda yang menunjukkannya dan buah yang tampak dalam hati, lisan dan
perbuatan. Jadi, jika dia tidak ingin menipu dirinya sendiri, maka dia harus
meletakkan dirinya pada timbangan cinta dan hendaklah dia mengujinya dengan
tanda-tanda cinta.
Tanda-tanda
cinta tersebut, yaitu:[13]
1.
Senang bertemu
Kekasihnya dengan cara kasyf (terbukanya tabir) dan menyaksikan-Nya di
syurga.
2.
Mengutamakan
apa-apa yang dicintai Allah atas apa-apa yang dicintainya, baik di dalam lahirnya
maupun batin.
3.
Memperbanyak
zikir kepada Allah.[14]
4.
Berkhalwat
dengan Allah, bermunajat kepada-Nya dan membaca kitab-Nya.[15]
5.
Tidak menyesali
apa-apa yang hilang darinya, selain Allah dan sangat menyesal jika dia
melewatkan waktunya tanpa berzikir dan taat kepada Allah.
6.
Menikmati
ketaatan, tidak menganggapnya berat dan tidak merasakan keberatan.
7.
Bersikaf lembut
dan sayang kepada hamba-hamba Allah, dan bersifat keras pada musuh-musuh-Nya,
sebagaimana firman-Nya, “(orang-orang yang beriman itu) tegas kepada
orang-orang kafir, dan lembut kepada sesama mereka.” (QS. Al-Fatḫ:29)[16]
8.
Merasa takut
dan berharap dalam mencintai Allah, di bawah keagungan dan kemuliaan-Nya.[17]
9.
Menyembunyikan
perasaan cinta, menghindari pengakuan, dan tidak memperlihatkan cinta tersebut,
sebagai wujud pengagungan, pemuliaan, penghormatan terhadap Sang Kekasih. Akan
tetapi, sebagian orang-orang yang cinta kepada-Nya tidak bias menyembunyikan
cinta tersebut, sebagaimana yang telah mereka katakan,
Dia menyembunyikannya
Akan tetapi air matanya memperlihatkan rahasianya
Dan jiwanya juga memperlihatkan keberadaanya.
10.
Senang dan
ridha kepada Allah.[18]
G. Tingkatan-tingkatan Maḫabbah
Para Ulama
menyebutkan bahwa cinta (maḫabbah) memiliki 10 tingkatan:
1. Al-‘Ilâqah (gantungan). Dinamakan demikian karena tergantungnya hati pada Sang
Kekasih.
2. Al-Irâdah (keinginan), yaitu condongnya hati kepada Sang Kekasih dan usahanya
untuk mencari-Nya.
3. Ash-Shabâh (ketercurahan), yaitu tercurahnya hati pada Sang Kekasih, sehingga
pemiliknya tidak dapat menguasainya, sebagaimana tercurahnya air di puncak
gunung.
4. Al-Gharâm (cinta yang menyala-nyala), yaitu cinta yang selalu ada dalam hati
dan tidak dapat meninggalkannya. Dia selalu menetap, sebagaimana seorang
kekasih yang selalu menetap pada kekasihnya.
5. Al-Widâd (kelembutan), yaitu kesucian, ketulusan da nisi dari cinta.
6. Asy-Syaghaf (cinta yang mendalam), yaitu sampainya cinta ke dalam lubuk hati.
Junaid berkata, “Asy-Syaghaf adalah orang yang mencintai tidak melihat
kepada kekasaran, akan tetapi melihatnya sebagai keadilan dan kesetiaan.
Siksaanmu
terhadapku merupakan suatu hal yang sedap bagiku
Dan
ketidakadilanmu terhadapku dengan sesuatu yang membinasakan nafsu
Merupakan
keadilan bagiku
7. Al-Isyq (kerinduan), yaitu yang berlebihan dan pemiliknya dikhawatirkan
karenanya.
8. At-Tayammum, yaitu memperbudak dan merendahkan hati. Dikatakan “Tayyamahu
al-Ḫubb” cinta telah merendahkan dan membudaknya.
9. At-Ta’abbud (penghambaan), yaitu tingkatan di atas At-Tayammum. Sebab,
seorang hamba tidak lagi mempunyai apa-apa pada dirinya.
10. Al-Khullah. Ini hanya dimiliki oleh dua khalil (kekasih), yaitu
Ibrahim a.s dan Muhammad s.a.w. al-Khullah artinya cinta yang memenuhi
jiwa dan hati orang yang mencintai, sehingga tidak ada lagi tempat di hatinya
selain untuk dicintainya.
H. Alat untuk Mencapai Maḫabbah
Diskursus alat
pencapaian, yang terbersit dibenak kita adalah dengan apakah mencapai mahabbah?
