Tuesday, December 24, 2019

HISTORY ISLAM OF INDONESIA: KONTRIBUSI PERADABAN ISLAM GLOBAL


HISTORY ISLAM OF INDONESIA:
KONTRIBUSI PERADABAN ISLAM GLOBAL
Ida Rohyatul Aini


Islam datang di Indoneia dengan membawa peradaban baru yang memiliki corak keislaman secara khusus. Beberapa bentuk peradaban Islam mewarrnai kehidupan dan pemikiran masyarakat Islam di Indonesia. Peradaban Islam yang dibawa mubaligh Islam dari Arab dikulturasikan dengan tradisi dan budaya setempat. Akulturasi antara peradaban Islam dan peradaban masyarakat setempat menjadi terpadu yang membawa dampak positif bagi perkembangan budaya Islam di Indonesia.
A.       Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia
1.    Sejarah Islam Indonesia
Banyak variasi catatan tahun sejarah masuknya Islam di Indonesia, ada yang berpendapat bahwa masuknya Islam ke Indonesia sudah di mulai sejak abad pertama hijriyah langsunng dari Jazirah Arab.[1] Kemudian ada yang berpendapat pada abad 13 M yang dibawa oleh gujarat dengan bukti ditemmukannya makam sulthan yang beragama Islam pertama Malik as-Sholeh, pendapat ini dipelopori oleh Snouck Hurgronje dan sarjana-sarjana orientalis Belanda. Kemudian pendapat lain menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7-8 M (abad pertama Hijriyah), pendapat ini di pelopori oleh Prof. Hamka dan sarjana-sarjana muslim lainnya. Kemudian pendapat lain menyebutkan bahwa memang benar islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 atau 8 M, tapi baru di anut oleh para pedagang Timur Tengah di pelabuhan-pelabuhan. Barulah pada abad ke 13 M Islam mulai menyebar dan mempunyai kekuatan politik di kerjaan Samudra Pasai.[2] Islam datang ke Indonesia cenderung bersifat inklusif, damai dan akomodatif terhadap keragaman budaya dan agama yang ada di Indonesia[3].
Pendapat mengenai tahun masuknya Islam di Indonesia memang beragam, namun, suatu fakta sejarah yang disepakati para sejarahwan salah satunya yakni bahwa proses islamisasi di Indonesia dibawa oleh para pedagang dari luar. Selain melalui perdagangan, Islam menyebar di Indonesia melalui pernikahan, pesantren dan kebudayaan.[4]
2.    Masuknya Islam di Indonesia dan Perkembangannya
Kita pasti menemukan dari beberapa sumber yang menjelaskan tahun masuk Islam di Indonesia yang berbeda versi. Yang pemakalah juga sedikit singgung mengenai hal ini pada pendahuluan. Namun, hal yang perlu di pisahkan dari tahun datangnya islam itu yakni mengenai awal mula masuk dan berkembangnya Islam.
Oleh karena itu, abad ke-7 M boleh dipandang sebagai abad permulaan kedatangan dan hubungan pedagang-pedagang muslim dengan sebagian kecil daerah dan bangsa Indonesia. Dan belum dapat dipastikan para pedagang itu melakukan Islamisasi melalui dakwah karena baru lima atau enam abad kemudian baru diketahui muncul kerajaan yang bercorak Islam, yakni Samudra Pasai[5]. Atau mungkin penyebaran daerah tersebut terjadi pada abad-abad menjelang terbentukya kerajaan.[6]
Periode perkembangan Islam di Nusantara mulai merata yang di tandai dengan adanya kekuasaan politik yang menata masyarakat Islam. Hal ini di mulai pada abad ke-9 M ditandai dengan berdirinya perlak[7] dan Leran Gersik Jawa Timur dibawah pimpinan Fatimah Binti Maimun Hibatullah pada abad ke-11 M yakni dua abad sebelum didirikannya kekuasaan Hindu Majapahit yang  mengambil lokasi di Trowolan-Mojokerto-Jawa Timur pada 1292 M[8], kemudian  Kerajaan Malaka[9], dan Kerajaan Aceh[10]. Selain itu, di Jawa juga terdapat kerajaan yang bercorak Islam seperti kesultanan Demak[11], kerajaan Pajang[12],  Kerajaan Mataram Islam dan Cirebon. Kemudian di Indonesia bagian timur, muncul kerajaan Makasar (Gowa-Tallo), Kerajaan Ternate dan Tidore dan Kerajaan Banjar.[13]
Dengan cara perlahan dan bertahap, tanpa  menolak dengan keras terhadap sosial kultural masyarakat sekitar, Islam memperkenalkan toleransi dan persamaan derajat. Dalam masyarakat Hindu-Jawa yang menekankan perbedaan derajat, ajaran Islam menarik perhatian. Dan panggilan Islam ini kemudian menjadi dorongan untuk mengambil alih kekuasaan politik dari tangan penguasa.[14]
Ada beberapa alasan bahwa Islam di Nusantara berbeda dengan Islam di kawasan lain. Pertama, pembentukan distingsi Islam Indonesia berkaitan dengan watak pernyebaran Islam ketika pertama kali datang ke kawasan ini. kedatangan islam dan proses islamisasi selanjutya pada umumnya berlangsung dengan damai. Kedua, Islam yang pertama kali adalah Islam yang umumnya dibawa para guru sufi yang mengembara ke tempat lain untuk menyebarkan Islam. Ketiga, sosiologi masyarakat Nusantara pada umumnya berbeda dengan  kaum muslimin di kawasan Arabia atau tempat lainnya. Masyarakat Indonesia yang pada umumnya masyarakat agraris cenderung dipengaruhi dunia mistis.[15]
3.    Islam pada Masa Kolonial/Kemerdekaan
Islam sebagai agama dalam sejarah tidak pernah dikembangkan melalui agresi militer ataupun agama, melainkan melaksanakan dengan jalan damai. Portugis dengan cara tiba-tiba melancarkan serangan militer dan agama katoliknya di Malaka dan Indonesia serangan yang demikian ini diikuti oleh Spanyol dari Indonesia Timur. Yang kemudian di jawab dengan gencatan senjata.[16]
Kemudian dikarnakan abad ke-16 Indonesia telah dikuasai oleh Islam, maka Portugis berhadapan dengan perlawanan umat Islam. Portugis memang berhasil menguasai kota Malaka, namun usaha untuk melumpuhkan kesultanan Demak mengalami kesukaran. Sekalipun saat itu Portugis mendapat bantuan kerja sama dari kerajaan Hindu-Pajajaran, dan berhasil mendirikan pangkalannya di Sunda Kelapa sejak 21 Agustus 1522, namun kelanjutannya dapat dipatahkan oleh Fatahillah pada 22 Juni 1527.
Kehadiran Portugis dirasa mengancam kehidupan umat beragama dan perdagangan. Para bangsawan, raja dan penguasa  perdagangan juga merasa terancam dan memihak kepada Islam yang merupakan agama rakyatnya. Akibat dari serangan portugis tersebut, kesultanan demak bekerja sama dengan kesultanan lainnya berhasil menutup laut Indonesia dari kapal-kapal Portugis dan berhasil merebut kembali Sunda Kelapa. Dan dengan keberhasilan merebut kembali Sunda Kelapa ke  tngan Islam, berhasil mengamankan Indonesia selama 200 tahun dari usaha penjajahan Portugis. Dan hanya satu wilayah Indonesia yang lemah dan dapat dikuasai Portugis, yakni Timur-Timur, karena disini belum berdiri kekuasaan politik Islam.[17]
Selanjutnya, pertengahan abad ke 17 imperialis  Belanda berusaha mewujudkan pemerintahan yang kuat di indonesia yang dapat melindungi transportasi dan perdagangannya. Tetapi usahanya tertunda dua abad lamanya karena menemui perlawannan yang tangguh dari umat Islam saat itu. Kedatangan Belanda tepat  memasuki saat-saat kelemahan pertahanan maritim dari kesultanan-kesultanan Indonesia. Kelemahan ini diakibatkan dikarenakan banyaknya peperangan yang dilakukan oleh Kesultanan dalam usahanya menutup lautan Indonesia dari perluasan wilayah imperialis Portugis.[18]
