REVIEW BUKU
Judul
|
:
|
Methods of
Learninng and Teaching: Critique and Suggestions on Education, Learning and
Teaching
|
Author
|
:
|
Dr. C. Gerge
Boeree
|
Tebal Buku
|
:
|
187 halaman
|
Author
Dr. C. George
Boeree, adalah Profesor pada bidang psikologi di Shippensburg University, yang mengajar
tentang teori-teori kepribadian dan sejarah psikologi. Bidang kajian
spesialisnya adalah menelaah sisi filsafat dari psiologi dan telah begitu
tertarik dengan fenomenologi, psikologi eksistensial, Budhisme, dan pembangunan
moral. George Boeree lahir pada 1952 di kota kecil bernama Badhevedorp, dekat
Amsterdam, Netherland. Ia kemudian pindah bersama orang tua dan saudaranya ke
Amerika Serikat pada 1956 dan besar di Long Island. Ia mendapattkan BA dari
Penn State, dan MS serta PhD-nya dari Oklahoma State, yang semuanya di jurusan
psikologi. Pada tahun 1972. Ia menikah dengan Judy Kovarik, wanita panggilan di
Bay Shore, New York, dan mempunyai tiga anak yaitu: Jenny, Merry, dan Ketty.
Saat itu, ia tinggal di antara masyarakat Amish di daerah pedesaan Cumberland
Vallery yang megah di Pennsylvania.
Buku ini adalah
buku ke-4 yang telah diterbitkan di negeri Pennsylvania setelah buku: Personality
Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikologi Dunia (Prismasophie,
2004), History of Psychology: Dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern
(Prismasophie, 2005), dan Dasar-Dasar Psikologi (Prismasophie, 2005).
Dua yang pertama adalah magnum opus Boeree yang juga bestseller di
negeri ini.
Dalam karyanya
“Methods of Learninng and Teaching: Critique and Suggestions on Education,
Learning and Teaching”, Boeree membagi bahasan menjadi 13 bab. Berikut bab singkat dengan
pertanyaan diskusi dan bacaan lebih lanjut serta saran yang konstruktif.
Summary
Dalam bab 1,
Boeree membahas inferioritas di akademia. Inferioritas selalu ada dimanapun
Akademia berada dan banyak ditemukan orang yang yang tidak percaya diri dengan
dirinya. Hal utamanya adalah anak didik. Mereka telah menceritakan dan
menunjukkan bahwa mereka adalah inferior, selalu merendahkan diri sendiri, dan
itu selalu terjadi baik di SMA, SMP, bahkan di Taman Kanak-kanak. Diskursus inferior diminimalisir dengan
menunjukkan kepada anak didik terkait tersebut dengan mengukur mereka
berulang-ulang dan membandingkan dengan standar-standar tertentu. Apa yang
dilakukan ini memiliki esensi, yakni: Sebagai guru harus mengakhiri perasaan
terhadap inferioritas yang sudah cukup panjang untuk memberikan anak didik
sebuah kesempatan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Pertama, mengubah
iklim dan atmosfer kelas. Kedua, membuat suatu usaha untuk menempatkan
motivasi yang ekstrinsik, nilai-nilai, pendorongan, tingkatan dengan motivasi
yang intrinsik. Ketiga, benar-benar menghadapi inferior sebagai
pendidik.
Bab II, membahas
tentang Apa itu pendidikan Liberal ala Trivial Pursuit?. Pada bahasan ini,
Boeree bukan mengkritik ataupun menghina institusi. Mendengar isu program
pendidikaan general itu buruk dan lebih baik. Jadi tujuan Boeree adalah memperjelas
pertanyaan dasar yang harus menjadi pertanyaan awal, sehingga pada bab ini Ia
menanyakan sekaigus memberikan jawaban mengenai: Mengapa harus melakukan?
Bahasa Inggris, Bahasa, Sastra, Seni dan Musik, Matematika, Ilmu Pengetahuan,
Sejarah, Ilmu Pengetahuan Manusia, dan Melampui Disiplin-disiplin Spesifik.