Bagaimanakah mencapainya? Seperti itulah pertanyaan sederhananya yang akan
dijawab melalui penelaahan hasil telisikan dari sumber-sumber terkait.
Dapatkah
manusia mencapai mahabbah seperti disebutkan di atas? Para ahli tasawuf
menjawabnya dengan menggunakan pendekatan psikologi, yaitu pendekatan yang
melihat adanya potensi rohaniah yang ada dalam diri manusia. Harun Nasution,
dalam bukunya Falsafah dan Mistisis dalam Islam mengatakan bahwa,
alat untuk mencapai ma’rifah oleh sufi disebut Sir (سرّ). Dengan mengutip
pendapat al-Qusyairi, Harun Nasution mengatakan bahwa, dalam diri manusia ada
tiga alat yang digunakan untuk berhubungan dengan Tuhan. Pertama, al-Qalb[19]
(القلب) hati sanubari, sebagai alat untuk
mengetahui sifat-sifat Tuhan. Kedua, ruh[20]
(الروح) sebagai alat untuk mencintai Tuhan.
Ketiga, Sir[21]
(سرّ) yaitu alat untuk melihat Tuhan. Sir lebih halus dari pada roh, dan roh
bertempat di qalb, dan sir timbul dan dapat menerima iluminasindari
Allah, kalau qalb dan roh telah suci sesuci-sucinya dan
kosong-sekosongnya tidak berisi apapun.[22]
I. Tokoh dalam Pengembangan Maḫabbah
Tokoh awal yang dianggap sebagai pencetus gagasan cinta ilahi dalam
ilmu tasawuf ialah Ja’far al-Shadiq[23]
(699-756M). Setelah itu disusul oleh Syaqiq al-Balkhi[24] (w.
809 M), adapun gagasan yang disumbangkannya kepada ilmu tasawuf ialah gagasan
“cahaya cinta murni ilahi”. Cahaya cinta murni ilahi merupakan peringkat
keruhanian yang dipandang lebih penting oleh Syaqiq jika dibandingkan tawakul.
Tokoh lain yang merumuskan gagasan cinta ialah Harits al-Muhasibi (w.
857). Dia adalah seorang ahli filsafat dan teologi, dan guru dalam pelbagai
bidang ilmu pengetahuan yang kemudian sangat tertarik kepada tasawuf. Banyak
sekali karya-karya tasawuf yang diwariskannya kepada generasi masa kini. Salah
satu ucapannya terkenal ialah:
Apabila cinta telah kukuh di dalam hati seorang hamba, maka tidak
ada tempat di situ untuk mengingat orang atau Iblis atau Syurga atau Neraka,
tidak pula ingat sesuatu apa kecuali mengingat Kekasih dan kemurahan-Nya. Cinta
ilahi secara hakiki merupakan pencerahan kalbu sebab merasa senang memperoleh
kedekatan kepad Kekasih karna cinta, dalam keheningannya, menerbitkan
kemenangan dan hati pencinta dikuasaioleh perasaan karib dengan-Nya, dan
apabila keheningan bersepadu dengan wujudnya hubungan rahasia dengan Kekasih,
kesenangan dari hubungan rahasia itu akan mengalahkan pikiran sehingga ia tidak
lagi menyibukkan diri dengan dunia ini dan segala yang ada di dalamnya.[25]
Tetapi
tokoh yang membuat gagasan cinta ilahi popular di dalam puisi ialah Rabi’ah
al-Adawiyah (w. 185).[26]
Di dalam kitabnya Nafahat al-Uns, Jami mengatakan bahwa sumbangan
penting Rabi’ah al-Adawiyah bagi ilmu tasawuf terletak dalam keberhasilannya
memberi corak mistisme sejati kepada tasawuf. Munculnya Rabi’ah dan
gagasan-gagasannya menjadikan tasawuf tidak lagi hanya sebagai gerakan zuhud
yang bersahaja. Berkat keberhasilannya tasawuf menjelmammenjadi gerakan
keruhaniaan yang memiliki persfektif sangat luas. Dengan menekannkan pada
pentingnya bahasa cinta dalam kehidupan ahli tasawuf Rabi’ah membuka jalan yang
lebar bagi perkembangan awal puisi sufistik. Mengenai sumbangan Rabi’ah, Jami
berkata:
Para zâhîd (ahli zuhud) memandang
keindahan dunia lain dengan cahaya iman dan pengabdian dan memakingkan diri
dari dunia, tetapi masih terhalang oleh kesenangan, yaitu membayangkan surge
firdaus, sedangkan sufi sejati terhalang dari dunia oleh penglihatannya yang
terang akan Keindahan asal dan cinta hakiki.
