Saturday, November 13, 2021

YUK, KITA INTIP BAGAIMANA SINERGI KOMPONEN PENDIDIKAN ISLAM DI MASA KLASIK?

 


Anak didik merupakan salah satu dari komponen pendidikan yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikan.Tanpa anak didik, pengajaran tidak akan ada dan pendidikan tidak akan terjadi. Sebagai salah satu komponen pendidikan, anak didik mendapat perhatian yang serius dari para ahli pendidikan. Untuk keberhasilan pencapaian tujuan pengajaran khususnya, dan pendidikan pada umumnya, anak didik harus diperlakukan sebagai subyek dan objek. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa dalam pendidikan, guru dan siswa mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berat sekaligus mulia. Dikatakan berat karena guru mengemban kepercayaan yang diberikan oleh masyrakat guna melakukan fungsi pendidikan begitu pun dengan siswa. Jadi sebagai bagian dari komponen pendidikan, satu dan lainnya saling bersinergi untuk mencapai tujuan pendidikan seyogyanya.

Seiring bergilir gantinya waktu, tahun ke tahun tentu terjadi pergeseran dalam proses kemajuan dunia pendidikan di masanya. Sebelum beranjah ke fase modernis, mari kita putar jarum jam untuk menilik pendidikan di masa klasik yakni seperti apa dan bagaimana  komponennya berproses sehingga saling bersinergi.

Kehidupan Para Siswa di Masa Islam Klasik

1. Karakteristik Murid

a. Pengertian Batasan Murid

Murid  merupakan anak yang sedang berguru, yang memperoleh pendidikan dasar dari satu lembaga pendidikan.

Di awal perkembangan islam, para penuntut ilmu tidak ada perbedaan. Ketika Rasulullah SAW masih hidup, semua sahabat diberi kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang ajaran islam dari Rasulullah SAW. Dalam kenyataannya tidak semua sahabat dapat memanfaatkan kesempatan untuk menimba ilmu dari beliau. Namun pada masa klasik tidak ada ketentuan pasti tentang batasan bagi seseorang yang mau belajar di kuttab. Para murid yang memasuki lembaga dasar ini bervariasi. Ada murid yang mulai memasuki kuttab berumur 5 tahun, ada yang berumur 7 tahun dan bahkan ada yang berumur 10 tahun. 

b.  Biaya dan Lama Belajar

Biaya selama belajar di kuttab pada dasarnya dibebankan kepada keluarga murid. Orang tua murid membayar dengan sejumlah uang yang dibayar pada setiap minggu atau setiap bulan. Terkadang pembayaran itu di lakukan dengan sejumlah bahan makanan sebagai pengganti uang.

 Lama belajar di kuttab tergantung kemampuan anak didik. Murid yang cerdas dan rajin dapat menyelesaikan belajarnya dalam waktu yang relatif singkat. Sebaliknya anak atau murid yang kurang cerdas dan malas memekan waktu agak lama untuk menyelesaikan pelajaran. Meskipun demikian, umumnya masa belajar di kuttab kurang lebih 5 tahun.

2.  Keadaan murid

Menurut Mahmud Yunus, para murid di kuttab belajar 6 hari dalam seminggu. Pelajaran di mulai pada hari sabtu dan berakhir pada hari kamis. Waktu belajar di mulai pada pagi hari dan berakhir setelah sholat ashar. Biasanya sehabis sholat dzuhur para murid pulang kerumah untuk makan.

Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa para murid pada siang hari lebih banyak bergaul dengan guru dan para murid lainnya di kuttab. Adapun murid yang berada dalam pemeliharaan seorang guru, pergaulannya dengan seorang guru lebih lama dari murid-murid lain yang harus pulang kerumah setelah pelajaran selesai. Karena itu, dapat diasumsikan bahwa guru yang mengajar di kuttab adalah orang terdekat selain orang tua.

    Kompetensi Mengajar Guru Pada Masa Klasik

Menurut Mas’ud Khasan Abdul Qohar, kompetensi adalah kekuasaan, wewenang atau hak yang di dasrkan pada peraturan tetentu. Sedangkan kompetensi mengajar menurut Uzer Ustman(1992) adalah wewenang guru untuk melaksanakan tugas mengajar berdasarkan persyaratan-persyaratan tertentu.