Back ke pembahasan, Boeree yakin bahwa mempunyai program umum yang
terintitusi dan syarat-syarat mata pelajaran lain utama yang disebabkan karena
kecintaan pada tradisi kepada afeksi personal terhadap subjektif tertentu,
hasrat untuk menjamin permintaan yang berkelanjutan demi melayani diri, utang
pada kolega dalam disiplin ilmu yang lain, dan gambaran-gambaran tentang diri
sebagai otoritas. Nilai-niai yang benar dari program dan syarat-syarat tersebut
benar-benar bersifat terkaan. Bagaimana mungkin membenarkan yang telah orang
habiskan selama satu atau dua tahun kehidupan untuk melakukan hal-hal yyang
nilainya benar-benar bersifat terkaan? Atau, untuk meletakkannya ke dalam suatu
bentuk yang lebih konstruktif, bagaimana mungkin mampu mendemostrasikan nilai
bagian-bagian yang yang menjadi bahan pertanyaan kepada anak didik agar
mengambilnya? Jika seseorang anak didik bertanya, “Mengapa saya harus mengambil
ini?” pendidik seharusnya benar-benar mampu menjawabnya.
Bab III, membahas
komponen instingtual yang memungkinkan bagi kehidupan manusia, bahwa
pembelajaran merupakan komponen paling utama. Semua pembelajaran terjebak pada
asosiasi dan diferensial, keduanya ini mekanisme dasar pembelajaran. Menurut
Boeree, ada beberapa hal yang bisa membantu dalam menggunakan asosiasi dan
diferensial: pertama, refitisi atau pengulangan, kemudian ada hal-hal seperti kejelasan dan intensitas. Penggabungan
seluruh asosisi atau diferensial dengan sesuatu yang mmemotivasi disebut
pengondisian. Jenis pembelajaran paling sederhana sering disebut dengan lingkungan.
Jadi pengodisian lingkungan menambah sebuah konsekuensi positif atau negatif
terhadap pembelajaran yang tercetak di dalamnya, yang secara historis ada dua
bentuk pengondisian yang menjadi fokus kajian: pengodisian klasik dan
pengodisian operan. Selain itu Boeree, mengembangkan pembelajaran yang mulanya
dari kederhanaan hingga kebentuk pembelajaran lebih tinggi yakni pembelajaran
simbolis.
Bab IV, Booeree menyampaikan
kepada pengajar harus mampu membangkitkan kembali kesenangan pembelajaran.
Sehingga dalam bab ini Ia mengutip pertanyaan: Seperti apa pembelajaran yang
bermakna itu? Bagaimana mungkin kita membuat pembelajaran bisa sangat mirip
dengan yang dialami anak balita?. Kemudian mendeskripsikan bahwa pembelajaran
bermakna, pembelajaran yang menghadirkan rasa “nada perasaan” atau minat yang
mempunyai kualitas positif yang dimunculkan atau kualitas negatif yang disembunyikan. Deskripsi
pembelajaran fenomenologis lannnya ajaran yang bersifat praktis, sedangkan
pengajaran bermakna itu? Adalah sebentuk “keharuan”. Seperti dalam para frasa
Spinoza, “keharuan adalah cinta sepanjang kita menikmati dalam kenikmatan
orang lain dan menderita dalam penderitaan orang lain.”
Bab V, Boeree memberikan
ulasan kepada pendidik tentang
pemikiran, yang bersudut pandang bahwa banyak pendidik yang mengajarkan anak
didik mereka untuk berfikir, namun pada akhirnya hanya ada porsi kecil yang
menjadikan anak didik menjadi potensial. Secara fenomenologis, terhadap tindakan pemikiran, Boeree yakin bahwa
kegagalan para pendidik itu disebabkan karena adanya kesalahan konsepsi:
Pendidik melihat pemikiran sebagai sesuatu yang hanya terjadi dalam kepala,
itulah batasan yang pada akhirnya membatasi pandangan pendidik terhadap
kepotensialan anak didik.