Rabi’ah
berhasil menjadikan cinta sebagai media renungan terhadap Keindahan abadi
Tuhan. Tokoh ini juga telah membawa perkembangan tasawuf ke tahap yang disebut
Nathan soederblom sebagai persoenlichkeitsmystik, tasawuf berdasarkan
hubungan pribadi antara Allah dengan manusia sebagaimana diajarkan al-Qur’an.
Doa Rabi’ah yang terkenal berkenaan dengan gagasannya tersebut ialah,”Tuhanku,
akan terbakarlah oleh api neraka kalbu-kalbu orang yang mencinai-Mu”.
Menurut
Rabi’ah cinta merupakan landasan ketaatan dan ketakwaan kepada Tuhan. Pandangan
tersebut terlihat dalam do’anya yang terkenal dan kerap dijadikan rujukan oleh ahli-ahli
tasawuf, yakni:
Kucinta
Kau dengan dua cinta:
Cinta
untuk diriku, dan cinta sebab Kau patut dicintai
Cinta
Untuk diriku ialah karena aku karam
Di
dalam ingatan kepada-Mu semata, membuang yang lain
Cinta
sebab Kau patut dicintai, karena Kau singkap
Penghalang
sehingga aku dapat memandang-Mu
Segala
pujian tidak perlu lagi bagiku
Sebab
semua pujian untuk-Mu semata[27]
Dengan
munculnya gagasan Rabi’ah tersebut maka zikir mulai memainkan peranan penting
di dalam amalan sufi sebagai cara meningkatkan pengalaman keagamaan dan
mempertebal perasaan ketuhanan dalam kalbu mereka.
Menurut
Rabi’ah al-Adawiah dalam cinta yang sempurna seperti itu, seorang pencinta (muḫibb)
hanyut dalam ketiadaan dan hilang diri (fanâ), menyatukan diri
dengan-Nya dan menjadi milik-Nya. Pendapat ini merupakan hasil renungan dan
penghayatannya yang dalam terhadap “Tuhan mencintai mereka dan mereka
mencintai-Nya”.
J.
Dalil dan
Keutamaan Maḫabbah
Dalil
yang menunjukkan cinta Allah terhadap hamba-Nya dan cinta hamba kepada Tuhannya
sangatlah banyak. Allah berfirman,”Dia Mencintai mereka dan mereka pun
mencintai-Nya.”(QS. al-Mâ’idah: 54)[28]
Allah
berfirman,”Dan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.”(QS.
al-Baqarah: 165).[29]
Dan Allah berfirman,”Katakanlah, jika kalian (benar-benar) mencintai Allah,
maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa
kalian.”(QS. Ali-Imran: 31)[30].
Kalimat “Allah akan mencintai kalian” merupakan dalil atas cinta,
faedahnya dan keutamaannya.
Rasulullah
s.a.w bersabda:
“Cintailah
Allah atas segala nikmat yang Dia berikan kepada kalian. Dan cintailah aku
dengan cinta Allah.”
Hadis
yang menceritakan tentang cinta (maḫabbah) cukup banyak dan semuanya
menjelaskan tentang keutamaan dan pengaruhnya yang sangat besar. Ketika para
sahabat r.a benar-benar mengalami cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka
sampai pada puncak kesempurnaan iman, akhlak dan pengorbanan. Manisnya cinta
telah merupakan mereka akan pahitnya cobaan dan perihnya malapetaka yang
menimpa mereka. Lalu pengaruh cinta itu membawa mereka untuk menyerahkan nyawa,
harta, waktu dan semua yang mahal dan berharga di jalan yang mereka cintai,
dengan harapan mereka akan memperoleh ridha dan cinta-Nya.
Pada
hakikatnya, Islam merupakan amal, taklif dan hukum-hukum. Adapun rohnya adalah
cinta (maḫabbah). Amal tanpa dibarengi dengan cinta sama dengan jasad
yang tidak bernyawa.
K. Maḫabbah di Era Kekinian
Semenjak
Rabi’ah al-Adawiyah mengungkapkan corak tasawuf melalui puisi, prosa, atau
dialognya, ajaran cinta ilahi (maḫabbah) pun
mulai menjadi tema menarik di kalangan tasawuf. Gambaran tentang Tuhan pun
tidak lagi begitu menakutkan seperti sebelumnya. Tuhan seolah menjadi lebih
dekat dan lebih “manusiawi”.
Pada
perkembangan tasawuf selanjutnya, maḫabbah selalu menjadi tema yang
mendapat pembahasan secara khusus. Para sufi pun banyak yang membahas lebih
mendalam tentang tema ini dalam karya-karya mereka, seperti al-Hujwairi dengan Kasyf
al-Mahjub, ath-Thusi dengan al-Luma’, al-Qusyairi dengan ar-Risalah
al-Qusyairiyyah, al-Ghazali dengan Ihya Ulumiddin, Ibnu Arabi dalam al-Futuhat
al-Makkiyah, dan lain-lain.
