Tuesday, December 24, 2019

TASAWUF: PLOT MENGGAPAI MAḪABBAH


TASAWUF: PLOT MENGGAPAI MAḪABBAH
Ida Rohyatul Aini


A.  Pendahuluan
Dalam pandangan tasawuf, maḫabbah (cinta) merupakan pijakan bagi segenap kemuliaan hâl, sama seperti tobat yang merupakan dasar bagi kemuliaan maqâm. Karena maḫabbah pada dasarnya adalah anugrah yang menjadi dasar pijakan bagi segenap hâl, kaum sufi menyebutnya sebagai anugrah (mawâhib). Maḫabbah adalah kecendrungan hati untuk memerhatikan keindahan atau kecantikan.[1]
Berkenaan dengan maḫabbah, Suharawadi mengatakan, “Sesungguhnya, maḫabbah (cinta) adalah mata rantai keselarasan yang mengikat sang pecinta kepada kekasihnya; ketertarikan yang mengikat sang pencinta kepadanya, dan melenyapkan sesuatu dari wujudnya sehingga ia menguasai seluruh sifat dalam dirinya, kemudian menangkap zatnya dalam genggam Qudrah (Allah).[2]
B.   Definisi Maḫabbah
Kata maḫabbah[3] berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabatan yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam, atau kecintaan atau cinta yang mendalam.[4] Dalam kitab Mu’jam al-Falsafi, Jamil Shaliba mengungkapkan bahwa  mahabbah merupakan lawan dari al-baghd, yakni cinta lawan dari benci.[5]
Pemahaman manusia tentang cinta begitu mendalam dan hati mereka sangat gadrung kepadanya, maka sebutan untuk kata cinta (al-Hubb) sangatlah banyak sebagai ungkapan-ungkapan mereka yang menunjukkan bahwa mereka sedang merasakan cinta. Sehingga dari pendefinisian mahabbah memiliki banyak varian, diantaranya:
Harun Nasution mengatakan bahwa maḫabbah artinya cinta. Yang mengandung makna maḫabbaullah (cinta kepada ilahi). Lebih luas lagi, bahwa “maḫabbah” memuat pengertian yaitu:
1.   Memeluk dan mematuhi perintah tuhan dan membenci sikaf yang melawan kepada Tuhan
2.   Berserah diri kepada Tuhan
3.   Mengosongkan perasaan dihati dari segala-galanya kecuali dari dzat yang dikasihi.[6]
Abu Yazid al-Bisthamy berkata,”maḫabbah merupakan membebaskan diri dari hal-hal sebesar apapun yang datang dari dirimu, dan membesar-besarkan hal-hal kecil yang datang dari Kekasihmu.”
Sahl mengatakan,”maḫabbah merupakan pemelukan rasa taat dan berpisah dari sikap kontra.”
Abu Ali Ahmad ar-Rudzbary berkata,”Cinta adalah kebersesuaian dengan Kekasih.”
Abu Abdullah al-Qusyairi mengatakan,”Hakikat cinta berarti bahwa engkau memberikan segenap dirimu kepada Dia yang kau cintai, sehingga tak sesuatupun tersisa.”
Dulaf asy-Syibly menjelaskan,”Cinta disebut ‘maḫabbah’ karena ia melenyapkan segala sesuatu dari hati, selain Sang Kekasih.”[7]
Al-Hasan mengatakan, Hakikat cinta adalah tegakmu bersama Kekasihmu dan mencopot sifat-sifatmu.”
Muhammad bin Ali al-Kattany berkata,”Cinta adalah mengutamakan segalanya bagi Sang Kekasih.”
Al-Harits al-Muhasiby menjelaskan, “Cinta adalah kecendrunganmu kepada sesuatu dengan sepenuhnya, kemudian engkau mengutamakan padanya dibanding dirimu, jiwamu dan harta bendamu, kemudian berada dalam keserasian dengannya, baik secara lahir maupun batin, kemudian menginformasikan atas kekuranganmu dalam mencinta-Nya.”
Menurut Jalaluddin Rumi, “Cinta adalah realitas abadi, tetapi ia cenderung memudar dan menghilang, karena manusia jatuh cinta pada pantulan cahaya Sang Kekasih.”
Definisi Cinta menurut Rabi’ah yang sering diajarkan adalah cinta seorang hamba kepada Allah Tuhannya. Ia mengajarkan bahwa yang pertama, cinta itu harus menutup yang lain selain Sang Kekasih atau Yang Dicintai, yaitu bahwa seorang sufi harus memalingkan punggungnya dari dunia dan segala daya tariknya. Ia harus memisahkan dirinya dari sesama makhluk ciptaan Allah, agar tidak dapat menarik diri dari Sang Pencipta, ia bahkan harus bangkit dari semua keinginan nafsu duniawi dan tidak memberi peluang adanya kesenangan dan tidak juga kesengsaraan yang dapat mengganggu perenungannya pada Yang Suci.
Dari banyaknya varian asumsi tentang maḫabbah tersebut, dapat memberikan kita gambaran untuk memahami arti maḫabbah lebih dekat. Dan dapat kita aufklarungkan bahwa dimaksud dengan maḫabbah adalah kecintaan seorang sufi yang luar biasa kepada Allah swt. melalui mata batin atau basirahnya. Dengan kecintaannya kepada Allah itu, seorang sufi tidak ada yang dicintai dan dilihatnya, kecuali hanya Allah swt. Bahkan, tidak hanya selain Allah yang tak terlihat, diri sang sufi sendiri juga tak terlihat.