Setelah itu, pada abad ke-18 terjadi beberapa pemberontakan besar santri dibeberapa tempat.  Pemberontakan itu tercatat sebanyak empat kali, yakni: pertama,  Perang Padri  di Sumatra Barat (1821-1828), pemberontakan ini timbul sebagai akibat haji-haji menentang golongan adat dan pemberontakan ini diakhiri setelah adannya invensi militer belanda. Kedua, di Jawa Tengah (1825-1830). Pemberontakan ini timbul sebagai akibat tumbuhnya gerakan Mahdi  yang melancarkan Perang Sabil terhadap imperialis Belanda. Ketiga, di Barat Laut Jawa (1840-1880) sebenarnya pemberontakan ini merupakan respon dari Umat Islam Banten yang berusaha melepaskan dirinya dari tindakan Tanam Paksa, dan pemberontakani ini 1834, 1836, 1842 dan 1849, kemudian bangkit lahi pada 1880 dan 1888. Keempat, di Aceh (1873-1903), pemberontakan ini berhasil mengacaukan imperialis Belanda selama 30 tahun.[19] Dikarenakan banyaknya pemberontakan-pemberonakan itu, Belanda kemudian mememberikan pengawasan yang ketat terhadap perkembangan Pesantren. Beberapa upaya pencegahan terjadinya pemberontakan terulang kembali yakni mengadakan oprasi militer ke pedalaman dan menindak dengan kekerasan ulama yang ada di perkampungan dan tidak boleh adanya pengrekrutan santri, serta bagi masyarakat awam pemerintah harus meyakinkan kalau pemerintah tidak memusuhi agama Islam bahkan melindungi umat Islam dibuktikan dengan mendirikan Masjid-masjid.[20]
Kemudian pada abad ke-19 muncul Sarekat Dagang Islam (16 Oktober 1905) yang dipimpin oleh Haji Samanhudi dari Surakarta sebagai respon dari sistem Belanda yang mematahkan peranan umat Islam dalam bidang politik, ekonomi dan sosial. Gerakan ini berorientasi politik, dan populer di tengah rakyat setelah munculnya salah seornag priyayi Jawa yaitu H.O.S Cokroaminoto. Dan masih pada abad Ke-19 muncul Muhamadiyah (1912), diikuti oleh Perserikatan Ulama (1916), Persatuan Islam (1923) dan Nahdatul Ulama (1926).[21]
Pemberontakan demi pemberontakan terjadi, kemudian salah satu aktualisasi penting Bangsa Indonesia adalah pada tahun 1945 dimana  Indonesia di proklamirkan tidak lagi sebagai negara terjajah. dengan cara membuat proklamasi kemerdekaan, dan Piagam Jakarta (22 Juni 1945) yang berisikan rumusan Pancasila. yang berisikan nilai-nilai islami.[22] Sejauh ini, Islam Indonesia mempunyai keunikan tersendiri karena disamping menjadi salah satu faktor pemersatu bangsa juga memberikan suasana baru dalam keberislaman yang berbeda dengan Islam di Timur Tengah. Islam Indonesia ternyata mempu beradaptasi dengan budaya lokal seperti bentuk Masjid dan tatacara mengiringi ritual keagamaan.[23]
Hubungan umat Islam dan pemerintah juga di warnai oleh berbagai definisi umat Islam. Sebagian memandang pemerintah Indonesia sekarang ini  dengan definisi nominal atau ritual dan menemukan bahwa pemerintah adalah bukan saja sahabat umat Islam juga pemerintah Islam. Sebagian lagi kaum yang mendefinisikan umat secara sosial dan ideologikal  memandang pemerintah Indonesia sekarang sebagai penguasa yang  membenci bahkan menindas Islam. Kelompok yang satu merangkul pemerintah, seperti dicerminkan oleh para ulama yang mencium tangan para pejabat dan mendorong pihak kedua untuk menentang pemerintah.[24]
B.       Konteks Peradaban Islam
Peradaban Islam adalah terjemahan dari kata Arab ”al-Hadhārah al-Islāmiyyah”, artinya kemajuan Islam.[25] Menurut A.A Fyzee, peradaban (civilization) dapat diartikan dalam hubungannya dengan kewarganegaraan karna berasal dari kata civies (Latin) atau civil (Inggris) yang berarti seorang warganegara yang berkemajuan.[26] Lain halnya dengan Hodgson mendefinisikan Civilization sebagai sebuah pengelompokan yang relative luas dari kebudayaan-kebudaaan yang saling berkaitan yang telah terbagi dalam tradiai-tradisi kumulatif dalam bentuk kebudayaan tinggi.[27] Jika dikaitkan dengan komunitas masyarakat maka peradaban merupakan identitas tertinggi dari sebuah komunitas masyarakat yang memiliki kebudayaan-kebudayaan yang saling terkait yang membedakannya dengan komunitas masyarakat lain. Antara A.A Fyzee dan Hodgson sama-sama terkait dengan masyarakta atau warga negara dalam memahami peradaban.
Peradaban Islam memiliki tiga pengertian yang berbeda. Pertama, kemajuan dan tingkat kecerdasan akal yang dihasilkan dalam suatu periode kekuasaan Islam mulai dari periode Nabi Muhammad Saw. sampai perkembangan kekuasaan sekarang. Kedua, hasil-hasil yang dicapai oleh umat Islam dalam lapangan kesusastraan, ilmu pengetahuan dan kesenian; ketiga, kemajuan politik atau kekuasaan Islam terutama dalam hubungannya dengan ibadah-ibadah, penggunaan bahasa, dan kebiasaan hidup kemasyarakatan.
C.       Kontribusi Peradaban Islam
1.    Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia
a.    Pendidikan Zaman Kerajaan Islam
1)   Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudra Pasai, yang didirikan pada abad ke-10 M dengan raja pertamanya Malik Ibrahim bin Mahdum. Yang kedua bernama al-Malik al-Shaleh dan yang terakhir bernama Al-Malik Sabar Syah (tahun 1444 M/ abad ke-15 H).[28] Pada tahun 1345, Ibnu Batutah dari Maroko sempat singgah di Kerajaan Pasai pada zaman pemerintahan Malik Az-Zahir, raja yang terkenal alim dalam ilmu agama dan bermazhab Syafi’i, mengadakan pengajian sampai waktu sholat Ashar dan fasih berbahasa Arab serta mempraktikkan pola hidup yang sederhana.[29]
Keterangan Ibnu Batutah tersebut dapat ditarik kesimpulan pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Pasai sebagai berikut: (1) Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syari’at adalah Fiqh mazhab Syafi’i, (2) Sistem pendidikannya secara informal berupa majlis ta’lim dan halaqoh, (3) Tokoh pemerintahan merangkap tokoh agama, (4) Biaya pendidikan bersumber dari Negara.
Pada zaman kerajaan Samudra Pasai mencapai kejayaannya pada abad ke-14 M, maka pendidikan juga tentu mendapat tempat tersendiri. Mengutip keterangan Tome Pires, yang menyatakan bahwa “di Samudra Pasai banyak terdapat kota, dimana antar warga kota tersebut terdapat orang-orang berpendidikan”.[30]
Menurut Ibnu Batutah juga, Pasai pada abad ke-14 M merupakan pusat studi Islam di Asia Tenggara, dan banyak berkumpul ulama-ulama dari negara-negara Islam. Ibnu Batutah menyatakan bahwa Sultan Malikul Zahir adalah orang yang cinta kepada para ulama dan ilmu pengetahuan. Bila hari Jum’at tiba, Sultan sembahyang di Masjid menggunakan pakaian ulama, setelah sembahyang mengadakan diskusi dengan para alim pengetahuan agama, antara lain: Amir Abdullah dari Delhi, dan Tajudin dari Ispahan. Bentuk pendidikan dengan cara diskusi disebut Majlis Ta’lim atau halaqoh. Sistem halaqoh yaitu para murid mengambil posisi melingkari guru. Guru duduk di tengah-tengah lingkaran murid dengan posisi seluruh wajah murid menghadap guru.
2)   Kerajaan Perlak
Kerajaan Islam kedua di Indonesia adalah Perlak di Aceh. Rajanya yang pertama Sultan Alaudin (tahun 1161-1186 H/abad 12 M). Antara Pasai dan Perlak terjalin kerja sama yang baik sehingga seorang Raja Pasai menikah dengan Putri Raja Perlak. Perlak merupakan daerah yang terletak sangat strategis di Pantai Selat Malaka, dan bebas dari pengaruh Hindu.[31]
Kerajaan Islam Perlak juga memiliki pusat pendidikan Islam Dayah Cot Kala. Dayah disamakan dengan Perguruan Tinggi, materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, tauhid, tasawuf, akhlak, ilmu bumi, ilmu bahasa dan sastra Arab, sejarah dan tata negara, mantiq, ilmu falaq dan filsafat. Daerahnya kira-kira dekat Aceh Timur sekarang. Pendirinya adalah ulama Pangeran Teungku Chik M. Amin, pada akhir abad ke-3 H/ abad 10 M. Inilah pusat pendidikan pertama.
