RESUME BUKU
Judul Buku
|
:
|
Aneka Pendekatan Studi Agama
|
Pengarang
|
:
|
Peter Connolly
|
Penerbit, Tempat & Tahun
Terbit
|
:
|
LkiS, Yogyakarta, 2012
|
Tebal Buku
|
:
|
404
|
Tujuan
|
:
|
Memberikan
pengenalan awal berbagai pendekatan terhadap agama, yakni pendekatan
antropologis, fenomenologis, feminis, filosofis, sosiologis, psikologis, dan
teologis. Meskipun tampak berdasar pada pembelahan disiplin ilmu secara
tradisional, namun ia tak lebih merupakan penyederhanaan dan ujungnya sifat
interdisiplin terhadap agama akan tampak dalam buku ini.
|
PENDAHULUAN
Petter Connoly mengakui pengaruh agama pada sektor-sektor tentang
populasi dunia dan sedikit ada keraguan dibenaknya tentang adanya sesuatu yang
bernilai dalam agama. Oleh sebab itu, sangat dianjurkan untuk mengorentasikan
diri dan belajar memahami maksud penulis dalam penguraian materi-materi agar
tidak terjadi pertentangan yang bersifat otoritatif.
Penuangan 7 approaches ini tentu memiliki titik tekan yang
berbeda-beda dan membawa asumsi yang berrbeda pula dalam penelitian. Dan selain
itu, Ninian Smart menganjurkan untuk menggunakan agnotisisme metodoogis dalam
studi agama agar peneliti berfikir yang terbuka. Yang berkompeten membawa
sejumlah filter perseftual dan interfretatif. Pada umumnya, tantangan yang
dihadapi seorang peneliti itu, sebagian dari insider[1]
dan sebagian juga dari outsider[2]. Singkatnya
Petter Cannoly memberikan uraian konsepsi dan praksis dengan harapan bisa
direalisasikan dalam penelitian yang lebih spesifiknya pada penghubungan
fenomena keagamaan yang diminati dengan ide, wawasan dan teknik yang terkait.
A.
Pendekatan
Antropologis
1.
Perkembangan Historis
Pendekatan Antropologis
Sepanjang waktu,
pemahaman tentang antropologi selalu mengalami perubahan dan pada abad XIX,
antropologi bermula sebagai penelitian evolusionis. Pandangan itu memproleh
dukungan dari karya Darwin tentang evolusi biologis. Namun dengan adanya
keterkaitan antara teori evolusi dengan era kolonial menimbulkan perdebatan
sengit dari kalangan antropolog-antropolog. Bagi sebagian orang, prilaku aneh
yang sangat berbeda dan tidak dikenal, memperkuat kebenaran pandangan mereka
dan sebagian lainnya, kontinuitas historis yang diyakini semua orang antara
primitif dan modern adalah cara menolak kepalsuan dan meruntuhkan agama. Hal
ini dapat kita lihat dari 2 karya yang berbeda yakni: The Golden
Bough (Sir James Frazer) dan The Element Froms of Relegious Life
(Email Durkheim). Kedua karya ini melihat seluruh agama sebagai bentuk magicfertilitas.
Adapun pada edisi selanjutnya Frazer melakukan
skema evolusi sederhana, sejarah manusia melewati 3 fase yang didominasi oleh: magic,
agama, dan ilmu. Lain halnya dengan Durkheim bahwa mengambil contoh dari
seluruh dunia dengan kurang memerhatikan konteks aslinya dan menimbunnya
terlalu tinggi seperti yang dilakukan
Frazer, karena itu merupakan metode antropologi yang keliru. Menurutnya,
eksperimen yang dilakukan dengan baik dapat membuktikan adanya aturan yang
ganjil, dan mengatakan perlunya menguji sebuah contoh secara mendalam, seperti
agama Aborigin di Arunto Australia Tengah. Terlepas dari kontroversi terhadap
penelitiannya, yang jelas Durkheim telah memberikan ispirasi kepada
antropolog-antropolog untuk menggunakan studi kasus dalam mengungkap sebuah
kebenaran. Setelah Frazer dan Durkheim, kajian antropologi agama terus
mengalami perkembangan dengan varian approach penelitiannya. Beberapa
antropolog mengorentasikankan kajian agamanya pada psikologi ognitif,
sebagiannya pada feminisme, dan sebagian lainnya pada sejarah sosiologis.
2.
Karakteristik Dasar
Pendekatan Antropologis
Salah satu konsep kunci terpenting
dalam antropologi modern adalah holisme, yakni pandangan bahwa praktik-praktik
sosial harus diteliti dalam konteks dan secara esensial dilihat sebagai praktik
yang berrkaitan dengan yang lain dalam masyarakat yang sedang diteliti. Para
antropolog harus melihat agama dan praktik pertanian, kekeluargaan, politik,
magic, dan pengobatan secara bersama-sama. Dalam artian, agama tidak bisa
dilihat seebagai sistem otonom yang tidak terpengaruh oleh praktik-praktik
sosial lainnya.
Beberapa tahun terakhir,
ketika dekonstruksi postmodernisme yang sedang digemari menjalar melalui ilmu
sosial, approach holistik mendapat serangan. Jika ada masa-masa
keemasan, kerangka kerja fungsionalisme struktural lebih membesarkan watak
sistematik yang ditelitinya, namun saat ini sudah dibuka peluang terhadap
fungsionalis struktural. Karya yang melakukan hal ini dapat dilihat dalam Lugbara
Religion hasil penelitian Middleton. Dalam karyanya tersebut, dia lebih
senang memilih istilah Inggris daripada bahasa Lugbara itu sendiri, misalnya ancertor
(nenek moyang), ghost (hantu), witchcraft
(ilmu ghaib) dan sorcery (ilmu sihir). Kendatipun
demikian, karya Middleton tidak mengurangi kekayaan etnografi, buktinya siapa
saja yang membaca hasil karyanya masih merasakan proses aksi sosial dan agama
seperti yang benar-benar dipraktikan. Dengan caranya ini, terlihat adanya
pergeseran karakteristik penelitian, dari karakteristik struktural ke “makna”.
