Thursday, December 26, 2019

Aneka Pendekatan Studi Agama


RESUME BUKU




Judul Buku
:
Aneka Pendekatan Studi Agama
Pengarang
:
Peter Connolly
Penerbit, Tempat & Tahun Terbit
:
LkiS,  Yogyakarta, 2012
Tebal Buku
:
404
Tujuan
:
Memberikan pengenalan awal berbagai pendekatan terhadap agama, yakni pendekatan antropologis, fenomenologis, feminis, filosofis, sosiologis, psikologis, dan teologis. Meskipun tampak berdasar pada pembelahan disiplin ilmu secara tradisional, namun ia tak lebih merupakan penyederhanaan dan ujungnya sifat interdisiplin terhadap agama akan tampak dalam buku ini.


PENDAHULUAN
Petter Connoly mengakui pengaruh agama pada sektor-sektor tentang populasi dunia dan sedikit ada keraguan dibenaknya tentang adanya sesuatu yang bernilai dalam agama. Oleh sebab itu, sangat dianjurkan untuk mengorentasikan diri dan belajar memahami maksud penulis dalam penguraian materi-materi agar tidak terjadi pertentangan yang bersifat otoritatif.
Penuangan 7 approaches ini tentu memiliki titik tekan yang berbeda-beda dan membawa asumsi yang berrbeda pula dalam penelitian. Dan selain itu, Ninian Smart menganjurkan untuk menggunakan agnotisisme metodoogis dalam studi agama agar peneliti berfikir yang terbuka. Yang berkompeten membawa sejumlah filter perseftual dan interfretatif. Pada umumnya, tantangan yang dihadapi seorang peneliti itu, sebagian dari insider[1] dan sebagian juga dari outsider[2]. Singkatnya Petter Cannoly memberikan uraian konsepsi dan praksis dengan harapan bisa direalisasikan dalam penelitian yang lebih spesifiknya pada penghubungan fenomena keagamaan yang diminati dengan ide, wawasan dan teknik yang terkait.
A.       Pendekatan Antropologis
1.    Perkembangan Historis Pendekatan Antropologis
Sepanjang waktu, pemahaman tentang antropologi selalu mengalami perubahan dan pada abad XIX, antropologi bermula sebagai penelitian evolusionis. Pandangan itu memproleh dukungan dari karya Darwin tentang evolusi biologis. Namun dengan adanya keterkaitan antara teori evolusi dengan era kolonial menimbulkan perdebatan sengit dari kalangan antropolog-antropolog. Bagi sebagian orang, prilaku aneh yang sangat berbeda dan tidak dikenal, memperkuat kebenaran pandangan mereka dan sebagian lainnya, kontinuitas historis yang diyakini semua orang antara primitif dan modern adalah cara menolak kepalsuan dan meruntuhkan agama. Hal ini dapat kita lihat dari 2 karya yang berbeda yakni: The Golden Bough (Sir James Frazer) dan The Element Froms of Relegious Life (Email Durkheim). Kedua karya ini melihat seluruh agama sebagai bentuk magicfertilitas.
 Adapun pada edisi selanjutnya Frazer melakukan skema evolusi sederhana, sejarah manusia melewati 3 fase yang didominasi oleh: magic, agama, dan ilmu. Lain halnya dengan Durkheim bahwa mengambil contoh dari seluruh dunia dengan kurang memerhatikan konteks aslinya dan menimbunnya terlalu tinggi seperti  yang dilakukan Frazer, karena itu merupakan metode antropologi yang keliru. Menurutnya, eksperimen yang dilakukan dengan baik dapat membuktikan adanya aturan yang ganjil, dan mengatakan perlunya menguji sebuah contoh secara mendalam, seperti agama Aborigin di Arunto Australia Tengah. Terlepas dari kontroversi terhadap penelitiannya, yang jelas Durkheim telah memberikan ispirasi kepada antropolog-antropolog untuk menggunakan studi kasus dalam mengungkap sebuah kebenaran. Setelah Frazer dan Durkheim, kajian antropologi agama terus mengalami perkembangan dengan varian approach penelitiannya. Beberapa antropolog mengorentasikankan kajian agamanya pada psikologi ognitif, sebagiannya pada feminisme, dan sebagian lainnya pada sejarah sosiologis.
2.    Karakteristik Dasar Pendekatan Antropologis
     Salah satu konsep kunci terpenting dalam antropologi modern adalah holisme, yakni pandangan bahwa praktik-praktik sosial harus diteliti dalam konteks dan secara esensial dilihat sebagai praktik yang berrkaitan dengan yang lain dalam masyarakat yang sedang diteliti. Para antropolog harus melihat agama dan praktik pertanian, kekeluargaan, politik, magic, dan pengobatan secara bersama-sama. Dalam artian, agama tidak bisa dilihat seebagai sistem otonom yang tidak terpengaruh oleh praktik-praktik sosial lainnya.
     Beberapa tahun terakhir, ketika dekonstruksi postmodernisme yang sedang digemari menjalar melalui ilmu sosial, approach holistik mendapat serangan. Jika ada masa-masa keemasan, kerangka kerja fungsionalisme struktural lebih membesarkan watak sistematik yang ditelitinya, namun saat ini sudah dibuka peluang terhadap fungsionalis struktural. Karya yang melakukan hal ini dapat dilihat dalam Lugbara Religion hasil penelitian Middleton. Dalam karyanya tersebut, dia lebih senang memilih istilah Inggris daripada bahasa Lugbara itu sendiri, misalnya ancertor (nenek moyang), ghost (hantu), witchcraft (ilmu ghaib) dan sorcery (ilmu sihir). Kendatipun demikian, karya Middleton tidak mengurangi kekayaan etnografi, buktinya siapa saja yang membaca hasil karyanya masih merasakan proses aksi sosial dan agama seperti yang benar-benar dipraktikan. Dengan caranya ini, terlihat adanya pergeseran karakteristik penelitian, dari karakteristik struktural ke “makna”.
