Thursday, December 26, 2019

PENDIDIKAN BERORIENTASI AKHLAK MULIA (Studi Kasus di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta)


RESUME TESIS

PENDIDIKAN BERORIENTASI AKHLAK MULIA
(Studi Kasus di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta)


BAB I PENDAHULUAN
              A.     Latar Belakang
Kemerosotan akhlak yang terjadi pada bangsa Indonesia kini mengundang perhatian. Hal ini disebabkan gagalnya dunia pendidikan dalam mendidik akhlak anak  bangsanya. Dan kegagalan tersebut disinyalir karena beberapa faktor utama, yakni: minimnya jam pengajaran dan kurang maksimalnya pendidikan akhlak di sekolah. Keadaan ini dipertegaskan oleh beberapa pakar, seperti Edward Gibbon dan Louis Kraar (1988), yang menyatakan bahwa kemerosotan moral merupakan penyebab utama hancunya bangsa dan hal inilah yang sedang terjadi di Indonesia. Dengan ditandai varian deretan kasus korupsi, mafia hukum, mafia pajak, narkoba, asusila, dan video porno. Sehingga dari kejadian tersebut membuat penddikan di Indonesia menjadi back yard dari bagian Asia Timur. Kalau ditilik memang diakui Indonesia cukup berhasil dalam mendidik anak bangsanya, namun yang memayoritas dari kenampakannya adalah cerdas secara harfiah sedangkan pendidikan moral dan akhlak yang menyangkut kepada pendidikan agama masih minim.
Dan ini dapat dibuktikan pula dari peneliti-peneliti yang telah meneliti hal tersebut. Seperti Anton Widyanto (di wilayah Bireuen dan Banda Aceh) dan Jajat Burhanuddin dkk, menunjukkan bahwa salah satu kondisi yang menyebabkan kemerosotan moral di sekolah adalah akhlak siswa, minimnya pendidikan agama. Untuk itu Komaruddin Hiayat menghimbau agar pendidikan bangsa harus dibangun dan kesadarannya pun harus dihidupkan kembali. Menurutnya masalah-masalh lain seperti kejatuhan politik ataupun kemerosotan ekonomi, itu hanyalah kehilangan sesuatu, tapi kalau masalah kemerosotan moral, ini akan berakibat suatu bangsa akan kehilangan segalanya.
Dalam konteks Indonesia, Muhammad Ali mengemukakan faktor yang menyebabkan gagalnya pendidikan akkhak atau moral adalah mengenai masalah pelaksanaan PAI di sekolah, khususnya khisshah agama di sekolah umum. Dan mengenai masalah pelaksanaan PAI terutama mengenai minimnya alokasi waktu pembelajaran untuk pelajaran agama di sekolah, untuk mengatasi permasalahan tersebut telah menjamur di lembaga-lembaga pendidikan, diantara prosesi yang dilakukannya yakni: para guru diberikan penataran dan lokakarya, dalam kegiatan tersebut mereka mengusulkan supaya adanya penambahan khisshah keagamaan pada kurikulum Nasional serta penambahan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler keagamaan yang bersifat formal. Meski segala upaya dilakukan untuk mencari solusi, namun sepertinya kurang optimal, karena faktanya perilaku amoral remaja semakin meningkat. Melihat realita tersebut mengundang keseriusan pemerintah dalam mencetak output bangsa yang bermoral dengan akhlak keagamisan. Melalui ini Kemendinas M. Nuh (saat mengikuti diskusi panel di Bogor,2011), ia mencoba untuk mengembangkan Kurikulum Berbasis Akhlak Mulia, yaitu kurikulum yang berupaya menanamkan nilai-nilai akhlak atau moral melalui berbagai mata pelajaran yang diajarkan kepada para peserta didik (memasukkan nilai-nilai akhlak/moral ke dalam semua mata pelajaran yang diajarkan).
Berkenaan dengan pendidikan akhlak, al-Abrashi, Abbas Mahjub, Gary J. Quinn (statement : akhlak dipersepsikan sebagai moral), Larry P. Nucci dan Darcia Narvaez (Ed), dan Gawande mengatakan hal yang sama akan pentingnya pembentukan dan pembinaan akhlak/moral, sekolah sebagai komunitas moral haruslah menjadikan komunitas yang peduli akan terwujudnya cita-cita moral, sehingga pengajaran nilai-nilai terjalin dengan seluruh iklim di sekolah. Baik itu berdasarkan islam ataupun luar islam, sepakat tentang pentingnya pendidikan akhlak bagi manusia.  Untuk itu penulis berasumsi bahwa upaya pembentukann akhlak siswa dapat dioptimalkan dengan menjadikannya sebagai proyeksi visi keunggulan sekolah melalui pengembangan kurikulum, serta penggadaan berbagai program dan kegiatan yang diorentasikan kepada pembentukan akhlak mulia.
Namun, asumsi tersebut berlainan lintasan dengan pendapat Gabriel Moran, Darleine Leiding dan Graham Haydon mengenai hal tersebut. Mereka beranggapan bahwa: 1) Diantara tujuan-tujuan pendidikan, pendidikan moral hanya menjadi salah satunya saja/ 1 set dari tujuan, 2) Sebagai salah satu pilihan dari berbagai konten/proses dalam totalitas mengajar dan belajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mata pelajaran tertentu ikut berkontribusi terhadap pendidikan moral, tetapi mata pelajaran lainnya tidak. Atau bisa juga kegiatan tertentu di dalam ruang kelas, atau aspek-aspek tertentu dari organisasi sekolah dapat memberikan kontribusi untuk pendidikan moral, sementara lainnya tidak.