Rajanya yang ke enam bernama Sultan Mahdum Alaudin Muhammad Amin yang memerintah antara tahun 1243-1267 M, terkenal sebagai seorang Sultan yang arif bijaksana lagi alim. Beliau adalah seorang ulama yang mendirikan Perguruan Tinggi Islam yaitu suatu Majlis Taklim tinggi dihadiri khusus oleh para murid yang sudah alim. Lembaga tersebut juga mengajarkan dan membacakan kitab-kitab agama yang berbobot pengetahuan tinggi, misalnya kitab al-Umm karangan Imam Syafi’i.[32] Dengan demikian pada kerajaan Perlak ini proses pendidikan Islam telah berjalan cukup baik.
3)   Kerajaan Aceh Darussalam
Proklamasi kerajaan Aceh Darussalam adalah hasil peleburan kerajaan Islam Aceh di belahan Barat dan Kerajaan Islam Samudra Pasai di belahan Timur. Putra Sultan Abidin Syamsul Syah diangkat menjadi Raja dengan Sultan Alaudin Ali Mughayat Syah (1507-1522 M). Bentuk teritorial yang terkecil dari susunan pemerintahan Kerajaan Aceh adalah Gampong (Kampung), yang dikepalai oleh seorang Keucik dan Waki (wakil). Gampong-gampong yang letaknya berdekatan dan yang penduduknya melakukan ibadah bersama pada hari Jum’at di sebuah masjid merupakan suatu kekuasaan wilayah yang disebut mukim, yang memegang peranan pimpinan mukim disebut Imeum mukim.[33]
Jenjang pendidikan yang ada di Kerajaan Aceh Darussalam diawali pendidikan terendah Meunasah (Madrasah). Yang berarti tempat belajar atau sekolah, terdapat di setiap gampong dan mempunyai multi fungsi antara lain: (1) Sebagai tempat belajar al-Qur’an, (2) Sebagai Sekolah Dasar, dengan materi yang diajarkan yaitu menulis dan membaca huruf Arab, Ilmu agama, bahasa Melayu, akhlak dan sejarah Islam.[34]
Selanjutnya sistem pendidikan di Dayah (Pesantren) seperti di Meunasah tetapi materi yang diajarkan adalah kitab Nahwu, yang diartikan kitab yang dalam Bahasa Arab, meskipun arti Nahwu sendiri adalah tata bahasa (Arab). Dayah biasanya dekat masjid, meskipun ada juga di dekat Teungku yang memiliki dayah itu sendiri, terutama dayah yang tingkat pelajarannya sudah tinggi. Oleh karena itu orang yang ingin belajar nahwu itu tidak dapat belajar sambilan, untuk itu mereka harus memilih Dayah yang agak jauh sedikit dari kampungnya dan tinggal di dayah tersebut yang disebut Meudagang. Di Dayah telah disediakan pondok-pondok kecil mamuat dua orang tiap rumah. Dalam buku karangan Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, istilah rangkang merupakan madrasah setingkat Tsanawiyah, materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, ilmu bumi, sejarah, berhitung, dan akhlak. Rangkang juga diselenggarakan disetiap mukim.
Bidang pendidikan di kerajaan Aceh Darussalam benar-benar menjadi perhatian. Pada saat itu terdapat lembaga-lembaga negara yang bertugas dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan yaitu: (1) Balai Seutia Hukama, merupakan lembaga ilmu pengetahuan, tempat berkumpulnya para ulama, ahli pikir dan cendikiawan untuk membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan. (2) Balai Seutia Ulama, merupakan jawatan pendidikan yang bertugas mengurus masalah-masalah pendidikan dan pengajaran. (3) Balai Jama’ah Himpunan Ulama, merupakan kelompok studi tempat para ulama dan sarjana berkumpul untuk bertukar fikiran membahas persoalan pendidikan dan ilmu pendidikannya.
Aceh pada saat itu merupakan sumber ilmu pengetahuan dengan sarjana-sarjananya yang terkenal di dalam dan luar Negeri. Sehingga banyak orang luar datang ke Aceh untuk menuntut ilmu, bahkan ibukota Aceh Darussalam berkembang menjadi kota Internasional dan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan.
Kerajaan Aceh telah menjalin suatu hubungan persahabatan dengan kerajaan Islam terkemuka di Timur Tengah yaitu kerajaan Turki. Pada masa itu banyak pula ulama dan pujangga-pujangga dari berbagai negeri Islam yang datang ke Aceh. Para ulama dan pujangga ini mengajarkan ilmu agama Islam (Theologi Islam) dan berbagai ilmu pengetahuan serta menulis bermacam-macam kitab berisi ajaran agama. Karenanya pengajaran agama Islam di Aceh menjadi penting dan Aceh menjadi kerajaan Islam yang kuat di nusantara. Diantara para ulama dan pijangga yang pernah datang ke kerajaan Aceh antara lain Muhammad Azhari yang mengajar ilmu Metafisika, Syekh Abdul Khair Ibn Syekh Hajar ahli dalam bidang pogmatic dan mistik, Muhammad Yamani ahli dalam bidang ilmu usul fiqh dan Syekh Muhammad Jailani Ibn Hasan yang mengajar logika.
Tokoh pendidikan agama Islam lainnya yang berada di kerajaan Aceh adalah Hamzah Fansuri. Ia merupakan seorang pujangga dan guru agama yang terkenal dengan ajaran tasawuf yang beraliran wujudiyah. Diantara karya-karya Hamzah Fansuri adalah Asrar al-Aufin, Syarab al-Asyikin, dan Zuiat al-Nuwahidin. Sebagai seorang pujangga ia menghasilkan karya-karya, Syair si burung pungguk, syair perahu.[35]
4)   Kerajaan Langkat
Berdasarkan data yang didapatkan bahwa sebelum tahun 1900, kerajaan Langkat belum memiliki lembaga pendidikan formal. Pendidikan yang dilaksanakan masih dengan pendidikan non formal, yaitu dengan belajar kepada guru-guru agama ataupun ahli-ahli dalam bidang tertentu. Bagi keluarga kerajaan juga diberikan pendidikan yang seperti ini. Para guru-guru itu diundang ke istana untuk memberikan ceramah dan pengajaran kepada raja beserta keluarganya. Ketika itu dinamika intelektual khususnya dalam bidang pendidikan belum menjadi fokus perhatian para sultan. Nampaknya mereka masih sibuk dengan masalah politik yang terjadi, yaitu berkaitan dengan perluasan wilayah kekuasaan dan lain sebagainya. Hal tersebut menjadikan dinamika intelektual di Langkat tidak berkembang dengan baik dan kurang mendapat perhatian. Baru, setelah sultan Abdul Aziz menjadi sultan Langkat, lembaga pendidikan formal yang dinamakan maktab (baca: madrasah) dapat berdiri dan menjadi pusat pendidikan agama  bagi masyarakat Langkat.
Dengan berdirinya Madrasah al-Masrullah tahun 1912, Madrasah Aziziah pada tahun  1914 dan Madrasah Mahmudiyah tahun 1921, maka Langkat menjadi salah satu dari tempat yang dituju oleh pencari-pencari ilmu dari berbagai daerah. Disebutkan bahwa selain dari masyarakat Langkat yang belajar pada kedua maktab tersebut, maka banyak pelajar-pelajar yang datang dari dalam dan luar pulau Sumatera, seperti Riau, Jambi, Tapanuli, Kalimantan Barat, Malaysia, Brunei dan lain sebagainya.[36]
Pada awalnya madrasah (maktab) ini hanya disediakan untuk anak-anak keturunan raja dan bangsawan saja, namun pada perkembangannya maktab ini memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk dapat belajar dan menuntut ilmu. Beberapa tokoh nasional yang pernah belajar di maktab ini antara lain adalah Tengku Amir Hamzah dan  Adam Malik (mantan wakil presiden RI).
Dalam biografinya Adam Malik meyebutkan bahwa Madrasah al-Masrullah termasuk lembaga yang mempunyai bangunan bagus dan modern menurut ukuran zaman tersebut. Di mana masing-masing anak dari keluarga berada (kaya) mendapat kamar-kamar tersendiri. Sistem pendidikan yang dijalankan pada sekolah ini sama seperti sistem sekolah umum di Inggris, di mana anak laki-laki usia 12 tahun mulai dipisahkan dari orang tua mereka untuk tinggal di kamar-kamar tersendiri dalam suasana yang penuh disiplin. Fasilitas-fasilitas olah raga juga disediakan di sekolah tersebut seperti lapangan untuk bermain bola dan kolam renang milik kesultanan Langkat.[37]