Bab VI, Ia
mengatakan bahwa makhluk yang kompleks dan sering tampak berfungsi pada
beberapa tingkatan yang stimultan. Dan ia berpikir adanya suatu kasus yang
bagus untuk dijadikan sampel bagi adanya tiga tingkatan pikiran;
sensoris-motoris, sosioemosional, dan simbolis. Meskipun tiga tingkatan ini
muncul secara independen, persamaannya dengan gagasan ketiga otak sangat jelas:
· Tingkatan
Sensoris-Motoris à otak reptil
(batang otak)
· Tingkatan
Sosioemosional à otak
Paleomamalia (sistem limbik)
· Tingkatan
Simbolis à otak
Neomamalia (korteks otak)
Bab VII, Boeree
memaparkan memori dan bagian—bagiannya. Dalam pendekatan tradisional tentang memori
terbagi menjadi tiga bagian, bagian pertama adalah memori sensoris atau memori
ionik (iconic memory), dengan proses berlangsung hanya kurang dari sedetik (sekitar 3 detik atau 4 detik). Jenis
memori selanjutnya disebut memori jangka
pendek atau memori bekerja (working memory) dan jenis memori terakhir
adalah memori jangka panjang (long term memory). Tiga hal paling
signifikan yang bisa membantu menggerakkan sesuatu dari memori jangka pendek
menjadi memori jangka panjang adalah pengaturan (organization).
Kebermaknaan (meaningfulness), dan perumpamaan (imagery).
Misalnya, ia membantu meletakkan hal-hal ke dalam kepala dan kepala bagian
dalam, atau menggunakan kerangka-kerangka untuk mengatur bahan yang sulit.
Demikian juga, Anda mungkin memerhatikan bahwa lebih mudah mengingat segala hal
yang relevan dengan diri Anda, yang mempunyai makna dan sangat berkesan kepada
Anda. Misalnya, hal-hal yang menyangkut keluarga Anda akan lebih baik
mengingatnya darpada keluarga yang llain, atau kelas dalam lingkungan utama
Anda daripada kelas-kelas yang lain, dan sebagainya. Selain itu, Anda juga bisa
memvisualisasikan informsi tersebut Anda akan menggingatnya dengan baik. Hak
itu menampakkan bahwa makhluk manusia adalah makhluk yang sangat visual.
Ranah bahasan
proses mengingat dan melupa, pada hal ini Boeree menjelaskan apa itu proses
mengingat dan melupa?. Proses mengingat
(retrieval) atau dalam literatur penelitian disebut dengan penyebutan
kembali (recall) dan pengakuan (recognition).
Hal yang membuat kebanyakan melupakan masalah gangguan (interference)
yang terjadi pada diri. Gangguan tersebut yakni gangguan proaktif (proactive
interferencea), memori lama terhalang dengan mengingat memori yang lebih
baru.
Bab VIII, dalam
bab ini Boeree menamakan bahasannya dengan Pandeminium. Persepsi kognisi tidak
hanya menjadi masalah koneksi di antara sel-sel saraf atau neoron atau
peristiwa-peristiwa, hal-hal, fitur-fitur, kategori-kategori dan sebagainya
yang dibawa oleh neoron-neoron tersebut. Dengan kata lain, kita bukanlah
komputer digital yang asli. Selain itu, ada juga masalah tingkatan, kuantitas,
intensitas, ataupun volume.
Dari sepanjang
paparannya, Boeree megatakan: kita harus mampu merespons hal-hal yang
kelihatannnya sama, yang tidak hanya yang tampaak sempurna. Dengan cara ini,
kita bsa menggeneralisasi respon-respons kita, tentang bagaimana kita membentuk
kategori-kategori segala hal. Semua kucing tidak sama, dan bahkan kiita belajar
merespons pada satu kucing tertentu yang tidak pernah kita lihat sebelumnya
dengan menempatkannya dalam kategori kucing dan memberikannya sepiring susu,
daripada mengusirnya dengan tongkat pemukul.
Demikian juga,
kita belajar mengembangkan sensitivitas terhadap detail-detail baru yaitu
mengembangkan “feature demons” baru, ketika kita menemukan bahwa kita
harus mendiskriminasi dua hal yang kita tempatkan dalam satu kategori. Bobcat
atau Lynx, misalnya, adalah sejenis kucing, tapi hanya satu yang seharusnya
tidak Anda jadikan sebagai binatang kesayangan. Ini juga tentang bagaimana
mengoperasikan segala prototipe: Kucing betina tetangga mungkin kucing itu, dan
kucing-kucing lain, meskipun hanya dugaan, tampaknya berteriak “kucing”
juga.kucing Rex yang berbulu kriting, kucing Manx yang tanpa ekor, kucing Himalaya
yang proofy, atau kucing Sphynx yang tanpa bulu mungkin akan sedikit
mendapatkan perhatiaan yang lebih saksama.