Karakteristik antropologi
bergeser lagi dari antropologi “makna” ke antropologi interpretatif yang lebih
global, seperti yang dilakukan oleh C. Geertz. Ide kuncinya bahwa apa yang
sesungguhnya penting adalah kemungkinan menafsirkan peristiwa menurut cara
pandang masyarakat itu sendiri. Penelitian seperti ini harus dilakukan dengan
cara tinggal di tempat penelitian dalam waktu yang lama, agar mendapatkan
tafsiran dari masyarakat tentang agama yang diamalkannya. Jadi, pada intinya
setiap penelitian yang dilakukan oleh antropolog, memiliki karakteristik
masing-masing, dan bagi siapa saja yang ingin melakukan penelitian dengan
pendekatan antropologi, bisa memilih contoh yang telah ada atau menggunakan
pendekatan baru yang diinginkan.
3.
Persoalan dan Perdebatan
Perdebatan panjang
diantara antrologi tentang bagaimana agama harus didefinisikan. Beberapa agama
tidak memiliki kode etik, sebagian lainnya tidak memiliki kitab suci atau
tradisi oral, Theravade Budhisme secara khusus tdak menaruh perrhatian penuh
terhadap adanya korelasi dengan Tuhan. Menyinggung dari pendefinisian, tentunya
kontroversi sering merefleksikan perbedaan-perbedaan. Beberapa persoalan yang
terus diperdebatkan dalam karya-karya antropologis tentang agama sebagai
berikut: 1) Terkait wilayah keagamaan yang traskultural/spritual, 2) Interpretasi
agama, 3) Kekuatan inserpatif agama, 4) Tolak ukur melihat keyakinan seseorang
dan tugas antropologi sebagai pendekat keyakinan dan praktiknya, 5) Kevalidan
menafsirkan komunitas monistik Theravada Budhist di Burma, 6) Kerelevanan
kitab-kitab untuk memahami keyakinan pengikutnya yang awam dan pengukuran
jurang terjadi antara agama para ahli yang menjaga kitab suci dengan masyarakat
awam. Meskipun disini telah dijelaskan adanya perbedaan antara antropolog,
semua sepakat bahwa tidak ada agama atau budaya masyarakat lain yang dapat
diterima taken for granted, dan itu merupakan kesalahan yang menyedihkan bila
memaksakan kembali apa yang dikatakan teks terhadap apa yang diyakini dan
dipikirkan masyarakat awam.
B.
Pendekatan
Feminisme
1.
Pendahuluan
Pendekatan feminis dalam
studi islam merupakan suatu trasformasi kritis dari perspektif teoritis yang
ada dengan menggunakan jender sebagai kategori analisis utamanya. Adapun tujuan
utama dari tugas feminis adalah mengidentifikasi sejauh mana terdapat
persesuaian antara pandangan feminis dan pandangan keagamaan terhadap kedirian,
dan bagaimana menjalin intraki yang paling menguntungkan antara yang satu
dengan yang lain. Dimensi kritis ini menentang pelanggengan historis terhadap
keadilan dalam agama, praktik-praktik ekslusioner yang melegitimasi
superioritas laki-laki dalam setiap bidang sosial. Aspek trasformatif kemudian
meletakkan kembali simbol-simbol sentral, teks, dan ritual-ritual tradisi
keagamaan secara lebih cepat untuk memasukkan dan mengokohkan pengalaman
prempuan yang diabaikan. Pada analisis level pertama, feminis tidak hanya
mendokumentasikan sumber-sumber agama yang memiliki resepsi distortif terhadap
prempuan, melainkan berusaha mengemukakan alasan-alasannya.
2.
Perkembangan
Historis Pendekatan Feminis
Asal usul
bentuk yang dapat dikenal dari feminisme religius Anglo-American yang
terorganisir muncul pada abad XIX dan didominasi oleh 2 isu utama, perbedaan
tentang persamaan akses terhadap jembatan pendeta (ministry) dan
kritisisme Injil. Dan salah satu teori eksplanatoris yang paling berpengaruh
dikemukakan oleh Rosemary Radford Reuther dalam bukunya Religion and Sexism
(1974) dan New Woman, New Eart: Sexist Ideologist and Human Liberation
(1975) ia menyatakan bahwa pencemaran keagamaan terhadap perempuan bergantung
pada serangkaian kesalahan teologis dan dualisme antropologis. Teolog-teolog
Kristen awal yang mendukung antropologi Aristotelian yang cacat dimana prempuan
dianggap sebagai bentuk laki-laki yang hina akal, fisik, dan moralitasnya
dianggap tidak sempurna.
Supaya pengalaman
mereka dapat dikatakan shohih, sebagai bentuk pengetahuan keagamaan yang legitimate
dan mengubah watak parsial model teoritis dominan, feminis menunntut
reorientasi fundamental dalam studi agama dimaksukkannya “experience”
perempuan dalam aspek analisis keagamaan dan teologis seperti dikemukakan
Reuther dalam Sexist and God-Talk (1983) meskipun bagi refleksi teologis
sendiri kriteria pengalaman bukan kategori unik yakni kesadaran diri untuk
menarik pengalaman prempuan secara pasti.
3.
Karaktertristik
Dasar Pendekatan Feminis
Sejak tahun 1980,
pertumbuhan dan diversifikasi pendekatan feminis dicirikan dengan upaya untuk
menciptakan sumberr materil baru dan digunakannya paradigma kesarjanaan
keagamaan yang bar, memperbaiki model androsentris sebelumnya dengan
mengistimewakan pengalaman perempuan. Pertama, femenis tidak mesti harus
membuang metafora-metafora tradisional meskipun mereka berusaha mengacaukan dan
mentransendisikan batasan-batasan pratiarki metafora-metafora tersebut. Seperti
apa yang dikemukakan Ursula King
“barangkali bukan hal yang bijak dan tidak perlu untuk tidak meninggalkan image
Tuhan Bapak...., tetapi pandangan terhadap keyakinan yang sedanng hidup juga
menghendaki tidak semata-mata mewarisi simbol yang tidak lagi berbicara dengan
mudah kepada kita”. Pendekatan kedua mengacu kepada “tradisi kenabian Yesus”
dalam Injil, sebuah tema dasar yang oleh feminis dinyatakan sebagai bukti
kemampuan Injil memunculkan perspektif kritisisme diri terhadap patriarki
dengan bersumber pada Injil sendiri. Karakteristik perspektif feminis ketiga
adalah penemuan kembali sejarah keagamaan perempuan.
