Kebutuhan
akan aktualisasi diri, mencakup hasrat untuk makin menjadi diri sepenuh
kemampuannya sendiri, menjadi apa saja menurut kemampuannya. Dan hal ini ditegaskan
lagi oleh Maslow, setiap orang harus berkembang sepenuh
kemampuannya. Kebutuhan manusia untuk bertumbuh, berkembang, dan menggunakan kemampuannya
disebut sebagai aktualisasi diri. Maslow juga menyebut aktualisasi diri
sebagai hasrat untuk makin menjadi diri sepenuh kemampuan sendiri, menjadi apa
menurut kemampuan yang dimiliki. Kebutuhan akan aktualisasi diri ini biasanya
muncul setelah kebutuhan akan cinta dan akan penghargaan terpuaskan secara
memadai.
Kebutuhan akan aktualisasi diri ini
merupakan aspek terpenting dalam teori motivasi Maslow. Dewasa ini bahkan
sejumlah pemikir menjadikan kebutuhan ini sebagai titik tolak prioritas untuk
membina manusia berkepribadian unggul. Belakangan ini muncul gagasan tentang
perlunya jembatan antara kemampuan siswa secara individu dengan kedalaman
spiritual. Siswa yang diharapkan adalah siswa yang spirit,disiplin,smart tanpa
melupakan sisi kerohanian.
Ciri-ciri Pribadi Aktualisasi Diri
Dari hasil penelitian yang merupakan proses analisis
panjang, Maslow akhirnya mengidentifikasikan 19 karakteristik pribadi yang
sampai pada tingkat aktualisasi diri.
1. Persepsi yang jelas tentang hidup
(realitas), termasuk kemampuan untuk mendeteksi kepalsuan dan menilai karakter
seseorang dengan baik.
2. Pribadi yang melihat hidup apa adanya dan bukan
berdasarkan keinginan mereka.
3. Mempunyai spontanitas yang lebih tinggi.
4. Keterpusatan pada masalah.
5. Merindukan kesunyian.
6. Mereka sangat mandiri dan otonom,
namun sekaligus menyukai orang lain.
7. Ada kalanya mereka mengalami apa
yang disebut “pengalaman puncak” (peak
experience); saat-saat ketika mereka
merasa berada dalam keadaan terbaik, saat diliputi perasaan khidmat,
kebahagiaan dan kegembiraan yang mendalam atau ekstase.
8. Rasa kekeluargaan terhadap sesama
manusia yang disertai dengan semangat yang tulus untuk membantu sesama.
9. Pribadi unggul ini lebih rendah hati
dan menaruh hormat pada orang lain.
10. Mereka memiliki etika yang jelas
tentang apa yang baik dan apa yang jahat.
11. Selera humor yang baik.
12. Kreatif dalam mengucapkan,
melakukan, dan menyelesaikan sesuatu.
13. Mereka memiliki penghargaan yang
sehat atas diri sendiri bertolak dari pengenalan akan potensi diri mereka
sendiri.
14. Ketidaksempurnaan.
15. Mereka mempunyai “hirarki nilai”
yang jelas.
16. Resistensi terhadap inkulturisasi.
17. Mereka cenderung mencari
persahabatan dengan orang yang memiliki karakter yang sama, seperti jujur,
tulus hati, baik hati dan berani, namun tidak menghiraukan ciri-ciri
superfisial seperti kelas sosial, agama, latar belakang ras, dan penampilan.
18. Secara umum dapat dikatakan bahwa
orang yang teraktualisasi diri cenderung membina hidup perkawinan yang kokoh,
bahagia, dan berlangsung seumur hidup.
19. Mereka itu sangat filosofis dan
sabar dalam menuntut atau menerima perubahan yang perlu secara tertib.