Terakhir,
ketidaksempurnaan dalam merespons ini membuat kita menjadi kreatif dalam merasa
dan berpikir: Kita bisa saja melakukan kesalahan kategoris (mendengarkan dimons
yang bersuara keras menghilangkan suara dimons yang satu, yang
sebenarnya secara teknis lebih benar) dan kemudian mengikuti kategori yang
salah tersebut. Lihat apa yang terjadi, itu sedikit seperti evolusi: Ide-ide
besar sering menghasilkan ratusan kesalahan yang dihasilkan dengan baik.
Bab IX, Boeree
menuangkan perasaannya mengenai, Apa itu kesadaran?. Ia merasa sangat sulit
mendeskripsikan kesadaran seseorang. Penelitian dan analisis merupakan proses
psikologis. Untuk meneliti dan menganalisis proses psikologis seseorang agaknya
tidak wajar, dan kayaknya tidak mungkin melakukan penelitian dan analisis
dengan jaminan akurasi yang tepat. Dengan demikian, caranya mungkin mengambil
jalan pintas untuk suatu ragam metafora dan sarana tidak langsung yang lain
untuk melakukan tugas keadilan, yang berarti tidak ada usaha yang bernilai.
Ia menarik
kesimpulan, jika membuat asumsi bahwa
dunia di luar pikiran adalah jauh lebih
indah saat kita mengalaminya (tidak pernah terlintas dalam pikirannya
alasan-alasan untuk meragukannya), hal ini tentunya merupakan bentuk realisme
langsung Reid. Adapun versinya Boeree tentang realisme langsung disebut
realisme sifat, yang memasukan gagasan bahwa sifat-sifat yang dirasakan
terlebih dahulu mengukur struktur ilmu pengetahuan yang biasanya menerima yang
fundamental. Maka kemudian sifat-sifat yang membentuk kesadaran tersesbut sensitivitas
sederhana terhadap stimuli termauk hal-hal berikut ini:
1)
Dalam diri kita ada kebutuhan atau
seperangkat kebutuhan tertentu, sebuah kapasitas untuk kesenangan dan
kesusahan, yang memberi kita dasar-dasar untuk membedakan apa yang bermakna
bagi kita dengan apa yang tidak.
2)
Seiring dengan waktu, kita
mengoleksi diri yang relevan, yang didasarkan kepada kebutuhan, yang tumbuh
menjadi identitas seperti yang James rujuk sebagai “saya”-----Boeree.
3)
“Saya” ini memberi kita berbagai
suasana hati, emosi, antsipasi, memori, dan lain sebagainya, yang menjadi
bagian dari parade peristiwa lahir dan
batin yang terus berlangsung yang menyatakan
pengalaman kita.
4)
Dilihat melalui berbagai manifestasi
diri ini, kita mengalami kehidupan seolah-olah dari sebuah perspektif “Saya”,
yang mengikat pengalaman kita terhadap satu sama lain dan juga terhadap diri
kita sendiri.
Boeree
menambahkan, bahwa jika Anda mengakui asumsi saya dan setuju dengan penelitian
dan spekulasi saya, saya yakin Anda akan memerhatikan bahwa kesadaran tidak
lagi mmenjadi sebuah misteri dalam sebuah realitas yang bisa dirasa. Malahan,
kesadaran adalah akibat alami dari diri yang menjadi sebuah bentuk kehidupan
yang dibutuhkan, yang sensitif terhadap berbagai stimuli, dan kapabel dengan
penyimpanan dan ppenggunnaan informasi. Bahwa kita tetap sadar meski tidak ada
satu pun yang kurang.
Bab
X, Boeree membahas perkembangan bahasa. Yang semua dimulai dari masa kecil.