4.
Persoalan dan Perdebatan
Diantara
persoalan dan perdebatan tersebut yakni: (1) Persoalan pluralitas kutural dan
rasial, (2) Persoalan separaisme feminis. Alhasil, pendekatan feminis telah dan
terus berfungsi sebagai suatu percobaan untuk menguji kemampuan agama
mendefinisikan kebermaknaannya sendiri dalam konteks pluraliskontemporer dan
menghadapi tantangan postmodernisasi.
C.
Pendekatan Fenomenologis
1.
Pendahuluan
Makna istilah fenomenologi
tidak pernah terbakukan secara tegas namun fenomenologi berperan dengan cara
yang khas. Dan secara tradisional, teologi merupakan methode pengurai makna
keagamaan dalam batasan masyarakat Barat dan konteks tradisi kristen. Untuk
menguak kebenaran terwahyu, Rousseau, Kant dan Hume sempat berdebat dan hasil
perdebatan itu menghasilkan disiplin-disiplin akademik baru sosiologi, dan
psikologi. Bersamaan dengan hal tersebut fenomenologi lahir dan ditawarkan
dengan pendekatan-pendekatan teologis.
2.
Perkembangan Historis
Pendekatan Fenomonologi
Pendekatan Fenomonologi bertugas
menunjukkan bahwa agama perlu dikaji secara serius dan memberi kontribusi
terhadap pemahaman tentang humanitas dengan cara yang positif. Sebagaimana
diuraikan dalam penelitian yang dilakukan Jaques Waardenbrg[3],
subtansi kritik Freud dan kecendrungan analisis Feuerbach dan marx.
Fenomenologi agama muncul
bukan dari perdebatan tersebut, melainkan dari evaluasi atas anteseden dan
berusaha menetapkan kerangka kerja metodologis dalam studi gama dalam kaitannya
sebagai pendekatan alternatif terhadap subyek agama.
Pendekatan fenomenologi
mula-mula merupakan upaya membangun suatu metodologi yang koeren bagi study agama.
Tapi seiring berjalannya waktu pendekatan ini berkembang dipengaruhi oleh 2
filsafat yakni Filsafat Hegel[4]
dan Filsaffat Edmund Husserl. Adapun pokok persoalan Fenomenologi yakni: Pertama,
mempertimbangkan karya sejumlah figur historis utama dalam tradisi fenomenologi
seperti Van der Leeuw, Pierre Daniel Chantepe de la Saussaye[5],
Nathan Soderblom[6]
dan William Brede Kristensen. Kedua, penjelasan tentang penentuan peran
fenomenologi merupakan kontribusi utama.dalam mengukuhkan fenomenologi sebagai
suatu disiplin sendiri.
3.
Karakteristik
dasar Pendekatan Fenomenologi
Karakteristik pendekatan
fenomenologi ditemukan dalam batasan-batasan sebagai berikut: 1) Fenomenolog
yang concern melaksankan suatu kajian agama “deskripsi” yang bertujuan untuk
mengukuhkan pengetahuan tentang berbagai eksprresi fenomena. 2) Melindungi dari
serangan kritik, fenomenologi secara langsung dapat terlibat dengan
persoalan-persoalan hermeneutik dan membangun suatu metodologi yang
menggambarkan suatu pendirian teoritis partiikular.
4.
Persoalan dan Perdebatan
Fenomenologi sebagai
suatu gerakan yang tidak lain dari penuntut status studi agama ilmiah dan
keragaman klasifikasi, objek, dan metode kajian menunjukkan pluralisme
fenomenologi dibawah satu disiplin. Dan perdebatan kritis terjadi dalam bidang
sejarah agama-agama atau studi agama-agama yang bersifat ilmiah belum melampai
putusan historis tentang pendekatan fenomenologis, namun perdebatan seputar
nilai fenomenologi diberikan oleh kritik-kritik baru, khususnya dalam bidang
antropologi , filsafat, dan studi-studi kultural, seperti ditulis oleh seorang
cendekiawan kontemporer.
Salah satu yang mengkritik objek studi pendekatan fenomenologi adalah
Tworushka. Ia mengatakan “teori fenomenologi ini mendeskriminasikan massa yang
tidak produktif dengan keyakinan-keyakinan umum yang dimiliki sehingga mereka
disebut religiusitas popular. Pergeseran objek study yang diusulkan
fenomenologi memiliki implikasi penting. Pertama, memberi penekanan pada
watak kontemporer fenomena. Kedua, lebih memfokuskan individual,
kelompok, dan pandangan keagamaan “sehari-hari” daripada melihat tradisi
otoritas dan pernyataan doktrinal tentang tema-tema teologis. Ketiga,
mengakui bahwa pluralitas tidak hanya terdapat dalam serangkaian tradisi
melainkan pada realitas agama yang jauh lebih kompleks baik realitas lokal
maupun global, dinamis maupun tradisionalis, dan bahwa bentuk-bentuknya lebih
serring berubah dan saling terkait daripada apa yang diasumsikan orang. Keempat,
hubungan antara budaya dan agama merupakan hubungan yang kompleks.
Jackson menarik
kesimpulan bahwa “fenomenologi gagal menyiapkan perangkat-perangkat untuk
menafsrkan pandangan dunia orang lain dengan sedikit distorsi. Dan beralih pada metode antropologi Clifford
Geertz dan kritik kultural Edward Said terhadap kemurnian.
D.
Pendekatan
Filosofis
1.