     Karakteristik antropologi bergeser lagi dari antropologi “makna” ke antropologi interpretatif yang lebih global, seperti yang dilakukan oleh C. Geertz. Ide kuncinya bahwa apa yang sesungguhnya penting adalah kemungkinan menafsirkan peristiwa menurut cara pandang masyarakat itu sendiri. Penelitian seperti ini harus dilakukan dengan cara tinggal di tempat penelitian dalam waktu yang lama, agar mendapatkan tafsiran dari masyarakat tentang agama yang diamalkannya. Jadi, pada intinya setiap penelitian yang dilakukan oleh antropolog, memiliki karakteristik masing-masing, dan bagi siapa saja yang ingin melakukan penelitian dengan pendekatan antropologi, bisa memilih contoh yang telah ada atau menggunakan pendekatan baru yang diinginkan.
3.    Persoalan dan Perdebatan
     Perdebatan panjang diantara antrologi tentang bagaimana agama harus didefinisikan. Beberapa agama tidak memiliki kode etik, sebagian lainnya tidak memiliki kitab suci atau tradisi oral, Theravade Budhisme secara khusus tdak menaruh perrhatian penuh terhadap adanya korelasi dengan Tuhan. Menyinggung dari pendefinisian, tentunya kontroversi sering merefleksikan perbedaan-perbedaan. Beberapa persoalan yang terus diperdebatkan dalam karya-karya antropologis tentang agama sebagai berikut: 1) Terkait wilayah keagamaan yang traskultural/spritual, 2) Interpretasi agama, 3) Kekuatan inserpatif agama, 4) Tolak ukur melihat keyakinan seseorang dan tugas antropologi sebagai pendekat keyakinan dan praktiknya, 5) Kevalidan menafsirkan komunitas monistik Theravada Budhist di Burma, 6) Kerelevanan kitab-kitab untuk memahami keyakinan pengikutnya yang awam dan pengukuran jurang terjadi antara agama para ahli yang menjaga kitab suci dengan masyarakat awam. Meskipun disini telah dijelaskan adanya perbedaan antara antropolog, semua sepakat bahwa tidak ada agama atau budaya masyarakat lain yang dapat diterima taken for granted, dan itu merupakan kesalahan yang menyedihkan bila memaksakan kembali apa yang dikatakan teks terhadap apa yang diyakini dan dipikirkan masyarakat awam.
B.       Pendekatan Feminisme
1.    Pendahuluan
     Pendekatan feminis dalam studi islam merupakan suatu trasformasi kritis dari perspektif teoritis yang ada dengan menggunakan jender sebagai kategori analisis utamanya. Adapun tujuan utama dari tugas feminis adalah mengidentifikasi sejauh mana terdapat persesuaian antara pandangan feminis dan pandangan keagamaan terhadap kedirian, dan bagaimana menjalin intraki yang paling menguntungkan antara yang satu dengan yang lain. Dimensi kritis ini menentang pelanggengan historis terhadap keadilan dalam agama, praktik-praktik ekslusioner yang melegitimasi superioritas laki-laki dalam setiap bidang sosial. Aspek trasformatif kemudian meletakkan kembali simbol-simbol sentral, teks, dan ritual-ritual tradisi keagamaan secara lebih cepat untuk memasukkan dan mengokohkan pengalaman prempuan yang diabaikan. Pada analisis level pertama, feminis tidak hanya mendokumentasikan sumber-sumber agama yang memiliki resepsi distortif terhadap prempuan, melainkan berusaha mengemukakan alasan-alasannya.
2.    Perkembangan Historis Pendekatan Feminis
Asal usul bentuk yang dapat dikenal dari feminisme religius Anglo-American yang terorganisir muncul pada abad XIX dan didominasi oleh 2 isu utama, perbedaan tentang persamaan akses terhadap jembatan pendeta (ministry) dan kritisisme Injil. Dan salah satu teori eksplanatoris yang paling berpengaruh dikemukakan oleh Rosemary Radford Reuther dalam bukunya Religion and Sexism (1974) dan New Woman, New Eart: Sexist Ideologist and Human Liberation (1975) ia menyatakan bahwa pencemaran keagamaan terhadap perempuan bergantung pada serangkaian kesalahan teologis dan dualisme antropologis. Teolog-teolog Kristen awal yang mendukung antropologi Aristotelian yang cacat dimana prempuan dianggap sebagai bentuk laki-laki yang hina akal, fisik, dan moralitasnya dianggap tidak sempurna.
Supaya pengalaman mereka dapat dikatakan shohih, sebagai bentuk pengetahuan keagamaan yang legitimate dan mengubah watak parsial model teoritis dominan, feminis menunntut reorientasi fundamental dalam studi agama dimaksukkannya “experience” perempuan dalam aspek analisis keagamaan dan teologis seperti dikemukakan Reuther dalam Sexist and God-Talk (1983) meskipun bagi refleksi teologis sendiri kriteria pengalaman bukan kategori unik yakni kesadaran diri untuk menarik pengalaman prempuan secara pasti.
3.    Karaktertristik Dasar Pendekatan Feminis
     Sejak tahun 1980, pertumbuhan dan diversifikasi pendekatan feminis dicirikan dengan upaya untuk menciptakan sumberr materil baru dan digunakannya paradigma kesarjanaan keagamaan yang bar, memperbaiki model androsentris sebelumnya dengan mengistimewakan pengalaman perempuan. Pertama, femenis tidak mesti harus membuang metafora-metafora tradisional meskipun mereka berusaha mengacaukan dan mentransendisikan batasan-batasan pratiarki metafora-metafora tersebut. Seperti apa yang  dikemukakan Ursula King “barangkali bukan hal yang bijak dan tidak perlu untuk tidak meninggalkan image Tuhan Bapak...., tetapi pandangan terhadap keyakinan yang sedanng hidup juga menghendaki tidak semata-mata mewarisi simbol yang tidak lagi berbicara dengan mudah kepada kita”. Pendekatan kedua mengacu kepada “tradisi kenabian Yesus” dalam Injil, sebuah tema dasar yang oleh feminis dinyatakan sebagai bukti kemampuan Injil memunculkan perspektif kritisisme diri terhadap patriarki dengan bersumber pada Injil sendiri. Karakteristik perspektif feminis ketiga adalah penemuan kembali sejarah keagamaan perempuan.