Dari kelahiran sampai usia 6 bulan, bayi membuat satu perlakuan besar tentang
keramaian. Berteriak, bercicit, menggeram, bersorak, dan membuat kita kehabisan
tenaga. Keadaan itu pada daasarnya merupakan produksi dari apa yang kemudian
akan menjadi huruf vokal (a, i, u, e, o). Dari 6 bulan sampai sekitar 10 bulan,
mereka menghassilkan suara yang agak lebih rumit disebut babbling (berbicara
tanpa ada koherensi). Pertaa mereka mempraktikkan huruf-huruf vokal secara
lebih tepat, dimulai dengan bersuara dengan bibir membentuk o, huruf vokal
belakang (oo, oh, ah...) dan melakukan cara mereka dalam mengeluarkan huruf
vokal depan yang mana bibirnya tetap datar (ee, eh, ay...). Konsonan pertama
adalah h, m, dan b yang bisa dikombinasikan dengan huruf vokal untuk membuat
sebuah suku kata. Setelah itu, mereka menambahkan p, t, d, n, w, f, dan v. Lalu
mereka akan menambahkan huruf k, g, dan ng.
Kemudian
mereka mulai menambahkan s dan z, sedangkan untuk mendapatkan bunyi sh, ch, h,
dan th, bayi akan bisa didapatkan waktu sedikit lama. Bunyi paling terakhir
yang bisa didapatkan adalah I dan r. Inilah sebabnya mengapa kita mendengar
bayi melafalkan sesuatu yang aneh untuk kata-kata yang akan mereka keluarkan.
Bab
XI, Boeree menyinggung perdebatan yang
sengit terkait asal usul bahasa. Dan perdebatan paling besar di antara para linguis dan yang sangat
menarik dalam asal-usul bahasa adalah apakah kita bisa menerangkan bahasa hanya
dengan menggunakan mekanisme pembelajaran dasar, ataukah kita harus
memostulatkan sebagian kesiapan bahasa (language-readdiness) khusus yang
memang sudah terbentuk? Orang yang hanya belajar misalnnya, B.F. Skinnner
berkata bahwa pengondisian masa kanak-kanak, atau mungkin peneladanan, bisa
menerangkan kompleksitas bahasa (LAD; Language-Acquisition-Device)
semisal Chomsky dan Pinker, berkata bahwa ketenangan dan kecepatan yang dijalankan
anak—anak dalam belajar bahasa membutuhkan sesuatu yang lebih.
Alih-alih
dari perdebatan tersebut, ada beberapa teori tentang asal usul bahasa, meski
kebanyakan dari teori mempunyai nama-nama tradisional yang membingungkan,
antara lain:
1)
Teori Mama
Bahasa dimulai dengan suku kata yangg paling mudah
disematkan pada objek-objek yang paling signifikan.
2)
Teori Ta-Ta
Bahasa dimulai sebagai imitasi vokal
alam bawah sadar dari gerakan-gerakan tubuh seperti cara mulut anak kecil yang
bergerak ketika mereka menggunnakan gunting, atau lidah yang dikeluarkan ketika
mencoba untuk bermain gitar.
3)
Teori Bow-Wow
Bahasa dimulai sebagai imitasi dari suara-suara alam-moo, choo-choo,
suara tabrakan, suara bel, suara desis, suara dentuman, suara meong, dan
sebagainya. secara teknis, lebih mengacu kepada onomatopoeia atau echoisme.
4)
Teori Pooh-Pooh
Bahasa dimulai dengan kataa seru,
teriakan emosi yan instingtif, seperti “Ooh!” untuk rasa terkejut dan “Aduh!”
untuk rasa sakit.
5)
Teori Ding-Dong
Sebagian orang, termasuk linguis terkenal, Max Muller,
menunjukkan bahwa ada sebuah kesusaian yang agak misterius antara suara dan
makna. Sering dirujuk sebagai simbolisme suara.
6)
Teori Ye-He-Ho
Bahasa dimulai dengan nyanyian yang
bersifat ritmik, yang mungkin berasal dari dengkuran para pekerja berat.linguis
D.S. Diamond menunjukkan bahwa inni mungkin yang disebut bantuan atau kerja
sama yang disertai engan syarat yang sesuai.
7)
Teori Sing-Song
Linguis Denmark, Jesperson,
menunjukkann bahwa bahasa muncul dari permainan, gelak tawa, mendekut,
berrkencan, berkomat-kamit secara emosional, dan senada dengan itu. Bahkan
meenunjukkan bahwa, berkebalikan dengan teori yang lain, mungkin sebagian dari
kata-kata pertamaa kita sebenarnya berbentuk panjang dan usikal, daripada
berbentuk dengkuran yang telah diperkirakan sebelumnya.
