HISTORY ISLAM OF INDONESIA:
KONTRIBUSI PERADABAN ISLAM GLOBAL
Ida Rohyatul Aini
Islam
datang di Indoneia dengan membawa peradaban baru yang memiliki corak keislaman
secara khusus. Beberapa bentuk peradaban Islam mewarrnai kehidupan dan
pemikiran masyarakat Islam di Indonesia. Peradaban Islam yang dibawa mubaligh
Islam dari Arab dikulturasikan dengan tradisi dan budaya setempat. Akulturasi
antara peradaban Islam dan peradaban masyarakat setempat menjadi terpadu yang
membawa dampak positif bagi perkembangan budaya Islam di Indonesia.
A.
Masuk dan
Berkembangnya Islam di Indonesia
1.
Sejarah Islam
Indonesia
Banyak variasi catatan tahun sejarah masuknya Islam di Indonesia,
ada yang berpendapat bahwa masuknya Islam ke Indonesia sudah di mulai sejak
abad pertama hijriyah langsunng dari Jazirah Arab.
Kemudian ada yang berpendapat pada abad 13 M yang dibawa oleh gujarat dengan
bukti ditemmukannya makam sulthan yang beragama Islam pertama Malik as-Sholeh,
pendapat ini dipelopori oleh Snouck Hurgronje dan sarjana-sarjana orientalis
Belanda. Kemudian pendapat lain menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada
abad ke 7-8 M (abad pertama Hijriyah), pendapat ini di pelopori oleh Prof. Hamka
dan sarjana-sarjana muslim lainnya. Kemudian pendapat lain menyebutkan bahwa
memang benar islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 atau 8 M, tapi baru di
anut oleh para pedagang Timur Tengah di pelabuhan-pelabuhan. Barulah pada abad
ke 13 M Islam mulai menyebar dan mempunyai kekuatan politik di kerjaan Samudra
Pasai.
Islam datang ke Indonesia cenderung bersifat inklusif, damai dan akomodatif
terhadap keragaman budaya dan agama yang ada di Indonesia.
Pendapat mengenai tahun masuknya Islam di Indonesia memang beragam,
namun, suatu fakta sejarah yang disepakati para sejarahwan salah satunya yakni
bahwa proses islamisasi di Indonesia dibawa oleh para pedagang dari luar.
Selain melalui perdagangan, Islam menyebar di Indonesia melalui pernikahan,
pesantren dan kebudayaan.
2.
Masuknya Islam
di Indonesia dan Perkembangannya
Kita pasti menemukan dari beberapa sumber yang menjelaskan tahun
masuk Islam di Indonesia yang berbeda versi. Yang pemakalah juga sedikit
singgung mengenai hal ini pada pendahuluan. Namun, hal yang perlu di pisahkan
dari tahun datangnya islam itu yakni mengenai awal mula masuk dan berkembangnya
Islam.
Oleh karena itu, abad ke-7 M boleh dipandang sebagai abad permulaan
kedatangan dan hubungan pedagang-pedagang muslim dengan sebagian kecil daerah
dan bangsa Indonesia. Dan belum dapat dipastikan para pedagang itu melakukan
Islamisasi melalui dakwah karena baru lima atau enam abad kemudian baru
diketahui muncul kerajaan yang bercorak Islam, yakni Samudra Pasai.
Atau mungkin penyebaran daerah tersebut terjadi pada abad-abad menjelang
terbentukya kerajaan.
Periode perkembangan Islam di Nusantara mulai merata yang di tandai
dengan adanya kekuasaan politik yang menata masyarakat Islam. Hal ini di mulai
pada abad ke-9 M ditandai dengan berdirinya perlak dan
Leran Gersik Jawa Timur dibawah pimpinan Fatimah Binti Maimun Hibatullah pada
abad ke-11 M yakni dua abad sebelum didirikannya kekuasaan Hindu Majapahit
yang mengambil lokasi di
Trowolan-Mojokerto-Jawa Timur pada 1292 M,
kemudian Kerajaan Malaka,
dan Kerajaan Aceh.
Selain itu, di Jawa juga terdapat kerajaan yang bercorak Islam seperti
kesultanan Demak,
kerajaan Pajang, Kerajaan Mataram Islam dan Cirebon. Kemudian
di Indonesia bagian timur, muncul kerajaan Makasar (Gowa-Tallo), Kerajaan
Ternate dan Tidore dan Kerajaan Banjar.
Dengan cara perlahan dan bertahap, tanpa menolak dengan keras terhadap sosial kultural
masyarakat sekitar, Islam memperkenalkan toleransi dan persamaan derajat. Dalam
masyarakat Hindu-Jawa yang menekankan perbedaan derajat, ajaran Islam menarik
perhatian. Dan panggilan Islam ini kemudian menjadi dorongan untuk mengambil
alih kekuasaan politik dari tangan penguasa.
Ada beberapa alasan bahwa Islam di Nusantara berbeda dengan Islam
di kawasan lain. Pertama, pembentukan distingsi Islam Indonesia
berkaitan dengan watak pernyebaran Islam ketika pertama kali datang ke kawasan
ini. kedatangan islam dan proses islamisasi selanjutya pada umumnya berlangsung
dengan damai. Kedua, Islam yang pertama kali adalah Islam yang umumnya
dibawa para guru sufi yang mengembara ke tempat lain untuk menyebarkan Islam. Ketiga,
sosiologi masyarakat Nusantara pada umumnya berbeda dengan kaum muslimin di kawasan Arabia atau tempat
lainnya. Masyarakat Indonesia yang pada umumnya masyarakat agraris cenderung
dipengaruhi dunia mistis.
3.
Islam pada Masa
Kolonial/Kemerdekaan
Islam sebagai agama dalam sejarah tidak pernah dikembangkan melalui
agresi militer ataupun agama, melainkan melaksanakan dengan jalan damai.
Portugis dengan cara tiba-tiba melancarkan serangan militer dan agama
katoliknya di Malaka dan Indonesia serangan yang demikian ini diikuti oleh
Spanyol dari Indonesia Timur. Yang kemudian di jawab dengan gencatan senjata.