4.    Persoalan dan Perdebatan
Diantara persoalan dan perdebatan tersebut yakni: (1) Persoalan pluralitas kutural dan rasial, (2) Persoalan separaisme feminis. Alhasil, pendekatan feminis telah dan terus berfungsi sebagai suatu percobaan untuk menguji kemampuan agama mendefinisikan kebermaknaannya sendiri dalam konteks pluraliskontemporer dan menghadapi tantangan postmodernisasi.
C.       Pendekatan Fenomenologis
1.    Pendahuluan
     Makna istilah fenomenologi tidak pernah terbakukan secara tegas namun fenomenologi berperan dengan cara yang khas. Dan secara tradisional, teologi merupakan methode pengurai makna keagamaan dalam batasan masyarakat Barat dan konteks tradisi kristen. Untuk menguak kebenaran terwahyu, Rousseau, Kant dan Hume sempat berdebat dan hasil perdebatan itu menghasilkan disiplin-disiplin akademik baru sosiologi, dan psikologi. Bersamaan dengan hal tersebut fenomenologi lahir dan ditawarkan dengan pendekatan-pendekatan teologis.
2.    Perkembangan Historis Pendekatan Fenomonologi
     Pendekatan Fenomonologi bertugas menunjukkan bahwa agama perlu dikaji secara serius dan memberi kontribusi terhadap pemahaman tentang humanitas dengan cara yang positif. Sebagaimana diuraikan dalam penelitian yang dilakukan Jaques Waardenbrg[3], subtansi kritik Freud dan kecendrungan analisis Feuerbach dan marx.
     Fenomenologi agama muncul bukan dari perdebatan tersebut, melainkan dari evaluasi atas anteseden dan berusaha menetapkan kerangka kerja metodologis dalam studi gama dalam kaitannya sebagai pendekatan alternatif terhadap subyek agama.
     Pendekatan fenomenologi mula-mula merupakan upaya membangun suatu metodologi yang koeren bagi study agama. Tapi seiring berjalannya waktu pendekatan ini berkembang dipengaruhi oleh 2 filsafat yakni Filsafat Hegel[4] dan Filsaffat Edmund Husserl. Adapun pokok persoalan Fenomenologi yakni: Pertama, mempertimbangkan karya sejumlah figur historis utama dalam tradisi fenomenologi seperti Van der Leeuw, Pierre Daniel Chantepe de la Saussaye[5], Nathan Soderblom[6] dan William Brede Kristensen. Kedua, penjelasan tentang penentuan peran fenomenologi merupakan kontribusi utama.dalam mengukuhkan fenomenologi sebagai suatu disiplin sendiri.
3.    Karakteristik dasar Pendekatan Fenomenologi
     Karakteristik pendekatan fenomenologi ditemukan dalam batasan-batasan sebagai berikut: 1) Fenomenolog yang concern melaksankan suatu kajian agama “deskripsi” yang bertujuan untuk mengukuhkan pengetahuan tentang berbagai eksprresi fenomena. 2) Melindungi dari serangan kritik, fenomenologi secara langsung dapat terlibat dengan persoalan-persoalan hermeneutik dan membangun suatu metodologi yang menggambarkan suatu pendirian teoritis partiikular.
4.    Persoalan dan Perdebatan
     Fenomenologi sebagai suatu gerakan yang tidak lain dari penuntut status studi agama ilmiah dan keragaman klasifikasi, objek, dan metode kajian menunjukkan pluralisme fenomenologi dibawah satu disiplin. Dan perdebatan kritis terjadi dalam bidang sejarah agama-agama atau studi agama-agama yang bersifat ilmiah belum melampai putusan historis tentang pendekatan fenomenologis, namun perdebatan seputar nilai fenomenologi diberikan oleh kritik-kritik baru, khususnya dalam bidang antropologi , filsafat, dan studi-studi kultural, seperti ditulis oleh seorang cendekiawan kontemporer.
     Salah satu  yang mengkritik  objek studi pendekatan fenomenologi adalah Tworushka. Ia mengatakan “teori fenomenologi ini mendeskriminasikan massa yang tidak produktif dengan keyakinan-keyakinan umum yang dimiliki sehingga mereka disebut religiusitas popular. Pergeseran objek study yang diusulkan fenomenologi memiliki implikasi penting. Pertama, memberi penekanan pada watak kontemporer fenomena. Kedua, lebih memfokuskan individual, kelompok, dan pandangan keagamaan “sehari-hari” daripada melihat tradisi otoritas dan pernyataan doktrinal tentang tema-tema teologis. Ketiga, mengakui bahwa pluralitas tidak hanya terdapat dalam serangkaian tradisi melainkan pada realitas agama yang jauh lebih kompleks baik realitas lokal maupun global, dinamis maupun tradisionalis, dan bahwa bentuk-bentuknya lebih serring berubah dan saling terkait daripada apa yang diasumsikan orang. Keempat, hubungan antara budaya dan agama merupakan hubungan yang kompleks.
     Jackson menarik kesimpulan bahwa “fenomenologi gagal menyiapkan perangkat-perangkat untuk menafsrkan pandangan dunia orang lain dengan sedikit distorsi. Dan  beralih pada metode antropologi Clifford Geertz dan kritik kultural Edward Said terhadap kemurnian.
