RESUME TESIS
PENDIDIKAN BERORIENTASI AKHLAK MULIA
(Studi Kasus di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta)
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kemerosotan
akhlak yang terjadi pada bangsa Indonesia kini mengundang perhatian. Hal ini
disebabkan gagalnya dunia pendidikan dalam mendidik akhlak anak bangsanya. Dan kegagalan tersebut disinyalir
karena beberapa faktor utama, yakni: minimnya jam pengajaran dan kurang
maksimalnya pendidikan akhlak di sekolah. Keadaan ini dipertegaskan oleh
beberapa pakar, seperti Edward Gibbon dan Louis Kraar (1988), yang menyatakan
bahwa kemerosotan moral merupakan penyebab utama hancunya bangsa dan hal inilah
yang sedang terjadi di Indonesia. Dengan ditandai varian deretan kasus korupsi,
mafia hukum, mafia pajak, narkoba, asusila, dan video porno. Sehingga dari
kejadian tersebut membuat penddikan di Indonesia menjadi back yard dari
bagian Asia Timur. Kalau ditilik memang diakui Indonesia cukup berhasil dalam
mendidik anak bangsanya, namun yang memayoritas dari
kenampakannya adalah cerdas secara harfiah sedangkan pendidikan moral dan
akhlak yang menyangkut kepada pendidikan agama masih minim.
Dan ini dapat
dibuktikan pula dari peneliti-peneliti yang telah meneliti hal tersebut.
Seperti Anton Widyanto (di wilayah Bireuen dan Banda Aceh) dan Jajat
Burhanuddin dkk, menunjukkan bahwa salah satu kondisi yang menyebabkan
kemerosotan moral di sekolah adalah akhlak siswa, minimnya pendidikan agama.
Untuk itu Komaruddin Hiayat menghimbau agar pendidikan bangsa harus dibangun
dan kesadarannya pun harus dihidupkan kembali. Menurutnya masalah-masalh lain
seperti kejatuhan politik ataupun kemerosotan ekonomi, itu hanyalah kehilangan
sesuatu, tapi kalau masalah kemerosotan moral, ini akan berakibat suatu bangsa
akan kehilangan segalanya.
Dalam konteks
Indonesia, Muhammad Ali mengemukakan faktor yang menyebabkan gagalnya
pendidikan akkhak atau moral adalah mengenai masalah pelaksanaan PAI di
sekolah, khususnya khisshah agama di sekolah umum. Dan mengenai masalah
pelaksanaan PAI terutama mengenai minimnya alokasi waktu pembelajaran untuk
pelajaran agama di sekolah, untuk mengatasi permasalahan tersebut telah
menjamur di lembaga-lembaga pendidikan, diantara prosesi yang dilakukannya
yakni: para guru diberikan penataran dan lokakarya, dalam kegiatan tersebut
mereka mengusulkan supaya adanya penambahan khisshah keagamaan pada
kurikulum Nasional serta penambahan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler
keagamaan yang bersifat formal. Meski segala upaya dilakukan untuk mencari
solusi, namun sepertinya kurang optimal, karena faktanya perilaku amoral remaja
semakin meningkat. Melihat realita tersebut mengundang keseriusan pemerintah
dalam mencetak output bangsa yang bermoral dengan akhlak keagamisan.
Melalui ini Kemendinas M. Nuh (saat mengikuti diskusi panel di Bogor,2011), ia
mencoba untuk mengembangkan Kurikulum Berbasis Akhlak Mulia, yaitu kurikulum
yang berupaya menanamkan nilai-nilai akhlak atau moral melalui berbagai mata
pelajaran yang diajarkan kepada para peserta didik (memasukkan nilai-nilai
akhlak/moral ke dalam semua mata pelajaran yang diajarkan).
Berkenaan
dengan pendidikan akhlak, al-Abrashi, Abbas Mahjub, Gary J. Quinn (statement
: akhlak dipersepsikan sebagai moral), Larry P. Nucci dan Darcia Narvaez (Ed),
dan Gawande mengatakan hal yang sama akan pentingnya pembentukan dan pembinaan
akhlak/moral, sekolah sebagai komunitas moral haruslah menjadikan komunitas
yang peduli akan terwujudnya cita-cita moral, sehingga pengajaran nilai-nilai
terjalin dengan seluruh iklim di sekolah. Baik itu berdasarkan islam ataupun
luar islam, sepakat tentang pentingnya pendidikan akhlak bagi manusia. Untuk itu penulis berasumsi bahwa upaya
pembentukann akhlak siswa dapat dioptimalkan dengan menjadikannya sebagai
proyeksi visi keunggulan sekolah melalui pengembangan kurikulum, serta
penggadaan berbagai program dan kegiatan yang diorentasikan kepada pembentukan
akhlak mulia.
Namun, asumsi
tersebut berlainan lintasan dengan pendapat Gabriel Moran, Darleine Leiding dan
Graham Haydon mengenai hal tersebut. Mereka beranggapan bahwa: 1) Diantara
tujuan-tujuan pendidikan, pendidikan moral hanya menjadi salah satunya saja/ 1
set dari tujuan, 2) Sebagai salah satu pilihan dari berbagai konten/proses
dalam totalitas mengajar dan belajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
mata pelajaran tertentu ikut berkontribusi terhadap pendidikan moral, tetapi
mata pelajaran lainnya tidak. Atau bisa juga kegiatan tertentu di dalam ruang
kelas, atau aspek-aspek tertentu dari organisasi sekolah dapat memberikan
kontribusi untuk pendidikan moral, sementara lainnya tidak.