C.  Tujuan Maḫabbah
Tujuan  maḫabbah  yaitu:
a)         Untuk memperoleh kebutuhan, baik yang bersifat material maupun spiritual.
b)         Untuk mencapai tingkat rohaniah tertinggi dengan tercapainya gambaran yang mutlak, yaitu cinta kepada Tuhan.
c)         Untuk memperoleh kesenangan bathiniah yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, tetapi hanya dapat dirasakan oleh jiwa.[8]
D.  Kedudukan Maḫabbah
Ada yang berpendapat bahwa istilah maḫabbah selalu berdampingan dengan ma’rifat, baik dalam kedudukannya maupun pengertiannya. Kalau ma’rifat adalah merupakan tingkat pengetahuan kepada Tuhan melalui mata hati (al-Qalb), maka maḫabbah adalah perasaan kedekatan dengan Tuhan melalui cinta (roh). Sementara al-Ghazzâlî dalam kitabnya ihya ulumiddin memandang ma’rifat datang sebelum maḫabbah.[9] Sedangkan al-Kalabasi menjelaskan bahwa ma’rifat datang sesudah maḫabbah[10]. Selanjutnya ada yang mengatakan bahwa ma’rifat dan maḫabbah merupakan kembar dua yang selalu disebutkan bebarengan. Keduanya menggambarkan keadaan dekatnya hubungan seorang sufi dengan Tuhan. Dengan kata lain maḫabbah dan ma’rifat menggambarkan dua aspek rapat yang ada antara seorang sufi dengan Tuhan.
Dalam literature-literatur tasawuf, tidak ada kesepakatan tentang maḫabbah apakah termasuk hal atau maqam. Dalam hal ini, kalau kita perhatikan kembali syair-syair dan pernyataan Rabi’ah serta pendapat-pendapat sufi, dapat dipahami bahwa maḫabbah adalah hal. Sebagaimana halnya dengan maḫabbah, ma’rifat ini dianggap sebagai hal.



E.   Sebab-sebab Timbulnya Maḫabbah
Para Ulama menyebutkan bahwa sebab-sebab timbulnya cinta (maḫabbah) sangat banyak. Yang paling penting ada sepuluh, yaitu:[11]
1.      Membaca al-Qur’an dengan memahami dan memikirkan arti dan maksudnya.
2.      Mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menjalankan yang sunnah.[12]
3.      Selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaan, baik dengan lisan, hati maupun amal perbuatan. Seseorang akan mendapatkan cinta sesuai dengan kadar dzikirnya.
4.      Melebihkan semua yang dicintai-Nya atas semua yang engkau cintai ketika engkau dikuasai oleh hawa nafsu, walaupun itu sulit.
5.      Hati yang selalu mengingat asma-Nya dan sifat-Nya, menyaksikan keagungan-Nya, makrifat kepada-Nya dan berkutat di taman makrifat ini.
6.      Mengakui semua kebaikan dan nikmat-nikmat-Nya, baik yang zahir maupun yang batin. Semua itu akan menyebabkan cinta kepada-Nya.
7.      Luluhnya hati secara keseluruhan dihadapan Allah, karena merasa hina dan rendah diri.
8.      Berkhalwat kepada-Nya untuk bermunajat kepada-Nya, khususnya pada waktu sahur (menjelang waktu subuh). Lalu membaca kalam-Nya (al-Qur’an) dan berdiri dengan sepenuh hati dan adab dihadapan-Nya. lalu semua itu diakhiri dengan istigfar dan tobat.
9.      Bergaul dengan orang-orang yang benar-benar mencintai Allah dan mengambil buah perkataan mereka yang baik-baik, sebagaimana halnya ketika memetik buah yang baik-baik.
10.  Menjauhi apa-apa yang dapat melepaskan ikatan antara hati dan Allah.
Dengan sebab-sebab diatas dan yang lainnya, orang-orang yang mencinta akan sampai pada tingkatan cinta (maḫabbah).
F.   Tanda-tanda Maḫabbah
Banyak orang yang mengaku telah mencintai Allah dan Rasul-Nya. Alangkah mudahnya pengakuan lisan tersebut. Tidak seharusnya seseorang membohongi dirinya sendiri. Akan tetapi, dia harus mengetahui bahwa cinta itu mempunyai tanda-tanda yang menunjukkannya dan buah yang tampak dalam hati, lisan dan perbuatan. Jadi, jika dia tidak ingin menipu dirinya sendiri, maka dia harus meletakkan dirinya pada timbangan cinta dan hendaklah dia mengujinya dengan tanda-tanda cinta.
Tanda-tanda cinta tersebut, yaitu:[13]
1.         Senang bertemu Kekasihnya dengan cara kasyf (terbukanya tabir) dan menyaksikan-Nya di syurga.
2.         Mengutamakan apa-apa yang dicintai Allah atas apa-apa yang dicintainya, baik di dalam lahirnya maupun batin.
3.         Memperbanyak zikir kepada Allah.[14]
4.         Berkhalwat dengan Allah, bermunajat kepada-Nya dan membaca kitab-Nya.[15]
5.         Tidak menyesali apa-apa yang hilang darinya, selain Allah dan sangat menyesal jika dia melewatkan waktunya tanpa berzikir dan taat kepada Allah.
6.         Menikmati ketaatan, tidak menganggapnya berat dan tidak merasakan keberatan.
7.         Bersikaf lembut dan sayang kepada hamba-hamba Allah, dan bersifat keras pada musuh-musuh-Nya, sebagaimana firman-Nya, “(orang-orang yang beriman itu) tegas kepada orang-orang kafir, dan lembut kepada sesama mereka.” (QS. Al-Fatḫ:29)[16]
8.         Merasa takut dan berharap dalam mencintai Allah, di bawah keagungan dan kemuliaan-Nya.[17]
9.         Menyembunyikan perasaan cinta, menghindari pengakuan, dan tidak memperlihatkan cinta tersebut, sebagai wujud pengagungan, pemuliaan, penghormatan terhadap Sang Kekasih. Akan tetapi, sebagian orang-orang yang cinta kepada-Nya tidak bias menyembunyikan cinta tersebut, sebagaimana yang telah mereka katakan,
Dia menyembunyikannya
Akan tetapi air matanya memperlihatkan rahasianya
Dan jiwanya juga memperlihatkan keberadaanya.