Aplikasi Manajemen
Pada tingkat puncak hirarki
kebutuhan ini, tidak banyak yang dapat dikatakan tentang bagaimana cara
memotivasi individu pada level ini. Bagi orang-orang yang dikatakan telah
mencapai kematangan psikologis ini, disiplin diri relatif mudah sebab apa yang
ingin mereka lakukan sejalan dengan apa yang mereka yakini benar. Nilai-nilai
dan tindakan mereka didasarkan pada apa yang nyata bagi mereka, bukan pada apa
yang dikatakan orang lain kepada mereka. Bila pada level kebutuhan sebelumnya,
individu biasa dimotivasi oleh kekurangan, orang yang matang ini terutama
dimotivasi oleh kebutuhannya untuk mengembangkan serta mengaktualisasikan
kemampuan-kemampuan dan kapasitas-kapasitasnya secara penuh. Bahkan menurut
Maslow, istilah motivasi kurang tepat lagi untuk diterapkan pada kebanyakan
orang yang berada di tahap aktualisasi diri. Mereka itu amat spontan, bersikap
wajar, dan apa yang mereka lakukan adalah sekedar untuk mewujudkan diri;
sekedar pemenuhan hidup sebagai manusia. Seperti kata Luijpen: Being man is
having to be man.
Konsep Motivasi
Menurut Stephen P. Robbins, motivasi adalah “proses yang
ikut menentukan intensitas, arah, dan ketekunan individu dalam usaha mencapai
sasaran”. Tiga kata kunci dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan
ketekunan (yang mengandaikan berlangsung lama). Intensitas dimaksudkan seberapa
keras seseorang berusaha. Agar dapat menghasilkan kinerja yang baik, intensitas
(setinggi apa pun) harus mempunyai arah yang menguntungkan organisasi. Dan akhirnya, intensitas dan arah
yang telah dimiliki harus diterapkan secara tekun dan berlangsung lama. Inilah
ukuran sejauh mana orang dapat mempertahankan usahanya. Individu yang
termotivasi akan tetap bertahan dengan pekerjaannya dalam waktu cukup lama
untuk mencapai sasaran mereka. Sebaliknya, seseorang yang tidak termotivasi
hanya akan memberikan upaya minimum dalam hal bekerja. Konsep motivasi kiranya
merupakan sebuah konsep penting dalam studi tentang kinerja individu dalam
organisasi. Dengan kata lain, motivasi merupakan salah satu determinan penting
bagi kinerja individual di samping variabel determinan lain misalnya kemampuan
orang yang bersangkutan dan atau pengalaman kerja sebelumnya.
Hubungan Kebutuhan Aktualisasi Terhadap Motivasi Siswa
Pencarian pengetahuan dan pemahaman atas upaya mereka
sendiri atau kreativitas dan keterbukaan untuk ide-ide baru yang merupakan
karakteristik orang-orang yang mencapai aktualisasi diri. Siswa yang tidak
yakin bahwa mereka dapat dicintai atau tidak yakin dengan kemampuannya sendiri
akan cenderung untuk membuat pilihan yang aman: bergabung dengan kelompoknya,
belajar hanya untuk tes tanpa ada minat untuk mengembangkan ide-ide, menulis
karangan yang tidak kreatif, dan sebagainya. Guru yang berhasil membuat siswa
merasa senang dan membuat mereka merasa diterima dan dihormati sebagai
individu, lebih besar peluangnya untuk membantu mereka menjadi bersemangat
untuk belajar demi pembelajaran dan kesediaan berkorban untuk menjadi kreatif
dan terbuka terhadap ide-ide baru. Apabila siswa dikehendaki menjadi pelajar
yang mandiri, mereka harus yakin bahwa guru akan merespon secara adil dan
konsisten kepada mereka dan bahwa mereka tidak akan ditertawakan atau dihukum
karena murni berbuat kekeliruan. Jadi,
kebutuhan aktualisasi berhubungan signifikan terhadap motivasi siswa dalam belajar.
Adapun hubungan guru dengan siswa
pada kebutuhan ini antara lain: (1) Memberikan kesempatan kepada para
siswa untuk melakukan yang terbaik bagi dirinya, (2) Memberikan kebebasan kepada siswa
untuk menggali dan menjelajah kemampuan dan potensi yang dimilikinya. (3) Menciptakan pembelajaran yang
bermakna dikaitkan dengan kehidupan nyata. (4) Perencanaan dan proses pembelajaran
yang melibatkan aktivitas meta kognitif siswa. (5) Melibatkan siswa dalam proyek atau
kegiatan “self expressive” dan
kreatif.
Refrence:
No comments:
Post a Comment