Pendidikan yang
berorientasi kepada pembentukan akhlak mungkin bukan sesuatu yang baru untuk
diteliti. Tapi dengan realitas dari kemerosotan akhlak/moral mengundang
peneliti untuk mengkajinya. Untuk melakukan penelitian peneliti mengambil
sampel dari 354 sekolah (MI 16 buah, MTS 22 buah, MA 7 buah SD 67 buah, SMP 100
buah, SMA 79 buah, dan SMK 63 buah) yang terdata di Jakarta Selatan, maka hanya
Madrasah Pembangunan UIN Jakarta yang memenuhi keriteria sekolah yang penulis
tetapkan yaitu: mempunyai komitmen yang kuat terhadap pendidikn akhlak, lembaga
pendidikannya berkelanjutan dari tingkat dasar (Ibtidaiyah) ampai
tingkat lanjutan (Tsanawiyah dan Aliyah), dan semua sekolah
tersebut berada dalam satu lokasi. Madrasah Pembangunan UIN Jakarta ini juga
menyelenggarakan pendidikan yang salah satu orientasinya adalah unggul dalam
akhlakul karimah. Untuk itu penelitian ini sangat layak untuk dilakukan
sehingga dapat nantinya menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah lainnya, dalam
rangka untuk meningkatkan kualitas akhlak para siswa.
B. Permasalahan
1.
Identifikasi
Masalah
Dari uraian
latar belakang permasalahan dapat diidentifikasi beberapa masalah yang akan
muncul dalam penelitian ini, antara lain: Pertama, tentang Kemerosotan
Akhlak Bangsa Indonesia, yang hal ini memunculkan varian persoalan yakni: 1)
Sejauhmana kerusakan moral yang terjadi dan di alami oleh bangsa Indonesia saat
ini?, 2) Apa yang menyebabkan terjadinya kemerosotan moral bangsa Indonesia?,
3) Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi kemerosotan moral
bangsa teersebut?. Kedua, tentang gagalnya pendidiknan Indonesia dala
mendidik akhlak anak bangsanya, yang hal ini menimbulkan varian pertanyaan,
antara lain: 1) Benarkah dunia pendidikan Indonesia telah gagal mendidik anak
bangsanya?, 2) Apa yang menyebabkan pendidikan Indonnesia gagal dalam mendidik
akhlak anak bangsanya?, 3) Kebijakan pendidikan seperti apa yang harus
dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengatasi kegagalan dunia pendidikan
Indonesia dalam mendidik akhlak anka bangsanya?, 4) Apa yang harus dilakukan
oleh dunia pendidikan Indonesia untuk dapat mengatasi kemerosotan akhlak anak
bangsanya?. Ketiga, tentanng kurang maksimalnya pendidikan agama di
sekolah yang di dalamnya juga mencakup pendidikan akhlak, yang hal ini
memunculkan beberapa pertanyaan, antara lain:
1) Kurikulum yang bagaimana yang dapat mengoptimalkan pembelajaran pendidikan
akhlak di sekolah?, 2) Langkah-langkah apa yang dapat dilakukan sekolah untuk
dapat mengoptimalkan pendidikan akhlak?, 3) Apa yang dapat dilakukan oleh para
pendidik untuk dapat memaksimalkan pembelajarran menggenai pendidikan akhlak?.
2.
Batasan Masalah
Berdasarkan
paparan latar belakang dan identifikasi
masalah tersebut, maka permasalahan yang akan di bahas dalam kajian ini adalah
mengenai strategi apa yang dapat dilakukan sekolah untuk dapat mengoptomalkan
pendidikan akhlak mulia bagi para siswa.
3.
Rumusan Masalah
Adapun yang
menjadi pertanyaan minor dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana rumusan
pendidikan akhlak mulia di Madrasah Pengembangan UIN Jakarta, 2) Bagaimana
Madrasah Pembangunan UIN Jakarta mengembangkan kurikulumnya untuk mencapai
tujuan tersebut?, 3) Adakah program-program khusus yang dilaksanakan untuk
menunjang tercapainya tujuan itu, bagaimana pelaksanaan dan kontribusinya terhaddap
pendidikan akhlak?, 4) Adakah kegiatan-kegiatan ekstra yang dapat menunjang
berhasilnya pendidikan akhlak siswa, lalu bagaimana pelaksanaan dan kontribusi
kegiatan eksra tersebut terhadap pendidikan akhlak?.
C. Signifikansi
Penelitian
Penelitian bertujuan
untuk mengungkapkan strategi yang dapat dlakukan untuk dapat mengoptmalkan
pelaksanaan pendidikan akhlak di sekolah sehingga penyelenggaraan pendidikan
dan pengajaran akhlak kepada siswa menjadi optimal.
D.
Tinjauan
Kepustakaan
Dibawah ini akan di uraikan orisinalitas penelitian terkait dengan
penelitian mengenai pendidikan yang berorientasi kepada akhlak, antara lain:
|
NO
|
Researchers, Title
|
Similarities
|
Differences
|
|
1
|
E.N. Gawande
(Value Oriented Eduaton: Vision for Living)
|
Implementasi
dan implikasi dari nilai-nilai pendidikan dalam kurikulum, aturan-aturan
untuk para guru dan kegiatan kokurikuler serta nilai moral (akhlak).
|
Mengkaji dari
berbagai aspek: sejarah, kelembagaan, teoritis dan praktis. Sedangkan
peneliti hanya membahas dari aspek teoritis dan praktis.
|
|
2
|
Daniel K.
Lapsley (Moral Self-Identity as the Aim of Education)
|
Tujuan
pendidikan dan implementasinya dalam penddidikan.
|
Kajiannya
hanya bersifat teoritis, karena tidak menguraikan bagaimana teknis
pelaksanaan teori dalam dunia pendidikan. Sedangkan peneliti kajian
ditekankan pada sisi praktis dengan mendeskripsikan teknis pelaksanaan dari
teori yang telah dikemukakan.
|
|
3
|
Gary James
Quinn, bukunya (Moral Education in
America: Its Future in an Age of Personal Autonommy and Multiculturalism)
|
Konsep moral
dalam persfektif Filsafat, agama Kristen, dan Psikologi.
|
Kajian hanya
bersifat teoritis, sedangkan peneliti menekankan pada praktisinnya.
|
|
4
|
Sharron L.