D.       Pendekatan Filosofis
1.    Pendahuluan  
     Pendekatan filosofis dalam studi agama saat ini sedang mengalami krisis identitas. Dan itu diperjelas oleh dua pernyataan: 1) Terkait denga tempat, posisi pendekatan filosofisndalam studi islam, 2) Alasan banyaknya konteks yang berbeda-beda menyebabkan kritis identitas dan step yang dilakukan dalam menggunakan pendekatan filosofis dalam studi islam. Mungkin metode yang sering digunakan dalam studi keagamaan untuk mengkaji agama acap kali disebut dengan “pendekatan fenomenologi”, dimana penekanannya lebih pada upaya penyingkapan dan pemahaman fenomena agam daripada menilai evidensi dan mengevaluasi kebenaran apa-apa yang dikelaim agama. Namun perangkat dan teknik digunakan meneliti persoalan teoologi dan memungkinkan menjadikan teologi lebih baik sehingga kadang-kadang pendekatan ini disebut dengan “pendekatan fiosofis”. Terkait dengan itu muncullah dua hal yakni: 1) Ketidak mungkinan membicarakan penekatan filosofiis terhadap agama karena terdapat banyaknya pendekatan filosofis dan perlu kehati-hatian dalam menggunakannya, 2) Pendekatan yang digunakan pada konteks ‘tempat/lokasi’ melakukan penelitian. Timbulnya persepsi-persepsi dari tuduhan filsafat sebagai bid’ah oleh Turtellian  atas konsepsinya terhadap filsafat: a. Watak filsafat, konsepsi ini mengambil 3 bentuk yakni: 1) Mengambil bentuk tuduhan tentang ketidakrelaan, 2) Persoalan relevansi dikaitkan dengan persoalan nilai guna filsafat, 3) Konsekuensi dari dari apa yang telah dikatakan. b. Filsafat memiliki reputasi sebagai sesuatu yang sulit, dalam pengertian sebagai sesuatuyang bersifat intelektual. c. Dilihat ketika  masyarakat mengacu pada filsafat populer.
     Keterkaitan anatara filsafat dengan agama terfokus pada rasionalitas, dapat dinyatakan bahwa suatu pendekatan filosofis terhadap agama adalah suatu proses rasional. Yang dimaksud dengan proses rasional mencakup 2 hal yakni: 1) Menunjukkan fakta bahwa akal memainan peran fundamental dalam refleksi pengalaman dan keyakinan keagamaan dalam suatu tradisi keagamaan, 2) Menunjukkan fakta bahwa dalam menguraikan keimanannya, tradisi keagamaan harus dapat menggunakan akal dalam memproduksi argumen-argumen logis dan dalam membuat klaim-klaim yang dapat dibenarkan. Persoalan refleksi dan penalaran adalah suatu proses yang membutuhkan upaya dan perhatian yang berkesinambungan. Jika dikatakan filsafat tidak berfaidah, maka perlu dinyatakan 2 hal: 1) Memahami bahwa pada dasarnya filsafat adalah suatu ‘aktivitas’, sesuatu yang mesti ’dilakukan’ oleh individu. 2) Aktiitas filsafat adalah belajar bagaimana berfikir-suatu proses yang melibatkan produksi alasan dan argumen. Terkait dengan itu, Antony Flew menspisifikkannya “pengaruh pencampuradukan antara ide tentang bukti dan persuasi adalah dukungan bahwa tidak ada yang valid kecuali jika dimungkinkan untuk meyakinkan seluruh penentang validitasnya.
2.    Perkembangan Historis Pendekatan Filosofis
     Asal usul datangnya filsafat pada abad 5 SM, saat ini dilihat sebagai disiplin yang melatih orang dalam seni berfikir. Dalam kaitannya dengan agama, terdapat banyak varian pendekatan filosofis dengan alasan: 1) Budaya yunani adalah politeistik, dikelilingi oleh banyak tuhan yang merupakan bagian dari kosmos dan dibangun oleh hukum-hukum dan prinsip-prinsip mpersonal yang sama berjalan dalam kosmos sebagai hal yang berlaku pada manusia. 2) Para filsuf awal mulai membuang mite dan sejarah-sejarah dunia yang tidak memiliki landasan dan menggunakan rasionalitas krisis untuk menginterpretasikan dunia untuk mencapai pengetahuan.
Dalam perkembangan tradisi Judaeo-Kristen mengemukakan 3 alasan digunakannya pendekatan filosofis terhadap agama menjadi suatu persoalan untuk pertama kali: 1) Agama kristen menolak bila dijadikan suatu pribadahan lokal atau agama negara dan menuntut kesetiaan yang sempurna dari setiap orang lain. 2) Agama kristen menolak mite-mite politeistik dengan menegaskan adanya Tuhan monoteistik dan universal yang memberikan penyelamatan, khusus dalam diri Yesus Kristus. 3) Tuhan adalah pencipta personal dan pengatur alam, yang memberikan janji kebangkitan dan kehidupan abadi bagi yang mengimani Kristus. Secara khusus dapat mengidentiifikasikan 4 posisi utama mengenai huubungan antara filsafat dan agama, sebagaimana muncul dalam seluruh sejarah perdebatan antara lain: 1) Filsafat sebagai agama, 2) Filsafat sebagai pelayan agama, 3) Filsafat sebagai yang membuat ruang bagi keimanan, 4) filsafat sebagai suatu perangkat analiitis bagi agama. Dari keempat posisi ini ditambahkan bahwa: 5) Filsafat sebagai studi tentang penalaran yang digunakan dalam pemikiran keagamaan.
3.    Karakteristik prilsipil pendekatan Filosofis
     Pada umumnya pendekatan filosofis memiliki 4 cabang sebagai berikut: 1) Logika, cabang ini merasuk ke seluruh proses beragumentasi dengan seseorang menjadikannya lebih cermat dan meningkatkan proses. 2)Metafisika, menunjukkan concern pada komprensifitas. 3) Epistemoologi (gabungan dari logika dan metafisika), menitikberatkan apa yang dapat diketahui, dan bagaimana kita mengetahui “memberi perhatian pada knowledg dan bagaimana memprolehnya. 4) Etika, menitikberatkan perhatian pada pertanyaan-pertanyaan tentang kewajiban, keadilan, cinta dan kebaikan.