Kemudian dikarnakan abad ke-16 Indonesia telah dikuasai oleh Islam,
maka Portugis berhadapan dengan perlawanan umat Islam. Portugis memang berhasil
menguasai kota Malaka, namun usaha untuk melumpuhkan kesultanan Demak mengalami
kesukaran. Sekalipun saat itu Portugis mendapat bantuan kerja sama dari
kerajaan Hindu-Pajajaran, dan berhasil mendirikan pangkalannya di Sunda Kelapa
sejak 21 Agustus 1522, namun kelanjutannya dapat dipatahkan oleh Fatahillah
pada 22 Juni 1527.
Kehadiran Portugis dirasa mengancam kehidupan
umat beragama dan perdagangan. Para bangsawan, raja dan penguasa perdagangan juga merasa terancam dan memihak
kepada Islam yang merupakan agama rakyatnya. Akibat dari serangan portugis
tersebut, kesultanan demak bekerja sama dengan kesultanan lainnya berhasil
menutup laut Indonesia dari kapal-kapal Portugis dan berhasil merebut kembali
Sunda Kelapa. Dan dengan keberhasilan merebut kembali Sunda Kelapa ke tngan Islam, berhasil mengamankan Indonesia
selama 200 tahun dari usaha penjajahan Portugis. Dan hanya satu wilayah
Indonesia yang lemah dan dapat dikuasai Portugis, yakni Timur-Timur, karena
disini belum berdiri kekuasaan politik Islam.
Selanjutnya, pertengahan abad ke 17 imperialis Belanda berusaha mewujudkan pemerintahan yang
kuat di indonesia yang dapat melindungi transportasi dan perdagangannya. Tetapi
usahanya tertunda dua abad lamanya karena menemui perlawannan yang tangguh dari
umat Islam saat itu. Kedatangan Belanda tepat
memasuki saat-saat kelemahan pertahanan maritim dari
kesultanan-kesultanan Indonesia. Kelemahan ini diakibatkan dikarenakan
banyaknya peperangan yang dilakukan oleh Kesultanan dalam usahanya menutup
lautan Indonesia dari perluasan wilayah imperialis Portugis.
Setelah itu, pada abad ke-18 terjadi beberapa pemberontakan besar
santri dibeberapa tempat. Pemberontakan
itu tercatat sebanyak empat kali, yakni: pertama, Perang Padri
di Sumatra Barat (1821-1828), pemberontakan ini timbul sebagai akibat
haji-haji menentang golongan adat dan pemberontakan ini diakhiri setelah
adannya invensi militer belanda. Kedua, di Jawa Tengah (1825-1830).
Pemberontakan ini timbul sebagai akibat tumbuhnya gerakan Mahdi yang melancarkan Perang Sabil terhadap
imperialis Belanda. Ketiga, di Barat Laut Jawa (1840-1880) sebenarnya
pemberontakan ini merupakan respon dari Umat Islam Banten yang berusaha
melepaskan dirinya dari tindakan Tanam Paksa, dan pemberontakani ini 1834,
1836, 1842 dan 1849, kemudian bangkit lahi pada 1880 dan 1888. Keempat, di
Aceh (1873-1903), pemberontakan ini berhasil mengacaukan imperialis Belanda
selama 30 tahun.
Dikarenakan banyaknya pemberontakan-pemberonakan itu, Belanda kemudian
mememberikan pengawasan yang ketat terhadap perkembangan Pesantren. Beberapa
upaya pencegahan terjadinya pemberontakan terulang kembali yakni mengadakan
oprasi militer ke pedalaman dan menindak dengan kekerasan ulama yang ada di
perkampungan dan tidak boleh adanya pengrekrutan santri, serta bagi masyarakat
awam pemerintah harus meyakinkan kalau pemerintah tidak memusuhi agama Islam
bahkan melindungi umat Islam dibuktikan dengan mendirikan Masjid-masjid.
Kemudian pada abad ke-19 muncul Sarekat Dagang Islam (16 Oktober
1905) yang dipimpin oleh Haji Samanhudi dari Surakarta sebagai respon dari
sistem Belanda yang mematahkan peranan umat Islam dalam bidang politik, ekonomi
dan sosial. Gerakan ini berorientasi politik, dan populer di tengah rakyat
setelah munculnya salah seornag priyayi Jawa yaitu H.O.S Cokroaminoto. Dan
masih pada abad Ke-19 muncul Muhamadiyah (1912), diikuti oleh Perserikatan
Ulama (1916), Persatuan Islam (1923) dan Nahdatul Ulama (1926).
Pemberontakan demi pemberontakan terjadi, kemudian salah satu
aktualisasi penting Bangsa Indonesia adalah pada tahun 1945 dimana Indonesia di proklamirkan tidak lagi sebagai
negara terjajah. dengan cara membuat proklamasi kemerdekaan, dan Piagam Jakarta
(22 Juni 1945) yang berisikan rumusan Pancasila. yang berisikan nilai-nilai
islami.
Sejauh ini, Islam Indonesia mempunyai keunikan tersendiri karena disamping
menjadi salah satu faktor pemersatu bangsa juga memberikan suasana baru dalam
keberislaman yang berbeda dengan Islam di Timur Tengah. Islam Indonesia
ternyata mempu beradaptasi dengan budaya lokal seperti bentuk Masjid dan
tatacara mengiringi ritual keagamaan.
Hubungan umat Islam dan pemerintah juga di warnai oleh berbagai
definisi umat Islam. Sebagian memandang pemerintah Indonesia sekarang ini dengan definisi nominal atau ritual dan
menemukan bahwa pemerintah adalah bukan saja sahabat umat Islam juga pemerintah
Islam. Sebagian lagi kaum yang mendefinisikan umat secara sosial dan
ideologikal memandang pemerintah
Indonesia sekarang sebagai penguasa yang
membenci bahkan menindas Islam. Kelompok yang satu merangkul pemerintah,
seperti dicerminkan oleh para ulama yang mencium tangan para pejabat dan
mendorong pihak kedua untuk menentang pemerintah.
B.
Konteks
Peradaban Islam
Peradaban Islam
adalah terjemahan dari kata Arab ”al-HadhÄrah al-IslÄmiyyah”, artinya
kemajuan Islam.
Menurut A.A Fyzee, peradaban (civilization) dapat diartikan dalam
hubungannya dengan kewarganegaraan karna berasal dari kata civies
(Latin) atau civil (Inggris) yang berarti seorang warganegara yang
berkemajuan.