McElmeel, bukunya (Character Education: a Book Guide for Teachers,
Librarians, and Parents)
|
Fokus pada
kebijjakan dan mengidentifikasii puluhan buu bergambar, novel dan non fiksi
terkait dan dapat digunakan sebagai springboard untuk diskusi.
|
Bahasan lebih
mengarah kepada sisi praktis pendidikan karakter, namun hanya mengkaji dari
aspek pendekatan dan metode.
|
|
5
|
Doni
Koesoema, tulisannya (Pendidikan Karakter)
|
Kajian
menggunakan pendekatan filosofis, pedagogis dan sosiologis, historis dan
politik pendidikan.
|
Menurut
penulis kajiannya lebih bersifat teoritis dan normatif sedangkan penulis
menekankan padda aspek teoritisnya.
|
F.
Metodologi
Penulisan
1.
Jenis Penelitian
Penelitian ini
termasuk penelitia yang bersifat kualitatif dan menekankan pada analisis
induktif.
2.
Sumber Penelitian
Sumber primer penelitian adalah data-data serta informasi hasil
dari observasi dan wawancara, serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan
pelaksanaan pendidikan akhlak yang peneliti temukan di Madrasah Pembangunan UIN
Jakarta. Sedangkan sumber sekundernya ada 3 jenis, yaitu: Pertama,
literatur-literatur yang membahas tentang filsafat. Kedua, literatur-literatur
yang membahas tentang kurikulum pendidikan. Ketiga, literatur-literatur
yang mengakaji tentang psikologi pendidikan yang berkaitan dengan prilaku.
3.
Obyek Penelitian
Penelitian
dilakukan di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta (MP UIN Jakarta), yang mempunyai
jenjang pendidikan yang berada di bawah pengelolaannya, yaitu MIP UIN Jakarta,
MTsP UIN Jakarta, dan MAP UIN Jakarta. Lokasi ini ditetapkan dengan 3 aalasan. Pertama,
salah satu pilar keunghulan dari madrasah ini adalah unggulan dalam bidang
Akhlakul karimah (Islamic Value and Attitudes), Kedua, lembaga-lembaga
pendidikannya berada di bawah satu kelola, Ketiga, kemungkinan besar
siswa yang lulus ditingkat MI ataupun MTs akan tetap melanjutkan sekolahnya ke
jenjang pendidikan berikutnya di lembaga pendidikan ini juga.
4.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan
data dalam penelitian ini menggunakan 3 teknik, yaitu: wawancara, observasi dan
dokumentasi.
5.
Tehnik Analisis Data
Semua data
mengenai pelaksanaan sistem pendidikan akhlak yang ditemukan di lokasi
penelitian Mutidisipliner pendidikan, yaitu pendekatan Filsafat, ilmu
pendidikan dan psikologi pendidikan, yang hasilnya disimpulkan dengan
menggunakan teknik analisis induktif.
6.
Teknik Penulisan
Adapun teknik
penulisann yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskritif analisis
dan metode komparatif teoritis praktis.
BAB II PENDIDIKAN AKHLAK
A.
Akhlak, Etika,
Moral, Adab, dan Karakter
Pendidikan
akhlak sebagaimana dirumuskan oleh Ibnu Miskawaih dan dikutip oleh Abudin Nata,
merupakan upaya ke arrah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara
spontan lahirnya perbuaatan-perbuatan yang bernilai baik dari seseorang. Sedangkan
etika yang telah dikemukakan oleh Immanuel kant dan Ahmad Amin, adalah konsep
dan keriteria tidakan manusia indivudual dan sosial, yang mencakup segala yang
timbul dari orang yang melakukan sesuatu dengan ikhtiar dan sengaja, dan pada
waktu melakukannya ia mengetahui apa yang dilakukannya. Adapun moral lebih
cenderrung pada penyampaian nilai-nilai benar dan salah. Mengenai adab, merujuk
dari pendapat imam al-Ghazali, merupakan
cabang dari akhlak, tataran epistimelogis dari pembahasan tentang akhlak, karena
menjawab tentang bagaimana akhlak itu dilaksanakan. Dan mengenai istilah
karakter adalah upaya untuk membimbing perilaku manusia menuju standar-standar
baku tentang sifat-sifat baik.
Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa dalam kajian ini penulis memandang istilah akhlak, etika,
dan moral hakikatnya mempunyai maksud yang sama, yaitu menunjuk kepada baik
buruknya perilaku manusia terhadap sesuatu. Sedangkan istilah adab sebagai
salah satu bagian dari akhlak. Adapun istilah karakter didefinnisikan sebagai
peroses akhir dari pendidikan akhlak,
sehigga hal ini menjadikan sebagai ciri khas dari kepribadian seseorang.
Jadi pembahasan akhlak pada penelitian ini menunjukkan tentang segala perilaku
yang baik ataupun buruk dari manusia terhaadap sesuatu yang bersifat riil
ataupun yang abstrak berdasarkan size agama yang teknisnya dijabarkan
melalui penalaran akal dan pertimbangan sosial budaya.
B.
Konsep
Pendidikan Akhlak
1.
Hakikat
Pendidikan Akhlak
Dalam KIPI ke-1
di Makkah tahun 1977 disebutkan bahwa pendidikan mencakup 3 pengertian, yaitu ta’lim
(pengajaran yang bersifat penyampaian pengertian, knowledg dan skill),
ta’dib (meembimbing kearah pengenalan dan pengakuan atau ilmu,
pengajaran dan pengasuhan) dan tarbiyah (mencakup segala aspek-aspek
pendidikan). Dari uraian tersebut dapat memperjelas bahwa pendidikan akhlak
pada hakikatnya merupakan sesuatuu proses penyampaian, pembimbingan, dan
pemeliharaan mengenai segala perbuatan baik ataupun buruk yang didasarkan pada
ukuran agama yang teknisnya dijabarkan melalui penalaran akal atau etika dan
pertimbangan sosial budaya atau moral.