Pendidikan yang berorientasi kepada pembentukan akhlak mungkin bukan sesuatu yang baru untuk diteliti. Tapi dengan realitas dari kemerosotan akhlak/moral mengundang peneliti untuk mengkajinya. Untuk melakukan penelitian peneliti mengambil sampel dari 354 sekolah (MI 16 buah, MTS 22 buah, MA 7 buah SD 67 buah, SMP 100 buah, SMA 79 buah, dan SMK 63 buah) yang terdata di Jakarta Selatan, maka hanya Madrasah Pembangunan UIN Jakarta yang memenuhi keriteria sekolah yang penulis tetapkan yaitu: mempunyai komitmen yang kuat terhadap pendidikn akhlak, lembaga pendidikannya berkelanjutan dari tingkat dasar (Ibtidaiyah) ampai tingkat lanjutan (Tsanawiyah dan Aliyah), dan semua sekolah tersebut berada dalam satu lokasi. Madrasah Pembangunan UIN Jakarta ini juga menyelenggarakan pendidikan yang salah satu orientasinya adalah unggul dalam akhlakul karimah. Untuk itu penelitian ini sangat layak untuk dilakukan sehingga dapat nantinya menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah lainnya, dalam rangka untuk meningkatkan kualitas akhlak para siswa.
             B.    Permasalahan
1.    Identifikasi Masalah
Dari uraian latar belakang permasalahan dapat diidentifikasi beberapa masalah yang akan muncul dalam penelitian ini, antara lain: Pertama, tentang Kemerosotan Akhlak Bangsa Indonesia, yang hal ini memunculkan varian persoalan yakni: 1) Sejauhmana kerusakan moral yang terjadi dan di alami oleh bangsa Indonesia saat ini?, 2) Apa yang menyebabkan terjadinya kemerosotan moral bangsa Indonesia?, 3) Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi kemerosotan moral bangsa teersebut?. Kedua, tentang gagalnya pendidiknan Indonesia dala mendidik akhlak anak bangsanya, yang hal ini menimbulkan varian pertanyaan, antara lain: 1) Benarkah dunia pendidikan Indonesia telah gagal mendidik anak bangsanya?, 2) Apa yang menyebabkan pendidikan Indonnesia gagal dalam mendidik akhlak anak bangsanya?, 3) Kebijakan pendidikan seperti apa yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengatasi kegagalan dunia pendidikan Indonesia dalam mendidik akhlak anka bangsanya?, 4) Apa yang harus dilakukan oleh dunia pendidikan Indonesia untuk dapat mengatasi kemerosotan akhlak anak bangsanya?. Ketiga, tentanng kurang maksimalnya pendidikan agama di sekolah yang di dalamnya juga mencakup pendidikan akhlak, yang hal ini memunculkan beberapa pertanyaan, antara lain:  1) Kurikulum yang bagaimana yang dapat mengoptimalkan pembelajaran pendidikan akhlak di sekolah?, 2) Langkah-langkah apa yang dapat dilakukan sekolah untuk dapat mengoptimalkan pendidikan akhlak?, 3) Apa yang dapat dilakukan oleh para pendidik untuk dapat memaksimalkan pembelajarran menggenai pendidikan akhlak?.
2.    Batasan Masalah
Berdasarkan paparan latar belakang dan identifikasi  masalah tersebut, maka permasalahan yang akan di bahas dalam kajian ini adalah mengenai strategi apa yang dapat dilakukan sekolah untuk dapat mengoptomalkan pendidikan akhlak mulia bagi para siswa.
3.    Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi pertanyaan minor dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana rumusan pendidikan akhlak mulia di Madrasah Pengembangan UIN Jakarta, 2) Bagaimana Madrasah Pembangunan UIN Jakarta mengembangkan kurikulumnya untuk mencapai tujuan tersebut?, 3) Adakah program-program khusus yang dilaksanakan untuk menunjang tercapainya tujuan itu, bagaimana pelaksanaan dan kontribusinya terhaddap pendidikan akhlak?, 4) Adakah kegiatan-kegiatan ekstra yang dapat menunjang berhasilnya pendidikan akhlak siswa, lalu bagaimana pelaksanaan dan kontribusi kegiatan eksra tersebut terhadap pendidikan akhlak?.
             C.  Signifikansi Penelitian
Penelitian bertujuan untuk mengungkapkan strategi yang dapat dlakukan untuk dapat mengoptmalkan pelaksanaan pendidikan akhlak di sekolah sehingga penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran akhlak kepada siswa menjadi optimal.
             D. Tinjauan Kepustakaan
Dibawah ini akan di uraikan orisinalitas penelitian terkait dengan penelitian mengenai pendidikan yang berorientasi kepada akhlak, antara lain:
NO
Researchers, Title
Similarities
Differences
1
E.N. Gawande (Value Oriented Eduaton: Vision for Living)
Implementasi dan implikasi dari nilai-nilai pendidikan dalam kurikulum, aturan-aturan untuk para guru dan kegiatan kokurikuler serta nilai moral (akhlak).
Mengkaji dari berbagai aspek: sejarah, kelembagaan, teoritis dan praktis. Sedangkan peneliti hanya membahas dari aspek teoritis dan praktis.
2
Daniel K. Lapsley (Moral Self-Identity as the Aim of Education)
Tujuan pendidikan dan implementasinya dalam penddidikan.
Kajiannya hanya bersifat teoritis, karena tidak menguraikan bagaimana teknis pelaksanaan teori dalam dunia pendidikan. Sedangkan peneliti kajian ditekankan pada sisi praktis dengan mendeskripsikan teknis pelaksanaan dari teori yang telah dikemukakan.
3
Gary James Quinn,  bukunya (Moral Education in America: Its Future in an Age of Personal Autonommy and Multiculturalism)
Konsep moral dalam persfektif Filsafat, agama Kristen, dan Psikologi.
