Daku uraikan bahasa jiwa
Dalam segumpal daya sebagai ungkapan upayaku
Ia bagaikan pelita menerangi Istana
Sungguh bahasaku tak tertahankan
Memang rasa kadang tak terbaca
Namun gumpalan suci ini menyikapi
fakta
Yang membawa keparipurnaan…
Dengan cuatan
prahara yang membelenggu
Dengan rasa yang berlabuh keras
Akankah sesama berucap,
Ataukah kecewa menutup mata berhati lara
Maka hadapkanlah daku
Dalam mahkamah neraca yang berimbang
Untuk mengenal bahasa setia dan bahasa rasa
No comments:
Post a Comment