2.
Model
Pendidikan Akhlak
Secara garis
besar adda 3 aliran pemikiran akhlak yang berkembang hingga saat ini, yaitu
aliran rasional, aliran religius atau intiuitis, dan aliran elektik. Hal ini
dikemukakan oleh pendapat kedua ahli yakni Amin Abdullah dan Ahmad Mahmudi
Shubhi. Dari ketiga aliran ini masing-masing mempunyai konsep pendidikan akhlak
tersendiri, sehingga hal ini memunculkan 3 model pendidikan akhlak yang
perbedaannya sangat terlihat pada pendekatan dan metode yang digunakan. Dan berdasarkan
uraian tentang pendekatan dan metode yang digunakan dalam konsep pendidikan
akhlak rasional yang di ungkapkan oleh para ahli seperti: Ahmad Amin Larry P.
Nucci, Narcia Narvaez, James Arthur, Thomas Rusnak kemudian dikembangkan oleh
Thommas Lickona, Victor A. Battistich, Carolyn Hildebran dan Bettty Zan. Mereka
mengungkapkan melalui versi masing-masing, namun memiliki maksud yang sama,
yang secara ringkas dapat disimpulkan bahwa pendidikan akhlak rasional mengacu
kepada pembentukan karakter moral dan karakter kinerja. Adapun secara garis
besarnya ada 3 yaitu: pendekatan yang berpusat pada guru, pendekatan yang
berpusat pada siswa dan pedekatan yang menyusaikan dengan karakteristik dari pendekatan
yang digunakan.
Dalam model
pendidikan akhlak religius, Imam al-Ghazali menguraikan bahwa ada 3 pendidikan
yang bisa diterapkan untuk menyeimbangi daya rasional, kesempurnaan hikmah dan
daya syahwat agar tunduk pada akal dan agama. 1) Melalui pendekatan kebiasaan, 2)
Pendekatan melalui pergaulan dengan orang yang berakhlak mulia, 3) Pendekatan
melalui pendidikan. Al-Ghazali juga menggungkapkan ada 2 metode yang dapat
digunakan untuk mengubah perangai manusia sehingga melahirkan akhlak yang baik.
1) Metode mujahadah (pensucian bathin), 2) Metode riyadah (disiplin
diri). Sedangkan model pendidikan elektrik, dikutip dari Ibn Miskawaih bahwa
ada 2 pendekatan dalam membenuk akhlak anak yaitu: pendekatan kognitif dan
pendekatan praktis.
3.
Ruang Lingkup
Pendidikan Akhlak
Secara umum
pendidikan akhlak memuat 2 bagian yaitu: Akhlak kepada Allah SWT dan akhlak
kepada antar sesama. Aufklarungnya, pendidikan akhlak sederhananya mencakup 5
aspek yaitu: aspek kehendak (willingness), aspek kata hati (conscience),
aspek nilai (value), aspek sikap (attitude), dan aspek perilaku
akhlak (moral behavior).
4.
Tujuan,
Manfaat, dan Fungsi Pendidikan Akhlak
Dari Amr Khaled
dan Ahmad Amin , mengemukakan tujuan mempelajari akhlak adalah untuk menetapkan
perbuatan yang baik dan buruk, untuk diamalkan sehingga membentuk moral yang
baik dan tingkah laku yang mulia serta beradab. Sedangkan mamfaatnya dapat
membersihkan qalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga
dapat menuntun kepada kebaikan.
5.
Tahapan
Pendidikan Akhlak
Adapun tahapan
tersebut setelah menyimpulkan dari pendapatnya Ibn Miskawaih dan ahli
pendidikan barat antara lain: Tahap ta’lim/learning to knowàta’dib/learning
to do + learning to life togetheràtarbiyyah/learning
to be.
C.
Distingsi
tentang Pentingya Pendidikan Akhlak
Berbicara
kedistingsian, dari pemikir kalangan pendidikan
Islam maupun barat, secara garis besar menggambarkan 2 kelompok
pendirian. Kelompok pertama beranggapan bahwa pendidikan akhlak
mempunyai kedudukan yang sangat penting dengan berlandaskan pada pemikiran
filsafat tentang kemanusiaan dan pendidikan. Kelompok kedua, pendidikan
akhlak tidak memiliki kedudukan penting dalam pendidikan dan hanya menjadi
salah satu sub pendidikan yang kurang diperhitungkan yang bisa saja tidak
dimuatt dalam penyelenggaraan proses pendidikan. Hal ini berlandaskam pada
realitas tentang kebutuhan kehidupan manusia ssekarang inni yang lebih
berorientasi kepada pemenuhan ekonomi serta penguasaan IPTEK.
BAB III
KELEMBAGAAN MADRASAH PEMBANGUNAN UIN JAKARTA BERORIENTASI AKHLAK MULIA
A. Profil Kelembagaan
MP UIN Jakarta
didirikan berdasarkan adanya keinginan dari tokoh-tokoh di Departemen Agama dan
IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta akan adanya pendidikan Islam yang representif.
Pada tahun 1972, pembentukan panitia pembangunan yang dibentuk oleh Rektor IAIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. H.M Toha Yahya Omar (alm), bulan Juni 1972
bertepatan dengan Lustrum III IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dimulai
pembangunan gedungdengan peletakan batu pertama oleh Menteri Agama RI pada masa
itu, yaitu Prof.H.A Mukti Ali dan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah. Tanggal 17
November 1973, serahterima madrasah dari pimpinan bagian proek pembinaan
bantuan untuk madrasah swasta Pemda DKI Jakarta kepada IAIN Syarif Hidayatullah.