10.     Senang dan ridha kepada Allah.[18]
G.  Tingkatan-tingkatan Maḫabbah
Para Ulama menyebutkan bahwa cinta (maḫabbah) memiliki 10 tingkatan:
1.   Al-‘Ilâqah (gantungan). Dinamakan demikian karena tergantungnya hati pada Sang Kekasih.  
2.   Al-Irâdah (keinginan), yaitu condongnya hati kepada Sang Kekasih dan usahanya untuk mencari-Nya.
3.   Ash-Shabâh (ketercurahan), yaitu tercurahnya hati pada Sang Kekasih, sehingga pemiliknya tidak dapat menguasainya, sebagaimana tercurahnya air di puncak gunung.
4.   Al-Gharâm (cinta yang menyala-nyala), yaitu cinta yang selalu ada dalam hati dan tidak dapat meninggalkannya. Dia selalu menetap, sebagaimana seorang kekasih yang selalu menetap pada kekasihnya.
5.   Al-Widâd (kelembutan), yaitu kesucian, ketulusan da nisi dari cinta.
6.   Asy-Syaghaf (cinta yang mendalam), yaitu sampainya cinta ke dalam lubuk hati. Junaid berkata, “Asy-Syaghaf adalah orang yang mencintai tidak melihat kepada kekasaran, akan tetapi melihatnya sebagai keadilan dan kesetiaan.
Siksaanmu terhadapku merupakan suatu hal yang sedap bagiku
Dan ketidakadilanmu terhadapku dengan sesuatu yang membinasakan nafsu
Merupakan keadilan bagiku
7.   Al-Isyq (kerinduan), yaitu yang berlebihan dan pemiliknya dikhawatirkan karenanya.
8.   At-Tayammum, yaitu memperbudak dan merendahkan hati. Dikatakan “Tayyamahu al-Ḫubb” cinta telah merendahkan dan membudaknya.
9.   At-Ta’abbud (penghambaan), yaitu tingkatan di atas At-Tayammum. Sebab, seorang hamba tidak lagi mempunyai apa-apa pada dirinya.
10.     Al-Khullah. Ini hanya dimiliki oleh dua khalil (kekasih), yaitu Ibrahim a.s dan Muhammad s.a.w. al-Khullah artinya cinta yang memenuhi jiwa dan hati orang yang mencintai, sehingga tidak ada lagi tempat di hatinya selain untuk dicintainya.
H. Alat untuk Mencapai Maḫabbah
Diskursus alat pencapaian, yang terbersit dibenak kita adalah dengan apakah mencapai mahabbah? Bagaimanakah mencapainya? Seperti itulah pertanyaan sederhananya yang akan dijawab melalui penelaahan hasil telisikan dari sumber-sumber terkait.
Dapatkah manusia mencapai mahabbah seperti disebutkan di atas? Para ahli tasawuf menjawabnya dengan menggunakan pendekatan psikologi, yaitu pendekatan yang melihat adanya potensi rohaniah yang ada dalam diri manusia. Harun Nasution, dalam bukunya Falsafah dan Mistisis dalam Islam mengatakan bahwa, alat untuk mencapai ma’rifah oleh sufi disebut Sir (سرّ). Dengan mengutip pendapat al-Qusyairi, Harun Nasution mengatakan bahwa, dalam diri manusia ada tiga alat yang digunakan untuk berhubungan dengan Tuhan. Pertama, al-Qalb[19] (القلب) hati sanubari, sebagai alat untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan. Kedua, ruh[20] (الروح) sebagai alat untuk mencintai Tuhan. Ketiga, Sir[21] (سرّ) yaitu alat untuk melihat Tuhan. Sir lebih halus dari pada roh, dan roh bertempat di qalb, dan sir timbul dan dapat menerima iluminasindari Allah, kalau qalb dan roh telah suci sesuci-sucinya dan kosong-sekosongnya tidak berisi apapun.[22]
I.    Tokoh dalam Pengembangan Maḫabbah
Tokoh awal yang dianggap sebagai pencetus gagasan cinta ilahi dalam ilmu tasawuf ialah Ja’far al-Shadiq[23] (699-756M). Setelah itu disusul oleh Syaqiq al-Balkhi[24] (w. 809 M), adapun gagasan yang disumbangkannya kepada ilmu tasawuf ialah gagasan “cahaya cinta murni ilahi”. Cahaya cinta murni ilahi merupakan peringkat keruhanian yang dipandang lebih penting oleh Syaqiq jika dibandingkan tawakul. Tokoh lain yang merumuskan gagasan cinta ialah Harits al-Muhasibi (w. 857). Dia adalah seorang ahli filsafat dan teologi, dan guru dalam pelbagai bidang ilmu pengetahuan yang kemudian sangat tertarik kepada tasawuf. Banyak sekali karya-karya tasawuf yang diwariskannya kepada generasi masa kini. Salah satu ucapannya terkenal ialah:
Apabila cinta telah kukuh di dalam hati seorang hamba, maka tidak ada tempat di situ untuk mengingat orang atau Iblis atau Syurga atau Neraka, tidak pula ingat sesuatu apa kecuali mengingat Kekasih dan kemurahan-Nya. Cinta ilahi secara hakiki merupakan pencerahan kalbu sebab merasa senang memperoleh kedekatan kepad Kekasih karna cinta, dalam keheningannya, menerbitkan kemenangan dan hati pencinta dikuasaioleh perasaan karib dengan-Nya, dan apabila keheningan bersepadu dengan wujudnya hubungan rahasia dengan Kekasih, kesenangan dari hubungan rahasia itu akan mengalahkan pikiran sehingga ia tidak lagi menyibukkan diri dengan dunia ini dan segala yang ada di dalamnya.[25]
Tetapi tokoh yang membuat gagasan cinta ilahi popular di dalam puisi ialah Rabi’ah al-Adawiyah (w. 185).[26] Di dalam kitabnya Nafahat al-Uns, Jami mengatakan bahwa sumbangan penting Rabi’ah al-Adawiyah bagi ilmu tasawuf terletak dalam keberhasilannya memberi corak mistisme sejati kepada tasawuf. Munculnya Rabi’ah dan gagasan-gagasannya menjadikan tasawuf tidak lagi hanya sebagai gerakan zuhud yang bersahaja. Berkat keberhasilannya tasawuf menjelmammenjadi gerakan keruhaniaan yang memiliki persfektif sangat luas. Dengan menekannkan pada pentingnya bahasa cinta dalam kehidupan ahli tasawuf Rabi’ah membuka jalan yang lebar bagi perkembangan awal puisi sufistik. Mengenai sumbangan Rabi’ah, Jami berkata:
Para zâhîd (ahli zuhud) memandang keindahan dunia lain dengan cahaya iman dan pengabdian dan memakingkan diri dari dunia, tetapi masih terhalang oleh kesenangan, yaitu membayangkan surge firdaus, sedangkan sufi sejati terhalang dari dunia oleh penglihatannya yang terang akan Keindahan asal dan cinta hakiki.
