Thursday, December 26, 2019

Methods of Learninng and Teaching: Critique and Suggestions on Education, Learning and Teaching



REVIEW BUKU


Judul
:
Methods of Learninng and Teaching: Critique and Suggestions on Education, Learning and Teaching
Author
:
Dr. C. Gerge Boeree
Tebal Buku
:
187 halaman





Author
            Dr. C. George Boeree, adalah Profesor pada bidang psikologi di Shippensburg University, yang mengajar tentang teori-teori kepribadian dan sejarah psikologi. Bidang kajian spesialisnya adalah menelaah sisi filsafat dari psiologi dan telah begitu tertarik dengan fenomenologi, psikologi eksistensial, Budhisme, dan pembangunan moral. George Boeree lahir pada 1952 di kota kecil bernama Badhevedorp, dekat Amsterdam, Netherland. Ia kemudian pindah bersama orang tua dan saudaranya ke Amerika Serikat pada 1956 dan besar di Long Island. Ia mendapattkan BA dari Penn State, dan MS serta PhD-nya dari Oklahoma State, yang semuanya di jurusan psikologi. Pada tahun 1972. Ia menikah dengan Judy Kovarik, wanita panggilan di Bay Shore, New York, dan mempunyai tiga anak yaitu: Jenny, Merry, dan Ketty. Saat itu, ia tinggal di antara masyarakat Amish di daerah pedesaan Cumberland Vallery yang megah di Pennsylvania.
            Buku ini adalah buku ke-4 yang telah diterbitkan di negeri Pennsylvania setelah buku: Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikologi Dunia (Prismasophie, 2004), History of Psychology: Dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern (Prismasophie, 2005), dan Dasar-Dasar Psikologi (Prismasophie, 2005). Dua yang pertama adalah magnum opus Boeree yang juga bestseller di negeri ini.
Dalam karyanya “Methods of Learninng and Teaching: Critique and Suggestions on Education, Learning and Teaching”, Boeree membagi bahasan menjadi 13 bab. Berikut bab singkat dengan pertanyaan diskusi dan bacaan lebih lanjut serta saran yang konstruktif.
Summary
            Dalam bab 1, Boeree membahas inferioritas di akademia. Inferioritas selalu ada dimanapun Akademia berada dan banyak ditemukan orang yang yang tidak percaya diri dengan dirinya. Hal utamanya adalah anak didik. Mereka telah menceritakan dan menunjukkan bahwa mereka adalah inferior, selalu merendahkan diri sendiri, dan itu selalu terjadi baik di SMA, SMP, bahkan di Taman Kanak-kanak.  Diskursus inferior diminimalisir dengan menunjukkan kepada anak didik terkait tersebut dengan mengukur mereka berulang-ulang dan membandingkan dengan standar-standar tertentu. Apa yang dilakukan ini memiliki esensi, yakni: Sebagai guru harus mengakhiri perasaan terhadap inferioritas yang sudah cukup panjang untuk memberikan anak didik sebuah kesempatan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Pertama, mengubah iklim dan atmosfer kelas. Kedua, membuat suatu usaha untuk menempatkan motivasi yang ekstrinsik, nilai-nilai, pendorongan, tingkatan dengan motivasi yang intrinsik. Ketiga, benar-benar menghadapi inferior sebagai pendidik.
            Bab II, membahas tentang Apa itu pendidikan Liberal ala Trivial Pursuit?. Pada bahasan ini, Boeree bukan mengkritik ataupun menghina institusi. Mendengar isu program pendidikaan general itu buruk dan lebih baik. Jadi tujuan Boeree adalah memperjelas pertanyaan dasar yang harus menjadi pertanyaan awal, sehingga pada bab ini Ia menanyakan sekaigus memberikan jawaban mengenai: Mengapa harus melakukan? Bahasa Inggris, Bahasa, Sastra, Seni dan Musik, Matematika, Ilmu Pengetahuan, Sejarah, Ilmu Pengetahuan Manusia, dan Melampui Disiplin-disiplin Spesifik.