Kajian hanya bersifat teoritis, sedangkan peneliti menekankan pada praktisinnya.
4
Sharron L. McElmeel, bukunya (Character Education: a Book Guide for Teachers, Librarians, and Parents)
Fokus pada kebijjakan dan mengidentifikasii puluhan buu bergambar, novel dan non fiksi terkait dan dapat digunakan sebagai springboard untuk diskusi.
Bahasan lebih mengarah kepada sisi praktis pendidikan karakter, namun hanya mengkaji dari aspek pendekatan dan metode.
5
Doni Koesoema, tulisannya (Pendidikan Karakter)
Kajian menggunakan pendekatan filosofis, pedagogis dan sosiologis, historis dan politik pendidikan. 
Menurut penulis kajiannya lebih bersifat teoritis dan normatif sedangkan penulis menekankan padda aspek teoritisnya.















































    
           F.     Metodologi Penulisan
1.    Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitia yang bersifat kualitatif dan menekankan pada analisis induktif.
2.    Sumber Penelitian
Sumber primer penelitian adalah data-data serta informasi hasil dari observasi dan wawancara, serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan akhlak yang peneliti temukan di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. Sedangkan sumber sekundernya ada 3 jenis, yaitu: Pertama, literatur-literatur yang membahas tentang filsafat. Kedua, literatur-literatur yang membahas tentang kurikulum pendidikan. Ketiga, literatur-literatur yang mengakaji tentang psikologi pendidikan yang berkaitan dengan prilaku.
3.    Obyek Penelitian
Penelitian dilakukan di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta (MP UIN Jakarta), yang mempunyai jenjang pendidikan yang berada di bawah pengelolaannya, yaitu MIP UIN Jakarta, MTsP UIN Jakarta, dan MAP UIN Jakarta. Lokasi ini ditetapkan dengan 3 aalasan. Pertama, salah satu pilar keunghulan dari madrasah ini adalah unggulan dalam bidang Akhlakul karimah (Islamic Value and Attitudes), Kedua, lembaga-lembaga pendidikannya berada di bawah satu kelola, Ketiga, kemungkinan besar siswa yang lulus ditingkat MI ataupun MTs akan tetap melanjutkan sekolahnya ke jenjang pendidikan berikutnya di lembaga pendidikan ini juga.
4.    Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan 3 teknik, yaitu: wawancara, observasi dan dokumentasi.
5.    Tehnik Analisis Data
Semua data mengenai pelaksanaan sistem pendidikan akhlak yang ditemukan di lokasi penelitian Mutidisipliner pendidikan, yaitu pendekatan Filsafat, ilmu pendidikan dan psikologi pendidikan, yang hasilnya disimpulkan dengan menggunakan teknik analisis induktif.
6.    Teknik Penulisan
Adapun teknik penulisann yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskritif analisis dan metode komparatif teoritis praktis.
BAB II PENDIDIKAN AKHLAK
A.     Akhlak, Etika, Moral, Adab, dan Karakter
Pendidikan akhlak sebagaimana dirumuskan oleh Ibnu Miskawaih dan dikutip oleh Abudin Nata, merupakan upaya ke arrah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan lahirnya perbuaatan-perbuatan yang bernilai baik dari seseorang. Sedangkan etika yang telah dikemukakan oleh Immanuel kant dan Ahmad Amin, adalah konsep dan keriteria tidakan manusia indivudual dan sosial, yang mencakup segala yang timbul dari orang yang melakukan sesuatu dengan ikhtiar dan sengaja, dan pada waktu melakukannya ia mengetahui apa yang dilakukannya. Adapun moral lebih cenderrung pada penyampaian nilai-nilai benar dan salah. Mengenai adab, merujuk dari pendapat  imam al-Ghazali, merupakan cabang dari akhlak, tataran epistimelogis dari pembahasan tentang akhlak, karena menjawab tentang bagaimana akhlak itu dilaksanakan. Dan mengenai istilah karakter adalah upaya untuk membimbing perilaku manusia menuju standar-standar baku tentang sifat-sifat baik. 
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam kajian ini penulis memandang istilah akhlak, etika, dan moral hakikatnya mempunyai maksud yang sama, yaitu menunjuk kepada baik buruknya perilaku manusia terhadap sesuatu. Sedangkan istilah adab sebagai salah satu bagian dari akhlak. Adapun istilah karakter didefinnisikan sebagai peroses akhir dari pendidikan akhlak,  sehigga hal ini menjadikan sebagai ciri khas dari kepribadian seseorang. Jadi pembahasan akhlak pada penelitian ini menunjukkan tentang segala perilaku yang baik ataupun buruk dari manusia terhaadap sesuatu yang bersifat riil ataupun yang abstrak berdasarkan size agama yang teknisnya dijabarkan melalui penalaran akal dan pertimbangan sosial budaya.
B.     Konsep Pendidikan Akhlak
1.    Hakikat Pendidikan Akhlak
Dalam KIPI ke-1 di Makkah tahun 1977 disebutkan bahwa pendidikan mencakup 3 pengertian, yaitu ta’lim (pengajaran yang bersifat penyampaian pengertian, knowledg dan skill), ta’dib (meembimbing kearah pengenalan dan pengakuan atau ilmu, pengajaran dan pengasuhan) dan tarbiyah (mencakup segala aspek-aspek pendidikan). Dari uraian tersebut dapat memperjelas bahwa pendidikan akhlak pada hakikatnya merupakan sesuatuu proses penyampaian, pembimbingan, dan pemeliharaan mengenai segala perbuatan baik ataupun buruk yang didasarkan pada ukuran agama yang teknisnya dijabarkan melalui penalaran akal atau etika dan pertimbangan sosial budaya atau moral.