Rabi’ah berhasil menjadikan cinta sebagai media renungan terhadap Keindahan abadi Tuhan. Tokoh ini juga telah membawa perkembangan tasawuf ke tahap yang disebut Nathan soederblom sebagai persoenlichkeitsmystik, tasawuf berdasarkan hubungan pribadi antara Allah dengan manusia sebagaimana diajarkan al-Qur’an. Doa Rabi’ah yang terkenal berkenaan dengan gagasannya tersebut ialah,”Tuhanku, akan terbakarlah oleh api neraka kalbu-kalbu orang yang mencinai-Mu”.
Menurut Rabi’ah cinta merupakan landasan ketaatan dan ketakwaan kepada Tuhan. Pandangan tersebut terlihat dalam do’anya yang terkenal dan kerap dijadikan rujukan oleh ahli-ahli tasawuf, yakni:
Kucinta Kau dengan dua cinta:
Cinta untuk diriku, dan cinta sebab Kau patut dicintai
Cinta Untuk diriku ialah karena aku karam
Di dalam ingatan kepada-Mu semata, membuang yang lain
Cinta sebab Kau patut dicintai, karena Kau singkap
Penghalang sehingga aku dapat memandang-Mu
Segala pujian tidak perlu lagi bagiku
Sebab semua pujian untuk-Mu semata[27]
Dengan munculnya gagasan Rabi’ah tersebut maka zikir mulai memainkan peranan penting di dalam amalan sufi sebagai cara meningkatkan pengalaman keagamaan dan mempertebal perasaan ketuhanan dalam kalbu mereka.
Menurut Rabi’ah al-Adawiah dalam cinta yang sempurna seperti itu, seorang pencinta (muḫibb) hanyut dalam ketiadaan dan hilang diri (fanâ), menyatukan diri dengan-Nya dan menjadi milik-Nya. Pendapat ini merupakan hasil renungan dan penghayatannya yang dalam terhadap “Tuhan mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya”.
J.   Dalil dan Keutamaan Maḫabbah
Dalil yang menunjukkan cinta Allah terhadap hamba-Nya dan cinta hamba kepada Tuhannya sangatlah banyak. Allah berfirman,”Dia Mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.”(QS. al-Mâ’idah: 54)[28]
Allah berfirman,”Dan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.”(QS. al-Baqarah: 165).[29] Dan Allah berfirman,”Katakanlah, jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian.”(QS. Ali-Imran: 31)[30]. Kalimat “Allah akan mencintai kalian” merupakan dalil atas cinta, faedahnya dan keutamaannya.
Rasulullah s.a.w bersabda:
“Cintailah Allah atas segala nikmat yang Dia berikan kepada kalian. Dan cintailah aku dengan cinta Allah.”
Hadis yang menceritakan tentang cinta (maḫabbah) cukup banyak dan semuanya menjelaskan tentang keutamaan dan pengaruhnya yang sangat besar. Ketika para sahabat r.a benar-benar mengalami cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka sampai pada puncak kesempurnaan iman, akhlak dan pengorbanan. Manisnya cinta telah merupakan mereka akan pahitnya cobaan dan perihnya malapetaka yang menimpa mereka. Lalu pengaruh cinta itu membawa mereka untuk menyerahkan nyawa, harta, waktu dan semua yang mahal dan berharga di jalan yang mereka cintai, dengan harapan mereka akan memperoleh ridha dan cinta-Nya.
Pada hakikatnya, Islam merupakan amal, taklif dan hukum-hukum. Adapun rohnya adalah cinta (maḫabbah). Amal tanpa dibarengi dengan cinta sama dengan jasad yang tidak bernyawa.
K. Maḫabbah di Era Kekinian
Semenjak Rabi’ah al-Adawiyah mengungkapkan corak tasawuf melalui puisi, prosa, atau dialognya, ajaran cinta ilahi (maḫabbah) pun mulai menjadi tema menarik di kalangan tasawuf. Gambaran tentang Tuhan pun tidak lagi begitu menakutkan seperti sebelumnya. Tuhan seolah menjadi lebih dekat dan lebih “manusiawi”.
Pada perkembangan tasawuf selanjutnya, maḫabbah selalu menjadi tema yang mendapat pembahasan secara khusus. Para sufi pun banyak yang membahas lebih mendalam tentang tema ini dalam karya-karya mereka, seperti al-Hujwairi dengan Kasyf al-Mahjub, ath-Thusi dengan al-Luma’, al-Qusyairi dengan ar-Risalah al-Qusyairiyyah, al-Ghazali dengan Ihya Ulumiddin, Ibnu Arabi dalam al-Futuhat al-Makkiyah, dan lain-lain.