Lain halnya dengan Hodgson mendefinisikan Civilization sebagai sebuah
pengelompokan yang relative luas dari kebudayaan-kebudaaan yang saling
berkaitan yang telah terbagi dalam tradiai-tradisi kumulatif dalam bentuk
kebudayaan tinggi.
Jika dikaitkan dengan komunitas masyarakat maka peradaban merupakan identitas
tertinggi dari sebuah komunitas masyarakat yang memiliki kebudayaan-kebudayaan
yang saling terkait yang membedakannya dengan komunitas masyarakat lain. Antara
A.A Fyzee dan Hodgson sama-sama terkait dengan masyarakta atau warga negara
dalam memahami peradaban.
Peradaban Islam
memiliki tiga pengertian yang berbeda. Pertama, kemajuan dan tingkat
kecerdasan akal yang dihasilkan dalam suatu periode kekuasaan Islam mulai dari
periode Nabi Muhammad Saw. sampai perkembangan kekuasaan sekarang. Kedua,
hasil-hasil yang dicapai oleh umat Islam dalam lapangan kesusastraan, ilmu
pengetahuan dan kesenian; ketiga, kemajuan politik atau kekuasaan Islam
terutama dalam hubungannya dengan ibadah-ibadah, penggunaan bahasa, dan
kebiasaan hidup kemasyarakatan.
C.
Kontribusi
Peradaban Islam
1.
Perkembangan
Pendidikan Islam di Indonesia
a.
Pendidikan
Zaman Kerajaan Islam
1)
Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan
Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudra Pasai, yang didirikan pada
abad ke-10 M dengan raja pertamanya Malik Ibrahim bin Mahdum. Yang kedua
bernama al-Malik al-Shaleh dan yang terakhir bernama Al-Malik Sabar Syah (tahun
1444 M/ abad ke-15 H). Pada
tahun 1345, Ibnu Batutah dari Maroko sempat singgah di Kerajaan Pasai pada
zaman pemerintahan Malik Az-Zahir, raja yang terkenal alim dalam ilmu agama dan
bermazhab Syafi’i, mengadakan pengajian sampai waktu sholat Ashar dan fasih
berbahasa Arab serta mempraktikkan pola hidup yang sederhana.
Keterangan
Ibnu Batutah tersebut dapat ditarik kesimpulan pendidikan yang berlaku di zaman
kerajaan Pasai sebagai berikut: (1) Materi pendidikan dan pengajaran agama
bidang syari’at adalah Fiqh mazhab Syafi’i, (2) Sistem pendidikannya secara
informal berupa majlis ta’lim dan halaqoh, (3) Tokoh pemerintahan
merangkap tokoh agama, (4) Biaya pendidikan bersumber dari Negara.
Pada zaman
kerajaan Samudra Pasai mencapai kejayaannya pada abad ke-14 M, maka pendidikan
juga tentu mendapat tempat tersendiri. Mengutip keterangan Tome Pires, yang
menyatakan bahwa “di Samudra Pasai banyak terdapat kota, dimana antar warga
kota tersebut terdapat orang-orang berpendidikan”.
Menurut
Ibnu Batutah juga, Pasai pada abad ke-14 M merupakan pusat studi Islam di Asia
Tenggara, dan banyak berkumpul ulama-ulama dari negara-negara Islam. Ibnu
Batutah menyatakan bahwa Sultan Malikul Zahir adalah orang yang cinta kepada
para ulama dan ilmu pengetahuan. Bila hari Jum’at tiba, Sultan sembahyang di
Masjid menggunakan pakaian ulama, setelah sembahyang mengadakan diskusi dengan
para alim pengetahuan agama, antara lain: Amir Abdullah dari Delhi, dan Tajudin
dari Ispahan. Bentuk pendidikan dengan cara diskusi disebut Majlis Ta’lim atau halaqoh.
Sistem halaqoh yaitu para murid mengambil posisi melingkari guru. Guru
duduk di tengah-tengah lingkaran murid dengan posisi seluruh wajah murid
menghadap guru.
2)
Kerajaan
Perlak
Kerajaan Islam kedua di Indonesia adalah Perlak di
Aceh. Rajanya yang pertama Sultan Alaudin (tahun 1161-1186 H/abad 12 M). Antara
Pasai dan Perlak terjalin kerja sama yang baik sehingga seorang Raja Pasai
menikah dengan Putri Raja Perlak. Perlak merupakan daerah yang terletak sangat
strategis di Pantai Selat Malaka, dan bebas dari pengaruh Hindu.
Kerajaan Islam Perlak juga memiliki pusat pendidikan
Islam Dayah Cot Kala. Dayah disamakan dengan Perguruan Tinggi,
materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, tauhid, tasawuf, akhlak, ilmu bumi,
ilmu bahasa dan sastra Arab, sejarah dan tata negara, mantiq, ilmu falaq dan
filsafat. Daerahnya kira-kira dekat Aceh Timur sekarang. Pendirinya adalah
ulama Pangeran Teungku Chik M. Amin, pada akhir abad ke-3 H/ abad 10 M. Inilah
pusat pendidikan pertama.
Rajanya yang ke enam bernama Sultan Mahdum Alaudin
Muhammad Amin yang memerintah antara tahun 1243-1267 M, terkenal sebagai
seorang Sultan yang arif bijaksana lagi alim. Beliau adalah seorang ulama yang
mendirikan Perguruan Tinggi Islam yaitu suatu Majlis Taklim tinggi dihadiri
khusus oleh para murid yang sudah alim. Lembaga tersebut juga mengajarkan dan
membacakan kitab-kitab agama yang berbobot pengetahuan tinggi, misalnya kitab
al-Umm karangan Imam Syafi’i.
Dengan demikian pada kerajaan Perlak ini proses pendidikan Islam telah berjalan
cukup baik.
3)
Kerajaan
Aceh Darussalam
Proklamasi kerajaan Aceh Darussalam adalah hasil
peleburan kerajaan Islam Aceh di belahan Barat dan Kerajaan Islam Samudra Pasai
di belahan Timur. Putra Sultan Abidin Syamsul Syah diangkat menjadi Raja dengan
Sultan Alaudin Ali Mughayat Syah (1507-1522 M). Bentuk teritorial yang terkecil
dari susunan pemerintahan Kerajaan Aceh adalah Gampong (Kampung), yang
dikepalai oleh seorang Keucik dan Waki (wakil). Gampong-gampong yang letaknya
berdekatan dan yang penduduknya melakukan ibadah bersama pada hari Jum’at di
sebuah masjid merupakan suatu kekuasaan wilayah yang disebut mukim, yang
memegang peranan pimpinan mukim disebut Imeum mukim.