Pendahuluan
Pendekatan filosofis
dalam studi agama saat ini sedang mengalami krisis identitas. Dan itu diperjelas
oleh dua pernyataan: 1) Terkait denga tempat, posisi pendekatan filosofisndalam
studi islam, 2) Alasan banyaknya konteks yang berbeda-beda menyebabkan kritis
identitas dan step yang dilakukan dalam menggunakan pendekatan filosofis dalam
studi islam. Mungkin metode yang sering digunakan dalam studi keagamaan untuk
mengkaji agama acap kali disebut dengan “pendekatan fenomenologi”, dimana
penekanannya lebih pada upaya penyingkapan dan pemahaman fenomena agam daripada
menilai evidensi dan mengevaluasi kebenaran apa-apa yang dikelaim agama. Namun
perangkat dan teknik digunakan meneliti persoalan teoologi dan memungkinkan
menjadikan teologi lebih baik sehingga kadang-kadang pendekatan ini disebut
dengan “pendekatan fiosofis”. Terkait dengan itu muncullah dua hal yakni: 1) Ketidak
mungkinan membicarakan penekatan filosofiis terhadap agama karena terdapat
banyaknya pendekatan filosofis dan perlu kehati-hatian dalam menggunakannya, 2)
Pendekatan yang digunakan pada konteks ‘tempat/lokasi’ melakukan penelitian.
Timbulnya persepsi-persepsi dari tuduhan filsafat sebagai bid’ah oleh
Turtellian atas konsepsinya terhadap
filsafat: a. Watak filsafat, konsepsi ini mengambil 3 bentuk yakni: 1) Mengambil
bentuk tuduhan tentang ketidakrelaan, 2) Persoalan relevansi dikaitkan dengan
persoalan nilai guna filsafat, 3) Konsekuensi dari dari apa yang telah
dikatakan. b. Filsafat memiliki reputasi sebagai sesuatu yang sulit, dalam
pengertian sebagai sesuatuyang bersifat intelektual. c. Dilihat
ketika masyarakat mengacu pada filsafat
populer.
Keterkaitan anatara
filsafat dengan agama terfokus pada rasionalitas, dapat dinyatakan bahwa suatu
pendekatan filosofis terhadap agama adalah suatu proses rasional. Yang dimaksud
dengan proses rasional mencakup 2 hal yakni: 1) Menunjukkan fakta bahwa akal memainan
peran fundamental dalam refleksi pengalaman dan keyakinan keagamaan dalam suatu
tradisi keagamaan, 2) Menunjukkan fakta bahwa dalam menguraikan keimanannya,
tradisi keagamaan harus dapat menggunakan akal dalam memproduksi
argumen-argumen logis dan dalam membuat klaim-klaim yang dapat dibenarkan.
Persoalan refleksi dan penalaran adalah suatu proses yang membutuhkan upaya dan
perhatian yang berkesinambungan. Jika dikatakan filsafat tidak berfaidah, maka
perlu dinyatakan 2 hal: 1) Memahami bahwa pada dasarnya filsafat adalah suatu
‘aktivitas’, sesuatu yang mesti ’dilakukan’ oleh individu. 2) Aktiitas filsafat
adalah belajar bagaimana berfikir-suatu proses yang melibatkan produksi alasan
dan argumen. Terkait dengan itu, Antony Flew menspisifikkannya “pengaruh
pencampuradukan antara ide tentang bukti dan persuasi adalah dukungan bahwa
tidak ada yang valid kecuali jika dimungkinkan untuk meyakinkan seluruh
penentang validitasnya.
2.
Perkembangan Historis
Pendekatan Filosofis
Asal usul datangnya
filsafat pada abad 5 SM, saat ini dilihat sebagai disiplin yang melatih orang
dalam seni berfikir. Dalam kaitannya dengan agama, terdapat banyak varian
pendekatan filosofis dengan alasan: 1) Budaya yunani adalah politeistik,
dikelilingi oleh banyak tuhan yang merupakan bagian dari kosmos dan dibangun
oleh hukum-hukum dan prinsip-prinsip mpersonal yang sama berjalan dalam kosmos
sebagai hal yang berlaku pada manusia. 2) Para filsuf awal mulai membuang mite
dan sejarah-sejarah dunia yang tidak memiliki landasan dan menggunakan
rasionalitas krisis untuk menginterpretasikan dunia untuk mencapai pengetahuan.
Dalam perkembangan tradisi Judaeo-Kristen mengemukakan 3 alasan
digunakannya pendekatan filosofis terhadap agama menjadi suatu persoalan untuk pertama
kali: 1) Agama kristen menolak bila dijadikan suatu pribadahan lokal atau agama
negara dan menuntut kesetiaan yang sempurna dari setiap orang lain. 2) Agama
kristen menolak mite-mite politeistik dengan menegaskan adanya Tuhan
monoteistik dan universal yang memberikan penyelamatan, khusus dalam diri Yesus
Kristus. 3) Tuhan adalah pencipta personal dan pengatur alam, yang memberikan
janji kebangkitan dan kehidupan abadi bagi yang mengimani Kristus. Secara
khusus dapat mengidentiifikasikan 4 posisi utama mengenai huubungan antara
filsafat dan agama, sebagaimana muncul dalam seluruh sejarah perdebatan antara
lain: 1) Filsafat sebagai agama, 2) Filsafat sebagai pelayan agama, 3) Filsafat
sebagai yang membuat ruang bagi keimanan, 4) filsafat sebagai suatu perangkat
analiitis bagi agama. Dari keempat posisi ini ditambahkan bahwa: 5) Filsafat
sebagai studi tentang penalaran yang digunakan dalam pemikiran keagamaan.
3.