Pada bidang puisi, banyak para sufi yang juga
sekaligus penyair yang kemudian menyenandung cinta ilahi, seperti Abu Sa’id bin
Abi al-Khair, al-Jilli, Ibnu al-Faridh, Jalaluddin Rumi, dan lain-lain. Hingga
sekarang, para penyair sufi kontemporer masih banyak yang menyenandungkan
puisi-puisi cinta ilahi, seperti Syekh Fattah yang membentuk kelompok musik
Debu yang kini ada di Indonesia.
L. Aufklarung
Ajaran cinta
ilahi (maḫabbatullâh) yang digaungkan para sufi melalui corak tasawufnya
sebenarnya bisa dijadikan sarana kita untuk lebih memperhalus jiwa. Kehalusan
jiwa yag dihasilkan oleh tasawuf ini diperlukan agar agama tidak selalu
dipahami secara legal-formalistik. Dengan demikian, agama pun diharapkan bisa
menjadi berwajah toleran, humanis, dan menerima realitas pluralistik yang ada
di tengah di masyarakat.
Sosok Rabi’ah
al-Adawiyah, yang pada abad ke II hijrah telah merintis konsep zuhud dalam
tasawuf berdasarkan cinta kepada Allah, dan lebih dari itu Rabi’ah
al-‘Adawiyyah tidak hanya berbicara tentang cinta Ilahi, namun juga menguraikan
ajaran tasawuf yang lain, seperti konsep zuhud, rasa sedih, rasa takut, rendah
hati, tobat, dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Isa, Syaikh
‘Abdul Qadir. Hakekat Tašâwuf. Jakarta: Qisthi Press. 2005.
Aman, Saifuddin & Abdul Qadir Isa. Tasawuf: Revolusi Mental, Zikir:
Mengolah Jiwa & Raga.Jakarta: Niaga Swadaya. 2014.
Anwar, Rosihan. Akhlak Tasawuf.
Ed.Rev. Bandung: Pustaka Setia. 2010
Hadi, Abdul. Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeunetik terhadap
Karya-karya Hamzah Fansauri.Jakarta: Pramadina. 2001.
al-Sulami, Abu Abdirrahman. Tasawuf: Buat yang ingin Tahu.Jakarta:
Erlangga. 2007.
an-Naisabury, al-Qusyairy. ar-Risalatul Qusyairiyyah fi ‘Ilmiat-Tashawwufi:
Induk Ilmu Tasawuf. terj. Mohammad Luqman Hakiem. Surabaya: Risalah Gusti. 1996.
Nasution, Ahmad Bangun. Akhlak Tasawuf: Pengenalan,
Pemahaman Dan Pengaflikasiannya (Disertasi Biografi dan Tokoh-Tokoh Sufi). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2013.
Gulen, Muhammad Fethullah. at-Tilâl al-Zumurudiyyah Nahwa Hayati al-Qalb
wa al-Rûh I: (Tasawuf Untuk Kita Semua: Menapaki Bukit-Bukit Zamrud
Kalbu Melalui Istilah-Istilah Dalam Praktik Sufisme). Pentarjim. Fuad
Syaifudin Nur.Jakarta: Republika Penerbit. 2014.
Syamhudi, M.Hasyim. Akhlak Taswuf: Dalam Konstruksi Piramida Ilmu Islam.
Jatim: Madani Media. 2015.
Schimmel, Annemarie. Mystical Dimension Of Islam. Chapel Hill: The University of North Carolina Press. 1975.
Ibrahim, Rizal. Menghadirkan Hati: Panduan
Menggapai Cinta Ilahi. Yogyakarta: Pustaka Sufi. 2003.
[1]Saikh
Syihabuddin Umar Suhrawardi,’Awarif al-Ma’arif,Alih Bahasa Ilma
Nugrahani Isma’il,(Bandung: Pustaka Hidayah, 1998),hlm.185
[2]Rosihon
Anwar,Akhlak Tasawuf,Ed.Rev,(Bandung: CV. Pustaka Setia,2010),hlm.203
[3]al-Maḫabbah adalah cinta.
Secara bahasa, kata ini pun sudah mempunyai asal kata yang banyak. Ada yang
mengatakan makna asalnya adalah bening dan bersih. Ada yang berpendapat bahwa
asalnya berasal dari
al-habab,
air yang meluap setelah turun hujan lebat. Ada lagi yang mengartikan
sebaliknya: gundah yang tidak tetap. Ada pula yang berpendapat asalnya dari al-Ḫabbu,
yaitu inti sesuatu.
[4]Lihat
Mamud Yunus,Kamus Arab-Indonesia,(Jakarta:Hidakarya,1990),hlm.96. Lihat
juga Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia,(Surabaya:Pustaka
Progressif, 1997),hlm.229.