Menurut Al-Qosqosamdi bahwa syarat untuk menjadi guru pada masa khalifah Fatimiyah di Mesir secara umum dapat digolongkan ke dalam 2 syarat:

v  Syarat Fisik:

1)      Bentuk badanya bagus

2)      Manis muka

3)      Lebar dahinya

4)      Bermuka bersih

v  Syarat Psikis:

1)      Berakal sehat

2)      Hatinya beradap

3)      Tajam pemahamannya

4)      Adil terhadap siswa

5)      Bersifat perwira

6)      Sabar dan tidak mudah marah

7)      Bila berbicara menggambarkan keluasan ilmunya

8)      Perkataannya jelas, mudah dipahami

9)      Dapat memilih perkataan yang baik dan mulia

10)  Menjauhi perbuatan yang tidak terpuji

 Abdurrahman al-Nahlawi (1989) menyarankan agar guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, ia harus mamiliki sifat-sifat sebagai berikut:

1)      Tingkah laku dan pola pikir guru bersifat rabbani

2)      Guru harus ikhlas

3)      Guru sabar dalam mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan kepada anak-anak

4)      Guru jujur dalam menyampaikan apa yang diserukannya

5) Guru senantiasa membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan  dan harus meningkatkan kualitas dirinya

6)   Guru mampu menggunakan berbagai metode  mengajar secara bervariasi dan mampu memilih metode sesuai dengan kebutuhan anak

7)    Guru mampu mengelola siswa

8) Guru mempelajari kehidupan psikis anak selaras dengan tingkat usia perkembangannya, sehingga ia dapat memperlakukan siswa sesuai dengan kemampuan akal dan kesiapan psikis mereka

9) Guru tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang mempengaruhi perkembangan jiwa anak

10)  Guru bersikap adil kepada semua anak didiknya, tidak membedakan antara satu dengan yang lainnya.

Pranata Sosial dan Guru

Menurut al-Jahiz (dalam Ziauddin Alavi, 1988: 69) guru dapat diklasifikasikan ke dalam tiga golongan adalah:

a)     Guru-guru yang mengajar sekolah kanak-kanak (mu’alim al-kuttab)

Para mu’allim kuttab (guru sekolah kanak-kanak) mempunyai status sosial yang rendah. Hal ini disebabkan oleh kualitas keilmuan mereka yang dangkal dan kurang berbobot. Mereka Pdituduh menyebabkan lahirnya image yang kurang baik terhadap profesi guru. Di kota Palermo terdapat kurang lebih 300 orang guru/ mu’allim al-kuttab yang kebanyakan diantara mereka menderita sakit sawan, ceroboh dan bodoh. Namun demikian, tidak semua mu’allim al-kuttab ceroboh dan bodoh. Ada sebagian diantara mereka yang ahli dalam bidang sastra, ahli khat, dan fuqaha’. Mereka inilah golongan guru/ mu’allim al-kuttab yang dihormati dan di hargai seperti Al-Hajaja, Al-Kumait, Abdul Hamid Al-Katib, Atha’ Bin Abi Rabah dan lain-lain.

b)     Para guru yang mengajar para putera mahkota (muaddib)

Berbeda dengan mu’allim al-kuttab, para muadib mempunyai status sosial yang tinggi, bahkan tidak sedikit par ulama yang mendapat kesempatan  untuk menjadi muadib. Hal ini disebabkan untuk menjadi muadib diperlukan beberapa syarat, diantaranya adalah alim, berakhlak mulia dan dikenal masyarakat.

c)      Para guru yang mengajar di masjid-masjid dan sekolah-sekolah (ustadz)

Seorang guru dalam golongan ini telah beruntung sekali mendapatkan kehormatan dan penghargaan tinggi di hadapan masyarakat.

Peranan Guru dalam Kehidupan Masyarakat

 Guru merupakan sosok penting, yang tidak perlu diragukan lagi keberadaanya dalam kehidupan masyarakat. Sosok jiwa yang bersih sepi ing pamrih senantiasa menjadi dambaan masyarakat. Guru-guru pada masa klasik selalu di kelilingi oleh  para siswa yang datang  dari berbagai pelosok wilayah dunia yang bertujuan mendengarkan langsung kajian yang dibawakan oleh gurunya. Tidaklah mengherankan apabila sosok individu guru yang alim dan terkenal lebih dominan dari pada pendidikan yang formal. Tokoh-tokoh istimewa tertentu, yang telah mempelajari hadits dan membangun sistem teologi serta hukum yang berlaku di kalangan mereka, senantiasa menarik perhatian murid-murid dari daerah yang jauh dan dekat untuk menuntut ilmu pengetahuan dari mereka. Maka ciri utama pada masa ini adalah pentingnya peranan individu guru.

