Anak didik merupakan salah satu dari komponen
pendidikan yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikan.Tanpa anak
didik, pengajaran tidak akan ada dan
pendidikan tidak akan terjadi. Sebagai
salah satu komponen pendidikan, anak didik
mendapat perhatian yang serius dari para ahli pendidikan. Untuk keberhasilan
pencapaian tujuan pengajaran khususnya, dan
pendidikan pada umumnya, anak didik
harus diperlakukan sebagai subyek dan objek. Sebagaimana
yang kita ketahui bahwa dalam pendidikan, guru dan siswa mempunyai tugas dan tanggung jawab
yang berat sekaligus mulia. Dikatakan
berat karena guru mengemban kepercayaan yang diberikan oleh masyrakat guna melakukan
fungsi pendidikan begitu pun dengan siswa. Jadi
sebagai bagian dari komponen pendidikan, satu dan lainnya saling bersinergi
untuk mencapai tujuan pendidikan seyogyanya.
Seiring bergilir gantinya waktu, tahun ke tahun
tentu terjadi pergeseran dalam proses kemajuan dunia pendidikan di masanya. Sebelum
beranjah ke fase modernis, mari kita putar jarum jam untuk menilik pendidikan
di masa klasik yakni seperti apa dan bagaimana komponennya berproses sehingga saling
bersinergi.
Kehidupan Para Siswa di Masa Islam Klasik
1. Karakteristik Murid
a. Pengertian
Batasan Murid
Murid merupakan
anak yang
sedang berguru, yang memperoleh pendidikan dasar dari satu lembaga pendidikan.
Di awal perkembangan islam, para penuntut ilmu tidak ada perbedaan. Ketika Rasulullah SAW masih hidup, semua sahabat diberi kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang ajaran islam dari Rasulullah SAW. Dalam kenyataannya tidak semua sahabat dapat memanfaatkan kesempatan untuk menimba ilmu dari beliau. Namun pada masa klasik tidak ada ketentuan pasti tentang batasan bagi seseorang yang mau belajar di kuttab. Para murid yang memasuki lembaga dasar ini bervariasi. Ada murid yang mulai memasuki kuttab berumur 5 tahun, ada yang berumur 7 tahun dan bahkan ada yang berumur 10 tahun.
b. Biaya dan Lama Belajar
Biaya selama belajar di kuttab pada dasarnya
dibebankan kepada keluarga murid. Orang tua murid membayar dengan sejumlah uang
yang dibayar pada setiap minggu atau setiap bulan. Terkadang pembayaran itu di
lakukan dengan sejumlah bahan makanan sebagai pengganti uang.
Lama belajar di
kuttab tergantung kemampuan anak didik. Murid yang cerdas dan rajin dapat
menyelesaikan belajarnya dalam waktu yang relatif singkat. Sebaliknya anak atau
murid yang kurang cerdas dan malas memekan waktu agak lama untuk menyelesaikan
pelajaran. Meskipun demikian, umumnya masa belajar di kuttab kurang lebih 5
tahun.
2. Keadaan murid
Menurut Mahmud Yunus, para murid di kuttab belajar 6
hari dalam seminggu. Pelajaran di mulai pada hari sabtu dan berakhir pada hari
kamis. Waktu belajar di mulai pada pagi hari dan berakhir setelah sholat ashar.
Biasanya sehabis sholat dzuhur para murid pulang kerumah untuk makan.
Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa para murid
pada siang hari lebih banyak bergaul dengan guru dan para murid lainnya di
kuttab. Adapun murid yang berada dalam pemeliharaan seorang guru, pergaulannya
dengan seorang guru lebih lama dari murid-murid lain yang harus pulang kerumah
setelah pelajaran selesai. Karena itu, dapat diasumsikan bahwa guru yang
mengajar di kuttab adalah orang terdekat selain orang tua.
Kompetensi Mengajar Guru Pada
Masa Klasik
Menurut Mas’ud Khasan Abdul Qohar, kompetensi adalah kekuasaan, wewenang atau hak yang di dasrkan pada
peraturan tetentu. Sedangkan kompetensi mengajar menurut Uzer Ustman(1992) adalah wewenang guru untuk melaksanakan tugas mengajar berdasarkan
persyaratan-persyaratan tertentu.