[5]Jamil
Shaliba,al-Mu’jam al-falsafy,Jilid II,(Mesir: Dar
al-Kitab,1978),hlm.439.
[6]H.A.Musthofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Cv. Pustaka setia,1997), h.240.
Lihat juga Harun Nasution,Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, Cet. III. (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), h. 70.
[8]Abdul
Halim Mahmud, At-Tasawuf Fi Al-Islam, (Bandung: CV.
Pustaka Setia, 2002), h. 95. Dan lihat juga Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), h. 210.
[9]al-Ghazzâlî menekankan: ”Cinta tanpa ma’rifat
tidak mungkin-orang hanya dapat mencintai sesuatu yang dikenal.”(G4:254)
[10]Aliran-aliran
mistik yang memuja cinta sebagai keadaan yang setinggi-tingginya, sesuai dengan
pernyataan Santo Agustinus, res tantum cognoscitur quantum diligitur,
“orang dapat mengenal sesuatu hanya sesuai dengan cintanya kepadanya”. Lihat:
“Love Muhammadan”, dalam Encyclopedia of Religion and Ethics, ed. James
Hastings, 13 jilid (1908-27) 8:176; Ignaz Goldziher,”Die Gottesliebe in
Derislamischen Theologie”, Der Islam 9 (1919), suatu telaah mendasar
mengenai perkembangan awal daripada cinta mistik dalam islam. Annemarie
Schimmel, Studienzum Begriff der mystischen Liebe in Islam
(Marburg,1954); Schimmel, Zur Geschichte der mystischen Liebe in Islam,” Die
Welt des Orients 1952. Sejumlah sarjana mempertahankan gagasan bahwa
“cinta” merupakan intipati Sufisme; lihat misalnya Mir Valiuddin, Love of
God (Hynderabad Deccan,1968), atau antologi oleh Rene Khawan, Propos
d’amour des mystiques muslumanes (Paris,1960) dan banyak tulisan
popular.
[11]Syaikh
‘Abdul Qadir Isa, dikutip dari Ibnul Qayyim al-Jauziah, Madârij as-Sâlikin
Syarḫ Manâzil as-Sâ’irîn, h. 11-12.
[12]Derajat
itu akan mengantarkan seseorang kepada derajat dicintai, setelah mencintai.
[13] Iḫyâ’
‘Ulûm ad-Dîn karya Abu Hamid al-Ghazali, dan al-Futûḫât
al-Makkiyyah karya Muhyiddin Ibnu Arabi.
[14]Lisan
dan hatinya tidak pernah berhenti berzikir. Sebab, barang siapa yang mencintai sesuatu
maka dia akan sering mengingatnya, seperti kata seorang penyair:
Bayangan-Mu
selalu ada di hatiku dan zikir kepadA-Mu selalu ada di bibirku
Tempatmu
ada di hatiku
Maka,
bagaimana mungkin Engkau akan menghilang
[15]Dia
senantiasa melakukan shalat tahajud dan meraih keuntungan dari tenangnya malam
dan sucinya waktu. Serendah-rendah derajat maḫabbah
adalah menikmati khalwat bersama Sang Kekasih dan bermunajat
kepada-Nya.
[16]Bunyi
ayat:
Ó£JptC ãAqß§ «!$# 4
tûïÏ%©!$#ur ÿ¼çmyètB âä!#£Ï©r& n?tã Í$¤ÿä3ø9$# âä!$uHxqâ öNæhuZ÷t/ (
[17]Kadang-kadang
orang mengira bahwa rasa takut bertentangan dengan rasa cinta. Padahal,
sebenarnya bukanlah seperti itu. Mengetahui keagungan akan melahirkan
penghormatan, sebagaimana melihat keindahan akan menumbuhkan rasa cinta. Orang
yang mencinta akan memiliki rasa takut, sesuai dengn tingkatn-tingkatannya,
seperti takut akan diabaikan, takut akan dihalangi dan takut akan dijauhkan.
Oleh karena itu, sebagian orang yang mencinta mengatakan:
Aku mengenal Kekasihku dan aku takut kepada-Nya
Engkau tidak dicintai kecuali oleh orang yang mengenalmu
[18]Adapun
tanda senang kepada Allah adalah tidak bermanja-manja dengan mahluk, dan
menikmati zikir kepada Allah. Kalaupun dia bergaul dengan manusia, dia
seperti orang yang sendiri dalam
perkumpulan dan seperti orang bersama dalam kesendirian. Tentang orang yang
mencinta (mubbn) yang senang kepada Allah, Ali r.a berkata,”Mereka adalah
sekumpulan orang yang mengetahui hakikat permasalahan. Mereka memiliki jiwa
yang penuh keyakinan. Mereka menganggap lembut sesuatu yang diaanggap kasar
oleh orang-orang yang bermewah-mewahan. Dan mereka merasa senang dengan sesuatu
dibenci oleh orang-orang bodoh. Mereka hidup di dunia dengan jasad mereka, sementara hati mereka
bergantung di tempat yang tinggi. Mereka itulah khalifah-khalifah Allah di muka
bumi dan para da’i yang menyeru kepada agama-Nya.”