Jenjang pendidikan yang ada di Kerajaan Aceh
Darussalam diawali pendidikan terendah Meunasah (Madrasah). Yang berarti
tempat belajar atau sekolah, terdapat di setiap gampong dan mempunyai multi
fungsi antara lain: (1) Sebagai tempat belajar al-Qur’an, (2)
Sebagai Sekolah Dasar, dengan materi yang diajarkan yaitu menulis dan membaca
huruf Arab, Ilmu agama, bahasa Melayu, akhlak dan sejarah Islam.
Selanjutnya sistem pendidikan di Dayah
(Pesantren) seperti di Meunasah tetapi materi yang diajarkan adalah
kitab Nahwu, yang diartikan kitab yang dalam Bahasa Arab, meskipun arti Nahwu
sendiri adalah tata bahasa (Arab). Dayah biasanya dekat masjid, meskipun
ada juga di dekat Teungku yang memiliki dayah itu sendiri, terutama
dayah yang tingkat pelajarannya sudah tinggi. Oleh karena itu orang yang ingin
belajar nahwu itu tidak dapat belajar sambilan, untuk itu mereka harus memilih Dayah
yang agak jauh sedikit dari kampungnya dan tinggal di dayah tersebut yang
disebut Meudagang. Di Dayah telah disediakan pondok-pondok kecil
mamuat dua orang tiap rumah. Dalam buku karangan Hasbullah, Sejarah Pendidikan
Islam di Indonesia, istilah rangkang merupakan madrasah setingkat Tsanawiyah,
materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, ilmu bumi, sejarah, berhitung, dan
akhlak. Rangkang juga diselenggarakan disetiap mukim.
Bidang pendidikan di kerajaan Aceh Darussalam
benar-benar menjadi perhatian. Pada saat itu terdapat lembaga-lembaga negara
yang bertugas dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan yaitu: (1) Balai Seutia Hukama,
merupakan lembaga ilmu pengetahuan, tempat berkumpulnya para ulama, ahli pikir
dan cendikiawan untuk membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan. (2) Balai Seutia Ulama,
merupakan jawatan pendidikan yang bertugas mengurus masalah-masalah pendidikan
dan pengajaran. (3) Balai Jama’ah Himpunan
Ulama, merupakan kelompok studi tempat
para ulama dan sarjana berkumpul untuk bertukar fikiran membahas persoalan
pendidikan dan ilmu pendidikannya.
Aceh pada saat itu merupakan sumber ilmu pengetahuan
dengan sarjana-sarjananya yang terkenal di dalam dan luar Negeri. Sehingga
banyak orang luar datang ke Aceh untuk menuntut ilmu, bahkan ibukota Aceh
Darussalam berkembang menjadi kota Internasional dan menjadi pusat pengembangan
ilmu pengetahuan.
Kerajaan Aceh telah menjalin suatu hubungan
persahabatan dengan kerajaan Islam terkemuka di Timur Tengah yaitu kerajaan
Turki. Pada masa itu banyak pula ulama dan pujangga-pujangga dari berbagai
negeri Islam yang datang ke Aceh. Para ulama dan pujangga ini mengajarkan ilmu
agama Islam (Theologi Islam) dan berbagai ilmu pengetahuan serta menulis
bermacam-macam kitab berisi ajaran agama. Karenanya pengajaran agama Islam di
Aceh menjadi penting dan Aceh menjadi kerajaan Islam yang kuat di nusantara.
Diantara para ulama dan pijangga yang pernah datang ke kerajaan Aceh antara
lain Muhammad Azhari yang mengajar ilmu Metafisika, Syekh Abdul Khair Ibn Syekh
Hajar ahli dalam bidang pogmatic dan mistik, Muhammad Yamani ahli dalam
bidang ilmu usul fiqh dan Syekh Muhammad Jailani Ibn Hasan yang mengajar
logika.
Tokoh pendidikan agama Islam lainnya yang berada di
kerajaan Aceh adalah Hamzah Fansuri. Ia merupakan seorang pujangga dan guru
agama yang terkenal dengan ajaran tasawuf yang beraliran wujudiyah. Diantara
karya-karya Hamzah Fansuri adalah Asrar al-Aufin, Syarab al-Asyikin, dan Zuiat
al-Nuwahidin. Sebagai seorang pujangga ia menghasilkan karya-karya, Syair si
burung pungguk, syair perahu.
4)
Kerajaan
Langkat
Berdasarkan data yang didapatkan bahwa sebelum tahun 1900, kerajaan Langkat
belum memiliki lembaga pendidikan formal. Pendidikan yang dilaksanakan masih
dengan pendidikan non formal, yaitu dengan belajar kepada guru-guru agama
ataupun ahli-ahli dalam bidang tertentu. Bagi keluarga kerajaan juga diberikan
pendidikan yang seperti ini. Para guru-guru itu diundang ke istana untuk
memberikan ceramah dan pengajaran kepada raja beserta keluarganya. Ketika itu
dinamika intelektual khususnya dalam bidang pendidikan belum menjadi fokus
perhatian para sultan. Nampaknya mereka masih sibuk dengan masalah politik yang
terjadi, yaitu berkaitan dengan perluasan wilayah kekuasaan dan lain
sebagainya. Hal tersebut menjadikan dinamika intelektual di Langkat tidak
berkembang dengan baik dan kurang mendapat perhatian. Baru, setelah sultan
Abdul Aziz menjadi sultan Langkat, lembaga pendidikan formal yang dinamakan
maktab (baca: madrasah) dapat berdiri dan menjadi pusat pendidikan agama bagi masyarakat Langkat.
Dengan berdirinya Madrasah al-Masrullah tahun 1912, Madrasah Aziziah pada
tahun 1914 dan Madrasah Mahmudiyah tahun
1921, maka Langkat menjadi salah satu dari tempat yang dituju oleh
pencari-pencari ilmu dari berbagai daerah. Disebutkan bahwa selain dari
masyarakat Langkat yang belajar pada kedua maktab tersebut, maka banyak
pelajar-pelajar yang datang dari dalam dan luar pulau Sumatera, seperti Riau,
Jambi, Tapanuli, Kalimantan Barat, Malaysia, Brunei dan lain sebagainya.