2.    Model Pendidikan Akhlak
Secara garis besar adda 3 aliran pemikiran akhlak yang berkembang hingga saat ini, yaitu aliran rasional, aliran religius atau intiuitis, dan aliran elektik. Hal ini dikemukakan oleh pendapat kedua ahli yakni Amin Abdullah dan Ahmad Mahmudi Shubhi. Dari ketiga aliran ini masing-masing mempunyai konsep pendidikan akhlak tersendiri, sehingga hal ini memunculkan 3 model pendidikan akhlak yang perbedaannya sangat terlihat pada pendekatan dan metode yang digunakan. Dan berdasarkan uraian tentang pendekatan dan metode yang digunakan dalam konsep pendidikan akhlak rasional yang di ungkapkan oleh para ahli seperti: Ahmad Amin Larry P. Nucci, Narcia Narvaez, James Arthur, Thomas Rusnak kemudian dikembangkan oleh Thommas Lickona, Victor A. Battistich, Carolyn Hildebran dan Bettty Zan. Mereka mengungkapkan melalui versi masing-masing, namun memiliki maksud yang sama, yang secara ringkas dapat disimpulkan bahwa pendidikan akhlak rasional mengacu kepada pembentukan karakter moral dan karakter kinerja. Adapun secara garis besarnya ada 3 yaitu: pendekatan yang berpusat pada guru, pendekatan yang berpusat pada siswa dan pedekatan yang menyusaikan dengan karakteristik dari pendekatan yang digunakan.
Dalam model pendidikan akhlak religius, Imam al-Ghazali menguraikan bahwa ada 3 pendidikan yang bisa diterapkan untuk menyeimbangi daya rasional, kesempurnaan hikmah dan daya syahwat agar tunduk pada akal dan agama. 1) Melalui pendekatan kebiasaan, 2) Pendekatan melalui pergaulan dengan orang yang berakhlak mulia, 3) Pendekatan melalui pendidikan. Al-Ghazali juga menggungkapkan ada 2 metode yang dapat digunakan untuk mengubah perangai manusia sehingga melahirkan akhlak yang baik. 1) Metode mujahadah (pensucian bathin), 2) Metode riyadah (disiplin diri). Sedangkan model pendidikan elektrik, dikutip dari Ibn Miskawaih bahwa ada 2 pendekatan dalam membenuk akhlak anak yaitu: pendekatan kognitif dan pendekatan praktis.
3.    Ruang Lingkup Pendidikan Akhlak
Secara umum pendidikan akhlak memuat 2 bagian yaitu: Akhlak kepada Allah SWT dan akhlak kepada antar sesama. Aufklarungnya, pendidikan akhlak sederhananya mencakup 5 aspek yaitu: aspek kehendak (willingness), aspek kata hati (conscience), aspek nilai (value), aspek sikap (attitude), dan aspek perilaku akhlak (moral behavior).
4.    Tujuan, Manfaat, dan Fungsi Pendidikan Akhlak
Dari Amr Khaled dan Ahmad Amin , mengemukakan tujuan mempelajari akhlak adalah untuk menetapkan perbuatan yang baik dan buruk, untuk diamalkan sehingga membentuk moral yang baik dan tingkah laku yang mulia serta beradab. Sedangkan mamfaatnya dapat membersihkan qalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga dapat menuntun kepada kebaikan.
5.    Tahapan Pendidikan Akhlak
Adapun tahapan tersebut setelah menyimpulkan dari pendapatnya Ibn Miskawaih dan ahli pendidikan barat antara lain: Tahap ta’lim/learning to knowàta’dib/learning to do + learning to life togetheràtarbiyyah/learning to be.
             C.   Distingsi tentang Pentingya Pendidikan Akhlak
Berbicara kedistingsian, dari pemikir kalangan pendidikan  Islam maupun barat, secara garis besar menggambarkan 2 kelompok pendirian. Kelompok pertama beranggapan bahwa pendidikan akhlak mempunyai kedudukan yang sangat penting dengan berlandaskan pada pemikiran filsafat tentang kemanusiaan dan pendidikan. Kelompok kedua, pendidikan akhlak tidak memiliki kedudukan penting dalam pendidikan dan hanya menjadi salah satu sub pendidikan yang kurang diperhitungkan yang bisa saja tidak dimuatt dalam penyelenggaraan proses pendidikan. Hal ini berlandaskam pada realitas tentang kebutuhan kehidupan manusia ssekarang inni yang lebih berorientasi kepada pemenuhan ekonomi serta penguasaan IPTEK.

BAB III KELEMBAGAAN MADRASAH PEMBANGUNAN UIN JAKARTA BERORIENTASI AKHLAK MULIA

A.  Profil Kelembagaan
MP UIN Jakarta didirikan berdasarkan adanya keinginan dari tokoh-tokoh di Departemen Agama dan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta akan adanya pendidikan Islam yang representif. Pada tahun 1972, pembentukan panitia pembangunan yang dibentuk oleh Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. H.M Toha Yahya Omar (alm), bulan Juni 1972 bertepatan dengan Lustrum III IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dimulai pembangunan gedungdengan peletakan batu pertama oleh Menteri Agama RI pada masa itu, yaitu Prof.H.A Mukti Ali dan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah. Tanggal 17 November 1973, serahterima madrasah dari pimpinan bagian proek pembinaan bantuan untuk madrasah swasta Pemda DKI Jakarta kepada IAIN Syarif Hidayatullah.