Pada bidang puisi, banyak para sufi yang juga sekaligus penyair yang kemudian menyenandung cinta ilahi, seperti Abu Sa’id bin Abi al-Khair, al-Jilli, Ibnu al-Faridh, Jalaluddin Rumi, dan lain-lain. Hingga sekarang, para penyair sufi kontemporer masih banyak yang menyenandungkan puisi-puisi cinta ilahi, seperti Syekh Fattah yang membentuk kelompok musik Debu yang kini ada di Indonesia.
L.  Aufklarung
Ajaran cinta ilahi (maḫabbatullâh) yang digaungkan para sufi melalui corak tasawufnya sebenarnya bisa dijadikan sarana kita untuk lebih memperhalus jiwa. Kehalusan jiwa yag dihasilkan oleh tasawuf ini diperlukan agar agama tidak selalu dipahami secara legal-formalistik. Dengan demikian, agama pun diharapkan bisa menjadi berwajah toleran, humanis, dan menerima realitas pluralistik yang ada di tengah di masyarakat.
Sosok Rabi’ah al-Adawiyah, yang pada abad ke II hijrah telah merintis konsep zuhud dalam tasawuf berdasarkan cinta kepada Allah, dan lebih dari itu Rabi’ah al-‘Adawiyyah tidak hanya berbicara tentang cinta Ilahi, namun juga menguraikan ajaran tasawuf yang lain, seperti konsep zuhud, rasa sedih, rasa takut, rendah hati, tobat, dan sebagainya.



DAFTAR PUSTAKA

Isa, Syaikh ‘Abdul Qadir. Hakekat Tašâwuf. Jakarta: Qisthi Press. 2005.
Aman, Saifuddin & Abdul Qadir Isa. Tasawuf: Revolusi Mental, Zikir: Mengolah Jiwa & Raga.Jakarta: Niaga Swadaya. 2014.
Anwar, Rosihan. Akhlak Tasawuf. Ed.Rev. Bandung: Pustaka Setia. 2010
Hadi, Abdul. Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeunetik terhadap Karya-karya Hamzah Fansauri.Jakarta: Pramadina. 2001.
al-Sulami, Abu Abdirrahman. Tasawuf: Buat yang ingin Tahu.Jakarta: Erlangga. 2007.
an-Naisabury, al-Qusyairy. ar-Risalatul Qusyairiyyah fi ‘Ilmiat-Tashawwufi: Induk Ilmu Tasawuf. terj. Mohammad Luqman Hakiem. Surabaya: Risalah Gusti. 1996.
Nasution, Ahmad Bangun. Akhlak Tasawuf: Pengenalan, Pemahaman Dan Pengaflikasiannya (Disertasi Biografi dan Tokoh-Tokoh Sufi). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2013.
Gulen, Muhammad Fethullah. at-Tilâl al-Zumurudiyyah Nahwa Hayati al-Qalb wa al-Rûh I: (Tasawuf Untuk Kita Semua: Menapaki Bukit-Bukit Zamrud Kalbu Melalui Istilah-Istilah Dalam Praktik Sufisme). Pentarjim. Fuad Syaifudin Nur.Jakarta: Republika Penerbit. 2014.
Syamhudi, M.Hasyim. Akhlak Taswuf: Dalam Konstruksi Piramida Ilmu Islam. Jatim: Madani Media. 2015.
Schimmel, Annemarie. Mystical Dimension Of Islam. Chapel Hill: The University of North Carolina Press. 1975.
Ibrahim, Rizal. Menghadirkan Hati: Panduan Menggapai Cinta Ilahi. Yogyakarta: Pustaka Sufi. 2003.


[1]Saikh Syihabuddin Umar Suhrawardi,’Awarif al-Ma’arif,Alih Bahasa Ilma Nugrahani Isma’il,(Bandung: Pustaka Hidayah, 1998),hlm.185
[2]Rosihon Anwar,Akhlak Tasawuf,Ed.Rev,(Bandung: CV. Pustaka Setia,2010),hlm.203
[3]al-Maḫabbah adalah cinta. Secara bahasa, kata ini pun sudah mempunyai asal kata yang banyak. Ada yang mengatakan makna asalnya adalah bening dan bersih. Ada yang berpendapat bahwa asalnya berasal dari
al-habab, air yang meluap setelah turun hujan lebat. Ada lagi yang mengartikan sebaliknya: gundah yang tidak tetap. Ada pula yang berpendapat asalnya dari al-Ḫabbu, yaitu inti sesuatu.
[4]Lihat Mamud Yunus,Kamus Arab-Indonesia,(Jakarta:Hidakarya,1990),hlm.96. Lihat juga Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia,(Surabaya:Pustaka Progressif, 1997),hlm.229.
[5]Jamil Shaliba,al-Mu’jam al-falsafy,Jilid II,(Mesir: Dar al-Kitab,1978),hlm.439.
[6]H.A.Musthofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Cv. Pustaka setia,1997), h.240. Lihat juga Harun Nasution,Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, Cet. III. (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), h. 70.
[7]Yusuf Zaidan, al-Muqaddimah Fi at-Tasawwuf. Terj.Faisa Saleh…….., h. 24.
[8]Abdul Halim Mahmud, At-Tasawuf Fi Al-Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2002), h. 95. Dan lihat juga Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), h. 210.