Tahun 1974, MP IAIN
Jakarta membuka tingkat Ibtidaiyah dan permulaan hari belajarnya dimulai pada
tanggal 7 Januari 1974, sehingga pada tanggal inilah ditetapkan sebagai “Hari
Kelahiran” Madrasah Pembangunan. Pada awal tahun 1977, MP IAIN Jakarta membuka
tingkat Tsanawiyah. Bulan Juli 1991, dibuka kelas jauh tingkat Ibtidaiyah di
Pamulang, bekerja sama dengan Yayasan al-Hidayah sebagai penyedia lahan. Sesuai
keputusan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sejak awal September 19774
pembinaan MP IAIN Jakarta dilaksanakan oleh Tim Pembinaan yang dipimpin oleh
Dekan Fakultas Tarbiyah. Dengan tugasnya, menyiapkan MP IAIN Syarif
Hidayatullah Jakarta sebagai ‘Madrasah
Laboratorium’ Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pada tahun
1978, MP UIN IAIN Jakarta ditetapkan sebagai Pilot Proyek Percontohan oleh
Departemen Agama RI melalui SK Dirjen Bimas Islam Depag RI No: Kep/D/03/1978.
Mulai tahun 1988, berdasarkan SK Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta No: 06
Tahun 2008, wewenang pengelolaan dan pembinaan MP IAIN Syarif Hidayatullah
Jakarta dilimpahkan kepada Yayasan Syarif Hidayatullah Jakarta. Tahun 1991/1992
MP IAIN Jakarta membuka tingkat Aliyah dan pada tahun 1995/1996 MAP menerima
pendaftaran siswa baru lagi.
Seiring dengan
perubahan IAIN menjadi UIN, sejak tahun 2002 MP IAIN Jakarta mengikuti
perubahan nama menjadi MP UIN Syarif Hidayatullah. Tahun pelajaran 2006/2007,
atas dorongan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan banyaknya permintaan
masyarakat. Akhir tahun 2009, MAP telah diakreditasi dengan hasil grade “A”.
Tahun 2008 MIP dan MTsP ditetapkan sebagai Madrasah Standar Nasional oleh
Kanwil Depag Provinsi DKI Jakarta dengan No: Kw.09.4/HK.005/2081/2008 MP UIN
Syarif Hidayatullah statusnya adalah swasta.
B.
Proyeksi Visi Keunggulan Akhlak
Mulia
Visi MP UIN Jakarta “Menjadikan MP UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta sebagai lembaga pendidikan dasar dan menengah terdepan dalam pembinaan
keislaman, keilmuandan keindonesian, dengan mengapresiasikan potensi-potensi
anak serta perkembangan era globalisasi dan perkembangan aman”. Jika
dikaitkkan dengan pendidikan akhlak maka seorang ahli pendidikan Isjoni (Universitas
Riau) menyatakan bahwa cara yang tepat untuk menanamkan sesuatu yang dianggap
penting dan berarti kepada siswa adalah dengan memasukkan hal yang penting dan
berarti tersebut ke dalam proyeksi suatu visi keunggulan.
Dalam
menetapkan visi suatu lembaga pendidikan banyak kerriteria yang harus
diperhatian, sebagai mana yang dipaparkan oleh Abdul Mukhyi, Barry B.
Gallagher, John Lawler dan Hiryanto. Mereka memaparkan, visi yang baik dan
efektif dari suatu lembaga pendidikan atau sekolah karakteristiknya adalah harus
dapat dibayangkan (imagible), menarik (desirable), realistis ( an
dapat dicapai (feasible), jelas (focused), aspiratif dan
responsif terhadap lingkungan (flexibel), mudah dipahami (communicable),
singkat (succint), menggugah emosi positif (meaningful), ambisius
(ambitious), sesuai (apriopriate), futuristik (futuristic),
idealistis (idealistic), cukup besar untuk berkembang menjadi (big enough
to grow into), khas/unik (unique), spesifik (specific),
terukur (measurable) dam mempunyai target waktu yang jelas (timely).
C.
Proyeksi Misi Keunggulan Akhlak
Mulia
Di MP UIN
Jakarta, ada 5 misi yang dijalankan dalam rangka mewujudkan visinya yang ingin
menjadi lembaga pendidikan yang unggul dalam bidang akhlak. Pertama,
menyelenggarakan pendidikan yang akan melahirkan lulusan yang beriman dan
bertakwa serta memiliki kemampuan kompetitif dan keunggulan komparatif. Kedua,
melakukan inovasi kurikulum dengan aksentuasi pada pembinaan keislaman serta
apresiatifnterhadap kecenderungan globalisasi dengan tetap berpijak pada
kepribadian Indonesia. Ketiga, melakukan pembinaan tenaga pendidik
sebagai pendidik perofesional yang menguasai aspek keilmuan, keterampilan
mengajar, kepribaddian pedagogis serta komunikasi global yang dijiwai akhlak
mulia. Keempat, melakukan pembinaan tenaga kependidikan yang
profesional, yang menguaasai bidang ilmu yang mendukung tugasnya, etos kerja
yang tinggi, serta kepribadian yang islami. Kelima, melakukan pembinaan
kemandirian dan teamwork melalui aktifitas belajar baik intra maupun
ekstrakurikuler.
Untuk menyusun
pernyataan misi seperti yang telah disebutkan diatas maka berdasarkan pendapat
Emil Angelica, ada 7 tahapan yang harus dilakukan antara lain: Pertama,
memilih tim perumus pernyataan misi biasanya yang dipilih adalah yang sudah
berpengalaman dan ikut bertanggung jawab dalam perencanaan sekolah. Kedua,
mengklarifikasi nilai—nilai inti, pimpinan mengidentifikasi
pernyataan-pernyataan perioritas yang diyakini merrupakan dasar cetakan
bangunan kelembagaan atau sekolah. Ketiga, meninjau setrategi yang
mendasari kelembagaan atau sekolah,
terutama meninjau setrategi yang digunakan untuk mencapai misi. Keempat,
mengevaluasi perrnyataan misi, dalam hal ini tim melakukan peninjauan dan
kritik terhadap misi-misi tersebut sebagai dasar untuk menulis kembali atau
menentukan misi-misi yang baru. Kelima, membuat rancangan perencanaan
misi. Keenam, mengedarkan pernyataan misi untuk meninjau dan memodifikasi,
rancangan pernyataan misi disirkulasikan kepada para stake holder kunci
untuk mendapatkan kritik dan saran, pada
tahap akhir ini tim merecall pernyataan misi yang telah ditulis kemudian menyerahkannya
kepada sekolah untuk dijadikan sebagai misi kelembagaan atau sekolah.