Tahun 1974, MP IAIN Jakarta membuka tingkat Ibtidaiyah dan permulaan hari belajarnya dimulai pada tanggal 7 Januari 1974, sehingga pada tanggal inilah ditetapkan sebagai “Hari Kelahiran” Madrasah Pembangunan. Pada awal tahun 1977, MP IAIN Jakarta membuka tingkat Tsanawiyah. Bulan Juli 1991, dibuka kelas jauh tingkat Ibtidaiyah di Pamulang, bekerja sama dengan Yayasan al-Hidayah sebagai penyedia lahan. Sesuai keputusan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sejak awal September 19774 pembinaan MP IAIN Jakarta dilaksanakan oleh Tim Pembinaan yang dipimpin oleh Dekan Fakultas Tarbiyah. Dengan tugasnya, menyiapkan MP IAIN Syarif Hidayatullah  Jakarta sebagai ‘Madrasah Laboratorium’ Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pada tahun 1978, MP UIN IAIN Jakarta ditetapkan sebagai Pilot Proyek Percontohan oleh Departemen Agama RI melalui SK Dirjen Bimas Islam Depag RI No: Kep/D/03/1978. Mulai tahun 1988, berdasarkan SK Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta No: 06 Tahun 2008, wewenang pengelolaan dan pembinaan MP IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dilimpahkan kepada Yayasan Syarif Hidayatullah Jakarta. Tahun 1991/1992 MP IAIN Jakarta membuka tingkat Aliyah dan pada tahun 1995/1996 MAP menerima pendaftaran siswa baru lagi.
Seiring dengan perubahan IAIN menjadi UIN, sejak tahun 2002 MP IAIN Jakarta mengikuti perubahan nama menjadi MP UIN Syarif Hidayatullah. Tahun pelajaran 2006/2007, atas dorongan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan banyaknya permintaan masyarakat. Akhir tahun 2009, MAP telah diakreditasi dengan hasil grade “A”. Tahun 2008 MIP dan MTsP ditetapkan sebagai Madrasah Standar Nasional oleh Kanwil Depag Provinsi DKI Jakarta dengan No: Kw.09.4/HK.005/2081/2008 MP UIN Syarif Hidayatullah statusnya adalah swasta.
B.   Proyeksi Visi Keunggulan Akhlak Mulia
Visi MP UIN Jakarta  Menjadikan MP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai lembaga pendidikan dasar dan menengah terdepan dalam pembinaan keislaman, keilmuandan keindonesian, dengan mengapresiasikan potensi-potensi anak serta perkembangan era globalisasi dan perkembangan aman”. Jika dikaitkkan dengan pendidikan akhlak maka seorang ahli pendidikan Isjoni (Universitas Riau) menyatakan bahwa cara yang tepat untuk menanamkan sesuatu yang dianggap penting dan berarti kepada siswa adalah dengan memasukkan hal yang penting dan berarti tersebut ke dalam proyeksi suatu visi keunggulan.
Dalam menetapkan visi suatu lembaga pendidikan banyak kerriteria yang harus diperhatian, sebagai mana yang dipaparkan oleh Abdul Mukhyi, Barry B. Gallagher, John Lawler dan Hiryanto. Mereka memaparkan, visi yang baik dan efektif dari suatu lembaga pendidikan atau sekolah karakteristiknya adalah harus dapat dibayangkan (imagible), menarik (desirable), realistis ( an dapat dicapai (feasible), jelas (focused), aspiratif dan responsif terhadap lingkungan (flexibel), mudah dipahami (communicable), singkat (succint), menggugah emosi positif (meaningful), ambisius (ambitious), sesuai (apriopriate), futuristik (futuristic), idealistis (idealistic), cukup besar untuk berkembang menjadi (big enough to grow into), khas/unik (unique), spesifik (specific), terukur (measurable) dam mempunyai target waktu yang jelas (timely).
C.   Proyeksi Misi Keunggulan Akhlak Mulia
Di MP UIN Jakarta, ada 5 misi yang dijalankan dalam rangka mewujudkan visinya yang ingin menjadi lembaga pendidikan yang unggul dalam bidang akhlak. Pertama, menyelenggarakan pendidikan yang akan melahirkan lulusan yang beriman dan bertakwa serta memiliki kemampuan kompetitif dan keunggulan komparatif. Kedua, melakukan inovasi kurikulum dengan aksentuasi pada pembinaan keislaman serta apresiatifnterhadap kecenderungan globalisasi dengan tetap berpijak pada kepribadian Indonesia. Ketiga, melakukan pembinaan tenaga pendidik sebagai pendidik perofesional yang menguasai aspek keilmuan, keterampilan mengajar, kepribaddian pedagogis serta komunikasi global yang dijiwai akhlak mulia. Keempat, melakukan pembinaan tenaga kependidikan yang profesional, yang menguaasai bidang ilmu yang mendukung tugasnya, etos kerja yang tinggi, serta kepribadian yang islami. Kelima, melakukan pembinaan kemandirian dan teamwork melalui aktifitas belajar baik intra maupun ekstrakurikuler.
Untuk menyusun pernyataan misi seperti yang telah disebutkan diatas maka berdasarkan pendapat Emil Angelica, ada 7 tahapan yang harus dilakukan antara lain: Pertama, memilih tim perumus pernyataan misi biasanya yang dipilih adalah yang sudah berpengalaman dan ikut bertanggung jawab dalam perencanaan sekolah. Kedua, mengklarifikasi nilai—nilai inti, pimpinan mengidentifikasi pernyataan-pernyataan perioritas yang diyakini merrupakan dasar cetakan bangunan kelembagaan atau sekolah. Ketiga, meninjau setrategi yang mendasari kelembagaan atau  sekolah, terutama meninjau setrategi yang digunakan untuk mencapai misi. Keempat, mengevaluasi perrnyataan misi, dalam hal ini tim melakukan peninjauan dan kritik terhadap misi-misi tersebut sebagai dasar untuk menulis kembali atau menentukan misi-misi yang baru. Kelima, membuat rancangan perencanaan misi. Keenam, mengedarkan pernyataan misi untuk meninjau dan memodifikasi, rancangan pernyataan misi disirkulasikan kepada para stake holder kunci untuk  mendapatkan kritik dan saran, pada tahap akhir ini tim merecall pernyataan misi yang telah ditulis kemudian menyerahkannya kepada sekolah untuk dijadikan sebagai misi kelembagaan atau sekolah.
