MALKIS ROMA (MAKSIMALKAN KOORDINASI, INTEGRITASI, SINKRONISASI DAN SIMPLIFIKASI) DALAM KONSOLIDASI TRISENTRA PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA MILENIAL
Ida rohyatul
Aini
Era milenial merupakan era peluang sekaligus tantangan, era dimana ada kemudahan dan resiko, sehingga suka tidak suka, mau tidak mau zaman tersebut harus kita lalui dan hadapi. Oleh karena
itu, supaya kita tidak terombang-ambingkan oleh suasana
tersebut, kita harus mempunyai pegangan agar mampu beradaptasi
dengan era tersebut yang menurut ranggowarsito disebut dengan zaman edan.
Untuk
menghadapi situasi yang begitu cepat maka salah satu jalan adalah menanamkan nilai-nilai karakter bagi generasi bangsa agar siap menghadapi zaman tersebut. Terkait dengan hal itu, Ki Hajar
Dewantara mengajukan konsep
pendidikan untuk
mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan, yaitu Trisentra Pendidikan. Konsep
yang menggabungkan tiga pusat
pendidikan yang diyakini memberi
pengaruh besar terhadap pendidikan karakter. Tiga pusat pendidikan tersebut
adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Ki Hadjar Dewantara memasukkan kebudayaan dalam diri anak dan memasukkan diri anak ke dalam kebudayaan mulai
sejak dini, yaitu Taman Indria (balita). Konsep belajar ini adalah Tri No, yaitu:
1) Nonton (cognitive), nonton di sini adalah secara pasif dengan segenap panca indera. 2) Niteni (affective)
adalah menandai, mempelajari, mencermati apa yang ditangkap panca indera.
3) Nirokke (psychomotoric) yaitu menirukan yang positif untuk bekal menghadapi perkembangan anak. Ketika anak didik sudah menginjak
pada pendidikan Taman Muda (Sekolah Dasar), kemudian Taman Dewasa dan
seterusnya, maka konsep
pendidikan Ki Hadjar Dewantara adalah Ngerti, Ngroso lan Nglakoni. Model pendidikan ini dimaksudkan supaya anak tidak hanya dididik intelektualnya saja (cognitive), istilah
Ki Hadjar Dewantara 'ngerti',
melainkan harus ada keseimbangan dengan ngroso (affective) serta nglakoni (psychomotoric). Dengan demikian diharapkan setelah anak menjalani proses belajar mengajar dapat mengerti
dengan akalnya, memahami dengan perasaannya, dan dapat menjalankan atau melaksanakan pengetahuan yang sudah didapat dalam
kehidupan masyarakat.
Makna
sederhananya, keluarga merupakan
miniatur terkecil dari masyarakat yang bertanggung
jawab mendidik
individu anak agar menjadi masyarakat yang bermoral. Di dalam keluarga seorang anak belajar bersosialisasi
dan berinteraksi
agar ketika dewasa mampu melakukan hubungan yang baik dengan lingkungan dan masyarakat sekitar. Selanjutnya, sekolah
berfungsi sebagai
pembantu keluarga dalam memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anak didik, sekolah merupakan kelanjutan
dari apa yang
telah diberikan di dalam keluarga. Maka dari itu tugas guru
disamping mentrasfer ilmu pengetahuan, keterampilan-keterampilan, tetapi
guru juga mendidik anak beragama dan berbudi pekerti luhur. Kemudian, masyarakat adalah
ruang kelas terluas yang tanpa sekat bagi proses pendidikan, dan dari sosialnya dapat membentuk habit
pada anak. Seorang anak bergaul dan hidup di tengah-tengah masyarakat majmuk,
yang secara langsung maupun tidak langsung akan memberi pengaruh terhadap
karakternya. Karena pendidikan
karakter merupakan suatu habit, maka pembentukan karakter seseorang anak
memerlukan communities of character atau komunitas masyarakat yang bisa
membentuk karakter.
Untuk itu,
dunia pendidikan mempunyai peran dan tanggung jawab yang sangat penting untuk membawa perubahan dalam diri manusia, masyarakat dan
lingkungan sosial.