1)
Jantung yang berupa segumpal daging berbentuk buat
memanjang, yang terletak dipinggir dada sebelah kiri, yaitu segumpal daging yang mempunyai tugas khusus yang
didalamnya ada rongga-rongga yang mengandung darah hitam sebagai sumber ruh.
Adalah tak perlu menjelaskan tentang bentuk dan car-cara kerjanya, karena hal
itu menyangkut bidangg kedokteran dan tidak ada hubungannya dengan agama. Hati
serupa juga ada pada hewan, bahkan ada pula pada orang yang telah mati. Maka
disebut al-Qalbu, sesungguhnya bukanlah termasuk alam nyata, semester
alam yang dapat ditangkap oleh panca indra kita.
2)
Hati berupa
sesuatu yang halus (latīfah) bersifat ketuhanan (rabbāniyyah) dan ruhani
yang ada hubungannya dengan hati jasmani. Hati (al-Qalbu) yang haus
itulah, hakikat manusia yang dapat menangkap segala rasa dan dapat mengeahui
dan mengenal segala sesuatu. Hati yang disebut al-Qalbu inilah yang kita tuju sebagai hakikat
manusia, yang akan disiksa, dicerca dan dituntut dan dia pula pemikul amanah
Allah Swt. Ia mempunyai hubungan dengan hati jasmani. Karena eratnya hubungan
anatara hati jasmani dengn hati ruhani itu, hingga kebanakan akal manusia tidak
sanggup mengetahuinya dalam hal posisi hubungannya. Lihat Rizal Ibrahim, Menghadirkan
Hati: Panduan Menggapai Cinta Ilahi, (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2003), h. 87.
[20]Kata ar-Rūh ini dipakai untuk sesuatu yang berhubungan dengan jenis
yang dimaksud dalam dua pengertian:
1)
Berupa
satu jenis yang halus, bersumber dari
hati lalu tersebar keseluruh tubuh
dengan perantaraan otot dan urat yang bermacam-macam jenisnya.
Mengalirnya ruh dalam tubuh dan membanjirnya cahya hidup yang berupa
perasaan, penglihatan, pendengaran, penciuman adalah (menyerupai) cahaya lampu
yang menerangi semua sudut dari ruang. Hidup itu laksana cahaya yang kena
dinding, sedangkan ruh adalah lampunya. Jalan ruh dan bergeraknya dalam batin
seperti gerak lampu yang digerakkan oleh
penggeraknya. Para dokter apabila menyebut perkara ruh secara mutlak,
yang dimaksud adaalah pengertian diatas, yaitu uap yang halus yang terjadi
karena pemasakan dan pemanasan hati. Dalam hal ini kita tidak bermaksud seperti
itu. Karena hal itu menyangkut bidng kerja dokter yang mengobati badan. Adapun
bidang kerja para dokter agama yaitu orang-orang ma’rifat, adalah
mengobati hati. Sehingga hati itu terbawa ke sisi Tuhan Pencipta Alam semesta.
2) Berupa suatu yang halus pada manusia, yang dapat
mengetahui segala sesuatu dan dapat menangkap segala pengertian, dan ruh
seperti itulah yang dikehendaki oleh Allah Swt.
Firman Allah
Swt.:
“Katakan hai
(Muhammad) bahwa ruh itu termasuk urusan Tuhanku.” (QS. al-Isrā’: 85)
Ruh dalam pengertian ini termasuk urusan ketuhanan yang menakjubkan dan
kebanyakan akal dan pemahaman manusia tidak sanggup mengetahui hakikatnya.
Lihat Rizal Ibrahim,Menghadirkan Hati: Panduan Menggapai Cinta Ilahi,(Yogyakarta:
Pustaka Sufi,2003),hlm.86-87.
[21]Sir (rahasia) adalah perkaitan atau jembatan
antara ruh dengan Allah Swt. Sir yang tersembunyi dalam rahasia hati
berkekuatan melebihi kekuatn langit dan bumi. Sir dapat memandang tanpa
biji mata dan mendengar tanpa telinga. Sir tidak menatap disuatu tempat
dan tidak pula mengembara. Sir tidak makan dan minum. Akal tidak ada
hubungan tentang sir. Sir tidak ada hubungan dengan hukum sebab musabab.
Sir hidup dalam abad demi abad, sedangkan jasad hidup dalam waktu tertentu.