Back ke pembahasan, Boeree yakin bahwa mempunyai program umum yang terintitusi dan syarat-syarat mata pelajaran lain utama yang disebabkan karena kecintaan pada tradisi kepada afeksi personal terhadap subjektif tertentu, hasrat untuk menjamin permintaan yang berkelanjutan demi melayani diri, utang pada kolega dalam disiplin ilmu yang lain, dan gambaran-gambaran tentang diri sebagai otoritas. Nilai-niai yang benar dari program dan syarat-syarat tersebut benar-benar bersifat terkaan. Bagaimana mungkin membenarkan yang telah orang habiskan selama satu atau dua tahun kehidupan untuk melakukan hal-hal yyang nilainya benar-benar bersifat terkaan? Atau, untuk meletakkannya ke dalam suatu bentuk yang lebih konstruktif, bagaimana mungkin mampu mendemostrasikan nilai bagian-bagian yang yang menjadi bahan pertanyaan kepada anak didik agar mengambilnya? Jika seseorang anak didik bertanya, “Mengapa saya harus mengambil ini?” pendidik seharusnya benar-benar mampu menjawabnya.
            Bab III, membahas komponen instingtual yang memungkinkan bagi kehidupan manusia, bahwa pembelajaran merupakan komponen paling utama. Semua pembelajaran terjebak pada asosiasi dan diferensial, keduanya ini mekanisme dasar pembelajaran. Menurut Boeree, ada beberapa hal yang bisa membantu dalam menggunakan asosiasi dan diferensial: pertama, refitisi atau pengulangan, kemudian ada hal-hal seperti  kejelasan dan intensitas. Penggabungan seluruh asosisi atau diferensial dengan sesuatu yang mmemotivasi disebut pengondisian. Jenis pembelajaran paling sederhana sering disebut dengan lingkungan. Jadi pengodisian lingkungan menambah sebuah konsekuensi positif atau negatif terhadap pembelajaran yang tercetak di dalamnya, yang secara historis ada dua bentuk pengondisian yang menjadi fokus kajian: pengodisian klasik dan pengodisian operan. Selain itu Boeree, mengembangkan pembelajaran yang mulanya dari kederhanaan hingga kebentuk pembelajaran lebih tinggi yakni pembelajaran simbolis.
            Bab IV, Booeree menyampaikan kepada pengajar harus mampu membangkitkan kembali kesenangan pembelajaran. Sehingga dalam bab ini Ia mengutip pertanyaan: Seperti apa pembelajaran yang bermakna itu? Bagaimana mungkin kita membuat pembelajaran bisa sangat mirip dengan yang dialami anak balita?. Kemudian mendeskripsikan bahwa pembelajaran bermakna, pembelajaran yang menghadirkan rasa “nada perasaan” atau minat yang mempunyai kualitas positif yang dimunculkan atau  kualitas negatif yang disembunyikan. Deskripsi pembelajaran fenomenologis lannnya ajaran yang bersifat praktis, sedangkan pengajaran bermakna itu? Adalah sebentuk “keharuan”. Seperti dalam para frasa Spinoza, “keharuan adalah cinta sepanjang kita menikmati dalam kenikmatan orang lain dan menderita dalam penderitaan orang lain.”
            Bab V, Boeree memberikan ulasan kepada pendidik  tentang pemikiran, yang bersudut pandang bahwa banyak pendidik yang mengajarkan anak didik mereka untuk berfikir, namun pada akhirnya hanya ada porsi kecil yang menjadikan anak didik menjadi potensial. Secara fenomenologis, terhadap  tindakan pemikiran, Boeree yakin bahwa kegagalan para pendidik itu disebabkan karena adanya kesalahan konsepsi: Pendidik melihat pemikiran sebagai sesuatu yang hanya terjadi dalam kepala, itulah batasan yang pada akhirnya membatasi pandangan pendidik terhadap kepotensialan anak didik.
            Bab VI, Ia mengatakan bahwa makhluk yang kompleks dan sering tampak berfungsi pada beberapa tingkatan yang stimultan. Dan ia berpikir adanya suatu kasus yang bagus untuk dijadikan sampel bagi adanya tiga tingkatan pikiran; sensoris-motoris, sosioemosional, dan simbolis. Meskipun tiga tingkatan ini muncul secara independen, persamaannya dengan gagasan ketiga otak sangat jelas:
·      Tingkatan Sensoris-Motoris à otak reptil (batang otak)
·      Tingkatan Sosioemosional à otak Paleomamalia (sistem limbik)
·      Tingkatan Simbolis à otak Neomamalia (korteks otak)
            Bab VII, Boeree memaparkan memori dan bagian—bagiannya.  Dalam pendekatan tradisional tentang memori terbagi menjadi tiga bagian, bagian pertama adalah memori sensoris atau memori ionik (iconic memory), dengan proses berlangsung hanya kurang dari  sedetik (sekitar 3 detik atau 4 detik). Jenis memori  selanjutnya disebut memori jangka pendek atau memori bekerja (working memory) dan jenis memori terakhir adalah memori jangka panjang (long term memory). Tiga hal paling signifikan yang bisa membantu menggerakkan sesuatu dari memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang adalah pengaturan (organization). Kebermaknaan (meaningfulness), dan perumpamaan (imagery). Misalnya, ia membantu meletakkan hal-hal ke dalam kepala dan kepala bagian dalam, atau menggunakan kerangka-kerangka untuk mengatur bahan yang sulit. Demikian juga, Anda mungkin memerhatikan bahwa lebih mudah mengingat segala hal yang relevan dengan diri Anda, yang mempunyai makna dan sangat berkesan kepada Anda. Misalnya, hal-hal yang menyangkut keluarga Anda akan lebih baik mengingatnya darpada keluarga yang llain, atau kelas dalam lingkungan utama Anda daripada kelas-kelas yang lain, dan sebagainya. Selain itu, Anda juga bisa memvisualisasikan informsi tersebut Anda akan menggingatnya dengan baik. Hak itu menampakkan bahwa makhluk manusia adalah makhluk  yang sangat visual.
            Ranah bahasan proses mengingat dan melupa, pada hal ini Boeree menjelaskan apa itu proses mengingat dan melupa?.  Proses mengingat (retrieval) atau dalam literatur penelitian disebut dengan penyebutan kembali (recall)  dan pengakuan (recognition). Hal yang membuat kebanyakan melupakan masalah gangguan (interference) yang terjadi pada diri. Gangguan tersebut yakni gangguan proaktif (proactive interferencea), memori lama terhalang dengan mengingat memori yang lebih baru.
Bab VIII, dalam bab ini Boeree menamakan bahasannya dengan Pandeminium. Persepsi kognisi tidak hanya menjadi masalah koneksi di antara sel-sel saraf atau neoron atau peristiwa-peristiwa, hal-hal, fitur-fitur, kategori-kategori dan sebagainya yang dibawa oleh neoron-neoron tersebut. Dengan kata lain, kita bukanlah komputer digital yang asli. Selain itu, ada juga masalah tingkatan, kuantitas, intensitas, ataupun volume.
Dari sepanjang paparannya, Boeree megatakan: kita harus mampu merespons hal-hal yang kelihatannnya sama, yang tidak hanya yang tampaak sempurna. Dengan cara ini, kita bsa menggeneralisasi respon-respons kita,  tentang bagaimana kita membentuk kategori-kategori segala hal. Semua kucing tidak sama, dan bahkan kiita belajar merespons pada satu kucing tertentu yang tidak pernah kita lihat sebelumnya dengan menempatkannya dalam kategori kucing dan memberikannya sepiring susu, daripada mengusirnya dengan tongkat pemukul.
Demikian juga, kita belajar mengembangkan sensitivitas terhadap detail-detail baru yaitu mengembangkan “feature demons” baru, ketika kita menemukan bahwa kita harus mendiskriminasi dua hal yang kita tempatkan dalam satu kategori. Bobcat atau Lynx, misalnya, adalah sejenis kucing, tapi hanya satu yang seharusnya tidak Anda jadikan sebagai binatang kesayangan. Ini juga tentang bagaimana mengoperasikan segala prototipe: Kucing betina tetangga mungkin kucing itu, dan kucing-kucing lain, meskipun hanya dugaan, tampaknya berteriak “kucing” juga.kucing Rex yang berbulu kriting, kucing Manx yang tanpa ekor, kucing Himalaya yang proofy, atau kucing Sphynx yang tanpa bulu mungkin akan sedikit mendapatkan perhatiaan yang lebih saksama.
Terakhir, ketidaksempurnaan dalam merespons ini membuat kita menjadi kreatif dalam merasa dan berpikir: Kita bisa saja melakukan kesalahan kategoris (mendengarkan dimons yang bersuara keras menghilangkan suara dimons yang satu, yang sebenarnya secara teknis lebih benar) dan kemudian mengikuti kategori yang salah tersebut. Lihat apa yang terjadi, itu sedikit seperti evolusi: Ide-ide besar sering menghasilkan ratusan kesalahan yang dihasilkan dengan baik.
Bab IX, Boeree menuangkan perasaannya mengenai, Apa itu kesadaran?. Ia merasa sangat sulit mendeskripsikan kesadaran seseorang. Penelitian dan analisis merupakan proses psikologis. Untuk meneliti dan menganalisis proses psikologis seseorang agaknya tidak wajar, dan kayaknya tidak mungkin melakukan penelitian dan analisis dengan jaminan akurasi yang tepat. Dengan demikian, caranya mungkin mengambil jalan pintas untuk suatu ragam metafora dan sarana tidak langsung yang lain untuk melakukan tugas keadilan, yang berarti tidak ada usaha yang bernilai.
Ia menarik kesimpulan, jika  membuat asumsi bahwa dunia di luar pikiran  adalah jauh lebih indah saat kita mengalaminya (tidak pernah terlintas dalam pikirannya alasan-alasan untuk meragukannya), hal ini tentunya merupakan bentuk realisme langsung Reid. Adapun versinya Boeree tentang realisme langsung disebut realisme sifat, yang memasukan gagasan bahwa sifat-sifat yang dirasakan terlebih dahulu mengukur struktur ilmu pengetahuan yang biasanya menerima yang fundamental. Maka kemudian sifat-sifat yang membentuk kesadaran tersesbut sensitivitas sederhana terhadap stimuli termauk hal-hal berikut  ini:
1)   Dalam diri kita ada kebutuhan atau seperangkat kebutuhan tertentu, sebuah kapasitas untuk kesenangan dan kesusahan, yang memberi kita dasar-dasar untuk membedakan apa yang bermakna bagi kita dengan apa yang tidak.
2)   Seiring dengan waktu, kita mengoleksi diri yang relevan, yang didasarkan kepada kebutuhan, yang tumbuh menjadi identitas seperti yang James rujuk sebagai “saya”-----Boeree.
3)   “Saya” ini memberi kita berbagai suasana hati, emosi, antsipasi, memori, dan lain sebagainya, yang menjadi bagian  dari parade peristiwa lahir dan batin yang terus berlangsung yang menyatakan  pengalaman kita.
4)   Dilihat melalui berbagai manifestasi diri ini, kita mengalami kehidupan seolah-olah dari sebuah perspektif “Saya”, yang mengikat pengalaman kita terhadap satu sama lain dan juga terhadap diri kita sendiri.
Boeree menambahkan, bahwa jika Anda mengakui asumsi saya dan setuju dengan penelitian dan spekulasi saya, saya yakin Anda akan memerhatikan bahwa kesadaran tidak lagi mmenjadi sebuah misteri dalam sebuah realitas yang bisa dirasa. Malahan, kesadaran adalah akibat alami dari diri yang menjadi sebuah bentuk kehidupan yang dibutuhkan, yang sensitif terhadap berbagai stimuli, dan kapabel dengan penyimpanan dan ppenggunnaan informasi. Bahwa kita tetap sadar meski tidak ada satu pun yang kurang.
Bab X, Boeree membahas perkembangan bahasa. Yang semua dimulai dari masa kecil. Dari kelahiran sampai usia 6 bulan, bayi membuat satu perlakuan besar tentang keramaian. Berteriak, bercicit, menggeram, bersorak, dan membuat kita kehabisan tenaga. Keadaan itu pada daasarnya merupakan produksi dari apa yang kemudian akan menjadi huruf vokal (a, i, u, e, o). Dari 6 bulan sampai sekitar 10 bulan, mereka menghassilkan suara yang agak lebih rumit disebut babbling (berbicara tanpa ada koherensi). Pertaa mereka mempraktikkan huruf-huruf vokal secara lebih tepat, dimulai dengan bersuara dengan bibir membentuk o, huruf vokal belakang (oo, oh, ah...) dan melakukan cara mereka dalam mengeluarkan huruf vokal depan yang mana bibirnya tetap datar (ee, eh, ay...). Konsonan pertama adalah h, m, dan b yang bisa dikombinasikan dengan huruf vokal untuk membuat sebuah suku kata. Setelah itu, mereka menambahkan p, t, d, n, w, f, dan v. Lalu mereka akan menambahkan huruf k, g, dan ng.
Kemudian mereka mulai menambahkan s dan z, sedangkan untuk mendapatkan bunyi sh, ch, h, dan th, bayi akan bisa didapatkan waktu sedikit lama. Bunyi paling terakhir yang bisa didapatkan adalah I dan r. Inilah sebabnya mengapa kita mendengar bayi melafalkan sesuatu yang aneh untuk kata-kata yang akan mereka keluarkan.
Bab XI,  Boeree menyinggung perdebatan yang sengit terkait asal usul bahasa. Dan perdebatan paling  besar di antara para linguis dan yang sangat menarik dalam asal-usul bahasa adalah apakah kita bisa menerangkan bahasa hanya dengan menggunakan mekanisme pembelajaran dasar, ataukah kita harus memostulatkan sebagian kesiapan bahasa (language-readdiness) khusus yang memang sudah terbentuk? Orang yang hanya belajar misalnnya, B.F. Skinnner berkata bahwa pengondisian masa kanak-kanak, atau mungkin peneladanan, bisa menerangkan kompleksitas bahasa (LAD; Language-Acquisition-Device) semisal Chomsky dan Pinker, berkata bahwa ketenangan dan kecepatan yang dijalankan anak—anak dalam belajar bahasa membutuhkan sesuatu yang lebih.
Alih-alih dari perdebatan tersebut, ada beberapa teori tentang asal usul bahasa, meski kebanyakan dari teori mempunyai nama-nama tradisional yang membingungkan, antara lain:
1)   Teori Mama
Bahasa  dimulai dengan suku kata yangg paling mudah disematkan pada objek-objek yang paling signifikan.
2)   Teori Ta-Ta
Bahasa dimulai sebagai imitasi vokal alam bawah sadar dari gerakan-gerakan tubuh seperti cara mulut anak kecil yang bergerak ketika mereka menggunnakan gunting, atau lidah yang dikeluarkan ketika mencoba untuk bermain gitar.
3)   Teori Bow-Wow
Bahasa dimulai sebagai  imitasi dari suara-suara alam-moo, choo-choo, suara tabrakan, suara bel, suara desis, suara dentuman, suara meong, dan sebagainya. secara teknis, lebih mengacu kepada onomatopoeia atau echoisme.
4)   Teori Pooh-Pooh
Bahasa dimulai dengan kataa seru, teriakan emosi yan instingtif, seperti “Ooh!” untuk rasa terkejut dan “Aduh!” untuk rasa sakit.
5)   Teori Ding-Dong
Sebagian orang,  termasuk linguis terkenal, Max Muller, menunjukkan bahwa ada sebuah kesusaian yang agak misterius antara suara dan makna. Sering dirujuk sebagai simbolisme suara.
6)   Teori Ye-He-Ho
Bahasa dimulai dengan nyanyian yang bersifat ritmik, yang mungkin berasal dari dengkuran para pekerja berat.linguis D.S. Diamond menunjukkan bahwa inni mungkin yang disebut bantuan atau kerja sama yang disertai engan syarat yang sesuai.
7)   Teori Sing-Song
Linguis Denmark, Jesperson, menunjukkann bahwa bahasa muncul dari permainan, gelak tawa, mendekut, berrkencan, berkomat-kamit secara emosional, dan senada dengan itu. Bahkan meenunjukkan bahwa, berkebalikan dengan teori yang lain, mungkin sebagian dari kata-kata pertamaa kita sebenarnya berbentuk panjang dan usikal, daripada berbentuk dengkuran yang telah diperkirakan sebelumnya.
8)   Teori Hey-Kamu
Seorang linguis bernama Revesz menunjukkan bahwa kata selalu membutuhkan kontak interpersonal, dan bahasa itu dimulai sebagai suara untuk memberi sinyal baik itu sinyal identitas (Inilah aku!) dan kepemilikan (Aku bersamamu!).
9)   Teori Hocus Pocus
Bahasa berakar dalam sejenis aspek magis atau keagamaan dari kehidupan nenek moyang, mulai dengan menyebut permainan binatang dengan suara-suara magis, yang kemudian akan menjadi nama-nama mereka.
10)   Teori Eureka
Bahasa memang sengaja diciptakan, sebagai nenek moyang mempunyai ide untuk menentukan suara-suara yang tidak beraturan menjadi sesuatu hal tertentu yang mempunyai makna. Setiap kali ide itu, ia akan menangkapnya dan memberikan makna kepadanya.
Bab XII, dalam bab ini Boeree membahas secara rinci, detail dan jelas mengenai kecerdasan dan IQ (Intellegence Quotient). Mungkin banyak dari kita yang memaknai bahwa kecerdasan itu sama dengan IQ, atau IQ itu bagiam dari kecerdasan. Lebih jelasnya Boeree menyingkap tabir mengenai kecerdasan dan IQ. Kecerdasan adalah kapasitas seseorang untuk:
1)   Memperoleh pengetahuan yakni belajar dan memahami
2)   Mengaplikasikan pengetahuan yakni memecahkan masalah dan,
3)   Melakukan penalaran abstrak
Kecerdasan adalah kekuatan akal seseorang, dan itu jelas-jelas sangat penting bagi kehidupan manusia karena merupakan aspek dari keseluruhan kesejahteraan manusia. Sedangkan Intellegence Quotient (IQ) adalah skor yang didapatkan dalam tes kecerdasan. Dengan rumus:
IQ = MA/CA x 100
Ket:
MA : Usia Mental (mental age)
CA :  Usia Kronologis (chronological age)                   
Dengan ketentuan rentang:
·         >70 (secara mental mengalami keterbelakangan)----2,2%
·         70-80 (garis batas keterbelakangan)----6,7%
·         80-90 (IQ-nya rata-rata rendah)----16,1%
·         90-110 (IQ-nya rata-rata)----50%
·         110-120 (IQ-nya rata-rata tinggi)----16,1%
·         120-130 (IQ super)----6,7 %
·         Over 130 (IQ sangat super)----2,2%
Untuk memahami IQ dan penelitiaa IQ, pentingnya memahami dasar-dasar statistik deskriptif: kurva normal, titik rata-rata (mean), dan deviasi standar. Selanjutnya mengetahui tentang korelasi. Korelasi merupakan apa yang sedang anda lakukan ketika anda membandingkan dua perangkat pengukuran (masing-masing perangkat disebut variabel). Berikut beberapa korelasi yang patut dipertimbangkan, antara IQ seseorang dengan IQ yang lain:
Ayah-Anak
.51
Ibu-Anak
.55
Saudara Kandung
.50


Keluarga Biologis
Keluarga Adoptif
Ibu-Anak
.41
.09
Ayah-Anak
.40
.16
Anak-Anak
.35
-.03


Kembar Sempurna
Kembar Persaudaraan (fraternal)
Sidik jari
.97
.46
Tingggi
.93
.65
IQ (Binet)
.88
.63
IQ (Otis)
.92
.62
Pemaknaan Kata
.86
.56
Studi alam
.77
.55
Sejarah dan Sastra
.82
.67
Pelafalan
.87
.73
Kecerdasan mempunyai komponen genetika yang sangat kuat. Dan itu tidak lepas juga melihat sejumlah bantuan dan gangguan lngkungan.
Macam-macam kecerdasan:
·         Kecerdasan verbal, numerik, spasial, penalarann, kelancaran, kecepatan perseptual.
·         Kecerdasan fluida vs terkristaliassi (Cattell)
·         Kecerdasan linguistik, musikal, logis-matematis, spasial, kinestetik, intraversonal, dan kecerdasan interpersonal (Gardner)
Kesulitan terbesar bagi individu maupun masyarakat berkenaan dengan kecerdasan adalah perlambatan. Klasifikasi keceerdasan yang tinggi, kecerdasan yang rendah dibagi dalam sub kategori:
·         0-20 (sangat besar) ---à butuh perawatan ekstra
·         20-35 (berat) ---à bisa  belajar berbicara dan mengembangkan perilaku sehat
·         35-50 (moderat) ---à kelas kedua, yang butuh perawatan tersendiri
·         50-70 (ringan) ---à mampu dididik sampai kelas enam, dan perlu dukungan diri yang minimal
Bab XIII, pada bagian pertama dari sub bab ini mengulas berbagai pendekatan tentang kecerdasan yang sekarang ini berpengaruh atau tampak menjadi seperti itu. Dari hasil diskusi mencurahkan kepada pendekatan psikometrik dominan. Sub bab selanjutnya Boeree mendiskusikan tentang perbedaan individu secara umum, tanpa mengacu kepada sifat yang khusus. Fokus pada kecerdasan seperti yang diukur oleh tes IQ konvensional. Dan fokus bahasnnya adalah bagaimana kontribusi relatif dari gen dan lingkungan terhadap perbedaan individu dalam sifat yang khusus, yaknni penekanan ddari permulaan bahwa aksi gen selalu berkaitan dengan lingkungan, setidaknya sebuah lingkungan biokimia, dan ekologis. Setiap individu mempunyai suatu lingkungan biologis dan sosial, sejak ddari kandungan sampai akhir hayat. Banyak asfek dari lingkungan tersebut yang bisa memengaruhi perkembangan intelektual. dapat diketahui bahwa sejumlah faktor biologis, termasu kekurangan gizi, pembongkaran substansi beracun, dan berbagai strepsor atau penekan prenatal dan perinatal, yag bisa mengakibatkan kecerdasan psiometriknya menjadi rendh di bawah.
Evaluation
Buku yang ditulis oleh George Boeree ini membahas tentang dunia pendidikan, pembelajaran dan pengajaran, masalah kecerdasan, dan hal-hal yang dalam ruang lingkup pendidikan lainnya. Saat ini dunia pendidikan adalah dunia yang penuh dengan kritik di negara ini, dalam buku ini George Boeree mengulas secara luas tentang ruang lingkup pembelajaran dan pengajaran dalam pendidikan, serta masalah-masalah apa saja yang terjadi di dalamnya, dan masalah apa saja yang membuat pendidikan di setiap negara mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi sampai yang rendah. Disini dapat dilihat tentang orang yang tidak merasa baik dengan kemampuan diri sendiri dan menolak dengan apa yang tidak mereka sukai. Kebanyakan orang selalu menghindari mata pelajaran yang tidak mereka sukai dan tidak ingin mencoba untuk berusaha memperbaiki diri.
Meskipun buku ini berbicara dalam konteks Amerika, tetapi Boeree tetap saja cerdas memetakan apa dan bagaimana fungsi serta peran pendidikan itu sendiri. Selain itu George Boeree juga membahas tentang pembelajaran dan bagaimana agar pembelaran itu tepat sasaran. Ia membahas bagaimana jalannya memori, apa itu kecerdasan, bagaimana asal usul bahasa dan perkembangannya, buku ini juga dikemas dengan menarik dan sangat berguna agar kita bisa cerdas dalam belajar dan berpendidikan, selain itu buku ini juga dapat menjadi pedoman pembelajaran bagi seorang pendidik seperti guru.
Akan tetapi bahasa yang digunakan oleh George Boeree kurang mudah untuk dipahami, butuh beberapa kali membaca dan pemahaman yang penuh agar dapat memahami apa yang disampaikan agar tidak salah dalam menafsirkannya. Meskipun isi dari buku tersebut banyak membahas tentang dunia pendidikan dan masalah-masalah yang ada di dalamnya tetapi butuh banyak pemahaman yang dibutuhkan agar dapat dengan jelas memahaminya.

No comments:

Post a Comment

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...