Pada awalnya madrasah (maktab) ini hanya disediakan untuk anak-anak
keturunan raja dan bangsawan saja, namun pada perkembangannya maktab ini
memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk dapat belajar dan menuntut ilmu.
Beberapa tokoh nasional yang pernah belajar di maktab ini antara lain adalah
Tengku Amir Hamzah dan Adam Malik
(mantan wakil presiden RI).
Dalam biografinya Adam Malik meyebutkan bahwa Madrasah al-Masrullah
termasuk lembaga yang mempunyai bangunan bagus dan modern menurut ukuran zaman
tersebut. Di mana masing-masing anak dari keluarga berada (kaya) mendapat
kamar-kamar tersendiri. Sistem pendidikan yang dijalankan pada sekolah ini sama
seperti sistem sekolah umum di Inggris, di mana anak laki-laki usia 12 tahun
mulai dipisahkan dari orang tua mereka untuk tinggal di kamar-kamar tersendiri
dalam suasana yang penuh disiplin. Fasilitas-fasilitas olah raga juga
disediakan di sekolah tersebut seperti lapangan untuk bermain bola dan kolam
renang milik kesultanan Langkat.
Ketiga lembaga pendidikan tersebut didirikan oleh sultan Abdul Aziz yang
kemudian diberi nama dengan perguruan Jama’iyah Mahmudiyah. Pada tahun 1923
perguruan Jama’iyah Mahmudiyah telah memiliki 22 ruang belajar, 12 ruang
asrama, disamping berbagai fasilitas lainnya seperti 2 buah Aula, sebuah rumah
panti asuhan untuk yatim piatu, kolam renang, lapangan bola dan sebagainya.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan pada perguruan Jama’iyah Mahmudiyah, maka
tenaga pengajarnya sebagian besar
merupakan guru-guru yang pernah belajar ke Timur tengah seperti Mekkah, Medinah
dan Mesir. Mereka semua dikirim atas biaya Sultan setelah sebelumnya diseleksi
terlebih dahulu, hingga sekitar tahun 1930 siswa-siswa yang belajar di
perguruan ini sekitar 2000 orang yang berasal dari berbagai macam daerah.
Selanjutnya sultan Abdul Azis kemudian mendirikan lembaga pendidikan umum
bagi masyarakat Langkat yaitu sekolah HIS dan Sekolah Melayu, yang banyak
memberikan materi-materi pelajaran umum. Mengenai gaji-gaji guru dan biaya
perawatan bangunan semuanya ditanggung oleh pihak kesultanan Langkat, dalam hal
ini dapat dikatakan bahwa segala biaya yang berkaitan dengan
fasilitas-fasilitas pendidikan di Langkat ditanggung sepenuhnya oleh
pemerintahan kerajaan.
Memang pada awal tahun 1900-an Pemerintahan Belanda telah mendirikan
sekolah Langkatsche School
(baca: Sekolah Belanda). Namun penerimaan siswanya masih sangat terbatas,
di masa itu yang diterima hanya anak-anak bangsawan dan dan anak pegawai Ambtenaar
Belanda serta orang-orang kaya yang berharta, dalam bahasa pengantarnya lembaga
pendidikan ini menggunakan bahasa Belanda. Selain itu didirikan juga ELS (Europese
Logare School) dan untuk anak-anak keturunan Cina didirikan Holland
Chinese School atau HCS.
b.
Pendidikan
Islam pada Zaman Penjajahan
1)
Masa Kolonial
Awal mula
bangsa Belanda datang ke Nusantara hanya untuk tujuan berdagang, tetapi karena
kekayaan alam Nusantara yang sangat banyak maka tujuan utama tadi berubah untuk
menguasai wilayah Nusantara dan menanamkan pengaruh di Nusantara sekaligus
dengan mengembangkan pahamnya yang terkenal dengan semboyan 3G, yaitu glory
(kemenangan dan kekuasaan), gold (emas atau kekayaan bangsa Indonesia),
dan gospel (upaya salibisasi terhadap umat Islam di Indonesia).
Dalam
menyebarkan misi-misinya, Belanda mendirikan sekolah-sekolah Kristen. Misalnya
di Ambon yang jumlah sekolahnya mencapai 16 sekolah dan 18 sekolah di sekitar
pulau-pulau Ambon, di Batavia sekitar 20 Sekolah, padahal sebelumnya sudah ada
sekitar 30 Sekolah. Di samping itu, Sekolah-sekolah ini pada perkembangannya
dibuka secara luas untuk rakyat umum dengan biaya yang murah. Dengan demikian,
melalui sekolah-sekolah inilah Belanda menanamkan pengaruhnya di daerah
jajahannya.
Dengan
terbukanya kesempatan yang luas bagi masyarakat umum untuk memasuki
sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh Belanda, maka kalangan Islam mendapat
tantangan dan saingan berat, terutama karena Sekolah-sekolah pemerintah
Hindia-Belanda dilaksanakan dan dikelola secara modern terutama dalam hal
kelembagaan, kurikulum, metodologi, sarana, dan lain-lain. Perkembangan sekolah
yang demikian jauh dan merakyat menyebabkan tumbuhnya ide-ide di kalangan
intelektual Islam untuk memberikan respons dan jawaban terhadap tantangan
tersebut dengan tujuan untuk memajukan pendidikan Islam. Mereka mendirikan
lembaga pendidikan baik secara perorangan maupun kelompok/organisasi yang
dinamakan Madrasah atau Sekolah.
2)
Masa Jepang
Pendidikan Islam pada
zaman penjajahan Jepang dimulai tahun 1942-1945. Sebenarnya sejak tahun 1940
Jepang sudah berencana menguasai bangsa Indonesia karena mereka bercita-cita
besar menjadi pemimpin Asia Timur Raya.