Karakteristik prilsipil
pendekatan Filosofis
Pada umumnya pendekatan
filosofis memiliki 4 cabang sebagai berikut: 1) Logika, cabang ini merasuk ke
seluruh proses beragumentasi dengan seseorang menjadikannya lebih cermat dan
meningkatkan proses. 2)Metafisika, menunjukkan concern pada
komprensifitas. 3) Epistemoologi (gabungan dari logika dan metafisika),
menitikberatkan apa yang dapat diketahui, dan bagaimana kita mengetahui “memberi
perhatian pada knowledg dan bagaimana memprolehnya. 4) Etika, menitikberatkan
perhatian pada pertanyaan-pertanyaan tentang kewajiban, keadilan, cinta dan
kebaikan.
4.
Persoalan dan Perdebatan
Pendekatan filosofis
dalam studi agama memuat serangkaian wilayah umum antara lain: 1) Studi bahasa
keagamaan dan dapat disebut dengan pemahaman agama “kultural linguistik”, 2) Persoalan kejahatan dan terfokus pada
teodici dalam kaitan dengan penderitaan dan kesengsaraan, 3) Persoalan
perbuatan Tuhan di dunia, suatu cara singkat yang mengacu pada sejumlah
persoalan yang lebih spesifik.
E.
Pendekatan Psikologis
1.
Pendahuluan
Psikologi agama merupakan cabang psikologi
yang concen dengan subjek agama,
sejajar dengan psikologi pendidikan atau psikologi olahraga, atau psikologi
klinis. Dan karya yang diterbitkan dengan menggunakan judul “psikologi agama”
dan judul yang terkait dan menunjukkan sebagai cabang yang cukup besar. Namun
kenyataannya, psikologi agama berada di bagian luar mainstream psikologi. Di
Inggris psikologi agama lebih mungkin ditemukan di departemen studi-studi
keagamaan atau teologi ketimbang departemen psikologi. Hal serupa juga terjadi
di Amerika Serikat mesikipun tidak terlalu banyak. Di Amerika terdapat lebih
banyak psikolog dibanding di Inggris, orang Amerika cendrung lebih agamis
dibanding di Inggris, dan Amerika tempat lahirnya psikolog agama. Oleh karena
itu departemen psikologi di Amerika lebih intensif memberikan psikologia agama
dibandingkan departemen di Inggris. Adapun perbedaan antara psikologi agama (psychology
of religion) dan psikologi keagamaan (religious psychology)
psikologi agama mengacu kepada penerapan metode-metode dan data psikologis ke
dalam studi tentang kenyakinan, pengalaman, dan sikap keagamaan. Sedangkan
psikologi keagamaan mengacu kepada penggunaan metode dan data psikologis oleh
orang yang agamis dengan tujuan memperkaya atau membela keyakinan-keyakinan,
pengalaman dan prilaku keagamaan.
2.
Perkembangan
Historis Pendekatan Psikologis
Wilhelm Wundt sebagai
orang yang membawa psikologi sebagai suatu ilmu dengan mendirikan laboratorium
psikologis di Universitas Leipzig tahun
1879. Pada tahun 1979 asiosiasi Psikologi Amerika mengembangkan pendapat ini
dengan mempersiapkan medali perak dengan gambar dan nama Wilhelm Wundt disatu
sisi dan katanya. Namun sebenarnya William Jameslah, seorang tokoh pertama
psikologi agama berkebangsaan Amerika. Pada tahun 1891 James menerbitkan karya
besarnya The Principles of psyicohology dan tahun 1901 The Verietes of Religious
Experience. Dua kaya itu merupakan sumbangan besarnya dalam psikologi.
3.
Krateristik
Dasar Pendekatan Psikologis
Dalam pendekatan keras, spectrum psikologi
kuantitatif adalah psikologi fisologis, behaviourisme, psikologi kongnitif, dan
bergerak kearah yang lebih memusat psikologi sosial. Dalam pendekatan lunak
bagian psikologi kuantitatif adalah berbagai mazhab psikodinamik yang terkait
dengan teoritisi-teoritisi yang berpegaruh seperti Sigmund Freud (psikonisasi),
Carl Gustav Jung (psikologi analitik) dan Melanie Klein (psikologi objek
relasi), termasuk psikologi humanitik, eksistensial dan psikologi transpersoanal.
4.
Persoalan dan
Perdebatan
Disebabkan oleh adanya keragaman presfektif
dalam psikologi agama, skop perselisihan dan perdebtan sangatlah luas. Namun
tidaklah tepat jika dikatakan bahwa wilayah psikologi agama dicirikan dengan
kontroveksi. Hal ini disebabkan karena intraksi antara tokoh-tokoh dari
berbagai presfektif sungguh terbatas. Perselisihan dan perdebatan kebanyakan
terjadi lebih dalam presfektif daripada lintas presfektif. Psikoanalis jarang
mengkritik psikologi soasial, psikologi sosial jarang mengkritik psikoanalis.
F.
Pendekatan
Sosiologis
1.
Pendahuluan
Pendekatan sosiologis dibedakan dari
pendekatan studi agama lainnya karena
fokus perhatiannya pada intraksi antara agama dan masyarakat. Karena agama
merupakan salah satu bentuk konstruksi sosial. Sosiolog juga mencurahkan
perhatiannya pada studi kolektivitas religious sebagai mikrosmos masyarakat,
dimana proses dan pola sosial dapat
diamati dengan jelas karena krakter komunitas keagamaan yang tertutup
atau terbatas seperti biara dan sekte-sekte tertentu atau gerakan keagamaan
baru.
2.
Perkembangan
Historis Pendekatan Sosiologis
Semenjak lahirnya sosiologi concern dengan
studi agama, meskipun perhatian terhadap agama menguat dan melemah. Karya-karya faunding fathers
sosiologi, termasuk Conte Durkheim, Marx dan Weber sering mengacu pada
wacana-wacana teologis atau studi prilaku dan system keyakinan keagamaan. Pada
abad pertengahan 20 sosiolog-sosiolog baik di Eropa maupun di Amerika Utara.