8)
Teori Hey-Kamu
Seorang linguis bernama Revesz
menunjukkan bahwa kata selalu membutuhkan kontak interpersonal, dan bahasa itu
dimulai sebagai suara untuk memberi sinyal baik itu sinyal identitas (Inilah
aku!) dan kepemilikan (Aku bersamamu!).
9)
Teori Hocus Pocus
Bahasa berakar dalam sejenis aspek
magis atau keagamaan dari kehidupan nenek moyang, mulai dengan menyebut
permainan binatang dengan suara-suara magis, yang kemudian akan menjadi nama-nama
mereka.
10) Teori Eureka
Bahasa memang sengaja diciptakan,
sebagai nenek moyang mempunyai ide untuk menentukan suara-suara yang tidak
beraturan menjadi sesuatu hal tertentu yang mempunyai makna. Setiap kali ide
itu, ia akan menangkapnya dan memberikan makna kepadanya.
Bab
XII, dalam bab ini Boeree membahas secara rinci, detail dan jelas mengenai
kecerdasan dan IQ (Intellegence Quotient). Mungkin banyak dari kita yang
memaknai bahwa kecerdasan itu sama dengan IQ, atau IQ itu bagiam dari
kecerdasan. Lebih jelasnya Boeree menyingkap tabir mengenai kecerdasan dan IQ.
Kecerdasan adalah kapasitas seseorang untuk:
1)
Memperoleh pengetahuan yakni belajar
dan memahami
2)
Mengaplikasikan pengetahuan yakni
memecahkan masalah dan,
3)
Melakukan penalaran abstrak
Kecerdasan
adalah kekuatan akal seseorang, dan itu jelas-jelas sangat penting bagi
kehidupan manusia karena merupakan aspek dari keseluruhan kesejahteraan
manusia. Sedangkan Intellegence Quotient (IQ) adalah skor yang
didapatkan dalam tes kecerdasan. Dengan rumus:
IQ = MA/CA x
100
Ket:
MA : Usia
Mental (mental age)
CA : Usia Kronologis (chronological age)
Dengan
ketentuan rentang:
·
>70 (secara mental mengalami
keterbelakangan)----2,2%
·
70-80 (garis batas
keterbelakangan)----6,7%
·
80-90 (IQ-nya rata-rata rendah)----16,1%
·
90-110 (IQ-nya rata-rata)----50%
·
110-120 (IQ-nya rata-rata
tinggi)----16,1%
·
120-130 (IQ super)----6,7 %
·
Over 130 (IQ sangat super)----2,2%
Untuk memahami IQ dan penelitiaa IQ, pentingnya memahami
dasar-dasar statistik deskriptif: kurva normal, titik rata-rata (mean),
dan deviasi standar. Selanjutnya mengetahui tentang korelasi. Korelasi
merupakan apa yang sedang anda lakukan ketika anda membandingkan dua perangkat
pengukuran (masing-masing perangkat disebut variabel). Berikut beberapa korelasi
yang patut dipertimbangkan, antara IQ seseorang dengan IQ yang lain:
Ayah-Anak
|
.51
|
Ibu-Anak
|
.55
|
Saudara Kandung
|
.50
|
Keluarga Biologis
|
Keluarga Adoptif
|
|
Ibu-Anak
|
.41
|
.09
|
Ayah-Anak
|
.40
|
.16
|
Anak-Anak
|
.35
|
-.03
|
Kembar Sempurna
|
Kembar Persaudaraan (fraternal)
|
|
Sidik jari
|
.97
|
.46
|
Tingggi
|
.93
|
.65
|
IQ (Binet)
|
.88
|
.63
|
IQ (Otis)
|
.92
|
.62
|
Pemaknaan Kata
|
.86
|
.56
|
Studi alam
|
.77
|
.55
|
Sejarah dan Sastra
|
.82
|
.67
|
Pelafalan
|
.87
|
.73
|
Kecerdasan
mempunyai komponen genetika yang sangat kuat. Dan itu tidak lepas juga melihat
sejumlah bantuan dan gangguan lngkungan.
Macam-macam kecerdasan:
·
Kecerdasan verbal, numerik, spasial,
penalarann, kelancaran, kecepatan perseptual.