Pada masa itu kejayaan
dan masa keemasan Belanda hilang lenyap sekaligus, ketika pada tanggal 8 Maret
1942 tentara Belanda bertekuk lutut tanpa syarat kepada Jepang. Selanjutnya
mengenai keadaan pada zaman penjajahan Jepang sangat banyak perubahan dari
sebelumnya yaitu zaman penjajahan Belanda. Dalam pendidikan umum mereka lebih
mengutamakan pelajaran-pelajaran kemiliteran dan itu semata-mata untuk
mendukung Jepang dalam perang pasifik. Kendatipun demikian ada beberapa hal
yang perlu diketahui yaitu perubahan yang cukup mendasar di bidang pendidikan, dan hal ini penting sekali artinya bagi
bangsa Indonesia. Perubahan itu diantaranya adalah:
(1) Hapusnya Dualisme Pengajaran
Dengan berbagai macam jenis Sekolah rendah, yang dahulunya diselenggarakan pada
zaman Belanda. Dihapuskan sama sekali. Habislah riwayat
susunan pengajaran Belanda yang dualistis itu. Yang membedakan dua jenis
pengajaran yaitu pengajaran barat dan penhgajaran Bumi Putera. Jenjang pengaharan menjadi: Sekolah rakyat 6 tahun
(termasuk Sekolah pertama), Sekolah menengah 3 tahun, Sekolah menengah tinggi 3
tahun (SMA pada zaman itu).
(2) Pemakaian Bahasa Indonesia
Pemakaian bahasa Indonesia baik sebagai bahasa pengantar pendidikan.
Selanjutnya mengenai sikaf penjajah Jepang terhadap pendidikan Islam ini
ternyata lebih lunak. Sehingga ruang gerak pendidikan Islam lebih bebas
dibandingkan pada zaman pemerintah kolnial Belanda. Terlebih-lebih pada
permulaan pemerintahan, Jepang menampakkan diri seakan-akan membela kepentingan
Islam yaang merupkan siasat mereka menempuh jalan dengan mengeluarkan
kebijakan-kebijakan diantaranya: (a) Mengubah kantor Voor Islamistiche Zaken
yang dipimpin oleh kaum orientalis Belanda menjadi KUA (Kantor Urusan Agama) yang pada waktu itu dipimpin oleh
tokoh Islam sendiri yakni KH. Hasyim Asy’ari, (b) Pondok Pesantren sering mendapat kunjungan dan bantuan
dari pemerintah Jepang, (c) Mengijinkan berdirinya Sekolah Tinggi Mengi Islam
di Jakarta di bawah asuhan KH. Wahid Hasyim, Musakkar, dan Bung Hatta, (d) Umat Islam diijinkan
meneruskan organisasi persatuan yang disebut Majlis Islam A’a Indonesia (MIAI).
Kepercayaan Jepang ini dimanfaatkan sekali oleh umat Islam untuk bangkit dan
memberontak melawan Jepang sendiri. Pada tanggal 8 Juli 1945 berdirilah
Sekolah Tinggi Islam di Jakarta. Kalau ditinjau dari segi pendidikan pada
jaman Jepang umat Islam mempunyai kesempatan banyak untuk memajukan
pendidikan Islam. Karena tanpa disadari oleh Jepang itu sendiri
bahwa umat Islam sudah cukup mempunyai potensi untuk maju dalam
pendidikan ataupun perlawanan kepada penjajah.
c.
Pendidikan
Zaman Kemerdekaan
Setelah
kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, kemudian pada tanggal 3 Januari
1946 dibentuklah Departemen Agama yang akan mengurus masalah keberagamaan di
Indonesia termasuk di dalamnya pendidikan, khususnya madrasah. Namun pada
perkembangan selanjutnya, madrasah walaupun sudah berada di bawah naungan Depag
tetapi hanya sebatas pembinaan dan pengawasan.
Sungguhpun
pendidikan Islam di Indonesia telah berjalan lama dan mempunyai sejarah
panjang, namun dirasakan, pendidikan Islam masih tersisih dari sistem Pendidikan
Nasional. Keadaan ini berlangsung sampai dengan dikeluarkannya SKB 3 Menteri
tanggal 24 Maret 1975 yang berusaha mengembalikan ketertinggalan pendidikan
Islam untuk memasuki mainstream pendidikan Nasional.
Kebijakan ini membawa pengaruh yang sangat besar bagi madrasah, karena pertama,
ijazah dapat mempunyai nilai yang sama dengan sekolah umum yang sederajat, kedua,
lulusan Madrasah dapat melanjutkan ke sekolah umum yang setingkat lebih tinggi,
dan ketiga, siswa madrasah dapat pindah ke sekolah umum yang setingkat.
Dengan
SKB tersebut, Madrasah memperoleh definisi yang semakin jelas sebagai lembaga
pendidikan yang setara dengan Sekolah sekalipun pengelolaannya berada di bawah
Departemen Agama. Namun pada perkembangan selanjutnya akhir dekade 1980-an
dunia pendidikan Islam memasuki era integrasi dengan lahirnya UU No. 2/1989
tentang sistem Pendidikan Nasional, eksistensi madrasah sebagai lembaga
pendidikan yang bercirikan Islam semakin mendapatkan tempatnya.
Perkembangan
pendidikan Islam terus ditingkatkan. Tuntutan untuk medirikan Perguruan
Tinggi juga meningkat. Sebelum kemerdekaan sebenarnya di Minang Kabau sudah
berdiri Perguruan Tinggi pertama, yaitu Sekolah Islam Tinggi di dirikan oleh
persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) di Padang. Di Jakarta didirikan
STI (Sekolah Tinggi Islam) pada Juli 1945 oleh beberapa pemimpin Islam,
yaitu Hatta dan M Natsir, pemimpin STI dipercayakan kepada K.H. Kahar Muzakkir.
Karena pergolokan kemerdekaan STI dipindahkan ke Jogjakarta dan pada tanggal 22
Maret 1945 STI berubah menjadi UUI (Universitas Islam Indonesia). Sekolah
kemerdekaan di Yogyakarta juga di buka UGM (Universitas Gadjah Mada).
Pemerintah menawarkan untuk menegerikan UUI dan UGM. UII menerima dengan syarat
di bawah naungan Depertemen Agama. Akhirnya hanya satu Fakultas yang
dinegerikan, yaitu Fakultas Agama. Fakultas Agama UII berubah menjadi PETAIN
(Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri). Di Jakarta dibuka ADIA (Akademi Dinas
Ilmu Agama) terdiri dari dua tingkat yaitu tingkat semi akademi tiga tahun dan
tingkat akademi dua tahun.
