Tuesday, December 24, 2019

MALKIS ROMA (MAKSIMALKAN KOORDINASI, INTEGRITASI, SINKRONISASI DAN SIMPLIFIKASI) DALAM KONSOLIDASI TRISENTRA PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA MILENIAL


MALKIS ROMA (MAKSIMALKAN KOORDINASI, INTEGRITASI, SINKRONISASI DAN SIMPLIFIKASI) DALAM KONSOLIDASI TRISENTRA PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA MILENIAL

 Ida rohyatul Aini
Era milenial merupakan era peluang sekaligus tantangan, era dimana ada kemudahan dan resiko, sehingga suka tidak suka, mau tidak mau zaman tersebut harus kita lalui dan hadapi. Oleh karena itu, supaya kita tidak terombang-ambingkan oleh suasana tersebut, kita harus mempunyai pegangan agar mampu beradaptasi dengan era tersebut yang menurut ranggowarsito disebut dengan zaman edan.
Untuk menghadapi situasi yang begitu cepat maka salah satu jalan adalah menanamkan nilai-nilai karakter bagi generasi bangsa agar siap menghadapi zaman tersebut. Terkait dengan hal itu, Ki Hajar Dewantara mengajukan konsep pendidikan untuk mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan, yaitu Trisentra Pendidikan. Konsep yang menggabungkan tiga pusat pendidikan yang diyakini memberi pengaruh besar terhadap pendidikan karakter. Tiga pusat pendidikan tersebut adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Ki Hadjar Dewantara memasukkan kebudayaan dalam diri anak dan memasukkan diri anak ke dalam kebudayaan mulai sejak dini, yaitu Taman Indria (balita). Konsep belajar ini adalah Tri No, yaitu: 1) Nonton (cognitive), nonton di sini adalah secara pasif dengan segenap panca indera. 2) Niteni (affective) adalah menandai, mempelajari, mencermati apa yang ditangkap panca indera. 3) Nirokke (psychomotoric) yaitu menirukan yang positif untuk bekal menghadapi perkembangan anak. Ketika anak didik sudah menginjak pada pendidikan Taman Muda (Sekolah Dasar), kemudian Taman Dewasa dan seterusnya, maka konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara adalah Ngerti, Ngroso lan Nglakoni. Model pendidikan ini dimaksudkan supaya anak tidak hanya dididik intelektualnya saja (cognitive), istilah Ki Hadjar Dewantara 'ngerti', melainkan harus ada keseimbangan dengan ngroso (affective) serta nglakoni (psychomotoric). Dengan demikian diharapkan setelah anak menjalani proses belajar mengajar dapat mengerti dengan akalnya, memahami dengan perasaannya, dan dapat menjalankan atau melaksanakan pengetahuan yang sudah didapat dalam kehidupan masyarakat.
Makna sederhananya, keluarga merupakan miniatur terkecil dari masyarakat yang bertanggung jawab mendidik individu anak agar menjadi masyarakat yang bermoral. Di dalam keluarga seorang anak belajar bersosialisasi dan berinteraksi agar ketika dewasa mampu melakukan hubungan yang baik dengan lingkungan dan masyarakat sekitar. Selanjutnya, sekolah berfungsi sebagai pembantu keluarga dalam memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anak didik, sekolah merupakan kelanjutan dari apa yang telah diberikan di dalam keluarga. Maka dari itu tugas guru disamping mentrasfer ilmu pengetahuan, keterampilan-keterampilan, tetapi guru juga mendidik anak beragama dan berbudi pekerti luhur. Kemudian, masyarakat adalah ruang kelas terluas yang tanpa sekat bagi proses pendidikan, dan dari sosialnya dapat membentuk habit pada anak. Seorang anak bergaul dan hidup di tengah-tengah masyarakat majmuk, yang secara langsung maupun tidak langsung akan memberi pengaruh terhadap karakternya. Karena pendidikan karakter merupakan suatu habit, maka pembentukan karakter seseorang anak memerlukan communities of character atau komunitas masyarakat yang bisa membentuk karakter.
Untuk itu, dunia pendidikan mempunyai peran dan tanggung jawab yang sangat penting untuk membawa perubahan dalam diri manusia, masyarakat dan lingkungan sosial. Namun dalam hal ini, tidak hanya pendidikan formal ataupun nonformal saja yang dibutuhkan dari generasi milenial, dibutuhkan pula pendidikan karakter dalam membangun moral dan budi pekerti pada generasi ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan Nasional yang dimuat pada UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional pasal 3, tujuan pendidikan Nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demoktaris serta bertanggungjawab.[1]