4.    Persoalan dan Perdebatan
     Pendekatan filosofis dalam studi agama memuat serangkaian wilayah umum antara lain: 1) Studi bahasa keagamaan dan dapat disebut dengan pemahaman agama “kultural linguistik”,  2) Persoalan kejahatan dan terfokus pada teodici dalam kaitan dengan penderitaan dan kesengsaraan, 3) Persoalan perbuatan Tuhan di dunia, suatu cara singkat yang mengacu pada sejumlah persoalan yang lebih spesifik.
E.       Pendekatan Psikologis
1.      Pendahuluan
      Psikologi agama merupakan cabang psikologi yang concen  dengan subjek agama, sejajar dengan psikologi pendidikan atau psikologi olahraga, atau psikologi klinis. Dan karya yang diterbitkan dengan menggunakan judul “psikologi agama” dan judul yang terkait dan menunjukkan sebagai cabang yang cukup besar. Namun kenyataannya, psikologi agama berada di bagian luar mainstream psikologi. Di Inggris psikologi agama lebih mungkin ditemukan di departemen studi-studi keagamaan atau teologi ketimbang departemen psikologi. Hal serupa juga terjadi di Amerika Serikat mesikipun tidak terlalu banyak. Di Amerika terdapat lebih banyak psikolog dibanding di Inggris, orang Amerika cendrung lebih agamis dibanding di Inggris, dan Amerika tempat lahirnya psikolog agama. Oleh karena itu departemen psikologi di Amerika lebih intensif memberikan psikologia agama dibandingkan departemen di Inggris. Adapun perbedaan antara psikologi agama (psychology of religion) dan psikologi keagamaan (religious psychology) psikologi agama mengacu kepada penerapan metode-metode dan data psikologis ke dalam studi tentang kenyakinan, pengalaman, dan sikap keagamaan. Sedangkan psikologi keagamaan mengacu kepada penggunaan metode dan data psikologis oleh orang yang agamis dengan tujuan memperkaya atau membela keyakinan-keyakinan, pengalaman dan prilaku keagamaan.
2.      Perkembangan Historis Pendekatan Psikologis
   Wilhelm Wundt sebagai orang yang membawa psikologi sebagai suatu ilmu dengan mendirikan laboratorium psikologis di Universitas Leipzig  tahun 1879. Pada tahun 1979 asiosiasi Psikologi Amerika mengembangkan pendapat ini dengan mempersiapkan medali perak dengan gambar dan nama Wilhelm Wundt disatu sisi dan katanya. Namun sebenarnya William Jameslah, seorang tokoh pertama psikologi agama berkebangsaan Amerika. Pada tahun 1891 James menerbitkan karya besarnya The Principles of psyicohology  dan tahun 1901 The Verietes of Religious Experience. Dua kaya itu merupakan sumbangan besarnya dalam psikologi.
3.      Krateristik Dasar Pendekatan Psikologis
   Dalam pendekatan keras, spectrum psikologi kuantitatif adalah psikologi fisologis, behaviourisme, psikologi kongnitif, dan bergerak kearah yang lebih memusat psikologi sosial. Dalam pendekatan lunak bagian psikologi kuantitatif adalah berbagai mazhab psikodinamik yang terkait dengan teoritisi-teoritisi yang berpegaruh seperti Sigmund Freud (psikonisasi), Carl Gustav Jung (psikologi analitik) dan Melanie Klein (psikologi objek relasi), termasuk psikologi humanitik, eksistensial dan psikologi transpersoanal.
4.      Persoalan dan Perdebatan
      Disebabkan oleh adanya keragaman presfektif dalam psikologi agama, skop perselisihan dan perdebtan sangatlah luas. Namun tidaklah tepat jika dikatakan bahwa wilayah psikologi agama dicirikan dengan kontroveksi. Hal ini disebabkan karena intraksi antara tokoh-tokoh dari berbagai presfektif sungguh terbatas. Perselisihan dan perdebatan kebanyakan terjadi lebih dalam presfektif daripada lintas presfektif. Psikoanalis jarang mengkritik psikologi soasial, psikologi sosial jarang mengkritik psikoanalis.
F.        Pendekatan Sosiologis
1.      Pendahuluan
    Pendekatan sosiologis dibedakan dari pendekatan studi agama  lainnya karena fokus perhatiannya pada intraksi antara agama dan masyarakat. Karena agama merupakan salah satu bentuk konstruksi sosial. Sosiolog juga mencurahkan perhatiannya pada studi kolektivitas religious sebagai mikrosmos masyarakat, dimana proses dan pola sosial dapat  diamati dengan jelas karena krakter komunitas keagamaan yang tertutup atau terbatas seperti biara dan sekte-sekte tertentu atau gerakan keagamaan baru.
2.      Perkembangan Historis Pendekatan Sosiologis
     Semenjak lahirnya sosiologi concern dengan studi agama, meskipun perhatian terhadap agama menguat dan  melemah. Karya-karya faunding fathers sosiologi, termasuk Conte Durkheim, Marx dan Weber sering mengacu pada wacana-wacana teologis atau studi prilaku dan system keyakinan keagamaan. Pada abad pertengahan 20 sosiolog-sosiolog baik di Eropa maupun di Amerika Utara. Terlihat bahwa agama memiliki signifikansi marginal dalam dunia sosial dan sosiologi agama bergerak dalam garis tepi studi sosiologis. Karya Durkheim memiliki pengaruh besar terhadap sisiologi agama yang dapat dilihat melalui vearsi-versi trtentu dari teisis sekularisasi, dalam pendekatan Robert Bellah terhadap agama sipil dan nilai-nilai moral di Amerika Utara kontenporer dan dalam karya Bryan Wilson yang membahas mengenai fungsi agama. Wilson menyatan bahwa agama memiliki fungsi psikologis dan sosial yang krusial bahkan dalam masyarakat modern yang teratur secara teknis dan rasional meliputi perwujudan makana dan tujuan hidup.
