Metode scaffolding didasarkan
pada teori Vygotsky. Menurut Vygotsky (Trianto, 2010: 76) bahwa pembelajaran
terjadi apabila anak bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum
dipelajari,
namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas
tersebut berada dalam Zone of Proximal Development (ZPD) yaitu
perkembangan sedikit di atas perkembangan seseorang saat ini. Vygotsky yakin
bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau
kerjasama antar individu, sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap
ke dalam individu tersebut.
Adinegara (2010)
mengemukakan, ide penting lain yang diturunkan dari Vygotsky adalah scaffolding.
Scaffolding berarti memberikan sejumlah besar bantuan kepada seorang anak
selama tahap-tahap awal pembelajaran kemudian anak tersebut mengambil alih
tangung jaawab yang semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya. Bantuan
tersebut dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah
kedalam langkah-langkah pembelajaran, memberikan contoh ataupun yang lain
sehinggga memungkinkan siswa tumbuh mandiri.
Vygotsky (Vlamband, 2008) mencari
pengertian bagaimana anak-anak berkembang dengan melalui proses belajar, dimana
fungsi-fungsi kognitif belum matang, tetapi masih dalam proses pematangan.
Vygotsky membedakan antara aktual development dan potensial development pada
anak. Aktual development ditentukan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu
tanpa bantuan orang dewasa atau guru. Sedangkan potensial development membedakan
apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu, memecahkan masalah di bawah
petunjuk orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya.
Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Adinegara,
2010) yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding.
Menurut teori Vygotsky (Vlamband, 2008), Zona Perkembangan Proksimal merupakan celah
antara aktual development dan potensial development, di mana antara apakah
seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah
seorang anak dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerjasama
dengan teman sebaya.
Menurut Gasong (2004) ada dua
implikasi utama teori Vygotsky dalam pendidikan. Pertama, adalah perlunya
tatanan kelas dan bentuk pembelajaran kooperatif antar siswa, sehingga siswa
dapat berinteraksi disekitar tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan
strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif di dalam masing-masing ZPD
mereka. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam pengajaran menekankan scaffolding,
dengan semakin lama siswa semakin bertanggung jawab terhadap pembelajaran
sendiri. Ringkasnya, menurut Vygotsky, siswa perlu belajar dan bekerja secara
berkelompok sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan diperlukan bantuan
guru terhadap siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Menurut Brunner (Isabella, 2007) scaffolding
sebagai suatu proses di mana seorang siswa dibantu menuntaskan masalah tertentu
melampaui kapasitas perkembangannya melalui bantuan dari seorang guru atau
orang lain yang memiliki kemampuan lebih. Sedangkan menurut Kozulin dan
Presseisen (1995) dan (Drajati, 2007), scaffolding yaitu siswa diberi
tugas-tugas kompleks, sulit tetapi sistematik dan selanjutnya siswa diberi
bantuan untuk menyelesaikannya. Bukan sebaliknya, yaitu sistem belajar sebagian-sebagian,
sedikit demi sedikit atau komponen demi komponen dari suatu tugas yang
kompleks.
Dari definisi yang telah dijelaskan di atas
dapat disimpulkan bahwa scaffolding merupakan bantuan, dukungan (support)
kepada siswa dari orang yang lebih dewasa atau lebih kompeten khususnya guru
yang memungkinkan penggunaan fungsi kognitif yang lebih tinggi dan memungkinkan
berkembangnya kemampuan belajar sehingga terdapat tingkat penguasaan materi
yang lebih tinggi yang ditunjukkan dengan adanya penyelesaian soal-soal yang
lebih rumit.
Adapun
keuntungan mempelajari scaffolding adalah:
1. Memotivasi dan mengaitkan minat
siswa dengan tugas belajar.
2. Menyederhanakan tugas
belajar sehingga bisa lebih terkelola dan bisa dicapai oleh anak.
3. Memberi petunjuk untuk
membantu anak berfokus pada pencapaian tujuan.
4. Secara jelas menunjukkan
perbedaan antara pekerjaan anak dan solusi standar atau yang diharapkan.
5. Mengurangi frustasi atau
resiko.
6. Memberi model dan mendefenisikan
dengan jelas harapan mengenai aktivitas yang akan dilakukan.
Secara umum, Gasong (2007)
mengemukakan langkah-langkah pembelajaran scaffolding dapat dilihat di bawah ini
sebagai
berikut.
Langkah-langkah Pembelajaran Scaffolding
1. Menjelaskan materi pembelajaran.
2. Menentukan Zone Of Proximal
Development (ZPD) atau level perkembangan siswa berdasarkan tingkat kognitifnya
dengan melihat nilai hasil belajar sebelumnya.
3. Mengelompokkan siswa menurut
ZPD-nya.
4. Memberikan tugas belajar berupa soal-soal
berjenjang yang berkaitan dengan materi pembelajaran.
5. Mendorong siswa untuk bekerja dan
belajar menyelesaikan soal-soal secara mandiri dengan berkelompok.
6. Memberikan bantuan berupa bimbingan,
motivasi, pemberian contoh, kata kunci atau hal lain yang dapat
memancing siswa ke arah kemandirian belajar.
7. Mengarahkan siswa yang memiliki ZPD
yang tinggi untuk membantu siswa yang memilki ZPD yang rendah.
8. Menyimpulkan pelajaran dan
memberikan tugas-tugas.
No comments:
Post a Comment