[9]al-Ghazzâlî menekankan: ”Cinta tanpa ma’rifat tidak mungkin-orang hanya dapat mencintai sesuatu yang dikenal.”(G4:254)
[10]Aliran-aliran mistik yang memuja cinta sebagai keadaan yang setinggi-tingginya, sesuai dengan pernyataan Santo Agustinus, res tantum cognoscitur quantum diligitur, “orang dapat mengenal sesuatu hanya sesuai dengan cintanya kepadanya”. Lihat: “Love Muhammadan”, dalam Encyclopedia of Religion and Ethics, ed. James Hastings, 13 jilid (1908-27) 8:176; Ignaz Goldziher,”Die Gottesliebe in Derislamischen Theologie”, Der Islam 9 (1919), suatu telaah mendasar mengenai perkembangan awal daripada cinta mistik dalam islam. Annemarie Schimmel, Studienzum Begriff der mystischen Liebe in Islam (Marburg,1954); Schimmel, Zur Geschichte der mystischen Liebe in Islam,” Die Welt des Orients 1952. Sejumlah sarjana mempertahankan gagasan bahwa “cinta” merupakan intipati Sufisme; lihat misalnya Mir Valiuddin, Love of God (Hynderabad Deccan,1968), atau antologi oleh Rene Khawan,  Propos d’amour des mystiques muslumanes (Paris,1960) dan banyak tulisan popular.
[11]Syaikh ‘Abdul Qadir Isa, dikutip dari Ibnul Qayyim al-Jauziah, Madârij as-Sâlikin Syarḫ  Manâzil as-Sâ’irîn, h. 11-12.
[12]Derajat itu akan mengantarkan seseorang kepada derajat dicintai, setelah mencintai.
[13] Iḫyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn karya Abu Hamid al-Ghazali, dan  al-Futûḫât al-Makkiyyah karya Muhyiddin Ibnu Arabi.
[14]Lisan dan hatinya tidak pernah berhenti berzikir. Sebab, barang siapa yang mencintai sesuatu maka dia akan sering mengingatnya, seperti kata seorang penyair:
Bayangan-Mu selalu ada di hatiku dan zikir kepadA-Mu selalu ada di bibirku
Tempatmu ada di hatiku
Maka, bagaimana mungkin Engkau akan menghilang
[15]Dia senantiasa melakukan shalat tahajud dan meraih keuntungan dari tenangnya malam dan sucinya waktu. Serendah-rendah derajat maḫabbah adalah menikmati khalwat bersama Sang Kekasih dan bermunajat kepada-Nya.
[16]Bunyi ayat:
  
Ó£JptC ãAqß§ «!$# 4 tûïÏ%©!$#ur ÿ¼çmyètB âä!#£Ï©r& n?tã Í$¤ÿä3ø9$# âä!$uHxqâ öNæhuZ÷t/ (
[17]Kadang-kadang orang mengira bahwa rasa takut bertentangan dengan rasa cinta. Padahal, sebenarnya bukanlah seperti itu. Mengetahui keagungan akan melahirkan penghormatan, sebagaimana melihat keindahan akan menumbuhkan rasa cinta. Orang yang mencinta akan memiliki rasa takut, sesuai dengn tingkatn-tingkatannya, seperti takut akan diabaikan, takut akan dihalangi dan takut akan dijauhkan. Oleh karena itu, sebagian orang yang mencinta mengatakan:
Aku mengenal Kekasihku dan aku takut kepada-Nya
Engkau tidak dicintai kecuali oleh orang yang mengenalmu
[18]Adapun tanda senang kepada Allah adalah tidak bermanja-manja dengan mahluk, dan menikmati zikir kepada Allah. Kalaupun dia bergaul dengan manusia, dia seperti  orang yang sendiri dalam perkumpulan dan seperti orang bersama dalam kesendirian. Tentang orang yang mencinta (mubbn) yang senang kepada Allah, Ali r.a berkata,”Mereka adalah sekumpulan orang yang mengetahui hakikat permasalahan. Mereka memiliki jiwa yang penuh keyakinan. Mereka menganggap lembut sesuatu yang diaanggap kasar oleh orang-orang yang bermewah-mewahan. Dan mereka merasa senang dengan sesuatu dibenci oleh orang-orang bodoh. Mereka hidup di dunia dengan  jasad mereka, sementara hati mereka bergantung di tempat yang tinggi. Mereka itulah khalifah-khalifah Allah di muka bumi dan para da’i yang menyeru kepada agama-Nya.”
[19]al-Qalbu mengandung pengertian yang terbagi dalam:
1)    Jantung  yang berupa segumpal daging berbentuk buat memanjang, yang terletak dipinggir dada sebelah kiri, yaitu segumpal  daging yang mempunyai tugas khusus yang didalamnya ada rongga-rongga yang mengandung darah hitam sebagai sumber ruh. Adalah tak perlu menjelaskan tentang bentuk dan car-cara kerjanya, karena hal itu menyangkut bidangg kedokteran dan tidak ada hubungannya dengan agama. Hati serupa juga ada pada hewan, bahkan ada pula pada orang yang telah mati. Maka disebut al-Qalbu, sesungguhnya bukanlah termasuk alam nyata, semester alam yang dapat ditangkap oleh panca indra kita.
2)    Hati berupa sesuatu yang halus (latīfah) bersifat ketuhanan (rabbāniyyah) dan ruhani yang ada hubungannya dengan hati jasmani. Hati (al-Qalbu) yang haus itulah, hakikat manusia yang dapat menangkap segala rasa dan dapat mengeahui dan mengenal segala sesuatu. Hati yang disebut al-Qalbu  inilah yang kita tuju sebagai hakikat manusia, yang akan disiksa, dicerca dan dituntut dan dia pula pemikul amanah Allah Swt. Ia mempunyai hubungan dengan hati jasmani. Karena eratnya hubungan anatara hati jasmani dengn hati ruhani itu, hingga kebanakan akal manusia tidak sanggup mengetahuinya dalam hal posisi hubungannya. Lihat Rizal Ibrahim, Menghadirkan Hati: Panduan Menggapai Cinta Ilahi, (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2003), h. 87.
[20]Kata ar-Rūh ini dipakai untuk sesuatu yang berhubungan dengan jenis yang dimaksud dalam dua pengertian:
1)    Berupa satu  jenis yang halus, bersumber dari hati lalu tersebar keseluruh  tubuh dengan perantaraan otot dan urat yang bermacam-macam jenisnya.