    Waber merupakan tokoh utama dalam memunculkan subdisiplin sosiologi yang dikenal dengan sosiologi agama, karena karyanya yang berjudul The Sociology of Religion merupakan satu volume kajian yang ekstensif dan kompratif mengenai intraksi agama dan organisasi sosial.
3.      Krakteristik Dasar Pendekatan Sosiologis
      Teorisasi psikologis tentang watak agama serta kedudukan dan signifikansinya dalam dunia sosial, mendorong ditetapkannya serangkaian kategori-kategori sosiologis, meliputi:
a)    Stratifikasi sosial, seperti kelas dan etnisitas.
b)  Kategori biososial, seperti seks, gender, perkawinan, keluarga, masa kanak-kanak dan lanjut usia.
c)   Pola organisasi sosial dimeliputi politik, produksi ekonomis, system-sistem pertukaran dan birokrasi
d)  Proses sosial, formasi batas, relasi intergroup, interaksi personal, penyimpangan dan globalisasi.
Peran kategori-kategori itu dalam studi sosiologis terhadap agama ditentukan oleh pengaruh paradigm utama tradisi sosiologis dan oleh refleksi atas realitas empiris dan organisasi dan prilaku keagamaan.
4.      Persoalan dan Perdebatan
      Perdebatan utama dalam sosiologi agama kontenporer adalah antara pembela dan penentang tesis sekularisasi yang mendominasi teori sosial sejak Comte dan Durkheim. Sekularisasi mengacu pada proses dimana agama kehilangan dominasi atau signifikasi sosial dalam masyarakat.  Mendurnya pengaruh agama dapat diamati dengan indicator-indikator berikut:
a)     Kemunduran partisipasi dalam aktivitas dan upacara-upaca keagamaan.
b)     Kemunduran keanggotaan organisasi-organisasi keagamaan
c)     Kemunduran pengaruh insitusi-insitusi keagamaan dalam kehidupan dan institusi-insitiusi sosial.
d)   Berkurangnya otoritas yang dimiliki dan menurunnya kenyakinan terhjadap ajaran-ajaran keagamaan.
e)     Berkurangnya ketaatan privat, doa dan kenyakinan.
f)  Kemundururan otoritas  tradisioanal yang didukung oleh nilai-nilai moral secara keagamaan.
g)   Berkurangnya singnifikansi soasial dan profesioanal-profesioanal keagamaan, kekurangan dalam lapangan kerja, dan dibeberapa negara inti klerikalisme (mereka yang menentang paham yang mendukung campur tangankan kaum rohaniawan/katolik roma dalam urusan politik).
G.      Pendekatan Teologis
1.    Pendahuluan
    Hubungan antara teologi dan studi agama sangatlah kompleks, oleh karena itu perlu untuk menunjukkan watak dan tahap perkembangan topik ini: Pertama, kita harus menganalisis apa yang dimaksud dengan teologi dan studi keagamaan. Kedua, kita akan meneliti lebih mendalam kesaling terkaitan antara teologi dan studi kjeagamaan. Ketiga, kita akan meneliti berbagai pendekatan teologis dalam studi agama.
2.      Makna teologi
    Teologi adalah bagian dari pendidikan umum, sejauh berkaitan dengan Tuhan dan pada dasarnya teologi mengacu pada candi dengan tujuan akan dipersembahkan kepada tuhan-tuhan di Yunani dan Romawi, mulai dari Aeschylus terdapat suatu gerakan khususnya dikalangan para filosof, untuk mengindentifikasi tuhan-tuhan dengan suatu cara yang sama dengan istila nalar dunia (World Reason). “ada” (being), “Tuhan” (The Divine) atau secara sederhana Tuhan adalah (God).
    Studi keagamaan mencakup lima kategori yang saling melengkapi. Pertama, mencakup tradisi-tradisi besar budha, hindu Kristen, yahudi dan muslim. Kedua, mencakup tradisi-tradisi kecil yang hidup seperti: Jain, Sikh, Taoist dan Zoroastrian (parsi). Ketiga, pada pasarnya ia meliputi tradisi-tradisi yang telah mati yang pernah menjadi media transendensi bagi berjuta-juta orang namun sekarang tidak lagi, misalnya tradisi kuno timur, Gnostik, tradisi Romawi dan Yunani. Keempat, merupakan simbol dalam suatu latar belakang kesukuan. Kelima, Diresprentasikan oleh gerakan-gerakan keagamaan baru khususnya yang muncul diera modern. Seperti Nasionalisme, humanism sekuler dan marxisme mempresentasekan bentuk tradisi keagamaan.
             Adapun konsekuensi terhadap teologi dan studi-studi keagamaan.
1) Teologi Kristen dengan sendirinya tidak dapat menjadi satu-satunya kunci  bagi rethinking ini. Teologi lain Muslim, Yahudi, Hindu Budha dan Konghucu.
2)Terjadi perdebatan, apakah studi keagamaan masuk dalam departemen teologi atau departemen humanitas (departemen ilmu sosial).
3)   Studi keagamaan dan teologi memiliki tugas yang penting dalam ketiga proses pengetahuan. Transendensi (suatu istilah yang lebih tepat disbanding istilah Tuhan, dalam perbincangan yang lebih luas) manusia dan alam, kemuadian dilihat sebagai concern studi keagamaan dan teologi.