Terlihat bahwa agama memiliki signifikansi marginal dalam dunia sosial dan
sosiologi agama bergerak dalam garis tepi studi sosiologis. Karya Durkheim
memiliki pengaruh besar terhadap sisiologi agama yang dapat dilihat melalui
vearsi-versi trtentu dari teisis sekularisasi, dalam pendekatan Robert Bellah
terhadap agama sipil dan nilai-nilai moral di Amerika Utara kontenporer dan
dalam karya Bryan Wilson yang membahas mengenai fungsi agama. Wilson menyatan
bahwa agama memiliki fungsi psikologis dan sosial yang krusial bahkan dalam
masyarakat modern yang teratur secara teknis dan rasional meliputi perwujudan
makana dan tujuan hidup.
Waber merupakan
tokoh utama dalam memunculkan subdisiplin sosiologi yang dikenal dengan
sosiologi agama, karena karyanya yang berjudul The Sociology of Religion
merupakan satu volume kajian yang ekstensif dan kompratif mengenai intraksi
agama dan organisasi sosial.
3.
Krakteristik
Dasar Pendekatan Sosiologis
Teorisasi psikologis tentang watak agama serta
kedudukan dan signifikansinya dalam dunia sosial, mendorong ditetapkannya
serangkaian kategori-kategori sosiologis, meliputi:
a) Stratifikasi sosial, seperti kelas
dan etnisitas.
b) Kategori biososial, seperti seks,
gender, perkawinan, keluarga, masa kanak-kanak dan lanjut usia.
c) Pola organisasi sosial dimeliputi politik,
produksi ekonomis, system-sistem pertukaran dan birokrasi
d) Proses sosial, formasi batas, relasi
intergroup, interaksi personal, penyimpangan dan globalisasi.
Peran kategori-kategori itu dalam studi sosiologis terhadap agama
ditentukan oleh pengaruh paradigm utama tradisi sosiologis dan oleh refleksi
atas realitas empiris dan organisasi dan prilaku keagamaan.
4.
Persoalan dan
Perdebatan
Perdebatan utama dalam sosiologi agama
kontenporer adalah antara pembela dan penentang tesis sekularisasi yang mendominasi
teori sosial sejak Comte dan Durkheim. Sekularisasi mengacu pada proses dimana
agama kehilangan dominasi atau signifikasi sosial dalam masyarakat. Mendurnya pengaruh agama dapat diamati dengan
indicator-indikator berikut:
a)
Kemunduran partisipasi dalam
aktivitas dan upacara-upaca keagamaan.
b) Kemunduran keanggotaan
organisasi-organisasi keagamaan
c) Kemunduran pengaruh
insitusi-insitusi keagamaan dalam kehidupan dan institusi-insitiusi sosial.
d) Berkurangnya otoritas yang dimiliki
dan menurunnya kenyakinan terhjadap ajaran-ajaran keagamaan.
e) Berkurangnya ketaatan privat, doa
dan kenyakinan.
f) Kemundururan otoritas tradisioanal yang didukung oleh nilai-nilai
moral secara keagamaan.
g) Berkurangnya singnifikansi soasial
dan profesioanal-profesioanal keagamaan, kekurangan dalam lapangan kerja, dan
dibeberapa negara inti klerikalisme (mereka yang menentang paham yang mendukung
campur tangankan kaum rohaniawan/katolik roma dalam urusan politik).
G.
Pendekatan
Teologis
1.
Pendahuluan
Hubungan antara teologi
dan studi agama sangatlah kompleks, oleh karena itu perlu untuk menunjukkan
watak dan tahap perkembangan topik ini: Pertama, kita harus menganalisis
apa yang dimaksud dengan teologi dan studi keagamaan. Kedua, kita akan
meneliti lebih mendalam kesaling terkaitan antara teologi dan studi kjeagamaan.
Ketiga, kita akan meneliti berbagai pendekatan teologis dalam studi
agama.
2.
Makna teologi
Teologi adalah bagian dari pendidikan
umum, sejauh berkaitan dengan Tuhan dan pada dasarnya teologi mengacu pada
candi dengan tujuan akan dipersembahkan kepada tuhan-tuhan di Yunani dan
Romawi, mulai dari Aeschylus terdapat suatu gerakan khususnya dikalangan para
filosof, untuk mengindentifikasi tuhan-tuhan dengan suatu cara yang sama dengan
istila nalar dunia (World Reason). “ada” (being), “Tuhan” (The
Divine) atau secara sederhana Tuhan adalah (God).
Studi keagamaan mencakup lima kategori yang saling melengkapi. Pertama,
mencakup tradisi-tradisi besar budha, hindu Kristen, yahudi dan muslim. Kedua,
mencakup tradisi-tradisi kecil yang hidup seperti: Jain, Sikh, Taoist dan
Zoroastrian (parsi). Ketiga, pada pasarnya ia meliputi tradisi-tradisi
yang telah mati yang pernah menjadi media transendensi bagi berjuta-juta orang
namun sekarang tidak lagi, misalnya tradisi kuno timur, Gnostik, tradisi Romawi
dan Yunani. Keempat, merupakan simbol dalam suatu latar belakang
kesukuan. Kelima, Diresprentasikan oleh gerakan-gerakan keagamaan baru
khususnya yang muncul diera modern. Seperti Nasionalisme, humanism sekuler dan
marxisme mempresentasekan bentuk tradisi keagamaan.
Adapun konsekuensi terhadap
teologi dan studi-studi keagamaan.
1) Teologi Kristen dengan sendirinya
tidak dapat menjadi satu-satunya kunci
bagi rethinking ini. Teologi lain Muslim, Yahudi, Hindu Budha dan
Konghucu.
2)Terjadi perdebatan, apakah studi
keagamaan masuk dalam departemen teologi atau departemen humanitas (departemen
ilmu sosial).
3)
Studi keagamaan dan teologi memiliki tugas
yang penting dalam ketiga proses pengetahuan. Transendensi (suatu istilah yang
lebih tepat disbanding istilah Tuhan, dalam perbincangan yang lebih luas)
manusia dan alam, kemuadian dilihat sebagai concern studi keagamaan dan
teologi.