Mengalirnya ruh dalam tubuh dan membanjirnya cahya hidup yang berupa perasaan, penglihatan, pendengaran, penciuman adalah (menyerupai) cahaya lampu yang menerangi semua sudut dari ruang. Hidup itu laksana cahaya yang kena dinding, sedangkan ruh adalah lampunya. Jalan ruh dan bergeraknya dalam batin seperti gerak lampu yang digerakkan oleh  penggeraknya. Para dokter apabila menyebut perkara ruh secara mutlak, yang dimaksud adaalah pengertian diatas, yaitu uap yang halus yang terjadi karena pemasakan dan pemanasan hati. Dalam hal ini kita tidak bermaksud seperti itu. Karena hal itu menyangkut bidng kerja dokter yang mengobati badan. Adapun bidang kerja para dokter agama yaitu orang-orang ma’rifat, adalah mengobati hati. Sehingga hati itu terbawa ke sisi Tuhan Pencipta Alam semesta.
2)    Berupa suatu yang halus pada manusia, yang dapat mengetahui segala sesuatu dan dapat menangkap segala pengertian, dan ruh seperti itulah yang dikehendaki oleh Allah Swt.
Firman Allah Swt.:
Katakan hai (Muhammad) bahwa ruh itu termasuk urusan Tuhanku.” (QS. al-Isrā’: 85)
Ruh dalam pengertian ini termasuk urusan ketuhanan yang menakjubkan dan kebanyakan akal dan pemahaman manusia tidak sanggup mengetahui hakikatnya. Lihat Rizal Ibrahim,Menghadirkan Hati: Panduan Menggapai Cinta Ilahi,(Yogyakarta: Pustaka Sufi,2003),hlm.86-87.
[21]Sir (rahasia) adalah perkaitan atau jembatan antara ruh dengan Allah Swt. Sir yang tersembunyi dalam rahasia hati berkekuatan melebihi kekuatn langit dan bumi. Sir dapat memandang tanpa biji mata dan mendengar tanpa telinga. Sir tidak menatap disuatu tempat dan tidak pula mengembara. Sir tidak makan dan minum. Akal tidak ada hubungan tentang sir. Sir tidak ada hubungan dengan hukum sebab musabab. Sir hidup dalam abad demi abad, sedangkan jasad hidup dalam waktu tertentu. Bila seseorang yakin tentang sirnya maka dia bukan lagi dirinya. Dia adalah daripada Allah Swt. Sedangan sekalian yng maujud datang kemudian daripadanya. Tidak ada yang datang daripadanya dapat mengalahkannya, asalkan dia mengenal kedudukannya dan membiasakan duduk di dalam maqamnya, maka dengan demikian dia lebih kuat dari bumi dan langit, lebih kuat dari syurga dan neraka, lebih kuat dari huruf dan asma’, lebih kuat dari apa yang nyata di dalam dunia dan akhirat.  Lihat al-Hikam0.tripod.com/hikam052.html
[22]IAIN Sumatra Utara,Pengantar Ilmu tasawuf,(Sumatra Utara,1983/1984),hlm.125.
[23]Dia seorang ahli hadis dan  tafsir (mufassir) ternama. Selain itu dia masyhur pula sebagai ulama’ sufi yang saleh dan tingkat pencampaian kema’rifatannya sangat tinggi. Ja’far al-shadiq jug dikenal sebagai peletak tradisi ta’wil dalam ilmu tafsir. Dalam ajaran tasawufnya dia memberi tempat penting bagi kesadaran ruhani, khususnya yang lahir dari pengalaman kesufian, yang kemudian dikenal dengan istilah syathiyat (teofani). Syathiyat adalah suatu bentuk pengalaman keruhanian seseorang sufi yang telah wajd, yaitu seseorang yang telah mencapai ekstase mistik didalam pringkatnya yang tinggi. Keadaan-keadaan ruhani (ahwal) yang dicapainya memberi peluang kepadanya untuk menangkap suara yang timbul dari kedalaman pengalaman kalbunya berupa ucapan-ucapan yang dalam. Lihat Abdul Hadi WM,Tasawuf yang Tertindas; Kajian Hermeunetik terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri,(Jakarta: Paramadina,2001), h. 37-38.
[24]Tokoh yang juga perintis gagasan cinta ilaihi dan merupakan  salah satu  tokoh yang tidak setuju  pada anggapan bahwa tawakkul merupakan peringkat keruhanian yang tinggi di dalam  ilmu tasawuf. 
[25]Menurut al-Muhasibi apabila seseorang telah mencapai kedudukan sebagai pencinta, maka dia akan memproleh penglihatan mengenai DIA, dan dia akan menjadi tawanan di dalam kuil cinta-Nya yang tersembunyi.
[26]Rabi’ah al-adawiyah adalah seorang zahid perempuan yang amat besar dari bashrah, di irak. Ia lahir di Basrah pada tahun 714 M. Kelahirannya di liputi bermacam cerita aneh-aneh. Pada malam ketika ia lahir, di rumahnya tidak ada apa-apa, bahkan minyak untuk menyalakan lampupun tidak ada, juga tidak di temui sepotong gombal pun untuk membungkus bayi yang baru di lahirkan itu. Ibunya meminta ayah Rabi’ah supaya pinjam saja minyak  dari tetangga. Ini merupakan suatu cobaan bagi si ayah yang malang.  Ayah ini telah berjanji kepada Allah untuk tidak mengulurkan tangannya meminta tolong kepada sesamanya. Namun begitu, ia pergi juga kepada tetangganya, mengetuk pintu, tetapi tidak mendapat  jawaban. Ia merasa lega dan mengucap syukur kepada Tuhan, karena tidak perlu ingkar  janji lalu Ia pulang dan tidur. Malam itu ia bermimpi, Nabi Muhammad memberikan tanda kepadanya dengan mengatakan bahwa anaknya yang baru lahir itu telah ditakdirkan menduduki tempat spiritual yang tinggi.