 Sudah menjadi tradisi pendidikan islam pada masa klasik, bahwa guru tidak pernah membatasi kapan murid harus selesai belajar kepadanya, kecuali ia telah menyelesaikan (khatam) kitab yang dikajinya. Murid diberi kebebasan untuk belajar kepada siapa saja dan kapan saja,dan bahkan guru tidak pernah menawarkan pelajaran secara khusus yang harus diselesaikan oleh murid pada waktu tertentu. Namun tidak berarti guru bebas melepaskan muridnya kemanapun ia pergi dan mencari ilmu. Guru tetap bertanggung jawab atas  keberhasilan murid yang pernah belajar kepadanya. Hal ini sebagaimana yang telah diungkapkan oleh al-Jarnuzi dalam kitabnya Ta’lim al-Muta’alim bahwa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan membutuhkan arahan guru.

  Selain itu guru juga bertanggung jawab atas masyarakat yang berada di sekitar Madrasah. Karena keberadaan madrasah akan mempunyai dampak yang positif bagi masyarakat manakala madrasah dapat membantu memainkan peranan dalam pembangunan masyarakat. Selain itu, guru juga mempunyai tanggung jawab dalam memantau perkembangan anak didik yang berada dilingkungan masyarakat sekitar madrasah. Bagaimana pergaulan anak dan peranan apa yang dapat dimainkan anak. Guru mempunyai tugas mengontrolnya sekalipun guru sendiri secara sosiologis punya kewajiban untuk menjadi dinamisator dalam kehidupan masyarakat.

 Tidaklah heran apabila guru pada masa klasik ini disebut dengan teacher oriented, karena guru mempunyai peranan yang amat penting dalam proses pendidikan anak, mulai dari menentukan perencanaan sampai melaksanakannya.

Pada masa klasik, para muaddib, mu'allim, dan ustadz mampu mamainkan peranannya dalam kehidupan masyarakat dengan cara bergabung dalam institusi-institusi keilmuan dan perkumpulan-perkumpulan pribadi yang mereka bangun. Mereka melakukan transformasi keilmuan secara ekstensif melalui dialog dan praktik-praktik secara terbuka guna mendidik tenaga profesional dalam bidangnya, seperti Zakaria Al-Razi, yang mendidik tenaga profesional sambil melakukan praktik kedokteran dan menangani pasien di rumah sakit. Hal ini ia lakukan untuk melatih tenaga muda yang profesional agar dapat mengabdikan dirinya dalam kehidupan masyarakat.

Organisasi Guru pada Masa Klasik

Dalam hal pemerintahan, guru mempunyai pengaruh yang amat penting dalam pemerintahan, bahkan kekuasaannya mempunyai andil yang besar dalam kekuasaan khalifah, selain itu organisasi guru dapat dijasikan corong untuk menyebarkan ajaran atau aliran yang dianut oleh pemerintah. Hal ini tampaknya tidak terlalu berlebihan, karena guru terhimpun  dalam suatu organisasi yang mempunyai power yang dapat mengendalikan kepentingan khalifah khususnya dalam hal pengangkatan dan pemberian izin untuk menjadi pengajar di suatu Masjid.

Pola Interaksi Guru dan Siswa pada Pendidikan Islam Klasik

1.     Gambaran Interaksi Rasulullah dan Sahabat pada Periode Awal Pendidikan Islam

Pada pola pertama, nabi melaksanakan pendidkan terhadap umat sebagai dakwah terhadap risalah yang di bawanya yang memeliki nilai ibadah dihadapan aloh swt. Nabi menjalankanya dengan tulus iklas tanpa menuntut materi dari dakwah yang dilakukan sikap ini juga ditanamkan oleh nabi kepada para sahabat dalam mengikuti dakwah nabi. Kedua, nabi langsung menjadi guru umat dan model dari akhak yang diinginkan. Dengan demikian, umat langsung dapat bentuk yang diinginkan al-Quran dari sikap Rasulullah SAW sehari-hari.

Dalam keseharianya Nabi SAW, sangat dihormati dan para sahabat  mendudukan nabi pada posisi yang tinggi, tetapi nabi tetap bersikap tawadu.

2.      Pola Sikap Guru dan Siswa pada Pendidikan Islam Klasik

 Pola sikap guru terhadap siswa dalam interaksi edukatif pada pendidikan islam klasik diantaranya:

1)      Pola keikhlasan

Pada pola ini siswa diharapkan mampu menguasai ilmu pengetahuan yang di ajarkan tanpa mengharapkan imbalan materi dan menganggap interaksi tersebut berlangsung sesuai dengan panggilan jiwa untuk mengapdikan diri pada Allah SWT dan mengemban amanah yang dia amalkan.