Menurut Al-Qosqosamdi
bahwa syarat untuk menjadi guru pada masa khalifah Fatimiyah di Mesir secara
umum dapat digolongkan ke dalam 2 syarat:
v
Syarat Fisik:
1)
Bentuk badanya bagus
2)
Manis muka
3)
Lebar dahinya
4)
Bermuka bersih
v
Syarat Psikis:
1)
Berakal sehat
2)
Hatinya beradap
3)
Tajam pemahamannya
4)
Adil terhadap siswa
5)
Bersifat perwira
6)
Sabar dan tidak mudah marah
7)
Bila berbicara menggambarkan
keluasan ilmunya
8)
Perkataannya jelas, mudah dipahami
9)
Dapat memilih perkataan yang baik
dan mulia
10) Menjauhi
perbuatan yang tidak terpuji
Abdurrahman
al-Nahlawi (1989) menyarankan agar guru dapat melaksanakan tugasnya dengan
baik, ia harus mamiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1)
Tingkah laku dan pola pikir guru
bersifat rabbani
2)
Guru harus ikhlas
3)
Guru sabar dalam mengajarkan
berbagai ilmu pengetahuan kepada anak-anak
4)
Guru jujur dalam menyampaikan apa
yang diserukannya
5) Guru senantiasa membekali dirinya
dengan ilmu pengetahuan dan harus meningkatkan kualitas dirinya
6) Guru mampu menggunakan berbagai
metode mengajar secara bervariasi dan mampu memilih metode sesuai dengan
kebutuhan anak
7) Guru mampu mengelola siswa
8) Guru mempelajari kehidupan psikis
anak selaras dengan tingkat usia perkembangannya, sehingga ia dapat
memperlakukan siswa sesuai dengan kemampuan akal dan kesiapan psikis mereka
9) Guru tanggap terhadap berbagai
kondisi dan perkembangan dunia yang mempengaruhi perkembangan jiwa anak
10) Guru
bersikap adil kepada semua anak didiknya, tidak membedakan antara satu dengan
yang lainnya.
Pranata Sosial dan Guru
Menurut al-Jahiz (dalam Ziauddin Alavi, 1988: 69) guru dapat diklasifikasikan ke dalam tiga golongan
adalah:
a) Guru-guru
yang mengajar sekolah kanak-kanak (mu’alim al-kuttab)
Para mu’allim kuttab (guru sekolah kanak-kanak)
mempunyai status sosial yang rendah. Hal ini disebabkan oleh kualitas keilmuan
mereka yang dangkal dan kurang berbobot. Mereka Pdituduh menyebabkan lahirnya image yang kurang baik terhadap profesi
guru. Di kota Palermo terdapat kurang lebih 300 orang guru/ mu’allim al-kuttab yang kebanyakan diantara mereka menderita sakit sawan, ceroboh dan
bodoh. Namun demikian, tidak semua mu’allim
al-kuttab ceroboh dan bodoh. Ada sebagian diantara mereka yang ahli dalam
bidang sastra, ahli khat, dan fuqaha’. Mereka inilah golongan guru/ mu’allim al-kuttab yang dihormati dan di hargai seperti Al-Hajaja, Al-Kumait, Abdul Hamid
Al-Katib, Atha’ Bin Abi Rabah dan lain-lain.
b) Para guru
yang mengajar para putera mahkota (muaddib)
Berbeda dengan mu’allim
al-kuttab, para muadib mempunyai
status sosial yang tinggi, bahkan tidak sedikit par ulama yang mendapat
kesempatan untuk menjadi muadib. Hal ini disebabkan untuk menjadi muadib diperlukan beberapa syarat,
diantaranya adalah alim, berakhlak mulia dan dikenal masyarakat.
c)
Para guru
yang mengajar di masjid-masjid dan sekolah-sekolah (ustadz)
Seorang guru dalam golongan ini telah beruntung sekali
mendapatkan kehormatan dan penghargaan tinggi di hadapan masyarakat.
Peranan Guru dalam Kehidupan Masyarakat
Guru merupakan
sosok penting, yang tidak perlu diragukan lagi keberadaanya dalam kehidupan
masyarakat. Sosok jiwa yang bersih sepi ing pamrih senantiasa menjadi dambaan
masyarakat. Guru-guru pada masa klasik selalu di kelilingi oleh para
siswa yang datang dari berbagai pelosok wilayah dunia yang bertujuan
mendengarkan langsung kajian yang dibawakan oleh gurunya. Tidaklah mengherankan
apabila sosok individu guru yang alim dan terkenal lebih dominan dari pada
pendidikan yang formal. Tokoh-tokoh istimewa tertentu, yang telah mempelajari
hadits dan membangun sistem teologi serta hukum yang berlaku di kalangan
mereka, senantiasa menarik perhatian murid-murid dari daerah yang jauh dan
dekat untuk menuntut ilmu pengetahuan dari mereka. Maka ciri utama pada masa
ini adalah pentingnya peranan individu guru.