Interkonektisitas antara teologi dan studi-studi keagamaan lebih
jelas ditujukan pada analisis keragaman model agama. Konsep transendensi Setiap
agama memiliki bentuk berbeda-beda
setiap tradisi (Tuhan tiap-tiap agama). Tradisi memiliki delepan elemen
yakni:
a. Komuitas setiap tradisi memliki
suatu komunitas keagamaan .
b. Ritual dapat dipahami dalam tiga
aspek: penyembahan terus menerus, sakramen, dan upacara-upacara.
c. Etika: seluruh tradisi memiliki
keinginan mengkonseptualisasikan dan membimbing kea rah yang lebih baik.
d. Keterlibatan sosial dan politis:
komunitas-komunitas keagamaan merasa perlu terlibat dalam masyarakat yang lebih
luas untuk mempengaruhi, mereformasi atau beradaptasi dengannya.
e. Kitab suci, termasuk mite atau
sejarah suci dalam kitab suci dan tradisi oral yang dengannya masrakat hidup
f. Konsep atau doktrin: tradisi Kristen
dengan gagasannya tentang ortodoksi doctrinal lebih menekankan pada konsep dan
teologi
g. Estetika, dalam tingkat akar rumput
disepanjang sejarah, estetikan merupakan hal yang signifikan.
h. Spritualitas, menekankan sisi dalam
(batin) dari agama.
3. Teologi
Agama-Agama (Theolgies of Religions)
Dalam menganalisis teologi-teologi agama akan didapatkan sejumlah
perbedaan teologis dalam tradisi-tradisi keagamaan, perbedaan bisa secara
subtansi atau perbedaan kerja teologi,
hal tersebut dapat dilihat sebagai berikut: Pertama, teologi
tidak niscaya terbatas pada formulasi doktrinal. Teologi-teolgi dengan ketujuh
(ritul, etika, keterlibatan politik, sosial kitab suci, estetika, dan
spritualitas) elemen itu menjadi signifikan tidak hanya dalam lingkungan agama
Kristen yang berkaitan tetapi dalam inner tradisi-tradisi keagamaan lain.
Kadang-kadang elemen dalam tradisi mempunyai titik temu, seperti dalam kasus
sprtualitas. Kedua,terdapat beragam tipe teologi dalam masing-masing
tradisi, secara mendasar terdapat empat macam tipe:
1) Tipe teologi deskriptif, historis,
dan positivistik, berusaha mendiskripsikan apa yang fungsional secara doktrinal
tanpa mengabaikan pertimbangan nilai.
2) Tipe tiologi sistematik yang berusah
meringkas doktrin-doktrin dari komunitas beriman dalam suatu pengertian
pegakuan (confennsional).
3) Tipe teologi folosofis, berusaha
terlibat pada posisi-posisi folosofis, dengan membawa dan memberikas reaksi
secara serius.
4) Tipe teologi dialog, tipe ini
mengandung keinginan secara sengaja tradisi-tradisi lain demi kepentingannya
sendiri.
4. Tujuh Sikap
Teologis dalam Tradisi-Tradisi Keagamaan Terhadap Agama yang Lebih Luas
a.
Esklusifisme
Ekslusifisme beranggapan bahwa
satu-satunya posisi yang benar adalah posisinya sendiri, sementara posisi yang
lain keliru. Tidak kemungkinan kompromi dengan kebenaran posisi tradisi lain.
b.
Diskontiunitas
Diskontiunitas
antara posisi seseorang dengan orang lain. Dalam agama Kristen, sikap ini
menemukan ekspresi teologisnya dalam karya Karl Barth yang menegaskan bahwa
wahyu turun dari Tuhan kepada manusia yakni dalam tradisi Yesus Kristus,
sementara agama adalah naiknya manusi dalam mencari Tuhan dengan harapan
menemukan-Nya. Disini terjadi diskontiunitas antara pencarian Tuhan terhadap
manusia melalui wahyu dan pencarian manusia terhadap Tuhan melalui agam.
c.
Sekularisasi
dan Spritualisasi
Posisi yang bersifat
sosiolgis dan teologis dan menghasilkan suatu respon pada tingkat spritualitas.
Posisi ini merupakan sikap teologis yang pada dasarnya tumbuh dari reflekis
barat dan Yahudi-kristen atas dunia sekuler modern, dan respon terhadapnya bagi
mereka yang melihat adanya keterbatasan dalam pandangan dunia ilmiah modern dan
sekuler.
d.
Penyempurnaan
Sikap teologis penyempurnaan merupakan
sikap teologis yang kuat dalam seluruh tradisi. Menurut sika ini, seluruh
tradisi keagamaan memiliki akses pada transendensi, kebenaran dalam pandangan
spiritual.
f.
Universalisasi
Teologi universalisasi
satu langkah lebih maju disbanding teologi penyempurnaan. Para penganutnya
menegaskan bahawa tidak cukup bagi suatu tradisi untuk menyempurnakan taradisi
lain tetapi tradisi-tradisi lain secara otentik harus dimasukkan dalam suatu
universalisasi.
g.
Dialog
Bagi beberapa orang, bukan suatu
pendekatan teologis terhadap tradisi kegamaan lain sebagai suatu upaya
berhubungan dan bergaul secara berdampingan dengan tradisi-tradisi lain. Bagi
mereka dialog lebih merupakan metode ketimbang pendekatan teologis. Dalam hal
ini, terdapat elemen kebenaran. Mesekipun demikian, dialog menjadi pendekatan
teologis dalam ruang kebenarannya sendiri.
h.
Relativisme
Menurut Jermen Ernst Troeltsch, dari
sudut pandang relativisme kultural, agama-agama memiliki kaitan dengan budaya
seperti Islam di Arab, relatifisme, epistimilogis, agama memiliki kaitan dengan
orang yang memeluknya
5.
Teologi Agama:
Pencarian Teologi Agama yang Serba Mencakup
Pencarian tersebut, mencakup tiga hal yakni:
a.
Dalam sudut agama terdapat pencarian
terhadap suatu fenomenologis transendensi yang tidak bersifat ontologism
(mengenai realitas) namun mengakui bahwa studi agama berkaitan dengan
transendensi dalam suatu pegertian fenomenologis (sebagaimana yang dialami).
b.