D. Proyeksi Tujuan dan Sasaran Keunggulan Keunggulan Akhlak Mulia
Adapun menurut
pandangan pemikir dapat disimpulkan bahwa pendidikan akhlak bertujuan untuk
membentuk manusia yang bermoral baik dan bertingkah laku mulia serta beradab.
Di MP UIN Jakarta, telah dikemukakan sebelumnya bahwa lembaga pendidikan ini
memvisikan seolahnya menjadi sekolah yanng unggul dalam akhlakul karimah, maka
sekolah ini mempunyai tujuan dan sasaran yang jelas mengenai pendidikan akhlak
yang diselenggarakannya, yaitu pada dasarnya untuk melahirkan siswa-siswa
lulusan yang berakhlak mulia. Secara rincii ada 7 tujuan dan sasaran pendidikan
akhllak di MP UIN Jakarta.
Pertama, mewujudkan
pendidikan yang dapat melahirkan lulusan beriman dan bertakwa dengan kemampuan
kompetitif serta memiliki keunggulan komparatif. Sasaran dari tujuan ini adalah
terbentuknya lulusan yang senantiasa taat kepada Allah dan rasul-Nya, hormat
dan toleran antar sesama, memiliki pengetahuan yang luas sehingga berkompetensi
dalam bersaing tinggi. Kedua, terwujudnya kurikulum yang memiliki
kekuatan pada pmbinaan keislaman, sains dan teknologi serta apresiatif terhadap
kecendrungan globalisasi dengan tetap berpijak pada kepribadiaan Indonesia dan
kompetensi anak. Sasarannya,
terimplementasinya pembiasaan kehidupan beragama yang dilakukan melalui
kegiatan habitual kurikulum dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, tersedianya
enaga pendidik yang profesional. Sasaran adalah meningkatkan
profesionalismetenaga didik yang memiliki dedikasi dan loyalitas yang tinggi
terhadap pengembanganpendidikan. Keempat, tersedianya tenaga
kependidikanprofesional dalam melaksanakan tugasnya didukung oleh ilmu
pengetahuan yang relevan, sasarannya adalah meningkatkankepropesionnalan tenaga
pendidikan yang memiliki kemauan yang tinggi untuk meningkatkan pengetahuan
sesuai dengan bidang pekerjaan. Kelima, tersedianya sarana prasarana dan
fasilitass sumber belajar. Sasarannya adalah peningkatan kebersihan ruang kelas
untuk menunjang kelancaran dan kenyamanan proses belajar mengajar. Keenam,
terwujudnya siswa yang memiliki keseimbangan antara kekuatan jasmani dan rohani serta kepekaan dan kepedulian sosial.
Sasarannya adalah peningkatan program penyelenggaraan kegiatan-kegiatan olah
raga dan pembinaan mental untuk mengasah ketajaman raga dan jiwa. Dan ketujuh,
terwujudnya siswa yang mandiri dan mampu melakukan team work melalui
aktivitas belajar intra maupun ekstrakuriuler. Dengan sasarannya adalah
memaksimalkan kegiatan-kegiatan yang bertujuan melatih siswa untuk bekerja
dalam team work. Semua tujuan tersebut menyoroti kegiatan intra dan ekstra
kurikuler MP UIN Jakarta.
Dari kedua
jenis kegiatan tersebut sasaran akhlak lebih difokuskan ke pembentukan sikaf
akhlak siswa terhadap tugas dan kewajibbannya sebagai siswa MP UIN Jakarta. Dengan demikian dari
semua tujuan dan sasaran yang inin diwujudkan oleh MP UIN Jakarta tersebut
jelas terlihat bahwa semuanya diorentasikan baik secara langsung maupun tidak
langsung kepada pendidikan akhlak baik itu kepada para siswa maupun kepada
seluruh tenaga pendidik dan kependidikannya. Namun lebih lanjutnya MP UIN
Jakarta ini secara umum memiliki 2 tujuan yakni, tujuan khusus dan tujuan umum.
Tujuan yang diberlakukan disetiap jenjang dan tujuan yang dicapai oleh
keseluruhan lembaga pendidikan secara umum.
E.
Program dan Kegiatan Berorientasi
Keunggulan Akhlak Mulia
Di MP UIN
Jakarta jika ditinjau dari segi waktu maka da 2 program jangka waktu, yaitu
program jangka pendek dan jangka
panjang. Program jangka pendek waktunya 4 tahun mulai tahun 2011, berarti
berakhir pada tahun 2014, sedangkan jangka
panjang waktunya 20 tahun yang berakhir pada tahun 2030. Berdasarkan itu maka ada 5 program jangka
pendek yang dijalankan MP UI Jakarta dalam rangka untuk mencapai tujuan jangka
panjangnya di tahun 2030 yang akan
datang yaitu: Program tahun 2011-2014/tahap I, ditargetkan untuk
mewujudkan MP UIN Jakarta sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai daya saing
tinggi di tingkat provinsi DKI Jakarta baik itu dibiddang sains, bahasa, maupun
dibidang akhlakul karimahnya. Program tahun 2015-2018/tahap II, terwujudnya
institusi MP UIN Jakarta yang mempunyai daya saing tinggi ditingkat provinsi
se-Jawa (tahap lanjutan dari tahap I). Program tahun 2019—2022/tahap III, untuk
mewujudkan visi MP UIN Jakarta sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai daya
saing tinggi di tingkat Nasional. Program tahun 2023-2026/tahap IV, menjadi
lembaga pendidikan Indonesia yang mampu bersaing di tingkat Regional Asia
Tenggara (ASEAN). Program tahun 2027-20300/tahap V, ingin membuktikan dirinya
sebagai lembaga pendidikan Indonesia yang mampu bersaing di tingkat dunia atau
tingkat global.