·
Kecerdasan fluida vs terkristaliassi
(Cattell)
·
Kecerdasan linguistik, musikal, logis-matematis,
spasial, kinestetik, intraversonal, dan kecerdasan interpersonal (Gardner)
Kesulitan terbesar bagi individu maupun masyarakat berkenaan dengan
kecerdasan adalah perlambatan. Klasifikasi keceerdasan yang tinggi, kecerdasan
yang rendah dibagi dalam sub kategori:
·
0-20 (sangat besar) ---à butuh
perawatan ekstra
·
20-35 (berat) ---à bisa belajar berbicara dan mengembangkan perilaku
sehat
·
35-50 (moderat) ---à kelas kedua,
yang butuh perawatan tersendiri
·
50-70 (ringan) ---à mampu dididik
sampai kelas enam, dan perlu dukungan diri yang minimal
Bab XIII, pada bagian pertama dari
sub bab ini mengulas berbagai pendekatan tentang kecerdasan yang sekarang ini
berpengaruh atau tampak menjadi seperti itu. Dari hasil diskusi mencurahkan
kepada pendekatan psikometrik dominan. Sub bab selanjutnya Boeree mendiskusikan
tentang perbedaan individu secara umum, tanpa mengacu kepada sifat yang khusus.
Fokus pada kecerdasan seperti yang diukur oleh tes IQ konvensional. Dan fokus
bahasnnya adalah bagaimana kontribusi relatif dari gen dan lingkungan terhadap
perbedaan individu dalam sifat yang khusus, yaknni penekanan ddari permulaan
bahwa aksi gen selalu berkaitan dengan lingkungan, setidaknya sebuah lingkungan
biokimia, dan ekologis. Setiap individu mempunyai suatu lingkungan biologis dan
sosial, sejak ddari kandungan sampai akhir hayat. Banyak asfek dari lingkungan
tersebut yang bisa memengaruhi perkembangan intelektual. dapat diketahui bahwa
sejumlah faktor biologis, termasu kekurangan gizi, pembongkaran substansi beracun,
dan berbagai strepsor atau penekan prenatal dan perinatal, yag bisa mengakibatkan
kecerdasan psiometriknya menjadi rendh di bawah.
Evaluation
Buku yang
ditulis oleh George Boeree ini membahas tentang dunia pendidikan, pembelajaran
dan pengajaran, masalah kecerdasan, dan hal-hal yang dalam ruang lingkup
pendidikan lainnya. Saat ini dunia pendidikan adalah dunia yang penuh dengan
kritik di negara ini, dalam buku ini George Boeree mengulas secara luas tentang
ruang lingkup pembelajaran dan pengajaran dalam pendidikan, serta
masalah-masalah apa saja yang terjadi di dalamnya, dan masalah apa saja yang
membuat pendidikan di setiap negara mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi
sampai yang rendah. Disini dapat dilihat tentang orang yang tidak merasa baik
dengan kemampuan diri sendiri dan menolak dengan apa yang tidak mereka sukai.
Kebanyakan orang selalu menghindari mata pelajaran yang tidak mereka sukai dan
tidak ingin mencoba untuk berusaha memperbaiki diri.
Meskipun buku
ini berbicara dalam konteks Amerika, tetapi Boeree tetap saja cerdas memetakan
apa dan bagaimana fungsi serta peran pendidikan itu sendiri. Selain itu George
Boeree juga membahas tentang pembelajaran dan bagaimana agar pembelaran itu
tepat sasaran. Ia membahas bagaimana jalannya memori, apa itu kecerdasan, bagaimana
asal usul bahasa dan perkembangannya, buku ini juga dikemas dengan menarik dan
sangat berguna agar kita bisa cerdas dalam belajar dan berpendidikan, selain
itu buku ini juga dapat menjadi pedoman pembelajaran bagi seorang pendidik
seperti guru.
Akan tetapi
bahasa yang digunakan oleh George Boeree kurang mudah untuk dipahami, butuh
beberapa kali membaca dan pemahaman yang penuh agar dapat memahami apa yang
disampaikan agar tidak salah dalam menafsirkannya. Meskipun isi dari buku
tersebut banyak membahas tentang dunia pendidikan dan masalah-masalah yang ada
di dalamnya tetapi butuh banyak pemahaman yang dibutuhkan agar dapat dengan
jelas memahaminya.
No comments:
Post a Comment