Interkonektisitas antara teologi dan studi-studi keagamaan lebih jelas ditujukan pada analisis keragaman model agama. Konsep transendensi Setiap agama memiliki bentuk berbeda-beda  setiap tradisi (Tuhan tiap-tiap agama). Tradisi memiliki delepan elemen yakni:
a.   Komuitas setiap tradisi memliki suatu komunitas keagamaan .
b. Ritual dapat dipahami dalam tiga aspek: penyembahan terus menerus, sakramen, dan upacara-upacara.
c.  Etika: seluruh tradisi memiliki keinginan mengkonseptualisasikan dan membimbing kea rah yang lebih baik.
d. Keterlibatan sosial dan politis: komunitas-komunitas keagamaan merasa perlu terlibat dalam masyarakat yang lebih luas untuk mempengaruhi, mereformasi atau beradaptasi dengannya.
e.  Kitab suci, termasuk mite atau sejarah suci dalam kitab suci dan tradisi oral yang dengannya masrakat hidup
f.  Konsep atau doktrin: tradisi Kristen dengan gagasannya tentang ortodoksi doctrinal lebih menekankan pada konsep dan teologi
g. Estetika, dalam tingkat akar rumput disepanjang sejarah, estetikan merupakan hal yang signifikan.
h.   Spritualitas, menekankan sisi dalam (batin) dari agama.
3.      Teologi Agama-Agama (Theolgies of Religions)
Dalam menganalisis teologi-teologi agama akan didapatkan sejumlah perbedaan teologis dalam tradisi-tradisi keagamaan, perbedaan bisa secara subtansi atau perbedaan kerja teologi,  hal tersebut dapat dilihat sebagai berikut: Pertama, teologi tidak niscaya terbatas pada formulasi doktrinal. Teologi-teolgi dengan ketujuh (ritul, etika, keterlibatan politik, sosial kitab suci, estetika, dan spritualitas) elemen itu menjadi signifikan tidak hanya dalam lingkungan agama Kristen yang berkaitan tetapi dalam inner tradisi-tradisi keagamaan lain. Kadang-kadang elemen dalam tradisi mempunyai titik temu, seperti dalam kasus sprtualitas. Kedua,terdapat beragam tipe teologi dalam masing-masing tradisi, secara mendasar terdapat empat macam tipe:
1) Tipe teologi deskriptif, historis, dan positivistik, berusaha mendiskripsikan apa yang fungsional secara doktrinal tanpa mengabaikan pertimbangan nilai.
2) Tipe tiologi sistematik yang berusah meringkas doktrin-doktrin dari komunitas beriman dalam suatu pengertian pegakuan (confennsional).
3) Tipe teologi folosofis, berusaha terlibat pada posisi-posisi folosofis, dengan membawa dan memberikas reaksi secara serius.
4) Tipe teologi dialog, tipe ini mengandung keinginan secara sengaja tradisi-tradisi lain demi kepentingannya sendiri.
4.    Tujuh Sikap Teologis dalam Tradisi-Tradisi Keagamaan Terhadap Agama yang Lebih Luas
a.    Esklusifisme
     Ekslusifisme beranggapan bahwa satu-satunya posisi yang benar adalah posisinya sendiri, sementara posisi yang lain keliru. Tidak kemungkinan kompromi dengan kebenaran posisi tradisi lain.
b.    Diskontiunitas
     Diskontiunitas antara posisi seseorang dengan orang lain. Dalam agama Kristen, sikap ini menemukan ekspresi teologisnya dalam karya Karl Barth yang menegaskan bahwa wahyu turun dari Tuhan kepada manusia yakni dalam tradisi Yesus Kristus, sementara agama adalah naiknya manusi dalam mencari Tuhan dengan harapan menemukan-Nya. Disini terjadi diskontiunitas antara pencarian Tuhan terhadap manusia melalui wahyu dan pencarian manusia terhadap Tuhan melalui agam.
c.    Sekularisasi dan Spritualisasi
     Posisi yang bersifat sosiolgis dan teologis dan menghasilkan suatu respon pada tingkat spritualitas. Posisi ini merupakan sikap teologis yang pada dasarnya tumbuh dari reflekis barat dan Yahudi-kristen atas dunia sekuler modern, dan respon terhadapnya bagi mereka yang melihat adanya keterbatasan dalam pandangan dunia ilmiah modern dan sekuler.
d.    Penyempurnaan
     Sikap teologis penyempurnaan merupakan sikap teologis yang kuat dalam seluruh tradisi. Menurut sika ini, seluruh tradisi keagamaan memiliki akses pada transendensi, kebenaran dalam pandangan spiritual.
f.     Universalisasi
    Teologi universalisasi satu langkah lebih maju disbanding teologi penyempurnaan. Para penganutnya menegaskan bahawa tidak cukup bagi suatu tradisi untuk menyempurnakan taradisi lain tetapi tradisi-tradisi lain secara otentik harus dimasukkan dalam suatu universalisasi.
g.    Dialog
    Bagi beberapa orang, bukan suatu pendekatan teologis terhadap tradisi kegamaan lain sebagai suatu upaya berhubungan dan bergaul secara berdampingan dengan tradisi-tradisi lain. Bagi mereka dialog lebih merupakan metode ketimbang pendekatan teologis. Dalam hal ini, terdapat elemen kebenaran. Mesekipun demikian, dialog menjadi pendekatan teologis dalam ruang kebenarannya sendiri.
h.    Relativisme
    Menurut Jermen Ernst Troeltsch, dari sudut pandang relativisme kultural, agama-agama memiliki kaitan dengan budaya seperti Islam di Arab, relatifisme, epistimilogis, agama memiliki kaitan dengan orang yang memeluknya  
5.    Teologi Agama: Pencarian Teologi Agama yang Serba Mencakup
        Pencarian tersebut, mencakup tiga hal yakni:
a.    Dalam sudut agama terdapat pencarian terhadap suatu fenomenologis transendensi yang tidak bersifat ontologism (mengenai realitas) namun mengakui bahwa studi agama berkaitan dengan transendensi dalam suatu pegertian fenomenologis (sebagaimana yang dialami).
b.    Dalam studi-studi keagamaan maupun lingkaran teologis terdapat upaya dalam memberi subtansi yang lebih dalam gagasan transendensi sebagai suatu fenomena universal
c.    Dalam lingkaran keagamaan maupun teologis, teredapat pencarian dalam teologi global yang akan berbicara tentang problem-probelem global yang saat ini dihadapi dunia 
6.     Pencarian Fenomenologi Transendensi
      Dalam berbagai karyanya, Eliade lebih suka menggunakan istilah the sacred sebagai sebuah bentuk sinonim bagi transendensi. Dia menyatakan bahwa agama memiliki suatu elemen unik dan tidak dapat diabaikan yaitu elemen the sacred itu sendiri. Titik perhatiannya adalah bagaimana manusia mengalami dan memahami the sacred dalam kehidupan mereka, hal tersebut, lebih menekankan pada fenomenologi ketimbang ontologi the sacred.