Megawangi menyebutkan bahwa pendidikan karakter sebagai solusi dalam menjawab permasalahan negeri ini.[2] Pendidikan karakter tidak hanya mendorong pembentukan perilaku positif anak, tetapi juga meningkatkan kualitas kognitifnya. Pengembangan karakter
atau character building membutuhkan partisipasi dan sekaligus merupakan tanggung jawab dari orangtua, masyarakat, dan pemerintah. Sebab dengan menjadi dewasa secara rohani dan
jasmani, seseorang menjadi berkepribadian yang bijaksana baik terhadap dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Dengan demikian, di era milenial ini pendidikan karakter para generasi perlu dioptimalkan dengan melalui MALKIS ROMA dalam konsolidasi peran trisentra pendidikan, yaitu memaksimalkan: 1)  Koordinasi, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan bersama perlu adanya penyatuan tujuan antara semua pusat pendidikan yang ada. Sehingga semua pusat pendidikan memiliki visi dan misi yang sama demi mewujudkan pendidikan bagi generasi milenial. Ketidaksamaan visi pendidikan akan berakibat pada perbedaan arah antara tujuan pendidikan dari masing-masing sentral pendidikan. 2) Integrasi, beberapa pusat pendidikan ini perlu melakukan penyesuaian diri satu sama lain yang saling berbeda untuk menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi. Tri pusat pendidikan ini diumpamakan organ tubuh yang menjadi jaringan dan sistem organ dalam tubuh yang secara selaras melakukan peran sesuai fungsi masing-masing bahkan saling menunjang satu sama lain. 3) Sinkronisasi, pengaturan proses secara bersama-sama juga mutlak dibutuhkan dalam proses pendidikan. Dengan kebersamaan trisentra pendidikan tersebut akan berbeda jika dilakukan oleh sepihak saja. 4) Simplifikasi, menyederhanakan program pendidikan hendaknya dilakukan supaya mudah untuk dilaksanakan.
Menilik konsep di atas, pendidikan tidak hanya membentuk insan yang cerdas, namun juga berkarakter dan berkepribadian yang unggul dengan harapan agar generasi bangsa kelak dapat tumbuh dan berkembang dengan karakter yang berdasarkan nilai-nilai luhur bangsa dan agama. Dalam hal ini dapat disimpulkan peningkatan pendidikan karakter dapat dijadikan dasar dan perisai atau pengendali bagi generasi milenial dalam menghadapi perkembangan di era yang serba canggih. Sebagai generasi milenial perlu menyadari pula betapa pentingnya pendidikan karakter sebagai sarana pembentuk perilaku dan kepribadian dalam berprilaku di media internet dan di kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini tidak hanya lingkungan sekolah yang menjadi pusat pembelajaran dari pendidikan karakter namun keluarga, lingkungan sekitar, masyarakat dan pemerintah pula ikut berperan aktif dalam mendukung hal tersebut, sehingga terbentuklah generasi milenial yang berkarakter baik dan unggul yang berdasarkan nilai-nilai luhur bangsa dan agama.







DAFTAR PUSTAKA
Kurniawan, Machful Indra.2015.Tri Pusat Pendidikan sebagai Sarana Pendidikan Karakter Anak Sekolah Dasar.Journal Pedagogia, Volume 4, No. 1.
Suparlan, Henricus.2015.Filsafat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Sumbangannya bagi Pendidikan Indonesia.Jurnal Filsafat, Vol. 25, No. 1.
Sukarman.2017.Reaktualisasi Konsep Tri Pusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Perspektif Pendidikan Islam Bagi Generasi Milenial.Jurnal PAI, Volume 5 Nomor l.


[1]Tim Redaksi Pustaka Yustisia,Kompilasi Perundangan Bidang Pendidikan, Cet 1,(Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2009), h.101.
[2]Margi Wahono.Pendidikan Karakter: Suatu Kebutuhan bagi Mahasiswa di Era Milenial” dalam Integralistik No.2/Th.XXIX/2018, h.5.

No comments:

Post a Comment

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...