Ketiga lembaga pendidikan tersebut didirikan oleh sultan Abdul Aziz yang kemudian diberi nama dengan perguruan Jama’iyah Mahmudiyah. Pada tahun 1923 perguruan Jama’iyah Mahmudiyah telah memiliki 22 ruang belajar, 12 ruang asrama, disamping berbagai fasilitas lainnya seperti 2 buah Aula, sebuah rumah panti asuhan untuk yatim piatu, kolam renang, lapangan bola dan sebagainya. Untuk meningkatkan mutu pendidikan pada perguruan Jama’iyah Mahmudiyah, maka tenaga pengajarnya  sebagian besar merupakan guru-guru yang pernah belajar ke Timur tengah seperti Mekkah, Medinah dan Mesir. Mereka semua dikirim atas biaya Sultan setelah sebelumnya diseleksi terlebih dahulu, hingga sekitar tahun 1930 siswa-siswa yang belajar di perguruan ini sekitar 2000 orang yang berasal dari berbagai macam daerah.[38]
Selanjutnya sultan Abdul Azis kemudian mendirikan lembaga pendidikan umum bagi masyarakat Langkat yaitu sekolah HIS dan Sekolah Melayu, yang banyak memberikan materi-materi pelajaran umum. Mengenai gaji-gaji guru dan biaya perawatan bangunan semuanya ditanggung oleh pihak kesultanan Langkat, dalam hal ini dapat dikatakan bahwa segala biaya yang berkaitan dengan fasilitas-fasilitas pendidikan di Langkat ditanggung sepenuhnya oleh pemerintahan kerajaan.
Memang pada awal tahun 1900-an Pemerintahan Belanda telah mendirikan sekolah Langkatsche School[39] (baca: Sekolah Belanda). Namun penerimaan siswanya masih sangat terbatas, di masa itu yang diterima hanya anak-anak bangsawan dan dan anak pegawai Ambtenaar Belanda serta orang-orang kaya yang berharta, dalam bahasa pengantarnya lembaga pendidikan ini menggunakan bahasa Belanda. Selain itu didirikan juga ELS (Europese Logare School) dan untuk anak-anak keturunan Cina didirikan Holland Chinese School atau HCS.
b.    Pendidikan Islam pada Zaman Penjajahan
1)   Masa Kolonial
Awal mula bangsa Belanda datang ke Nusantara hanya untuk tujuan berdagang, tetapi karena kekayaan alam Nusantara yang sangat banyak maka tujuan utama tadi berubah untuk menguasai wilayah Nusantara dan menanamkan pengaruh di Nusantara sekaligus dengan mengembangkan pahamnya yang terkenal dengan semboyan 3G, yaitu glory (kemenangan dan kekuasaan), gold (emas atau kekayaan bangsa Indonesia), dan gospel (upaya salibisasi terhadap umat Islam di Indonesia).[40]
Dalam menyebarkan misi-misinya, Belanda mendirikan sekolah-sekolah Kristen. Misalnya di Ambon yang jumlah sekolahnya mencapai 16 sekolah dan 18 sekolah di sekitar pulau-pulau Ambon, di Batavia sekitar 20 Sekolah, padahal sebelumnya sudah ada sekitar 30 Sekolah. Di samping itu, Sekolah-sekolah ini pada perkembangannya dibuka secara luas untuk rakyat umum dengan biaya yang murah. Dengan demikian, melalui sekolah-sekolah inilah Belanda menanamkan pengaruhnya di daerah jajahannya.[41]
Dengan terbukanya kesempatan yang luas bagi masyarakat umum untuk memasuki sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh Belanda, maka kalangan Islam mendapat tantangan dan saingan berat, terutama karena Sekolah-sekolah pemerintah Hindia-Belanda dilaksanakan dan dikelola secara modern terutama dalam hal kelembagaan, kurikulum, metodologi, sarana, dan lain-lain. Perkembangan sekolah yang demikian jauh dan merakyat menyebabkan tumbuhnya ide-ide di kalangan intelektual Islam untuk memberikan respons dan jawaban terhadap tantangan tersebut dengan tujuan untuk memajukan pendidikan Islam. Mereka mendirikan lembaga pendidikan baik secara perorangan maupun kelompok/organisasi yang dinamakan Madrasah atau Sekolah.
2)   Masa Jepang
Pendidikan Islam pada zaman penjajahan Jepang dimulai tahun 1942-1945. Sebenarnya sejak tahun 1940 Jepang sudah berencana menguasai bangsa Indonesia karena mereka bercita-cita besar menjadi pemimpin Asia Timur Raya.
Pada masa itu kejayaan dan masa keemasan Belanda hilang lenyap sekaligus, ketika pada tanggal 8 Maret 1942 tentara Belanda bertekuk lutut tanpa syarat kepada Jepang. Selanjutnya mengenai keadaan pada zaman penjajahan Jepang sangat banyak perubahan dari sebelumnya yaitu zaman penjajahan Belanda. Dalam pendidikan umum mereka lebih mengutamakan pelajaran-pelajaran kemiliteran dan itu semata-mata untuk mendukung Jepang dalam perang pasifik. Kendatipun demikian ada beberapa hal yang perlu diketahui yaitu perubahan yang cukup mendasar di bidang pendidikan, dan hal ini penting sekali artinya bagi bangsa Indonesia. Perubahan itu diantaranya adalah:
(1)     Hapusnya Dualisme Pengajaran
Dengan berbagai macam jenis Sekolah rendah, yang dahulunya diselenggarakan pada zaman Belanda. Dihapuskan sama sekali. Habislah riwayat susunan pengajaran Belanda yang dualistis itu. Yang membedakan dua jenis pengajaran yaitu pengajaran barat dan penhgajaran Bumi Putera. Jenjang pengaharan menjadi: Sekolah rakyat 6 tahun (termasuk Sekolah pertama), Sekolah menengah 3 tahun, Sekolah menengah tinggi 3 tahun (SMA pada zaman itu).
(2)     Pemakaian Bahasa Indonesia
Pemakaian bahasa Indonesia baik sebagai bahasa pengantar pendidikan. Selanjutnya mengenai sikaf penjajah Jepang terhadap pendidikan Islam ini ternyata lebih lunak. Sehingga ruang gerak pendidikan Islam lebih bebas dibandingkan pada zaman pemerintah kolnial Belanda. Terlebih-lebih pada permulaan pemerintahan, Jepang menampakkan diri seakan-akan membela kepentingan Islam yaang merupkan siasat mereka menempuh jalan dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan diantaranya: (a) Mengubah kantor Voor Islamistiche Zaken yang dipimpin oleh kaum orientalis Belanda menjadi KUA (Kantor Urusan Agama) yang pada waktu itu dipimpin oleh tokoh Islam sendiri yakni KH. Hasyim Asy’ari, (b) Pondok Pesantren sering mendapat kunjungan dan bantuan dari pemerintah Jepang, (c) Mengijinkan berdirinya Sekolah Tinggi Mengi Islam di Jakarta di bawah asuhan KH. Wahid Hasyim, Musakkar, dan Bung Hatta, (d) Umat Islam diijinkan meneruskan organisasi persatuan yang disebut Majlis Islam A’a Indonesia (MIAI).
Kepercayaan Jepang ini dimanfaatkan sekali oleh umat Islam untuk bangkit dan memberontak melawan Jepang sendiri. Pada tanggal 8 Juli 1945 berdirilah Sekolah Tinggi Islam di Jakarta. Kalau ditinjau dari segi pendidikan pada jaman Jepang umat Islam mempunyai kesempatan banyak untuk memajukan pendidikan Islam. Karena tanpa disadari oleh Jepang itu sendiri bahwa umat Islam sudah cukup mempunyai potensi untuk maju dalam pendidikan ataupun perlawanan kepada penjajah.
c.    Pendidikan Zaman Kemerdekaan
Setelah kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, kemudian pada tanggal 3 Januari 1946 dibentuklah Departemen Agama yang akan mengurus masalah keberagamaan di Indonesia termasuk di dalamnya pendidikan, khususnya madrasah. Namun pada perkembangan selanjutnya, madrasah walaupun sudah berada di bawah naungan Depag tetapi hanya sebatas pembinaan dan pengawasan.[42]
Sungguhpun pendidikan Islam di Indonesia telah berjalan lama dan mempunyai sejarah panjang, namun dirasakan, pendidikan Islam masih tersisih dari sistem Pendidikan Nasional. Keadaan ini berlangsung sampai dengan dikeluarkannya SKB 3 Menteri tanggal 24 Maret 1975 yang berusaha mengembalikan ketertinggalan pendidikan Islam untuk memasuki mainstream pendidikan Nasional.[43] Kebijakan ini membawa pengaruh yang sangat besar bagi madrasah, karena pertama, ijazah dapat mempunyai nilai yang sama dengan sekolah umum yang sederajat, kedua, lulusan Madrasah dapat melanjutkan ke sekolah umum yang setingkat lebih tinggi, dan ketiga, siswa madrasah dapat pindah ke sekolah umum yang setingkat.