7.    Pencarian Teologi Agama
   Alasan perlunya mempertimbangkan kembali studi-studi keagamaan dan teologi sebagai berikut:
1)  Studi-studi keagamaan tumbuh di luar matrik teologi Kristen dan dalam beberapa hal justru melawannya dengan keras
2)   Antuiassme dari kedua sisi tersebut diakhir abad 19 dan awal abad 20
3)   Sejarah dan fenomenologi agam menjadi jembatan antara dua wilayah tersebut.
4) Semua teolog bersedia megakui bahawa sarjana dari berbagai disiplin antropologi, psikologi, sejarah, fenomenologi, filsafat, estetika, dan seterusnya
5)   Para sarjana agama bahwa tradisi keagamaan memuat gagasan transendensi dalam bagian intinya
6)  Para teolog lebih cenderung secara serius mengkaji trades-tradisi lain dan memikirkannya melalui sudut pandang teologi komparatif dan terbuka dan juga teologi confenssional
7) Dari sudut pandang model-model pengetahuan dalam lingkungan global kita saat ini, terdapat kemauan yang lebih besar untuk mengakui bahwa tiga model humanitas (Yunani dan Romawi), kegaamaan dan teologi (Eropa dan Pertengahan), dan ilmu-ilmu kealaman (Barat Modern).
8) Sudah jelas bahwa dalam dunia global, padangan suatu tradisi keagamaan terhadap transdensi yang terwujud dalam dunia Kristen tidak dapat diterima secara universal. Namun transendensi tetap menjadi arketipe global yang penting
9) Meskipun praktisi-praktisi agama tidak begtiu berperan besar namun namun mereka terlibat baik dalam mencela dan maupun menghargai.
10)   Terdapat problem potensial dalam studi-studi keagamaan yang direduksi dalam teologi
11)  Situasi global yang sedang berkembang dengan persoalan ekologis, kemanusiaan, dan moral/transcendental beserta peluang yang ada
12) Arena yang menjanjikan bagi terjadinya refleksi yang saling menguntungkan, terletak dalam dua wilayah teologi agama dan teologi agama-agama global 
8.        Teologi Agama: Peran Transendensi Manusia
     Realitas kemanusiaan merupakan hal yang fundamental untuk memahami transendensi. Transendensi tidak dapat dipakasakan, bukan pula gagasan baku atau abadi. Untuk merasakan atau mengalaminya disyaratkan kesediaan mencarinya tidak hanya jalan masa lampau yang sering dilewati tetapi juga dalam jalan kekinian yang mengejutkan dan jalan masa depan yang menarik.
9.        Teologi Agama: Realitas Transenden
      Realitas transenden melampaui capaian konsep-konsep manusia yakni abadi, tak terbatas, transenden. Meski demikian, terdapat perbedaan antara realitas transenden dengan realitas transende yang dialami dan dipikirkan oleh manusia.
10.     Teologi Agama: Garis Luar
      Garis besar teologi dapat memilih persoalan dua bagian: general dan doktrinal. Di dalam teologi agama general-manusia, melalui keimanan sebagai suatu kategori teologis universal, dengan menggunakan tradisi keagamaan dan rangkaian kedelapan elemen itu sebagai cara untuk mmahami atau dipahami oleh transendensi, kategori teoologi universal lainnya-orang dapat melihat gambaran doktrinal yang lebih terperinci yang memiliki signifikansi universal.
11.     Pencarian Teologi Agama-Agama Global
       Pencarian suatu teologi agama global terpaksa cendrung tetap bersifat general bahkan pada tingkat etika sisial, mungkin terjadi ketidaksepakatan dalam masalah-masalah etis terkait dengan indiividu-individu seperti KB, aborsi dan homoseksual.
12.   Teologi Agama-Agama Global: Ke Arah Etika Global
       Etika global tidak bersifat eologi dalam pengertian bahwa ia secara langsung bersifat doktrinal dan transendental.




[1] Imajinatif diluar perspektif religius yang dimiliki agar memiliki banyak ide
[2] Pandangan dunia nonreigius
[3] Classical  Approaches to the study of Religion (1973)
[4] Hegel mengembangkan tesis bahwa esensi dipahami melalui penyelidiksn atas penampakan dan manifestassi (Ershinugment) dan bertujuan untuk menunjukkan bagaimana sebuah karya membawa pada pemahaman bahwa seluruh fenomena dalam variannya.
[5] Orang yang pertama memahami fenomenologi agama sebagai disiplin ilmiah. Pandangannya sangat berpengaruh “satu sisi mengakui pentingnya Hegel, dan disisi lain mengacu kembali pada Kaisar India Akbar (1555-1606).
[6] Seorang kristen libral yang memiliki komitmen dalam pengertian yang lebih jelas dibanding tokoh-tokoh lain semasanya dan karena pandangannya yang teliti dan tajam serta mendalam tentang apa yang ‘tampak’ , van der leeuw menyebutnya pelopor terjadinya perubahan arah dalam sejarah agama.

No comments:

Post a Comment

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...