Bila seseorang yakin tentang sirnya maka dia bukan lagi dirinya. Dia adalah
daripada Allah Swt. Sedangan sekalian yng maujud datang kemudian daripadanya.
Tidak ada yang datang daripadanya dapat mengalahkannya, asalkan dia mengenal
kedudukannya dan membiasakan duduk di dalam maqamnya, maka dengan
demikian dia lebih kuat dari bumi dan langit, lebih kuat dari syurga dan
neraka, lebih kuat dari huruf dan asma’, lebih kuat dari apa yang nyata di
dalam dunia dan akhirat. Lihat
al-Hikam0.tripod.com/hikam052.html
[22]IAIN
Sumatra Utara,Pengantar Ilmu tasawuf,(Sumatra Utara,1983/1984),hlm.125.
[23]Dia
seorang ahli hadis dan tafsir (mufassir)
ternama. Selain itu dia masyhur pula sebagai ulama’ sufi yang saleh dan tingkat
pencampaian kema’rifatannya sangat tinggi. Ja’far al-shadiq jug dikenal sebagai
peletak tradisi ta’wil dalam ilmu tafsir. Dalam ajaran tasawufnya dia memberi
tempat penting bagi kesadaran ruhani, khususnya yang lahir dari pengalaman
kesufian, yang kemudian dikenal dengan istilah syathiyat (teofani). Syathiyat
adalah suatu bentuk pengalaman keruhanian seseorang sufi yang telah
wajd, yaitu seseorang yang telah mencapai ekstase mistik didalam
pringkatnya yang tinggi. Keadaan-keadaan ruhani (ahwal) yang dicapainya memberi
peluang kepadanya untuk menangkap suara yang timbul dari kedalaman pengalaman
kalbunya berupa ucapan-ucapan yang dalam. Lihat Abdul Hadi WM,Tasawuf yang
Tertindas; Kajian Hermeunetik terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri,(Jakarta:
Paramadina,2001), h. 37-38.
[24]Tokoh
yang juga perintis gagasan cinta ilaihi dan merupakan salah satu
tokoh yang tidak setuju pada
anggapan bahwa tawakkul merupakan peringkat keruhanian yang tinggi di
dalam ilmu tasawuf.
[25]Menurut
al-Muhasibi apabila seseorang telah mencapai kedudukan sebagai pencinta, maka
dia akan memproleh penglihatan mengenai DIA, dan dia akan menjadi tawanan di
dalam kuil cinta-Nya yang tersembunyi.
[26]Rabi’ah al-adawiyah adalah seorang zahid perempuan yang amat besar dari
bashrah, di irak. Ia lahir di Basrah pada tahun 714 M. Kelahirannya di liputi
bermacam cerita aneh-aneh. Pada malam ketika ia lahir, di rumahnya tidak ada
apa-apa, bahkan minyak untuk menyalakan lampupun tidak ada, juga tidak di temui
sepotong gombal pun untuk membungkus bayi yang baru di lahirkan itu. Ibunya
meminta ayah Rabi’ah supaya pinjam saja minyak dari tetangga. Ini
merupakan suatu cobaan bagi si ayah yang malang. Ayah ini telah berjanji
kepada Allah untuk tidak mengulurkan tangannya meminta tolong kepada sesamanya.
Namun begitu, ia pergi juga kepada tetangganya, mengetuk pintu, tetapi tidak
mendapat jawaban. Ia merasa lega dan mengucap syukur kepada Tuhan, karena
tidak perlu ingkar janji lalu Ia pulang dan tidur. Malam itu ia bermimpi,
Nabi Muhammad memberikan tanda kepadanya dengan mengatakan bahwa anaknya yang
baru lahir itu telah ditakdirkan menduduki tempat spiritual yang tinggi.
Rabi’ah kehilangan
kedua orang tuanya waktu ia masih kecil. Ketiga orang kakaknya perempuan juga
mati ketika wabah kelaparan melanda
basra. Ia sendiri jatuh ke tangan yang kejam, dan orang ini menjualnya sebagai
budak belia dengan harga yang tidak seberapa. Majikannya yang baru juga tidak
kurang bengisnya.
Si kecil Rabi’ah menghabiskan waktunya dengan melaksanakan
segala perintah majikannya. Malam hari di laluinya dengan berdo’a. Pada
suatu malam, majikannya melihat tanda kebesaran rohani Rabi’ah, ketika Rabi’ah
berdoa kepada Allah “Ya Rabbi, Engkau telah membuatku menjadi budak belian
seorang manusia sehingga aku terpaksa mengabdi kepadanya. Seandainya aku bebas,
pasti aku persembahkan seluruh waktu dalam hidupku ini untuk berdoa kepadaMu
Tiba-tiba tampak cahaya di dekat kepalanya, dan melihat itu majikannya menjadi
sangat ketakutan. Esok harinya Rabiah dibebaskan.