Pada bulan Mei
1960 Depertemen Agama menggabungkan PTAIN dengan ADIA menjadi IAIN yaitu
berkedudukan di Yogyakarta dan bercabang di Jakarta. Di Banda Aceh pada waktu
A. Hasyimy menjadi Gubernur Aceh juga didirikan fakultas Agama Negeri.
Tahun 1960 FAIN di ubah menjadi Syariah Banda Aceh yang merupakan cabang IAIN
Yogyakarta.
Setelah beberapah tahun Depetemen Agama memisahkan IAIN menjadi dua,
masing-masing berdiri sendiri, yaitu IAIN Yogyakarta dan IAIN Jakarta. IAIN bertambah
pesat dan melahirkan cabang-cabangnya diberbagai wilayah ditambah dengan
bertumbuhnya Perguruan Tinggi Swasta, diantaranya UNJ, UM, UNISBAH, UNISMA,
Pendidikan Islam mengalami kemajuan dengan mengiringi modernitas.
Terakhir pada tahun 2002, IAIN Syarif Hidayatullah berubah menjadi UIN
(Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah yang di dalamnya menyelengarakan
pendidikan selain Fakultas-fakultas Agama (Fakultas Tarbiyah dan
Keguruan, Fakultas Adab dan Ilmu Humaniora, Fakultas Usuluddin dan Filsafat,
Fakultas Syariah dan Hukum, Fakultas Dakwa dan Komunikasi), juga membuka
Fakultas Psikolog, Fakultas Dirasah Islamiyah, Fakultas Ekonomi dan Sosial,
Fakultas Sains dan Teknologi, dan Program Pasca Sarjana di samping itu sedang
dirancang pendirian Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan.
2.
Seni Budaya di
Indonesia
Kesenian-kesenian Islam yang ada di
Indonesia adalah sebagai berikut.
a.
Batu Nisan
Kebudayaan
Islam dalam bidang seni, mula-mula masuk ke Indonesia dalam bentuk batu nisan.
Di Pasai masih di jumpai batu nisam makam Sultan Malik al-Saleh yang wafat
tahun 1292.
Batunya terdiri dari pualam putih diukir dengan
tulisan Arab yang sangat indah berisikan ayat al-Qur’an dan keterangan
tentang orang yang dimakamkan serta hari dan tahun wafatnya. Makam yang serupa
dijumpai pula di Jawa, seperti makam Maulama Malik Ibrahim di gresik.
Nisan itu umumnya didatangkan dari Gujarat sebagai barang pesanan. Bentuknya
lunas (bentuk badan kapal terbalik) yang mengesankan pengaruh Persia.
Bentuk-bentuk nisan kemudian hari tidak selalu demikian. Pengaru kebudayaan
setempat sering memengaruhi, sehingga ada bentuk teratai,
keris,
atau bentuk gunungan seperti gunungan pewayangan.
Namun kebudayaan nisan ini tidak berkembang lebih lanjut. Yang termasyhur
adalah makam Malik al-Saleh di Perla dan makam Maulana Malik Ibrahim, wali
pertama di Gresik.
b.
Arsitektur
(Seni Bangun)
Dalam
seni bangun Islam Indonesia, pada garis
besarnya mempunyai dua corak, yaitu asli dan baru. Pada abad ke-16 agama Islam
tersebar luas di Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatera. Kegiatan keagamaaan
diadakan di Masjid
atau di Mushalla. Model masjidnya berbeda dengan bentuk masjid negara Islam
lainnya. Mungkin karena berdekatan masa, bentuk masjid di Indonesia pada
mulanya banyak dipengaruhi oleh seni bangunn Inndonesia Hindu. Masjid tertua
yang memperlihatkan ragam seni bangun itu, misalnya Masjid Demark, Kudus,
Cirebon,
Banten, dan Ampel. Di masjid–masjid itulah menurut sejarah, para wali
mengajarkan agama Islam bentuk masjid itu menjadi model bagi masjid-masjid yang
lain.
Ciri-ciri model bangunnan lama yang
merupakan peniruan dari seni bangunan Hindu, Budha itu adalah sebagai berikut:
1)
Atap tumpang,
yaitu atap yang bersusun semakinn ke atas semakin kecil dan yang paling atas
biasannya semacam mahkota. Selalu bilangan atapnya ganjil, kebanyakan jumlah
atapnya 3 atau 5. Atap tumpang ini terdapat juga di Bali pada upacara ngaben
atau relif candi Jawa Timur.
2)
Tidak ada
menara, karenanya pemberitahuan waktu sholat dilakukan dengan memukul bedug.
Dari masjid-masjid yang tertua hanya di Kudus dan di Banten yang ada menaranya.
Kedua menara ini pun tidak seragam. Menara Kudus tidak lain adalah candi Jawa
Timur yang telah diubah, disesuaikan penggunaannya dan diberi atap tumpang,
sedangkan menara masjid Banten tambahan dari zaman kemudian yang dibangun oleh
Cordell, pelarian Belanda yang masuk Islam, yang bentuknya seperti mercusuar.
3)
Masjid-masjid
tua, bahkan masjid yang dibangun didekat istana raja Yogya dan Solo mempunyai
letak yang tetap. Di depan istana selalu ada lapangan besar dengan pohon
beringin kembar, sedangkan masjid selalu terletak di tepi barat lapangan. Di
belakang masjid sering terdapat makam-makam. Rangkaian makam dan masjid ini
pada hakikatnya adalah kelanjutan dari fungsi candi pada zaman Hindu-Indonesia.
Di samping unsur zaman Hindu-Indonesia, terdapat pula pengaruh daerah, meskipun tidak
mengubah bentuk keseluruhan hanya menambah keindahan, seperti Masjid
Minanngkabau yang mendapat pengaruh “rumah gadang”, Masjid Kebun Jeruk Jakarta
(1786) yang memperlihatkan pengaruh Belanda, dan Masjid Agung Palembang
(terutama menaranya) dipengaruhi seni bangunann Tionghoa.