BAB IV
KURIKULUM MADRASAH PEMBANGUNAN UIN JAKARTA BERORIENTASI AKHLAK MULIA
A. Seluk Beluk Kurikulum MP UIN Jakarta
Kurikulum yang
dikembang oleh MP UIN Jakarta adalah KTSP dengan beberapa penyesuaian yang
didasarkan kepada kekhasan kondisi, dan potensi seluruh stakehoders-nya,
sehingga menjadi sebuah kurikulum yang terbangun secara efektif. Hal-hal yang
menjadi pertimbangan MP UIN Jakarta dalam menyusun kurikulumnya tersebut jika
dikaitkan dengan pendidikan berorientasi nilai (akhlak), maka ada satu hal yang
harus diperhatikan, yaitu mengenai perkembangan yang ideal dari kepribadian
siswa berdasarkan jenjang dan tingkat pendidikannya, hal ini idealnya juga
harus dimuat dalam kurikulum. Berarti setiap jenjang pendidikan yang berada
dalam lingkungan MP UIN Jakarta (MIP, MTsP, dan MAP) kurikulumnya harus
mencantumkan dengan jelas tingkat perkembangan akhlak yang ideal untuk para
siswanya sesuai dengan tingkatan kelas dan jenjang pendidikan yang diikutinya.
B.
Pengembangan Struktur Kurikulum
Berorientasi Keunggulan Akhlak Mulia
Pengembangan
struktur kurikulum dalam rangka melaksanakan pendidikan berorientasi akhlak MP
UIN Jakarta dilakukan 3 cara, yaittu:
1.
Integrassi Struktur Kurikulum
MP UINN Jakarta
dalam pengembangan kurikulumnya telah mengkobinasikan dan memadukan 2 jenis
struktur kurikulum tersebut, sehingga diharapkan siswa MP UIN Jakarta akan
mendapatkan porsi pendidikan agama seperti siswa madarasah (Kemenag) dan
mendapatkan pelajaran umum seperti sekolah umum (Kemdiknas). Dengan penerapan kedua
kurikulum dikombinasi itu diharapkan para siswa MP UIN Jakarta akan mendapatkan
pengetahuan yang berimbang.
2.
Modifikasi Mata Pelajaran
Beranjak dari
teori yang dikemukakan oleh Marwan Abuhewij, ada 3 aspek yang menjadi pertimbangan
utama MP UIN Jakarta dalam mengelompokkan berbagai mata pelajaran. Pertama,
psikologi belajar dalam aplikasi pada mata pelajaran. Kedua, estimasi
kemajuan. Dan ketiga, perlindungan peribadi dari inkonsistensi. Adapun
tujuan pengelompokan mata pelajaran tersebut, salah satu tujuam utamanya untuk
menghinndari adanya pengulangan materi yang sama dalam satu pelajaran pada mata
pelajaran yang lain sehingga dapat memaksimalkan keterbatasan waktu yang
tersedia untuk dapat menyampaikan seluruh materi pelajaran yang sudah
ditentukan dalam satu kurun waktu yang udah ditetapkan (1 catur wulan, 1
semester, atau 1 tahun pelajaran). Dengan teknis ini juga bisa membuat
penyampaian nilai-nilai akhlak kepada siswa menjadi lebih efektif, karena dalam
penyampaiannya tidak tidak hanya disampaikan dalam pembelajaran pendidikan
akhlak saja, tetapi juga disampaikan dalam pembelajaran mata pelajaran lain
yang muatannya bisa dikaitkan.
3.
Modifikasi Alokasi Waktu
Pembelajaran
MP UIN Jakarta
menerapkan dan memodifikasi kurikulum yang berbeda strukturnya yaitu kurikulum
Kemenag RI dan Kemdiknas RI. Hal tersebut secara jelas dilihat dari
penerapannya, di MIP dan MTsP UIN Jakarta, mata pelajaran Akidah Akhlak dialokasikan
waktunya hanya 1 jam pembelajaran perminggunya, namun dengan adanya kegiatan HC
(Habitual Curriculum) yang dilaksanakan 3x seminggu dengan alokasi
waktunya 1 jam pembelajaran berarti 3 jam pembelajaran perminggunya, yang
didalamnya terdapat kegiatan tausiyah dari guru yang muatannya berisi
tentang nilai-nilai akhlak maka jika ditotalkan jam pembelajaran akidah akhlak
tidak lagi 1 jam pembelajaran/minggu tetapi relatifnya menjadi 4 jam
pembelajaran/minggu.
C.
Pengembangan Muatan Kurikulum
Berorientasi khlak Mulia
Pengembangan muatan
kurikulum untuk mengoptimalkan pendidikan akhlak di MP UIN Jakrta dilakukan
dengan 3 cara, antara lain:
1.
Kurikulum Adopsi
Di MP UIN
Jakarta teknik pengembangan kurikulum dengan melakukan pengadopsian kurikulum
luar yang kemudian mengadaptasi atau menginovasinya dengan kurikulum MP UIN
Jakarta. Penggunaan kuriulum luar ini jika diterapkan untuk pendidikan akhlak
juga sangat memungkinkan untuk dilaksanakan apabila nantinya ada suatau kajian
yang dapat membuktikan bahwa ada sebuah kurikulum dari sekolah tertentu diluar
sana yang telah berhasil secara efektif dalam mendidik akhlak siswa-siswinya.
2.