Namun dalam hal ini, tidak hanya pendidikan formal ataupun nonformal saja yang dibutuhkan dari
generasi milenial, dibutuhkan pula pendidikan karakter dalam membangun moral dan budi pekerti
pada generasi
ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa pembentukan
karakter merupakan salah satu
tujuan pendidikan Nasional yang dimuat pada UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional pasal 3, tujuan pendidikan Nasional
adalah mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga
Negara yang demoktaris serta bertanggungjawab.[1]
Megawangi menyebutkan bahwa pendidikan karakter
sebagai solusi dalam
menjawab permasalahan negeri ini.[2] Pendidikan karakter tidak
hanya mendorong
pembentukan perilaku positif anak, tetapi juga meningkatkan kualitas kognitifnya. Pengembangan
karakter
atau character building membutuhkan partisipasi dan sekaligus merupakan tanggung jawab dari orangtua, masyarakat, dan pemerintah. Sebab dengan menjadi dewasa secara rohani dan
jasmani, seseorang menjadi berkepribadian yang bijaksana baik terhadap dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat.
atau character building membutuhkan partisipasi dan sekaligus merupakan tanggung jawab dari orangtua, masyarakat, dan pemerintah. Sebab dengan menjadi dewasa secara rohani dan
jasmani, seseorang menjadi berkepribadian yang bijaksana baik terhadap dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Dengan demikian, di era milenial ini pendidikan karakter para generasi
perlu dioptimalkan dengan melalui MALKIS ROMA dalam konsolidasi peran trisentra
pendidikan, yaitu memaksimalkan: 1) Koordinasi, dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan bersama perlu adanya penyatuan tujuan antara semua pusat pendidikan
yang ada. Sehingga semua pusat pendidikan memiliki visi dan misi yang sama demi
mewujudkan pendidikan bagi generasi milenial. Ketidaksamaan visi pendidikan
akan berakibat pada perbedaan arah antara tujuan pendidikan dari masing-masing
sentral pendidikan. 2) Integrasi, beberapa pusat pendidikan ini perlu melakukan
penyesuaian diri satu sama lain yang saling berbeda untuk menjadi satu kesatuan yang saling
melengkapi. Tri pusat pendidikan ini diumpamakan organ tubuh yang menjadi jaringan
dan sistem organ dalam tubuh yang secara selaras melakukan peran sesuai fungsi
masing-masing bahkan saling menunjang satu sama lain. 3) Sinkronisasi,
pengaturan proses secara bersama-sama juga mutlak dibutuhkan dalam proses
pendidikan. Dengan kebersamaan trisentra pendidikan tersebut akan berbeda jika
dilakukan oleh sepihak saja. 4) Simplifikasi, menyederhanakan program
pendidikan hendaknya dilakukan supaya mudah untuk dilaksanakan.
Menilik konsep
di atas, pendidikan tidak hanya membentuk insan yang cerdas, namun juga berkarakter dan berkepribadian yang
unggul dengan harapan
agar generasi bangsa kelak dapat tumbuh dan berkembang dengan karakter yang berdasarkan nilai-nilai
luhur bangsa dan
agama. Dalam hal ini dapat disimpulkan peningkatan pendidikan karakter dapat dijadikan dasar dan perisai
atau pengendali bagi
generasi milenial dalam menghadapi perkembangan di era yang serba canggih. Sebagai generasi milenial perlu
menyadari pula betapa pentingnya pendidikan karakter sebagai sarana pembentuk perilaku
dan kepribadian dalam
berprilaku di media internet dan di kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini tidak hanya lingkungan sekolah
yang menjadi pusat
pembelajaran dari pendidikan karakter namun keluarga, lingkungan sekitar,
masyarakat dan pemerintah pula ikut
berperan aktif dalam mendukung hal
tersebut, sehingga terbentuklah generasi milenial yang berkarakter baik dan unggul
yang berdasarkan
nilai-nilai luhur bangsa dan agama.
DAFTAR PUSTAKA
Kurniawan, Machful Indra.2015.Tri Pusat
Pendidikan sebagai Sarana Pendidikan Karakter Anak Sekolah Dasar.Journal
Pedagogia, Volume 4, No. 1.
Suparlan, Henricus.2015.Filsafat Pendidikan Ki
Hadjar Dewantara dan Sumbangannya bagi Pendidikan Indonesia.Jurnal Filsafat, Vol. 25, No. 1.
Sukarman.2017.Reaktualisasi
Konsep Tri Pusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Perspektif Pendidikan
Islam Bagi Generasi Milenial.Jurnal PAI, Volume 5 Nomor l.
No comments:
Post a Comment