D.  Proyeksi Tujuan dan Sasaran Keunggulan Keunggulan Akhlak Mulia
Adapun menurut pandangan pemikir dapat disimpulkan bahwa pendidikan akhlak bertujuan untuk membentuk manusia yang bermoral baik dan bertingkah laku mulia serta beradab. Di MP UIN Jakarta, telah dikemukakan sebelumnya bahwa lembaga pendidikan ini memvisikan seolahnya menjadi sekolah yanng unggul dalam akhlakul karimah, maka sekolah ini mempunyai tujuan dan sasaran yang jelas mengenai pendidikan akhlak yang diselenggarakannya, yaitu pada dasarnya untuk melahirkan siswa-siswa lulusan yang berakhlak mulia. Secara rincii ada 7 tujuan dan sasaran pendidikan akhllak di MP UIN Jakarta.
Pertama, mewujudkan pendidikan yang dapat melahirkan lulusan beriman dan bertakwa dengan kemampuan kompetitif serta memiliki keunggulan komparatif. Sasaran dari tujuan ini adalah terbentuknya lulusan yang senantiasa taat kepada Allah dan rasul-Nya, hormat dan toleran antar sesama, memiliki pengetahuan yang luas sehingga berkompetensi dalam bersaing tinggi. Kedua, terwujudnya kurikulum yang memiliki kekuatan pada pmbinaan keislaman, sains dan teknologi serta apresiatif terhadap kecendrungan globalisasi dengan tetap berpijak pada kepribadiaan Indonesia dan kompetensi  anak. Sasarannya, terimplementasinya pembiasaan kehidupan beragama yang dilakukan melalui kegiatan habitual kurikulum dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, tersedianya enaga pendidik yang profesional. Sasaran adalah meningkatkan profesionalismetenaga didik yang memiliki dedikasi dan loyalitas yang tinggi terhadap pengembanganpendidikan. Keempat, tersedianya tenaga kependidikanprofesional dalam melaksanakan tugasnya didukung oleh ilmu pengetahuan yang relevan, sasarannya adalah meningkatkankepropesionnalan tenaga pendidikan yang memiliki kemauan yang tinggi untuk meningkatkan pengetahuan sesuai dengan bidang pekerjaan. Kelima, tersedianya sarana prasarana dan fasilitass sumber belajar. Sasarannya adalah peningkatan kebersihan ruang kelas untuk menunjang kelancaran dan kenyamanan proses belajar mengajar. Keenam, terwujudnya siswa yang memiliki keseimbangan antara kekuatan jasmani dan  rohani serta kepekaan dan kepedulian sosial. Sasarannya adalah peningkatan program penyelenggaraan kegiatan-kegiatan olah raga dan pembinaan mental untuk mengasah ketajaman raga dan jiwa. Dan ketujuh, terwujudnya siswa yang mandiri dan mampu melakukan team work melalui aktivitas belajar intra maupun ekstrakuriuler. Dengan sasarannya adalah memaksimalkan kegiatan-kegiatan yang bertujuan melatih siswa untuk bekerja dalam team work. Semua tujuan tersebut menyoroti kegiatan intra dan ekstra kurikuler MP UIN Jakarta.
Dari kedua jenis kegiatan tersebut sasaran akhlak lebih difokuskan ke pembentukan sikaf akhlak siswa terhadap tugas dan kewajibbannya sebagai  siswa MP UIN Jakarta. Dengan demikian dari semua tujuan dan sasaran yang inin diwujudkan oleh MP UIN Jakarta tersebut jelas terlihat bahwa semuanya diorentasikan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada pendidikan akhlak baik itu kepada para siswa maupun kepada seluruh tenaga pendidik dan kependidikannya. Namun lebih lanjutnya MP UIN Jakarta ini secara umum memiliki 2 tujuan yakni, tujuan khusus dan tujuan umum. Tujuan yang diberlakukan disetiap jenjang dan tujuan yang dicapai oleh keseluruhan lembaga pendidikan secara umum.
E.   Program dan Kegiatan Berorientasi Keunggulan Akhlak Mulia
Di MP UIN Jakarta jika ditinjau dari segi waktu maka da 2 program jangka waktu, yaitu program jangka  pendek dan jangka panjang. Program jangka pendek waktunya 4 tahun mulai tahun 2011, berarti berakhir pada tahun 2014,  sedangkan jangka panjang waktunya 20 tahun yang berakhir pada tahun 2030.  Berdasarkan itu maka ada 5 program jangka pendek yang dijalankan MP UI Jakarta dalam rangka untuk mencapai tujuan jangka panjangnya di tahun 2030 yang akan  datang yaitu: Program tahun 2011-2014/tahap I, ditargetkan untuk mewujudkan MP UIN Jakarta sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai daya saing tinggi di tingkat provinsi DKI Jakarta baik itu dibiddang sains, bahasa, maupun dibidang akhlakul karimahnya. Program tahun 2015-2018/tahap II, terwujudnya institusi MP UIN Jakarta yang mempunyai daya saing tinggi ditingkat provinsi se-Jawa (tahap lanjutan dari tahap I). Program tahun 2019—2022/tahap III, untuk mewujudkan visi MP UIN Jakarta sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai daya saing tinggi di tingkat Nasional. Program tahun 2023-2026/tahap IV, menjadi lembaga pendidikan Indonesia yang mampu bersaing di tingkat Regional Asia Tenggara (ASEAN). Program tahun 2027-20300/tahap V, ingin membuktikan dirinya sebagai lembaga pendidikan Indonesia yang mampu bersaing di tingkat dunia atau tingkat global.