Dalam studi-studi keagamaan maupun
lingkaran teologis terdapat upaya dalam memberi subtansi yang lebih dalam
gagasan transendensi sebagai suatu fenomena universal
c.
Dalam lingkaran keagamaan maupun
teologis, teredapat pencarian dalam teologi global yang akan berbicara tentang
problem-probelem global yang saat ini dihadapi dunia
6.
Pencarian Fenomenologi Transendensi
Dalam berbagai
karyanya, Eliade lebih suka menggunakan istilah the sacred sebagai
sebuah bentuk sinonim bagi transendensi. Dia menyatakan bahwa agama memiliki
suatu elemen unik dan tidak dapat diabaikan yaitu elemen the sacred itu
sendiri. Titik perhatiannya adalah bagaimana manusia mengalami dan memahami the
sacred dalam kehidupan mereka, hal tersebut, lebih menekankan pada
fenomenologi ketimbang ontologi the sacred.
7.
Pencarian
Teologi Agama
Alasan perlunya
mempertimbangkan kembali studi-studi keagamaan dan teologi sebagai berikut:
1) Studi-studi keagamaan tumbuh di luar
matrik teologi Kristen dan dalam beberapa hal justru melawannya dengan keras
2)
Antuiassme dari kedua sisi tersebut
diakhir abad 19 dan awal abad 20
3)
Sejarah dan fenomenologi agam
menjadi jembatan antara dua wilayah tersebut.
4) Semua teolog bersedia megakui bahawa
sarjana dari berbagai disiplin antropologi, psikologi, sejarah, fenomenologi,
filsafat, estetika, dan seterusnya
5)
Para sarjana agama bahwa tradisi
keagamaan memuat gagasan transendensi dalam bagian intinya
6) Para teolog lebih cenderung secara
serius mengkaji trades-tradisi lain dan memikirkannya melalui sudut pandang
teologi komparatif dan terbuka dan juga teologi confenssional
7) Dari sudut pandang model-model
pengetahuan dalam lingkungan global kita saat ini, terdapat kemauan yang lebih
besar untuk mengakui bahwa tiga model humanitas (Yunani dan Romawi), kegaamaan
dan teologi (Eropa dan Pertengahan), dan ilmu-ilmu kealaman (Barat Modern).
8) Sudah jelas bahwa dalam dunia
global, padangan suatu tradisi keagamaan terhadap transdensi yang terwujud
dalam dunia Kristen tidak dapat diterima secara universal. Namun transendensi
tetap menjadi arketipe global yang penting
9) Meskipun praktisi-praktisi agama
tidak begtiu berperan besar namun namun mereka terlibat baik dalam mencela dan
maupun menghargai.
10) Terdapat problem potensial dalam
studi-studi keagamaan yang direduksi dalam teologi
11) Situasi global yang sedang
berkembang dengan persoalan ekologis, kemanusiaan, dan moral/transcendental
beserta peluang yang ada
12) Arena yang menjanjikan bagi
terjadinya refleksi yang saling menguntungkan, terletak dalam dua wilayah
teologi agama dan teologi agama-agama global
8.
Teologi Agama:
Peran Transendensi Manusia
Realitas kemanusiaan
merupakan hal yang fundamental untuk memahami transendensi. Transendensi tidak
dapat dipakasakan, bukan pula gagasan baku atau abadi. Untuk merasakan atau
mengalaminya disyaratkan kesediaan mencarinya tidak hanya jalan masa lampau
yang sering dilewati tetapi juga dalam jalan kekinian yang mengejutkan dan
jalan masa depan yang menarik.
9. Teologi Agama:
Realitas Transenden
Realitas transenden melampaui capaian konsep-konsep manusia yakni
abadi, tak terbatas, transenden. Meski demikian, terdapat perbedaan antara
realitas transenden dengan realitas transende yang dialami dan dipikirkan oleh
manusia.
10.
Teologi Agama:
Garis Luar
Garis besar teologi dapat memilih persoalan dua bagian: general dan
doktrinal. Di dalam teologi agama general-manusia, melalui keimanan sebagai
suatu kategori teologis universal, dengan menggunakan tradisi keagamaan dan
rangkaian kedelapan elemen itu sebagai cara untuk mmahami atau dipahami oleh
transendensi, kategori teoologi universal lainnya-orang dapat melihat gambaran
doktrinal yang lebih terperinci yang memiliki signifikansi universal.
11.
Pencarian
Teologi Agama-Agama Global
Pencarian suatu teologi agama global terpaksa cendrung tetap
bersifat general bahkan pada tingkat etika sisial, mungkin terjadi
ketidaksepakatan dalam masalah-masalah etis terkait dengan indiividu-individu
seperti KB, aborsi dan homoseksual.
12. Teologi
Agama-Agama Global: Ke Arah Etika Global
Etika
global tidak bersifat eologi dalam pengertian bahwa ia secara langsung bersifat
doktrinal dan transendental.
[1]
Imajinatif diluar perspektif religius yang dimiliki agar memiliki banyak ide
[2] Pandangan
dunia nonreigius
[4]
Hegel mengembangkan tesis bahwa esensi dipahami melalui penyelidiksn atas
penampakan dan manifestassi (Ershinugment) dan bertujuan untuk menunjukkan
bagaimana sebuah karya membawa pada pemahaman bahwa seluruh fenomena dalam
variannya.
[5]
Orang yang pertama memahami fenomenologi agama sebagai disiplin ilmiah.
Pandangannya sangat berpengaruh “satu sisi mengakui pentingnya Hegel, dan
disisi lain mengacu kembali pada Kaisar India Akbar (1555-1606).
[6]
Seorang kristen libral yang memiliki komitmen dalam pengertian yang lebih jelas
dibanding tokoh-tokoh lain semasanya dan karena pandangannya yang teliti dan
tajam serta mendalam tentang apa yang ‘tampak’ , van der leeuw menyebutnya
pelopor terjadinya perubahan arah dalam sejarah agama.
No comments:
Post a Comment