Dengan SKB tersebut, Madrasah memperoleh definisi yang semakin jelas sebagai lembaga pendidikan yang setara dengan Sekolah sekalipun pengelolaannya berada di bawah Departemen Agama. Namun pada perkembangan selanjutnya akhir dekade 1980-an dunia pendidikan Islam memasuki era integrasi dengan lahirnya UU No. 2/1989 tentang sistem Pendidikan Nasional, eksistensi madrasah sebagai lembaga pendidikan yang bercirikan Islam semakin mendapatkan tempatnya.[44]
Perkembangan pendidikan Islam  terus ditingkatkan. Tuntutan untuk medirikan Perguruan Tinggi juga meningkat. Sebelum kemerdekaan sebenarnya di Minang Kabau sudah berdiri Perguruan Tinggi pertama, yaitu Sekolah Islam Tinggi di dirikan oleh persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) di Padang. Di Jakarta didirikan STI  (Sekolah Tinggi Islam) pada Juli 1945 oleh beberapa pemimpin Islam, yaitu Hatta dan M Natsir, pemimpin STI dipercayakan kepada K.H. Kahar Muzakkir.[45] Karena pergolokan kemerdekaan STI dipindahkan ke Jogjakarta dan pada tanggal 22 Maret 1945 STI berubah menjadi UUI (Universitas Islam Indonesia). Sekolah kemerdekaan di Yogyakarta juga di buka UGM (Universitas Gadjah Mada). Pemerintah menawarkan untuk menegerikan UUI dan UGM. UII menerima dengan syarat di bawah naungan Depertemen Agama. Akhirnya hanya satu Fakultas yang dinegerikan, yaitu Fakultas Agama. Fakultas Agama UII berubah menjadi PETAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri). Di Jakarta dibuka ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama) terdiri dari dua tingkat yaitu tingkat semi akademi tiga tahun dan tingkat akademi dua tahun.
Pada bulan Mei 1960 Depertemen Agama menggabungkan PTAIN dengan ADIA menjadi IAIN yaitu berkedudukan di Yogyakarta dan bercabang di Jakarta. Di Banda Aceh pada waktu A. Hasyimy menjadi Gubernur Aceh  juga didirikan fakultas Agama Negeri. Tahun 1960 FAIN di ubah menjadi Syariah Banda Aceh yang merupakan cabang IAIN Yogyakarta.[46] Setelah beberapah tahun Depetemen Agama memisahkan IAIN menjadi dua, masing-masing berdiri sendiri, yaitu IAIN Yogyakarta dan IAIN Jakarta. IAIN bertambah pesat dan melahirkan cabang-cabangnya diberbagai wilayah ditambah dengan bertumbuhnya Perguruan Tinggi Swasta, diantaranya UNJ, UM, UNISBAH, UNISMA, Pendidikan Islam mengalami kemajuan dengan mengiringi  modernitas. Terakhir pada tahun 2002, IAIN Syarif Hidayatullah berubah menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah yang di dalamnya menyelengarakan pendidikan selain Fakultas-fakultas Agama  (Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Fakultas Adab dan Ilmu Humaniora, Fakultas Usuluddin dan Filsafat, Fakultas Syariah dan Hukum, Fakultas Dakwa dan Komunikasi), juga membuka Fakultas Psikolog, Fakultas Dirasah Islamiyah, Fakultas Ekonomi dan Sosial, Fakultas Sains dan Teknologi, dan Program Pasca Sarjana di samping itu sedang dirancang pendirian Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan.
2.    Seni Budaya di Indonesia
Kesenian-kesenian Islam yang ada di Indonesia adalah sebagai berikut.
a.    Batu Nisan
Kebudayaan Islam dalam bidang seni, mula-mula masuk ke Indonesia dalam bentuk batu nisan. Di Pasai masih di jumpai batu nisam makam Sultan Malik al-Saleh yang wafat tahun 1292.[47] Batunya terdiri dari pualam putih diukir dengan  tulisan Arab yang sangat indah berisikan ayat al-Qur’an dan keterangan tentang orang yang dimakamkan serta hari dan tahun wafatnya. Makam yang serupa dijumpai pula di Jawa, seperti makam Maulama Malik Ibrahim di gresik.[48] Nisan itu umumnya didatangkan dari Gujarat sebagai barang pesanan. Bentuknya lunas (bentuk badan kapal terbalik) yang mengesankan pengaruh Persia. Bentuk-bentuk nisan kemudian hari tidak selalu demikian. Pengaru kebudayaan setempat sering memengaruhi, sehingga ada bentuk teratai,[49] keris,[50] atau bentuk gunungan seperti gunungan pewayangan.[51] Namun kebudayaan nisan ini tidak berkembang lebih lanjut. Yang termasyhur adalah makam Malik al-Saleh di Perla dan makam Maulana Malik Ibrahim, wali pertama di Gresik.
b.    Arsitektur (Seni Bangun)
Dalam seni  bangun Islam Indonesia, pada garis besarnya mempunyai dua corak, yaitu asli dan baru. Pada abad ke-16 agama Islam tersebar luas di Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatera. Kegiatan keagamaaan diadakan di Masjid[52] atau di Mushalla. Model masjidnya berbeda dengan bentuk masjid negara Islam lainnya. Mungkin karena berdekatan masa, bentuk masjid di Indonesia pada mulanya banyak dipengaruhi oleh seni bangunn Inndonesia Hindu. Masjid tertua yang memperlihatkan ragam seni bangun itu, misalnya Masjid Demark, Kudus, Cirebon,[53] Banten, dan Ampel. Di masjid–masjid itulah menurut sejarah, para wali mengajarkan agama Islam bentuk masjid itu menjadi model bagi masjid-masjid yang lain.
Ciri-ciri model bangunnan lama yang merupakan peniruan dari seni bangunan Hindu, Budha itu adalah sebagai berikut:
1)   Atap tumpang, yaitu atap yang bersusun semakinn ke atas semakin kecil dan yang paling atas biasannya semacam mahkota. Selalu bilangan atapnya ganjil, kebanyakan jumlah atapnya 3 atau 5. Atap tumpang ini terdapat juga di Bali pada upacara ngaben atau relif candi Jawa Timur.
2)   Tidak ada menara, karenanya pemberitahuan waktu sholat dilakukan dengan memukul bedug. Dari masjid-masjid yang tertua hanya di Kudus dan di Banten yang ada menaranya. Kedua menara ini pun tidak seragam. Menara Kudus tidak lain adalah candi Jawa Timur yang telah diubah, disesuaikan penggunaannya dan diberi atap tumpang, sedangkan menara masjid Banten tambahan dari zaman kemudian yang dibangun oleh Cordell, pelarian Belanda yang masuk Islam, yang bentuknya seperti mercusuar.
3)   Masjid-masjid tua, bahkan masjid yang dibangun didekat istana raja Yogya dan Solo mempunyai letak yang tetap. Di depan istana selalu ada lapangan besar dengan pohon beringin kembar, sedangkan masjid selalu terletak di tepi barat lapangan. Di belakang masjid sering terdapat makam-makam. Rangkaian makam dan masjid ini pada hakikatnya adalah kelanjutan dari fungsi candi pada zaman Hindu-Indonesia.[54]
Di samping unsur zaman Hindu-Indonesia,  terdapat pula pengaruh daerah, meskipun tidak mengubah bentuk keseluruhan hanya menambah keindahan, seperti Masjid Minanngkabau yang mendapat pengaruh “rumah gadang”, Masjid Kebun Jeruk Jakarta (1786) yang memperlihatkan pengaruh Belanda, dan Masjid Agung Palembang (terutama menaranya) dipengaruhi seni bangunann Tionghoa.
Setelah Indonesia merdeka dan dapat berhubungan dengan negara lain, maka unsur lama secara berangsur-angsur hilanng. Pada masa peralihan ke arah corak baru masih sering terlihat perpaduan antara keduanya, terutama pada atapnya: jumlah atapnya masih tumpang dua, yang ketiga diganti dengan kubah peniruan dari masjiid Timur Tengan atau India. Pada tahap selanjutnya, atap tumpang ditinggalkan dan ciri masjid menjadi kubah, misalnnya Masjid Kutaraja yang didirikan oleh Belanda tahun 1878 sebagai pngganti msjid lama yang terbakar. Kemudian masjid yang menyerupai Taj-Mahal India adalah Masjid Syuhada di Yogyakarta dan Masjid al-Azhar di Jakarta. Ada juga bentuk Masjid yang terpengaruh Ottomanstyle (Byzantium) seperti tampak pada Masjid Istiqlal yang bentuk kubahnya setengah lingkaran ditopang oleh pilar-pilar yang tinggi besar. Terakhir, bentuk masjid dengan kusen-kusen meruncing meniru gaya India  seperti Masjid al-Tien di Taman Mini Indonnesia Indah (TMII).
c.    Seni Sastra

Seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam adalah seni sastra yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu – Budha dan sastra Islam yang banyak mendapat pengaruh Persia. Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan/ aksara yang dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab Melayu (Arab Gundul) dan isi ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu.

Bentuk seni sastra yang berkembang adalah:

1)   Hikayat merupakan cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh                        sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis                     dalam bentuk gancaran (karangan bebas atau prosa). Contoh hikayat yang terkenal yaitu             Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Pandawa Lima (Hindu), Hikayat              Sri Rama (Hindu).

2)  Babad ialah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwa sejarah                 contohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.

3)  Suluk yaitu kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya Suluk Sukarsa,                 Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.

4)   Primbon yaitu hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk kitab yang               berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.[55]

Adapun bentuk seni sastra  di atas, banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa.

d.    Seni Ukir
Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan. Seni ukir relief yang menghias Masjid, makam Islam berupa suluran tumbuh-tumbuhan namun terjadi pula sinkretisme (hasil perpaduan dua aliran seni logam), agar didapat keserasian, ditengah ragam hias suluran terdapat bentuk kera yang distilir. Ukiran ataupun hiasan, selain ditemukan di masjid juga ditemukan pada gapura-gapura atau pada pintu dan tiang. Untuk hiasan pada gapura. Ketika Islam baru datang ke Indonesia, terutama ke Jawa, ada kehati-hatian para penyiar agama. Banyak candi-candi besar, termasuk candi Borobudur, yang semula ditimbun tanah pada masa penjajahan Belanda dan kemudian digali kembali, supaya tidak mengganggu para Mualaf. Mempuat patung dari seni ukir pun dilarang, kalaupun timbul kembali, kesenian itu harus disamarkan, sehingga seni ukir dan seni patung menjadi terbatas kepada seni ukir saja.[56]
