Sudah menjadi
tradisi pendidikan islam pada masa klasik, bahwa guru tidak pernah membatasi
kapan murid harus selesai belajar kepadanya, kecuali ia telah menyelesaikan
(khatam) kitab yang dikajinya. Murid diberi kebebasan untuk belajar kepada
siapa saja dan kapan saja,dan bahkan guru tidak pernah menawarkan pelajaran
secara khusus yang harus diselesaikan oleh murid pada waktu tertentu. Namun
tidak berarti guru bebas melepaskan muridnya kemanapun ia pergi dan mencari
ilmu. Guru tetap bertanggung jawab atas keberhasilan murid yang pernah
belajar kepadanya. Hal ini sebagaimana yang telah diungkapkan oleh al-Jarnuzi
dalam kitabnya Ta’lim al-Muta’alim bahwa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan
membutuhkan arahan guru.
Selain itu guru juga bertanggung jawab atas
masyarakat yang berada di sekitar Madrasah. Karena keberadaan madrasah akan
mempunyai dampak yang positif bagi masyarakat manakala madrasah dapat membantu
memainkan peranan dalam pembangunan masyarakat. Selain itu, guru juga mempunyai
tanggung jawab dalam memantau perkembangan anak didik yang berada dilingkungan
masyarakat sekitar madrasah. Bagaimana pergaulan anak dan peranan apa yang
dapat dimainkan anak. Guru mempunyai tugas mengontrolnya sekalipun guru sendiri
secara sosiologis punya kewajiban untuk menjadi dinamisator dalam kehidupan
masyarakat.
Tidaklah heran
apabila guru pada masa klasik ini disebut dengan teacher oriented, karena guru
mempunyai peranan yang amat penting dalam proses pendidikan anak, mulai dari
menentukan perencanaan sampai melaksanakannya.
Pada masa klasik, para muaddib, mu'allim, dan ustadz
mampu mamainkan peranannya dalam kehidupan masyarakat dengan cara bergabung
dalam institusi-institusi keilmuan dan perkumpulan-perkumpulan pribadi yang
mereka bangun. Mereka melakukan transformasi keilmuan secara ekstensif melalui
dialog dan praktik-praktik secara terbuka guna mendidik tenaga profesional
dalam bidangnya, seperti Zakaria Al-Razi, yang mendidik tenaga profesional
sambil melakukan praktik kedokteran dan menangani pasien di rumah sakit. Hal
ini ia lakukan untuk melatih tenaga muda yang profesional agar dapat
mengabdikan dirinya dalam kehidupan masyarakat.
Organisasi Guru pada Masa Klasik
Dalam hal
pemerintahan, guru mempunyai pengaruh yang amat penting dalam pemerintahan,
bahkan kekuasaannya mempunyai andil yang besar dalam kekuasaan khalifah, selain
itu organisasi guru dapat dijasikan corong untuk menyebarkan ajaran atau aliran
yang dianut oleh pemerintah. Hal ini tampaknya tidak terlalu berlebihan, karena
guru terhimpun dalam suatu organisasi yang mempunyai power yang dapat
mengendalikan kepentingan khalifah khususnya dalam hal pengangkatan dan
pemberian izin untuk menjadi pengajar di suatu Masjid.
Pola Interaksi Guru dan Siswa pada Pendidikan Islam Klasik
1. Gambaran Interaksi
Rasulullah dan Sahabat pada Periode Awal Pendidikan Islam
Pada pola pertama,
nabi melaksanakan pendidkan terhadap umat sebagai dakwah terhadap risalah yang
di bawanya yang memeliki nilai ibadah dihadapan aloh swt. Nabi menjalankanya
dengan tulus iklas tanpa menuntut materi dari dakwah yang dilakukan sikap ini
juga ditanamkan oleh nabi kepada para sahabat dalam mengikuti dakwah nabi. Kedua, nabi
langsung menjadi guru umat dan model dari akhak yang diinginkan. Dengan
demikian, umat langsung dapat bentuk yang diinginkan al-Quran dari sikap Rasulullah SAW sehari-hari.
Dalam keseharianya Nabi SAW, sangat dihormati dan para sahabat mendudukan
nabi pada posisi yang tinggi, tetapi nabi tetap bersikap tawadu’.