Rabi’ah kehilangan kedua orang tuanya waktu ia masih kecil. Ketiga orang kakaknya perempuan juga mati ketika wabah kelaparan  melanda basra. Ia sendiri jatuh ke tangan yang kejam, dan orang ini menjualnya sebagai budak belia dengan harga yang tidak seberapa. Majikannya yang baru juga tidak kurang bengisnya.
Si kecil Rabi’ah  menghabiskan waktunya dengan melaksanakan segala perintah  majikannya. Malam hari di laluinya dengan berdo’a. Pada suatu malam, majikannya melihat tanda kebesaran rohani Rabi’ah, ketika Rabi’ah berdoa kepada Allah “Ya Rabbi, Engkau telah membuatku menjadi budak belian seorang manusia sehingga aku terpaksa mengabdi kepadanya. Seandainya aku bebas, pasti aku persembahkan seluruh waktu dalam hidupku ini untuk berdoa kepadaMu Tiba-tiba tampak cahaya di dekat kepalanya, dan melihat itu majikannya menjadi sangat ketakutan. Esok harinya Rabiah dibebaskan.
Setelah bebas, Rabi’ah pergi ketempat-tempat yang sunyi untuk menjalani hidup dengan bermeditasi, dan akhirnya sampailah ia di sebuah gubuk dekat Basrah. Di sini ia hidup seperti bertapa. Sebuah tikar butut, sebuah kendil dari tanah, sebuah batu bata dan semua itulah yang merupakn keseluruhan harta yang ia punyai. Ia sepenuhnya mengabdikan diri untuk berdoa, dan tidur sekejap saja sebelum dini hari meskipun hal ini sangat ia sayangkan.
Ia menerima sebuah pinangan untuk sebuah perkawinan yang baik. Diantaranya datang dari gubernur basra, juga dari seorang cuci-mistis yang terkenal Hasan Basri. Tetapi Rabi’ah terlalu sibuk mengabdikan dirinya kepada Allah, hingga sisa waktunya sedikit sekali untuk urusan duniawi. Karena itulah semua pinangan ditolaknya.
Rabi’ah  mempunyai banyak murid yang keras, termasuk Malik bin Dinar, Raba Al-Rais, Syakh Al Balkhi, dan Hasan Basra. Mereka sering mengunjungi Rabi’ah untuk mendapatkan nasihat atau do’a atau untuk mendengarkan ajarannya. Pada suatu hari, Subyan Suri, seorang yang saleh dan dihormati datang pada Rabi’ah, mengangkat kedua belah tangannya dan berdo’a: “Tuhan yang Maha Kuasa, saya memohon harta duniawi dari-Mu”. Menagis, ia menjawab, “harta yang sesungguhnya itu hanya didapat setelah menanggalkan segala yang bersifat duniawi ini, dan aku melihat anda hanya mencarinya didunia ini saja”.
 Terbetik cerita, ada orang yang mengirim uang empat puluh dinar kepada Rabi’ah. Ia menagis dan mengangkat tangannya keatas, “Engkau tahu, Ya Allah, aku tak pernah meminta harta dunia dari-Mu, meskipun Kau-lah pencipta dunia ini. Lantas, bagaimana aku dapat menerima yang dari seseorang, sedangkan uang itu sesungguhnya bukan kepunyaannya?”
Ia melarang murid-muridnya untuk menunjukan perbuatan baik mereka kepada siapapun. Mereka malahan diharuskan menutupi perbuatan baik itu, seperti menutup-nutupi perbuatan jahat mereka.
Cinta Rabi’ah yang tulus tanpa mengharapkan sesuatu pada Tuhan, terlihat dari ungkapan do’a-do’a yang disampikannya. Ia misalnya berdo’a “Ya Tuhanku, bila aku menyembah-Mu lantaran takut kepada neraka, maka bakarlah diriku dalam neraka; dan bila aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga, maka jauhkanlah aku dari surga; namun jika aku menyembah-Mu hanya demi engkau, maka janganlah engkau tutup keindahan abadi-Mu
[27]Tentang sajak Rabi’ah tersebut Imam al-Ghazali mengatakan: “Mungkin yang dimaksud oleh di dengan cinta untuk diriku ialah cinta kepada Allah karena kebaikan dan karunia-Nya….sedangkan cinta kepada Allah sebab Dia patut dicintai ialah cinta disebabkan keindahan dan keagungan-Nya (jamÂl dan jalÂl) yang menyingkap rahasia diri-Nya. dan cinta kedua inilah yang merupakan cinta paling luhur dan dalam, dan merupakan kelezatan di dalam menyaksikan keindahan Tuhan."
[28] Bunyi ayat:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä `tB £s?ötƒ öNä3YÏB `tã ¾ÏmÏZƒÏŠ t$öq|¡sù ÎAù'tƒ ª!$# 5Qöqs)Î/ öNåk:Ïtä ÿ¼çmtRq6Ïtäur …...

[29]Bunyi ayat:
šÆÏBur Ĩ$¨Z9$# `tB äÏ­Gtƒ `ÏB Èbrߊ «!$# #YŠ#yRr& öNåktXq6Ïtä Éb=ßsx. «!$# ( tûïÉ©9$#ur (#þqãZtB#uä x©r& ${6ãm °! 3 …….. 

[30]Bunyi ayat:
ö@è% bÎ) óOçFZä. tbq7Åsè? ©!$# ÏRqãèÎ7¨?$$sù ãNä3ö7Î6ósムª!$# öÏÿøótƒur ö/ä3s9 ö/ä3t/qçRèŒ 3 ª!$#ur Öqàÿxî ÒOÏm§ ÇÌÊÈ  

No comments:

Post a Comment

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...