DAFTAR PUSTAKA
Gani, Roeslan Abdul. Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia.Jakarta: Pustaka Antar Kota. 1983.
Komarudin Hidayat dan Putut Widjanarko.2008.Reinventinng Indonesia:        Menemukan kembali Masa Depan Bangsa.Jakarta: Mizan.
Al-Anshori, M. Junaedi. Sejarah Nasional Indonesia: Masa Prasejarah sampai Masa Proklamasi Kemerdekaan.Jakarta: PT. Mitra Aksara Panaitan. 2007.
Poesponegoro, Marwati Djoened. Sejarah Nasional Indonesia III.Jakarta: Balai Pustaka. 2008.
Musa,Ali Masykur. Membumikan Islam Nusanntara: Respon Terhadap Isu-Isu
Aktual.Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta. 2014.
Suryanegara, Ahmad Mansur. Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia.Bandung: Mizan. 1995.
Rofiq, Ahmad Choirul. Menelaah Historiografi Nasional Indonesia:Kajian Kritis terhadap buku indonesia dalam Arus sejarah.Yogyakarta: Deepublish. 2016.
Rais, M. Amien. Islam di indonesia:suatu ikhtiar mengaca diri.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.1994.
Abdullah, Mustofa. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia.Bandung: CV. Pustaka Setia. 1999.
Ahmadi,A. Kadir. Sejarah Perkembangan Pendidikan Jama’iyah Mahmudiyah. Tanjung Pura-Langkat Terbitan Khusus Pengurus Besar Jama’iyah Mahmudiah Li Thalabil Khairiyah. 1985.
Malik, Adam. Mengabdi Repoblik: Adam dari Andalas.Jakarta: Gunung Agung. 1982.
Daulay, Haidar Putra. Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia.Jakarta: Kencana Prenada Media. 2007.
Hasbullah. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2001.
Hodgson, Marshall G.S. The Venture of Islam, Iman dan Sejarah Dalam Peradaban Dunia,terjemahan Mulyadi Kartanegara.Jakarta: Paramadina. 1999.
Ibrahim. Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh.Jakarta: CV. Tumaritis. 1991.
Riflefs, MC. A History of Modern Indonesia. London: McMillan Education.
Ridjaluddin. Sejarah Peradaban Islam.Jakarta: Pusat Kajian Islam. 2013.
Supriyadi, Dedi Sejarah Peradaban Islam.Bandung: Pustaka Setia. 2008.
Zuhairini, et.al. Sejarah Pendidikan Islam.Jakarta: PT. Bumi Aksara. 2000.
Husni, T.M.L. Biografi-Sejarah Pujangga Nasional Tengku Amir Hamza.Medan: Husni. 1971.
Mansur dan Mahfud Junaedi. Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia.Jakarta: Departemen Agama RI. 2005.
Nizar, Samsul. Sejarah Pendidikan Islam: Menelususri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia.Jakarta: Kencana Prenada Group. 2007.
Dirjen Bimbaga Islam. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Depag. 1984.
Fadjar, Malik. Madrasah dan Tantangan Modernitas.Bandung: Mizan. 1998.
Hamka. Sejarah Umat Islam IV. Jakarta: Bulan Bintang. 1975.
Sunanto,Musyrifah. Sejarah Peradaban Islam Indonesia.Jakarta: PT RajaGrafindo Persad. 2007.
C. Isror. Sejarah Kesenian Islam III. Jakarta: PT Pembangunan. 1958.
Tjandrasasmita,Uka. Riwayat Penyelidikan Kepurbakalaan Islam di Indonesia.Diklat SPS Yogyakarta. 1980.
R.Soekmono. Pengantar Sejarah Kebudayaan Islam.Jakarta: Kanisius. 1973.
G.P Fijper. Studien Over De Geschie Van De Islam in Indonesia 1900-1950,terj. Tudjimah & Yessy Augusdin,Beberapa Studi Tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-195.Cet 2.Jakarta: Universitas Indonesia. 1985.
Sidi zalba. Islam Dan Kesenian.Jakarta: Pustaka Al Husna. 1998.
Al Faruqi,Ismail Raji. Seni Tauqid Ekpresi Estetika Islam.Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. 1999.












[1]Roeslan Abdul Gani, Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Antar Kota, 1983), h. 20.
[2]Musyarifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafinco Persada, 2007), h. 7-9.
[3]Komarudin Hidayat dan Putut Widjanarko, Reinventinng Indonesia: Menemukan kembali Masa Depan Bangsa, (Jakarta: Mizan, 2008), h. 343.
[4]M. Junaedi Al-Anshori,  Sejarah Nasional Indonesia: Masa Prasejarah sampai masa Proklamasi Kemerdekaan, (Jakarta: PT. Mitra Aksara Panaitan, 2007), h. 18-40.
[5]Kerajaan Samudra Pasai muncul menggantikan Kerajaan Perlak yang semakin mengalami kemunduran. Seorang penguasa lokal di daerah Samudera bernama Marah Silu (Meurah Silu) dibantu oleh Syekh Ismail (Seorang Syarif dari Mekah) berhasil memoersatukan daerah Samudra dan Pasai. Kedua daerah tersebut kemudian dijadikan sebuah kerajaan yanng bernama kerajaan Pasai. Yang terletak di Kabupaten Lhokswumawe, Aceh Utara. Raja pertamanya yakni Marah Silu yang bergelar Sultan Malik al-Saleh (1285-1297). Sadirman, Sejarah 2, h. 85-87.
[6]Marwati Djoened Poesponegoro, Sejarah Nasional Indonesia III, (Jakarta: Balai Pustaka, 2008), h.162.
[7]Kerajaan perlak didirikan pada tanggal 1 Muharam 225 H (820M), dengan rajanya yang pertama bernama Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah yang semula  bernama Saiyid Abdul Aziz. Sadirman,Sejarah 2, (tt: Yudhistira, 2002), h. 83-85; Ali Masykur Musa, Membumikan Islam Nusanntara: Respon Terhadap Isu-Isu Aktua,  (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2014), h. 269-270.
[8]Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesi,  (Bandung: Mizan, 1995), h. 159.
[9]Kerajaan Malaka berdiri sekitar abad ke-14, yang dipimpin oleh Paramirosa atau yang bergelar Sultan Iskandar Syah. Sadirman, Sejarah 2, h. 87.
[10]Kerajaan Aceh berdiri setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511. Perdagangan dari malaka pindah ke Aceh, bahkan kapal-kapal dari Asia Selatan tidak lagi singgah di Malaka karena Pemerintah Portugis di Malaka menjalankan monopoli dan memungut pajak dan cukai cukup tinggi. Raja pertama Aceh adalah Raja Ibrahim yang bergelar Sultan Ali Mughayat Syah  (1514-1528). Kerajaan aceh merupakan kerajaan yang berkembang pesat. Sadirman,Sejarah 2, h. 89-93
[11]Kesultanan Demak adalah kesultanan islam pertama di pulau Jawa yang berada di daerah pesisir utara Jawa Tengah. Kesultanan Demak merupakan perlihan dari Hindu-Buddha ke islam. Raja pertama Demak yakni Raden Patah yang bergelar Sultan Alam Akbar al-fatah (1500-1518), Sadirman, Sejarah 2, h. 93-96.
[12]Kerajaan Pajang dibawah pimpinan Sultan Hadiwijaya (1568-1582). Daerah kekuasaannya antara lain Pati, Pemalang, Selarong (Banyumas), Krapyak, Mataram (Yogyakarta) dan beberapa daerah di Jawa Timur seperti Tuban, Surabaya, Madiun, Blitar dan Kediri. Berakhirnya kerajaan pajang bermula saat sultan hadiwijaya meninggal dunia dan perebutan kekuasaan oleh Arya Panggiri yang berusaha menyingkirkan Pangerang Benowo. Namun pangeran benowo dengan bantuan Sutawijaya (Penguasa Mataram) akhirnya bisa merebut kembali kekuasaan Arya Panggiri. Setelah menang, Arya Panggiri kemudian di kembalikan ke Demak, sementara kekuasaannya diserahkan kepada Sutawijaya. Dengan berkuasanya Sutawijaya, maka pusat Kerajaan Pajang di pindah ke Mataram. Dan berakhirlah Kerajaan Pajang dan muncullah kerajaan Mataram Islam.
[13]Sadirman, Sejarah 2, h.  96-100.
[14]Musyarifah Susanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm.22.
[15] Ahmad Choirul Rofiq, Menelaah Historiografi Nasional Indonesia: Kajian Kritis terhadap Buku Indonesia dalam Arus Sejarah,  (Yogyakarta: Deepublish, 2016), h. 85-86.
[16]Ahmad Mansur Suryanegara,Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Isalm di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1995), h.122.
[17]Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah, h. 124
[18]Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah, h 139-140
[19]Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah, h. 130-131.
[20]Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah, h. 140
[21]Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah, h. 142
[22]Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah, h. 226
[23] Musyarifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, h. v.
[24]M. Amien Rais, Islam di Indonesia: Suatu Ikhtiar Mengaca Diri, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994), h. 44.
[25] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia,  2008), h. 18.
[26] Ridjaluddin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Pusat Kajian Islam, 2013), h. 1.
[27] Marshall G.S.Hodgson,The Venture of Islam, Iman dan Sejarah dDalam Peradaban Dunia,terjemahan Mulyadi Kartanegara, (Jakarta: Paramadina,1999), h.126.
[28] Mustofa Abdullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Bandung : CV. Pustaka Setia,1999), h.54.
[29] Zuhairini, et.al, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,2000), h. 135.
[30]M.Ibrahim, et.al, Sejarah Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh, (Jakarta: CV. Tumaritis, 1991), h. 61.
[31]Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,  2001), h. 29.
[32]Abdullah, Sejarah Pendidikan Islam, h. 54.
[33] M. Ibrahim, et.al., Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, h. 75.
[34]Fungsi lainnya adalah sebagai berikut: (1) Sebagai tempat ibadah sholat 5 waktu untuk kampung itu., (2) Sebagai tempat sholat tarawih dan tempat membaca Al-Qur’an di bulan puasa, (3) Tempat kenduri Maulud pada bulan Mauludan, (4) Tempat menyerahkan zakat fitrah pada hari menjelang Idul Fitri atau bulan puasa, (5) Tempat mengadakan perdamaian bila terjadi sengketa antara anggota kampung, (6) Tempat bermusyawarah dalam segala urusan, (7) Letak meunasah harus berbeda dengan letak rumah, supaya orang segera dapat mengetahui mana yang rumah atau meunasah dan mengetahui arah kiblat sholat. M. Ibrahim, Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, h. 76.