Setelah Indonesia merdeka dan dapat berhubungan dengan negara lain,
maka unsur lama secara berangsur-angsur hilanng. Pada masa peralihan ke arah
corak baru masih sering terlihat perpaduan antara keduanya, terutama pada
atapnya: jumlah atapnya masih tumpang dua, yang ketiga diganti dengan kubah
peniruan dari masjiid Timur Tengan atau India. Pada tahap selanjutnya, atap
tumpang ditinggalkan dan ciri masjid menjadi kubah, misalnnya Masjid Kutaraja
yang didirikan oleh Belanda tahun 1878 sebagai pngganti msjid lama yang
terbakar. Kemudian masjid yang menyerupai Taj-Mahal India adalah Masjid Syuhada
di Yogyakarta dan Masjid al-Azhar di Jakarta. Ada juga bentuk Masjid yang
terpengaruh Ottomanstyle (Byzantium) seperti tampak pada Masjid Istiqlal
yang bentuk kubahnya setengah lingkaran ditopang oleh pilar-pilar yang tinggi
besar. Terakhir, bentuk masjid dengan kusen-kusen meruncing meniru gaya India seperti Masjid al-Tien di Taman Mini
Indonnesia Indah (TMII).
c.
Seni Sastra
Seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam adalah seni sastra yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu – Budha dan sastra Islam yang banyak mendapat pengaruh Persia. Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan/ aksara yang dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab Melayu (Arab Gundul) dan isi ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu.
Bentuk seni sastra yang berkembang adalah:
1) Hikayat merupakan cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk gancaran (karangan bebas atau prosa). Contoh hikayat yang terkenal yaitu Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Pandawa Lima (Hindu), Hikayat Sri Rama (Hindu).
2) Babad ialah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwa sejarah contohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.
3) Suluk yaitu kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya Suluk Sukarsa, Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.
4) Primbon yaitu hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk kitab yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.[55]
Adapun bentuk seni sastra di atas, banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa.
d.
Seni Ukir
Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau
hewan. Seni ukir relief yang menghias Masjid, makam Islam berupa suluran
tumbuh-tumbuhan namun terjadi pula sinkretisme (hasil perpaduan dua
aliran seni logam), agar didapat keserasian, ditengah ragam hias suluran
terdapat bentuk kera yang distilir. Ukiran
ataupun hiasan, selain ditemukan di masjid juga ditemukan pada gapura-gapura
atau pada pintu dan tiang. Untuk hiasan pada gapura. Ketika Islam baru datang ke Indonesia, terutama ke Jawa,
ada kehati-hatian para penyiar agama. Banyak candi-candi besar, termasuk candi
Borobudur, yang semula ditimbun tanah pada masa penjajahan Belanda dan kemudian
digali kembali, supaya tidak mengganggu para Mualaf. Mempuat patung dari seni
ukir pun dilarang, kalaupun timbul kembali, kesenian itu harus disamarkan,
sehingga seni ukir dan seni patung menjadi terbatas kepada seni ukir saja.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Mustofa. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia.Bandung:
CV. Pustaka Setia. 1999.
Ahmadi,A.
Kadir. Sejarah
Perkembangan Pendidikan Jama’iyah Mahmudiyah. Tanjung Pura-Langkat Terbitan
Khusus Pengurus Besar Jama’iyah Mahmudiah Li Thalabil Khairiyah. 1985.
Malik, Adam. Mengabdi
Repoblik: Adam dari Andalas.Jakarta: Gunung Agung. 1982.
Daulay, Haidar Putra. Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan
Pendidikan Islam di Indonesia.Jakarta: Kencana Prenada Media. 2007.
Hasbullah. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia.Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada. 2001.
Hodgson, Marshall G.S. The Venture of Islam, Iman dan Sejarah Dalam
Peradaban Dunia,terjemahan Mulyadi Kartanegara.Jakarta: Paramadina. 1999.
Ibrahim. Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh.Jakarta:
CV. Tumaritis. 1991.
Riflefs, MC. A
History of Modern Indonesia. London: McMillan Education.
Supriyadi, Dedi Sejarah Peradaban Islam.Bandung:
Pustaka Setia. 2008.
Zuhairini, et.al. Sejarah
Pendidikan Islam.Jakarta: PT. Bumi Aksara. 2000.
Fungsi lainnya adalah sebagai berikut: (1) Sebagai
tempat ibadah sholat 5 waktu untuk kampung itu., (2) Sebagai tempat sholat tarawih dan tempat membaca Al-Qur’an
di bulan puasa, (3) Tempat kenduri Maulud pada bulan Mauludan, (4) Tempat
menyerahkan zakat fitrah pada hari menjelang Idul Fitri atau bulan puasa, (5)
Tempat mengadakan perdamaian bila terjadi sengketa antara anggota kampung, (6)
Tempat bermusyawarah dalam segala urusan, (7) Letak meunasah harus berbeda
dengan letak rumah, supaya orang segera dapat mengetahui mana yang rumah atau
meunasah dan mengetahui arah kiblat sholat. M. Ibrahim, Sejarah
Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, h. 76.
Ulama penting lainnnya adalah Syamsuddin As-Samathrani
atau lebih dikenal dengan Syamsuddin Pasai. Ia adalah murid dari Hamzah Fansuri
yang mengembangkan paham wujudiyah di Aceh. Kitab yang ditulis, Mir’atul
al-Qulub, Miratul Mukmin dan lainnya. Ulama dan pujangga lain yang pernah datang ke kerajaan Aceh
ialah Syekh Nuruddin Ar-Raniri. Ia menentang paham wujudiyah dan menulis banyak
kitab mengenai agama Islam dalam bahasa Arab maupun Melayu klasik. Kitab yang
terbesar dan tertinggi mutu dalam kesustraan Melayu klasik dan berisi tentang
sejarah kerajaan Aceh adalah kitab Bustanul Salatin. Pada masa kejayaan
kerajaan Aceh, masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636) oleh Sultannya banyak
didirikan masjid sebagai tempat beribadah umat Islam, salah satu masjid yang
terkenal Masjid Baitul Rahman, yang juga dijadikan sebagai Perguruan Tinggi dan
mempunyai 17 daars (fakultas).
Dengan
melihat banyak para ulama dan pujangga yang datang ke Aceh, serta adanya
Perguruan Tinggi, maka dapat dipastikan bahwa kerajaan Aceh menjadi pusat studi
Islam. Karena faktor agama Islam merupakan salah satu faktor yang sangat
mempengaruhi kehidupan masyarakat Aceh pada periode berikutnya. Menurut B.J.
Boland, bahwa seorang Aceh adalah seorang Islam. Lihat Ibrahim,et.al., Sejarah Daerah
Propinsi Daerah Istimewa Aceh, h. 89.
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete