MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM DI MADRASAH
Ida Rohyatul Aini
Manajemen madrasah sangat
berbeda dengan manajemen bisnis dan merupakan bagian dari manajemen Negara.
Namun, manajemen madrasah tidak persis sama dengan manajemen Negara. Kalau
manajemen negara mengejar kesuksesan program baik rutin maupun pembangunan, maka
manajemen marasah mengejar kesuksesan perkembangan anak manusia melalui
pelayanan-pelayanan pendidikan yang memadai. Dengan demikian, manajemen bisnis
maupun manajemen Negara tidak dapat diterapkan begitu saja dalam dunia
pendidikan.[1]
A.
Pendahuluan
Pendidikan
merupakan aktivitas yang sengaja dilakukan untuk mengembangkan individu secara
penuh. Karena itu, norma nilai-nilai penting dalam semua perencanaan
pendidikan, baik norma itu skularis, humanis, marxis maupun religius sifatnya.
Islam memberikan sebuah norma objektif untuk ahli pendidikan.[2]
Pendidikan merupakan hak seluruh warga negara, pendidikan yang mengedepankan
rasa adil, merata dan bermutu bagi seluruh warga Indonesia tanpa terkecuali. Pengecualian
dalam pendidikan berarti telah mengesampingkan rasa adil dan hal ini
bertentangan dengan amanat Undang-undang Dasar dan UUSPN.[3]
Pergeseran
pendekatan dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan di Indonesia telah
berimbas pada manajemen sistem pendidikan, yaitu dari yang semula bersifat
sentralistis bergeser ke arah pengelolaan yang bersifat desentralistis.
Keinginan agar pengelolaan pendidikan diarahkan pada arah desentralisasi dan
otonomi ini menuntut partisipasi masyarakat secara aktif sebagai konsekuensi
logis atas diberlakukannya otonomi daerah. Kebijakan politik di tingkat makro
tersebut akan berdampak terhadap otonomi madrasah sebagai bagian dari sistem
pendidikan nasional secara keseluruhan.[4]
Madrasah
sebagai lini terdepan pada organisasi pendidikan akan menjadi pioner untuk
menjalankan kebijakan tersebut karena madrasah memiliki akar sejarah yang
sangat dalam di mana ide pendiriannya muncul dari masyarakat, dilakukan oleh
masyarakat dan diperuntukkan juga bagi masyarakat itu sendiri. Kebijakan yang
tertuang dalam bentuk konsep Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) ini harus
dimaknai sebagai bentuk otonomi sistem dan pengelolaan pendidikan yang
bertujuan untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan bagi seluruh lapisan
masyarakat, bukannya untuk memindahkan tanggung jawab dari pemerintah ke tangan
masyarakat.[5]
MBM
memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai
kebijakan secara mandiri yang diharapkan mampu mengangkat sekolah dari
keterpurukannya dan dapat memecahkan berbagai persoalan pendidikan pada
lembaga-lembaga pendidikan kita. MBM merupakan salah satu upaya untuk
meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan yang berkelanjutan, baik secara
makro, maupun mikro. Kerangka makro erat kaitannya dengan upaya politik yang
saat ini sedang ramai dibicarakan yaitu desentralisasi kewenangan dari pusat ke
daerah, sedangkan aspek mikro melibatkan seluruh sektor dan lembaga pendidikan
yang paling bawah, tetapi terdepan dalam pelaksanaannya, yang dalam hal ini
adalah madrasah.[6]
Pola
manajemen seperti ini memberi peluang bagi kepala sekolah, guru dan peserta
didik untuk melakukan inovasi dan improvisasi di sekolah, berkaitan dengan
masalah kurikulum, pembelajaran, manajerial dan lain sebagainya yang tumbuh
dari aktivitas, kreativitas dan profesionalisme yang dimiliki.
B. Makna Dasar Manajemen Pendidikan
Dalam maknanya yang paling umum, istilah manajemen memiliki banyak
pengertian tergantung pada kecenderungan orang yang mengartikannya. Dalam
bidang pendidikan, istilah manajemen sekolah atau madrasah seringkali
disandingkan dengan istilah administrasi sekolah, bahkan dalam berbagai
kesempatan istilah manajemen dan administrasi sering digunakan dalam term yang
sama. Hal ini karena didasarkan pada fungsi pokok yang sama antara manajemen
dan administrasi yaitu: fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan
pengawasan.[7]
Dalam bukunya yang berjudul Management, Peter P. Schoderbek
mendefinisikan manajemen sebagai “a process of achieving organizational
goals through others”.[8]
Adapun rumusan manajemen menurut Haughton, sebagaimana dikutip oleh
Mutthawi’, adalah suatu aktifitas yang melibatkan proses pengarahan, pengawasan
dan pengerahan segenap kemampuan untuk melakukan suatu aktifitas dalam suatu
organisasi. Dari definisi di atas, dapat ditarik suatu pengertian bahwa yang
dimaksud dengan Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) adalah segala usaha untuk
memberikan kewenangan kepada madrasah dan guru untuk mengatur pendidikan dan
pengajaran, merencanakan, mengorganisasi, mengawasi, mempertanggungjawabkan,
mengatur serta memimpin sumber daya insani serta sarana dan prasarana untuk
membantu pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan madrasah.[9]
Manajemen sering diartikan sebagai ilmu, kiat dan profesi. Luther
Gulick memandang manajemen sebagai ilmu karena manajemen dipandang sebagai suatu bidang pengetahuan
yang secara sistematik berusaha memahami memahami mengapa dan bagaimana orang
bekerja sama.[10]
Sedangkan menurut Folet melihatnya sebagai kiat karena manajemen mencapai
sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain menjalankan tugas.[11] Dipandang
sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai
suatu prestasi manajer, dan para profesional dituntut oleh suatu kode etik.
Meskipun cendrung mengarah pada suatu fokus tertentu, para ahli masih
berbeda pandangan dalam mendefinisikan manajemen dan karenanya belum dapat
diterima secara universal. Namun demikian terdapat konsesus bahwa manajemen
menyangkut derajat keterampilan tertentu. Untuk memahami istilah manajemen,
pendekatan yang digunakan di sini adalah berdasarkan pengalaman manajer.
Meskipun pendekatan ini mempunyai keterbatasan, namun hingga kini belum ada
perbaikan. Manajemen di sini dilihat sebagai suatu sistem yang setiap
komponenya menampilkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan. Manajemen merupakan
suatu proses sedangkan manajer dikaitkan dengan aspek organisasi
(orang-struktur-teknologi) dan bagaimana mengaitkan aspek yang satu dengan yang
lain, serta bagaimana mengaturnya sehingga tercapai tujuan sistem.
Dalam proses majemen terlibat fungsi-fungsi pook yang ditampilkan oleh
seorang manajer, yaitu: a) Perencanaan (planning), b) Pengorganisasian (organizing),
c) Pimpinan (leading), d) Pengawasan (controling).
Manajemen sering diartikan sebagai proses perencanaan, mengorganisasi,
memimpin dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan
organisasi tercapai secaara efektif dan efisien.
Ppemikiran tentang manajemen bermula pada tahun 5.000 SM di Mesir. Pada
masa itu orang memakai catatan tertulis untuk perdagangan dan pemerintahan.
Pada 3.00 SM- 3.00 M, masyarakat Roma memanfaatkan komunikasi efektif dan
pengendalian terpusat untuk efektifitas dan efisiensi. Tahun 1500 M, Machiaveli
membuat pedoman pemanfaatan kekuasaan. Tahun 1776 M, Adam Smith menyatakan
bahwa pembagian kerja titik kunci badan usaha.[12] Kemudian
1841-1925, Henry Fayol mengemukakan pentingnya administrasi. Sedangkan menurut
Mary Parker Follet manajemen sebagai seni untuk melaksanakan pekerjaan melalui
orang-orang.
Adapun interpretasi
tentang pendidikan berbeda-beda menurut para pakar. Perbedaan tak lain hanya
terletak pada sudut pandang, ada yang mendefinisikan dengan mengkonotasikannya
dengan peristilahan bahasa, keberadaan, dan hakikat kehidupan manusia di dunia
ini. Dan ada pula yang melihat dari segi proses kegiatan yang dilakukab dalam
penyelenggaraan pendidikan. Tetapi semua pendapat itu bertemu dalam pandangan
bahwa pendidikan adalah suatu proses mempersiapkan generasi muda untuk
menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan
efisien.
Oleh karena itu, pendidikan benar-benar
merupakan latihan fisik, mental, dan mooral bagi individu-individu supaya
mereka menjadi manusia yang berbudaya. Sehingga mampu memenuhi tugasnya menjadi
warga Negara yag berguna. Inilah yang kelihatannya merupakan pandangan yang
kebanyakan dipegang oleh para ahli pendidikan terkemuka sepanjang zaman. John
Dewey, misalnya mengemukakan bahwa pendidikan adalah proses pembentukan
kecakapan fundamental, secara intelektual dan emosional ke arah alam sesama
manusia.[13]
Adapun Mohammad Nasir
menyatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan jasmani dan rohani yang menuju
kepada kesempurnaan dan kelengkapan arti kemanusiaan dengan arti sesungguhnya.[14]
Pengertian tersebut hampir sama dengan pengertian yang dipublikasikan oleh
Ahmad D. Marimba, bahwa pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh si
pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju
terbentuknya kepribadian yang utama.
Dari beberapa pandangan
ahli pendidikan di atas, jelaslah bahwa pendidikan adalah suatu proses belajar
dan penyusaian individu-individu secara terus-menerus terhadap nilai-nilai
budaya dan cita-cita masyarakat. Dan dari pengertian terrsebut dapat
disimpulkan bahwa manajemen pendidikan islam adalah proses perencanaan,
mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan pendidikan islam dengan segala
aspeknya agar tujuan pendidikan tercapai secara efektif dan efisien.
Adapun teori-teori yang mendukung Manajemen Pendidikan:
a)
Teori Klasik
Teori klasik berasumsi
bahwa pekerja atau manusia itu bersifat rasional, berpikir logik, dan kerja
merupakan suatu yang diharapkan. Salah satu teori klasik adalah manajemen
ilmiah yang dipelopori Federik W. Taylor. Sasaran pada pendekatan ini adalah
kemakmuran maksimum bagi pengusaha dan karyawan. Selanjutnya Prinsip Studi
Waktu dipelopori oleh Gilbreth menyatakan bahwa semua usaha yang produktif
diukur dengan studi waktu secara teliti. Berdasarkan studi waktu muncul Prinsip Hasil Upah (PHU) yaitu upah diberikan harus sesuai dengan hasil yang
besarnya ditentukan dari studi waktu.
Pelopor klasik yang
lain yaitu Henri Fayol yang menyatakan ada 5 pedoman manajemen yaitu:
perencanaan, pengorganisasian, pengkomandoan, pengkordinasian, dan pengawasan.
Prinsip-prinsip pokok menurut Fayol: (1) Kesatuan komando, (2) Wewenang harus
didelegasikan, (3) Inisiatif harus dimiliki seorang manajer, (4) Adanya
solidaritas kelompok. Prinsip-prinsip tersebut harus bersifat luwes.
Selanjutnya Max weber
berpendapat bahwa birokrasi merupakan ciri dari pola organisasi yang
strukturnya dibuat sedemikian rupa sehingga secara maksimal dapat memanfaatkan
tenaga ahli. Karakteristik birokrasi ditandai dengan: (1) Pembagian tugas dan
spesialis, (2) Hubungan impersonal, (3) Adanya hirarki wewenang, (4)
Administrasi secara tertulis, (5) Pembinaan pengembangan karir, (6) Tindakan seimbang dengan sumbangan.
Setiap individu dalam
organisasi mempunyai wewenang yang diatur oleh berbagai peraturan kebijakan dan
ketetapan hukum sehingga diperlukan pembagian tugas sesuai dengan spesialis
yang dimiliki individu. Birokrasi merupakan usaha untuk menghilangkan tradisi
organisasi yang membuat keputusan secara emosional atau ikatan kekeluargaan
sehingga mengakibatkan organisasi tidak efektif. Birokrasi juga tidak ada
hubungannya dengan prosedur yang berbelit-belit, penundaan pekerjaan,
ketidakefisienan, dan pemborosan.
Meskipun teori ini
memiliki keunggulan dalam mencapai efisiensi organisasi, sekarang ini tidak
banyak berkembang karena sudah tidak sesuai denan perkembangan jaman yang
semakin global. Patokan-patokan pada teori klasik sudah tidak mencukupi
pengaruh globalisasi yang semakin bergolak. Sehingga muncul teori neo klasik.
Contoh dalam teori ini pentingnya manajer mempertahankan wewenang formal,
tetapi sekarang karyawan semakin terdidik sehingga mereka kurang dapat menerima
wewenang formal.
Kelemahan teori klasik
menurut Filley, Kerr dan Hous dalam Nanang Fatah (2009:24) adalah: (1) Teori
klasik adalah teori yang terikat waktu, hanya cocok diterapkan pada permulaan
awal abad duapuluh, (2) Teori ini mempunyai ciri-ciri deterministic, hanya
menekankan pada prinsip-prinsip manajemen tanpa memperhitungkan dimensi dalam
manajemen, dan (3) Asumsi teori ini dirumuskan secara eksplisit.
b) Teori Neo Klasik
Teori ini muncul karena
pada manajer terdapat kelemahan dengan teori klasik. Teori ini berasumsi bahwa
manusia itu makhluk sosial dengan mengaktualisasikan dirinya. Para tokoh aliran
ini menyatakan hakikat organisasi adalah kerjasama, manajemen dapat bekerja
secara efisien dan tetap hidup jika tujuan organisasi dan kebutuhan perorangan
yang bekerja dijaga dengan baik. Vromm mengajukan teori tentang motivasi sebagai
berikut: P = f (M.A), M= f (V.E), P = f (A.V.E). Keterangan: P = prestasi kerja, M= motivasi kerja, A = ability
(kemampuan),V = valensi (prefensi keinginan), E = Ekspektasi (harapan)
Dua hal yang penting
dalam teori Vromm adalah pembedaan antara imbalan instrinsik dan ekstrinsik dan
spesifikasi dari suatu keadaan di mana ekspektasi dan nilai mempengaruhi
kualitas pekerjaan seseorang. Seorang manajer harus menilai dan
mempertimbangkan struktur imbalan dengan hati-hati melalui perencanaan yang
teliti.
Pemahaman perilaku akan
menunjukan keefektifan tugas yang harus dilakukan seorang manajer walaupun hal
tersebut merupakan bidang yang amat rumit. Perilaku seseorang dipengaruhi tiga variable,
yaitu 1) Variabel individu, mencakup keterampilan mental, fisik, latar belakang
keluarga, tingkat social, pengalaman, umur an jenis kelamin, 2) Variabel
organisasi, mencakup sumber daya yang tersedia, gaya kepemimpinan,system
imbalan, struktur organisasi, dan desain pekerjaan, dan 3) Variabel psikologi, mencakup
persepsi sikap, kepribadian, proses belajar an motivasi.
c)
Teori Modern
Pendekatan ini didasarkan
hal-hal yang bersifat situasional. Asumsi yang dipakai adalah bahwa orang itu
berlainan dan berubah, baik kebutuhannya, reaksinya, tindakannya sesuai dengan
lingkungan. Manajemen dipandang sebagai suatu sistem didasarkan pada asumsi
bahwa organisasi merupakan sistem terbuka dan tujuan organisasi mempunyai
kebergantungan.
Teori modern mempunyai
pandangan bahwa organisasi itu terbuka dan kompleks. Analisis sistem, rancangan
sistem, dan manajemen member petunjuk dalam mengoperasionalkan pendekatan
sistem merupakan tiga unsur pokok yang berusaha mengenal esensi keterpaduan
berbagai unsur dalam memecahkan masalah yang sifatnya kompleks, termasuk
pendidikan.
C.
Karakteristik
Manajemen Berbasis Madrasah
Setelah Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) ditawarkan menjadi sebuah
bentuk operasional desentralisasi pendidikan, maka madrasah juga harus
dipersiapkan untuk menerima dan menjalankan tawaran tersebut. Untuk mendukung
upaya ke situ, perlu diketahui lebih jauh mengenai karakteristik MBM
diantaranya adalah:
1)
Pemberian
Otonomi yang luas Kepada sekolah
MBM
memberikan otonomi luas kepada sekolah namun tetap disertai dengan seperangkat
tanggung jawab. Dengan adanya otonomi yang memberikan tanggung jawab
pengelolaan sumber daya dan pengembangan strategi sesuai dengan kondisi
setempat, sekolah dapat lebih memberdayakan tenaga kependidikan (guru) agar
lebih berkonsentrasi pada tugas utamanya.
2)
Partisipasi
Masyarakat dan Orang tua
Dalam MBM, pelaksanaan program-program sekolah didukung oleh
partisipasi masyarakat dan Orang tua peserta didik yang tinggi. Orang tua peserta didik dan masyarakat tidak hanya
mendukung sekolah melalui bantuan keuangan, tetapi melalui komite sekolah dan
dewan pendidikan merumuskan serta mengembangkan program-program yang dapat
meningkatkan kualitas sekolah.
3)
Kepemimpinan
yang Demokratis dan Profesional
Dalam
MBM, pelaksanaan program-program sekolah didukung oleh adanya kepemimpinan
sekolah yang demokratis dan profesional. Kepala sekolah dan guru-guru sebagai
tenaga pelaksana inti program sekolah merupakan orang-orang yang memiliki
kemampuan dan integritas profesional.
4) Team work yang Tinggi dan Profesional.
Dalam
MBM, keberhasilan program-program sekolah didukung oleh kinerja team work yang
kompak dan transparan dari berbagai pihak yang terlibat dalam pendidikan di
Sekolah. Dalam dewan pendidikan dan komite sekolah misalnya, pihak pihak yang
terlibat bekerja sama secara harmonis sesuai dengan perannya masing-masing
untuk mewujudkan suatu “madrasah yang dibanggakan“ oleh semua pihak. Mereka
tidak menunjukkan kuasa atau paling berjasa, tetapi masing-masing memberi
kontribusi terhadap upaya peningkatan mutu dan kinerja sekolah secara kaffah.
D.
Kriteria
Keberhasilan Manajemen Berbasis Madrasah
Ada tiga hal yang dapat dijadikan sebagai ukuran bagi keberhasilan
MBM, yaitu:
1)
Prestasi Siswa:
angka mengulang kelas menurut angka putus sekolah menurut NEM meningkat dan
prestasi dibidang juga meningkat
2)
Manajemen
Madrasah ada perbaikan: ada rencana/program kerja tahunan, Kepala Madrasah yang
memiliki kepemimpinan dan manajerial.
3)
Partisipasi
masyarakat yang tinggi.[15]
E. Dimensi-dimensi Manajemen
Pendidikan
1.
Manajemen
Kurikulum dan Program Pengajaran
Kurikulum secara etimologi berasal dari
bahasa Latin Curriculum, semula berarti a running course, specially a
chariot race course, dan terdapat pula dalam bahasa Perancis “Courier”
artinya “to run” (berlari). Untuk mendapatkan rumusan tentang pengertian
kurikulum, para ahli mengemukakan pandangan yang beragam. Dalam pandangan
klasik, lebih menekankan kurikulum sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah.
Pelajaran-pelajaran dan materi apa yang harus ditempuh di sekolah, itulah
kurikulum. Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai
suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan,
seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell (1935), bahwa kurikulum: “… to
be composed of all the experiences children have under the guidance of
teachers”. Dipertegas lagi oleh pemikiran Ronald C. Doll (1974), yang
mengatakan bahwa: “…the curriculum has changed from content of courses study
and list of subject andcourses to all experiences which are offered to learners
under the auspices or direction of school”. Sedangkan George A. Beauchamp
(1986), mengemukakan bahwa: “A Curriculum is a written document which may
contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of
pupils during their enrollment in given school”.[16]
Beauchamp mengatakan bahwa kurikulum adalah suatu rencana pendidikan atau
pengajaran, pelaksanaan rencana itu sudah masuk pengajaran.
Menurut
Mulyasa manajemen kurikulum merupakan suatu kegiatan yang mencakup perencanaan,
pelaksanaan, dan penilaian kurikulum.[17]
Pandangan Mulyasa hanya menekankan pada tiga aspek saja, sedangkan aspek
pengorganisasian kurikulum secara eksplisit tidak dijelaskan dalam definisinya.
Menurut Nasution organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk bahan pelajaran yang
akan disampaikan kepada murid.[18]
Sedangkan Suharsimi Arikunto mendefinisikan manajemen kurikulum adalah segenap
proses usaha bersama untuk memperlancar pencapaian tujuan pengajaran dengan
titik berat pada usaha meningkatkan kualitas interaksi belajar mengajar.
Beauchamp mengatakan bahwa kurikulum adalah suatu rencana pendidikan atau
pengajaran, pelaksanaan rencana itu sudah masuk pengajaran.
Pengurus
madrasah harus mampu mengambil dan menerjemahkan kurikulum yang disesuaikan
dengan kebutuhan masyarakat dan relevan dengan lingkungan di mana siswa berada
pada saat itu.[19]
Secara umum manajemen kurikulum dan program pengajaran mencakup tiga kegiatan, Pertama:
perencanaan kurikulum yang dilakukan melalui tahapan pengkajian kurikulum
secara menyeluruh penyusunan program kurikulum selama satu tahun pelajaran,
penyusunan analisis materi pelajaran yang dilakukan oleh para guru, pembuatan
satuan pelajaran dan perencanaan pengajaran. Kedua: pelaksanaan
kurikulum yaitu realisasi jadwal pelajaran, penggunaan hari efektif madrasah,
pemantapan atau pelajaran tambahan bagi kelas-kelas yang akan mengikuti
kegiatan, evaluasi tahap akhir, ulangan sumatif dan formatif serta pengelolaan
pembelajaran di kelas. Ketiga: Penilaian kurikulum yang dibedakan ke
dalam penilaian proses dan hasil belajar siswa.[20]
2.
Manajemen
Tenaga Kependidikan
Sumber daya manusia (SDM) dalam suatu lembaga pendidikan, terutama
terkuat tenaga pendidik dan kependidikan memiliki arti penting, dikarenakan
kegiatan operasional lembaga pendidikan dilaksanakan oleh tenaga pendidik dan
tenaga kependidikan. Tujuan dilakukannya pengelolaan sumber daya manusia
(pendidikan dan kependidikan) secara umum, agar para pengelola pendidikan
memiliki wawasan, kreativitas dan motivasi yang tinggi agar mereka mampu: a) Mewujudkan sistem organisasi yang mampu
mengatasi kelemahannya sendiri, b) Menyediakan personel yang cakap, andal, dan
mampu bekerja sama dengan baik, sehingga program dapat direalisasikan sesuai
yang diharapkan, c) Menyesuaikan pogram sesuai dengan kebutuhan kehidupan
pembelajar yang kompetitif, sehat dan dinamis, d) Membangun iklim kerja yang
kondusif yang mendukung tumbuhnya profesionalisme dalam bekerja, sehingga
produktivitas kerja dapat dicapai.[21]
Dalam kondisi apapun unsur yang paling kritis dan berpengaruh
terhadap perubahan yang diingini pada anak didik adalah aspek personil
madrasah, baik itu tenaga edukatif maupun tenaga administrative.[22]
Secara umum pelaksanaan manajemen tenaga kependidikan setidaknya mencakup tujuh
kegiatan utama, yaitu:
a)
Perencanaan (Planning)
Perencanaan
personil kependidikan merupakan kegiatan untuk menentukan kebutuhan personil
kependidikan baik secara kuantitatif maupun kualitatif untuk masa sekarang dan
masa depan. Ia lebih diarahkan pada penempatan seorang tenaga pendidikan dengan
berpegang pada prinsip “the right man on the right place”.[23]
b)
Pengadaan
Pengadaan
tenaga (personil) kependidikan adalah proses kegiatan untuk mengisi formasi
pegawai yang lowong, yang biasanya disebabkan karena adanya pegawai yang
berhenti atau karena adanya perluasan organisasi yang didasarkan keperluan,
baik dari segi jumlah maupun mutu.
c)
Pembinaan dan
Pengembangan
Pengembangan sumber daya manusia
tidak terbatas pada pelatihan yang diberikan, tetapi juga memberikan
kesempatan untuk berkembang dan memanfaatkan kemampuan serta keterampilan yang
mereka miliki. Dalam pengembangan ketenagaan, perlu memerhatikan prinsip: (1)
Menyeluruh, mencakup seluruh unsur pegawai, (2) Beriorientasi pada perubahan
prilaku dalam upaya meninngkatkan kemampuan profesonal sesuai profesi sesuai
posisi dan jabatan yang diembanny, (3) Mendorong kontribusi individu terhadap
organisasi dan menyediakan imbalan yang layak sesuai dengan kinerjanya, (4)
Diarahkan untuk mendidik dan melatih pegawai sebelum dan sesudah menduduki
jabatan/posisi sesui kebutuhan yang beriorientasi pada posisi jabatan di masa
yang akan datang, (5) Memenuhi tuntutan pertumbuhan dalam jabatan pengembangan
profesi, pemecahan masalah organisasi, perbaikan, dan pemeliharaan motivasi
kerja, serta ketahanan organisasi.
Agar
personil madrasah mampu melaksanakan tugas secara optimal dan bisa
menyumbangkan segenap kemampuannya untuk kepentingan lembaga maka dibutuhkan
adanya peningkatan dan perbaikan. Baik melalui on the job training maupun
in service training.[24]
d) Promosi dan Mutasi
Promosi
dan mutasi merupakan kegiatan manajemen tenaga kependidikan yang berhubungan
dengan suatu proses pemindahan fungsi, tanggung jawab dan status
ketenagakerjaan dari tenaga kependidikan pada situasi tertentu dengan tujuan
agar tenaga kependidikan yang bersangkutan memperoleh kepuasan kerja yang
mendalam dan dapat memberikan prestasi kerja semaksimal mungkin pada suatu
lembaga pendidikan.[25]
e) Pemberhentian
Pemberhentian
tenaga kependidikan merupakan fungsi personalia yang menyebabkan terlepasnya pihak
organisasi dan personil dari hak dan kewajiban sebagai lembaga tempat bekerja
dan sebagai tenaga kependidikan.
Terdapat
beberapa alasan pemberhentian kerja dilakukan organisasi, yaitu: (1) Permintaan
pegawai, (2) Mencapai batas usia pensiun yang berlaku, (3) Pegawai melakukan
penyelewengan atau pelanggaran terhadap aturan yang diberlakukan, (4) Adanya
penyederhanaan organisasi, yang menuntut pengurangan pegawai, (5) Pegawai tidak
cakap melaksanakan tugas yang diberikan, (6) Karena meninggal dunia atau hilang
sebagaimana dinyatakan yang berwajib.
Terdapat
beberapa prinsip dasar yang harus dipedomani dalam manajemen ketenagaan: (1)
Dalam pendidikan, sumber daya manusia (SDM) merupakan komponen yang paling
berharga, (2) Sumber daya manusia berperan optimal bila dikelola dengan baik,
sehingga mendukung tercapainya tujuan institusi pendidikan, (3) Budaya
organissasi dan perilaku manajerial dalam institusi pendidikan, (4) Institusi
mengupayakan agar segenap warga (pendidik, tenaga kependiikan, dan stakeholder
lainnya) dapat bekerja sama dan saling mendukung dalam pencapaian tujuan
institusi pendidikan. Sumber daya manusia atau ketenagaan merupakan potensi
sumber daya yang menjadi bagian internal, aset serta modal dalam membentuk dan
sebagai penggerak dalam pencapaian tujuan organisasi.[26]
f)
Kompensasi
Kompensasi
adalah balas jasa yang diberikan dinas pendidikan dan sekolah kepada tenaga
kependidikan yang dapat dinilai dengan uang dan mempunyai kecenderungan
diberikan secara tetap.
g)
Penilaian.
Penilaian disini merupakan suatu sistem penilaian secara obyektif
dan akurat yang dilakukan oleh pimpinan untuk melihat prestasi individu dan
peran sertanya dalam kegiatan organisasi sekolah.
3.
Manajemen
Pengelolaan Keuangan dan Pembiayaan
Untuk memahami konsep pendanaan, perlu dipahami terlebih dahulu
konsep pembiayaan. Ziemelman (1975), yang dikutip Nanang Fatah, mengatakan
bahwa: “biaya pendidikan tidak hanya menganalisis sumber dana, tapi juga
menyangkut penggunaan dana secara efisien dalam pencapaian tujuan pendidikan”.[27]
Secara sederhana, pengelolaan dana mencakup tiga aspek, yaitu: penerimaan atau
sumber dana, pengeluaran atau alokasi, serta pertangungjawaban dalam bentuk
pembukuan. Jadi dana atau pembiayaan merupakan biaya atau anggaran yang
dikeluarkan untuk mendukung proses pendidikan secara efisien dalam pencapaian tujuan
pendidikan yang optimal.
Jelasnya, manajemen keuangan dan pembiayaan adalah seluruh
proses kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan/diusahakan
secara sengaja dan bersungguh-sungguh, serta pembinaan secara
kontinyu terhadap biaya operasional madrasah sehingga kegiatan
madrasah semakin efektif dan efisien demi membantu tercapainya
tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.[28] Pada tingkat satuan pendidikan, keuangan dan pembiayaan
secara garis besar diperoleh dari subsidi pemerintah pusat,
pemerintah daerah, iuran siswa dan sumbangan masyarakat.
Sedangkan pada sekolah swasta kebanyakan berasal dari para siswa
atau yayasan. Tugas manajemen keuangan dapat dibagi menjadi tiga fase,
yaitu: perencanaan keuangan (financial planning), pelaksanaan
(implementation), dan evaluasi (evaluation).[29]
Dengan demikian, dalam prosesnya, pengelolaan keuangan diawali
dengan perencanaan yang dikenal dengan penganggaran,[30]
pengorganisasian,[31]
pelaksanaan anggaran,[32]
dan pengawasan serta pertanggung jawaban anggaran sesuai ketentuan yang
berlaku. Pengelolaan dana perlu dilakukan dengan benar, agar dapat dipastikan:
(1) Dana digunakan secara efisien, dalam pengertian dana yang minimal atau dana
tertentu dapat memperoleh hasil yang maksimal, (2) Terjadinya keberlanjutan
lembaga, (3) Mencegah kekeliruan, penyimpangan dan kebocoran dana. Bila hal
tersebut dalam waktu yang singkat dapat dikendalikan.
Keberhasilan pengelolaan dana bermanfaat bagi: (1) Efisiensi
penyelenggaraan pendidikan, (2) Menjamin kelangsungan hidup lembaga pendidikan,
(3) Mencegah kebocoran dana.
4.
Manajemen
Kesiwaan atau Peserta Didik
Peserta didik
adalah individu yang tercatat/terdaftar sebagai peserta dalam aktivitas
pembelajaran/pendidikan dalam suatu satuan pendidikan. Peserta didik merupakan
sasan pendidikan yang harus diarahkan, diperoses guna memiliki sejumlah
kompetensi yang diharapkan. Untuk pencapaian kompetensi tersbut diperlukan
suatu pengelolaan yang baik. Pengelolaan peserta didik yang dimaksud adalah
segala aktivitas berkaitan dengan peserta didik, dari sejak masuk sampai dengan
keluarnya peserta didik dari suatu sekolah atau suatu lembaga pendidikan.
Dengan demikian, pengelolaan peserta didik meliputi kegiatan: penerimaan,[33]
orientasi,[34]
pencatatan,[35]
pembinaan, dan penilaian.
Keorganisasian
dan kepemimpinan dapat dilakukan melalui aktivitas internal lembaga, maupun di
luar lembaga. Pengembangan minat dan bakat dapat disalurkan melaui kegitan
tambahan di luar program utama. Berbagai kegiatan pembinaan dapat dilakukan
dalam bentuk penyelenggaraan organisasi peserta didik atau Organisasi Siswa
Sekolah (OSIS), latihan dasar kepemimpinan, dan pemberian layanan: bimbingan
dan penyeuluhan, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), perpustakaan, asrama peserta
didik, kantin sekolah, transportasi sekolah, bantuan biaya pendidikan, serta
pembinaan alumni, dan lain-lain.
Jelasnya, Manajemen kesiswaan (murid) adalah seluruh proses
kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja serta pembinaan secara
kontinyu terhadap seluruh peserta didik (dalam lembaga pendidikan yang bersangkutan)
agar dapat mengikuti proses belajar mengajar secara efektif dan efisien mulai
dari penerimaan peserta didik hingga keluarnya peserta didik tersebut dari
suatu sekolah.[36]
Manajemen kesiswaan bertujuan untuk mengatur berbagai kegiatan
dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan
lancar, tertib, teratur serta dapat mencapai tujuan pendidikan sekolah. Untuk
mewujudkan tujuan sekolah tersebut, manajemen kesiswaan sedikitnya meliputi
empat kegiatan, yaitu: penerimaan murid baru, kegiatan kemajuan belajar,
bimbingan dan pembinaan disiplin serta monitoring.[37]
5.
Manajemen
Sarana Prasarana Pendidikan
Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara
langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar
mengajar seperti gedung, ruang kelas, meja kursi serta alat-alat dan media
pengajaran. Adapun yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah fasilitas
yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran
seperti halaman, kebun, taman sekolah dan jalan menuju sekolah.[38]
Keberadaan sarana dan prasarana tidak sekedar menunjang proses pendidikan, tapi
juga harus memberikan lingkungan pembelajaran yang aman, merangsang, dan
menyenangkan sehingga peserta didik
senng belajar dan berprestasi tinggi.[39]
Pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan merupakan kegiatan
menata, mulai dari perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, pemeliharaan,
iventarisasi dan penghapusan serta penataan lahan, bangunan, perlengkapan,
serta perabot secara tepat guna dan tepat sasaran. Sedangkan pengadaan dapat
diperoleh dari sumbangan, membeli dan mengadakan atau membuat sendiri. sselanjutnya, sarana dan
prasarana yang sudah ada tersebut dipelihara agar tetap dalam keadaan baik dan
fungsional, yang kapan saja dapat digunakan. Pemeliharaan dilakukan dengan
pengalokasian biaya untuk melakukan pemugaran, perbaikan, penggantian dann
pembersihan bangunan, perabot dan peralatan lainnya yang dilakukan sejak sarana
tersebut berada/diterima.
Inventaris merupakan pencatatan semua sarana prasarana yang
menggambarkan spesifikasi sarana menckup jumlah, jenis barang, kualitas, tahun
pembuatan, merek, ukuran harga, dan sebagainya. iventaris dibukukan ke dalam
buku induk barang inventaris (catatan semua barang ivenrtaris menurut urutan
tanggal) dan buku golongan iventaris (catatan barang inventaris menurut
golongan barang yang telah ditentukan).
Dalam prosesnya, pengelolaan sarana prasarana pendidikan menurut
Hunt Pierce, dalam J. Mamusung, harus memerhatikan prinsip: (1) Menggambarkan
cita-cita dan citra masyarakat, (2) Merupakan pancaran keinginan bersama,
dengan pertimbangan suatu tim ahli, (3) Disesuaikan dan memadai bagi
kepentingan peserta didik, (4) Dikelola oleh petugas yang profesional. (5)
Dipelihara dan dipergunakan secara semestinya.
Jadi, Manajemen sarana dan prasarana pendidikan bertugas mengatur
dan menjaga sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi
secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan. Pada garis besarnya,
manajemen sarana dan prasarana meliputi lima hal,[40]
yaitu: penentuan kebutuhan, proses pengadaan, pemakaian, pencatatan/pengurusan
dan pertanggungjawaban.
6.
Manajemen
Leadership
Ada hubungan
antara manajemen dengan kepemimpinan. Sondang P. Siagian menegaskan bahwa inti
manajemen ialah kepemimpinan. Manifestasi yang paling nyata dari manajemen
ialah kepemimpinan.[41]
Dengan pengertian lain, manajemen lebih luas daripada kepemimpinan, atau
kepemimpinan berada dalam lingkup manajemen.
Dalam bahasa
arab, kepemimpinan sering diterjemahkan sebagai al-riāyah, al-imārah, al-qiyādah,
atau atau al-za’āmah. Kata-kata tersebut memiliki satu makna sehingga
disebut sinonim atau murodif, sehingga kita bisa menggunakan salah satu
keempat kata tersebut untuk menerjemahkan kata kepemimpinan. Sementara itu,
untuk menyebut istilah kepemimpinan pendidikan, para ahli lebih memilih istilah
qiyādah tarbawiyah.[42]
Pemimpin adalah
seseorang yang mempunyai kemampuan untuk memengaruhi prilaku orang lain dalam
kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaan adalah kemampuan untuk
mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus
dilaksanakannya.[43]
Menurut Stoner, semakin banyak jumlah sumber kekuasaan yang tersedia bagi
pemimpin, akan makin besar potensi kepemimpinan yang efektif (Fattah,2004:88).
Plunkett dan Attner (1983:316), berpendapat: “kepemimpinan adalah proses
mempengaruhi individu atau kelmpok untuk menyusun tujuan atau mencapai tujuan.”
Perbedaan manager dengan pemimpin terletak pada kemampuan mempengaruhi
bawahan/orang lain dalam mencapai tujuan organisasi. Pemimpin sering ditemukan
di organisasi nonformal dan orang-orang
nonmanagerial (Plunkettt dan Attner,1983:317). Edginto dan William (1985:170)
memiliki pendapat yang sama, bahwwa kepemimpinan adaah proses mempengaruhi
perilaku kelompok.[44]
Menurut Bass
& Bass (2011:25) mendefinisikan kepemimpinan adalah interaksi dua atau
orang lebih dalam suatu kelompok terstruktur atau struktur ulang terhadap
situasi persepsi dan harapan anggota. Sedangkan Terry & Rue (1985)
menyatakan bahwa kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seorang
pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama secara sadar dalam
hubungan tugas yang diinginkan. Kepemimpinan menurut Hughes, et al. (2002)
berkenaan dengan keberanian mengambil resiko dengan perhitungan yang matang,
dinamika, kreativitas, ivovasi, rubahan, dan visi. Selanjutnya ditambahkan oleh
Hughes et al. (2002), “Leadership is everyone’s busines,” (Kepemimpinan
adalah urusan semua orang) karena setiap orang pada hakikatnya adalah pemimpin
yang kelak diminta pertanggungjawabannya terhadap kepemimpinannya.[45]
Kepemimpinan
merupakan salah satu faktor yang sangat berperan dalam organisasi, baik
buruknya organisasi sering kali sebagian besar tergantung pada faktor pemimpin.
Berbagai riset juga telah membuktikan bahwa faktor pemimpin memegang peranan
penting dalam pengembangan organisasi. Faktor pemimpin yang sangat penting
adalah karakter dari orang yang menjdi pemimpin tersebut sebagaimana
dikemukakan oleh Covey (2005) bahw 90 persen dari semua kegagalan kepemimpinan
adalah kegagalan pada karakter.
Secara
definisi, kepemimpinan memiliki berbagai perbedaan pada berbagai hal, namun
demikian yang pasti ada dari definisi kepemimpinan adalah adanya suatu proses
dalam kepemimpinan untuk meberikan pengaruh secara sosial kepada orang lain,
sehingga orang lain tersebut menjalankan suatu proses sebagaimana diinginkan
suatu proses dan sebagaimana yang diinginkan oleh pemimpin. Berbagai perbedaan
definisi tersebut tentu saja karena dibangun oleh teori yang berbeda
sebagaimana dapat dilihat pada beberapa definisi berikut yang disarikan dari
Covey (2005).
Dari beberapa
definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah proses
memengaruhi individu atau kelompok melalui kekuasaan untuk melaksanakan
tugas-tugas spesifik, sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif.
Jika dikaitkan
dengan kepemimpinan pendidikan, maka yang dimaksud dengan kepemimpinan
pendidikan adalah proses memengaruhi dan membimbing seorang pemimpin kepada
pendidik dan tenaga kependidikan untuk melaksanakan tugas-tugas kependidikan
dan penelitian dengan menggunakan fasilitas pendidikan yaang ada, baik secara
individu maupun kelompok, agar tujuan pendidikan tercapai secara efektif dan
efisien. Menurut Anwar (2003:70), “kepemimpinan pendidikan berarti usaha untuk
memimpin, memengaruhi dan memberikan bimbingan kepada para personel pendidikan
sebagai bawahan agar berbagai tujuan pendidikan dapat tercapai melalui
serangkaian kegiatan yang telah direncanakan.”[46]
Ada beberapa
tipe kemampuan dasar yang harus dimiliki pemimpin (penyelenggara) lembaga
pendidikan: (1) Kemampuan manejerial dalam kaitannya dengan chief officer,
(2) Sense of Business, kemampuan ini berhubungan dengan pencarian sumber
dana yang akan menjamin tetap terlaksananya operasional pendidikan, (3) Sense
of Educate, kemampuan dalam mendidik.[47]
Selanjutnya,
dalam kelompok manapun, seseorang pemimpin harus memiliki power atau pengaruh,
di antranya sebagai berikut: (1) Power eksekutif, yaiu pengaruh yang
dapat menimbulkan karisma dan wibawa untuk mengatur anggota kelompok atau orang
lain, (2) Power legislatif pembuat hukum, yaitu pengaruh untuk mengatur
hubungan antarkelompok (satu kelompok dengan kelompok lainnya), (3) Power pembuat
keputusan, yaitu pengaruh untuk mendamaikan perselisihan yang terjadi dalam
penerapan hukum.[48]
Terkait dengan
proses pengambilan keputusan, ada 3 kegiatan yang dilakukan yaitu sebagai
berikut: (1) Kegiatan yang menyangkut pengenalan, penentuan, dan diagnosis
masalah. (2) Kegiatan yang menyangkut pengembangan alternatif pemecahan
masalah. (3) Kegiatan yang menyangkut evaluasis dan memilih pemecahan masalah
yang terbaik.[49]
Ketiga kegiatan ini menunjukkan tahapan-tahapan pemecahan masalah secara
hierarkis yang terpadu dalam proses pengambilan keputusan. Kegiatan pertama
bersifat penjajakan, kegiatan kedua bersifat pengembangan, dan kegiatan ketiga
bersifat penentuan.
Adapun
ciri-ciri keputusan yang baik adalah sebagai berikut: (1) Setiap keputusan
sekolah yang diambil harus dikomunikasikan dengan jelas kepada orang-orang yang
terkena keputusan, (2) Kepala sekolah, staf, dan personil lainnya
berpartisipasi penuh di dalam prose pembuatan keputusan sekolah, (3) Keputusan sekolah yang dibuat tidak kaku,
harus rasional, dan mudah diimlementasikan, (4) Keputusan yang diambil harus
diikuti dengan implementasinya, (5) Keputusan sekolah yang telah diambil dan
dirasakan tidak cocok lagi, tidak dipaksakan untuk dilaksanakan, tetapi harus
dibuat keeputusan pengganti.[50]
Terkait dengan
fungsi dan peran pemimpin, Daryanto (2006:82-3) mengatakan bahwa fungsi Kepala
sekolah sebagai pemimpin sekolah berarti Kepala sekolah dalam kegiatan memimpinnya
berjalan melalui tahap-tahap kegiatan, sebagai berikut: pertama,
perencanaan (planning), kedua, pengorganisasian (organizing),
ketiga, pengarahan (directing), keempat, pengoordinasikan
(coordinating), kelima, pengawasan (controling).
Dalam satuan
pendidikan, Kepala sekolah menduduki 2 jabatan penting untuk bisa menjamin
kelangsungan proses pendidikan sebagaimana telah digariskan oleh peraturan
perundang-undangan. Pertama, Kepala sekolah adalah pengelola pendidikan
di sekolah secara keseluruhhan. Kedua, Kepala sekolah adalah pemimpin
formal pendidikan di sekolahnya (Anwar,2003:75)
Sebagai
pengelola pendidikan, berarti Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap
keberhasilan penyelenggaraan kegiatan pendidikan dengan cara melaksanakan
administrasi sekolah dengan seluruh substansinya. Di samping itu, Kepala
sekolah bertanggung jawab terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada
agar mereka mampu menjalankan tugas-tugas pendidikan. Oleh karen itu, sebagai
pengelola, kepala sekolah memiliki tugas untuk mengembangkan kinerja para
personal (terutama para guru) ke arah profesonalisme yang diterapkan.
7.
Manajemen
Hubungan Sekolah dan Masyarakat (HUMAS)
Manajemen
pendidikan Islam perlu menangani masyarakat atau hubungan lembaga pendidikan
Islam dengan masyarakat. Harus disadari bahwa masyarakat memiliki peranan yang
sangat penting terhadap keberadaan, kelangsungan, bahkan kemajuan lembaga
pendidikan Islam. Setidaknya, salah satu parameter penentu nasib lembaga
pendidikan Islam adalah masyarakat.
Menurut E.
Mulyasa, model manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan seluruh
proses kegiatan sekolah yang diirencanakan dan diusahan seecara sengaja dan
sungguh-sungguh, disertai pembinaan secara kontinu untuk mendapatkan simpati
dari masyarakat pada umumnya, dan khususnya masyarakat yang berkepentingan
langsung dengan sekolah.[51]
Simpati masyarakat akan tumbuh melalui upaya-upaya sekolah dalam menjalin
hubungan secara intensif dan proaktif di samping membangun citra lembaga yang
baik.
Selain itu,
hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan antara lain sebagai berikut: (1)
Memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan anak, (2) Memperkukuh tujuan
serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat, (3) Menggairahkan
masyarakat untuk menjalin hubungan masyarakat dengan sekolah.[52]
Tujuan
lain manajemen lembaga pendidikan hubungan sekolah dengan masyarakat yakni
dimaksudkan untuk: (1) Mengembangkan pemahaman tentang maksud-maksud dan
saran-saran dari sekolah, (2) Menilai program sekolah, (3) Mempersatukan orang
tua murid dan guru dalam memenuhi kebutuhan anak didik, (4) Mengembangkan
kesadaran tentang pentingnya pendidikan sekolah dalam era pembanguna, (5)
Membangun dan memelihara kepercayaan masyarakat terhadap sekolah, (6)
Memberitahu masyarakat tentang pekerjaan sekolah.[53]
Jika
hubungan sekolah dengan masyarakat berjalan dengan baik, rasa tanggung jawab dan
partisipasi masyarakat untuk memajukan sekolah juga akan baik dan tinggi.
Kepala
sekolah dan guru merupakan kunci dalam menciptakan hubungan yang baik antara
sekolah dengan masyarakat yang efektif dan harmonis di mana ia akan dapat
membentuk:
a)
Saling pengertian
antara sekolah, orang tua, masyarakat dan lembaga-lembaga lain yang ada di
masyarakat, termasuk dunia kerja,
b)
Saling membantu
antara sekolah dan masyarakat karena mengetahui manfaat, arti dan pentingnya
peranan masing-masing,
c)
Kerja sama yang
erat antara sekolah dengan berbagai pihak yang ada di masyarakat dan mereka
merasa bangga dan ikut bertanggung jawab atas suksesnya pendidikan di Sekolah.[54]
F.
Aufklarung
Bentuk pengelolaan MPMBM merupakan salah satu cara untuk
meningkatkan kualitas madrasah. Karena dengan MPMBM, madrasah
diberi keleluasaan untuk mengelola secara mandiri proses pendidikan
sesuai dengan keinginan, kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Melalui MPMBM, madrasah tidak lagi harus bergantung kepada kebijakan
pemerintah pusat (dalam nuansa sentralistik), tetapi sudah bisa
menentukan sendiri program pendidikannya (dalam nuansa
desentralistik). Dalam konteks ini, Kepala Madrasah yang dipandang
sebagai pihak yang banyak tahu tentang Madrasah dituntut untuk
kreatif dan inovatif dalam mengembangkan Madrasah. Dan Untuk mengamankan hasil yang diharapkan dari proses pendidikan
dibutuhkan suatu model pengawasan (monitoring dan evaluasi) yang
terintegrasi menyangkut input, process, output dan outcome.
meningkatkan kualitas madrasah. Karena dengan MPMBM, madrasah
diberi keleluasaan untuk mengelola secara mandiri proses pendidikan
sesuai dengan keinginan, kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Melalui MPMBM, madrasah tidak lagi harus bergantung kepada kebijakan
pemerintah pusat (dalam nuansa sentralistik), tetapi sudah bisa
menentukan sendiri program pendidikannya (dalam nuansa
desentralistik). Dalam konteks ini, Kepala Madrasah yang dipandang
sebagai pihak yang banyak tahu tentang Madrasah dituntut untuk
kreatif dan inovatif dalam mengembangkan Madrasah. Dan Untuk mengamankan hasil yang diharapkan dari proses pendidikan
dibutuhkan suatu model pengawasan (monitoring dan evaluasi) yang
terintegrasi menyangkut input, process, output dan outcome.
DAFTAR PUSTAKA
Pidarta,Made.1998.Peranan Kepala
Sekolah pada Pendidikan Dasar.Jakarta: PT Gramedia Indonesia.
Ashraf,Ali.1996.Horison Pendidikan Islam, cetakan ke-3.ttp:
Pustaka Firdus.
Jurnal al-‘Ulum; Vol. 2,Tahun 2013.
Mulyasa,E.2002.Manajemen
Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi dan Implementasi,cet. 1.Bandung: PT
Remaja Rosda Karya.
______Menjadi
Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK.Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Sidi,Indra
Djati.2001.Menuju Masyarakat Belajar: Menggagas Paradigma Baru Pendidikan,
cet.1.Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Badan
Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Keagamaan.2003.Pedoman Implementasi
Manajemen Berbasis Madrasah,cet ke-3.Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama
dan Keagamaan.
______2003.Konsep Dasar Manajemen madrasah mandiri, Jakarta:
Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan.
Peter
P. Schoderbek, et. al.1988.Management.London: Harcourt Brace
Jovanovich Publishers.
Gulick,Luther.Dictionary of
Education.New York: McGraw-Hill Book Company, t.th.
Folet.Managerial Proses and Organisational Behavior.Glenview:
Scott, tth
Fattah,Liat
Nanang.2001.Landasan Manajemen Pendidikan,Cet. V.Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Adam Smith,1982.Management System Analysis and Aplication,Cet.
I.Japan: Holt Saunders International.
Ahmad,Khursyid.1958.Prinsip-prinsip
Pendidikan Islm.Terj., M. Hashem.Bandung: tp.,
Natsir,Muhammad.1954.Capita
Selekta.Bandung: Gravenhage.
Sukmadinata,Nana Syaodih.1996.Pengembangan Kurikulum.Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Nasution,S.1995.Kurikulum dan Pengajaran.Jakarta: Bumi
Aksara.
Fuad,Nurhattati.2004.Manajemen Pendidikan Berbasis Masyarakat:
Konsep dan Setrategi Implementasi.Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Nawawi,Hadari.1996.Administrasi Pendidikan.Jakarta: Gunung
Agung.
Fatah,Nanang.2000.Landasan
Manajemen Pendidikan.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Gunawan,Ary
H.1996.Administrasi Sekolah: Administrasi Pendidikan Mikro.Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Supriadi,Dedi.2003.Satuan
Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Decker,Larry
E,. Virginia A. Decker.2003.Home, School, and Community Partnership.Oxford:
The Scarcrow Press Inc.
Suryosubroto,B.2004.Manajemen Pendidikan di Sekolah.Jakarta:
PT Rineka Cipta
Siagian,Sondang
P.1989.Fungsi-fungsi Manajerial.Jakarta: Bina Aksara.
Qomar,Mujamil.2007.Manajemen Pendidikan Islam: Strategi Baru
Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam.ttp: PT Gelora Aksara Pratama.
Jurnal Media Pendidikan: Jurnal Pendidikan Keagamaan,
Vol.XXV No. 3, Desember 2010, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung
Djati Bandung,hlm.405.
Musfah,Jejen.2015.Manajemen Pendidikan: Teori, Kebijakan, dan
Praktik.Jakarta: PT Prenadamedia Group.
Usman,Husaini.2014.Manajemen:
Teori, Praktik dan Riset Pendidikan.Jakarta: PT Bumi Aksara.
Taufik,Ali Muhammad.2004.Praktik
Manajemen Berbasi al-Qur’an, terj Abdul Hayyie al-Katttani dan
Sabaruddin.Jakarta: Gema Insani.
Danim,Sudarwan.2006.Visi
Baru Manajemen Sekolah dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akdemik.Jakarta: PT
Bumi Aksara.
Sutisna,Oteng.1989Administrasi
Pendidikan: Dasar Teoritis untuk Praktek Professional.Bandung: Angkasa.
Suardin.Interview
di Madrasah Tsanawiyah Khazanah Kebajikan yang dilakukan pada tanggal 28 April
2017 pukul 08.25-10.37
[1]Made Pidarta,Peranan Kepala Sekolah pada Pendidikan Dasar,(Jakarta:
PT Gramedia Indonesia,1998).hlm.1.
[2]Ali Ashraf,Horison Pendidikan Islam,cetakan ke-3,(ttp: Pustaka
Firdus,1996).hlm.23.
[3]Jurnal al-‘Ulum; Vol. 2,Tahun 2013.hlm.70.
[4]E. Mulyasa,Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi dan
Implementasi,cet. 1,(Bandung: Remaja Rosda Karya,2002).hlm.4.
[5]Indra Djati Sidi,Menuju Masyarakat Belajar: Menggagas Paradigma
Baru Pendidikan, cet.1,(Jakarta: Logos Wacana Ilmu,2001).hlm.30.
[6]Indra Djati Sidi,Menuju Masyarakat Belajar: Menggagas Paradigma
Baru Pendidikan, cet.1,(Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001).hlm.11.
[7]E. Mulyasa,Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi dan
Implementasi,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2002).hlm.19.
Lihat juga Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Keagamaan,Pedoman
Implementasi Manajemen Berbasis Madrasah,cet ke-3,(Jakarta: Puslitbang
Pendidikan Agama dan Keagamaan,2003).hlm. 2.
[8]Peter P. Schoderbek, et. al.,Management,(London: Harcourt
Brace Jovanovich Publishers,1988).hlm.8.
[9]E. Mulyasa,Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi dan
Implementasi,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2002).hlm.21.
[10]Luther Gulick,Dictionary of Education,(New York: McGraw-Hill
Book Company, t.tp).hlm.145.
[11]Folet,Managerial Proses and Organisational Behavior,(Glenview:
Scott, ttp).hlm.39.
[12]Adam Smith,Management System Analysis and Aplication,Cet.
I,(Japan: Holt Saunders International,1982).hlm.29.
[13]Khursyid Ahmad,Prinsip-prinsip Pendidikan Islm.Terj., M.
Hashem,(Bandung: t.tp.,1958).hlm.9.
[15]Badan Litbang Agama dan Keagamaan,Konsep Dasar Manajemen
Madrasah Mandiri, (Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan
Keagamaan,2003).hlm.57.
[16]Nana Syaodih Sukmadinata,Pengembangan Kurikulum,(Bandung:
Remaja Rosdakarya,1996). hlm.5.
[17]E. Mulyasa,Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi dan
Implementasi.(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2006).hlm.40.
[19]E. Mulyasa,Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi dan
Implementasi,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2002).hlm.40.
[20]Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Keagamaan,Manajemen
Madrasah Mandiri,cet ke-3,(Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan
Keagamaan, 2003).hlm.44-45.
[21]Nurhattati Fuad,Manajemen Penddidikan Berbasis Masyarakat:
Konsep dan Strategi Implementasi,(Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada,2004).hlm.35.
[22]Hadari Nawawi, Administrasi Pendidikan,(Jakarta: Gunung
Agung,1996).hlm.65.
[23]Hadari Nawawi, Administrasi Pendidikan,(Jakarta: Gunung
Agung,1996).hlm.65.
[24]Hadari Nawawi, Administrasi Pendidikan,(Jakarta: Gunung
Agung,1996).hlm.154.
[25]E. Mulyasa,Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks
Menyukseskan MBS dan KBK,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2002).hlm.154.
[26]Nurhattati Fuad,Manajemen Penddidikan Berbasis Masyarakat:
Konsep dan Strategi Implementasi,(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2004).hlm.38-39..
[27]Nanang Fatah,Landasan Manajemen Pendidikan,(Bandung: PT
Remaja Rosdakarya,2000).hlm.36.
[28]Ary H. Gunawan,Administrasi Sekolah: Administrasi Pendidikan
Mikro,(Jakarta: PT Rineka Cipta,1996).hlm.160.
[29]Dedi Supriadi,Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah,(Bandung:
PT Remaja Rosdakarya,2003).hlm.6.
[30]Perencanaan atau penganggaran adalah mengonsolidasikan rencana yang
berbeda untuk beragam program. Penganggaran dalm hal ini merupakan aktivitas
menghargakan program dalam bentuk uang. Di dalamnya tergambar besaran
dana, asal dana, alkasi dana untuk
setiap kegiatan, serta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas penghunaan dana
tersebut.
[31]Pengorganisasian dalam pengelolaan keuangan meliputi prosedur
pembuatan anggaran, pembuatan laporan keuangan, pendistribusian dana,
penyimpangan dana, serta prosedur pemeriksaan. Dengan adanya prosedur berarti
ada cara yang pasti sert dalam pengorgnisasian keuangan.
[32]Pelaksanaan dalam pengelolaan keuangan berkaitn dengan orang yang
memegang fungsi otorisator, ordonator, dan bendaharawan. Pemegang fungsi
otorisator melaksanakan penerimaan dan pengeluaran anggaran. Sedangkan pemegang
fungsi ordonator melakukan pemeriksaan atas permintaan dan penggunaan dana
serta memberikan perintah untuk membayar. Bendahara melaksanakan penerimaan,
penyimpanan, serta pengeluaran uamg atau surat berharga lain yaang dapat
dinilai dengan uang serta melakukan pertanggungjawaban.
[33]Penerimaan peserta didik dilakukan melalui kegiatan pendaftaran,
dan seleksi. Dalam aktivitas pendaftaran, harus tergambarkan penetapan jadwal
pendaftaran, mekanisme pendaftaran dan segenap persyaratan, serta kepanitiaan.
Kegiatan seleksi diadakan apabila jumlah pendaftaran melebihi daya tampung yang
trsedia. Hasil eleksi selanjutnyaa diumumkan dan dilakukan pendaftaran ulang.
[34]Orientasi merupakan kegiatan mengenalkan keberaaan lembaga
pendidikan, seperti organisasi, ketenagaan, sarana, program dan kondisi sekolah
lainnya, dalam upaya peserta didik dapat
beradaptasi dengan lingkuungan dan tuntutan lembaga. Dalm kegiatan orientasi
juga dilakukan penempatan dan pengelompokan. Pengelompokan dapat ditempuh
berdasarkan kesukaan di dalam memilih temen, prestasi, kemamppuan dan bakat
peerhatian atau minat, hasil test intelegensi.
[35]Pencatatan peerta didik, perlu dilakukan, untuk memperoleh gambaran
tentang latar belakang, kehadiran, prestasi dan berbagai masalah peserta didik.
Encatataan ini dalam bentuk buku induk, klapper, preensi, mutasi peserta didik.
Legger, biodata, daftar nilai, anecdoctoral record, raport, sserta kemajuan
belajar lainnya. Untuk memastikan pencapaian kompetensi peserta didik,
dilakukan pembinaan, baik dalam bentuk pendisiplinan, pengembangan
keorganisasian dan kepemimpinan, serta pengembangan minat dan bakat.
Pendisiplinan dapat dilakukan melalui pengendalian dari dalam, pengendalian
dari luar dan pengendalian kooperatif.
[36]Ary H. Gunawan,Administrasi Sekolah: Administrasi Pendidikan
Mikro,(Jakarta: PT. Rineka Cipta,1996).hlm.9.
[37]Mulyasa,Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi dan
Implementasi,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2002),hlm.46.
[38]E. Mulyasa,Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi dan
Implementasi,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2002),hlm.46.
[39]Larry E. Decker & Virginia A. Decker,Home, School, and
Community Partnership,(Oxford: The Scarcrow Press Inc,2003).hlm.39.
[40]B.Suryosubroto,Manajemen Pendidikan di Sekolah,(Jakarta: PT
Rineka Cipta,2004).hlm.113.
[42]Mujamil Qomar,Manajemen Pendidikan Islam: Strategi Baru
Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam,(ttp: PT Gelora Aksara
Pratama,2007).hlm.268-269.
[43]Dimuat di Jurnal Media Pendidikan: Jurnal Pendidikan Keagamaan,
Vol.XXV No. 3, Desember 2010, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung
Djati Bandung,hlm.405.
[44]Jejen Musfah,Manajemen Pendidikan: Teori, Kebijakan, dan Praktik,(Jakarta:
PT Prenadamedia Group,2015).hlm.301.
[45]Husaini Usman,Manajemen: Teori, Praktik dan Riset Pendidikan,(Jakarta:
PT Bumi Aksara,2014).hlm.310.
[46]Jejen Musfah,Manajemen Pendidikan: Teori, Kebijakan, dan Praktik,(Jakarta:
Prenadamedia Group,2015).hlm.301-302.
[47]E. Mulyasa,Manajemen berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan
Implementasi,(Bandung: PT Remaja Rosdakary,2002).hlm.12.
[48]Ali Muhammad Taufik,Praktik Manajemen Berbasi al-Qur’an,
terj Abdul Hayyie al-Katttani dan Sabaruddin,(Jakarta: Gema
Insani,2004).hlm.35-37.
[49]Husaini Usman,Manajemen: Teori, Praktik dan Riset Pendidikan,(Jakarta:
PT Bumi Aksara,2014).hlm.323.
[50]Sudarwan Danim,Visi Baru Manajemen Sekolah dari Unit Birokrasi
ke Lembaga Akademik,(Jakarta: PT Bumi Aksara,2006).hlm.231.
[51]E. Mulyasa,Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks
Menyukseskan MBS dan KBK,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2003).hlm.164.
[52]E. Mulyasa,Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan
Implementasi,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2002).hlm.50.
[53]Oteng Sutisna,Administrasi Pendidikan: Dasar Teoritis untuk
Praktek Professional,(Bandung: Angkasa,1989).hlm.145.
[54]E. Mulyasa,Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks
Menyukseskan MBS dan KBK,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2002).hlm.166.
No comments:
Post a Comment