2. Pola Sikap
Guru dan Siswa pada Pendidikan Islam Klasik
Pola sikap guru terhadap siswa dalam interaksi
edukatif pada pendidikan islam klasik diantaranya:
1)
Pola
keikhlasan
Pada pola ini siswa diharapkan mampu
menguasai ilmu pengetahuan yang di ajarkan tanpa mengharapkan imbalan materi dan
menganggap interaksi tersebut berlangsung sesuai dengan panggilan jiwa untuk
mengapdikan diri pada Allah SWT dan mengemban amanah yang dia amalkan.
2)
Pola
kekeluargaan
Pada pola kekeluargaan guru
memposisikan dirinya dan siswa seperti orangtua dan anak. Artinya, mereka
mempunyain tanggung jawab yang penuh dalam pendidikan tersebut, dan mencurahkan
kasih sayang seperti menyayangi anak sendiri.
3)
Pola
kesederajatan
Pada pola ini guru senantiasa
memunculkan sikap tawadu' terhadap siswanya. Pola interakasi seperti ini
membuat guru menghargai potensi yang dimiliki anak didiknya. Sikap tawaduk yang
dimiliki, membuat guru tidak bersikap diktator atau merasa lebih benar
4)
Pola al-uswah
al-hasanah
Pada pendidikan islam klasik,
interaksi antara guru dan siswa tidak hanya pada proses belajar mengajar,
tetapi juga pada masyarakat. Dengan demikian siswa dapat melihat gambaran yang
diinginkan guru.
3. Pola Sikap Siswa terhadap Guru dalam Interaksi Edukatif
a. Pola
ketaatan
Ketaatan siswa terhadap gurunya membawa barokah dalam
proses pencarian ilmu yang merupakan upaya mencari ridhoNya (kerelaan hati), dan yang harus dilakukan sebagai seorang siswa adalah
menjauhi amarah guru, dan menjunjung tinggi perintahnya selama tidak bertentangan
dengan agama.
b. Pola
kasih sayang
Menurut Ibn Maskawaih, kewajiban cinta siswa terhadap
guru berada diantara cinta terhadap Allah SWT, dan cinta kepada orang tua, karena
menurut Ibn Maskawaih, guru merupakan penyebab eksistensi hakiki kita dan pentebab
kita memperoleh kebahagiaan sempurna.
Betolak dari penjelasan di atas,
kita dapat mengetahui karakteristik pola sikap guru dan siswa dalam interaksi
edukatif, yaitu:
1) Memberikan penghargaan yang tinggi
pada kesucian batin yang tercermin pada kesadaran sosial dan usaha-usaha
idealistik yang ditujukan pada penguasaan setiap kecakapan yang menjadi
tuntutan tugas seseorang;
2) Interaksi antar guru dan siswa dalam
proses belajar mengajar dipandang sebagai kewajiban agama.
3) Adanya hubungan pribadi yang dekat antara
guru dan siswa, menjamin keterpaduan bimbingan rohani dan akhlaq, dengan
pengajaran sebagai keterampilan.
4) Interaksi guru dan siswa tidak hanya
terjadi dalam proses belajar mengajar, tetapi interaksi tersebut tetap
berlangsung di tengah masyarakat
5) Adanya keseimbangan antara interaksi
guru dan siswa pada pendidikan islam klasik.
6) Pola yang ada merupakan pengembangan
interaksi yang terjadi pada zaman rosululloh.
Kesimpulan
Karena tidak adanya ketentuan yang tegas tentang
masalah umur yang bisa memasuki tingkatan kuttab, hal ini menimbulkan murid
yang belajar di kuttab umurnya bervariasi. Murid yang miskin bisa belajar di
kuttab dengan ‘cuma-cuma’. Waktu yang di gunakan belajar di kuttab cukup lama, dari pagi hari sampai
selesai shalat ashar. Lamanya waktu yang digunakan untuk belajar, hal ini
memungkinkan guru membina murudnya dengan baik. Murid-murid yang cerdas akan
dapat menyelesaikan pelajaran relatif lebih cepat, dan selanjutnya mereka
meneruskan pelajaran di halaqah Masjid Jami’ atau Madrasah. Ukuran kelulusan
seorang murid adalah kemampuan menghafal al-Qur’an.
Dalam status sosial guru sangat ditentukan oleh kualitas keilmuan dan kepribadian masing-masing. Mereka yang
mempunyai kompetensi mengajar yang kualifaid serta dapat memegang amanah
keguruan dengan baik, ia akan mendapat kehormatan dan penghargaan yang
setinggi-tingginya dari masyarakat.
Refrensi:
Nata, Abudin.2004. Sejarah
Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada
Suwito.2005. Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Jakarta: Prenada
Media
No comments:
Post a Comment