2)      Pola kekeluargaan

Pada pola kekeluargaan guru memposisikan dirinya dan siswa seperti orangtua dan anak. Artinya, mereka mempunyain tanggung jawab yang penuh dalam pendidikan tersebut, dan mencurahkan kasih sayang seperti menyayangi anak sendiri.

3)      Pola kesederajatan

Pada pola ini guru senantiasa memunculkan sikap tawadu' terhadap siswanya. Pola interakasi seperti ini membuat guru menghargai potensi yang dimiliki anak didiknya. Sikap tawaduk yang dimiliki, membuat guru tidak bersikap diktator atau merasa lebih benar

4)      Pola al-uswah al-hasanah

Pada pendidikan islam klasik, interaksi antara guru dan siswa tidak hanya pada proses belajar mengajar, tetapi juga pada masyarakat. Dengan demikian siswa dapat melihat gambaran yang diinginkan guru.

 3. Pola Sikap Siswa terhadap Guru dalam Interaksi Edukatif

a. Pola ketaatan

Ketaatan siswa terhadap gurunya membawa barokah dalam proses pencarian ilmu yang merupakan upaya mencari ridhoNya (kerelaan hati), dan yang harus dilakukan sebagai seorang siswa adalah menjauhi amarah guru, dan menjunjung tinggi perintahnya selama tidak bertentangan dengan agama.

b. Pola kasih sayang

Menurut Ibn Maskawaih, kewajiban cinta siswa terhadap guru berada diantara cinta terhadap Allah SWT, dan cinta kepada orang tua, karena menurut Ibn Maskawaih, guru merupakan penyebab eksistensi hakiki kita dan pentebab kita memperoleh kebahagiaan sempurna.

Betolak dari penjelasan di atas, kita dapat mengetahui karakteristik pola sikap guru dan siswa dalam interaksi edukatif, yaitu:

1)   Memberikan penghargaan yang tinggi pada kesucian batin yang tercermin pada kesadaran sosial dan usaha-usaha idealistik yang ditujukan pada penguasaan setiap kecakapan yang menjadi tuntutan tugas seseorang;

2)    Interaksi antar guru dan siswa dalam proses belajar mengajar dipandang sebagai kewajiban agama.

3)  Adanya hubungan pribadi yang dekat antara guru dan siswa, menjamin keterpaduan bimbingan rohani dan akhlaq, dengan pengajaran sebagai keterampilan.

4)   Interaksi guru dan siswa tidak hanya terjadi dalam proses belajar mengajar, tetapi interaksi tersebut tetap berlangsung di tengah masyarakat

5)    Adanya keseimbangan antara interaksi guru dan siswa pada pendidikan islam klasik.

6)    Pola yang ada merupakan pengembangan interaksi yang terjadi pada zaman rosululloh.

Kesimpulan

Karena tidak adanya ketentuan yang tegas tentang masalah umur yang bisa memasuki tingkatan kuttab, hal ini menimbulkan murid yang belajar di kuttab umurnya bervariasi. Murid yang miskin bisa belajar di kuttab dengan ‘cuma-cuma. Waktu yang di gunakan belajar di kuttab cukup lama, dari pagi hari sampai selesai shalat ashar. Lamanya waktu yang digunakan untuk belajar, hal ini memungkinkan guru membina murudnya dengan baik. Murid-murid yang cerdas akan dapat menyelesaikan pelajaran relatif lebih cepat, dan selanjutnya mereka meneruskan pelajaran di halaqah Masjid Jami’ atau Madrasah. Ukuran kelulusan seorang murid adalah kemampuan menghafal al-Qur’an.

Dalam status sosial guru sangat ditentukan oleh kualitas keilmuan dan kepribadian masing-masing. Mereka yang mempunyai kompetensi mengajar yang kualifaid serta dapat memegang amanah keguruan dengan baik, ia akan mendapat kehormatan dan penghargaan yang setinggi-tingginya dari masyarakat.

 

Refrensi:

Nata, Abudin.2004. Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Suwito.2005. Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Jakarta: Prenada Media

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment

DARAH - DARAH WANITA

YANG TINGGAL DI ANTARA KITA

  YANG TINGGAL DI ANTARA KITA Zizi Althofunnisa   Cinta itu datang diam-diam, lalu menetap tanpa izin di mataku, di cara aku men...