[35]Ulama penting lainnnya adalah Syamsuddin As-Samathrani atau lebih dikenal dengan Syamsuddin Pasai. Ia adalah murid dari Hamzah Fansuri yang mengembangkan paham wujudiyah di Aceh. Kitab yang ditulis, Mir’atul al-Qulub, Miratul Mukmin dan lainnya. Ulama dan pujangga lain yang pernah datang ke kerajaan Aceh ialah Syekh Nuruddin Ar-Raniri. Ia menentang paham wujudiyah dan menulis banyak kitab mengenai agama Islam dalam bahasa Arab maupun Melayu klasik. Kitab yang terbesar dan tertinggi mutu dalam kesustraan Melayu klasik dan berisi tentang sejarah kerajaan Aceh adalah kitab Bustanul Salatin. Pada masa kejayaan kerajaan Aceh, masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636) oleh Sultannya banyak didirikan masjid sebagai tempat beribadah umat Islam, salah satu masjid yang terkenal Masjid Baitul Rahman, yang juga dijadikan sebagai Perguruan Tinggi dan mempunyai 17 daars (fakultas).
Dengan melihat banyak para ulama dan pujangga yang datang ke Aceh, serta adanya Perguruan Tinggi, maka dapat dipastikan bahwa kerajaan Aceh menjadi pusat studi Islam. Karena faktor agama Islam merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Aceh pada periode berikutnya. Menurut B.J. Boland, bahwa seorang Aceh adalah seorang Islam. Lihat Ibrahim,et.al., Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, h. 89.
[36]A. Kadir Ahmadi, Sejarah Perkembangan Pendidikan Jama’iyah Mahmudiyah, (Tanjung Pura-Langkat Terbitan Khusus Pengurus Besar Jama’iyah Mahmudiah Li Thalabil Khairiyah, 1985), h. 14-15.
[37]Adam Malik, Mengabdi Repoblik: Adam dari Andalas, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), h. .2.
[38]A. Kadir Ahmadi, Sejarah Perkembangan., h. 16-17.
[39] T.M. Lah Husni, Biografi-Sejarah  Pujangga Nasional Tengku Amir Hamza, (Medan: Husni, 1971), h. .5.
[40]Mansur dan Mahfud Junaedi, Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2005), h. 99.
[41]Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelususri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Group, 2007), h. 292.
[42] Samsul  Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelususri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Group,2007), h. 293.
[43]Terbitnya SKB 3 Menteri bertujuan antara lain untuk meningkatkan mutu pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan Islam khususnya untuk bidang non-agama. Di dalam usaha meningkatkan komponen pendidikan non-agama perlu dicermati agar tidak jatuh ekstrim yang satu ke ekstrim yang lain. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan yang baik supaya selalu terdapat keseimbangan antara cri kahs pendidikan Islam dengan niat untuk mengingkatkan mutu pendidikan yang diminta oleh perubahan zaman. Dirjen Bimbaga Islam, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Depag, 1984), h.196.
[44]Malik Fadjar, Madrasah dan Tantangan Modernitas, (Bandung: Mizan, 1998),hlm.Xi.
[45]A. Hasymy, Mengapa Umat Islam Mempertahankan Pendidikan Agama Islam, (Jakarta,1979), h. 331.
[46]A. Hasymy,Mengapa Umat Islam Mempertahankan Pendidikan Agama Islam, (Jakarta, 1979), h. .34-35.
[47]Hamka,Sejarah Umat Islam IV,  (Jakarta: Bulan Binntang, 1975), h. 78.
[48]Bentuk makam dari abad  permulaan masuknya agama Islam menjadi contoh model bagi makam Islam kemudian. Hal ini disebabkan sebelum Islam tidak ada makam. Orang Hindu dan Budha jenazahnya dibakar dan abunya dibuang ke laut, kalau dia seorang kaya abunnya disimpan di dalam guci atau kalau dia raja disimpan di dalam candi.  Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persad,2007), h. 94.
[49] C. Isror, Sejarah Kesenian Islam III, (Jakarta: PT Pembangunan, 1958), h. 128.
[50]Uka Tjandrasasmita, Riwayat Penyelidikan Kepurbakalaan Islam di Indonesia, (Diklat SPS Yogyakarta, 1980), h. 4.
[51]R. Soekmono,  Pengantar Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Kanisius, 1973), h. 90.
[52] Kata Masjid itu berasal dari bahasa Arab: masjid. Dalam kalangan orang-orang yang beragama dipakai kata Arab: masjid, tetapi ucapannya dalam bahasa daerah Indonesia mengalami sedikit perubahan: dalam bahsa Jawa diucapkan mesigit, dalam bahasa Sunda māsigit, dalam bahasa Madura maseghit, di Jakarta masjid (antara a dan e) diucapkan oleh orang-orang yang taat, yang lainnya mesigit. G.P Fijper,Studien Over De Geschie Van De Islam in Indonesia 1900-1950,terj. Tudjimah & Yessy Augusdin, Beberapa Studi Tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-195.Cet 2, (Jakarta: Universitas Indonesia, 1985), h. 15.
[53]Salah satu Masjid yang tertua di Jawa, dibangun di sebelah barat alun-alun Kraton Kasepuhan, tetapi menghadap ke barat laut. Lihat G.P Fijper,Studien Over De Geschie Van De Islam in Indonesia 1900-1950,terj. Tudjimah & Yessy Augusdin, Beberapa Studi Tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-195.Cet 2, (Jakarta: Universitas Indonesia,1985), h. 16.
[54]Di sampiing unsur zaman Hindu-Indonesia, terdapat pula pengaruh daerah, meskipun tidak mengubah bentuk keseluruhan hanya menambah keindahan, seperti Masjid Minang kabau yang mendapat pengaruh “rumah gadang,” Masjid Kebun Jeruk Jakarta (786) yang erlihatkan pengaruh Belanda, dan Masjid Agung Palembang (terutama menaranya) dipengaruhi seni bangun Tionghoa. Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafindo Press, 2007), h. .

[55]Sidi Zalba,Islam Dan Kesenian,(Jakarta: Pustaka Al Husna, 1998), h. 32.

[56]Ismail Raji Al Faruqi, Seni Tauqid Ekpresi Estetika Islam, (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1999), h. 67

2 comments:

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...