BAB IV KURIKULUM MADRASAH PEMBANGUNAN UIN JAKARTA BERORIENTASI AKHLAK MULIA
A.  Seluk Beluk Kurikulum MP UIN Jakarta
Kurikulum yang dikembang oleh MP UIN Jakarta adalah KTSP dengan beberapa penyesuaian yang didasarkan kepada kekhasan kondisi, dan potensi seluruh stakehoders-nya, sehingga menjadi sebuah kurikulum yang terbangun secara efektif. Hal-hal yang menjadi pertimbangan MP UIN Jakarta dalam menyusun kurikulumnya tersebut jika dikaitkan dengan pendidikan berorientasi nilai (akhlak), maka ada satu hal yang harus diperhatikan, yaitu mengenai perkembangan yang ideal dari kepribadian siswa berdasarkan jenjang dan tingkat pendidikannya, hal ini idealnya juga harus dimuat dalam kurikulum. Berarti setiap jenjang pendidikan yang berada dalam lingkungan MP UIN Jakarta (MIP, MTsP, dan MAP) kurikulumnya harus mencantumkan dengan jelas tingkat perkembangan akhlak yang ideal untuk para siswanya sesuai dengan tingkatan kelas dan jenjang pendidikan yang diikutinya.
B.   Pengembangan Struktur Kurikulum Berorientasi Keunggulan Akhlak Mulia
Pengembangan struktur kurikulum dalam rangka melaksanakan pendidikan berorientasi akhlak MP UIN Jakarta dilakukan 3 cara, yaittu:
1.    Integrassi Struktur Kurikulum
MP UINN Jakarta dalam pengembangan kurikulumnya telah mengkobinasikan dan memadukan 2 jenis struktur kurikulum tersebut, sehingga diharapkan siswa MP UIN Jakarta akan mendapatkan porsi pendidikan agama seperti siswa madarasah (Kemenag) dan mendapatkan pelajaran umum seperti sekolah umum (Kemdiknas). Dengan penerapan kedua kurikulum dikombinasi itu diharapkan para siswa MP UIN Jakarta akan mendapatkan pengetahuan yang berimbang.
2.    Modifikasi Mata Pelajaran
Beranjak dari teori yang dikemukakan oleh Marwan Abuhewij, ada 3 aspek yang menjadi pertimbangan utama MP UIN Jakarta dalam mengelompokkan berbagai mata pelajaran. Pertama, psikologi belajar dalam aplikasi pada mata pelajaran. Kedua, estimasi kemajuan. Dan ketiga, perlindungan peribadi dari inkonsistensi. Adapun tujuan pengelompokan mata pelajaran tersebut, salah satu tujuam utamanya untuk menghinndari adanya pengulangan materi yang sama dalam satu pelajaran pada mata pelajaran yang lain sehingga dapat memaksimalkan keterbatasan waktu yang tersedia untuk dapat menyampaikan seluruh materi pelajaran yang sudah ditentukan dalam satu kurun waktu yang udah ditetapkan (1 catur wulan, 1 semester, atau 1 tahun pelajaran). Dengan teknis ini juga bisa membuat penyampaian nilai-nilai akhlak kepada siswa menjadi lebih efektif, karena dalam penyampaiannya tidak tidak hanya disampaikan dalam pembelajaran pendidikan akhlak saja, tetapi juga disampaikan dalam pembelajaran mata pelajaran lain yang muatannya bisa dikaitkan.
3.    Modifikasi Alokasi Waktu Pembelajaran
MP UIN Jakarta menerapkan dan memodifikasi kurikulum yang berbeda strukturnya yaitu kurikulum Kemenag RI dan Kemdiknas RI. Hal tersebut secara jelas dilihat dari penerapannya, di MIP dan MTsP UIN Jakarta, mata pelajaran Akidah Akhlak dialokasikan waktunya hanya 1 jam pembelajaran perminggunya, namun dengan adanya kegiatan HC (Habitual Curriculum) yang dilaksanakan 3x seminggu dengan alokasi waktunya 1 jam pembelajaran berarti 3 jam pembelajaran perminggunya, yang didalamnya terdapat kegiatan tausiyah dari guru yang muatannya berisi tentang nilai-nilai akhlak maka jika ditotalkan jam pembelajaran akidah akhlak tidak lagi 1 jam pembelajaran/minggu tetapi relatifnya menjadi 4 jam pembelajaran/minggu.
C.   Pengembangan Muatan Kurikulum Berorientasi khlak Mulia
Pengembangan muatan kurikulum untuk mengoptimalkan pendidikan akhlak di MP UIN Jakrta dilakukan dengan 3 cara, antara lain:
1.         Kurikulum Adopsi
Di MP UIN Jakarta teknik pengembangan kurikulum dengan melakukan pengadopsian kurikulum luar yang kemudian mengadaptasi atau menginovasinya dengan kurikulum MP UIN Jakarta. Penggunaan kuriulum luar ini jika diterapkan untuk pendidikan akhlak juga sangat memungkinkan untuk dilaksanakan apabila nantinya ada suatau kajian yang dapat membuktikan bahwa ada sebuah kurikulum dari sekolah tertentu diluar sana yang telah berhasil secara efektif dalam mendidik akhlak siswa-siswinya.