Setelah bebas, Rabi’ah
pergi ketempat-tempat yang sunyi untuk menjalani hidup dengan bermeditasi, dan
akhirnya sampailah ia di sebuah gubuk dekat Basrah. Di sini ia hidup seperti
bertapa. Sebuah tikar butut, sebuah kendil dari tanah, sebuah batu bata dan
semua itulah yang merupakn keseluruhan harta yang ia punyai. Ia sepenuhnya
mengabdikan diri untuk berdoa, dan tidur sekejap saja sebelum dini hari
meskipun hal ini sangat ia sayangkan.
Ia menerima sebuah
pinangan untuk sebuah perkawinan yang baik. Diantaranya datang dari gubernur
basra, juga dari seorang cuci-mistis yang terkenal Hasan Basri. Tetapi
Rabi’ah terlalu sibuk mengabdikan dirinya kepada Allah, hingga sisa waktunya
sedikit sekali untuk urusan duniawi. Karena itulah semua pinangan
ditolaknya.
Rabi’ah mempunyai banyak murid yang keras, termasuk Malik
bin Dinar, Raba Al-Rais, Syakh Al Balkhi, dan Hasan Basra. Mereka sering
mengunjungi Rabi’ah untuk mendapatkan nasihat atau do’a atau untuk mendengarkan
ajarannya. Pada suatu hari, Subyan Suri, seorang yang saleh dan
dihormati datang pada Rabi’ah, mengangkat kedua belah tangannya dan berdo’a:
“Tuhan yang Maha Kuasa, saya memohon harta duniawi dari-Mu”. Menagis, ia
menjawab, “harta yang sesungguhnya itu hanya didapat setelah menanggalkan
segala yang bersifat duniawi ini, dan aku melihat anda hanya mencarinya didunia
ini saja”.
Terbetik cerita,
ada orang yang mengirim uang empat puluh dinar kepada Rabi’ah. Ia menagis dan
mengangkat tangannya keatas, “Engkau tahu, Ya Allah, aku tak pernah meminta
harta dunia dari-Mu, meskipun Kau-lah pencipta dunia ini. Lantas, bagaimana aku
dapat menerima yang dari seseorang, sedangkan uang itu sesungguhnya bukan
kepunyaannya?”
Ia melarang
murid-muridnya untuk menunjukan perbuatan baik mereka kepada siapapun. Mereka
malahan diharuskan menutupi perbuatan baik itu, seperti menutup-nutupi
perbuatan jahat mereka.
Cinta Rabi’ah yang
tulus tanpa mengharapkan sesuatu pada Tuhan, terlihat dari ungkapan do’a-do’a
yang disampikannya. Ia misalnya berdo’a “Ya Tuhanku, bila aku menyembah-Mu
lantaran takut kepada neraka, maka bakarlah diriku dalam neraka; dan bila aku
menyembah-Mu karena mengharapkan surga, maka jauhkanlah aku dari surga; namun
jika aku menyembah-Mu hanya demi engkau, maka janganlah engkau tutup keindahan
abadi-Mu
[27]Tentang
sajak Rabi’ah tersebut Imam al-Ghazali mengatakan: “Mungkin yang dimaksud
oleh di dengan cinta untuk diriku ialah cinta kepada Allah karena kebaikan dan karunia-Nya….sedangkan
cinta kepada Allah sebab Dia patut dicintai ialah cinta disebabkan keindahan
dan keagungan-Nya (jamÂl
dan jalÂl)
yang menyingkap rahasia diri-Nya. dan cinta kedua inilah yang merupakan cinta
paling luhur dan dalam, dan merupakan kelezatan di dalam menyaksikan keindahan
Tuhan."
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä `tB £s?öt öNä3YÏB `tã ¾ÏmÏZÏ t$öq|¡sù ÎAù't ª!$# 5Qöqs)Î/ öNåk:Ïtä ÿ¼çmtRq6Ïtäur …...
[29]Bunyi ayat:
ÆÏBur Ĩ$¨Z9$# `tB äÏGt `ÏB Èbrß «!$# #Y#yRr& öNåktXq6Ïtä Éb=ßsx. «!$# ( tûïÉ©9$#ur (#þqãZtB#uä x©r& ${6ãm °! 3 ……..
[30]Bunyi ayat:
ö@è% bÎ) óOçFZä. tbq7Åsè? ©!$# ÏRqãèÎ7¨?$$sù ãNä3ö7Î6ósã ª!$# öÏÿøótur ö/ä3s9 ö/ä3t/qçRè 3 ª!$#ur Öqàÿxî ÒOÏm§ ÇÌÊÈ
No comments:
Post a Comment