Kurikulum Terpadu (terintegritas)
Kombinasi
kurikulum yang dilakukan MP UIN Jakarta merupakan salah satu dasar pertimbangan
mengenai latar belakang dan kebutuhan siswa, juga adanya aspirasi dari wali
murid. Ini membuktikan bahwa siswa merupakan faktor yang sangat ppenting dalam
pengembangan kurikulum, karena dari masuk ke lembaga pendidikan setiap siswa
memiliki pengalaman dan persfektif mereka sebelumnya, juga kebutuhan dan
aspirasi mereka, yang jika dikombinasikan akan mempengaruhi kurikulum.
3.
Memodifikasi muatan mata pelajaran
Modifikasi
muatan mata pelajaran ini merupakan kelanjutan dari modifikasi mata pelajaran
terutama untuk pendidikan akhlak, yang hal tersebut dapat membuat pemamfaatan alokasi
waktu yang tersedia lebih efisiensi dan lokasi waktu yang dialihkan dapat
dipergunakan untuk lebih mengoptimalkan pada aspek pembentukan akhlak.
BAB V
PENGEMBANGAN PROGRAM DAN KEGIATAN BERORIENTASI AKHLAK MULIA DI MADRASAH
PEMBANGUNAN UIN JAKARTA
A. Program Berorientasi Keunggulan Akhlak Mulia
MP UIN Jakarta mengadakan
berbagai program yang khussus untuk menunjang tercapainya visi dan misi, dengan
menjadi sebuah lembaga yang unggul dalam akhlak. Program-program khusus
tersebut adalah 1) Program Core Values
(CV), bertujuan untuk menanamkan dan membiasakan penerapan nilai-nilai
universal dan nilai-nilai multikultural dalam diri siswa, selain itu berfungsi
sebagai salah satu instrumen pendukung untuk membantu tercapainya tujuan-tujuan
pada pelajaran pendidikan akhlak. 2) Program tabungan amal saleh (TAS),
bertujuan menghimpun dana infak dan sedekah dari uang jajannya, dan esensinya
kegiatan sedekah dan infak tersebut terdapat nilai-nilai akhlak yang menonjol
yaitu nilai keadilan, persaudaraan, saling mencintai etc. Sehingga jelas berkontribusi
terhadap pendidikan akhlak kepada para siswa. 3) Habitual Curriculum
(HC), bertujuan untuk mentrasformasikan tindakan akhlak dari level prilaku
kebiasaan dan rutin pada usia anak ke tahap kedewasaan dalam melakukan aksi
secara reflektif, yang membutuhkan pendekatan sistematis dan berkelanjutan
sepanjang tahun sekolah dan sepanjang jenjang pendidikan. 4) Reading habit
(RH), menanamkan sikap kebiasaan suka membaca pada diri siswa yang diharapkan
akan menumbuhkan sikap rajin dalam kepribadiannya.
B.
Pendidikan Keunggulan Akhlak Mulia
dalam Kegiatan Kurikuler
Secara umum ada
4 bentuk kegiatan kokurikuler yang di laksanakan di MP UIN Jakarta yaitu bentuk
penugasan, pekerjaan rumah, pembelajaran tambahan (les), dann bentuk Bina Baca
al-Qur’an (BBQ). Adapun tujuan dari kegiatan tersebut untuk membuat siswa dapat
lebih mendalami dan memahami apa yang telah dipelajari dalam kegiatan
intrakurikuler.
C.
Pendidikan Keunggulan Akhlak Mulia
dalam Kegiatan Ekstra Kurikuler
Kegiatan MP UIN
Jakarta meliputi 4 jenis kegiatan yaitu: kegiatan pengembangan diri yang
mencakup pengembangan di bidang akademik (Peer Mediation-mediasi teman
sebaya, English Club, pramuka, kesehatan, MIPA, Jurnalistik, Student
Company-SC, paskibra dan kunjungan ke perpustakaan), kesenian (marawis, tilawatil
Qur’an, tahfīz al-Qur’an,
marching band, seni tari, seni lukis, vocal group, menggambar komik
“Manga” etc), olah raga (basket, sepak
bola futsal, karate, dan tenis meja). Dan 2 kegiatan ekstrakurikuler lainnya
yaitu bakti sosial dan kegiatan field trip.
D. Progrevitas Akhlak siswa
Progresivitas akhlak siswasiswa MP UIN Jakarta diulas pada 2 aspek
antara lain:
1.
Progresivitas akhlak kepada Allah
swt
Perkembangan akhlak siswa di MP UIN Jakarta tentang hal ini,
progresnya tergolong berjalan cukup lambat. Jika dilihat dari indikasi
bagaimana siswa melaksanakan rutinitas ibadah di sekolah. Hal yang
mempengaruhinya adalah pendidikan diluar sekolah yang kurang perhatiaan. Jadi
untuk mendukung keberhasilan perlu adanya pendidikan agama dalam keluarga.
2.
Progresivitas akhlak kepada sesama makhluk
Akhlak siswa MP UIN Jakarta terhadap sesama makhluk progresnya sangat
signifiikan. Kebiasaan 3S yaitu salim, senyum, salam yang dilatih dan
dibiasakan oleh sekolah.
BAB VI PENUTUP
Kesimpulan
Kajian ini menunjukkan 4 hal untuk dapat mengoptimalkan pendidikan
akhlak mulia bagi para siswanya, antara lain: 1) Dengan menjadikan sebagai
proyeksi dri salah satu visi keunggulan sekolah. 2) Melakukan pengembangan
terhadap kurikulum sekolah. 3) Mengadakan 4 program khusus yang sangat
menunjang terhadap keberhasilan pendidikan akhlak mulia yaitu program CV (Core
Value), HC (Habitual Curriculum),TAS (Tabungan Amal Saleh),
dan RH (Reading Habit). 4) Memperbanyak kegiatan yang bersifat
kokurikuler dan ekstrakurikuler yang dapat menunjang secara langsunng maupun
tidak langsung terhadap tumbuh dan berkembangnya sikap-sikap positif dalam diri siswa, baik berupa kegiatan di
bidang akademik, olah raga, maupun seni.
No comments:
Post a Comment