2.         Kurikulum Terpadu (terintegritas)
Kombinasi kurikulum yang dilakukan MP UIN Jakarta merupakan salah satu dasar pertimbangan mengenai latar belakang dan kebutuhan siswa, juga adanya aspirasi dari wali murid. Ini membuktikan bahwa siswa merupakan faktor yang sangat ppenting dalam pengembangan kurikulum, karena dari masuk ke lembaga pendidikan setiap siswa memiliki pengalaman dan persfektif mereka sebelumnya, juga kebutuhan dan aspirasi mereka, yang jika dikombinasikan akan mempengaruhi kurikulum.
3.         Memodifikasi muatan mata pelajaran
Modifikasi muatan mata pelajaran ini merupakan kelanjutan dari modifikasi mata pelajaran terutama untuk pendidikan akhlak, yang hal tersebut dapat membuat pemamfaatan alokasi waktu yang tersedia lebih efisiensi dan lokasi waktu yang dialihkan dapat dipergunakan untuk lebih mengoptimalkan pada aspek pembentukan akhlak.

BAB V PENGEMBANGAN PROGRAM DAN KEGIATAN BERORIENTASI AKHLAK MULIA DI MADRASAH PEMBANGUNAN UIN JAKARTA
A.  Program Berorientasi Keunggulan Akhlak Mulia
MP UIN Jakarta mengadakan berbagai program yang khussus untuk menunjang tercapainya visi dan misi, dengan menjadi sebuah lembaga yang unggul dalam akhlak. Program-program khusus tersebut adalah 1) Program  Core Values (CV), bertujuan untuk menanamkan dan membiasakan penerapan nilai-nilai universal dan nilai-nilai multikultural dalam diri siswa, selain itu berfungsi sebagai salah satu instrumen pendukung untuk membantu tercapainya tujuan-tujuan pada pelajaran pendidikan akhlak. 2) Program tabungan amal saleh (TAS), bertujuan menghimpun dana infak dan sedekah dari uang jajannya, dan esensinya kegiatan sedekah dan infak tersebut terdapat nilai-nilai akhlak yang menonjol yaitu nilai keadilan, persaudaraan, saling mencintai etc. Sehingga jelas berkontribusi terhadap pendidikan akhlak kepada para siswa. 3) Habitual Curriculum (HC), bertujuan untuk mentrasformasikan tindakan akhlak dari level prilaku kebiasaan dan rutin pada usia anak ke tahap kedewasaan dalam melakukan aksi secara reflektif, yang membutuhkan pendekatan sistematis dan berkelanjutan sepanjang tahun sekolah dan sepanjang jenjang pendidikan. 4) Reading habit (RH), menanamkan sikap kebiasaan suka membaca pada diri siswa yang diharapkan akan menumbuhkan sikap rajin dalam kepribadiannya.
B.   Pendidikan Keunggulan Akhlak Mulia dalam Kegiatan Kurikuler
Secara umum ada 4 bentuk kegiatan kokurikuler yang di laksanakan di MP UIN Jakarta yaitu bentuk penugasan, pekerjaan rumah, pembelajaran tambahan (les), dann bentuk Bina Baca al-Qur’an (BBQ). Adapun tujuan dari kegiatan tersebut untuk membuat siswa dapat lebih mendalami dan memahami apa yang telah dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler.
C.   Pendidikan Keunggulan Akhlak Mulia dalam Kegiatan Ekstra Kurikuler
Kegiatan MP UIN Jakarta meliputi 4 jenis kegiatan yaitu: kegiatan pengembangan diri yang mencakup pengembangan di bidang akademik (Peer Mediation-mediasi teman sebaya, English Club, pramuka, kesehatan, MIPA, Jurnalistik, Student Company-SC, paskibra dan kunjungan ke perpustakaan), kesenian (marawis, tilawatil Qur’an, tahfīz al-Qur’an, marching band, seni tari, seni lukis, vocal group, menggambar komik “Manga” etc),  olah raga (basket, sepak bola futsal, karate, dan tenis meja). Dan 2 kegiatan ekstrakurikuler lainnya yaitu bakti sosial dan kegiatan field trip.
D.  Progrevitas Akhlak siswa
Progresivitas akhlak siswasiswa MP UIN Jakarta diulas pada 2 aspek antara lain:
1.         Progresivitas akhlak kepada Allah swt
Perkembangan akhlak siswa di MP UIN Jakarta tentang hal ini, progresnya tergolong berjalan cukup lambat. Jika dilihat dari indikasi bagaimana siswa melaksanakan rutinitas ibadah di sekolah. Hal yang mempengaruhinya adalah pendidikan diluar sekolah yang kurang perhatiaan. Jadi untuk mendukung keberhasilan perlu adanya pendidikan agama dalam keluarga.
2.         Progresivitas  akhlak kepada sesama makhluk
Akhlak siswa MP UIN Jakarta terhadap sesama makhluk progresnya sangat signifiikan. Kebiasaan 3S yaitu salim, senyum, salam yang dilatih dan dibiasakan oleh sekolah.
BAB VI PENUTUP
Kesimpulan
Kajian ini menunjukkan 4 hal untuk dapat mengoptimalkan pendidikan akhlak mulia bagi para siswanya, antara lain: 1) Dengan menjadikan sebagai proyeksi dri salah satu visi keunggulan sekolah. 2) Melakukan pengembangan terhadap kurikulum sekolah. 3) Mengadakan 4 program khusus yang sangat menunjang terhadap keberhasilan pendidikan akhlak mulia yaitu program CV (Core Value), HC (Habitual Curriculum),TAS (Tabungan Amal Saleh), dan RH (Reading Habit). 4) Memperbanyak kegiatan yang bersifat kokurikuler dan ekstrakurikuler yang dapat menunjang secara langsunng maupun tidak langsung terhadap tumbuh dan berkembangnya sikap-sikap positif  dalam diri siswa, baik berupa kegiatan di bidang akademik, olah raga, maupun seni.

No comments:

Post a Comment

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...